Kali ini, aku akan berbagi pengalamanku ketika mengikuti seleksi beasiswa yang sedang hits-hits nya di Indonesia: LPDP. Walaupun aku yakin, sudah banyak blog atau tulisan yang menceritakan secara detail tentang tips dan trik untuk lolos seleksi LPDP, tapi mungkin sedikit pengalaman yang kubagikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang akan mengikuti seleksi LPDP.
Menjadi
Awardee LPDP
Menurutku,
persiapan untuk menjadi seorang awardee LPDP tidak bisa hanya dimulai beberapa
bulan sebelum seleksi, tapi sejak beberapa tahun sebelumnya. Kok begitu? Iya,
sebab LPDP punya kriteria tersendiri untuk memilih awardee, antara lain:
1. Mempunyai Integritas, komitmen, serta teladan dalam berpikir, berkata, dan bertindak;
2. Nasionalis, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
3. Profesional, memiliki keahlian dan kecakapan pada bidangnya serta mampu bersaing di tingkat dunia.
4. Mempunyai kemampuan memimpin yang kuat dan dapat menghasilkan perubahan positif.
5. Berjiwa Sosial, memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai kondisi bangsa.
1. Mempunyai Integritas, komitmen, serta teladan dalam berpikir, berkata, dan bertindak;
2. Nasionalis, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
3. Profesional, memiliki keahlian dan kecakapan pada bidangnya serta mampu bersaing di tingkat dunia.
4. Mempunyai kemampuan memimpin yang kuat dan dapat menghasilkan perubahan positif.
5. Berjiwa Sosial, memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai kondisi bangsa.
Tentunya,
kriteria-kriteria tersebut bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam sebulan dua
bulan, namun merupakan karakter yang sudah bertahun-tahun. Dan syarat kriteria
ini bukan hanya formalitas; berdasarkan pengalamanku bertemu dengan
awardee-awardee LPDP lainnya, kebanyakan teman-teman yang kutemui adalah
orang-orang yang sangat aktif di kegiatan sosial, berjiwa pemimpin, dan
memiliki banyak prestasi. Bisa dikatakan, beasiswa LPDP ini pas banget
untuk para aktivis kampus ataupun luar kampus. Jadi kalau misalnya zaman dahulu
kala orang-orang bilang jadi aktivis itu useless, atau nggak memberikan manfaat
pasca kampus, justru sekarang aktivis-aktivis inilah target utama dari beasiswa
LPDP.
Beasiswa LPDP juga mensyaratkan alumninya untuk kembali dan
mengabdi di Indonesia. Ini wajar, karena LPDP merupakan beasiswa yang dibiayai
uang rakyat. Tentunya there's no free lunch, ada "hutang"
yang harus dibayar oleh para awardee LPDP dengan berbakti kepada
negeri. Jadi bagi teman-teman yang memang nggak berniat kembali ke
Indonesia atau ingin mengejar karier di Luar Negeri, mungkin sebaiknya apply
beasiswa lain saja. Sebenarnya bukan hanya LPDP, beasiswa dari Pemerintah
negara lain seperti Chevening atau Monbukagakusho juga mensyaratkan penerima
beasiswanya untuk kembali ke negerinya masing-masing setidaknya satu atau dua
tahun setelah lulus.
Untuk yang masih ragu-ragu apakah ingin mendaftar LPDP atau tidak,
saranku: daftar aja! Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan beasiswa LPDP
dibuka. Sistem seleksinya setiap tahunnya mengalami perbaikan sehingga tentunya
seleksi semakin sulit dengan peminat yang semakin banyak. Daripada
menunda-nunda tapi menyesal belakangan, lebih baik persiapkan dari jauh-jauh
hari agar bisa apply secepatnya. Dulu aku ragu-ragu untuk mendaftar Batch
ke-1, dan akhirnya baru mengikuti seleksi di Batch ke-4. Seandainya aku masih
ragu-ragu untuk mengikuti Batch 4, mungkin aku baru akan bisa berangkat studi
tahun depan. Oleh karena itu, prepare your best!
Seleksi
LPDP 2017
Ada
banyak sekali perubahan sistem seleksi LPDP di tahun 2017 ini. Tahun-tahun
sebelumnya, seleksi LPDP dibuka empat kali dalam setahun, dimana saat mendaftar
kita bisa memilih apakah mau ke Dalam Negeri atau ke Luar Negeri. Tahun
2017 ini, seleksi hanya dibuka dua kali dalam setahun: di bulan Maret khusus
untuk tujuan Dalam Negeri, dan di bulan Juli khusus untuk tujuan Luar Negeri.
Selain itu, untuk intake Luar Negeri baru akan diberangkatkan setahun setelah
seleksi LPDP. Artinya, awardee yang lolos seleksi LPDP tahun 2017 baru akan
menempuh studinya tahun 2018 nanti.
Sejak
tahun 2017 pula, dalam seleksi administrasi juga ada tahapan assesment online.
Assesment Online sendiri merupakan test psikologi VMI dan 15FQ+ untuk mengetahui karakter calon
awardee LPDP. Aku sendiri tidak memiliki pengalaman tentang assesment online,
bisa dilihat pengalaman assesment online salah satu peserta seleksi di sini. Kebetulan, aku menjadi salah satu
awardee Batch 4 Tahun 2016.
Saat
seleksi LPDP kemarin, aku menempuh dua proses seleksi: seleksi
administratif dan seleksi substantif (mencakup writing on the spot, Leaderless
Group Discussion, dan Wawancara).
Seleksi
administratif yaitu mengumpulkan beberapa berkas, yang daftarnya bisa dilihat di sini. Pastikan syarat-syarat ini sudah
lengkap dan nggak mepet-mepet banget, misalnya IPK kurang atau skor bahasa
kurang pasti menjadi penilaian tersendiri, bahkan kemungkinan bisa tidak lolos
seleksi administratif.
Selain itu, ada
tugas membuat essay-essay yaitu “Kontribusiku
Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk
masyarakat/lembaga/instansi/profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar
dalam Hidupku” serta membuat Rencana Studi untuk berkuliah nanti. Bagi calon
awardee tujuan dalam negeri, tugas essay, seleksi Leaderless Group
Discussion, dan writing on the spot menggunakan
bahasa Indonesia, serta wawancara menggunakan campuran bahasa Indonesia dan
Inggris. Sementara untuk tujuan Luar Negeri, semua tahapan tersebut wajib
menggunakan bahasa Inggris.
Sebelum membuat essay, sebaiknya kita melakukan riset
terlebih dahulu. Aku sendiri mulai membuat draft essay LPDP sejak lama, dan
mengirimkannya setelah mengalami banyak perbaikan dan proofreading. Essay
sangat penting karena akan dibaca oleh interviewer dan ditanyakan saat
wawancara. Jadi, jangan asal-asalan dalam membuat essay kita.
Di essay inilah kesempatan kita untuk "menjual"
kelebihan kita, tentunya sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak
dibuat-buat. Misalnya tugas essay Kontribusiku Bagi Indonesia. Dengan
tugas ini, LPDP ingin mengetahui apakah kita adalah orang yang peduli dengan
keadaan sekitar atau hanya peduli dengan diri sendiri. Kita diminta untuk
menceritakan aktivitas yang selama ini sudah kita lakukan, terutama yang
bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah kita harus menunjukkan, manfaat apa yang
selama ini sudah kita berikan kepada masyarakat sekitar. Dalam essay ini, aku
menceritakan mengenai tekadku untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia
dengan cara menjadi pendidik bagi anak-anak maupun mahasiswa.
Dalam
essay "Sukses Terbesar Dalam Hidupku, kita diminta menceritakan tentang
kesuksesan terbesar yang pernah kita capai dan bagaimana proses kita untuk mengejar
kesuksesan tersebut. Dengan essay ini, LPDP ingin menilai bagaimana karakter
sang calon awardee berdasarkan pengalaman hidupnya, dan bagaimana caranya
mengejar mimpinya. Tentunya, definisi kesuksesan bagi setiap orang
berbeda-beda. Essay-ku sendiri berjudul "Failure is the greatest success
in my life", bercerita mengenai bagaimana kegagalanku saat gagal diterima
di UI dan bagaimana perjuanganku untuk bangkit dari kegagalan tersebut.
Kita juga harus bisa menarik benang merah antara pengalaman
hidup serta kontribusi yang sudah kita lakukan dengan cita-cita kita di masa
depan dalam essay-essay ini. Misalnya, ketika seseorang mengatakan dia
bercita-cita ingin menjadi Menteri Pendidikan, namun ternyata ia sama sekali
tidak memiliki pengalaman memimpin organisasi, tentu sulit bagi pemberi
beasiswa untuk mempercayainya. Atau ketika seseorang mengatakan ingin
menjadi enterpreuner untuk memberdayakan UMKM, tentunya akan lebih meyakinkan
bila sebelumnya ia sudah memiliki pengalaman di bidang tersebut.
Di
saat inilah, rekam jejak sang calon awardee menjadi sangat penting, untuk
melihat apa saja kontribusi yang sudah dia berikan untuk masyarakat Indonesia. Misalnya ketika aku mengatakan selepas S2 akan
menjadi dosen, aku mengkaitkan dengan passion-ku mengajar, dan pengalaman
mengikuti kegiatan sosial mengajar anak-anak selama menjadi mahasiswa. Selain
itu, aku juga menceritakan pekerjaanku sebagai asisten dosen dan pengalaman
risetku dengan dosen-dosen di kampus.
Begitu juga dengan rencana studi, kita harus meyakinkan
pemberi beasiswa mengapa kita layak menerima beasiswa; mengapa harus mengambil
di Universitas tersebut dan jurusan tersebut? Dalam rencana studi, aku
menceritakan kegelisahanku karena masih banyak mahasiswa hukum yang tidak
memahami hukum ekonomi syariah, padahal kebutuhan akan ahli hukum di bidang
ekonomi syariah cukup urgent. Kebijakan ekonomi syariah di Indonesia juga masih
memerlukan banyak perbaikan. Sehingga aku memutuskan mempelajari ekonomi
syariah agar bisa mengajarkan ilmu hukum ekonomi syariah kepada
mahasiswa-mahasiswa di FHUI dan juga menjadi researcher yang turut membantu
pengembangan hukum ekonomi syariah di Indonesia. Tentunya, kebenaran
kata-kata dalam rencana studi ini akan diuji dalam seleksi wawancara.
Berkas-berkas
yang dipersyaratkan harus di unggah sejak beberapa hari sebelumnya, karena
kemungkinan dua hari terakhir server akan down. Jangan pernah procastinate dan
baru menyelesaikan berkas di menit-menit terakhir. Sayang kan, kalau syarat
sudah lengkap, calon awardee qualified, tapi gagal hanya karena
masalah teknis. Aku sendiri sudah mencicil upload beberapa berkas sejak
jauh-jauh hari dan submit berkas seminggu sebelum deadline.
Alhamdulillah, beberapa minggu setelah deadline upload berkas,
muncul pengumuman yang menyatakan bahwa aku lolos seleksi administrasi dan
dipanggil untuk mengikuti seleksi substansi.
Begitulah pengalamanku saat mempersiapkan seleksi administratif
LPDP. Kisahku dalam mengikuti seleksi akan kuceritakan di postingan
selanjutnya, karena itu stay tune terus ya!
Semangat terus para pejuang beasiswa!


Leaderless Group Discussion, dan Wawancara nya kaya apa fah?
BalasHapusGue bingung nih mau ngambil lokal apa interlokal ROFL
Kyaa awardee.. Calon mantu idaman XD
BalasHapus