Selasa, 24 Januari 2017

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 3)

Sampai juga di Thailand!
Waktu menunjukkan jam 6 pagi. Bis berhenti di perbatasan antara Malaysia dan Thailand, di Sadao. Masih dengan wajah kucel dan setengah sadar habis bangun tidur, kami turun dari Bis dan melewati posko imigrasi di Thailand.

Welcome to Thailand!

Setelah beres urusan imigrasi, kami naik kembali ke dalam Bis. Bis kembali melaju, dan tidak berapa lama kemudian, kami sampai di Hatyai. 

Kami diturunkan di kantor travel tempat bis sambil  menunggu mobil jemputan datang. Bang Heru mencoba membeli simcard untuk menghubungi kenalannya yang orang Thailand. Bang Heru yang pernah menempuh studi Doktor di Mahidol University untungnya bisa berbahasa Thailand, walau hanya untuk conversation. Aku hanya bisa terbengong-bengong mendengarnya. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang mereka ucapkan, aku tidak bisa membaca aksara keriting-keriting yang terpampang di mana-mana. Kalau aku tersasar di Thailand, matilah sudah.

Ternyata, transaksi membeli simcard di Thailand sangat rumit. Kami membeli dua simcard, untuk hp ku dan hp Bang Heru. Kami diminta untuk membuka tutup belakang ponselnya, dan diminta untuk melepaskan simcard yang lain. Wajah mereka penuh curiga.

"Emang kenapa harus begini, bang?" Tanyaku penasaran.
"Ini wilayah rawan konflik. HP-nya harus diperiksa, khawatirnya isinya bom. Apalagi wajah kita muslim, nanti dikira mau ke Pattani untuk jadi mujahidin." Bang Heru menjelaskan.
"Tapi kita kan emang mau ke Pattani?"
"Iya, tapi kita pura-puranya mau bermalam di Hatyai dulu. Kalau ketahuan mau ke Pattani, pasti nggak diizinkan."

Barulah aku mengerti, ternyata kami hanya transit di Hatyai untuk menuju Pattani. Pattani yang terletak di Thailand Selatan memang kawasan yang mayoritas penduduknya adalah muslim, kontras sekali dengan wilayah-wilayah lain di Thailand.

Tak lama, jemputan yang akan mengantar kami ke Pattani datang. Kami menyewa sebuah minibus untuk perjalanan beberapa hari di Thailand beserta supirnya. Mobilnya sangat nyaman, apalagi abang sopirnya ternyata punya wifi, horee *fakir kuota*



Baru berangkat beberapa menit, kami memutuskan menepi sebentar untuk sarapan. Laper euy. Bang Heru sengaja memilih warung kecil yang penjualnya mengenakan kerudung, karena makanan di Thailand itu banyak Babinya. Penjual warung itu berwajah melayu, sepertinya dari suku Pattani. Setelah memastikan kehalalan menu yang dijual, dengan senang hati kami memesan makanan khas Thailand: Tom yam! 



Rasa asam pedas yang khas ditambah cumi dan udang yang melimpah membuatku jatuh hati kepada Tom Yam. Asam, tapi enak! Kami juga memesan telur dadar, yang entah kenapa rasanya beda dengan telur dadar di Indonesia. Super enak. Katanya sih, pakai minyak khas Thailand.


Untuk pertama kalinya pula, aku mencoba minuman khas Thailand: Thai Tea. Thai tea ini menu wajib di warung-warung Thailand, kalau di Indonesia istilahnya es teh manis kali ya. Dan ternyata... enak banget!



Must try!

Perut kenyang, hati riang, perjalanan kembali dilanjutkan.

Tujuan pertama kami adalah Prince of Songkla University.
Aku baru sadar bahwa kami berempat belum mandi, dan mobil tidak akan transit di tempat untuk membersihkan diri. Ya sudahlah pasrah saja..

Memasuki daerah Pattani, aku baru percaya bahwa cerita Bang Heru tidak berlebihan. Di jalan-jalan yang kami lewati, ada barikade dengan pasukan militer yang berjaga. Jantungku berdegup kencang, memangnya seperti apa daerah yang kami tuju? Apakah rawan konflik di sana-sini? Ya Allah, semoga kami tidak terkena imbas konflik, doaku dalam hati.


Memasuki daerah Prince of Songkla University, kami melihat pemandangan mahasiswa yang sedang berduyun-duyun menuju ke masjid untuk Sholat Jum'at. Di sana-sini aku melihat mahasiswa mengenakan seragam hitam putih, dengan wanita-wanita berkerudung panjang dan bercadar. Rupanya, mahasiswa Universitas di Thailand mengenakan seragam ketika menjalani aktivitas perkuliahan. Mobil menepi di pinggir masjid. Bang Heru, Ghozi, dan Pak Supir mengikuti sholat Jum'at, sementara aku dan Bu Ida menunggu di mobil. Tak berapa lama, Bu Ida sudah tertidur. Aku sibuk memperhatikan pemandangan sekitar. Kelihatannya Pattani aman-aman saja, tidak seseram yang kubayangkan.


Selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan ke Halal Institute Prince of Songkla University.

Kami ditemani oleh Bro Mahbub, kawan Bang Heru yang berasal dari Bangladesh.
Di sana kami bertemu dengan beberapa pengurus lembaga tersebut. Wajah-wajah mereka tak ubahnya orang Indonesia, khas Melayu, walaupun ada satu-dua orang yang berwajah oriental.
Masalah mulai muncul ketika kami mengalami kesulitan berkomunikasi. Kami tidak bisa bahasa Thailand (ya iyalah) sementara tuan rumah kami terbatas penguasaan bahasa Inggrisnya. Alhasil wawancara yang digali harus dibantu sana-sini agar kami memahami bahasa satu sama lain. Namun kami cukup mendapatkan banyak informasi yang bisa digunakan dalam penelitian kami. Mereka juga menyambut kami dengan ramah layaknya saudara sendiri, dan memanggil kami dengan sebutan "Sister" dan "Brother"


With brother and sister in Prince of Songkla University

Kami melanjutkan perjalanan menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Bang Heru memesan hotel ini melalui temannya di Pattani, karena saat aku mencari hotel via internet, tidak ada data hotel yang berlokasi di sana, entah kenapa.
Sebagai bendahara perjalanan ini, betapa girangnya hatiku ketika mengetahui biaya hotel kami hanya sebesar 880 Baht (sekitar 340 ribu) per malam, setengah dari harga hotel di Malaysia. Hotelnya bersih dan nyaman. Kualitasnya jauh lebih baik daripada hotel di Malaysia, dengan standar bintang 3. Sempat kulihat di lobby, hotel ini juga sudah memiliki sertifikat Halal dari CICOT (otoritas masalah halal di Thailand). Artinya, makanan yang disajikan hotel ini sudah terjamin kehalalannya.


Malam itu, kami makan malam bersama dengan Ajarn Syamsuddin, Dosen di Fatoni University kenalan Bang Heru. Ajarn (dibaca: acan) dalam Bahasa Thai artinya guru. Ternyata, Ajarn Syamsuddin juga pernah mengajar di Indonesia. Sedikit banyak beliau mengerti bahasa Indonesia, memudahkan kami untuk berkomunikasi. Selain menjadi dosen, Ajarn Syamsuddin juga menjual kerudung dan cadar panjang khas Pattani. Kami sempat mampir ke rumahnya yang juga merupakan toko. Melihat modelnya yang lucu-lucu dan bahannya yang berkualitas, aku dan Bu Ida tergoda dan membeli kerudungnya dan akhirnya kami membeli seorang satu.


Pattani merupakan surga wisata kuliner halal, dan aku bersyukur kami sempat mencicipi kuliner-kuliner khas Pattani. Seafood yang enak dan melimpah, halal, harganya juga murah-murah, membuat kami kalap dan tidak berpikir panjang ketika memesan makanan, hehe. Pokoknya puaas wisata kuliner di Pattani!



Serius banget makannya

Keesokan harinya, kami mengunjungi Fatoni University, diantar oleh Ajarn Syam. Ajarn Syam mempertemukan kami dengan Ajarn Panat Nontanawich, dari R&D Halal Product di Fatoni University. Ajarn Panat menceritakan kepada kami mengenai produk halal yang sesungguhnya masih berkembang di Thailand. 

Aku baru sadar, sesungguhnya Indonesia memiliki potensi yang lebih maju untuk mengembangkan produk halal daripada Thailand. Indonesia sudah memiliki lembaga yang berkompeten, ada Majelis Ulama, dan SDM yang dibutuhkan untuk memeriksa kehalalan produk juga sudah tersedia. Thailand hanya memiliki beberapa Laboratorium Halal, antara lain di Prince of Songkla University yang kami kunjungi kemarin, Fatoni University, dan Cholalangkorn University di Bangkok yang akan kami kunjungi besok. Namun, Thailand dengan jumlah penduduk Muslim hanya sebesar 10% berhasil menjadi lima besar eksportir produk Halal. Apa rahasianya?


(Bersambung biar penasaran. Sebagian besar pertanyaan kami tentang Thailand akan terjawab dalam kunjungan ke Chulalangkorn University. Jeng jeng jeeeng)



Diskusi dengan Dr. Panat, Fatoni University

Break makan siang tiba. Kami diajak menyantap makan di Fatoni University, karena kebetulan sedang ada acara pertemuan dari beberapa halal institute.


Saat itu, kami sedang kebingungan memikirkan agenda untuk keesokan hari di Bangkok. Bang Heru sudah menghubungi seorang Professor di Chulalangkorn University untuk bertemu, namun sampai saat itu kami belum mendapatkan jawaban dari beliau. Memang beliau salah satu tokoh terkenal di Thailand, yang tentunya sulit untuk dihubungi dan bertemu dengan orang biasa.


Rupanya Allah memberikan jalan yang tidak kami sangka-sangka. Siapa sangka, Prof. Winai Dahlan yang dicari-cari ternyata sedang menghadiri pertemuan di Fatoni University. Langsung saja, Bang Heru dan Ghozi menghampiri Prof. Winai yang sedang makan siang dan mengajukan permintaan untuk bertemu. Alhamdulillah, Prof. Winai setuju untuk meluangkan waktunya. Benar-benar rezeki anak sholeh!


Selepas dari Fatoni University, kami kembali ke hotel untuk berkemas. Besok pagi, kami akan berangkat ke Bangkok dari bandara Hatyai, karena itu kami meninggalkan Pattani menuju Hatyai. 

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri mengunjungi peninggalan Islam di Pattani. Tentu saja, sepanjang perjalanan kami berkeliling Pattani selama dua hari ini, kami melewati checkpoint yang dijaga oleh militer bersenjata.


Masjid 300 Tahun
Kami mengunjungi masjid Telok Manok di wilayah Narathiiwat, yang terkenal dengan sebutan masjid 300 tahun. Konon, masjid ini merupakan masjid tertua di Thailand. Arsitektur masjid ini mengingatkan kami dengan Masjid khas jawa. Lucunya, aku membaca tulisan-tulisan yang tertempel di masjid, walaupun aksaranya merupakan arab gundul, tapi bahasanya adalah bahasa melayu.


Masjid Krue Se


Perjalanan selanjutnya membawa kami ke Masjid Krue Se. Masjid ini disebut juga dengan nama Masjid Gersik. Konon, asal-usul nama ini karena sejarah penyebaran Islam di Pattani berasal dari Jawa. Masjid ini juga menyimpan sejarah kelam. Masjid ini tempat terjadinya pembantaian 32 gerilyawan Muslim oleh militer Thailand. Pada tanggal 28 April 2004, Militer menyerbu masjid setelah pengepungan selama tujuh jam dan menghujani masjid dengan peluru. Sampai sekarang, bekas-bekas peluru masih bisa dilihat di beberapa sudut masjid Krue Se.



Terakhir, kami singgah di Masjid Pattani. Masjid terbesar dan tercantik di Thailand itu sangat indah, namun sayangnya waktu kami terbatas sehingga kami hanya sempat berfoto-foto sebentar di depannya.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Mobil bergerak semakin menjauhi provinsi Thailand Selatan. Kami singgah sebentar di sebuah rumah makan untuk the last supper, karena perut sudah keroncongan. Itulah saat-saat terakhir kami bebas menikmati makanan tanpa meragukan kehalalannya. Bang Heru berpesan, puas-puasin saja makan halal di sini karena di Bangkok akan sulit mencari makanan halal. Siap Bang!




Hedon in Thailand

(bersambung ke part selanjutnya)

Minggu, 01 Januari 2017

When Your Wish is Granted (Kaledioskop 2016)

Bagiku, hanya ada satu kata yang tepat untuk merefleksikan tahun 2016: Alhamdulillah...

Awal tahun ini dimulai dengan tekadku untuk mendapatkan beasiswa S2.
Bagiku, belajar IELTS adalah salah satu pintu awal untuk beasiswa ke luar negeri.
Sebenarnya, sejak September 2015 aku sudah mengikuti les privat untuk tes IELTS. Untungnya, guru les-ku, Kak Putri, sangaat baik. Dia sabar mengajariku yang sering telat datang privat, karena jadwal privatku setiap dua kali seminggu dimulai jam 7 pagi. Jujur tidak mudah bagiku untuk les sambil bekerja, apalagi kak Putri seringkali memberikan PR Reading dan Writing untuk kami kerjakan. Untungnya pula, Kak Putri merupakan awardee LPDP, sehingga sedikit banyak kami bisa belajar tips dan trik dari Kak Putri.

Setelah sekian lama mengikuti les privat IELTS (hampir 6 bulan! wkwk), aku memutuskan untuk mengambil tes. Sebelumnya, aku belum merasa siap karena IELTS memang sangat menantang. Apalagi, biaya tes IELTS yang tidak murah (hampir 3 jutaan) membuatku maju-mundur untuk mengikuti tes. Akhirnya setelah merasa siap dan dengan mengucapkan bismillah, aku mendaftar di British Council untuk mengikuti ujian tanggal 7 Mei. Dua minggu sebelum ujian, kami melakukan try out intensif IELTS.

Ujian diadakan di sebuah hotel di kawasan Blok-M. Ujian memakan waktu seharian, mulai dari Listening, Reading, Writing sampai menunggu giliran speaking. Saat giliran speaking aku berjumpa dengan native speaker dari Inggris. Walaupun nervous, ternyata ujian speaking berjalan dengan santai, seperti mengobrol saja. Untungnya, pekerjaanku di kampus mengharuskanku untuk berkomunikasi dengan bule-bule, sehingga aku sudah tidak gugup lagi berbicara dengan bule.

Dua minggu kemudian, aku mendapatkan hasil IELTS-ku, dan tak disangka, aku berhasil mencapai overall score 7.5. Alhamdulillah... nilai yang lebih dari cukup untuk mendapatkan beasiswa dan LoA. Dengan berbekal nilai IELTS, aku mencoba mendaftar ke beberapa Universitas: Durham University, SOAS University of London, dan Bangor University yang semuanya terletak di United Kingdom.



Alhamdulillah, aku mendapat kabar bahagia bahwa aku diterima sebagai calon mahasiswa magister Islamic Finance and Management di Durham University, UK. Ini artinya, tinggal selangkah lagi bagiku untuk meraih impian melanjutkan S2 di luar negeri.

Di tahun ini juga, Allah memberikan karunia kepada kakakku. Setelah sekian lama menanti, kakakku Nana akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Rafa. Rafa merupakan pujaan hati baru di rumah kami. He is so cute!


Rafaaa!

Dua ribu enam belas juga merupakan tahun dimana aku banyak berpergian.

Bulan Maret, demi menjalankan tugas promosi program Kelas Khusus Internasional FHUI di Bandung, Surabaya, dan Medan. Saat itulah aku merasa sangat bersyukur karena berkesempatan melihat daerah-daerah lain di Indonesia, naik pesawat, dibayarin pula, dikasih uang transport pula. Maaf norak, maklum fresh graduate wkwk.



Open House di Surabaya


Open House Medan


Wisata Kuliner di Medan!


Bulan Agustus adalah bulannya travelling! 
Awal Agustus,  aku berkesempatan mengikuti outing kantor FHUI. Alhamdulillah, ternyata outing tahun ini ke Kepulauan Belitung!
Dengan kompaknya,  geng gadis-gadis geulis asdos dan karyawan FHUI bersama-sama berkeliaran di Belitung mencari spot unik demi foto-foto indah nan instagram-able. Kami berkunjung ke Kampung Laskar Pelangi, berkeliling dari satu pulau ke pulau lain, snorkelling, dan berkunjung ke pantai Laskar Pelangi yang penuh dengan batu-batu indah.






Sepulangnya dari Belitung, aku,  Bu Ida,  Ghozi,  dan Bang Heru berangkat menuju Malaysia untuk melakukan penelitian mengenai Jaminan Produk Halal di Malaysia dan Thailand. Dari perjalanan ini aku mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat berharga. Penelitian ini semakin menyadarkanku untuk peduli terhadap isu produk halal di Indonesia. (Selengkapnya bisa dibaca di postingan sebelumnya)

Di bulan November, aku memberanikan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Sebenarnya sejak seleksi batch pertama di awal tahun aku ingin mendaftar, namun aku belum juga merasa siap. Akhirnya di batch keempat aku dan beberapa temanku mencoba mengikuti seleksi. Di sela-sela pekerjaan yang padat dan tak ada habisnya, kami meluangkan waktu untuk persiapan menghadapi seleksi LPDP.

Seminggu setelah seleksi LPDP,  aku dan kawan-kawan serta dosen-dosen pengurus Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam mengadakan sebuah acara besar: International Confrence of Islamic Law in Indonesia (ICILI), yaitu konferensi Internasional dengan tema Hukum Islam. Walaupun SDM kami sangat terbatas, dan pontang-panting mengurus acara dengan keterbatasan yang ada, alhamdulillah acara besar pertama kami berhasil terlaksana dengan baik. Aku bertemu dengan akademisi dan praktisi-praktisi Hukum Islam dari seluruh Indonesia, bahkan dari negara-negara lain. Tentunya,  acara ini memantik semangatku untuk terus mengembangkan ilmu hukum Islam di Indonesia.



Rencananya, aku akan mempresentasikan paperku dengan topik mengenai produk halal pada hari terakhir konfrensi. Namun Allah berkehendak lain. Malam sebelum hari presentasi, aku mendapat kabar bahwa Abiku terkena serangan stroke. Kabar ini cukup membuatku kalut, karena ini bukan pertama kalinya Abi terkena stroke, apalagi Abi terkena stroke di batang otak.

Aku sempat ragu-ragu haruskah aku pulang, mengingat amanahku sebagai bendahara ICILI belum selesai, dan ada presentasi yang harus kutampilkan. Namun sebuah kalimat dari seniorku,  Bang Ali, membuatku menguatkan tekad: "Pulang!  Kamu cuma punya satu bapak! "
Aku memutuskan pulang dan menitipkan semua urusan ICILI kepada orang lain. Aku takut yang terburuk akan terjadi kepada Abi, dan aku tak mau menyesal belakangan. Untungnya, Kelly membantu menggantikan tugasku,  dan Bu Ida serta Ghozi menggantikanku presentasi.

Alhamdulillah, ternyata stroke yang diderita abi tidak cukup parah.  Dalam beberapa hari saja Abi sudah membaik dan bisa keluar dari Rumah Sakit,  padahal stroke kedua biasanya berakibat fatal. Alhamdulillah,  Allah masih menyayangi Abi..

Tanggal 9 Desember adalah hari dimana aku mendapat kabar membahagiakan sebagai penutup akhir tahun.
Setelah penantian dengan jantung deg-degan, dzikir panjang yang tak putus-putus, siang itu aku mendapatkan sebuah email.



Alhamdulillah, aku terpilih sebagai salah satu awardee beasiswa LPDP. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Inggris.  Rasanya seperti mimpi. Karena aku sadar, tanpa beasiswa, mana mungkin aku yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja ini bisa melanjutkan studi ke Luar Negeri. Ini merupakan anugerah yang tak terhingga bagiku. Sungguh benar pepatah yang digaungkan Ahmad Fuadi di Trilogi Negeri Lima Menara: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Insya Allah, bila tak ada halangan,  September 2017 aku akan berangkat untuk melanjutkan studi ke Inggris. Aku sadar, melanjutkan studi dengan dibiayai negara adalah sebuah amanah besar. Oleh karena itu, aku bertekad akan menempuh studi master dengan sebaik-baiknya.

Bagiku, 2016 sungguh merupakan tahun yang memberikan pelajaran berarti. Tentu saja, tidak semua kisahku di tahun 2016 ini berakhir bahagia. Ada saatnya dimana aku harus diam menangis karena menerima kenyataan pahit. Ada saatnya dimana aku harus mengikhlaskan apapun yang terjadi. Ada saatnya dimana aku harus belajar menerima diriku dan keluargaku apa adanya. Ada saatnya dimana aku terpuruk dan tenggelam dalam depresi, namun mencoba bangkit demi orang-orang yang kusayangi. Namun, tentunya lebih banyak syukur, lebih banyak karunia yang kudapatkan sepanjang tahun ini. Semua kejadian yang kualami memberikan pelajaran bagiku, agar lebih kuat menghadapi cobaan, dan agar selalu bersyukur terhadap karunia yang telah diberikan Allah kepadaku.

Tahun 2017 telah tiba, semoga tahun ini aku bisa berproses lebih baik daripada sebelumnya, dan bisa mewujudkan impian dan targetan yang ingin kucapai. Dan semoga, Allah memberikan yang terbaik bagiku nantinya.


Selamat berproses!