“Kita semua tau betapa nggak
enaknya ngerasain deadline, tapi kenapa kita nggak pernah kapok jadi deadliner?”
– Quote by Camila Bani Alawia
Ya, deadliner. Kebiasaan orang
yang suka menunda-nunda, mengerjakan mepet tenggat waktu... lalu kelabakan
sendiri. Baru-baru ini, aku mengalami deadline yang merenggut waktu dan
kebebasanku, dan membuatku membatin... “Ya Allah. Ampuni segala dosa-dosa
hamba. Jangan beri hamba cobaan seberat ini :’( “
Begini ceritanya...
Baru-baru ini, aku, Muthi, sama Camila
iseng-iseng berhadiah mencoba ikut Lomba yang diadakan oleh Mahkamah Agung.
Lomba itu menganalisis putusan-putusan MA yang pernah ada. Dan hadiahnya
guedeee banget. Alhasil, banyak banget anak FHUI 2011 yang ikut lombanya. Hari-hari
kita mulai diwarnai curiga dan insecure. Setiap kali ngeliat ada anak-anak yang
lagi berkumpul dan mengerjakan sesuatu, di otak terbayang perasaan was-was: “Mereka
saingan! Kita harus berhati-hati.”
FYI, motivasi kita bertiga untuk
mengikuti lomba ini berbeda-beda namun tetap satu:
-
Mau upgrading diri
-
Mencoba produktif
-
Hadiahnya besar, lumayan
-
Mau menyibukkan diri dengan kegiatan, daripada
galau mikirin yang orang yang nggak seharusnya dipikirin *curcol*
-
Mau membuat seseorang merasa menyesal karena telah
meninggalkannya *lahh ini apa?*
Note: Satu orang bisa memiliki 3
alasan sekaligus
Setelah diwarnai perdebatan seru,
kita mulai mengerjakan lombanya. Kita mulai ngerancang ini dari jaman liburan,
kira2 ada sebulan sebelum deadline. Nyatanya? Ngerjainnya mepet-mepet deadline
juga sih *merunduk malu*
Oh iya, selain lomba ini, gue
sama camila juga ikut lomba lain namun dengan kelompok yg berbeda. Gue sama
Adlul Ghaida, Camila sama Mbak Rana dan Mbak Gusva. Dan bayangkan
saudara-saudara, dua lomba ini memiliki deadline yang cuma berbeda satu hari. Kalau
dipikir-pikir nekat juga ya kita, berani mengambil dua lomba yang deadlinenya
deketan. Tau sendiri orang Indonesia deadliner.
Alhasil, selama dua hari kemarin,
Iffah begadang di kampus sampai malem dan nginep di rumah Camila. Kira-kira
beginilah kronologis kejadian yang merenggut kebebasanku...
Jum’at
Pukul 23.59 adalah deadline essay
buat penyisihan olimpiade. Pukul 16.00, Iffah masih ngotak-ngatik essay. Nunggu
bahan dari Ghaida sama adlul. Nggak tahu topik essay mau dibawa kemana.
Pukul 18.00, Iffah bertemu kak
Jihan. Lalu sempat labil untuk mengganti topik essay. Sayang deadline tidak
memungkinkan.
Pukul 19.00, Iffah berkumpul
dengan Camila dan Muthi di lobby untuk lomba putusan. Otak masih berusaha
berfokus, pindah dari topik ekonomi syariah ke hukum perusahaan. Diskusi hebat,
selesai pukul 22.00
Pukul 22.00 malam pulang ke rumah
Camilla. Nunggu bahan essay dari adlul. Belum dikirim. Agak-agak hopeless
Pukul 23.40 Adlul mengirimkan
bahan. Iffah berusaha mengcompile dengan sekuat tenaga
Pukul 23.59, Yahoo lemot.
INNALILLAHI (part 1)
Sabtu
Pukul 00.02, essay baru terkirim.
Setelah hopeless bahwa essay
nggak akan diterima, mendadak aku teringat bahwa ada cobaan lebih besar yang
sedang menanti. Ya, deadline putusan hari ini.
Pukul 08.00, dapat konfirmasi
dari panitia bahwa soal babak penyisihan olimpiade udah dikirim. Waktu deadline
pengumpulan soal jam 21.00. Seneng karena essay diterima, insecure karena nanti
malam adalah deadline putusan.
Lupa pukul berapa, ngerjain soal
penyisihan olimpiade bareng Adlul Ghaida di kampus sampai jam 6. Memutuskan untuk
multitasking ngerjain soal olim karena harus ngumpul bareng Muthi Camila
Pukul 19.00, makan dulu. Masih
santai.
Pukul 20.00, masih bisa
ketawa-tawa. Mushola Alfath kita jadikan basecamp
Pukul 20.40, baru inget bahwa
deadline soal Olim jam 9. Kirain jam 23.59. Mengebut mengerjakan soal.
Pukul 20.59, soal olimp sent.
Pukul 21.30, masih tertawa-tawa,
tapi tawa sudah berganti dengan tawa stress. Camila sama Muthi bajak-bajakan di
facebook
Pukul 22.00, mulai panik
Pukul 23.30, mulai berantem
Pukul 23.40, listrik di FH mati
termasuk wi-fi. INNALILLAHI (part 2)
Pukul 23.50, panik menjalar. Nggak
ada wi-fi, akhirnya tethering dari HP camila.
Pukul 23.55, batre laptop camila
yang menyimpan semua berkas udah low. Dan listrik masih mati. INNALILLAHI (part
3)
Pukul 23.58, berhasil mengejar
deadline. Sent.
Hikmah dari semua ini, aku belajar:
Deadliner adalah salah satu kebiasaan yang dapat memicu serangan jantung.
Selain itu, jadi deadliner nggak Cuma ngerugiin diri sendiri, tapi bisa
ngerugiin banyak orang, apalagi kalau kamu bekerja dalam tim.
Intinya satu: Jangan sampe jadi
deadliner lagi, faaah!
Eh, btw belum ngerjain tugas
filhum buat dikumpul besok nih. Udah dulu yaa *plaaak*
Sekian dan terima kasih,
Wassalamualaikum wr. wb