Assalamualaikum teman-teman! Kali ini, aku akan sharing mengenai salah satu hal yang krusial bagi para calon pemburu beasiswa: LoA
Letter of Acceptance (LoA) merupakan surat penerimaan dari Universitas yang menyatakan bahwa kita diterima untuk menempuh perkuliahan di Universitas tersebut. Ketika kita memiliki LoA, kita dapat lebih meyakinkan pihak pemberi beasiswa bahwa kita memiliki tujuan Universitas yang jelas. Walaupun memang, seseorang tidak mutlak harus memiliki LoA ketika mendaftar beasiswa. Ada beberapa beasiswa yang membolehkan calon mahasiswa mendapatkan LoA-nya belakangan.
Namun tetap saja, memiliki LoA merupakan suatu nilai tambah ketika melamar beasiswa. Pemberi beasiswa akan lebih diyakinkan bila seseorang sudah memiliki Unconditional LoA. Misalnya untuk beasiswa LPDP, awardee yang sudah mendapatkan LoA Unconditional bisa menandatangani kontrak sah sebagai penerima beasiswa, sementara yang masih memiliki LoA Conditional atau belum dapat LoA belum bisa menandatangani kontrak tersebut.
LoA terbagi menjadi dua, yaitu LoA Conditional dan LoA Unconditional. LoA Unconditional merupakan tanda bahwa seseorang sudah memenuhi segala syarat untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas, dan siap untuk mendaftar ulang. Sementara LoA Conditional menandakan bahwa seseorang bisa diterima menjadi mahasiswa, namun masih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk resmi diterima. Misalnya, syarat yang harus dipenuhi berupa skor IELTS yang masih kurang. Sehingga mahasiswa baru bisa mendapatkan LoA Unconditional bila syarat yang dimaksud sudah terpenuhi.
Kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku saat mendapatkan LoA.
Untuk apply ke Universitas, yang harus diperhatikan adalah deadline apply untuk intake tertentu. Kebanyakan kampus memiliki dua term untuk intake yaitu September/Oktober dan April/Mei. Namun harus diperhatikan program yang ada untuk setiap intake, karena ada program yang hanya dibuka setahun sekali saja.
Ketika mendaftar untuk Durham University, deadline untuk application adalah tanggal 30 Juni untuk intake bulan Oktober. Ada beberapa syarat yang harus kupenuhi, yaitu skor IELTS minimal 6.5 overall dan minimal 6.0 setiap band-nya. Secara akademik aku harus memiliki IPK di atas 3.2. Selain itu aku juga diminta melampirkan Curriculum Vitae, Personal Statement, Reference Letter dari dua orang di bidang Academic, serta transkrip dan ijazah yang sudah di terjemahkan dengan sworn translator.
Durham University memiliki portal untuk pendaftaran online, sehingga berkas-berkas yang ada tinggal di-upload saja. Aku hanya perlu membuat akun dan mengisi kolom isian yang sudah disediakan. Untungnya, kita bisa menyimpan data yang akan dikirimkan sebelum di submit, sehingga aku bisa mencicil mengisi portal tersebut. Setelah melakukan pengecekan berkali-kali dan memastikan form yang diisi dan dokumen yang di-upload sudah lengkap, baru berkas kelengkapan tersebut di-submit.
Sementara SOAS University of London mensyaratkanku memiliki skor IELTS 6.5 (overall), dengan minimal skor 6.5 untuk writing dan speaking serta minimal 6.0 untuk reading dan listening. Berkas yang disubmit antara lain Supporting statement 1.000 kata, CV, Transkrip Akademik dan Ijazah, serta dua Academic References. SOAS juga menggunakan portal online untuk pendaftaran. Namun jika saat apply di Durham aku diperbolehkan untuk mengirim reference letter hasil scan, SOAS meminta kita untuk mengirim langsung reference dari sang pemberi reference. Misalnya aku meminta Reference dari Dekan FHUI, maka surat tersebut harus dikirim langsung dari e-mail Dekanat FHUI.
Tentunya, mengisi portal online tersebut tidak bisa asal-asalan. Semuanya harus dilakukan dengan penuh persiapan. Berikut ini beberapa aspek penting dalam application yang harus diperhatikan:
Personal Statement
Personal statement merupakan salah satu aspek yang paling vital dalam apply Universitas dan juga beasiswa. Personal statement haruslah menggambarkan dengan jelas poin-poin sebagai berikut:
1. Jurusan yang ingin diambil beserta alasan pemilihan jurusan. Jelaskan Universitas dan major yang dipilih, dan mengapa memilih jurusan tersebut? Jelaskan secara spesifik, misalnya karena Lecturenya, karena mata kuliah tertentu. Jelaskan apa yang membuat Universitas ini unik?
2. Background pendidikan. Jelaskan dengan menghubungkan ke alasan pemilihan program.
3. Aktivitas sosial dan kontribusi di kampus terdahulu
4. Aktivitas atau pekerjaan saat ini
5. Mengapa harus memilih Universitas tersebut? Yakinkan lagi dengan menghubungkan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Kalau bisa sambil menjelaskan topik tesis yang ingin diambil nanti
6. Jual kelebihan diri, mengapa Unversitas tersebut harus memilih kamu?
7. Ingin jadi apa setelah lulus studi?
Curriculum Vitae (CV)
Curriculum Vitae (CV) merupakan aspek penunjang untuk melengkapi personal statement. Untuk membuat CV, beberapa Universitas sudah menyediakan standar tersendiri untuk CV yang mereka inginkan. Panduannya juga diberikan langsung, kita hanya perlu menyesuaikan CV kita dengan template yang ada. Membuat CV juga ada trik tersendiri. Tentunya, tidak semua prestasi atau track record yang kumiliki dimasukkan ke dalam CV. Hanya prestasi atau aktivitas terkait saja yang perlu dimasukkan.
Recommendation Letter
Recommendation Letter merupakan endorsement dari seseorang yang menunjukkan bahwa kita layak untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas. Recommendation Letter yang baik harus menggambarkan bagaimana diri kita, baik secara akademik maupun non akademik. Ada Universitas yang hanya meminta rekomendasi akademik (kita bisa meminta dari Dosen, Pembimbing Akademik, dan Dosen Pembimbing Skripsi), namun ada juga yang meminta rekomendasi dari atasan tempat kita bekerja saat ini.
Recommendation Letter berisi poin-poin sebagai berikut:
Yang pertama datang adalah dari SOAS
Defer
Kedua Universitas tersebut memberikan hasil bahwa aku diterima untuk intake September dan Oktober 2016. Sementara, saat itu sudah bulan Juli dan aku tidak memiliki beasiswa di tangan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk men-defer atau menunda statusku sebagai mahasiswa. Aku mengirimkan e-mail kepada pihak Universitas untuk meminta defer ke tahun 2017 dengan alasan masih mencari beasiswa.
Letter of Acceptance (LoA) merupakan surat penerimaan dari Universitas yang menyatakan bahwa kita diterima untuk menempuh perkuliahan di Universitas tersebut. Ketika kita memiliki LoA, kita dapat lebih meyakinkan pihak pemberi beasiswa bahwa kita memiliki tujuan Universitas yang jelas. Walaupun memang, seseorang tidak mutlak harus memiliki LoA ketika mendaftar beasiswa. Ada beberapa beasiswa yang membolehkan calon mahasiswa mendapatkan LoA-nya belakangan.
Namun tetap saja, memiliki LoA merupakan suatu nilai tambah ketika melamar beasiswa. Pemberi beasiswa akan lebih diyakinkan bila seseorang sudah memiliki Unconditional LoA. Misalnya untuk beasiswa LPDP, awardee yang sudah mendapatkan LoA Unconditional bisa menandatangani kontrak sah sebagai penerima beasiswa, sementara yang masih memiliki LoA Conditional atau belum dapat LoA belum bisa menandatangani kontrak tersebut.
LoA terbagi menjadi dua, yaitu LoA Conditional dan LoA Unconditional. LoA Unconditional merupakan tanda bahwa seseorang sudah memenuhi segala syarat untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas, dan siap untuk mendaftar ulang. Sementara LoA Conditional menandakan bahwa seseorang bisa diterima menjadi mahasiswa, namun masih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk resmi diterima. Misalnya, syarat yang harus dipenuhi berupa skor IELTS yang masih kurang. Sehingga mahasiswa baru bisa mendapatkan LoA Unconditional bila syarat yang dimaksud sudah terpenuhi.
Kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku saat mendapatkan LoA.
Untuk apply ke Universitas, yang harus diperhatikan adalah deadline apply untuk intake tertentu. Kebanyakan kampus memiliki dua term untuk intake yaitu September/Oktober dan April/Mei. Namun harus diperhatikan program yang ada untuk setiap intake, karena ada program yang hanya dibuka setahun sekali saja.
Ketika mendaftar untuk Durham University, deadline untuk application adalah tanggal 30 Juni untuk intake bulan Oktober. Ada beberapa syarat yang harus kupenuhi, yaitu skor IELTS minimal 6.5 overall dan minimal 6.0 setiap band-nya. Secara akademik aku harus memiliki IPK di atas 3.2. Selain itu aku juga diminta melampirkan Curriculum Vitae, Personal Statement, Reference Letter dari dua orang di bidang Academic, serta transkrip dan ijazah yang sudah di terjemahkan dengan sworn translator.
Durham University memiliki portal untuk pendaftaran online, sehingga berkas-berkas yang ada tinggal di-upload saja. Aku hanya perlu membuat akun dan mengisi kolom isian yang sudah disediakan. Untungnya, kita bisa menyimpan data yang akan dikirimkan sebelum di submit, sehingga aku bisa mencicil mengisi portal tersebut. Setelah melakukan pengecekan berkali-kali dan memastikan form yang diisi dan dokumen yang di-upload sudah lengkap, baru berkas kelengkapan tersebut di-submit.
Sementara SOAS University of London mensyaratkanku memiliki skor IELTS 6.5 (overall), dengan minimal skor 6.5 untuk writing dan speaking serta minimal 6.0 untuk reading dan listening. Berkas yang disubmit antara lain Supporting statement 1.000 kata, CV, Transkrip Akademik dan Ijazah, serta dua Academic References. SOAS juga menggunakan portal online untuk pendaftaran. Namun jika saat apply di Durham aku diperbolehkan untuk mengirim reference letter hasil scan, SOAS meminta kita untuk mengirim langsung reference dari sang pemberi reference. Misalnya aku meminta Reference dari Dekan FHUI, maka surat tersebut harus dikirim langsung dari e-mail Dekanat FHUI.
Tentunya, mengisi portal online tersebut tidak bisa asal-asalan. Semuanya harus dilakukan dengan penuh persiapan. Berikut ini beberapa aspek penting dalam application yang harus diperhatikan:
Personal Statement
Personal statement merupakan salah satu aspek yang paling vital dalam apply Universitas dan juga beasiswa. Personal statement haruslah menggambarkan dengan jelas poin-poin sebagai berikut:
1. Jurusan yang ingin diambil beserta alasan pemilihan jurusan. Jelaskan Universitas dan major yang dipilih, dan mengapa memilih jurusan tersebut? Jelaskan secara spesifik, misalnya karena Lecturenya, karena mata kuliah tertentu. Jelaskan apa yang membuat Universitas ini unik?
2. Background pendidikan. Jelaskan dengan menghubungkan ke alasan pemilihan program.
3. Aktivitas sosial dan kontribusi di kampus terdahulu
4. Aktivitas atau pekerjaan saat ini
5. Mengapa harus memilih Universitas tersebut? Yakinkan lagi dengan menghubungkan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Kalau bisa sambil menjelaskan topik tesis yang ingin diambil nanti
6. Jual kelebihan diri, mengapa Unversitas tersebut harus memilih kamu?
7. Ingin jadi apa setelah lulus studi?
Curriculum Vitae (CV)
Curriculum Vitae (CV) merupakan aspek penunjang untuk melengkapi personal statement. Untuk membuat CV, beberapa Universitas sudah menyediakan standar tersendiri untuk CV yang mereka inginkan. Panduannya juga diberikan langsung, kita hanya perlu menyesuaikan CV kita dengan template yang ada. Membuat CV juga ada trik tersendiri. Tentunya, tidak semua prestasi atau track record yang kumiliki dimasukkan ke dalam CV. Hanya prestasi atau aktivitas terkait saja yang perlu dimasukkan.
Recommendation Letter
Recommendation Letter merupakan endorsement dari seseorang yang menunjukkan bahwa kita layak untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas. Recommendation Letter yang baik harus menggambarkan bagaimana diri kita, baik secara akademik maupun non akademik. Ada Universitas yang hanya meminta rekomendasi akademik (kita bisa meminta dari Dosen, Pembimbing Akademik, dan Dosen Pembimbing Skripsi), namun ada juga yang meminta rekomendasi dari atasan tempat kita bekerja saat ini.
Recommendation Letter berisi poin-poin sebagai berikut:
1. Siapa pemberi rekomendasi dan apa hubungannya dengan penerima rekomendasi
2. Pendapat pemberi rekomendasi terhadap karakter calon mahasiswa
3. Mengapa calon mahasiswa harus direkomendasikan untuk diterima Universitas?
Untuk Recommendation Letter, aku meminta dari beberapa orang, antara lain Pak Topo Santoso sebagai Dekan FHUI yang mempekerjakanku, Bang Heru Susetyo yang merupakan pimpinan di Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam FHUI, serta pernah mengikuti penelitian bersama, serta Prof. Uswatun Hasanah sebagai Professor di Bidang Studi Hukum Islam FHUI dimana aku menjadi asisten dosen. Tentunya akan lebih baik bila orang yang kita minta memberikan rekomendasi adalah orang yang kita kenal baik, karena biasanya rekomendasi yang diberikan akan lebih personal.
Beberapa Universitas mensyaratkan application fee ketika mendaftar. Misalnya Durham University, untuk applynya dikenakan fee 50 poundsterling (sekitar 1 juta rupiah, bayarnya sebelum Brexit. Habis Brexit kurs poundsterling langsung jeblok. Lalu nyesel kenapa bayarnya nggak belakangan aja hiks). Application baru akan diproses setelah fee dibayarkan. Sementara SOAS tidak meminta application fee sehingga aku tinggal submit form saja.
Dua sampai empat minggu setelah submit application, aku menerima jawaban dari pihak Universitas.
Yang pertama datang adalah dari SOAS
Karena skor IELTS-ku tidak memenuhi syarat, yaitu skor writing hanya 6.0 (yang disyaratkan 6.5), maka aku mendapatkan LoA Conditional. Artinya, aku bisa memilih apakah mau submit kembali nilai IELTS yang sudah memenuhi syarat, atau akan mengambil kursus bahasa Inggris di SOAS nanti. Berhubung beasiswa biasanya tidak mau menanggung biaya kursus bahasa, maka aku memutuskan mencoba ambil tes IELTS lagi bila ingin memilih SOAS.
Dua minggu setelah jawaban dari SOAS, datang e-mail dari Durham:
Alhamdulillah, kali ini aku mendapatkan LoA Unconditional! Artinya, aku sudah memenuhi semua syarat dan tinggal mendaftar ulang saja untuk menjadi mahasjswa resmi Durham University.
Defer
Kedua Universitas tersebut memberikan hasil bahwa aku diterima untuk intake September dan Oktober 2016. Sementara, saat itu sudah bulan Juli dan aku tidak memiliki beasiswa di tangan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk men-defer atau menunda statusku sebagai mahasiswa. Aku mengirimkan e-mail kepada pihak Universitas untuk meminta defer ke tahun 2017 dengan alasan masih mencari beasiswa.
SOAS merespon permintaanku dengan cepat, dan tidak lama kemudian mengirimkan surat keputusan Defer. Alhamdulillah, ini artinya aku bisa menunjukkan keputusan defer kepada pemberi beasiswa sebagai bukti bahwa aku telah diterima untuk intake 2017.
Sementara Durham University tidak semurah hati itu. Ketika aku mengajukan permohonan untuk defer, mereka berkata bahwa di Durham tidak ada sistem defer. Aku akan dianggap mendaftar ulang dan aplikasiku akan dipertimbangkan ulang untuk intake 2017. Jantungku sempat dag-dig-dug, khawatir pihak Universitas berubah pikiran menawariku kursi mahasiswa. Untungnya, untuk mendaftar ulang tidak perlu membayar application fee lagi.
Beberapa minggu sebelum jadwal wawancara LPDP, Durham University mengeluarkan hasil dari apply-ku yang kedua kali. Alhamdulillah, aku kembali mendapatkan LoA Unconditional dari Durham, yang langsung kubawa saat seleksi LPDP sebagai bukti. Dan alhamdulillah, mungkin keberadaan LoA Unconditional pula yang membawaku menjadi salah satu awardee LPDP Batch 4 Tahun 2016 :)
Sekian pengalamanku saat berburu LoA, semoga bermanfaat. Semangat selalu para pemburu beasiswa!
Postingan Terkait:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar