Selasa, 23 Mei 2017

Menjadi Awardee LPDP: Seleksi Administratif



Kali ini, aku akan berbagi pengalamanku ketika mengikuti seleksi beasiswa yang sedang hits-hits nya di Indonesia: LPDP. Walaupun aku yakin, sudah banyak blog atau tulisan yang menceritakan secara detail tentang tips dan trik untuk lolos seleksi LPDP, tapi mungkin sedikit pengalaman yang kubagikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang akan mengikuti seleksi LPDP.

Menjadi Awardee LPDP

Menurutku, persiapan untuk menjadi seorang awardee LPDP tidak bisa hanya dimulai beberapa bulan sebelum seleksi, tapi sejak beberapa tahun sebelumnya. Kok begitu? Iya, sebab LPDP punya kriteria tersendiri untuk memilih awardee, antara lain:

1. Mempunyai Integritas, komitmen, serta teladan dalam berpikir, berkata, dan bertindak;

2. Nasionalis, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
3. Profesional, memiliki keahlian dan kecakapan pada bidangnya serta mampu bersaing di tingkat dunia.
4. Mempunyai kemampuan memimpin yang kuat dan dapat menghasilkan perubahan positif.
5. Berjiwa Sosial, memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai kondisi bangsa.

Tentunya, kriteria-kriteria tersebut bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam sebulan dua bulan, namun merupakan karakter yang sudah bertahun-tahun. Dan syarat kriteria ini bukan hanya formalitas; berdasarkan pengalamanku bertemu dengan awardee-awardee LPDP lainnya, kebanyakan teman-teman yang kutemui adalah orang-orang yang sangat aktif di kegiatan sosial, berjiwa pemimpin, dan memiliki banyak prestasi. Bisa dikatakan, beasiswa LPDP ini pas banget untuk para aktivis kampus ataupun luar kampus. Jadi kalau misalnya zaman dahulu kala orang-orang bilang jadi aktivis itu useless, atau nggak memberikan manfaat pasca kampus, justru sekarang aktivis-aktivis inilah target utama dari beasiswa LPDP.

Beasiswa LPDP juga mensyaratkan alumninya untuk kembali dan mengabdi di Indonesia. Ini wajar, karena LPDP merupakan beasiswa yang dibiayai uang rakyat. Tentunya there's no free lunch, ada "hutang" yang harus dibayar oleh para awardee LPDP dengan berbakti kepada negeri. Jadi bagi teman-teman yang memang nggak berniat kembali ke Indonesia atau ingin mengejar karier di Luar Negeri, mungkin sebaiknya apply beasiswa lain saja. Sebenarnya bukan hanya LPDP, beasiswa dari Pemerintah negara lain seperti Chevening atau Monbukagakusho juga mensyaratkan penerima beasiswanya untuk kembali ke negerinya masing-masing setidaknya satu atau dua tahun setelah lulus.

Untuk yang masih ragu-ragu apakah ingin mendaftar LPDP atau tidak, saranku: daftar aja! Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan beasiswa LPDP dibuka. Sistem seleksinya setiap tahunnya mengalami perbaikan sehingga tentunya seleksi semakin sulit dengan peminat yang semakin banyak. Daripada menunda-nunda tapi menyesal belakangan, lebih baik persiapkan dari jauh-jauh hari agar bisa apply secepatnya. Dulu aku ragu-ragu untuk mendaftar Batch ke-1, dan akhirnya baru mengikuti seleksi di Batch ke-4. Seandainya aku masih ragu-ragu untuk mengikuti Batch 4, mungkin aku baru akan bisa berangkat studi tahun depan. Oleh karena itu, prepare your best! 

Seleksi LPDP 2017

Ada banyak sekali perubahan sistem seleksi LPDP di tahun 2017 ini. Tahun-tahun sebelumnya, seleksi LPDP dibuka empat kali dalam setahun, dimana saat mendaftar kita bisa memilih apakah mau ke Dalam Negeri atau ke Luar Negeri. Tahun 2017 ini, seleksi hanya dibuka dua kali dalam setahun: di bulan Maret khusus untuk tujuan Dalam Negeri, dan di bulan Juli khusus untuk tujuan Luar Negeri. Selain itu, untuk intake Luar Negeri baru akan diberangkatkan setahun setelah seleksi LPDP. Artinya, awardee yang lolos seleksi LPDP tahun 2017 baru akan menempuh studinya tahun 2018 nanti. 

Sejak tahun 2017 pula, dalam seleksi administrasi juga ada tahapan assesment online. Assesment Online sendiri merupakan test psikologi VMI dan 15FQ+ untuk mengetahui karakter calon awardee LPDP. Aku sendiri tidak memiliki pengalaman tentang assesment online, bisa dilihat pengalaman assesment online salah satu peserta seleksi di sini. Kebetulan, aku menjadi salah satu awardee Batch 4 Tahun 2016.  

Saat seleksi LPDP kemarin, aku menempuh dua proses seleksi: seleksi administratif dan seleksi substantif (mencakup writing on the spotLeaderless Group Discussion, dan Wawancara).

Seleksi administratif yaitu mengumpulkan beberapa berkas, yang daftarnya bisa dilihat di sini. Pastikan syarat-syarat ini sudah lengkap dan nggak mepet-mepet banget, misalnya IPK kurang atau skor bahasa kurang pasti menjadi penilaian tersendiri, bahkan kemungkinan bisa tidak lolos seleksi administratif. 

Selain itu, ada tugas membuat essay-essay yaitu “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku” serta membuat Rencana Studi untuk berkuliah nanti. Bagi calon awardee tujuan dalam negeri, tugas essay, seleksi Leaderless Group Discussion, dan writing on the spot menggunakan bahasa Indonesia, serta wawancara menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Sementara untuk tujuan Luar Negeri, semua tahapan tersebut wajib menggunakan bahasa Inggris.

Sebelum membuat essay, sebaiknya kita melakukan riset terlebih dahulu. Aku sendiri mulai membuat draft essay LPDP sejak lama, dan mengirimkannya setelah mengalami banyak perbaikan dan proofreading. Essay sangat penting karena akan dibaca oleh interviewer dan ditanyakan saat wawancara. Jadi, jangan asal-asalan dalam membuat essay kita.

Di essay inilah kesempatan kita untuk "menjual" kelebihan kita, tentunya sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak dibuat-buat. Misalnya tugas essay Kontribusiku Bagi Indonesia. Dengan tugas ini, LPDP ingin mengetahui apakah kita adalah orang yang peduli dengan keadaan sekitar atau hanya peduli dengan diri sendiri. Kita diminta untuk menceritakan aktivitas yang selama ini sudah kita lakukan, terutama yang bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah kita harus menunjukkan, manfaat apa yang selama ini sudah kita berikan kepada masyarakat sekitar. Dalam essay ini, aku menceritakan mengenai tekadku untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia dengan cara menjadi pendidik bagi anak-anak maupun mahasiswa.

Dalam essay "Sukses Terbesar Dalam Hidupku, kita diminta menceritakan tentang kesuksesan terbesar yang pernah kita capai dan bagaimana proses kita untuk mengejar kesuksesan tersebut. Dengan essay ini, LPDP ingin menilai bagaimana karakter sang calon awardee berdasarkan pengalaman hidupnya, dan bagaimana caranya mengejar mimpinya. Tentunya, definisi kesuksesan bagi setiap orang berbeda-beda. Essay-ku sendiri berjudul "Failure is the greatest success in my life", bercerita mengenai bagaimana kegagalanku saat gagal diterima di UI dan bagaimana perjuanganku untuk bangkit dari kegagalan tersebut.

Kita juga harus bisa menarik benang merah antara pengalaman hidup serta kontribusi yang sudah kita lakukan dengan cita-cita kita di masa depan dalam essay-essay ini. Misalnya, ketika seseorang mengatakan dia bercita-cita ingin menjadi Menteri Pendidikan, namun ternyata ia sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin organisasi, tentu sulit bagi pemberi beasiswa untuk mempercayainya. Atau ketika seseorang mengatakan ingin menjadi enterpreuner untuk memberdayakan UMKM, tentunya akan lebih meyakinkan bila sebelumnya ia sudah memiliki pengalaman di bidang tersebut. 

Di saat inilah, rekam jejak sang calon awardee menjadi sangat penting, untuk melihat apa saja kontribusi yang sudah dia berikan untuk masyarakat Indonesia. Misalnya ketika aku mengatakan selepas S2 akan menjadi dosen, aku mengkaitkan dengan passion-ku mengajar, dan pengalaman mengikuti kegiatan sosial mengajar anak-anak selama menjadi mahasiswa. Selain itu, aku juga menceritakan pekerjaanku sebagai asisten dosen dan pengalaman risetku dengan dosen-dosen di kampus. 

Begitu juga dengan rencana studi, kita harus meyakinkan pemberi beasiswa mengapa kita layak menerima beasiswa; mengapa harus mengambil di Universitas tersebut dan jurusan tersebut? Dalam rencana studi, aku menceritakan kegelisahanku karena masih banyak mahasiswa hukum yang tidak memahami hukum ekonomi syariah, padahal kebutuhan akan ahli hukum di bidang ekonomi syariah cukup urgent. Kebijakan ekonomi syariah di Indonesia juga masih memerlukan banyak perbaikan. Sehingga aku memutuskan mempelajari ekonomi syariah agar bisa mengajarkan ilmu hukum ekonomi syariah kepada mahasiswa-mahasiswa di FHUI dan juga menjadi researcher yang turut membantu pengembangan hukum ekonomi syariah di Indonesia. Tentunya, kebenaran kata-kata dalam rencana studi ini akan diuji dalam seleksi wawancara.

Berkas-berkas yang dipersyaratkan harus di unggah sejak beberapa hari sebelumnya, karena kemungkinan dua hari terakhir server akan down. Jangan pernah procastinate dan baru menyelesaikan berkas di menit-menit terakhir. Sayang kan, kalau syarat sudah lengkap, calon awardee qualified, tapi gagal hanya karena masalah teknis. Aku sendiri sudah mencicil upload beberapa berkas sejak jauh-jauh hari dan submit berkas seminggu sebelum deadline. 

Alhamdulillah, beberapa minggu setelah deadline upload berkas, muncul pengumuman yang menyatakan bahwa aku lolos seleksi administrasi dan dipanggil untuk mengikuti seleksi substansi. 



Begitulah pengalamanku saat mempersiapkan seleksi administratif LPDP. Kisahku dalam mengikuti seleksi akan kuceritakan di postingan selanjutnya, karena itu stay tune terus ya!
Semangat terus para pejuang beasiswa!


2 komentar:

  1. Leaderless Group Discussion, dan Wawancara nya kaya apa fah?
    Gue bingung nih mau ngambil lokal apa interlokal ROFL

    BalasHapus
  2. Kyaa awardee.. Calon mantu idaman XD

    BalasHapus