Sungguh tidak mudah menjadi mahasiswa Hukum. Apalagi di Indonesia, negara
dimana hukum tidak memiliki supremasi apa-apa. Hukum rasanya sangat mudah
diperjualbelikan, dipermainkan demi kepentingan politik semata. Ketika hukum
dipermainkan oleh orang-orang yang berkuasa, banyak pihak yang terdzalimi
bahkan oleh keberadaan hukum itu sendiri. Hukum, yang seharusnya dapat
memberikan keadilan dan ketertiban, malah menimbulkan kekacauan baru.
Masih hangat dalam ingatan, kemarin vonis telah dijatuhkan dalam proses
praperadilan calon Kapolri Budi Gunawan yang menjadi tersangka KPK. Hakim
Sarpin memutus bahwa penetapan status Budi Gunawan sebagai tersangka KPK tidak
sah, padahal bukanlah kewenangan Hakim dalam praperadilan untuk memutuskan sah
atau tidaknya penetapan status tersangka. Hakim Sarpin, entah sadar atau tidak,
telah menjatuhkan putusan yang melebihi wewenangnya. Tidak sesuai dengan hukum
yang berlaku. Namun sayangnya, putusan praperadilan berkekuatan hukum tetap
sehingga tidak dapat diganggu gugat. Sehingga, resmilah calon Kapolri Indonesia
(yang notabene adalah unsur penegakan hukum tertinggi di Indonesia) adalah
(mantan) tersangka koruptor.
Vonis ini menambah kekecewaan dalam dada mahasiswa hukum, termasuk aku
dan kawan-kawanku. Tidak sedikit dari kami yang menitikkan air mata. Entah
sudah berapa kali kami dikecewakan dengan putusan penegak hukum yang
kami—mahasiswa hukum—tahu bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang kami
pelajari tentang hukum. Sungguh sesak rasanya jadi mahasiswa hukum, karena apa
yang diajarkan di ruang-ruang kelas bertentangan dengan realita penegakan hukum
yang terjadi. Das sollen tidak sesuai dengan das sein. Tidak sedikit dari kami
bertanya-tanya, untuk apa kami belajar hukum. Karena pada prakteknya, apa yang
kami pelajari tidak dapat diaplikasikan dalam kenyataan. Hukum di Indonesia
sudah sedemikian mengkhawatirkannya.
Memang tidak mudah jadi mahasiswa hukum. Apalagi di Indonesia, dimana
hukum sudah tidak dipercaya.
Tidak terhitung beberapa kali aku dalam perjalanan, seketika ditatap
dengan wajah tidak ramah, ketika aku mengaku sebagai mahasiswa jurusan Hukum.
Tatapan sinis itu disusul dengan racauan kemarahan entah ditujukan untuk siapa.
Mengutuk penegakan hukum di Indonesia yang sedemikian bobroknya. Aku yang
mendengarnya hanya bisa menunduk dalam-dalam. Mungkin tidak semua orang
mengerti bahwa aku dan teman-temanku mempelajari hukum bukan untuk menjadi
bagian dari penegakan hukum yang menyimpang. Kami belajar, agar kami tidak
mudah dibodohi seperti orang-orang lain yang tidak mengerti hukum. Agar kami
dapat meneriakkan keadilan ketika kami tahu hukum dipermainkan. Untuk itu kami
menjadi mahasiswa hukum. Namun aku mencoba memaklumi, karena mereka pun geram
dan prihatin dengan penegakan hukum di Indonesia yang asal-asalan. Seperti
kami.
Memang tidak jarang muncul keinginan untuk menyerah. Menyerah saja pada
keadaan penegakan hukum di Indonesia. Dan mulai realistis untuk mencari profesi
lain yang lebih menjanjikan. Apalagi, begitu besar harga yang dibayar untuk
masuk ke dunia hukum. Pilihan pertama adalah menjadi terseret dalam sistem
penegakan hukum yang buruk, ikut menjadi penegak hukum yang sewenang-wenang dan
tidak adil. Ganjarannya adalah neraka, bila kamu percaya Tuhan itu ada. Pilihan
kedua adalah menjadi penegak hukum yang bersih dan berintegritas, walau
ganjarannya adalah gaji yang tidak seberapa, atau terkadang ancaman terhadap
keluarga dan nyawa. Tentu saja, manusia yang rasional lebih memilih untuk tidak
masuk dunia hukum daripada dihadapkan pada dilema seberat itu.
Namun tahukan kawan? Apabila semua orang bersih dan jujur menolak untuk
masuk ke dunia hukum yang kotor, maka dunia penegakan hukum akan terus diisi
oleh orang-orang yang tidak jujur dan tidak kompeten. Maka suka atau tidak,
pilihannya adalah masuk ke dunia hukum dan menjadi bagian dari perubahan
sistem.
Hari ini, aku dan sahabat-sahabatku, Muthi dan Camila, merenung dalam.
Berkeluh kesah tentang masa depan dunia hukum di Indonesia. Dan masa depan
kami, mahasiswa hukum yang insya Allah suatu saat akan menjadi Juris atau
penegak hukum di Indonesia.
“Kalian kebayang nggak sih, putusan Hakim Sarpin ini menghancurkan
harapan mahasiswa-mahasiswa yang mau membangun hukum. Di otak mereka sekarang pasti muncul
pikiran, ‘Astaga, gue kecil banget dibandingkan dengan orang-orang yang mau
membunuh keadilan.’” Camila, satu dari sedikit mahasiswa FHUI di angkatanku
yang bercita-cita menjadi hakim, menyuarakan kegalauannya. “Nggak kebayang, gue
harus sekuat apa ketika gue jadi hakim kelak. Suami gue harus super kuat untuk
menopang gue yang sebenarnya sok kuat ini. Gue diteror dikit pasti nangis...”
“Gue jadi inget cerita Ibunya Ishmah yang advokat di PAHAM.. beliau
pernah cerita ke gue bahwa dia lagi insecure dan terus memantau anak-anaknya.
Soalnya keluarganya diancam sama orang yang dia kalahkan di pengadilan.” Aku
menghela nafas. “Emang kayaknya jalan hidup penegak hukum akan seperti itu.
Tapi insya Allah berkah.”
“Ibunya Ishmah tau banget pasti, dunia hukum ini ladang jihad yang besar.
Makanya dia tetap stay di sana. Someday, kita semua yang akan ada di posisi
seperti itu, guys..” ucap Camila. “Di tempat dimana kita bisa berjuang, dengan
cara masing-masing..”
“Karena kasus ini gue justru jadi semangat untuk masuk pemerintahan.
Karena kita perlu seseorang yang memperbaiki hukum dari dalam sistemnya.”
Muthi, sahabatku yang bercita-cita menjadi politisi memiliki perspektif lain.
Dia bertekad untuk menjadi anggota DPR agar hukum-hukum yang dibuat legislatif
tidak lagi sewenang-wenang. “Insya Allah gue akan masuk pemerintahan atau
parlemen.”
Aku yang memang lebih tertarik pada dunia pendidikan memiliki cita-cita
berbeda. “Gue udah punya visi masa depan.. gue akan bikin buku atau tutorial
pelajaran law for dummies. Supaya orang-orang paham tentang hukum dan nggak
gampang dibodohin penegak hukum yang ngaco.”
Kami bertiga terdiam, mengaminkan cita-cita itu dengan kesungguhan.
Berharap di masa depan kami bisa menjadi juris yang jujur. Tidak seperti
penegak hukum yang telah banyak mengecewakan kami.
“Di umur sekarang, kita bertiga cuma saling mengingatkan di hal-hal
‘remeh’ seperti jaga hati dan jaga diri.. Di masa depan, materi ‘saling
mengingatkan’ kita akan naik level. Untuk nggak keluar dari jalan perjuangan,
dan tetap membela yang benar.” Camila membuatku tertegun. “Karena ketika kita
udah berprofesi nanti, godaan juga akan semakin besar.”
Kami terdiam cukup lama. Meresapi kata-kata itu di benak masing-masing. Membuat
janji dan cita-cita, yang kami tahu sangat berat, namun akan berusaha kami tepati.
Menjadi jurist yang bersih dan jujur. Menjadi Muslim Jurist, jurist yang selalu
membawa nilai-nilai Islam dalam dunia hukum kelak. Dan untuk menjadi sahabat
yang saling mengingatkan dalam perjuangan menegakkan hukum di Indonesia.
Semoga.
Tulisan ini dibuat dengan segala
kecemasan dan harap yang berkecamuk di hati. Ya Allah, lindungi Indonesia. Dan mudahkan
jalan kami untuk menjadi pembangun peradaban Indonesia.