Jumat, 01 Mei 2026

Mencari Islam di Durham

"Gimana Inggris? Apakah kamu menjadi korban islamophobia di sana?"

Sebagai seorang muslimah yang menempuh studi di Eropa, ada satu-dua pertanyaan seperti itu yang datang kepadaku. Mengingat aku seorang muslimah yang mengenakan jilbab, identitas sebagai seorang muslim selalu kubawa dimanapun aku berada, sehingga aku lebih rawan menjadi sasaran islamophobia.

Sebelum aku menjejakkan kaki di Durham, aku tidak terlalu memusingkan masalah menjadi seorang muslim yang minoritas. Kupikir, Durham sama seperti kota-kota besar di Inggris yang muslim-friendly seperti London atau Birmingham dimana imigran muslim sangat banyak sehingga tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan makanan halal. Setidaknya, menurutku menjadi muslim di UK lebih nyaman daripada di negara Eropa lainnya atau bahkan di negara-negara Asia.

Namun Durham memang bukan London; Durham adalah sebuah desa kecil dimana Islam sangat menjadi minoritas. Karena itu, sebagai minoritas wajar jika aku harus mengalami penyesuaian. Sebenarnya, secara penerimaan terhadap muslim, Durham adalah kota yang ramah dan baik. Walau mungkin satu-dua kali kami mengalami rasisme secara verbal, namun overall penduduk Durham tidak seperti itu; penduduk yang sebagian besar merupakan kakek dan nenek pensiunan sangat ramah, kami saling bertukar sapa dan senyum serta bercakap-cakap di jalan.

Untuk tempat beribadah, sebenarnya kampus menyediakan Prayer Room yang biasa digunakan oleh semua agama, termasuk Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha dan sebagainya. Sehingga kami bisa sholat di ruangan yang memiliki salib besar menggantung. Prayer Room juga biasa digunakan oleh Islamic Society, yaitu komunitas muslim di Durham University untuk melakukan kegiatan mingguan mengkaji ayat Al-Qur'an. Namun Prayer Room terdekat ada di College yang letaknya agak jauh. Untungnya, sebagai mahasiswa magister Islamic Finance kami mendapat keistimewaan bisa mengakses Doctoral Training Center for Islamic Finance, yang dihuni oleh sebagian besar muslim. Selain penuh dengan kubikel dan komputer, ada ruangan khusus yang biasa digunakan sholat berjamaah. Namun bila jarak antar kuliah sangat mepet dan tidak sempat ke DTC, kami bisa menggunakan tangga darurat di kampus Business School untuk sholat.

Prayer Room di Aidan College

Durham University menyediakan mushola yang terletak di City Center, yang biasa digunakan oleh komunitas muslim di Durham untuk sekedar sholat atau melaksanakan sholat jumat, dan pada bulan Ramadhan digunakan untuk ifthar dan shalat tarawih. Namun karena letaknya sangat jauh di City Center (sekitar 45 menit berjalan kaki dari rumah), maka kami tidak terlalu sering ke mushola, kecuali jika kebetulan sedang berbelanja atau berjalan-jalan ke City Center. Mushola ini pun bentuknya merupakan semacam ruko dua lantai yang diberi kunci elektronik, tidak terbuka untuk umum. Letaknya persis di belakang Pub Dun Cow, sehingga untuk menuju mushola kami harus melewati gang Pub dimana banyak orang sedang berkumpul menikmati alkohol. Karena itu, kami diwanti-wanti oleh kakak-kakak senior agar tidak pulang terlalu malam dari mushola, mengingat kemungkinan berpapasan dengan orang-orang mabuk. Terkadang senior kami harus menginap di mushola menunggu sampai pagi datang agar lebih aman. 

Dun Cow Pub, pintu masuk untuk mengakses mushola di City Center

Satu-satunya masjid (yang benar-benar merupakan bangunan masjid) di County (Provinsi) Durham terletak di Stockton, yang dapat ditempuh selama satu jam dengan menggunakan bis dari Durham. Masjid ini hanya dibuka saat waktu sholat saja; selain itu masjid ini terkunci rapat.

Satu-satunya "Masjid Beneran" di Stockton

Satu hal yang menjadi tantangan besar bagiku di Durham adalah soal makanan halal. Sebagai seseorang yang concern pada isu produk halal-haram (bahkan mengambil skripsi dan penelitian tentang ini), mungkin rasanya hipokrit jika aku tidak mengkonsumsi produk halal. Tapi percayalah, kondisi menjadi minoritas memang tidak semudah itu. Aku nyaris tidak bisa menemukan makanan dengan label halal di sini, kalaupun ada itu hanya daging-daging di toko halal khusus muslim yang letaknya di luar kota dan harganya lebih mahal. Untuk beberapa barang makanan kebutuhan sehari-hari tentu saja hampir tidak ada yang berlabel halal. Sehingga, aku berusaha menyiasatinya dengan memperhatikan ingredients, melihat kode makanan, menggunakan scan halal (yang belum tentu info kehalalan semua produk tersedia), atau sekedar mencari label: suitable for vegetarian. Sebelum kami sempat berbelanja ke toko halal, kami hanya memakan seafood dan telur sebagai sumber protein. Sebisa mungkin kami berusaha menjaga agar yang masuk ke tubuh kami hanya makanan halal saja.

Di City Center Durham, sedikit sekali restoran atau tempat makan yang menjual makanan halal, mungkin hanya ada dua atau tiga restoran saja. Jangan bayangkan restorannya bersertifikasi halal seperti Indonesia; dasarnya adalah kepercayaan. Karena pegawai-pegawai dan pemilik restorannya adalah orang-orang IPB (India, Pakistan, Bangladesh, tiga negara asal imigran muslim yang paling banyak di Durham), maka kami percaya berdasarkan statement mereka bahwa mereka hanya menjual makanan halal dengan daging yang disembelih sesuai dengan syariat Islam. Biasanya juga aku tidak makan di luar tapi membawa bekal yang dipersiapkan sebelumnya dari rumah. Selain menjaga kehalalan makanan yang kita konsumsi, pastinya membawa makanan dari rumah lebih hemat (karena sekali makan di luar bisa 5 pounds). 

Dixy, salah satu restoran fast food yang halal

Namun ketika kami ke Newcastle, kota besar yang berjarak 15 menit naik kereta dari Durham, tentunya pilihan makanan halal lebih banyak tersedia, juga restoran halal. Bahkan di kawasan Fenham yang banyak tinggal warga keturunan arab, toko-toko besar yang menjual makanan halal banyak tersebar. Di Stockton yang juga banyak warga komunitas muslim keturunan arab, banyak toko yang menjual makanan bahkan frozen food halal. Sekali lagi, harga makanan halal tidaklah murah. Namun alhamdulillah, kami masih bisa mengakses daging atau ayam potong halal walaupun harus menempuh jarak jauh dan merogoh kocek lebih dalam.

Salah satu toko halal di Stockton

Overall, menjadi minoritas dimanapun memang tidak mudah. Namun aku bersyukur, sebagai muslim aku masih bisa tetap menjalankan kewajiban dan kepercayaanku di Inggris, negara minoritas muslim. Tentunya menjalankan ibadah yang tidak semudah di Indonesia seharusnya bukan menjadi excuse bagiku untuk tidak melaksanakannya; tetapi malah menjadi pemacu untuk tetap berpegang teguh pada agama dimanapun aku berada. 

Bagiku, inilah ujian keimanan sesungguhnya: apakah aku masih bisa mengaku dan menjalankan kewajiban sebagai muslim di luar zona nyamanku?

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (QS Al-Ankabut:2-3).