Assalamualaikum! Kembali lagi bersama Iffah di scholarship series. Kali ini, aku akan sharing tentang bagaimana menaklukkan tes IELTS.
Seperti yang sudah kuceritakan di postingan sebelumnya, hasil nilai tes bahasa sangat penting bagi teman-teman yang mau berburu beasiswa. Calon kampus dan calon pemberi beasiswa pasti meminta skor tes bahasa tertentu sebagai syarat wajib. Skor yang diminta bisa berupa TOEFL (ITP/PBT/IBT/CBT), IELTS, atau TOEIC. Nah lho apa bedanya?
Setiap negara memiliki preferensi tertentu untuk skor kemampuan bahasa Inggris ini. Ada Universitas yang menerima TOEFL maupun IELTS, namun ada juga Universitas yang hanya menerima salah satunya. Umumnya, Universitas di Inggris, Eropa, dan Australia mensyaratkan skor IELTS, sementara Universitas di Amerika dan Asia menerima TOEFL. Sementara tidak semua Universitas menerima TOEFL ITP. Calon mahasiswa bisa menggunakan TOEFL ITP untuk mendapatkan LoA Conditional namun Universitas akan meminta hasil skor tes TOEFL selain ITP sebagai syarat untuk mendapatkan LoA Unconditional.
Berhubung aku berencara mengambil Universitas di Eropa, maka aku memutuskan untuk mengambil tes IELTS. Tes IELTS merupakan hal yang baru bagiku, karena sebelumnya aku terbiasa mengerjakan soal-soal TOEFL ITP. Apalagi IELTS ada section Speaking dan Writing yang menuntut kemampuan berbahasa secara aktif.
Berdasarkan pengalamanku mengambil tes TOEFL dan IELTS, setiap tes kemampuan bahasa pada dasarnya bisa dipelajari. Kita hanya perlu familiar dengan jenis-jenis soal yang akan diujikan. Untuk memahami IELTS itu sendiri, cukup les intensif di awal untuk mengenal jenis-jenis soalnya dan cara menyelesaikannya. Setelah itu, tentunya kita perlu latihan dan latihan, juga melakukan simulasi tes IELTS. Apalagi saat ini sudah banyak e-book IELTS di internet, sehingga kita bisa melakukan simulasi sendiri.
Berikut ini jenis-jenis section yang ada di tes IELTS:
Listening
Listening di IELTS menurutku peer banget karena aksen yang digunakan oleh speaker beda-beda. Kadang aksen British, Australia, bahkan pernah aksen orang Italia dan Asia. Jadi bersiap-siap mendengarkan bahasa yang unpredictable. Jelas lebih susah dari TOEFL yang speakernya American, dimana setiap kata yang diucapkan di TOEFL terdengar clear, sementara di IELTS seperti orang kumur-kumur. Untuk melatih telinga agar bisa menangkap aksen yang berbeda-beda, aku membiasakan memutar video-video dan podcast Tedx. Selain bisa untuk latihan listening, materinya juga seru-seru.
Listening di IELTS biasanya kita dihadapkan dalam beberapa situasi, biasanya urutannya seperti ini:
Section 1: Conversation, dengan dua speaker. Topiknya yang ringan-ringan, misalnya berkunjung ke travel agent atau bertemu pegawai administasi kampus.
Section 2: Monolog, topik pembahasannya general. Misalnya mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.
Section 3: Conversation, topik pembahasan akademik. Misalnya dua orang membahas tugas presentasi
Section 4: Monolog, topik pembahasan akademik. Misalnya lagi ada lecture atau kuliah umum
Nah, di listening ini biasanya soal IELTS meminta kita untuk melengkapi notes atau flowchart, memilih pilihan ganda, atau melengkapi kalimat sesuai dengan yang kita dengar di conversation.
Listening biasanya ada beberapa soal yang menyangkut spelling nama dan nomor, makanya penting juga untuk belajar spelling nama dan nomor. Perhatikan juga requirement dari soal, misalnya ada soal yang hanya menghendaki jawaban dituliskan dalam satu kata saja, jadi jawaban tidak boleh lebih dari satu kata.
Supaya bisa menjawab pertanyaan dengan baik, kita bisa underline keyword yang kira-kira penting dan prediksi vocabulary apa yang akan keluar. Biasanya kalau aku missed mendengar jawabannya, aku menebak-nebak berdasarkan pertanyaan dan situasi yang ada. Penting banget untuk berkonsentrasi selama listening. Jangan ngelamun!
Setelah mengisi jawaban, segera di re-check kembali apakah spellingnya sudah benar. Salah spelling satu huruf saja, maka nilainya bisa nol.
Reading
Reading mengharuskan kita membaca paragraf yang banyak dengan waktu yang terbatas. Karena itu, speeding is everything. Selain harus membaca cepat, otak kita juga harus menyimpulkan dengan cepat apa yang ditanyakan oleh soal dan dimana jawabannya berada dalam suatu paragraf. Untuk menjawab reading, kita perlu melakukan skimming (untuk mencari general ideas) dan scanning (untuk mencari jawaban dari hal tertentu yang ditanyakan).
Bagiku yang terbiasa membaca cepat, tidak ada masalah berarti dengan reading IELTS. Namun tentunya, bagi mereka yang tidak suka membaca atau belum terbiasa membaca bahasa Inggris, harus mulai membiasakan mata dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris. Kalau takut pusing, baca saja novel-novel ringan sebagai selingan. Selain website The Jakarta Post, bacaan favoritku untuk membiasakan reading adalah novel-novel Harry Potter, Sophie Kinsella, dan John Grisham, hehe.
Speaking
Speaking terbagi menjadi tiga bagian.
Speaking di bagian pertama berisi pertanyaan-pertanyaan umum dari interviewer mengenai sesuatu topik. Jenisnya adalah conversation, dimana interviewer menanyakan beberapa pertanyaan sehari-hari dan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Setelah selesai part 2, di part 3 adalah pertanyaan-pertanyaan dari interviewer terkait dengan topik-topik di part 2. Jadi untuk part 3 tidak ada contoh pertanyaan khusus karena pertanyaannya pasti terkait dengan soal di Part 2.
Saat test speaking IELTS, tipsnya adalah jalani saja tanpa beban, wkwkwk. Saat bertemu dengan interviewernya tidak usah nervous. Untungnya, aku mendapat interviewer seorang bapak-bapak native speaker dari Inggris yang ramah dan menyenangkan, sehingga speaking seperti mengobrol-ngobrol biasa saya, bahkan diselingi candaan. Entah kenapa (dan sampai sekarang masih menjadi misteri), aku mendapatkan skor speaking 8, lumayan tinggi. Sungguh rezeki anak sholehah.
Writing
Writing terbagi menjadi dua task dengan waktu pengerjaan 60 menit. Berhubung Task 2 nilainya lebih besar dan tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada Task 1, biasanya aku mengalokasikan waktu 40 menit untuk mengerjakan Task 2 terlebih dahulu baru 20 menit untuk mengerjakan Task 1.
Soal yang ada dalam Task 1 umumnya adalah grafik atau alur proses sesuatu. Disini, kita diminta untuk mendeskripsikan grafik seobjektif mungkin. Karena itu, hindari asumsi atau opini pribadi dalam mengerjakan Task 1; cukup jelaskan saja apa yang kita lihat. Perhatikan juga penggunaan tenses, harus konsisten yang digunakan dari awal sampai akhir.
Struktur Task 1 antara lain sebagai berikut:
Paragraph 1: Berisi overview statement yang di parafrase, overall in general.
Paragraph 2: Overview trend, specific details tentang table. Compare table-table yang ada, mention percentage/gap antar table. Give example. Give conclusion.
Task 2 biasanya meminta kita memberikan opini atau argumen mengenai suatu isu. Disinilah kita harus memutar otak karena isu yang diberikan biasanya mengandung pro-kontra. Kita boleh memilih untuk memihak atau bersikap netral terhadap suatu isu. Tentunya jika ingin memihak, kita harus bisa memaparkan dengan baik argumen-argumen yang mendukung. Sementara jika ingin netral, kita bisa meng-cover both side, baik dan buruk dari suatu isu.
Untuk writing tentu saja diperlukan banyak latihan, cobalah berlatih minimal menulis satu atau dua paragraf setiap harinya. Selain itu, kita juga memerlukan mentor untuk mengkoreksi tulisan kita, apakah sudah cukup baik atau belum.
Harus kuakui, writing adalah momok paling menakutkan dalam tes IELTS. Nilai IELTS-ku paling jeblok di part ini, bahkan banyak temanku yang harus re-take IELTS berkali-kali karena nilai writingnya kurang 0.5 saja. Khusus untuk Law School, memang syarat band writing untuk IELTS cukup berat, bisa 6.5 bahkan 7.0. Untungnya, Durham University yang kupilih bukan jurusan Law School sehingga aku tidak perlu retake tes IELTS. Fyuuh.
Overall, tes IELTS lumayan berat karena ujiannya memakan waktu hampir seharian untuk menyelesaikan setiap sesi Listening, Reading, Writing, dan mengantri giliran Speaking. Dibutuhkan mental dan stamina yang tahan banting untuk mengambil tes IELTS. Oleh karena itu, preparation is everything.
Oh iya, untuk persiapan material soal IELTS, aku merekomendasikan beberapa buku.
Untuk mempelajari teori, bisa menggunakan buku-buku Collins
Untuk melatih grammar, aku menggunakan Fundamentals of English Grammar oleh Betty Azer
Sementara untuk latihan, yang terbaik adalah menggunakan soal-soal dari Cambridge IELTS 1-10. Seriously, soal-soalnya sama persis jenisnya dengan yang keluar di tes IELTS.
Kalau kalian berminat untuk memperoleh softcopy e-book dan audio dari buku-buku tersebut, leave comment alamat e-mail kalian ya, nanti insya Allah akan aku kirimkan. Psst, jangan cuma di download aja, dikerjain juga!
Dalam menaklukkan tes IELTS, yang terpenting adalah latihan dan terus latihan. It will be really helpful kalau kita punya teman untuk belajar bersama, agar ada teman untuk latihan speaking dan juga mengkoreksi tugas writing bersama-sama.
Tidak ada yang instan dalam mencapai skor IELTS yang baik, oleh karena itu, yuk mulai latihan IELTS dari sekarang!
Seperti yang sudah kuceritakan di postingan sebelumnya, hasil nilai tes bahasa sangat penting bagi teman-teman yang mau berburu beasiswa. Calon kampus dan calon pemberi beasiswa pasti meminta skor tes bahasa tertentu sebagai syarat wajib. Skor yang diminta bisa berupa TOEFL (ITP/PBT/IBT/CBT), IELTS, atau TOEIC. Nah lho apa bedanya?
Setiap negara memiliki preferensi tertentu untuk skor kemampuan bahasa Inggris ini. Ada Universitas yang menerima TOEFL maupun IELTS, namun ada juga Universitas yang hanya menerima salah satunya. Umumnya, Universitas di Inggris, Eropa, dan Australia mensyaratkan skor IELTS, sementara Universitas di Amerika dan Asia menerima TOEFL. Sementara tidak semua Universitas menerima TOEFL ITP. Calon mahasiswa bisa menggunakan TOEFL ITP untuk mendapatkan LoA Conditional namun Universitas akan meminta hasil skor tes TOEFL selain ITP sebagai syarat untuk mendapatkan LoA Unconditional.
Berhubung aku berencara mengambil Universitas di Eropa, maka aku memutuskan untuk mengambil tes IELTS. Tes IELTS merupakan hal yang baru bagiku, karena sebelumnya aku terbiasa mengerjakan soal-soal TOEFL ITP. Apalagi IELTS ada section Speaking dan Writing yang menuntut kemampuan berbahasa secara aktif.
Berdasarkan pengalamanku mengambil tes TOEFL dan IELTS, setiap tes kemampuan bahasa pada dasarnya bisa dipelajari. Kita hanya perlu familiar dengan jenis-jenis soal yang akan diujikan. Untuk memahami IELTS itu sendiri, cukup les intensif di awal untuk mengenal jenis-jenis soalnya dan cara menyelesaikannya. Setelah itu, tentunya kita perlu latihan dan latihan, juga melakukan simulasi tes IELTS. Apalagi saat ini sudah banyak e-book IELTS di internet, sehingga kita bisa melakukan simulasi sendiri.
Berikut ini jenis-jenis section yang ada di tes IELTS:
Listening
Listening di IELTS menurutku peer banget karena aksen yang digunakan oleh speaker beda-beda. Kadang aksen British, Australia, bahkan pernah aksen orang Italia dan Asia. Jadi bersiap-siap mendengarkan bahasa yang unpredictable. Jelas lebih susah dari TOEFL yang speakernya American, dimana setiap kata yang diucapkan di TOEFL terdengar clear, sementara di IELTS seperti orang kumur-kumur. Untuk melatih telinga agar bisa menangkap aksen yang berbeda-beda, aku membiasakan memutar video-video dan podcast Tedx. Selain bisa untuk latihan listening, materinya juga seru-seru.
Listening di IELTS biasanya kita dihadapkan dalam beberapa situasi, biasanya urutannya seperti ini:
Section 1: Conversation, dengan dua speaker. Topiknya yang ringan-ringan, misalnya berkunjung ke travel agent atau bertemu pegawai administasi kampus.
Section 2: Monolog, topik pembahasannya general. Misalnya mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.
Section 3: Conversation, topik pembahasan akademik. Misalnya dua orang membahas tugas presentasi
Section 4: Monolog, topik pembahasan akademik. Misalnya lagi ada lecture atau kuliah umum
Nah, di listening ini biasanya soal IELTS meminta kita untuk melengkapi notes atau flowchart, memilih pilihan ganda, atau melengkapi kalimat sesuai dengan yang kita dengar di conversation.
Listening biasanya ada beberapa soal yang menyangkut spelling nama dan nomor, makanya penting juga untuk belajar spelling nama dan nomor. Perhatikan juga requirement dari soal, misalnya ada soal yang hanya menghendaki jawaban dituliskan dalam satu kata saja, jadi jawaban tidak boleh lebih dari satu kata.
Supaya bisa menjawab pertanyaan dengan baik, kita bisa underline keyword yang kira-kira penting dan prediksi vocabulary apa yang akan keluar. Biasanya kalau aku missed mendengar jawabannya, aku menebak-nebak berdasarkan pertanyaan dan situasi yang ada. Penting banget untuk berkonsentrasi selama listening. Jangan ngelamun!
Setelah mengisi jawaban, segera di re-check kembali apakah spellingnya sudah benar. Salah spelling satu huruf saja, maka nilainya bisa nol.
Reading
Reading mengharuskan kita membaca paragraf yang banyak dengan waktu yang terbatas. Karena itu, speeding is everything. Selain harus membaca cepat, otak kita juga harus menyimpulkan dengan cepat apa yang ditanyakan oleh soal dan dimana jawabannya berada dalam suatu paragraf. Untuk menjawab reading, kita perlu melakukan skimming (untuk mencari general ideas) dan scanning (untuk mencari jawaban dari hal tertentu yang ditanyakan).
Bagiku yang terbiasa membaca cepat, tidak ada masalah berarti dengan reading IELTS. Namun tentunya, bagi mereka yang tidak suka membaca atau belum terbiasa membaca bahasa Inggris, harus mulai membiasakan mata dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris. Kalau takut pusing, baca saja novel-novel ringan sebagai selingan. Selain website The Jakarta Post, bacaan favoritku untuk membiasakan reading adalah novel-novel Harry Potter, Sophie Kinsella, dan John Grisham, hehe.
Speaking
Speaking terbagi menjadi tiga bagian.
Speaking di bagian pertama berisi pertanyaan-pertanyaan umum dari interviewer mengenai sesuatu topik. Jenisnya adalah conversation, dimana interviewer menanyakan beberapa pertanyaan sehari-hari dan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
| Soal IELTS Part 1 |
Sementara di bagian kedua, interviewer akan meminta kita untuk melakukan long monologue sesuai dengan topik yang diberikan dalam kartu petunjuk. Kita diberikan waktu satu menit untuk membuat notes berisi list hal-hal yang akan disampaikan dalam speaking, kemudian kita memulai speaking sesuai dengan topik selama dua menit.
Selama melakukan simulasi IELTS, kelemahanku adalah berhenti berbicara saat timer masih menunjukkan waktu satu menit, sementara nilai kita akan lebih baik jika waktu berbicara kita bisa pas atau mendekati waktu dua menit yang diberikan. Oleh karena itu, improvisasi sangat penting agar tidak berhenti berbicara di tengah-tengah karena kehabisan kata-kata.
| Soal IELTS Part 2 |
Setelah selesai part 2, di part 3 adalah pertanyaan-pertanyaan dari interviewer terkait dengan topik-topik di part 2. Jadi untuk part 3 tidak ada contoh pertanyaan khusus karena pertanyaannya pasti terkait dengan soal di Part 2.
Saat test speaking IELTS, tipsnya adalah jalani saja tanpa beban, wkwkwk. Saat bertemu dengan interviewernya tidak usah nervous. Untungnya, aku mendapat interviewer seorang bapak-bapak native speaker dari Inggris yang ramah dan menyenangkan, sehingga speaking seperti mengobrol-ngobrol biasa saya, bahkan diselingi candaan. Entah kenapa (dan sampai sekarang masih menjadi misteri), aku mendapatkan skor speaking 8, lumayan tinggi. Sungguh rezeki anak sholehah.
Writing
Writing terbagi menjadi dua task dengan waktu pengerjaan 60 menit. Berhubung Task 2 nilainya lebih besar dan tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada Task 1, biasanya aku mengalokasikan waktu 40 menit untuk mengerjakan Task 2 terlebih dahulu baru 20 menit untuk mengerjakan Task 1.
Soal yang ada dalam Task 1 umumnya adalah grafik atau alur proses sesuatu. Disini, kita diminta untuk mendeskripsikan grafik seobjektif mungkin. Karena itu, hindari asumsi atau opini pribadi dalam mengerjakan Task 1; cukup jelaskan saja apa yang kita lihat. Perhatikan juga penggunaan tenses, harus konsisten yang digunakan dari awal sampai akhir.
Struktur Task 1 antara lain sebagai berikut:
Paragraph 1: Berisi overview statement yang di parafrase, overall in general.
Paragraph 2: Overview trend, specific details tentang table. Compare table-table yang ada, mention percentage/gap antar table. Give example. Give conclusion.
Task 2 biasanya meminta kita memberikan opini atau argumen mengenai suatu isu. Disinilah kita harus memutar otak karena isu yang diberikan biasanya mengandung pro-kontra. Kita boleh memilih untuk memihak atau bersikap netral terhadap suatu isu. Tentunya jika ingin memihak, kita harus bisa memaparkan dengan baik argumen-argumen yang mendukung. Sementara jika ingin netral, kita bisa meng-cover both side, baik dan buruk dari suatu isu.
Untuk writing tentu saja diperlukan banyak latihan, cobalah berlatih minimal menulis satu atau dua paragraf setiap harinya. Selain itu, kita juga memerlukan mentor untuk mengkoreksi tulisan kita, apakah sudah cukup baik atau belum.
Harus kuakui, writing adalah momok paling menakutkan dalam tes IELTS. Nilai IELTS-ku paling jeblok di part ini, bahkan banyak temanku yang harus re-take IELTS berkali-kali karena nilai writingnya kurang 0.5 saja. Khusus untuk Law School, memang syarat band writing untuk IELTS cukup berat, bisa 6.5 bahkan 7.0. Untungnya, Durham University yang kupilih bukan jurusan Law School sehingga aku tidak perlu retake tes IELTS. Fyuuh.
Overall, tes IELTS lumayan berat karena ujiannya memakan waktu hampir seharian untuk menyelesaikan setiap sesi Listening, Reading, Writing, dan mengantri giliran Speaking. Dibutuhkan mental dan stamina yang tahan banting untuk mengambil tes IELTS. Oleh karena itu, preparation is everything.
Oh iya, untuk persiapan material soal IELTS, aku merekomendasikan beberapa buku.
Untuk mempelajari teori, bisa menggunakan buku-buku Collins
Untuk melatih grammar, aku menggunakan Fundamentals of English Grammar oleh Betty Azer
Sementara untuk latihan, yang terbaik adalah menggunakan soal-soal dari Cambridge IELTS 1-10. Seriously, soal-soalnya sama persis jenisnya dengan yang keluar di tes IELTS.
Kalau kalian berminat untuk memperoleh softcopy e-book dan audio dari buku-buku tersebut, leave comment alamat e-mail kalian ya, nanti insya Allah akan aku kirimkan. Psst, jangan cuma di download aja, dikerjain juga!
Dalam menaklukkan tes IELTS, yang terpenting adalah latihan dan terus latihan. It will be really helpful kalau kita punya teman untuk belajar bersama, agar ada teman untuk latihan speaking dan juga mengkoreksi tugas writing bersama-sama.
Tidak ada yang instan dalam mencapai skor IELTS yang baik, oleh karena itu, yuk mulai latihan IELTS dari sekarang!
Postingan Terkait: