Selasa, 07 Maret 2017

Scholarship Series: Berburu Letter of Acceptance

Assalamualaikum teman-teman! Kali ini, aku akan sharing mengenai salah satu hal yang krusial bagi para calon pemburu beasiswa: LoA

Letter of Acceptance (LoA) merupakan surat penerimaan dari Universitas yang menyatakan bahwa kita diterima untuk menempuh perkuliahan di Universitas tersebut.  Ketika kita memiliki LoA, kita dapat lebih meyakinkan pihak pemberi beasiswa bahwa kita memiliki tujuan Universitas yang jelas.  Walaupun memang, seseorang tidak mutlak harus memiliki LoA ketika mendaftar beasiswa. Ada beberapa beasiswa yang membolehkan calon mahasiswa mendapatkan LoA-nya belakangan. 

Namun tetap saja, memiliki LoA merupakan suatu nilai tambah ketika melamar beasiswa. Pemberi beasiswa akan lebih diyakinkan bila seseorang sudah memiliki Unconditional LoA. Misalnya untuk beasiswa LPDP, awardee yang sudah mendapatkan LoA Unconditional bisa menandatangani kontrak sah sebagai penerima beasiswa, sementara yang masih memiliki LoA Conditional atau belum dapat LoA belum bisa menandatangani kontrak tersebut.

LoA terbagi menjadi dua, yaitu LoA Conditional dan LoA Unconditional. LoA Unconditional merupakan tanda bahwa seseorang sudah memenuhi segala syarat untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas, dan siap untuk mendaftar ulang. Sementara LoA Conditional menandakan bahwa seseorang bisa diterima menjadi mahasiswa, namun masih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk resmi diterima. Misalnya, syarat yang harus dipenuhi berupa skor IELTS yang masih kurang. Sehingga mahasiswa baru bisa mendapatkan LoA Unconditional bila syarat yang dimaksud sudah terpenuhi.

Kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku saat mendapatkan LoA.

Untuk ap
ply ke Universitas, yang harus diperhatikan adalah deadline apply untuk intake tertentu. Kebanyakan kampus memiliki dua term untuk intake yaitu September/Oktober dan April/Mei. Namun harus diperhatikan program yang ada untuk setiap intake, karena ada program yang hanya dibuka setahun sekali saja. 

Ketika mendaftar untuk Durham University, deadline untuk application adalah tanggal 30 Juni untuk intake bulan Oktober. Ada beberapa syarat yang harus kupenuhi, yaitu skor IELTS minimal 6.5 overall dan minimal 6.0 setiap band-nya. Secara akademik aku harus memiliki IPK di atas 3.2. Selain itu aku juga diminta melampirkan Curriculum Vitae, Personal Statement, Reference Letter dari dua orang di bidang Academic, serta transkrip dan ijazah yang sudah di terjemahkan dengan sworn translator. 

Durham University memiliki portal untuk pendaftaran online, sehingga berkas-berkas yang ada tinggal di-upload saja. Aku hanya perlu membuat akun dan mengisi kolom isian yang sudah disediakan. Untungnya, kita bisa menyimpan data yang akan dikirimkan sebelum di submit, sehingga aku bisa mencicil mengisi portal tersebut. Setelah melakukan pengecekan berkali-kali dan memastikan form yang diisi dan dokumen yang di-upload sudah lengkap, baru berkas kelengkapan tersebut di-submit.


Sementara SOAS University of London mensyaratkanku memiliki skor IELTS  6.5 (overall), dengan minimal skor 6.5 untuk writing dan speaking serta minimal 6.0 untuk reading dan listening. Berkas yang disubmit antara lain Supporting statement 1.000 kata, CV, Transkrip Akademik dan Ijazah, serta dua Academic References. SOAS juga menggunakan portal online untuk pendaftaran. Namun jika saat apply di Durham aku diperbolehkan untuk mengirim reference letter hasil scan, SOAS meminta kita untuk mengirim langsung reference dari sang pemberi reference. Misalnya aku meminta Reference dari Dekan FHUI, maka surat tersebut harus dikirim langsung dari e-mail Dekanat FHUI.


Tentunya, mengisi portal online tersebut tidak bisa asal-asalan. Semuanya harus dilakukan dengan penuh persiapan. Berikut ini beberapa aspek penting dalam application yang harus diperhatikan:


Personal Statement


Personal statement merupakan salah satu aspek yang paling vital dalam apply Universitas dan juga beasiswa. Personal statement haruslah menggambarkan dengan jelas poin-poin sebagai berikut:

1. Jurusan yang ingin diambil beserta alasan pemilihan jurusan. 
Jelaskan Universitas dan major yang dipilih, dan mengapa memilih jurusan tersebut? Jelaskan secara spesifik, misalnya karena Lecturenya, karena mata kuliah tertentu. Jelaskan apa yang membuat Universitas ini unik?


2. Background pendidikan. Jelaskan dengan menghubungkan ke alasan pemilihan program.


3. Aktivitas sosial dan kontribusi di kampus terdahulu


4. Aktivitas atau pekerjaan saat ini


5. Mengapa harus memilih Universitas tersebut? Yakinkan lagi dengan menghubungkan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Kalau bisa sambil menjelaskan topik tesis yang ingin diambil nanti


6. Jual kelebihan diri, mengapa Unversitas tersebut harus memilih kamu?


7. Ingin jadi apa setelah lulus studi?


Curriculum Vitae (CV)


Curriculum Vitae (CV) merupakan aspek penunjang untuk melengkapi personal statement. Untuk membuat CV, beberapa Universitas sudah menyediakan standar tersendiri untuk CV yang mereka inginkan. Panduannya juga diberikan langsung, kita hanya perlu menyesuaikan CV kita dengan template yang ada. Membuat CV juga ada trik tersendiri. Tentunya, tidak semua prestasi atau track record yang kumiliki dimasukkan ke dalam CV. Hanya prestasi atau aktivitas terkait saja yang perlu dimasukkan. 

Recommendation Letter

Recommendation Letter merupakan endorsement dari seseorang yang menunjukkan bahwa kita layak untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas. Recommendation Letter yang baik harus menggambarkan bagaimana diri kita, baik secara akademik maupun non akademik. Ada Universitas yang hanya meminta rekomendasi akademik (kita bisa meminta dari Dosen, Pembimbing Akademik, dan Dosen Pembimbing Skripsi), namun ada juga yang meminta rekomendasi dari atasan tempat kita bekerja saat ini.

Recommendation Letter berisi poin-poin sebagai berikut:

1. Siapa pemberi rekomendasi dan apa hubungannya dengan penerima rekomendasi
2. Pendapat pemberi rekomendasi terhadap karakter calon mahasiswa
3. Mengapa calon mahasiswa harus direkomendasikan untuk diterima Universitas?

Untuk Recommendation Letter, aku meminta dari beberapa orang, antara lain Pak Topo Santoso sebagai Dekan FHUI yang mempekerjakanku, Bang Heru Susetyo yang merupakan pimpinan di Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam FHUI, serta pernah mengikuti penelitian bersama, serta Prof. Uswatun Hasanah sebagai Professor di Bidang Studi Hukum Islam FHUI dimana aku menjadi asisten dosen. Tentunya akan lebih baik bila orang yang kita minta memberikan rekomendasi adalah orang yang kita kenal baik, karena biasanya rekomendasi yang diberikan akan lebih personal.

Beberapa Universitas mensyaratkan application fee ketika mendaftar. Misalnya Durham University, untuk applynya dikenakan fee 50 poundsterling (sekitar 1 juta rupiah, bayarnya sebelum Brexit. Habis Brexit kurs poundsterling langsung jeblok. Lalu nyesel kenapa bayarnya nggak belakangan aja hiks). Application baru akan diproses setelah fee dibayarkan. Sementara SOAS tidak meminta application fee sehingga aku tinggal submit form saja. 

Dua sampai empat minggu setelah submit application,  aku menerima jawaban dari pihak Universitas. 

Yang pertama datang adalah dari SOAS




Karena skor IELTS-ku tidak memenuhi syarat, yaitu skor writing hanya 6.0 (yang disyaratkan 6.5), maka aku mendapatkan LoA Conditional. Artinya,  aku bisa memilih apakah mau submit kembali nilai IELTS yang sudah memenuhi syarat,  atau akan mengambil kursus bahasa Inggris di SOAS nanti. Berhubung beasiswa biasanya tidak mau menanggung biaya kursus bahasa, maka aku memutuskan mencoba ambil tes IELTS lagi bila ingin memilih SOAS. 

Dua minggu setelah jawaban dari SOAS,  datang e-mail dari Durham:





Alhamdulillah,  kali ini aku mendapatkan LoA Unconditional!  Artinya,  aku sudah memenuhi semua syarat dan tinggal mendaftar ulang saja untuk menjadi mahasjswa resmi Durham University. 

Defer

Kedua Universitas tersebut memberikan hasil bahwa aku diterima untuk intake September dan Oktober 2016. Sementara,  saat itu sudah bulan Juli dan aku tidak memiliki beasiswa di tangan. Oleh karena itu,  aku memutuskan untuk men-defer atau menunda statusku sebagai mahasiswa. Aku mengirimkan e-mail kepada pihak Universitas untuk meminta defer ke tahun 2017 dengan alasan masih mencari beasiswa. 

SOAS merespon permintaanku dengan cepat,  dan tidak lama kemudian mengirimkan surat keputusan Defer. Alhamdulillah,  ini artinya aku bisa menunjukkan keputusan defer kepada pemberi beasiswa sebagai bukti bahwa aku telah diterima untuk intake 2017.

Sementara Durham University tidak semurah hati itu. Ketika aku mengajukan permohonan untuk defer,  mereka berkata bahwa di Durham tidak ada sistem defer. Aku akan dianggap mendaftar ulang dan aplikasiku akan dipertimbangkan ulang untuk intake 2017. Jantungku sempat dag-dig-dug,  khawatir pihak Universitas berubah pikiran menawariku kursi mahasiswa. Untungnya,  untuk mendaftar ulang tidak perlu membayar application fee lagi. 

Beberapa minggu sebelum jadwal wawancara LPDP, Durham University mengeluarkan hasil dari apply-ku yang kedua kali. Alhamdulillah,  aku kembali mendapatkan LoA Unconditional dari Durham, yang langsung kubawa saat seleksi LPDP sebagai bukti. Dan alhamdulillah,  mungkin keberadaan LoA Unconditional pula yang membawaku menjadi salah satu awardee LPDP Batch 4 Tahun 2016 :)

Sekian pengalamanku saat berburu LoA, semoga bermanfaat. Semangat selalu para pemburu beasiswa! 



Postingan Terkait:

Minggu, 05 Maret 2017

Scholarship Series: Memilih Program dan Universitas

Memilih program dan Universitas yang akan kita ambil merupakan hal sangat krusial sebelum berburu LoA dan beasiswa. Kenapa begitu? Karena pilihan ini akan mempengaruhi essay beasiswa dan personal statement atau motivation letter kita secara keseluruhan. Tentunya, kita juga tidak mau dong, salah mengambil jurusan. Karena itu, banyak-banyaklah riset sebelum memutuskan jurusan yang akan kita ambil untuk S2. Baca! 

Pada dasarnya Program untuk Magister di luar negeri bisa berupa Taught Program dan Research Program. Taught Program merupakan program dimana kita bisa mengambil beberapa mata kuliah dan membuat Dissertation di akhir. Sementara Research Program menuntut kita sejak awal untuk menyusun Dissertation, mata kuliah yang diambil hanya sedikit, itu pun hanya yang mendukung topik riset. Untuk mengambil Research Program dibutuhkan background dari jurusan yang sama. Aku memutuskan mengambil Taught Program karena jurusan yang aku ambil bukan jurusan Hukum.

Aku memilih jurusan tentunya setelah perenungan panjang. Aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri, seperti, "Sebenarnya aku ingin menjadi apa? Bidang apa yang benar-benar aku minati? Apakah aku benar-benar perlu mengambil jurusan ini? Apa dampak ilmu yang ku ambil untuk perkembangan ilmu tersebut di Indonesia? Apakah perlu aku ke luar negeri hanya untuk mempelajari ilmu tersebut?" 
Ini sangat penting, karena hampir semua personal statement dan beasiswa memerlukan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sebagai asisten dosen Hukum Islam, aku melihat bahwa ekonomi syariah di Indonesia masih merupakan hot issue dan sedang berkembang pesat. Namun, aku melihat ada kekurangan dalam pelaksanaan ekonomi syariah di Indonesia: regulasi yang ada masih belum memadai untuk mendorong perkembangan ekonomi syariah. 

Sayangnya, masih sedikit mahasiswa di Fakultas Hukum UI yang tertarik untuk mempelajari mata kuliah hukum ekonomi syariah lebih lanjut. Sedikit sekali mahasiswa yang mengambil kelas hukum ekonomi syariah, mungkin bisa dihitung dengan jari (tangan dan kaki). Padahal banyak alumni-alumni dari Fakultas Hukum yang setelah lulus kembali menemui dosen-dosen mereka dan meminta untuk diajari materi hukum ekonomi syariah, bahkan mereka meminta LKIHI FHUI untuk mengadakan pelatihan mengenai hukum ekonomi syariah. Karena, di kehidupan nyata, mereka para praktisi hukum menemui banyak sekali permasalahan ekonomi syariah yang harus diselesaikan. Namun sekali lagi, masih sedikit SDM yang memahami permasalahan ekonomi syariah, terlebih lagi di bidang hukum.

Tergerak untuk mengambil peran, aku memutuskan untuk mempelajari mengenai hukum ekonomi syariah. Namun, setelah riset di beberapa Universitas, sulit sekali mencari jurusan Hukum Ekonomi Syariah. Bahkan, jurusan tersebut di Magister FHUI tidak dibuka karena sepinya peminat (hiks). Sehingga aku beralih untuk mengambil jurusan Ekonomi Syariah, dengan harapan ilmu ekonomi yang kudapat bisa dielaborasikan dengan hukum positif di Indonesia. 

Kuliah di luar negeri menjadi alternatif yang menggiurkan bagiku. Saat ini Malaysia dan Inggris merupakan negara utama tujuan para ekonom rabbani (istilah untuk penggiat ekonomi syariah). Aku langsung berburu program yang ada di Universitas-Universitas Inggris. Kenapa harus Inggris? Salah satu tujuanku agar bisa mendapatkan international exposure dan bisa bertukar pikiran dengan scholar ekonomi syariah dari seluruh dunia. Selain itu, siapa tahu kelak aku bisa menjalin kerjasama riset dengan mahasiswa mancanegara.

Berdasarkan hasil riset program yang sesuai dengan minatku, aku membuat daftar Universitas incaran:

1. Durham University

Bila berbicara tentang ekonomi syariah, Durham adalah Universitas top of mind untuk melanjutkan studi. Hampir semua mahasiswa Fakultas Ekonomi UI maupun universitas-universitas lain yang ingin mengambil S2 di bidang ekonomi syariah pasti memilih Durham University. Selain lima besar Universitas terbaik di Inggris, Durham merupakan Universitas terbaik untuk riset Ekonomi Syariah. Jurusan atau course di Durham banyak yang sesuai dengan minatku. Seorang alumni Durham berkata, karena aku tidak memiliki basic ekonomi, maka jurusan yang sesuai adalah Msc Islamic Finance and Management. Sementara yang berasal dari Fakultas Ekonomi lebih cocok mengambil Msc Islamic Finance.


Course di Durham

2. SOAS University of London

SOAS University masuk ke dalam pertimbanganku sebab ada program LLM Islamic Law, dimana salah satu course yang ditawarkan adalah Law of Islamic Finance. Salah satu pertimbanganku untuk mengambilnya adalah karena ini jurusan Hukum, walaupun hukum ekonomi syariah hanya salah satu coursenya. Course yang lain adalah materi seputar hukum Islam.



3. Newcastle University

Saat melakukan riset, aku terkejut saat mengetahui bahwa di Newcastle ternyata ada jurusan yang sangat sesuai dengan anak Hukum yang ingin belajar Ekonomi Syariah: Msc Finance and Law with Islamic Finance. Mempelajari Hukum Ekonomi Syariah, walaupun degree yang didapat Msc, bukan LL.M.
Semakin ngences ketika melihat course yang ditawarkan:


So tempting
Namun aku merasa patah hati saat mengetahui kenyataan bahwa: program ini sudah tidak dibuka di Newcastle, entah kapan akan dibuka lagi. Hiks. Bye-bye Newcastle.

4. Bangor University

Bangor merupakan salah satu alternatif untuk mengambil ekonomi syariah. Compulsory Modules-nya antara lain Organisations and People, Management Research, Islamic Finance, Islamic Banking, dan International Banking. Sementara Optional Modules-nya yaitu International Strategic Management, Marketing Financial Services, Islamic Accounting and Financial Reporting, Contemporary Issues in Management, Banking and Development, Islamic Insurance, Marketing Strategy, dan Merger and Acquisition

Selain keempat Universitas yang sudah kusebutkan, ada beberapa Universitas lain yang bisa dipilih, antara lain: MSc Investment Banking and Islamic Finance di Reading University, Msc Islamic Finance di Middlesex University, Master of Business Administration in Islamic Finance di Aberdeen University, dan MA in Islamic Banking, Finance, & Management di Markfield Institute of Higher Education (MIHE). Aku juga menyiapkan untuk apply ke Master of Science in Islamic Banking and Finance (MIBF) di Islamic University of Malaysia apabila tidak mendapatkan Universitas di Inggris. 

Kemudian aku membuat tabel perbandingan setiaprogram, sebagai berikut:


Tabel
Setelah melakukan riset, dengan menyesuaikan jurusan yang kuminati, cocok dengan tujuanku melanjutkan studi, serta Universitas masuk list yang didanai oleh beasiswa LPDP atau Chevening (ini penting! Reading dan Bangor tidak masuk dalam list), aku memutuskan untuk apply ke Durham University dan SOAS University of London.

Overall, ini hal-hal yang harus diketahui sebelum memilih jurusan S2:

1. Cari jurusan yang masih memiliki benang merah dengan background pendidikan, pekerjaan, serta tujuan kita setelah lulus kuliah. Untuk magister, lintas jurusan dari program sarjana diperbolehkan selama kita dapat menuangkan alasan yang kuat di personal statement.

2. Module: Lihat course yang akan diambil, umumnya setiap Universitas menyertakan daftar course, course description, bahkan reading list yang digunakan. Ini penting untuk mengetahui apa yang akan kita pelajari nanti.

3. Requirements: Perhatikan requirements setiap jurusan. Misalnya skor IELTS tertentu, IPK, atau background Undergraduate yang serupa, bahkan ada yang hanya menerima professional/pekerja di bidang tersebut.
4. Lihat rank yang dimiliki oleh Universitas tersebut, untuk melihat reputasinya. Bisa dilihat di QS World, THE Rank, dan sebagainya. Lihat rank jurusan, bukan overall Universitas.

5. Taught Program atau Research Program?

6. Durasi kuliah: Lazimnya Universitas di Inggris masa kuliahnya adalah full-time setahun. Kuliah yang part-time (selama dua tahun), perkuliahan jarak-jauh (online) atau kelas malam tidak dibiayai oleh beasiswa LPDP

Begitulah pengalaman singkatku dalam memilih Universitas. Memang tidak mudah, karena dibutuhkan riset mendalam untuk benar-benar mengetahui apa jurusan yang dimau. Karena itu, habiskan banyak waktu untuk melakukan riset agar mendapatkan jurusan yang sesuai yang kita inginkan. Di tulisan berikutnya, aku akan menjelaskan proses apply ke Universitas untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA).

See you!

Rabu, 01 Maret 2017

Scholarship Series: First Step

Assalamualaikum guys!

Alhamdulillah tahun 2016 kemarin, aku berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2. Insya Allah bila tidak ada halangan, September 2017 ini aku akan berangkat sekolah ke Inggris.
Akhir-akhir ini, beberapa junior atau teman-teman bertanya-tanya kepadaku mengenai tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa. Oleh karena itu, aku bertekad membuat rangkaian postingan #Scholarshipseries yang kubuat berdasarkan pengalamanku dalam berburu beasiswa. Semoga,  tulisanku bisa bermanfaat bagi para pemburu beasiswa ya :)

People say, if you fail to prepare, you are prepare to fail. Langkah pertama yang paling penting untuk berburu beasiswa adalah: mempersiapkan!

Semua orang bisa bilang,  "Gue pengen lanjut S2 di luar negeri nih". Namun,  hanya orang-orang yang benar-benar punya plan dan action-lah yang benar-benar akan mendapatkannya. Oleh karena itu, dibutuhkan perencanaan matang sebelum berburu beasiswa,  minimal setahun sebelum keberangkatan.

Kurang lebih, beginilah langkah-langkahku saat mencari beasiswa:

1. Les Bahasa Inggris

Setiap kita ingin mendaftar ke kampus atau mendaftar untuk mendapatkan beasiswa,  ada syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar: skor kemampuan berbahasa. Setiap negara meminta jenis yang berbeda. Umumnya negara Inggris dan negara-negara persemakmurannya, Eropa, dan Australia meminta skor IELTS, sementara Amerika Serikat dan kampus-kampus di Asia menerima TOEFL. Oleh karena itu harus dilihat dulu persyaratan dari kampus. 

Khusus IELTS,  selain syarat overall score ada juga syarat band score. Misalnya kebanyakan Law School mensyaratkan overall score 7.0 dan band score writing minimal 6.5. Sementara beasiswa umumnya menerima semua jenis skor,  kecuali TOEFL ITP atau prediction test.

Tes kemampuan bahasa tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. Saat aku mengambil tes IELTS Maret 2016 di British Council, biayanya sekitar 2,7 juta rupiah. Biaya tes di lembaga lain di atas itu,  sampai dengan 3 juta rupiah. Artinya,  sebelum mengambil tes bahasa,  kita harus fully prepared karena pertaruhannya besar! Oleh karena itu,  sejak September 2015 aku mengambil les privat IELTS.

2. Tes Bahasa Inggris

Setelah merasa siap untuk mengikuti tes,  segeralah mendaftar untuk mengambil tes IELTS. Tes IELTS hanya diadakan dua kali dalam sebulan,  dan seringkali kuotanya penuh, apalagi mendekati musim apply Universitas dan beasiswa. Oleh karena itu mendaftarlah jauh-jauh hari.
Oh iya, pemilihan lembaga yang mengadakan tes juga penting. Ada lembaga tertentu yang konon 'pelit' memberikan nilai, ada yang penyelenggaraannya tidak profesional dan super ngaret, ada yang saat sesi listening speakernya tidak jelas sehingga akan berpengaruh terhadap skor IELTS akhir kita. Penting memilih lembaga yang tepat karena tes IELTS memakan waktu seharian,  jadi kondisi fisik kita akan sangat capek,  jangan sampai kondisi psikis kita juga terganggu. 

Setelah riset dan bertanya-tanya,  aku memutuskan untuk mengambil tes di British Council. Dan alhamdulillah persiapan yang cukup lama memberikan hasil tes IELTS yang cukup memuaskan. Overall score-ku 7.5, dengan nilai Speaking 8.0, Reading 8.0, Listening 7.5, dan Writing 6.0 (hiks).

3. Berburu LoA

Letter of Acceptance (LoA) merupakan tiket masuk kita untuk menjadi mahasiswa sebuah Universitas. Berburu LoA sebenarnya susah-susah gampang. Menurutku, selama semua syarat administrasi terpenuhi (skor IELTS, minimum GPA, dll), rekomendasi yang cihuy, dan Personal Statement yang menarik, tidak ada alasan bagi kampus untuk menolak kita. Tentunya, LoA juga harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Sambil mengikuti les IELTS, aku juga mempersiapkan draft Personal Statement dan berburu Recommendation Letter. Sehingga ketika skor IELTS sudah keluar, aku tinggal mengirimkan berkas-berkas yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari. 

Perhatikan deadline pendaftaran setiap kampus. Kebanyakan kampus memberikan deadline bulan Juni untuk intake bulan September. LoA tidak memakan waktu lama untuk diproses, biasanya keputusan dari kampus akan keluar dua sampai empat minggu setelah pendaftaran.

4. Berburu Beasiswa

LoA sudah di tangan, saatnya berburu beasiswa! Banyak-banyaklah mencari informasi. Kebanyakan orang berpikir beasiswa S2 itu hanya sekedar LPDP, padahal sebenarnya buanyaaak banget beasiswa yang tersedia. Selain beasiswa BPI LPDP, pemerintah memberikan alternatif lain seperti beasiswa presiden, Beasiswa Unggulan Dikti, dan lain-lain. Setiap pemerintah juga biasanya memberikan program beasiswa, misalnya Chevening dari Inggris atau AAS dari Australia. Atau seperti kisah Muthi temanku, dia mendapatkan beasiswa dari DAAD dan juga dari kampusnya. Intinya, jangan pernah menggantungkan harapan ke satu beasiswa, karena kalau ditolak, rasanya perih sekali *halah. 

Aku sendiri membuat plan A B C untuk apply beasiswa, jadi ada cadangan kalau gagal di satu beasiswa. Aku mempersiapkan diri untuk apply beasiswa LPDP,  Chevening, dan Beasiswa Unggulan Dikti (BUDI). Seminggu setelah deadline berkas LPDP adalah deadline berkas Chevening. Kebayang nggak, betapa pontang-pantingnya aku mempersiapkan berkas? Untungnya sebagian besar berkas sudah kusiapkan jauh-jauh hari, misalnya essay LPDP sudah kutulis sejak tahun 2015 dan beberapa kali dirombak serta di proofread. Karena itu, persiapkanlah segala berkas jauh-jauh hari, jangan sampai baru mengerjakan last minute!

5. Berdoa dan luruskan niat

Ini sebenarnya kunci utama dari keberhasilanku mendapatkan beasiswa. Aku percaya, Allah dengan 'invisible hand'-Nya sudah mengatur semua rezeki kita. Dan tentunya kita harus bisa membujuk Sang Pemilik Rezeki untuk bersedia memberikan rezeki beasiswa untuk kita, dong? Saat itu aku berpikir, darimanapun aku mendapatkan beasiswa tidak masalah. Yang penting aku sudah berusaha, dan Allah pasti memberikan jalan bagi orang yang mau berusaha. Seperti pepatah Arab Man Jadda Wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Terakhir, yang harus diingat, jangan lupa meluruskan niat. Kita mau melanjutkan S2 ke luar negeri untuk apa? Kalau sekedar untuk jalan-jalan, hanya ikut-ikutan teman-teman yang ke luar negeri, atau karena belum mau bekerja setelah lulus kuliah, sebaiknya berpikir ulang. Karena motif kita pasti akan diketahui oleh pihak yang mewawancarai dari pemberi beasiswa. Beasiswa bukanlah tujuan, tapi hanya sebuah sarana bagi kita untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi, untuk kemudian kembali dan mengabdi kepada Indonesia. Oleh karena itu, luruskanlah niat sebelum memilih melanjutkan S2.

Sekian gambaran singkat dariku, untuk langkah-langkah diatas akan kujelaskan dalam postingan-postingan selanjutnya. Selamat berburu beasiswa!



Postingan Terkait: