Sabtu, 29 Desember 2012

Mozaik


Ini kisah tentang sebuah pencarian dan penemuan.
Mencari dan menemukan seseorang untuk melengkapi hidupmu jelas tidak mudah.
Jodoh, konon terbagi menjadi tiga jenis: berjodoh sebagai teman, jodoh sebagai partner, dan jodoh sebagai pasangan hidup.

Teman adalah jodoh yang Allah pilihkan buat kita, aku percaya itu. Pertemuan dan perpisahan dengannya terjadi karena alasan tertentu. Aku tidak pernah melihat latar seseorang ketika memilih menjadi temannya. Secara alamiah, pertemanan terjadi begitu saja, terjalin erat seiring waktu bergulir. Teman dekatmu bisa jadi orang yang kau ajak mengobrol secara tidak sengaja di bangku sebuah ruang tunggu, mungkin juga ia teman lamamu yang tidak sengaja bertemu kembali, atau ia orang yang bertubrukan denganmu saat kau berjalan di lorong kampus #alasinetron.

Aku pernah memiliki saingan dalam cinta—cinta monyet tentunya, seorang kawanku di bangku sekolah. Awalnya aku menganggapnya tak sopan karena berani-beraninya jatuh cinta dengan seseorang yang terlebih dahulu kujatuhcintai. Persaingan terjadi di antara kami dalam memperebutkan sesosok kakak kelas yang bayangnya selalu kami pantau dari seberang lorong kelas kami. Setiap hari aku dan dia--sepasang secret admirer—mengawasi dan mengagumi tingkah laku seniorku itu sambil berbagi cerita. Walaupun pada akhirnya seniorku itu tidak memilih seorangpun diantara kami, tak ayal kedekatan kami itu membuat kami bersahabat erat, bahkan sampai sekarang :)

Dalam perjalanan hidupku, aku menemukan teman ketika saling berjuang bersama. Ketika kami menyusun impian dan cita-cita yang sama, dan memperjuangkannya bersama . Teman yang kuanggap sebagai saudara sendiri. Terjadi begitu saja, alamiah, tanpa pernah aku meminta. Aku juga pernah membenci seseorang yang kuanggap angkuh pada pandangan pertama, namun perasaan itu berbalik 180 derajat ketika aku dan ia bekerjasama dalam sebuah pekerjaan, membuatku menyelami pribadinya yang sesungguhnya.

Waktu bergulir, aku menemukan “jodoh-jodohku” di kampus ini. Teman-teman yang selalu mensupport satu sama lain kemanapun kami berkontribusi. Teman-teman yang entah kenapa, sejauh apapun aku pergi, pasti aku akan selalu kembali kepada mereka. Teman-teman yang membuatku selalu menitikkan air mata karena seringnya masalah yang muncul diantara kami. Kupikir aku seseorang yang cuek, tapi entah mengapa, aku begitu peduli terhadap teman-temanku ini. Teman-teman yang selalu membuatku tersenyum bahagia bila kami sedang bersama-sama. Inilah pertemanan, yang tidak ingin kurusak dengan alasan apapun, entah alasan politik ataupun perasaan. Inilah teman-teman yang kuharapkan menjadi “jodohku” selama bertahun-tahun ke depan, sampai ketika kami bekerja, menikah, dan menua. Seperti jodoh, inilah pertemanan yang kuharapkan bertemu dan berpisah hanya karena Allah.

Masalah mencari partner kupikir sama sulitnya dengan mencari jodoh. Bayangkan saja ketika kau harus mencari seseorang untuk menjadi partner kerjamu, seseorang yang mampu melengkapimu—tentu saja dengan alasan profesionalitas. Betapa kau harus mampu memanajemen hubungan yang ada dengan komunikasi satu sama lain. Betapa karakter kalian harus mengisi satu sama lain, agar clash yang ada tidak membuat pekerjaan menjadi mandek. Aku tidak mencari partner yang kemiripannya denganku seperti sepasang sumpit, namun aku mencari partner yang keberadaannya denganku seperti sendal jepit, yang sebelah kiri dan kanannya berbeda namun saling melengkapi. Aku mencari orang yang memiliki mimpi yang sama dan rela berbagi dan mencurahkan waktunya denganku untuk mewujudkan impian bersama ini.

Dan siapakah orang itu, yang bisa dan bersedia melengkapiku?

Jodoh hidup.......kupikir, bagian inilah yang paling sulit untuk kutulis. Tentu saja, karena aku belum menemukannya sampai sekarang. Atau mungkin saja aku sudah menemukannya tetapi belum menyadarinya. Entahlah, mempertanyakan jodoh sama misteriusnya dengan mempertanyakan kematian.

Aku sepaham dengan salah satu prinsip diantara beribu-ribu prinsip mencari jodoh: “Jodoh itu adalah seseorang yang bisa menjadi siapapun bagimu. Ia manja seperti anakmu, ia bisa romantis seperti kekasihmu, ia bisa melindungimu seperti Ayahmu, dan ia bisa menjadi sahabatmu saat kau berbagi kisah.” Namun, aku lebih setuju bahwa jodoh seharusnya bisa menjadi sahabat terbaikmu. 

Aku tidak percaya pada cinta seumur hidup yang utopis seperti Habibie dan Ainun. Yang aku tahu perasaan cinta adalah sebuah kurva yang dapat menurun seiring perjalanan waktu. Pada satu titik, perasaan cinta itu akan menghilang, yang ada hanyalah perasaan biasa sebagai kawan, sebagai pasangan hidup. Makanya aku seringkali heran dengan seseorang yang menikah hanya karena alasan fisik atau alasan simpel, “karena cinta”. Tidakkah suatu saat kau akan bosan ketika pembicaraan diantara kalian tidak seirama? Tidakkah kalian punya mimpi bersama yang ingin kalian bagi dan wujudkan dengan sebuah pernikahan? Memangnya wajah yang cantik atau tampan bisa membahagiakan kalian ketika wajah itu mulai keriput dan menua?

Bagaimanapun, pasangan hidup adalah jodoh yang lebih kompleks daripada jodoh teman ataupun jodoh partner. Kuharap, pasangan hidupku adalah orang yang dipertemukan denganku oleh Allah. Orang yang mencintaiku dan kucintai karena Allah. Dan tekadku nanti, aku tidak akan menikah hanya karena cinta, namun karena mempunyai mimpi yang ingin kuwujudkan bersama dengannya. Dan inilah jodoh yang menurutku paling sulit ditemukan, karena disini kau harus memberikan komitmen penuh untuk saling mengisi dan melengkapi, saling memahami dan memaklumi, dimana ia menjadi partnermu sampai kau menua dan meninggal. Untuk orang inilah, aku melewatkan masa mudaku tanpa pernah sekalipun memiliki kekasih, karena ingin menjaga diriku untuknya.

Jodoh.... teman, partner, pasangan hidup, apapun itu. Mereka adalah mozaik-mozaik yang sudah dan akan melengkapi hidupku. Mungkin ini seperti permainan puzzle saja, dimana setiap kepingannya harus kita cocokkan untuk membentuk gambar. Kita harus mencari mozaiknya, mencocokkannya di tempat yang pas, membongkarnya bila tidak tepat dan mencari mozaik lain, terus seperti itu sampai mozaik-mozaik yang ada tersusun sempurna. 

Dan aku, seperti gambar itu, tidak akan sempurna jika tidak ada kau, mozaikku.

Minggu, 24 Juni 2012

Anak-anak Istimewa


Perjalanan kali ini ternyata memang berbeda.
Angkot yang kami tumpangi menelusuri jalanan perempatan Kelapa Dua, dekat rumah tempat tinggalku dulu di Depok. Kami, lebih tepatnya Aku, Muthi, Tita, dan Asma, berusaha menebak-nebak kemana kiranya Mbak Iffah, mentorku, akan membawa kami. Saat itu, Mbak Iffah mengajak kami berkunjung ke suatu tempat. “Ke mana Mbak?” Pertanyaan kami sia-sia karena hanya dibalas oleh senyuman Mbak Iffah, “Liat aja nanti.” Aaah, penasaran.
Aku berusaha menebak-nebak di dalam hati, tempat apa kira-kira yang dimaksud Mbak Iffah. Kupikir, tempatnya adalah rumah singgah anak jalanan, atau tempat mengajar anak jalanan seperti Masjid Terminal Depok. Namun, angkot yang membawa kami berjalan ke arah yang berlawanan dengan Masjid Terminal. Jadi ke mana?
Pertanyaan-pertanyaan yang berloncatan ke benakku berhenti saat angkot biru yang kami tumpangi berhenti di sebuah bangunan yang berdiri di depan jalan raya.
Aku membaca plang yang terpasang di depan bangunan tersebut.
Panti Tuna Ganda
“Tuna Ganda itu apa?” aku bertanya kepada teman-teman, dan rupanya mereka sama bingungnya seperti aku.
“Ayo de, masuk.” Mbak Iffah mengajak kami memasuki gerbang bangunan itu.
Kami bertemu dengan pimpinan Panti Tuna Ganda itu, seorang Ibu yang cukup ramah (aku lupa namanya). Kami berkenalan dengan Ibu Panti, dan segera saja teman-temanku aktif bertanya-tanya tentang panti tersebut. Aku hanya diam sambil memandangi foto-foto penghuni panti yang berjajar rapi di tembok ruangan.
Panti Tuna Ganda adalah Panti yang membantu orang-orang yang istimewa, karena mereka memiliki kekurangan. Pasien penghuni panti tersebut adalah orang-orang yang selain menderita cacat mental, juga memiliki cacat fisik. Aku membekap mulutku, merasa shock mendengar penjelasan tersebut, dan menelusuri sebuah pigura yang berisi nama dan usia pasien yang menghuni Panti.
Pasien-pasien yang menghuni Panti Tuna Ganda terdiri dari berbagai macam usia dan berbagai macam penyakit, sebagian besar menderita cerebral palsy (terganggunya fungsi otak dan jaringan syaraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir) dan kelumpuhan. Aku menelusuri pigura foto tersebut, dan kulihat ada beberapa pasien yang (maaf) kepalanya tidak simetris karena menderita mikrocepalus (kepala terlalu kecil) atau hydrocephalus (kepala terlalu besar). Wajah mereka sebagian besar mirip akibat penyakit yang mereka derita. Kuraba kepala dan wajahku, dan merasa amat sangat bersyukur kepada Allah karena memberiku kesempurnaan ini.
Penghuni Panti Tuna Ganda kebanyakan menghadapi takdir hidup mereka sejak lahir. Mereka sudah dititipkan oleh orangtua mereka sedari kecil di Panti tersebut. Sebenarnya, Panti Tuna Ganda memiliki peraturan bahwa batas maksimal pasien yang ditampung hanya sampai mereka berusia dewasa (kira-kira umur 15-20 tahun), namun pada kenyataannya Panti tetap menampung kebanyakan pasien yang telah melewati batas tersebut. Alasannya bermacam-macam. Ada orangtua pasien yang tidak mampu (secara finansial) sehingga tidak mampu menangani anggota keluarganya yang memang memiliki kebutuhan khusus. Ada juga keluarga pasien yang tidak bertanggung jawab, menghilang begitu saja ketika masa penampungan pasien di panti sudah berakhir. Pun ketika keluarga tersebut dihubungi melalui telepon atau didatangi ke rumahnya, ternyata mereka sudah pindah rumah atau menghilang entah ke mana. Pihak Panti pun berbaik hati tetap menampung mereka sampai sekarang, walaupun kapasitas Panti hanya mampu menampung 30 orang pasien.
Kami menyimak penjelasan Ibu Panti dengan serius, sesekali bertanya-tanya. Kemudian, Ibu Panti mempersilahkan kami untuk berjalan-jalan mengunjungi pasien-pasien.
Kami bertemu dengan Yunas, yang membimbing kami berkeliling Panti. Yunas adalah salah satu pasien Panti tersebut, yang tidak kusangka dia kelahiran tahun 1990, setahun di atasku. Yunas berbadan kecil, tidak begitu mampu berbicara, hanya mampu berkata sepatah dua patah kata. Namun begitu, kata Ibu Panti, sesungguhnya Yunas mengerti setiap maksud perkataan kami. Begitu juga beberapa penghuni Panti lainnya, mereka tidak mampu berkomunikasi namun mereka dapat mengerti maksud kami.
Kami menelusuri bangsal di lantai satu. Sama seperti Yunas, kebanyakan pasien Panti tersebut memakai pampers untuk mencegah mereka buang air sembarangan. Mereka tidur di sebuah ranjang anak-anak yang memiliki terali di sisi-sisinya, untuk mencegah mereka jatuh dari ranjang. Sekeliling tembok kamar penuh dengan tempelan; entah itu foto-foto mereka, hasil karya mereka yang dipajang, maupun gambar alphabet dan angka yang ditempel oleh pihak Panti untuk memberi kesan ceria.
Kami mengunjungi setiap ranjang, menyapa pasien yang sedang berbaring dengan senyuman. Terkadang kami berhenti untuk mengajak mereka berbincang-bincang. Macam-macam respon mereka. Ada yang hanya membalas dengan senyuman malu-malu, ada yang berteriak-teriak karena tidak mengerti maksud kami, namun ada juga seorang anak yang dengan antusiasnya menarik-narik tanganku dan memperlihatkan gambar-gambar hasil karyanya.
Ada seorang anak yang sangat cantik, membuat kami gemas dan ingin mengelus-elusnya. Saat kami meraba kakinya, kami menyadari bahwa kakinya terlihat tidak simetris. Kakinya terlalu kecil. Ya, pasien tersebut menderita kelumpuhan sedari kecil sehingga kakinya tidak pernah difungsikan dan tidak berkembang. Begitu juga kaki beberapa pasien yang lain. Sekali lagi, aku mensyukuri setiap gerakan dari tapak kakiku yang begitu mudah menjejaki bumi.
Ada juga pasien yang sudah berumur 40 tahun. Suster penjaga Panti mengatakan, pasien itu sudah tinggal di Panti selama 30 tahun. Pasien itu tergolek lemah di ranjang, hanya beberapa menit sekali posisinya dipindahkan oleh suster yang menggerakkan badannya. Aku dan Asma berpandangan, membayangkan apa yang akan kami lakukan seandainya kami hanya mampu tergolek lemah di tempat tidur selama 30 tahun. Kami termenung.
Mereka juga memiliki ruangan kelas, yang kebetulan kami kunjungi setelah kelasnya bubar. Yunas menarik –narik tangan Mbak Iffah dengan semangat, menunjukkan bangku tempat ia biasa belajar. Bangku yang dimiliki setiap pasien berbeda-beda bentuk dan jenisnya, tergantung kebutuhan setiap pasien. Yunas menunjukkan hasil puzzle yang setengah tersusun di mejanya dengan bangga. Rupanya, Yunas menggemari puzzle dan lihai memainkannya. Ia mampu menyusun puzzle seratus keping dalam waktu singkat.
Ya, kelas di Panti ini memang berbeda dengan sekolah kebanyakan. Jika sekolah-sekolah pada umumnya mengajarkan muridnya untuk menghitung, membaca, dan mengeja, tidak demikian dengan sekolah ini. Di sekolah ini setiap muridnya dibebaskan untuk melakukan apapun aktivitas yang merangsang syaraf-syaraf motorik dan sensorik mereka. Oleh karena itu banyak aktivitas permainan seperti puzzle, menyusun balok, bernyanyi, dan sebagainya. Tujuan sekolah bagi mereka bukan lagi untuk menuntut ilmu, namun untuk mengoptimalkan segenap kemampuan mereka yang ada dengan segala keterbatasan mereka.
Kami menyusuri bangsal di lantai dua, dan hatiku semakin terasa perih. Bangsal di lantai dua diperuntukkan untuk pasien wanita yang sudah baligh dan mengalami menstruasi sehingga perlu perawatan khusus. Aku merasa nyeri, tidak dapat membayangkan apa yang bisa kulakukan bila aku berada di posisi mereka….
Ada satu cerita lagi yang membuatku banyak-banyak bersyukur. Ada seorang pasien, yang terlahir dengan keadaan normal, baik fisik maupun mental. Ia menjadi Ketua OSIS di SMA-nya. Namun pada suatu hari, ia mengalami sebuah kecelakaan sehingga ia mengalami cacat mental dan fisik. Ia berhenti sekolah, dan sekarang mengikuti terapi di Panti tersebut. Kami semakin merinding, tidak mampu membayangkan apabila itu terjadi kepada kami. Bayangkan saja jika kau terlahir dengan fisik dan mental sempurna, namun sebuah peristiwa membalikkan jalan hidupmu begitu saja. Sekali lagi, kami menyadari bahwa hanya Allah-lah yang mampu memberi dan mengambil apapun yang dititipkannya kepada manusia…
Di lapangan samping Panti, kami menemukan seorang anak yang cantik dan putih sedang bermain bola sendirian. Ia begitu cantik dan menggemaskan, sehingga aku mengajaknya bermain bola. Namanya Yayu, begitu yang tertulis di kaus yang dikenakannya. Aku menendang bola kepadanya, dan ia menangkapnya dengan tertawa-tawa ceria. Ia begitu cantik. Aku, Tita, Asma, dan Muthi bergantian menendang bola, bermain dengannya.
“Mbak, dia keliatannya normal, kenapa dia ada di sini?” aku bertanya-tanya kepada Mbak Iffah yang sedang merekam adegan kami bermain bola dengan ponselnya.
“Dia sakit epilepsi dek….” Mbak Iffah berkata pelan kepada kami. Kami tertegun kembali. Epilepsi adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya dapat mengalami serangan tiba-tiba, kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana mungkin anak secantik dan selincah Yayu tiba-tiba kejang-kejang…
Kami menyusuri jalan menuju luar panti, hanya mampu terdiam. Begitu banyak kata-kata yang berpendar-pendar di benak kami, namun tak sanggup kami ungkapkan. Begitu banyak pelajaran hari ini. Begitu banyak syukur yang lupa terucap.

Banyak hal yang melintas di benakku. IP-ku semester ini memang menurun, namun aku harus tetap bersyukur. Kawan-kawan di Panti Tuna Ganda bahkan tidak mampu berpikir jelas. Aku tidak mampu berolahraga dengan baik ataupun berenang. Kawan-kawan di Panti bahkan tidak mampu berjalan. Aku mungkin bukan orang yang pandai berpidato ataupun presentasi di depan umum, namun aku harus tetap bersyukur. Mereka bahkan tidak mampu berbicara…

Ya Allah,
begitu banyak kufur menumpuk di hati,
begitu banyak keluh kesah,
begitu banyak syukur yang lupa terucap.
Maafkan kami ya Allah…