Sabtu, 24 Desember 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 2)

Hari ketiga, kami membuat janji untuk bertemu dengan Bu Siti Zubaidah, dosen dari Fakulti Undang-Undang (Fakultas Hukum) University Malaya. Kami berangkat ke University Malaya, dimana Bang Heru dan Bu Ida menghadiri acara penutupan confrence.

Siang menjelang, sebuah wajah yang familiar muncul dan menyapaku. Bu Siti!

Bu Siti Zubaidah adalah dosen University Malaya yang pada awal tahun berkunjung ke Fakultas Hukum UI sebagai dosen tamu (guest lecture). Beliau mengajar mata kuliah hukum Islam di Kelas Khusus Internasional FHUI. Aku ingat, selama dua minggu Bu Siti di Indonesia, beliau sempat beberapa kali minta ditemani jalan-jalan ke Bogor, Bandung dan Cirebon, namun karena satu dan lain hal aku belum sempat mendampingi beliau. Maaf ya, Bu Siti!

"Iffah masih hutang ya temani saya pusing-pusing (jalan-jalan)!" Ledek Bu Siti. Kami tertawa malu meminta maaf.

Karena Bu Ida masih harus menunggu sertifikat peserta, kami memutuskan untuk berangkat duluan. Dengan menumpang mobil Bu Siti, kami tiba di Fakulti Undang-Undang UM. Sampailah kami di Departemen Hukum Islam Fakulti Undang-Undang.

Bu Siti mempertemukan kami dengan Dr. Zalina, koleganya di Departemen Hukum Islam. Rupanya, spesialisasi ilmu Dr. Zalina adalah hukum perlindungan konsumen dan hukum produk halal. Wah, pas sekali!

Dalam sekejap, kami asyik berdiskusi bersama mengenai penelitian kami. Walaupun kami tidak bisa berbahasa Melayu, hal itu tidak menjadi halangan. Dr. Zalina menerangkan dengan baik mengenai kondisi di Malaysia. Isu regulasi produk halal juga merupakan isu yang menarik di Malaysia sebagai negara Islam. Malaysia telah sukses menerapkan regulasi tersebut sehingga Malaysia dikenal sebagai pengekspor produk halal nomor satu di dunia.

"Masyarakat di sini sangat strict mengenai produk halal. Bisa saja ada muslim yang tidak sholat, tapi dia akan mengamuk kalau tahu produk yang dia konsumsi ternyata produk tidak halal." Cerita Dr. Zalina sambil tertawa. Dari cerita beliau, kami baru tahu bahwa bahkan Undang-undang mengatur bahwa perempuan yang berkerudung dilarang menjual makanan haram, karena bisa menimbulkan salah persepsi mengenai kehalalan produk. Aku teringat kasus yang sama di Indonesia, dimana ada kasus muslimah yang terpaksa berjualan siomay babi dan sempat menjadi kontroversi. Sayangnya, tidak ada aturan serupa di Indonesia.

"Apa rahasianya sehingga produsen yang sebagian besar dari kalangan non muslim (FYI, muslim di Malaysia hanya 60% dari total penduduk) mau melakukan sertifikasi halal? Karena, di Indonesia masih banyak pelaku usaha yang tidak memiliki kesadaran untuk melakukan sertifikasi halal." Tanyaku.

"Tentu saja, produsen kami sadar bahwa pangsa pasar terbesar mereka beragama muslim. They do it for the sake of market and money." Jawab beliau simple.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kami mengakhiri diskusi seru tersebut dengan puas. Tidak lupa, kami membuat janji agar suatu saat bisa melakukan joint research di Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat regulasi produk halal di kedua negara. Wah mau banget!!

Kiri: Dr. Zalina, Kanan: Bu Siti Zubaidah

Sore menjelang, kami berencana untuk pergi ke Central Market untuk membeli oleh-oleh, karena besok kami akan berangkat ke Thailand. Bu Siti dan Dr. Zalina dengan baik hati mengantar kami sampai ke Stasiun LRT. Kami berpamitan kepada mereka, dan bersiap untuk menuju destinasi selanjutnya: Central Market. Belanjaaa!

Sumber: http://www.wonderfulmalaysia.com/attractions/files/2012/01/central-market-pasar-seni-kuala-lumpur-2.jpg

Central Market atau Pasar Seni merupakan pusat perbelanjaan yang terkenal untuk membeli oleh-oleh. 
Dari Universiti Malaya sampai ke Central Market tidak terlalu jauh, bahkan dari Central Market ke stasiun LRT KL Central dekat tempat kami menginap hanya berjarak satu stasiun. Di tempat ini banyak dijual oleh-oleh khas Malaysia, mulai dari gantungan kunci miniatur twin tower, tempelan kulkas, cokelat khas Malaysia, dan lain-lain. Tempat ini lumayan luas walaupun hanya terdiri dari dua lantai. Banyak pilihan yang tersedia sehingga kami tidak bingung mencari oleh-oleh. Belanja di Central Market pun bisa ditawar, dan Central Market sudah dilengkapi dengan AC sehingga kegiatan belanja menjadi nyaman, tidak kepanasan.

Sumber: http://www.centralmarket.com.my/images/history-photos/part5_photos/CM-1-Part-5.JPG

Langsung saja kami asyik memborong oleh-oleh, teringat keluarga dan teman-teman di Indonesia. Aku sendiri membeli serenteng gantungan kunci, magnet kulkas, tas kanvas logo I Love KL, tas batik, serta Cokelat dan Milo khas Malaysia. Karena waktu maghrib sudah tiba, kami melaksanakan sholat dan makan malam di Central Market. Makan malam di sini cukup puas dengan menu yang beragam. Setelah kenyang, kami bersiap untuk kembali ke hotel.

Wajah-wajah sumringah sehabis ngeborong di Central Market KL


Hari keempat di Malaysia, kami berencana ke Putrajaya, Pusat Pemerintahan, untuk mewawancarai JAKIM, otoritas yang berwenang mengatur masalah produk Halal di Malaysia. Kami akan berangkat siang ini ke Putrajaya, karena Bang Heru akan mengikuti pertemuan penggiat HAM yang diadakan oleh CENTHRA, lembaga tempat Cik Azril bernaung. Kami pun berpisah dengan bang Heru dan berjanji akan bertemu sehabis dzuhur.

Bu Ida yang sejak kemarin naksir dengan baju kurung yang dipakai wanita-wanita khas Malaysia pun penasaran, ingin membeli baju kurung. Setelah bertanya-tanya, sebagian orang-orang menyarankan kami untuk mencari baju kurung di daerah Masjid Jamek yang konon banyak menjual baju kurung bagus-bagus. Dengan menggunakan LRT, kami berangkat menuju Masjid Jamek.

Ternyata, yang dimaksud dengan Masjid Jamek adalah deretan tenda-tenda tempat berbelanja di sekitar Masjid Jami'. Tempat ini seperti pasar dengan tenda tidak permanen. Banyak aksesoris dan pakaian wanita yang dijual di sana. Kami berburu bros dengan harga murah, dan bentuk yang lucu-lucu. Di sini juga kami memutuskan untuk membeli tongsis seharga 10 Ringgit demi tujuan mulia untuk foto-foto yang instagram-able.

Setelah berjalan kesana-kemari dan mengubek-ngubek satu toko ke toko yang lain, akhirnya Bu Ida menemukan baju kurung yang dia cari. Kami sempat mencari di beberapa toko yang menjual baju kurung, namun motif bajunya kebanyakan enggak banget (red: norak, wkwk), ada juga yang motifnya bagus tapi harganya muahal, sehingga kami terus mencari. Sampailah kami di toko yang motifnya bagus-bagus dan cukup classy, harganya juga cukup terjangkau. Ternyata, toko itu punya orang Indonesia! Dia juga memiliki toko serupa di Tanah Abang. Wah, emang ya kalau soal selera pakaian orang Indonesia lebih hebat :p

Petualangan kami di Masjid Jamek menghasilkan bros-bros lucu, baju kurung dan jubah, serta kerudung khas Malaysia yang dibeli Bu Ida. Tidak lama, kami bertemu dengan Bang Heru di tempat yang sudah dijanjikan dan berangkat ke Putrajaya dengan menaiki taksi.

Perjalanan ke Putrajaya berlangsung beberapa lama, yang memakan biaya taksi sekitar 80 RM. Akhirnya, kami sampai di Putrajaya.

Aku tercengang melihat situasi kota Putrajaya. Blok seluas hampir 5000 hektar yang terdiri dari gedung-gedung pemerintahan yang megah terhampar. Konon, wilayah Putrajaya dulunya merupakan wilayah hutan yang sengaja dipersiapkan untuk menjadi daerah pusat administratif dan keuangan, karena wilayah Kuala Lumpur sudah sedemikian padat. Tak heran, hampir tidak ada pemukiman tempat tinggal di wilayah Putrajaya. Kediaman resmi Perdana Menteri Malaysia juga terletak di Putrajaya.

Sempat berputar-putar dan nyasar, kami memutuskan untuk makan siang dulu di kedai pinggir jalan. Loh, ternyata harga makanan pinggir jalan murah-murah banget! Hanya berkisar 3-5 RM saja per porsi (biasanya jajan di Mall sih, jadi habis 50 RM sekali makan). Sudah begitu, rasa laksa dan nasi lemak yang dijual enak pula.
Selamat makan!

Anak nongkrong Putrajaya

Akhirnya, kami tiba juga di JAKIM. Halal Hub JAKIM berlokasi di gedung besar, dan membutuhkan kartu untuk mengaksesnya. Yah, mirip-mirip gedung perkantoran di Jakarta lah. Kami bertemu dengan sekertaris dan menyampaikan bahwa kami sudah memiliki janji untuk wawancara.

Ternyata, kami disambut langsung oleh Direktur Halal Hub JAKIM, Pak Sirajuddin Suhaimee. Wah, kalau di Indonesia rasanya seperti langsung bertemu dengan Direktur LPPOM MUI. Walaupun beliau sangat sibuk, Pak Sirajuddin sangat ramah dan helpful, menjelaskan segala sesuatu mengenai sejarah Sertifikasi Halal di Malaysia dan pelaksanaannya. Tak urung, aku merasa iri karena pelaksanaan Jaminan Produk Halal di Malaysia sangat lancar dan maju, tentunya juga karena dukungan penuh dari pemerintah Malaysia. Lucunya, Pak Sirajuddin bercerita bahwa sertifikasi halal dari Malaysia sudah diterima secara luas di semua negara, kecuali Indonesia karena belum dicapainya kesepakatan. Waduuh kok bisa ya? Hahaha

Terima kasih Pak Cik Sirajuddin!

Selepas wawancara, kami menuju Masjid Putra, yaitu masjid megah di Putrajaya yang sangat terkenal. Kami mencari-cari taksi namun tak kunjung menemukannya. Akhirnya Bang Heru mengajak untuk berjalan kaki saja, karena kata Bang Heru masjidnya "dekat, kok"

Satu jam kemudian.... (lebay deng)

Ternyata oh ternyata, jarak antara kantor JAKIM dan Masjid Putra lumayan dekat bila ditempuh dengan kereta. Alhasil di siang yang terik itu kami berjalan kaki jauh dan panas-panasan, ditambah suhu di Putrajaya sangat tidak santai. 

Akhirnyaa sampai di Masjid Putra!

Tak lama setelah menunaikan sholat ashar, Aiman datang menjemput kami.
Aiman adalah mahasiswa di Kelas Khusus Internasional, yang merupakan warga asli Malaysia. Ibunya Aiman adalah teman akrab Bang Heru. Aiman mengantarkan kami ke UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), dimana Ibunya menjadi dosen di sana. Kami berbincang-bincang dan mengelilingi UKM sejenak sebelum pulang ke rumah Aiman.


Rencananya, malam ini kami akan melintasi perbatasan Malaysia-Thailand menggunakan bus malam. Sambil menunggu jadwal keberangkatan, kami berbincang-bincang dengan Ibu Aiman yang menceritakan pengalamannya mengajar di beberapa negara. Tak terasa, waktu sudah berlalu. Setelah berpamitan dengan Ibu Aiman, Aiman mengantar kami menuju terminal Bis Pudu Sentral Kuala Lumpur yang terletak di Bukit Bintang.

Sesampainya di Pudu Sentral, aku menatap takjub. Beda sekali ya, sama terminal Bus di Pulo Gadung. Terminal Bus Pudu Sentral tidak jauh berbeda dengan airport. Ada papan elektronik yang menunjukkan waktu keberangkatan dan sebagainya. Kami diminta mempersiapkan paspor dan berkas-berkas untuk petugas imigrasi di perbatasan. 

Waktu keberangkatan tiba. Kami memasukkan koper di bagasi dan menaiki bis. Rupanya bis malam ini lumayan nyaman, dengan kursi empuk yang bisa disandarkan dan space yang luas. Aku duduk di samping Bu Ida dan bersiap untuk tidur, mengingat waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

Bis perlahan mulai bergerak membelah malam yang masih hingar-bingar. Kami menjauhi Malaysia, menuju Hatyai, Thailand. Sinyal di HP-ku mulai menipis, menandakan kami semakin meninggalkan wilayah Malaysia, dan akan memasuki Thailand.

Sampai jumpa lagi, Malaysia!