Senin, 15 April 2019

Review "How to Stop Worrying and Start Living" by Dale Carnegie

Kecemasan yang berlebihan adalah salah satu penyakit paling fatal yang bisa menyerang manusia. Karena, rasa cemas bisa menghentikan kemampuan berpikir kita dan membuat kita tidak bisa mengambil keputusan. Lebih jauh lagi, rasa cemas merupakan salah satu faktor pencetus penyakit-penyakit lainnya: asam lambung, jantung, bahkan bisa menyebabkan kematian. Perasaan cemas yang berasal dari psikologis seseorang ternyata bisa menimbulkan gangguan, bahkan bahaya, bagi kondisi fisiknya. Sering kulihat contohnya di rumah, kesehatan Umi mendadak drop ketika sedang banyak pikiran. Hampir 70% dari penyakit yang diderita Umi karena mencemaskan sesuatu hal. Padahal, buat apa sih kita mencemaskan sesuatu yang bahkan belum terjadi?

Dalam buku "How to Worrying and Start Living", Dale Carnegie mengupas segala sesuatu mengenai rasa khawatir dan cara mengatasinya. Saya suka membaca buku-buku Dale Carnegie karena memang sekeren itu isinya dan memberikan banyak pencerahan. Salah satunya adalah buku "How to Win Friends and Influence People" yang sudah pernah saya review di sini.

Lalu, bagaimana cara untuk mengatasi rasa khawatir atau kecemasan itu sendiri?

Tips pertama, Living in Today
"The future is today, let the dead past bury its dead."
Perasaan cemas akan jauh berkurang bila kita hidup untuk hari ini dan tidak mengingat-ingat masa lalu. Hidup hari ini bukan berarti kita tidak memikirkan masa depan, namun kita melakukan setiap hal yang bisa kita lakukan hari ini demi mempersiapkan masa depan. Karena itu, perencanaan dan persiapan yang hati-hati untuk segala rencana kita menjadi penting. Segala tugas, pekerjaan, atau targetan yang kita miliki untuk masa depan harus mulai dikerjakan satu-persatu, mulai hari ini. Supaya:
"No regret about the past, no dread of the future."

Tips kedua, Solving Worry Situation
Tidak bisa dihindari, setiap orang pasti akan mengalami kecemasan di dalam hidupnya. Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan kecemasan kita:

a. Analyze Situation
Kita harus memahami kecemasan kita sendiri, dan mencari tahu, what the worst could possibly happen? Apa akibat dari kegagalan kita dari mengerjakan tugas? Bisa jadi ditegur atasan, atau paling buruk, dipecat.

b. Reconcile to accept the worst case scenario
Kita harus mempersiapkan diri agar bisa menerima kenyataan bila kemungkinan terburuk terjadi. Bila kerjaan tidak beres lalu dipecat, maka masih ada jalan untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Belajar ikhlas membuat kita memiliki zero expectation akan apa yang terjadi.
"Acceptance of what has happened is the first step in overcoming the consequences of any misfortune."
"When we accept the worst, we have nothing more to loose."

c. Trying to improve, so the worst case scenario can be avoided
Setelah hati legowo menerima kemungkinan terburuk, kita harus berkonsentrasi pada hal yang di depan mata, apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari kemungkinan terburuk? Then, we need to concentrate to the process, not the result.

Di buku ini juga dikupas beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh kecemasan terhadap pikiran dan tubuh manusia. Rasa kecemasan bisa menimbulkan stress, anxious, dan menimbulkan efek samping gemetar pada tubuh. Penyakit-penyakit yang timbul saat ini sebagian besar juga dipicu oleh rasa cemas; mulai yang paling sering menyerang seperti maag, asam lambung, jantung, kanker, bahkan rasa cemas yang terus-terusan bisa menyebabkan kematian. Secara fisik, rasa khawatir bisa berdampak buruk pada tampilan fisik seseorang; salah satu pemicu terbesar munculnya keriput, uban, dan jerawat adalah banyaknya pikiran seseorang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghilangkan rasa cemas agar tidak muncul penyakit-penyakit yang juga disebut "nervous diseases". Makanya, dikatakan bahwa
"Those who have inner peace will immune from nervous diseases."

Lalu bagaimana cara menghadapinya ketika rasa cemas itu datang, dan apa solusinya?

Yang pertama, kita harus mengumpulkan fakta-fakta yang ada: apa yang kita cemaskan, bagaimana situasinya. Tujuannya agar kita memiliki informasi yang jelas akan suatu hal. Sebab, ketidaktahuan menyebabkan kebingungan, dan kebingungan menyebabkan kecemasan.

"Half of the worry in the world is caused by people trying to make decision before they have sufficient knowledge as a base of decision."

Setelah itu, kita harus menganalisa fakta-fakta yang ada; apa yang bisa kita perbuat setelah mengetahui fakta-fakta yang ada? Untuk bisa memutuskan sesuatu, kita harus bisa berfikir dengan jernih, tanpa emosi, dan dengan pandangan objektif.

Terakhir, setelah sampai pada kesimpulan, kita harus membuat keputusan; dan bertindak cepat berdasarkan keputusan tersebut, sebelum keraguan dan kecemasan timbul kembali.

How to Break Worry Habit Before it Breaks You

Bagi sebagian orang, kecemasan adalah sebuah kebiasaan. Ada orang yang selalu paranoid sehari-harinya; dalam beraktifitas, ia selalu saja memikirkan kemungkinan terburuk. Tentu saja ini tidak baik bila hal ini menjadi pikiran, namun tidak diselesaikan.

Ada beberapa hal yang bisa mengubah kebiasaan tersebut:

1. Menyibukkan diri. Kesibukan akan membuat pikiran kita terfokus pada hal-hal yang lebih penting sehingga tidak sempat mencemaskan sesuatu.

2. Membiasakan diri tidak sedih, kecewa, dan marah karena hal-hal kecil; misalnya karena rumah yang kurang rapi, dan lain-lain (don't sweat over small things!)

3. Mengurang kebiasaan overthinking
"Nearly all worries and unhappiness came from imagination, and not from reality."

4. Belajar dari statistik kejadian yang sama di masa lalu. Apakah hal yang dikhawatirkan (misalnya kecelakaan) sering terjadi di masa lalu?

5. Belajar menerima keadaan, dan menyesuaikan diri kita dengan keadaan tersebut.
Bagaimana kita bereaksi terhadap suatu keadaan akan menentukan mood kita. Kita harus berhenti mencemaskan sesuatu yang kita tak punya kuasa untuk mengubahnya. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada jalan lain selain berusaha menerima takdir.
"God, give me the serenity to accept things that I cannot change; the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference." 

Dan masih banyaak lagi hal-hal menarik yang dibahas dalam buku ini. I recommend you to read it by yourself.

Semoga rasa cemasnya bisa hilang yaa :) 

Love, Iffah

Fighting the Imposter Syndrome: Pengakuan Seorang (yang merasa dirinya adalah seorang) Penipu

Pernah tidak, merasa kalau kita ini hanya butiran debu di antara orang-orang di sekitar kita?

Pernah tidak, merasa kalau kita ini sebenarnya hanyalah seorang penipu; kita tidak layak ada di posisi kita yang sekarang, karena semua pencapaian kita atau semua hal baik yang datang kepada kita hanyalah sebuah keberuntungan?

Aku pernah, dan masih merasakannya sampai sekarang.

Selama hampir tiga tahun menjadi asisten dosen, aku seringkali merasa bahwa aku tidak cukup layak untuk berada di posisiku sekarang. Menurutku, masih banyak orang-orang lain yang jauh lebih pintar dan lebih cerdas yang layak untuk berada di posisiku sekarang. I'm just lucky to have my job.
Begitupun ketika aku akhirnya mendapatkan nilai yang lumayan baik untuk IELTS, ataupun diterima di Durham University, dan mendapatkan beasiswa LPDP, aku merasa semua hal itu aku dapatkan karena keberuntunganku semata. Nilai essay magisterku yang bagus hanya kebetulan. Bahkan sampai saat ini, ketika aku sudah lulus S2 dengan nilai distinction (seperti cum laude kalau di UK), aku masih saja beranggapan bahwa itu semua merupakan keberuntungan.

Segala pemikiran itu membuatku merasa ada bisikan negatif yang selalu berucap "You're not good enough, you're just lucky." Hal ini yang menahan diriku untuk berkembang atau bahkan sekedar untuk mencoba hal baru, karena aku merasa aku tidak punya kapasitas untuk itu.
Seringkali aku mengutuk diriku sendiri, kenapa sih aku berpikiran seperti ini? Bukankah itu namanya aku kufur nikmat atas segala anugerah yang Allah telah berikan?

Sampai aku menemukan kalau aku tidak sendirian. Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengalami imposter syndrome.

Apa sih imposter syndrome sebenarnya?
Menurut Harvard Business Review,
"Imposter syndrome can be defined as a collection of feelings of inadequacy that persist despite evident success. ‘Imposters’ suffer from chronic self-doubt and a sense of intellectual fraudulence that override any feelings of success or external proof of their competence. They seem unable to internalize their accomplishments, however successful they are in their field." 

Dengan kata lain, imposter adalah seseorang yang merasa dirinya tidak cukup baik, dan selalu meragukan kemampuan dirinya sendiri. Ia merasa tidak berhak atas pencapaian-pencapaiannya dan menganggap semua yang diraihnya merupakan sebuah keberuntungan semata. Ia menganggap dirinya sendiri sebagai "imposter" atau "fraud" yang tidak boleh berbuat kesalahan, agar "dirinya yang sebenarnya" tidak diketahui orang lain. Beberapa tokoh terkenal dunia yang mengalami imposter syndrome antara lain aktor Tom Hanks dan novelis Neil Gaiman.

Sudah lama aku mengalami semua gejala-gejala di atas, tapi aku tidak menyadari kalau aku mengalami imposter syndrome. Aku hanya berpikir bahwa aku ini minderan, inferior, atau sekedar kurang banyak bersyukur. Sampai akhirnya aku menemukan beberapa artikel yang membahas mengenai imposter syndrome, aku mulai merasa sedikit lega. Ternyata, aku tidak sendirian.

Di buku "Confession of Shopaholic" karya Sophie Kinsella, tokoh utama yang bernama Rebecca Bloomwood juga mengalami hal yang sama. Ia seorang jurnalis di majalah finance dan ia meragukan kemampuan otaknya sendiri, padahal dia seorang lulusan Universitas ternama.
"This is what I do, by the way. I'm a journalist on a financial magazine. I'm paid to tell other people how to organize the money. Of course, I still know nothing about finance. People at the bus stop know more about the finance than me. School children know more than me. I've been doing this job for three years now, and I'm still expecting someone to catch me out." - Confession of Shopaholic
Rebecca Blomwood, I feel you.

Mengapa seseorang bisa menderita imposter syndrome?
Salah satu alasannya adalah nilai sejak kecil. Menurut psikolog Renee Carr,
"Achievers might describe their success as 'luck' because they have been taught to not bring attention to themselves or not promote themselves as being better than others"
Di negara yang menjunjung budaya ketimuran seperti Indonesia, tidak  heran bila banyak kasus imposter syndrome. Sejak kecil, kita telah diajari untuk tidak sombong atau takabur, sehingga ketika kita melakukan sebuah pencapaian, kita cenderung untuk merendahkan diri. Misalnya ketika dipuji akan pencapaian kita, kita nggak mungkin bilang "Iya dong, wajar kalau gue menang, kan gue sudah berlatih keras setiap malam selama sebulan sampai-sampai nggak tidur, mengambil les tambahan sepulang sekolah, dan nggak ikut keluarga gue liburan.". Berani ngomong seperti itu, niscaya kamu akan dijulidin netizen. Lebih mudah untuk berkata "ah, gue cuma beruntung kok".

Tentunya, imposter syndrome memberikan dampak yang merugikan bagiku. Pertama, kecenderunganku untuk meragukan kemampuan diriku sendiri membuatku tidak bisa berkembang. Aku terhalang oleh pikiran "I can't do it" karena merasa apa yang kulakukan selama ini hanyalah hasil dari "fake it until you make it".

Kedua, orang yang menderita imposter syndrome merasa dirinya harus perfeksionis, tidak boleh berbuat kesalahan. Aku takut untuk mencoba sesuatu hal karena aku takut melakukan kesalahan. Misalnya, sudah beberapa draft essay yang kugarap hanya tertahan menjadi draft karena aku ingin essay ini menjadi sempurna. Padahal, tidak mungkin tulisan yang sempurna selesai dengan sekali menulis. Tentunya diperlukan revisi berkali-kali. Bahkan, seorang Professor pun tidak mungkin menyelesaikan essay dengan sekali menulis. Pada akhirnya, tidak ada karya yang kuhasilkan karena aku terlalu takut berbuat kesalahan.

Aku sempat mendiskusikan permasalahanku ini dengan Mbak Iput, Psikolog di Kampusku.
Dia bertanya "Emang selama ini, Iffah dapat beasiswa, jadi asisten dosen, dan sebagainya itu nggak pake usaha? Coba ingat-ingat, usaha apa saja yang udah kamu lakukan untuk mencapai posisi kamu sekarang."
Mendengar kata tersebut, aku jadi merenung. Ternyata sudah banyak ujian-ujian berat yang aku lewati di masa lalu untuk mencapai titik ini.

Memang, salah satu cara untuk mengobati imposter syndrome adalah melihat balik proses yang sudah kita jalani untuk mencapai kesuksesan. Acknowledge that there is a (long) process to earn your achievement right now.

Disamping itu, kita harus menanamkan pada diri kita bahwa "I'm not perfect", dan "It is okay to make a mistake".

Maka, dengan ini saya menyatakan bahwa saya, Iffah Karimah, bukan orang yang sempurna dan bebas dari kesalahan; saya masih perlu banyak belajar, masih banyak hal yang harus saya lakukan untuk menjadi dosen, peneliti, wanita, manusia, hamba Allah yang lebih baik dari saya sekarang.
Dan apa yang saya dapatkan adalah hasil dari semua usaha dan doa saya selama ini; bukan karena saya beruntung.

Bagi teman-teman yang menderita imposter syndrome juga, semangat! 

You're not just lucky, you earn it. 
You're not a fraud.