Selasa, 23 Mei 2017

Menjadi Awardee LPDP: Seleksi Administratif



Kali ini, aku akan berbagi pengalamanku ketika mengikuti seleksi beasiswa yang sedang hits-hits nya di Indonesia: LPDP. Walaupun aku yakin, sudah banyak blog atau tulisan yang menceritakan secara detail tentang tips dan trik untuk lolos seleksi LPDP, tapi mungkin sedikit pengalaman yang kubagikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang akan mengikuti seleksi LPDP.

Menjadi Awardee LPDP

Menurutku, persiapan untuk menjadi seorang awardee LPDP tidak bisa hanya dimulai beberapa bulan sebelum seleksi, tapi sejak beberapa tahun sebelumnya. Kok begitu? Iya, sebab LPDP punya kriteria tersendiri untuk memilih awardee, antara lain:

1. Mempunyai Integritas, komitmen, serta teladan dalam berpikir, berkata, dan bertindak;

2. Nasionalis, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
3. Profesional, memiliki keahlian dan kecakapan pada bidangnya serta mampu bersaing di tingkat dunia.
4. Mempunyai kemampuan memimpin yang kuat dan dapat menghasilkan perubahan positif.
5. Berjiwa Sosial, memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai kondisi bangsa.

Tentunya, kriteria-kriteria tersebut bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam sebulan dua bulan, namun merupakan karakter yang sudah bertahun-tahun. Dan syarat kriteria ini bukan hanya formalitas; berdasarkan pengalamanku bertemu dengan awardee-awardee LPDP lainnya, kebanyakan teman-teman yang kutemui adalah orang-orang yang sangat aktif di kegiatan sosial, berjiwa pemimpin, dan memiliki banyak prestasi. Bisa dikatakan, beasiswa LPDP ini pas banget untuk para aktivis kampus ataupun luar kampus. Jadi kalau misalnya zaman dahulu kala orang-orang bilang jadi aktivis itu useless, atau nggak memberikan manfaat pasca kampus, justru sekarang aktivis-aktivis inilah target utama dari beasiswa LPDP.

Beasiswa LPDP juga mensyaratkan alumninya untuk kembali dan mengabdi di Indonesia. Ini wajar, karena LPDP merupakan beasiswa yang dibiayai uang rakyat. Tentunya there's no free lunch, ada "hutang" yang harus dibayar oleh para awardee LPDP dengan berbakti kepada negeri. Jadi bagi teman-teman yang memang nggak berniat kembali ke Indonesia atau ingin mengejar karier di Luar Negeri, mungkin sebaiknya apply beasiswa lain saja. Sebenarnya bukan hanya LPDP, beasiswa dari Pemerintah negara lain seperti Chevening atau Monbukagakusho juga mensyaratkan penerima beasiswanya untuk kembali ke negerinya masing-masing setidaknya satu atau dua tahun setelah lulus.

Untuk yang masih ragu-ragu apakah ingin mendaftar LPDP atau tidak, saranku: daftar aja! Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan beasiswa LPDP dibuka. Sistem seleksinya setiap tahunnya mengalami perbaikan sehingga tentunya seleksi semakin sulit dengan peminat yang semakin banyak. Daripada menunda-nunda tapi menyesal belakangan, lebih baik persiapkan dari jauh-jauh hari agar bisa apply secepatnya. Dulu aku ragu-ragu untuk mendaftar Batch ke-1, dan akhirnya baru mengikuti seleksi di Batch ke-4. Seandainya aku masih ragu-ragu untuk mengikuti Batch 4, mungkin aku baru akan bisa berangkat studi tahun depan. Oleh karena itu, prepare your best! 

Seleksi LPDP 2017

Ada banyak sekali perubahan sistem seleksi LPDP di tahun 2017 ini. Tahun-tahun sebelumnya, seleksi LPDP dibuka empat kali dalam setahun, dimana saat mendaftar kita bisa memilih apakah mau ke Dalam Negeri atau ke Luar Negeri. Tahun 2017 ini, seleksi hanya dibuka dua kali dalam setahun: di bulan Maret khusus untuk tujuan Dalam Negeri, dan di bulan Juli khusus untuk tujuan Luar Negeri. Selain itu, untuk intake Luar Negeri baru akan diberangkatkan setahun setelah seleksi LPDP. Artinya, awardee yang lolos seleksi LPDP tahun 2017 baru akan menempuh studinya tahun 2018 nanti. 

Sejak tahun 2017 pula, dalam seleksi administrasi juga ada tahapan assesment online. Assesment Online sendiri merupakan test psikologi VMI dan 15FQ+ untuk mengetahui karakter calon awardee LPDP. Aku sendiri tidak memiliki pengalaman tentang assesment online, bisa dilihat pengalaman assesment online salah satu peserta seleksi di sini. Kebetulan, aku menjadi salah satu awardee Batch 4 Tahun 2016.  

Saat seleksi LPDP kemarin, aku menempuh dua proses seleksi: seleksi administratif dan seleksi substantif (mencakup writing on the spotLeaderless Group Discussion, dan Wawancara).

Seleksi administratif yaitu mengumpulkan beberapa berkas, yang daftarnya bisa dilihat di sini. Pastikan syarat-syarat ini sudah lengkap dan nggak mepet-mepet banget, misalnya IPK kurang atau skor bahasa kurang pasti menjadi penilaian tersendiri, bahkan kemungkinan bisa tidak lolos seleksi administratif. 

Selain itu, ada tugas membuat essay-essay yaitu “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku” serta membuat Rencana Studi untuk berkuliah nanti. Bagi calon awardee tujuan dalam negeri, tugas essay, seleksi Leaderless Group Discussion, dan writing on the spot menggunakan bahasa Indonesia, serta wawancara menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Sementara untuk tujuan Luar Negeri, semua tahapan tersebut wajib menggunakan bahasa Inggris.

Sebelum membuat essay, sebaiknya kita melakukan riset terlebih dahulu. Aku sendiri mulai membuat draft essay LPDP sejak lama, dan mengirimkannya setelah mengalami banyak perbaikan dan proofreading. Essay sangat penting karena akan dibaca oleh interviewer dan ditanyakan saat wawancara. Jadi, jangan asal-asalan dalam membuat essay kita.

Di essay inilah kesempatan kita untuk "menjual" kelebihan kita, tentunya sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak dibuat-buat. Misalnya tugas essay Kontribusiku Bagi Indonesia. Dengan tugas ini, LPDP ingin mengetahui apakah kita adalah orang yang peduli dengan keadaan sekitar atau hanya peduli dengan diri sendiri. Kita diminta untuk menceritakan aktivitas yang selama ini sudah kita lakukan, terutama yang bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah kita harus menunjukkan, manfaat apa yang selama ini sudah kita berikan kepada masyarakat sekitar. Dalam essay ini, aku menceritakan mengenai tekadku untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia dengan cara menjadi pendidik bagi anak-anak maupun mahasiswa.

Dalam essay "Sukses Terbesar Dalam Hidupku, kita diminta menceritakan tentang kesuksesan terbesar yang pernah kita capai dan bagaimana proses kita untuk mengejar kesuksesan tersebut. Dengan essay ini, LPDP ingin menilai bagaimana karakter sang calon awardee berdasarkan pengalaman hidupnya, dan bagaimana caranya mengejar mimpinya. Tentunya, definisi kesuksesan bagi setiap orang berbeda-beda. Essay-ku sendiri berjudul "Failure is the greatest success in my life", bercerita mengenai bagaimana kegagalanku saat gagal diterima di UI dan bagaimana perjuanganku untuk bangkit dari kegagalan tersebut.

Kita juga harus bisa menarik benang merah antara pengalaman hidup serta kontribusi yang sudah kita lakukan dengan cita-cita kita di masa depan dalam essay-essay ini. Misalnya, ketika seseorang mengatakan dia bercita-cita ingin menjadi Menteri Pendidikan, namun ternyata ia sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin organisasi, tentu sulit bagi pemberi beasiswa untuk mempercayainya. Atau ketika seseorang mengatakan ingin menjadi enterpreuner untuk memberdayakan UMKM, tentunya akan lebih meyakinkan bila sebelumnya ia sudah memiliki pengalaman di bidang tersebut. 

Di saat inilah, rekam jejak sang calon awardee menjadi sangat penting, untuk melihat apa saja kontribusi yang sudah dia berikan untuk masyarakat Indonesia. Misalnya ketika aku mengatakan selepas S2 akan menjadi dosen, aku mengkaitkan dengan passion-ku mengajar, dan pengalaman mengikuti kegiatan sosial mengajar anak-anak selama menjadi mahasiswa. Selain itu, aku juga menceritakan pekerjaanku sebagai asisten dosen dan pengalaman risetku dengan dosen-dosen di kampus. 

Begitu juga dengan rencana studi, kita harus meyakinkan pemberi beasiswa mengapa kita layak menerima beasiswa; mengapa harus mengambil di Universitas tersebut dan jurusan tersebut? Dalam rencana studi, aku menceritakan kegelisahanku karena masih banyak mahasiswa hukum yang tidak memahami hukum ekonomi syariah, padahal kebutuhan akan ahli hukum di bidang ekonomi syariah cukup urgent. Kebijakan ekonomi syariah di Indonesia juga masih memerlukan banyak perbaikan. Sehingga aku memutuskan mempelajari ekonomi syariah agar bisa mengajarkan ilmu hukum ekonomi syariah kepada mahasiswa-mahasiswa di FHUI dan juga menjadi researcher yang turut membantu pengembangan hukum ekonomi syariah di Indonesia. Tentunya, kebenaran kata-kata dalam rencana studi ini akan diuji dalam seleksi wawancara.

Berkas-berkas yang dipersyaratkan harus di unggah sejak beberapa hari sebelumnya, karena kemungkinan dua hari terakhir server akan down. Jangan pernah procastinate dan baru menyelesaikan berkas di menit-menit terakhir. Sayang kan, kalau syarat sudah lengkap, calon awardee qualified, tapi gagal hanya karena masalah teknis. Aku sendiri sudah mencicil upload beberapa berkas sejak jauh-jauh hari dan submit berkas seminggu sebelum deadline. 

Alhamdulillah, beberapa minggu setelah deadline upload berkas, muncul pengumuman yang menyatakan bahwa aku lolos seleksi administrasi dan dipanggil untuk mengikuti seleksi substansi. 



Begitulah pengalamanku saat mempersiapkan seleksi administratif LPDP. Kisahku dalam mengikuti seleksi akan kuceritakan di postingan selanjutnya, karena itu stay tune terus ya!
Semangat terus para pejuang beasiswa!


Selasa, 16 Mei 2017

Persiapan Keberangkatan: Lima Hari untuk Selamanya

"Salah satu hal paling kejam yang PK lakukan adalah mempertemukan orang-orang untuk kemudian memisahkan." - Pak Kamil, PIC PK LPDP

Untuk dapat dikatakan “sah” sebagai awardee LPDP, setiap awardee LPDP wajib mengikuti Persiapan Keberangkatan atau biasa disingkat menjadi PK. Kata Fitrah, temanku awardee LPDP yang banyak membantuku mempersiapkan seleksi LPDP, salah satu kelebihan LPDP dibandingkan dengan beasiswa lain adalah adanya Persiapan Keberangkatan ini. Karena, pelatihan kepemimpinan ini akan mempertemukan awardee-awardee LPDP dari seluruh Indonesia. “Seru banget fah, lo wajib ikut.” Tentunya, PK memang diwajibkan bagi awardee, sebagai syarat untuk mendapatkan kontrak beasiswa dari LPDP. Karena itu, ketika aku mendapat e-mail dari Pak Kamil yang menandakan bahwa namaku masuk dalam daftar PK Angkatan 104, aku mulai browsing karena penasaran, seperti apa sih PK itu?

Dari cerita-cerita di blog para peserta PK dan quote dari Pak Kamil, kelihatannya PK adalah kegiatan yang akan bikin baper. Aku adalah tipe orang yang jika sudah mencurahkan jiwa pada suatu kegiatan, maka akan susah move-on dari kegiatan tersebut. Misalnya ketika aku mengikuti Mabit dan GUIM. Karena aku takut terlibat attachment yang terlalu dalam dengan PK dan akhirnya sedih sendiri ketika harus berpisah dengan teman-teman, self-defense mechanism membuatku memutuskan untuk menjadi anggota yang pasif saja dan tidak ingin terlalu terlibat dengan persiapan PK. Apalagi, aku tidak punya waktu untuk baper, karena mau mempersiapkan berangkat S2. Bingung? Begitulah pola pikir seorang INTJ. Harap maklum.

Mulailah kegiatan pra-PK dengan pemilihan ketua angkatan dan perwakilan. Aku berpartisipasi untuk memilih, namun tidak terlalu aktif. Aku juga menjadi anggota dari divisi Media, namun sebelum PK tidak banyak tugas dari divisiku. Jadi, tidak banyak kegiatan yang kulakukan sebelum PK berlangsung.

Sampai suatu hari, Perwakilan mengajak anggota PK yang berada di Jabodetabek untuk mengikuti kopi darat di Wisma Hijau, tempat PK akan diselenggarakan. Sempat ragu-ragu, aku memutuskan untuk mampir sebentar. Toh, tidak ada salahnya mengenal calon teman-teman satu PK.

Di Gazebo Wisma Hijau, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan teman-teman satu PK-ku: Kak Iqbal, Ketua Angkatan; Lovita, Wakil Ketua Angkatan; Vidya, moderator; dan Joko, Ami, serta seseorang lagi yang aku lupa namanya (kelak, karena drama bongkar pasang PK, tiga orang yang terakhir tidak menjadi anggota PK 104 lagi). Kami berkenalan dan mengobrol-ngobrol. Ternyata, Kak Iqbal yang berasal dari Fakultas Hukum Universitas Mulawarman adalah teman Bang Ali ketika sama-sama menjadi Ketua BEM di tingkat Universitas. Sementara Lovita berasal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kampus yang juga banyak dihuni oleh teman-teman satu SMA-ku. Dunia sempit ternyata. Sementara Vidya adalah alumni ITB asal Bogor yang akan melanjutkan studi ke USA.

Sepulang dari kopi darat itu, aku berpikir mungkin baru akan bertemu lagi dengan mereka saat PK berlangsung saja. Namun tunggu punya tunggu, jadwal PK yang sudah dinanti-nanti sejak bulan Maret tidak juga muncul. Daftar nama anggota PK 104 juga dari hari ke hari berubah-ubah, entah mengapa nama yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, digantikan dengan nama-nama baru.

Suatu hari, Kak Iqbal menghubungiku dan menanyakan apakah aku sedang sibuk. Rupanya, perwakilan sedang butuh bantuan karena perwakilan yang lainnya sangat sibuk. Aku diminta untuk membantu jadi Perwakilan cabutan karena kekurangan orang yang standby jika sewaktu-waktu dipanggil ke LPDP. Menimbang waktuku yang memang fleksibel (asdos mah selow), akhirnya aku menyanggupi untuk membantu.

Mulailah hari-hariku bolak-balik ke LPDP sebagai perwakilan cabutan. Harus bangun pagi-pagi demi mengejar janji bertemu Pak Kamil, karena Pak Kamil orangnya sangat on time. Sempat kagok juga karena harus jadi pepes naik kereta rush hour sampai Juanda. Maklum, biasanya kereta yang mengantarku kerja ke kampus Depok lawan arah arus commuter. Aku juga jadi sering izin tidak masuk kerja ke atasan, dengan alasan mengurusi LPDP, walaupun kadang tidak enak karena sudah kebanyakan izin. Dan aku harus siap sedia memperbaiki database dikala mendadak ada perubahan nama anggota, yang datanya sangat cepat berubah-ubah, mulai dari hitungan hari ke hitungan jam. Aku menjadi anggota dari trio kwek-kwek bersama-sama dengan Lovita dan Kak Iqbal, bolak-balik ke LPDP bersama perwakilan-perwakilan lainnya. Kadang kami harus pulang malam menunggu jam rush hour kereta usai, pernah juga H-7 PK kami berjaga sampai jam 9 di FHUI untuk memperbaiki database. Aku juga mulai mengenal perwakilan yang lain: Mbak Merry, Mbak Erni, Agus, dan moderator: Vidya, Affan, dan Setiawan, walaupun kebanyakan hanya kukenal di grup whatsapp tim inti sebelum bertemu saat PK.

PK angkatan kami mungkin merupakan PK yang paling lama menunggu dan paling banyak dinamika. Jarak antara pelaksanaan PK 103 dan PK 104 adalah dua bulan, sementara PK-PK sebelumnya hanya berjarak seminggu antar pelaksanaannya. Banyak anggota PK 104 yang akhirnya dipindahkan ke PK lain, karena LPDP memprioritaskan awardee yang sudah on going namun belum mengikuti PK, untuk masuk ke daftar nama peserta PK 104. Posisiku saat itu aman karena aku memiliki LoA Unconditional dan memang akan intake tahun 2017, termasuk yang diprioritaskan. Namun, nama-nama perwakilan sendiri terancam dalam daftar nama yang harus dipindahkan: Kak Iqbal belum memiliki LoA, sementara Lovita, Vidya, dan Setiawan baru intake tahun 2018.  

Perubahan yang ada mengakibatkan banyak PIC dan anggota divisi yang keluar, padahal mereka sudah setengah jalan melakukan persiapan untuk PK. Divisi-divisi mulai tidak stabil, semangat teman-teman untuk mempersiapkan PK mulai kendor. Sehingga tim inti dengan dibantu oleh Om David Su dan Om Fitra memutuskan untuk meramaikan grup setiap harinya, agar semangat peserta tidak kendor. Tetap saja, yang rame di grup itu-itu saja hehe.

Sampai akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba: Pak Kamil meminta database fix karena akan dibuatkan surat undangan PK. Betapa senangnya hati kami karena akhirnya dapat kepastian juga, nggak digantungin terus. Undangan resmi terkirim H-12 pelaksanaan PK. Mulailah grup whatsapp kembali aktif, setiap anggota sama bersemangatnya dengan kami untuk segera memulai PK. Setiap divisi mulai aktif mempersiapkan tugas masing-masing di hari-H, anggota-anggota baru mulai beradaptasi. Kopi darat diadakan lagi dengan susunan anggota-anggota baru.

Dua hari sebelum pelaksanaan PK dimulai, kami sudah berkumpul dan menginap di Wisma Hijau; mengenal satu sama lain, dan bersama-sama mempersiapkan pelaksanaan PK. Untuk pertama kalinya aku bertatap muka dengan orang-orang yang biasanya hanya bercanda tawa di grup: Affan yang ketika ketemu ternyata sangat tinggi jangkung, Utma Simple Queen yang dikira “bocor” namun ternyata seorang ukhti-ukhti berkerudung lebar, Ping yang baik hati membawakan amplang dari Kalimantan, Om Fitra yang terlihat lebih muda dari yang disangka-sangka, dan tentunya Om David yang bundar dan humoris.

Selama PK, aku mengikuti setiap sesi dari pemateri-pemateri luar biasa: Muhammad Nuh, Yudi Latif, Ahmad Fuadi, Butet Manurung, dan Kak Andreas Senjaya dengan penuh semangat walaupun hanya tidur beberapa jam setiap harinya (bayangkan, baru selesai kegiatan dan mengurus printilan borang jam 1, harus bangun jam 4 untuk ikut intergrity sport). Kantong mata sudah semakin membayang, sehingga terkadang aku curi-curi waktu untuk bobo cantik di selasar samping aula. Untuk pertama kalinya (and I swear it would be my last) seorang Iffah berjoget mengikuti lagu dangdut dan gemu famire. Biasanya sih jaim kayak Putri Solo (tipuuu).


Terima kasih untuk kelompok Kresna, walaupun aku sering hilang-hilangan dari kelompok namun mereka tetap menerimaku apa adanya. Mbak Febri yang cantik anggun super inspiring, Mbak Maryam satu-satunya ketua kelompok wanita yang super sigap, Hilman yang cheerful dan penuh semangat seperti Leader JKT 48, Rahmita yang selalu siap sedia menyediakan stok pulpen, Daeng yang menemukan pujaan hatinya di PK 104, Bang Niko dan Bang Mes yang sering bikin geleng-geleng kepala, Hanifi yang selalu terlihat tersenyum ceria (dan masih banyak lagi yang namanya tidak bisa disebutkan satu-satu karena anggota Kresna ada 23 orang, bayangin mau sepanjang apa?).



Special place in my heart belongs to keluarga tim inti PK: Setiawan alias Kokoh Ping yang super baik hati dan tidak sombong, suka mentraktir, enak diajak curhat, mantan pegawai Chevron pula; Affan yang polos, medok (maap bukannya rasis fan), dan selalu eksis sebagai maskot Kapila; Vidya yang super inspiring dan bikin terkagum-kagum dengan prestasi luar biasanya, padahal masih muda; Mbak Merry dokter gigi super sibuk yang jago main piano; Mbak Erni yang super keibuan layaknya Ibu sendiri; Agus yang eksis di IG stories dan diem-diem jago joget; Kak Iqbal yang dicurigai berumur hampir 30 tahun, selalu standby dimana ada wanita cantik, dan diam-diam menyimpan bakat terpendam sebagai stand-up comedian, dan Opit roommate tersayang, temen ngakak bareng dan curhat baper bareng yang super perhatian dan super sigap.

Persiapan Keberangkatan, walaupun hanya diadakan lima hari, telah menimbulkan memori yang akan membekas selamanya. Bagiku, mengikuti PK adalah sebuah pengalaman luar biasa. Aku baru mengerti tujuan PK sesungguhnya, seperti yang dikatakan Pak Kamil: PK bukanlah sekedar pelatihan untuk para awardee, tetapi merupakan ajang untuk membangun jejaring dan tempat para awardee menginspirasi satu sama lain. Di PK, aku mengenal orang-orang luar biasa. Banyak yang terlihat biasa-biasa saja dan kalem, namun prestasinya membuat tercengang. Semakin aku merasa diri ini hanyalah remahan rengginang di dasar kaleng Khong Guan. Dan aku menyadari sepenuhnya, mereka memang layak untuk menjadi seorang awardee LPDP.

Misalnya Om David Su, yang merupakan anak seorang peladang dari Kalimantan, namun sudah menyabet dua gelar magister dan akan menempuh Doktor. Kisahnya membuatku merasa harus lebih berjuang lebih darinya, karena aku yang tinggal di Ibukota dan mendapatkan banyak previlege pendidikan saja belum menghasilkan apa-apa dan belum menjadi siapa-siapa. Atau kisah mbak Citra, seorang ibu yang berjuang untuk bisa lanjut kuliah sambil mengurus dua orang anak, yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk bisa mendapatkan beasiswa. Kembali aku merasa sangat bersyukur, karena berkesempatan mendapatkan beasiswa dalam percobaan pertama. Atau Mbak Raisya yang cantik, ayu, masih sangat muda tapi sudah akan menempuh studi Doktornya.

Banyak dari teman-teman baruku juga yang memilih untuk kembali ke daerah masing-masing dan mengabdi sebagai dosen, di tengah keterbatasan yang mereka miliki di daerah masing-masing. Kembali aku merasa bersyukur, sebagai asisten dosen di Universitas (yang katanya) terbaik di Indonesia, kesempatanku untuk berkembang lebih banyak dan lebih luas; apalagi aku tinggal di Ibukota. Banyak teman-teman yang tinggal di daerah dimana sinyal internet saja kadang tidak ada. Namun setiap dari mereka bisa melakukan perubahan di bidangnya masing-masing. So, what my excuse?

Tiba di hari terakhir PK, saatnya closing, aku baru sadar kalau saat yang kutakutkan terjadi: saatnya berpisah. Besok, kami akan kembali berpencar ke daerah masing-masing. Aku menatap ruangan yang ramai dengan semarak baju daerah; untuk closing, setiap orang mengenakan baju khas daerahnya masing-masing. Melihat ragam baju daerah yang berasal dari suku-suku dari Sabang sampai Merauke, aku baru menyadari satu hal: mungkin, aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi, atau baru bertahun-tahun lagi akan bertemu dengan mereka. Jarak akan memisahkan kami juga, pada akhirnya.

Ah, aku benci pada kalimat perpisahan. Robin Williams pernah berkata: “Never say goodbye, because saying goodbye means going away, and going away means forgetting.” Lebih baik tidak mengucapkan perpisahan sama sekali.

Namun, saat satu persatu dari kami mulai berpamitan dan saling mengucapkan selamat jalan, aku menyadari apa yang saling kami ucapkan: bukan kata “Goodbye.”, melainkan “See you on top!” Kami yakin, bahwa masing-masing dari kami akan dipertemukan lagi dalam keadaan sukses. Kami yakin, suatu saat kami akan menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Karena sesuai janji kami, kami pasti akan kembali dan membangun negeri di bidang masing-masing.

Indonesia, aku pasti mengabdi.