Selasa, 07 Juli 2015

Review Buku "How To Win Friends And Influence People" -- Dale Carnegie

Gimana sih caranya berkomunikasi yang baik?

Bagi saya yang seorang introvert dan pemalu dari kecil, ternyata sesulit itu berkomunikasi dengan orang lain. Seringkali, saya hanya diam seribu bahasa apabila bertemu dengan orang lain, bukan karena saya nggak ramah atau sombong, tetapi sesimpel karena saya nggak tahu apa yang harus dikatakan. Ada ketakutan bahwa apa yang keluar dari mulut saya akan menyakiti perasaan orang lain, atau membuat orang lain bosan atau menganggap saya garing. Ketakutan-ketakutan itu yang akhirnya membuat mulut saya semakin rapat mengatup dan sulit membuka diri kepada orang baru. Padahal, kalau orang sudah mengenal saya, saya akan sangat terbuka dan amat sangat cerewet.

Terkadang saya merasa iri sama teman-teman yang bisa dengan mudahnya bercakap-cakap dengan orang yang baru ditemuinya di jalan. Saya bertanya-tanya, kok bisa ya seseorang memiliki bakat alam untuk menjadi begitu menyenangkan. Camila, sahabat saya adalah contoh nyatanya. Camila memiliki sifat periang, antusias, dan enak diajak berbincang-bincang. Lebih jauh lagi, Camila selalu tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik; gimana caranya membuat seseorang terbuka kepadanya, gimana menyampaikan pendapat dengan jelas, gimana melakukan kritik tanpa menyakiti orang lain, dan hal-hal lain yang membuat saya takjub. Bahkan, Camila memiliki bakat untuk memikat ibu-ibu dan bapak-bapak yang dikenalnya sehingga mereka merasa sayang kepada Camila dan percaya dengannya. Bakat ini sangat berguna dalam kehidupannya, terutama kalau Camila bertemu calon mertua, hehehe.

Untungnya, saya kemudian membaca sebuah buku karangan Dale Carnegie yang berjudul “How to Win Friends and Influence People”. Super nyesel kenapa saya nggak baca buku ini dari dulu. Buku ini membahas semua cara komunikasi yang dapat digunakan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dalam berkomunikasi. Lebih jauh lagi, kemampuan komunikasi yang kita punya dapat digunakan sebagai modal untuk memperlancar kehidupan sehari-hari, mulai dari pergaulan sampai pekerjaan. Semua yang ada di buku ini rasa-rasanya sudah dipraktekkin sama Camila. No wonder Camila supel dan banyak teman. Pokoknya, buku ini recommended banget untuk orang-orang yang ingin memperbaiki cara berkomunikasi dan ingin punya banyak teman.

Apa aja sih yang dibahas dalam buku ini?

-How to Handle People
1. Don’t critize people, condemn, or complain
Intinya adalah, apapun yang terjadi jangan pernah kritik orang lain. Nggak ada orang yang suka dikritik, dan sometimes kritik yang kita berikan tidak membuat orang jadi lebih baik, tapi malah membuat orang kesal dengan kita dan melakukan pembenaran terhadap tindakan mereka, lebih jauh lagi menghindari orang yang mengkritiknya. (If only I know this earlier...). Nah terus kalau kita kesal sama orang lain harus gimana? Salah satu saran yang diberikan supaya kita lega adalah tulis aja uneg-uneg kita kepada seseorang di surat, tapi suratnya jangan pernah dikirimin, kalau perlu disobek-sobek hehe. Intinya, jangan pernah mengkritik seseorang.

2. Give honest dan sincere appreciation
Untuk menggantikan kritik, justru sebaliknya kita harus memberikan seseorang apresiasi. Setiap orang butuh apresiasi, tapi sedikit banget orang-orang yang memberikan apresiasi. Jadi daripada mengkritik seseorang karena kerja dia jelek, lebih baik kita mengapresiasi pekerjaan yang sudah dia lakukan, supaya dia semakin semangat bekerja. Tentu saja, apresiasi ini harus honest and sincere, jangan sampai yang kita berikan ini pujian palsu.

3. Arouse in other person an eager want
Intinya adalah, manusia lebih semangat melakukan sesuatu kalau berdasarkan panggilan hatinya sendiri. Jadi kalau kita punya ide brilian yang kita ingin dijalankan oleh orang lain, daripada membuat orang berfikir, “Gue melaksanakan idenya iffah nih.” Lebih baik membuat mereka merasa ide itu berasal dari mereka sendiri. Jadi kita seolah-olah hanya mensuggesti dia untuk melakukannya, selanjutnya terserah kepada ide dari dia.

-Ways to make people like you
1. Became genuinely interested in other people
Setiap orang suka diperhatikan dan menjadi pusat perhatian. Karena itu, kalau kita ingin diingat oleh seseorang, kita harus tertarik kepadanya, mulai dari hobinya, cita-citanya, apa yang jadi favoritnya, dan lain-lain. Minimal banget, kita harus ingat nama dan muka seseorang. Lebih bagus lagi kalau kita ingat hal-hal kecil tentang dia, misalnya hari ulang tahunnya ataupun minatnya.

2. Smile!
Selalu tersenyum setiap ketemu sama orang!

3. Remember: a person’s name
Kesalahan fatal  yang sering kita lakukan adalah kita lupa nama atau muka seseorang. Inget nggak, kita suka merasa kesal kalau ada yang lupa nama atau muka kita, kesannya kita nggak penting dan remeh sampai dilupakan. Begitu juga yang orang lain rasakan. Tipsnya, setiap ketemu orang baru, selalu hubungkan nama dan karakteristik yang dimiliki seseorang. Misalnya, temen gue Andi terkenal dengan kumis yang dia punya. Atau kalaupun kita beneran lupa nama orang yang pernah kita temui, minimal jangan sampai ketahuan kalau kita lupa hehe. Sambil ngobrol, cari-cari cara untuk mengingat siapa namanya.

4. Be a good listener. Encourage others to talk about themself
Ingat, setiap orang suka diperhatikan, apalagi didengarkan. Ketika ngobrol  dengan seseorang, dengarkan dengan penuh perhatian, lihat matanya jangan lihat yang lain (apalagi hape, nggak sopan banget kalau diajak ngobrol malah mainin hape). Dengarkan omongannya sampai dengan selesai, jangan disela di tengah-tengah. Lalu untuk menggali dia lebih dalam, berikan pertanyaan-pertanyaan yang bikin dia nyaman menjawabnya (artinya, nggak offensive). Biarkan dia bercerita lah pokoknya.

5. Talk in terms of other people interest
Ajak seseorang untuk ngobrolin hal-hal yang memang membuat dia tertarik. Bahkan kalau  perlu, sebelum berkenalan dengan seseorang, kita cari tahu dulu apa hal-hal yang dia suka supaya kita siap dan “nyambung” dalam pembicaraan. Misalnya saya tahu Camila itu sangat concern di isu-isu perlindungan perempuan, sebelum ketemu Camila saya baca berita yang lagi hot di masyarakat tentang kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dan sebagainya.


Nah, itu cuma sebagian dari banyaak hal yang diajarkan dalam buku ini. Penasaran? Mendingan langsung baca bukunya, saya jamin buku ini sangat berguna. Kalo mau baca, bisa download ebooknya di How to Win Friends and Influence People – Dale Carnegie. Selamat membaca!

Minggu, 05 Juli 2015

Kaledioskop Mahasiswa Tingkat Akhir


Assalamualaikum blog!

Long time no see! Huhuhu maafkan.. kalau di dunia nyata lagi ngetrend penelantaran anak, ini saya juga melakukan penelantaran pada blog yang udah setia menemani dari jaman saya masih SMA labil sampai sekarang yang (alhamdulillah) udah jadi Sarjana Hukum. Kehectican di tingkat akhir membuat saya jadi amat sangat jarang nengokin blog atau sekedar mengepost tulisan. Padahal, sebenarnya banyak banget cerita, tawa, dan airmata yang mau dibagi ke blog ini.

Karena itu, saya mau menuangkan segala momen-momen mahasiswa tingkat akhir yang sudah saya lalui dan tidak sempat terekam di blog ke tulisan pendek ini.
Here we go!

Kaledioskop Mahasiswa Tingkat Akhir

Menjadi mahasiswa tingkat akhir bukan hal yang mudah, kita dilenakan dengan keluangan waktu karena sudah nggak ada mata kuliah yang harus diambil, tapi dituntut untuk bertanggungjawab dengan selesainya tugas akhir mulia sebagai mahasiswa yaitu... skripsi.

Alhamdulillah, momen tingkat akhir saya sebagai mahasiswa tidak terbuang sia-sia. Bahkan, saya merasa amat sangat bersyukur karena sepanjang tahun 2014-2015 ini sudah diberikan banyak anugerah dari Allah untuk mencoba berbagai kesempatan.

Liburan panjang semester 6 tahun 2014 kemarin saya habiskan untuk dua kegiatan produktif.
Pertama, saya dan Muthi ikut Sekolah HAM selama dua minggu yang diadakan oleh LBH Masyarakat, sebuah lembaga bantuan hukum publik. LBH Masyarakat yang letaknya di Tebet, dekat rumah saya itu mengadakan Sekolah Hak Asasi Manusia yang ditujukan bagi mahasiswa-mahasiswa. Materi yang dipelajari juga menarik, misalnya kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, hak hidup, dan lain-lain.  Yang seru dari kegiatan ini adalah selain kita didatangkan pembicara kompeten untuk mengajarkan materi seputar Hak Asasi Manusia, kita juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke lembaga-lembaga yang bergerak di isu seputar HAM. Kita mengunjungi Kontras, Komnas HAM, KIP, ELSAM, Wahid Institute, mendengar pengalaman hidup mantan pengguna narkotika dan penderita AIDS, dan berkunjung ke komunitas LGBT yang ada di Tebet. Pengalaman dua minggu ini malah semakin membuat keyakinan saya kuat bahwa apa yang saya yakini benar adalah benar, dan saya tetap menghormati orang yang berbeda keyakinan dengan saya.

Lesson learned: Jangan pernah takut untuk mempelajari sesuatu yang terdengar “berbeda”, karena mungkin saja dari sana kita malah bisa belajar banyak. Jangan pernah berpikiran sempit dan menjudge sesuatu sebelum kita benar-benar mengerti mengenai sesuatu itu.

Di bulan yang sama, memasuki bulan Ramadhan, saya ikut magang di PAHAM. PAHAM adalah lembaga bantuan hukum (serupa LBHM) yang letaknya di Pasar Rebo. Hanya saja, PAHAM berbeda concern dengan LBHM. LBHM lebih fokus melakukan advokasi terhadap kasus-kasus pengguna narkotika, LGBT, dan lain-lain. Sementara PAHAM melakukan advokasi kepada isu-isu keislaman di masyarakat. PAHAM sebagai lembaga bantuan hukum juga menerima klien-klien yang datang. Selama saya magang di sana, saya bertemu klien yang mempunyai masalah yang berbeda-beda: seorang mahasiswa hidup susah karena uang pensiun ayahnya bertahun-tahun tidak cair, dan ia mencoba memperjuangkannya; kasus guru-guru di sekolah swasta yang diberikan kontrak kerja yang sewenang-wenang; dan kasus human trafficking dimana seorang remaja diberangkatkan ke Malaysia dengan tujuan jadi TKI, tapi sesampainya di sana malah dipekerjakan sebagai wanita penghibur di panti pijat plus-plus.

Selama saya magang di sana, saya semakin merasa ilmu yang dipelajari di kampus tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan masalah yang dihadapi di dunia nyata. Saya yang mahasiswa peminatan hukum perdata, harus bisa menangani masalah buruh, masalah human trafficking, masalah pidana (that’s why, kita nggak boleh jadi mahasiswa hukum yang cuma ngerti masalah peminatan hukum kita aja). Saya juga merasa bersyukur bisa ikut magang di PAHAM karena bisa ikut bertemu klien, mendengarkan permasalahan yang ada, dan melihat langsung bagaimana advokat-advokat senior menangani kasus-kasus hukum yang ada. Yang hebatnya, setiap pengacara yang ada di sana tidak menerima bayaran dari klien. Namanya juga lembaga bantuan hukum, bayaran yang diberikan oleh klien tergantung kemampuan klien. Kadang kalau beruntung, klien membawakan makanan sebagai ucapan terima kasih. Tentu saja lembaga bantuan hukum berbeda dengan Lawfirm yang corporate lawyer-nya gajinya dihitung per jam waktu konsultasi. Bapak-bapak dan mbak-mbak yang ada di PAHAM ikhlas melakukan pekerjaannya dengan gaji yang tidak seberapa.

Selesai liburan, saya memasuki semester 7. Di semester ini saya memfokuskan kegiatan kemahasiswaan pada bidang yang menjadi passion saya sejak dulu: pendidikan.

Kalau di semester sebelumnya saya jadi pendidik Rumah Belajar BEM UI, kali ini saya memutuskan untuk menjadi panitia pengurus Rumbel BEM UI. Saya bergabung dengan Rumah Belajar BEM UI sebagai Wakil Kepala Divisi Akademik. Divisi akademik adalah divisi yang melakukan pelatihan dan memanajemen pendidik-pendidik volunteer Rumbel. Divisi ini juga mengatur kegiatan belajar mengajar setiap sabtunya di Rumbel BEM UI. Dan tentu saja, saya setiap sabtu merasakan sweet escape karena bisa ketemu adik-adik Rumbel yang unyu-unyu, sambil sesekali mengajar.
KBM di Rumbel BEM UI: Walaupun beralaskan karpet beratapkan langit, tetap semangat belajar!

Anugerah lain yang saya dapatkan adalah bergabung dengan keluarga Gerakan UI Mengajar. Gerakan UI Mengajar (GUIM) terinspirasi dari Indonesia Mengajar yang mengirim pendidik ke pelosok Indonesia untuk mengajar selama satu tahun. Bedanya, GUIM mengirim mahasiswa UI untuk mengajar di daerah yang kurang akses pendidikannya di Jawa Barat hanya selama tiga minggu. Setelah dua tahun kemarin ikut seleksi pengajar GUIM dan belum berhasil lolos, alhamdulillah kali ini saya berkesempatan untuk menjadi pengajar GUIM 4. Saya berkenalan dengan panitia dan pengajar GUIM lain yang keren-keren dan menginspirasi.
Pengajar GUIM 4 di Titik Satu, dari kiri ke kanan: Gugum, Risky, Melati, Iffah, Ela, Maul

Selama tiga minggu, saya dan teman-teman di Titik Satu, SD Puncakmanggu Kabupaten Sukabumi, saling mengenal satu sama lain seperti keluarga sendiri. Saya juga belajar banyak dari anak-anak kelas 3 Ceria yang saya ajar. 
Bu Iffah dan Anak-anak Kelas 3 Ceria

Di Sukabumi, setiap hari yang ada hanya keceriaan walaupun setiap harinya kita harus naik-turun melewati bukit berbatu untuk mengajar di sekolah dan mengunjungi rumah murid-murid. Saat itu juga, saya harus berjuang keras melawan diri sendiri karena beberapa hari menghadapi homesick, dan belajar bahasa sunda dari nol di tengah lingkungan yang memaksa untuk bisa berbahasa sunda. Tapi dari pengalaman selama di GUIM ini, saya belajar amat sangat banyak. Menjadi bagian dari GUIM 4 adalah anugerah tiada terkira yang saya syukuri.

Di semester 7, saya juga menggiatkan diri bersama teman-teman mengikuti beberapa lomba karya tulis. Walaupun tidak semua karya dari lomba yang saya ikuti mendapatkan juara, tentu saja. Tetapi, pengalaman saat mengikuti lomba-lomba itu memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya sebagai sarana upgrading diri. Kalau dihitung-hitung, ada 10 karya tulis yang saya hasilkan selama tahun 2014-2015 kemarin. Alhamdulillah, berhasil menunaikan resolusi awal tahun untuk mengikuti banyak lomba. Dan beberapa dari karya tulis itu memberikan hadiah, misalnya memenangkan juara Program Kreativitas Mahasiswa di Fakultas, dan memenangkan juara 2 saat kompetisi di Gunadarma.

Semester 8 adalah saat ketika saya harus fokus hanya kepada satu hal: Skripsi!

Setelah menunda-nunda untuk sama sekali tidak memikirkan skripsi selama semester 7, di semester ini saya “dipaksa” untuk mulai memusingkan skripsi. Biasanya, ketika ada yang nanya ke saya, “Iffah, gimana skripsinya? Udah bab berapa?”, jawaban cuek saya adalah, “Masih bab niat-rencana-persiapan-pembuatan-proposal.”

Tapi, sejujurnya saya menyesal nggak mempersiapkan skripsi dari jauh-jauh hari. Beberapa teman saya, misalnya Muthi, Athun, dan Ghozi, sudah mempersiapkan skripsinya dari semester 7. Bahkan sekitar setengah dari mahasiswa di peminatan hukum perdata, peminatan saya, sudah selesai di semester 7 dan lulus 3,5 tahun. Dulu saya cuek-cuek saja karena bagi saya lulus juga nggak perlu buru-buru. Tapi saya juga nggak mempersiapkan apa-apa, sehingga di semester 8 saya kelabakan menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah, saya udah dapat tema skripsi, yaitu tentang Jaminan Produk Halal yang terinspirasi dari seminar yang diadakan oleh lembaga yang saya ikuti, Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam (LKIHI).

Saat-saat mengerjakan skripsi adalah momen krusial bagi seorang mahasiswa. Demi bisa menyelesaikan skripsi, saya fokus dan mengabaikan semua kesempatan yang datang. Setiap hari (literally) menghubungi pembimbing, menanyakan kapan bimbingan. Jadi kebal karena berkali-kali di PHP-in untuk bertemu dosen pembimbing. Tapi di saat yang sama jadi supersensitif, gampang emosi dan nangis kalau ada masalah sedikit, terutama masalah yang berhubungan dengan skripsi. Kafe-kafe, KFC, Seven Eleven, dan berbagai tempat nongkrong di sekitar rumah dan kampus menjadi saksi bisu perjuangan saya. Memasuki bulan Ramadhan, tempat ngerjain skripsi pindah ke Perpustakaan FH yang baru diresmikan, yang super pewe karena penuh sofa-sofa empuk, ber-AC, wifi kencang. Setiap saat saya dan teman-teman menggentayangi perpustakaan FH, dari pagi sampai menjelang sore.

Dan perjuangan panjang akan berbuah manis juga pada akhirnya.

Sarjana Hukum sekarang melekat pada akhir nama saya.

Tak hentinya rasa syukur terucap. Rasa terima kasih yang tak terhitung, kepada orangtua saya yang tak hentinya mendoakan saya. Kepada sahabat-sahabat yang selalu ada untuk membantu saya, dan menemani saya selama empat tahun kuliah.

Tapi, seperti yang Tita, sahabat saya, bilang, Sarjana itu hanya titel. Masih sangaaat panjang jalan yang menanti di depan. Masih banyak mimpi yang membayang-bayang di kepala. Menjadi asisten dosen. Menikah. Menempuh S2 jurusan Ekonomi Syariah di Durham University, Inggris. Menjadi dosen di Universitas Indonesia. Membuat buku. Dan masih banyak lagi.


What’s next?