Senin, 15 April 2019

Fighting the Imposter Syndrome: Pengakuan Seorang (yang merasa dirinya adalah seorang) Penipu

Pernah tidak, merasa kalau kita ini hanya butiran debu di antara orang-orang di sekitar kita?

Pernah tidak, merasa kalau kita ini sebenarnya hanyalah seorang penipu; kita tidak layak ada di posisi kita yang sekarang, karena semua pencapaian kita atau semua hal baik yang datang kepada kita hanyalah sebuah keberuntungan?

Aku pernah, dan masih merasakannya sampai sekarang.

Selama hampir tiga tahun menjadi asisten dosen, aku seringkali merasa bahwa aku tidak cukup layak untuk berada di posisiku sekarang. Menurutku, masih banyak orang-orang lain yang jauh lebih pintar dan lebih cerdas yang layak untuk berada di posisiku sekarang. I'm just lucky to have my job.
Begitupun ketika aku akhirnya mendapatkan nilai yang lumayan baik untuk IELTS, ataupun diterima di Durham University, dan mendapatkan beasiswa LPDP, aku merasa semua hal itu aku dapatkan karena keberuntunganku semata. Nilai essay magisterku yang bagus hanya kebetulan. Bahkan sampai saat ini, ketika aku sudah lulus S2 dengan nilai distinction (seperti cum laude kalau di UK), aku masih saja beranggapan bahwa itu semua merupakan keberuntungan.

Segala pemikiran itu membuatku merasa ada bisikan negatif yang selalu berucap "You're not good enough, you're just lucky." Hal ini yang menahan diriku untuk berkembang atau bahkan sekedar untuk mencoba hal baru, karena aku merasa aku tidak punya kapasitas untuk itu.
Seringkali aku mengutuk diriku sendiri, kenapa sih aku berpikiran seperti ini? Bukankah itu namanya aku kufur nikmat atas segala anugerah yang Allah telah berikan?

Sampai aku menemukan kalau aku tidak sendirian. Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengalami imposter syndrome.

Apa sih imposter syndrome sebenarnya?
Menurut Harvard Business Review,
"Imposter syndrome can be defined as a collection of feelings of inadequacy that persist despite evident success. ‘Imposters’ suffer from chronic self-doubt and a sense of intellectual fraudulence that override any feelings of success or external proof of their competence. They seem unable to internalize their accomplishments, however successful they are in their field." 

Dengan kata lain, imposter adalah seseorang yang merasa dirinya tidak cukup baik, dan selalu meragukan kemampuan dirinya sendiri. Ia merasa tidak berhak atas pencapaian-pencapaiannya dan menganggap semua yang diraihnya merupakan sebuah keberuntungan semata. Ia menganggap dirinya sendiri sebagai "imposter" atau "fraud" yang tidak boleh berbuat kesalahan, agar "dirinya yang sebenarnya" tidak diketahui orang lain. Beberapa tokoh terkenal dunia yang mengalami imposter syndrome antara lain aktor Tom Hanks dan novelis Neil Gaiman.

Sudah lama aku mengalami semua gejala-gejala di atas, tapi aku tidak menyadari kalau aku mengalami imposter syndrome. Aku hanya berpikir bahwa aku ini minderan, inferior, atau sekedar kurang banyak bersyukur. Sampai akhirnya aku menemukan beberapa artikel yang membahas mengenai imposter syndrome, aku mulai merasa sedikit lega. Ternyata, aku tidak sendirian.

Di buku "Confession of Shopaholic" karya Sophie Kinsella, tokoh utama yang bernama Rebecca Bloomwood juga mengalami hal yang sama. Ia seorang jurnalis di majalah finance dan ia meragukan kemampuan otaknya sendiri, padahal dia seorang lulusan Universitas ternama.
"This is what I do, by the way. I'm a journalist on a financial magazine. I'm paid to tell other people how to organize the money. Of course, I still know nothing about finance. People at the bus stop know more about the finance than me. School children know more than me. I've been doing this job for three years now, and I'm still expecting someone to catch me out." - Confession of Shopaholic
Rebecca Blomwood, I feel you.

Mengapa seseorang bisa menderita imposter syndrome?
Salah satu alasannya adalah nilai sejak kecil. Menurut psikolog Renee Carr,
"Achievers might describe their success as 'luck' because they have been taught to not bring attention to themselves or not promote themselves as being better than others"
Di negara yang menjunjung budaya ketimuran seperti Indonesia, tidak  heran bila banyak kasus imposter syndrome. Sejak kecil, kita telah diajari untuk tidak sombong atau takabur, sehingga ketika kita melakukan sebuah pencapaian, kita cenderung untuk merendahkan diri. Misalnya ketika dipuji akan pencapaian kita, kita nggak mungkin bilang "Iya dong, wajar kalau gue menang, kan gue sudah berlatih keras setiap malam selama sebulan sampai-sampai nggak tidur, mengambil les tambahan sepulang sekolah, dan nggak ikut keluarga gue liburan.". Berani ngomong seperti itu, niscaya kamu akan dijulidin netizen. Lebih mudah untuk berkata "ah, gue cuma beruntung kok".

Tentunya, imposter syndrome memberikan dampak yang merugikan bagiku. Pertama, kecenderunganku untuk meragukan kemampuan diriku sendiri membuatku tidak bisa berkembang. Aku terhalang oleh pikiran "I can't do it" karena merasa apa yang kulakukan selama ini hanyalah hasil dari "fake it until you make it".

Kedua, orang yang menderita imposter syndrome merasa dirinya harus perfeksionis, tidak boleh berbuat kesalahan. Aku takut untuk mencoba sesuatu hal karena aku takut melakukan kesalahan. Misalnya, sudah beberapa draft essay yang kugarap hanya tertahan menjadi draft karena aku ingin essay ini menjadi sempurna. Padahal, tidak mungkin tulisan yang sempurna selesai dengan sekali menulis. Tentunya diperlukan revisi berkali-kali. Bahkan, seorang Professor pun tidak mungkin menyelesaikan essay dengan sekali menulis. Pada akhirnya, tidak ada karya yang kuhasilkan karena aku terlalu takut berbuat kesalahan.

Aku sempat mendiskusikan permasalahanku ini dengan Mbak Iput, Psikolog di Kampusku.
Dia bertanya "Emang selama ini, Iffah dapat beasiswa, jadi asisten dosen, dan sebagainya itu nggak pake usaha? Coba ingat-ingat, usaha apa saja yang udah kamu lakukan untuk mencapai posisi kamu sekarang."
Mendengar kata tersebut, aku jadi merenung. Ternyata sudah banyak ujian-ujian berat yang aku lewati di masa lalu untuk mencapai titik ini.

Memang, salah satu cara untuk mengobati imposter syndrome adalah melihat balik proses yang sudah kita jalani untuk mencapai kesuksesan. Acknowledge that there is a (long) process to earn your achievement right now.

Disamping itu, kita harus menanamkan pada diri kita bahwa "I'm not perfect", dan "It is okay to make a mistake".

Maka, dengan ini saya menyatakan bahwa saya, Iffah Karimah, bukan orang yang sempurna dan bebas dari kesalahan; saya masih perlu banyak belajar, masih banyak hal yang harus saya lakukan untuk menjadi dosen, peneliti, wanita, manusia, hamba Allah yang lebih baik dari saya sekarang.
Dan apa yang saya dapatkan adalah hasil dari semua usaha dan doa saya selama ini; bukan karena saya beruntung.

Bagi teman-teman yang menderita imposter syndrome juga, semangat! 

You're not just lucky, you earn it. 
You're not a fraud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar