Kamis, 29 November 2018

Re-Evaluate My Life Goals

Assalamualaikum....

Hei! It's me, again!

Sudah lamaaa sekali rasanya aku tidak menulis di blog ini, mengingat kesibukan setahun terakhir menuntut ilmu. Saat ini, aku sudah kembali ke Indonesia dan beraktivitas seperti biasa di kampus tercinta. Dengan ilmu yang kupelajari, tentunya semakin banyak tuntutan dan tugas yang harus kukerjakan; yang tadinya tidak bisa, mau tidak mau sekarang harus bisa. Ekspektasi orang akan gelar yang kini kuemban mau tidak mau menuntut sekaligus menuntunku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Alhamdulillah, beberapa saat yang lalu hasil kuliah magisterku di UK sudah keluar, dan hasilnya aku lulus dengan predikat distinction (seperti cum laude kalau di Indonesia). Benar-benar di luar dugaan, karena aku sudah pasrah dengan apapun hasilnya, bahkan aku pernah berpikir sekedar lulus pun tidak apa-apa. Alhamdulillah, Allah memang selalu melihat usaha hamba-Nya.

Selama setahun terakhir ini, banyak hal yang terjadi kepadaku. Aku belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila kita berusaha dan berdoa. Sebaliknya, aku juga belajar bahwa walaupun kita sangat menginginkan sesuatu, bila Allah belum berkehendak, maka suatu hal itu belum tentu bisa kita dapatkan. Banyak hal yang membuatku merenung, mencoba memperbaiki hal yang salah, mencoret-coret beberapa rencana dan memperbaikinya dengan rencana yang lain.

Ada beberapa target hidupku yang pernah kutuliskan dalam daftar mimpi-mimpi, yang sebagian juga pernah kutulis di blog ini. Alhamdulillah, sebagian diantaranya sudah tercapai, antara lain:
Menjadi Asisten Dosen
Mendapatkan Beasiswa
Melanjutkan S2 di Eropa (walau sejujurnya, dulu aku tidak pernah terpikir untuk kuliah di UK, hehe)
Belajar Masak
Belajar Public Speaking
Berkeliling ke beberapa negara  di Eropa, antara lain Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan Swiss.

Setahun terakhir ini, aku belajar mendobrak zona nyaman.
Selama setahun merantau, banyak skill-skill baru yang tidak kubayangkan bisa aku kuasai sebelumnya. Misalnya, karena di Durham tidak mudah mendapatkan makanan yang halal dan murah, aku dituntut untuk bisa memasak setiap hari, sehingga lama-lama terbiasa. Padahal, dulu tak pernah terbayangkan aku bisa memasak segala masakan "serius" seperti Dendeng, Pempek, Bakso, atau Batagor dengan tangan sendiri. Maklum, biasanya tinggal beli di depan rumah hehe. Begitu juga segala urusan domestik lainnya, seperti mencuci, berbelanja mingguan ke City Center, mengatur keuangan, membereskan rumah, sampai menyikat kamar mandi, semuanya menuntutku untuk mandiri.

Banyak hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan akan kualami, yang aku yakin bila Ummi tahu, pasti dia stress memikirkan nasib anak perempuannya ini. Aku pernah harus tidur di terminal Coach Bus Station di London semalaman demi menunggu bis ke Durham (karena bis tengah malah harganya paling murah). Aku pernah menaiki bis selama 8 jam dari London ke Durham sendirian di tengah-tengah banyak orang asing yang tidak kukenal. Aku pernah sendirian jam 12 malam berjalan kaki selama 45 menit dari stasiun kereta karena sudah tidak ada bis dan di Durham jarang ada taksi. Rasanya ingin menangis malam itu ketika aku melintasi deretan hutan yang gelap dan sunyi, apalagi aku penakut. Aku yang tidak pernah merantau jauh, tidak pernah mau pulang di atas jam 10 malam, dan selalu ditelepon Ummi bila pulang malam sedikit saja, kini harus bertarung melawan ketakutanku. Pokoknya, modal nekat dan bismillah saja. 

Selain itu, aku yang kaku dan biasanya jauh dari kata seni ini berhasil belajar menari Saman dan bermain Angklung yang kemudian ditampilkan ke warga Durham dan Newcastle. Latihan Saman dan Angklung yang dijalani hanya sebulan sebelum pentas, ternyata luar biasa menyenangkan dan menjadi refreshing di sela-sela kesibukan kuliah dan mengerjakan essay.
Selain itu, sebelum berangkat ke UK, aku juga sempat mengambil kelas Public Speaking di Pare selama sebulan, belajar mengatasi demam panggung yang selama ini menggangguku. Tak disangka, aku sempat mendapatkan pujian sebagai Best Speaker. Now, I'm no longer afraid to the crowd.

Dari pengalaman-pengalaman ini aku belajar, banyak hal yang bisa kita dapatkan ketika kita berani melangkah keluar dan zona nyaman. Banyak kejutan yang menanti ketika kita memberanikan diri melawan rutinitas. Ketika kita berani menghapus kata "tidak bisa" atau "tidak mau", kita akan terkejut melihat apa yang akan terjadi pada diri kita.
Karena itu, bila kau mengalami suatu kejenuhan atau kebuntuan, coba tanyakan pada dirimu sendiri: When was the last time you did something for the first time?

Alhamdulillah, pengalaman setahun terakhir sangat membekas dan memberikan banyak pelajaran. Namun aku menyadari, bahkan di usiaku yang sudah lebih dari seperempat abad ini, masih sangat banyaak hal dalam daftar mimpi-mimpiku yang belum terwujud, antara lain:

Menikah (dulu cita-citaku menikah umur 22 tahun... Pfft)
Menjadi Dosen
Membuat cerpen dan menerbitkan novel karya sendiri
Menjadi wartawan
Menguasai ilmu beladiri
Membuat sekolah sendiri
Membawa Abi ke tanah suci
Mengunjungi Italia dan Jepang
..... dan masih panjaang lagi daftarnya, hehe

Dari daftar tersebut, ada hal-hal yang masih mungkin terwujud, dan ada juga hal-hal yang kecil kemungkinannya untuk terwujud. Karena setelah menempuh usia setengah abad, segala pilihan yang kuambil di masa lalu seperti pilihan sekolah, pilihan berorganisasi dan karier yang kupilih perlahan-lahan membuatku semakin fokus untuk memilih suatu jalan. Misalnya, kecil kemungkinannya aku benar-benar bisa menjadi ahli beladiri atau menjadi wartawan yang bekerja di lapangan.
Namun, jejak-jejak aktivitas dan kegiatan yang pernah kuikuti di masa lalu semakin jelas membentuk siapa aku di masa depan. Misalnya, ketika S1, aku membuat skripsi tentang Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Aku juga mengikuti penelitian untuk membandingkan industri halal di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Sementara thesis S2-ku membahas mengenai pengaruh regulasi terhadap industri halal. Dengan segala pilihan itu, secara tidak langsung aku sedang mengarahkan pilihan karierku untuk menjadi seorang akademisi di bidang industri halal.

Aku menyadari, tidak ada kata terlambat untuk mempelajari sesuatu dan mencita-citakan sesuatu. Namun kita harus fokus dan realistis juga untuk merencanakan jalan kehidupan kita.
Dengan pemikiran tersebut, aku memutuskan untuk mengevaluasi tujuan hidupku dan menyusun daftar mimpi-mimpi yang baru, yang ingin kucapai dalam sisa usiaku. Here it goes...
Menikah
Menjadi Dosen
Menjadi Researcher yang memiliki banyak publikasi dan mengikuti banyak conference international
Membuka usaha sendiri di bidang fashion dan kuliner
Belajar saham, menjadi trader atau investor yang handal
Membuat video channel edukasi (seperti Edx atau Coursera) tentang ekonomi syariah
Membuat perpustakaan
Membawa Abi ke tanah suci
Keliling Dunia bersama suami (And here goes the list: Thailand, Japan, South Korea, Italy, Austria, Spain, Netherland, France, Switzerland, and I hope someday I can come back to UK with my husband, hehe)
Menjadi istri dan ibu yang baik
Meninggal dengan khusnul khotimah

Mencapai umur seperempat abad bukan berarti kita harus berhenti bermimpi. Sebaliknya, ini adalah awal yang baru untuk memulai hidup kita. Untuk memastikan agar kita meninggalkan jejak yang berguna di usia hidup yang singkat ini, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Ini daftar mimpi-mimpiku yang baru. Bagaimana dengan kamu? 

Senin, 20 Agustus 2018

Karena Kuliah di Luar Negeri Tidak Seindah Foto-Foto di Instagram (2)

Assalamualaikum guys!

Kembali lagi bersama Iffah yang akhirnya bisa kembali menulis blog setelah melalui semester dua yang menggila dan menyelesaikan dissertation dalam waktu tiga bulan sahaja.

Tulisan part dua kali ini untuk menceritakan kehidupan perkuliahan di semester dua yang semakin berat dan masa-masa menulis disertasi. Kalau semester satu adalah masa-masa adaptasi dengan sistem belajar, dengan segala paper, written exam, mengatur jadwal dan membaca jurnal, semester dua adalah masanya untuk survival karena kuliahnya beraat banget. Semester dua ini mata kuliah yang kuambil ada lima, dengan judul Islamic Banking and Finance, Risk Management in Islamic Banking, Islamic Accounting, Islamic Capital Market, dan Research Method for Dissertation. Tentunya, jadwal kuliahnya dan seminarnya semakin banyak dan padat, sampai-sampai kadang nafas pun susah. Di semester ini juga banyak tugas yang berkelompok serta presentasi, sehingga kita harus pintar-pintar membagi waktu dan berkoordinasi dengan teman-teman kelompok.

Semester satu kemarin, aku masih bisa pulang ke rumah setiap makan siang dan kembali lagi saat jadwal kuliah kedua. Tapi di semester dua sekarang, karena waktu yang padat dimana jeda waktu antara kuliah dan seminar sangat sebentar, sebagian besar teman-temanku makan siang di kantin kampus. Tentunya, sebagai mahasiswa kere, aku memilih untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Soalnya, sekali makan di kampus bisa habis 5 pound (seratus ribu), lumayan banget kan kalau ditabung. Dampaknya, aku harus rajin bangun pagi untuk memasak. Di sela-sela jam belajar, kita selalu membawa cemilan antara lain Kitkat, Kinder, Digestive Biscuit, dan Walkers yang diam-diam kita cemil agar tidak ngantuk di kelas. Kadang kita bertukar (atau memalak) cemilan dan bekal satu sama lain.

Mata kuliah semester dua ini lebih banyak yang bersifat teknis dan praktek, berbeda dengan mata kuliah semester satu yang sifatnya basic, teoritis dan abstrak banget. Tapi aku sukaaa sekali mata kuliah yang ada di semester dua ini karena menantang, dan banyak pembahasan mengenai legal aspect dalam Islamic economic yang sedikit banyak sudah kupelajari sejak S1. Di semester ini pula aku bertemu dengan Professor Habib Ahmed yang super kece, pintar, dan mengajarnya enak. Belum lagi paper-paper tulisannya enak dibaca. Kayaknya, cuma di kelas Prof. Habib saja aku nggak pernah ketiduran, wkwkwk. Dan di kelas-kelas beliaulah aku semangat berdiskusi karena sedikit paham ilmu yang dia ajarkan. Pokoknya Prof. Habib ini lovely banget lah, paket lengkap seorang dosen, karena dosen yang mengajarnya enak sekaligus tulisannya mudah dimengerti itu jaraang banget ada. Karena sudah kepalang jatuh hati, aku pun meminta Prof. Habib untuk menjadi supervisorku dalam menulis disertasi.

Alhamdulillah, pengalaman di semester satu membuatku lebih bisa survive di semester kedua, terutama dalam menulis paper dan menghadapi written exam. Aku sadar sekali, salah satu kelemahanku adalah kurang bisa menulis dengan baik. Mungkin, basic academic writing yang dulu kupelajari di FHUI, UI, atau di Indonesia secara keseluruhan kurang baik. Apalagi esai yang kutulis harus berbahasa Inggris (ya iyalah ndro) sehingga tentunya tingkat kesulitannya jauh berbeda dengan esai dalam bahasa Indonesia. Karena itu, beberapa kali aku mengambil kelas tambahan Academic Writing yang memang disediakan bagi mahasiswa-mahasiswa yang merasa perlu berlatih lagi. Selain itu, Prof. Mehmet juga memberikan panduan singkat untuk menulis dengan baik, yang sangat berguna bagi kami. Beberapa kali pula aku meminta masukan dari senior-senior untuk esaiku. Alhamdulillah hal ini sangat menolongku dalam menyusun essay yang baik.

Ada satu ketika aku melakukan kesalahan fatal dalam menulis esai untuk Islamic Banking and Finance. Saat berkonsultasi dengan senior tentang esaiku, tenyata aku salah memahami apa jawaban yang diminta dari pertanyaan esainya. Hal ini membuatku sangat stress dan menangis karena esai ini menyumbang 50% dari nilai akhir modul. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Toh dengan menangis paperku tidak akan selesai dengan sendirinya. Akhirnya aku terpaksa merombak esaiku H-3 deadline. Dengan sekuat tenaga aku membaca puluhan jurnal dan menyusun esai dari awal, dan mengumpulkan hasil yang seadanya karena waktu yang terbatas. Kesalahan ini membuatku lebih berhati-hati dalam menulis esai lainnya.

Semester kedua benar-benar semester work hard, play hard. Di sela-sela semester dua yang berat, aku dan teman-teman merencanakan eurotrip sekaligus study tour yang akan dilakukan saat Spring. Karena di UK waktu liburan kuliah biasanya diberikan sebelum exam, maka Eurotrip kami dilakukan dua minggu sebelum deadline essay dan final exam dimulai. Mati nggak tuh?

Akhirnya, selesai Eurotrip, kami pontang-panting mengerjakan essay dan belajar untuk ujian. Jangan tanya, pola hidup kami berantakan semuanya. Pola makan kami sangat-sangat berantakan, kalau hari-hari kuliah kita sempat berkreasi membuat makanan seperti Martabak, Pempek, Cireng, Dendeng, dan lain-lain, di masa-masa deadline seringnya kita hanya makan nugget, mie, dan telor ceplok. Terkadang aku insomnia sampai pagi, atau malah kebanyakan tidur karena stress. Kalau dulu aku biasanya stay di rumah mengerjakan essay bersama Fira, di semester dua ini Fira memilih untuk di perpustakaan sepanjang waktu, bahkan sampai beberapa hari tidak pulang. Begitu juga dengan Danis dan Rumy, sehingga otomatis aku selalu di rumah sendirian. Terkadang aku tersiksa dengan kesepian, dan salah satu pelampiasan stress-ku adalah dengan menelpon rumah atau ngemil es krim Haagen Dasz (yang diskonan pastinya, Iffah tidak pernah beli Haagen Dasz kalau tidak diskon).

Harus kuakui, semester dua ini menimbulkan banyak tekanan yang membuatku sangat stress. Aku sempat mengalami demotivasi dalam belajar karena terlalu stress. Aku mencoba berpikir, apa yang salah ya? Ternyata, aku merasakan beban berat di semester ini karena alhamdulillah nilaiku semester sebelumnya tidak telalu jelek. Sehingga muncul kekhawatiran kalau-kalau nilaiku semester ini tidak sebaik semester kemarin. Hal ini membuatku sangat tertekan. Di saat-saat seperti itu, aku mencoba mengingat kata-kata Prof. Mehmet:
"You are a master student now. You don't have to pursue the high grade. You just have to learning here. Learning as much knowledge as you can." 
Kata-kata itu sedikit banyak membantuku untuk belajar ikhlas. Kalau kata Ahmad Fuadi di novel Negeri 5 Menara, belajar itu harus diniatkan sebagai ibadah. Jadi, kita ikhlas belajar karena tidak ada kepentingan apa-apa selain ibadah. Mengingatnya, aku mulai belajar dengan tenang karena tanpa beban.

Datangnya musim ujian menimbulkan permasalahan sendiri. Ujian adalah tantangan yang sangat berat karena musim ujian bertepatan dengan bulan Ramadhan. Saat itu bulan Ramadhan jatuh pada saat Summer dimana maghrib selama 18 jam, dimana Subuh jam 3 pagi dan Maghrib jam 9 malam. Gimana rasanya ujian di bulan puasa? Beraat. Aku yang sapi gelonggongan ini biasanya harus selalu minum air putih bergelas-gelas saat belajar agar menajamkan konsentrasi (udah kayak iklan Aqua belum?). Namun kali ini sulit berkonsentrasi karena kurang minum air. Akhirnya, berdasarkan saran dari senior dan teman-teman, aku membalik pola tidurku: aku tidur di siang hari, dan terjaga di malam hari sampai subuh untuk belajar. Sejak maghrib hingga subuh aku tidak tidur, dan mengganti jadwal tidur sehabis subuh. Sunnahnya sih sebenarnya nggak boleh ya, tidur habis subuh. Tapi, ijtihad ulama setempat menyarankan begitu agar bisa menjalani Ramadhan dengan aman.

Alhamdulillah aku bisa menjalani ujian dengan baik, terutama di mata kuliah favoritku, mata kuliah Prof. Habib. Ketika exam period berakhir, rasanya legaaa sekali sampai aku ingin teriak karena  terbebas dari beban hidup. Di jalan-jalan sepanjang kampus yang tersebar di kota Durham, beberapa mahasiswa menaburkan confetti dan menuangkan champagne sebagai pelampiasan kelegaan. Tidak lupa, ada boat party yang mengelilingi sungai Durham sebagai perayaan berakhirnya exam period.

Sayangnya ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena sesaat kemudian kami memasuki dissertation period..... (bersambung)

Minggu, 04 Februari 2018

Karena Kuliah di Luar Negeri Tidak Seindah Foto-Foto di Instagram (1)

Assalamualaikum guys!

Tidak terasa, sudah hampir tiga bulan lebih aku berkuliah di Durham. Masa-masa yang konon katanya merupakan masa krusial adaptasi seseorang yang menjalani studi di luar negeri. Kemarin, aku baru saja selesai menjalani final examination untuk term pertama. Ujian di Durham lumayan stressful, karena udah materinya susah (ekonomi banget, anak hukum mana ngerti cyiin), pakai bahasa Inggris pula. Selain exam, ada beberapa mata kuliah yang menuntut pengumpulan tugas akhir sebagai komponen nilai.

Sebelum exam, sesungguhnya kita diberikan waktu sebulan untuk liburan bertepatan dengan natal dan tahun baru. Hampir semua mahasiswa meninggalkan Durham untuk jalan-jalan, entah pulang ke negaranya masing-masing atau sekedar Eurotrip atau UK trip. Durham kembali jadi kota mati, berhubung ini kota pelajar yang ramai karena ada mahasiswa. Aku sendiri sempat ke London untuk mengikuti pelatihan dari INDEF (plus jalan-jalan) dan ke York, menemani Tita yang lagi main dari Cambridge. Tapi setelahnya, aku langsung mengurung diri di kamar mempersiapkan exam dan mengerjakan essay summative. Soalnya, setelah exam period, kita langsung memasuki term 2 tanpa ada jeda liburan lagi. Nah loh.

Sejujurnya, masa-masa menjelang ujian dan deadline summative adalah mimpi buruk yang paling horror. Insecure setiap melihat teman keliatannya lancar-lancar aja mengerjakan tugas (padahal sama-sama nggak ngerti). Stress melihat deretan reading material yang harus dibaca, belum lagi bahasa dan istilahnya yang njelimet. Terkadang suara ketikan laptop atau gesekan pulpen dengan kertas dari kamar sebelah membangkitkan rasa insecure. Makan dan tidur mulai tak teratur, kamar yang biasanya rapi jali penuh tumpukan kertas. Sampai-sampai, aku jarang keluar menghirup udara segar dan melihat matahari karena berhari-hari mengurung diri di kamar *lebay*. Intinya, ritme hidup mulai tak karuan.

Ujian dan tugas akhir summative juga menyebabkan tingkat stress meningkat, ditandai dengan badan yang pegel-pegel, jerawatan, banyak tidur, dan nafsu makan yang tidak manusiawi. (Padahal dalam kondisi normal dan tanpa stress aja aku udah banyak tidur dan banyak makan). Hal ini berdampak pada pipi yang semakin chubby, ditandai dengan percakapan terakhir dengan Umi:
I: Mi, liat deh ada salju di Durham
U: Itu siapa di video? Gendut banget?
I: ................. itu Iffah mi.............
*pundung*
*brb Zumba*

Sebagai mahasiswa master, perasaan insecure terkadang menghantui selama belajar. Kok rasa-rasanya susah banget mengerti materi, masih keteteran bahasa Inggris terutama writing. Perasaan anxious dan merasa paling bodoh sendiri terkadang menghantui, apalagi kalo melihat teman-teman lain kayaknya lancar-lancar aja kuliahnya. Apa aku salah ambil jurusan ya??

Belum lagi sistem belajarnya yang memang beda dengan Indonesia. Kalau waktu S1 di UI, bobot nilai akhir banyak komponennya: ada absen (10%), Tugas (15%), UTS (35%), UAS (40%). Di Durham, komponen nilai cuma dua atau kadang-kadang satu. Bayangkan, sekali failed, artinya nggak ada kesempatan mengamankan nilai di komponen yang lain. Absen sama sekali nggak berpengaruh (bahkan nggak ada absen); buktinya ada teman sekelasku yang jarang masuk kelas, dan dia fine-fine aja. Selain itu ada assesment menulis paper dua kali, tapi tugas yang pertama (formative) nggak masuk ke nilai, cuma buat latihan melihat kemampuan writing mahasiswa. Itupun aku sudah pontang-panting mengerjakannya. Maklum di Indonesia nggak terbiasa academic writing, pakai bahasa Inggris pula.

Ternyata, bukan cuma aku saja yang stress dan merasa nggak memahami pelajaran, tapi juga teman-teman yang lain. Stress saat kuliah merupakan hal yang wajar dialami mahasiswa, apalagi yang berkuliah di luar negeri. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, ada mahasiswa yang sampai bunuh diri karena stress. Naudzubillah min dzalik.

Untungnya, waktu gathering PPI, Mbak Dhani senior PhD di Durham memberikan tips untuk beradaptasi dan menghandle stress selama belajar: jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain! Iya, karena setiap orang memang punya daya tangkap yang berbeda-beda dan gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang jago dan menguasai satu materi tapi lemah dalam materi yang lain. Berdiskusi bersama adalah solusinya. Biasanya, kita membuat grup diskusi kecil dan minta diajarkan sama teman sekelas yang paling menguasai materi. Selain itu, kita nggak bisa memaksakan style belajar setiap orang. Di rumahku misalnya, Rumy dan Danis adalah tipe yang senangnya belajar di perpustakaan Bill Bryson maupun di Doctoral Training Center Durham. Mereka seringkali belajar sampai pagi baru pulang. Sementara aku dan Fira lebih senang dan fokus kalau belajar di kamar, selain kita merasa rumah lebih nyaman untuk belajar karena mau mandi, makan, ke toilet lebih mudah. Aku dan Fira juga punya ritme belajar yang berbeda; Fira biasa jadi kalong, baru bisa tidur jam 4 pagi karena insomnia. Aku yang Sleeping Beauty ini paling nggak bisa tidur diatas jam 11, paling malam jam 12 malam, itupun biasanya terbangun dengan kepala hangover. Aku lebih memilih untuk tidur cepat dan bangun pagi untuk belajar. Jadi pas ketika Fira tidur, aku baru bangun.

Begitu exam tiba, tingkat stress meningkat berkali-kali lipat. Salah seorang temanku bercucuran keringat sampai tangannya saat ujian, dan kudapati muka-muka pias dan lemas setelah ujian selesai. Di ujian yang lain, ada kasus ketika bahkan suara gesekan seseorang yang membalik lembar jawaban menimbulkan rasa insecure di kelas, karena yang lain belum menulis sampai halaman kedua. Namun begitu exam berakhir, rasanya lega sekali karena seolah-olah beban ribuan kilogram diangkat dari pundak. Tinggal berdoa menanti nilai keluar.

Kenapa kami segitu stressnya menghadapi ujian? Iya, karena sistem penilaian di UK hanya memberikan tiga pilihan nilai: Pass (40-59%), Merit (60-70%), dan Distinction (diatas 70%). Cuma, jangan bayangkan mendapatkan nilai di UK semudah di Indonesia. Dapat Merit saja rasanya sudah bersyukur banget, karena mendapatkan nilai di atas 60 itu sangat susah. Ada beberapa senior yang berhasil mendapatkan distinction, namun jumlahnya tidak banyak.

Banyak orang yang berpikir, mahasiswa yang kuliah di luar negeri itu kerjaannya hanya jalan-jalan saja karena foto-foto yang kami unggah di instagram. Ada salah seorang temanku yang meledekku jalan-jalan terus karena foto yang kuunggah, dan aku bingung harus menjawab apa karena foto itu diambil di halaman belakang rumahku.

Tapi, tidak semua orang tahu tentang perjuangan teman-teman yang berkuliah di luar negeri dengan segala struggle yang ada: kendala bahasa, makanan, adaptasi, dan sebagainya. Wajar, karena mana ada orang yang mengunggah muka-muka stress kucel saat ujian ke instagram. Yang terlihat hanya wajah bahagia dan baik-baik saja, padahal kebanyakan waktu kami dihabiskan begadang di depan laptop dengan deretan reading material.

Bagi teman-teman yang berpikir akan melanjutkan studi ke luar negeri, pikirkan baik-baik: apa sudah siap menghadapi segala konsekuensinya? Karena, kuliah di luar negeri itu memang tidak seindah foto-foto di instagram.