Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..
Merantaulah..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang..
Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan..
Jika mengalir, ia kan jernih..
Jika diam, ia kan keruh menggenang..
Jika mengalir, ia kan jernih..
Jika diam, ia kan keruh menggenang..
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran..
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam..
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran..
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam..
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang..
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah..
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan..
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai..
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan..
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai..
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..
(Syair Imam Syafi'i)
Pada dasarnya, merantau merupakan sebuah hijrah, yaitu suatu perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menemukan atau melakukan hal yang lebih baik. Bagi suku Minang, merantau sesungguhnya bukan hal yang asing lagi; tradisi ini mendarah daging dalam adat Minang. Lihat saja di belahan Indonesia manapun, pasti orang Minang ada dimana-mana. Namun lucunya, bagiku ini adalah pengalaman pertamaku hidup jauh dari rumah dan keluarga. Tidak tanggung-tanggung, perjalanan merantauku yang pertama mengantarkanku ke benua lain. Bertepatan dengan tibanya tahun baru Hijriyah, empat hari sudah aku "hijrah" alias merantau ke sebuah kota kecil bernama Durham di Inggris, tempatku akan menuntut ilmu setahun kedepan.
Sampai saat ini aku masih saja tak percaya akhirnya bisa sampai di sini. Namun, aku percaya tidak ada yang namanya suatu kebetulan atau keberuntungan. Keberadaanku disini merupakan hasil dari suatu rangkaian usaha dan doa selama dua tahun terakhir, sehingga dengan izin Allah semesta berkonspirasi mengantarkanku menjadi candidate Magister Islamic Finance and Management di Durham.
Awalnya, tidak sedikit teman-teman, keluarga, atau dosen-dosen senior yang mempertanyakan mengapa aku memilih untuk melanjutkan kuliah di Durham.
"Durham itu Universitas apa? Dimana?"
"Mengapa ambil jurusan ekonomi syariah? Kenapa nggak hukum aja? Nanti kamu susah jadi Professor."
"Memangnya di Inggris ada jurusan ekonomi syariah? Kok belajarnya di Inggris?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berdatangan, yang untungnya dapat kujawab dengan baik. Melanjutkan studi ke Durham adalah keputusan yang sudah kuambil dengan banyak pertimbangan, karena itu aku pun harus siap atas segala konsekuensinya: mengejar ketertinggalan materi dari teman-teman lainnya dan ketidaklinieran jurusan, serta jauh dari keluarga dan teman-teman yang kusayangi.
![]() |
| My hardest goodbye |
Jujur ada rasa sedih dan cemas menelusup di dada akan kekhawatiranku karena aku akan sendiri di sini, jauh dari keluarga. Namun benar kata Imam Syafi'i, "merantaulah, maka akan kau temukan pengganti keluarga dan teman yang kau tinggalkan". Aku dipertemukan dengan Danis, Rumy, dan Shafira, teman-teman seperjuangan di 72 Hastings Avenue, rumah kami bersama. Mereka adalah teman-teman yang sangat menginspirasiku: sholehah, cerdas, berprestasi serta bersemangat untuk membumikan ekonomi syariah di Indonesia. Kelebihan lainnya, kita masih single semua (ini info yang paling penting).
![]() |
| Ukhti-ukhti Hastings Avenue, kurang Fira |
Tak sampai beberapa hari di Durham, kami menemukan senior-senior di Durham yang menyambut kami dengan ramahnya seperti keluarga sendiri. Kami dijemput dan dibawa berkeliling Durham, serta diberikan sharing pengalaman mereka survive di kota kecil ini. Dan tentu saja, senior-seniorku adalah orang-orang yang sangat menginspirasi dengan prestasinya masing-masing, yang membuatku bersemangat untuk mengikuti jejak mereka.
Salah satu nikmat terbesar yang kusyukuri adalah rumahku di Hastings Avenue, yang merupakan rumah "warisan" dari kakak-kakak senior yang sebagian besar merupakan pengurus PPI Durham tahun lalu. Rumah dengan empat kamar, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur ini sangat nyaman dan rent per-bulannya sekitar 350 Poundsterling, tidak terlalu mahal untuk ukuran Inggris. Peralatan yang ada sangat lengkap, mulai dari peralatan masak, peralatan belajar beserta aneka pernak-pernik bahkan makanan, mereka tinggalkan buat kami. Kami tidak perlu berbelanja banyak, hanya tinggal belanja bahan makanan saja. Tentunya ini sangat membantu mengingat biaya beasiswa dari LPDP masih lama turunnya (sekalian curcol). Kamarku yang terletak di lantai dua besar dan nyaman, serta memiliki view ke jalanan depan, yang membuatku betah berlama-lama di kamar (semoga nggak sering-sering ketiduran).
![]() |
| Room sweet room |
Seperti kebanyakan orang lainnya, aku juga terkena culture shock, terutama menyangkut toilet. Toilet di Inggris yang tanpa air membuatku pusing bagaimana harus bersuci dengan baik. Untungnya, perlahan-lahan aku mulai beradaptasi. Selain itu jam yang berbeda dari Indonesia --7 jam lebih lambat--membuat tubuhku harus beradaptasi. Tidak jarang jam 6 sore tubuhku sudah sangat lelah dan mengantuk (karena di Indonesia sudah jam 1 pagi), namun aku memaksakan diri untuk tetap terjaga. Perbedaan jam dengan Indonesia juga menjadi tantangan ketika ingin berkomunikasi dengan orang-orang tersayang (Ehem. Keluarga dan teman-teman kok) di Indonesia. Tentunya masih banyak tantangan-tantangan lainnya yang harus kuhadapi setahun kedepan, termasuk waktu berpuasa di Inggris yang paling lama di dunia, yaitu 18 jam.
Durham merupakan sebuah kota (atau mungkin desa)? yang terletak tidak jauh dari Newcastle. Kampus Durham sangat luas dan terletak di sebagian besar kota, mungkin seperti Universitas Indonesia yang merupakan jantung kegiatan kota Depok. Rumah-rumah disini tertata rapi dalam satu kompleks, dimana Hastings Avenue tempatku tinggal kebanyakan diisi oleh kakek dan nenek pensiunan.
![]() |
| Kayak rumahnya Harry Potter |
Jangan bayangkan kalau lapar kita bisa jajan di Alfamart sebelah rumah, karena kemana-mana harus menggunakan sebuah bis. Untuk berbelanja kita harus pergi ke city Center dimana deretan toko terpusat menjadi satu, tidak ada mall besar. Bahkan masjid juga terletak di City Center.
Durham juga terkenal dengan landmark Kastil dan Cathedralnya (yang juga menjadi tempat shooting Harry Potter 1 & 2). Di dekat Kastil dan Cathedralnya ada sebuah sungai membelah, kadang satu-dua orang melintas dengan perahu dayung. So far aku baru berjalan-jalan ke City Center saja, belum menjelajah sudut-sudut kota lainnya.
![]() |
| Durham Cathedral |
![]() |
| Depan Kastil tempat asrama mahasiswa undergraduate |
Aku merasa sangat bersyukur karena memilih Durham, sebuah kota kecil yang indah, tenang, cocok bagi orang sepertiku yang mencari kedamaian. Seperti filosofi Minang "Alam Terkembang Jadi Guru", belajar bisa dilakukan dimanapun dan dari sumber manapun. Aku berharap bisa belajar bertumbuh dari kota kecil ini, berkembang, belajar menyerap ilmu sebanyak-banyaknya (baik ilmu ekonomi syariah maupun ilmu kehidupan) dan kembali untuk mengajarkannya. Dan tentunya, aku berharap ilmu yang kupelajari akan berguna untuk kemajuan Islam dan Ekonomi Islam di Indonesia.




















