Assalamualaikum guys!
Kembali lagi bersama Iffah yang akhirnya bisa kembali menulis blog setelah melalui semester dua yang menggila dan menyelesaikan dissertation dalam waktu tiga bulan sahaja.
Tulisan part dua kali ini untuk menceritakan kehidupan perkuliahan di semester dua yang semakin berat dan masa-masa menulis disertasi. Kalau semester satu adalah masa-masa adaptasi dengan sistem belajar, dengan segala paper, written exam, mengatur jadwal dan membaca jurnal, semester dua adalah masanya untuk survival karena kuliahnya beraat banget. Semester dua ini mata kuliah yang kuambil ada lima, dengan judul Islamic Banking and Finance, Risk Management in Islamic Banking, Islamic Accounting, Islamic Capital Market, dan Research Method for Dissertation. Tentunya, jadwal kuliahnya dan seminarnya semakin banyak dan padat, sampai-sampai kadang nafas pun susah. Di semester ini juga banyak tugas yang berkelompok serta presentasi, sehingga kita harus pintar-pintar membagi waktu dan berkoordinasi dengan teman-teman kelompok.
Semester satu kemarin, aku masih bisa pulang ke rumah setiap makan siang dan kembali lagi saat jadwal kuliah kedua. Tapi di semester dua sekarang, karena waktu yang padat dimana jeda waktu antara kuliah dan seminar sangat sebentar, sebagian besar teman-temanku makan siang di kantin kampus. Tentunya, sebagai mahasiswa kere, aku memilih untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Soalnya, sekali makan di kampus bisa habis 5 pound (seratus ribu), lumayan banget kan kalau ditabung. Dampaknya, aku harus rajin bangun pagi untuk memasak. Di sela-sela jam belajar, kita selalu membawa cemilan antara lain Kitkat, Kinder, Digestive Biscuit, dan Walkers yang diam-diam kita cemil agar tidak ngantuk di kelas. Kadang kita bertukar (atau memalak) cemilan dan bekal satu sama lain.
Mata kuliah semester dua ini lebih banyak yang bersifat teknis dan praktek, berbeda dengan mata kuliah semester satu yang sifatnya basic, teoritis dan abstrak banget. Tapi aku sukaaa sekali mata kuliah yang ada di semester dua ini karena menantang, dan banyak pembahasan mengenai legal aspect dalam Islamic economic yang sedikit banyak sudah kupelajari sejak S1. Di semester ini pula aku bertemu dengan Professor Habib Ahmed yang super kece, pintar, dan mengajarnya enak. Belum lagi paper-paper tulisannya enak dibaca. Kayaknya, cuma di kelas Prof. Habib saja aku nggak pernah ketiduran, wkwkwk. Dan di kelas-kelas beliaulah aku semangat berdiskusi karena sedikit paham ilmu yang dia ajarkan. Pokoknya Prof. Habib ini lovely banget lah, paket lengkap seorang dosen, karena dosen yang mengajarnya enak sekaligus tulisannya mudah dimengerti itu jaraang banget ada. Karena sudah kepalang jatuh hati, aku pun meminta Prof. Habib untuk menjadi supervisorku dalam menulis disertasi.
Alhamdulillah, pengalaman di semester satu membuatku lebih bisa survive di semester kedua, terutama dalam menulis paper dan menghadapi written exam. Aku sadar sekali, salah satu kelemahanku adalah kurang bisa menulis dengan baik. Mungkin, basic academic writing yang dulu kupelajari di FHUI, UI, atau di Indonesia secara keseluruhan kurang baik. Apalagi esai yang kutulis harus berbahasa Inggris (ya iyalah ndro) sehingga tentunya tingkat kesulitannya jauh berbeda dengan esai dalam bahasa Indonesia. Karena itu, beberapa kali aku mengambil kelas tambahan Academic Writing yang memang disediakan bagi mahasiswa-mahasiswa yang merasa perlu berlatih lagi. Selain itu, Prof. Mehmet juga memberikan panduan singkat untuk menulis dengan baik, yang sangat berguna bagi kami. Beberapa kali pula aku meminta masukan dari senior-senior untuk esaiku. Alhamdulillah hal ini sangat menolongku dalam menyusun essay yang baik.
Ada satu ketika aku melakukan kesalahan fatal dalam menulis esai untuk Islamic Banking and Finance. Saat berkonsultasi dengan senior tentang esaiku, tenyata aku salah memahami apa jawaban yang diminta dari pertanyaan esainya. Hal ini membuatku sangat stress dan menangis karena esai ini menyumbang 50% dari nilai akhir modul. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Toh dengan menangis paperku tidak akan selesai dengan sendirinya. Akhirnya aku terpaksa merombak esaiku H-3 deadline. Dengan sekuat tenaga aku membaca puluhan jurnal dan menyusun esai dari awal, dan mengumpulkan hasil yang seadanya karena waktu yang terbatas. Kesalahan ini membuatku lebih berhati-hati dalam menulis esai lainnya.
Semester kedua benar-benar semester work hard, play hard. Di sela-sela semester dua yang berat, aku dan teman-teman merencanakan eurotrip sekaligus study tour yang akan dilakukan saat Spring. Karena di UK waktu liburan kuliah biasanya diberikan sebelum exam, maka Eurotrip kami dilakukan dua minggu sebelum deadline essay dan final exam dimulai. Mati nggak tuh?
Akhirnya, selesai Eurotrip, kami pontang-panting mengerjakan essay dan belajar untuk ujian. Jangan tanya, pola hidup kami berantakan semuanya. Pola makan kami sangat-sangat berantakan, kalau hari-hari kuliah kita sempat berkreasi membuat makanan seperti Martabak, Pempek, Cireng, Dendeng, dan lain-lain, di masa-masa deadline seringnya kita hanya makan nugget, mie, dan telor ceplok. Terkadang aku insomnia sampai pagi, atau malah kebanyakan tidur karena stress. Kalau dulu aku biasanya stay di rumah mengerjakan essay bersama Fira, di semester dua ini Fira memilih untuk di perpustakaan sepanjang waktu, bahkan sampai beberapa hari tidak pulang. Begitu juga dengan Danis dan Rumy, sehingga otomatis aku selalu di rumah sendirian. Terkadang aku tersiksa dengan kesepian, dan salah satu pelampiasan stress-ku adalah dengan menelpon rumah atau ngemil es krim Haagen Dasz (yang diskonan pastinya, Iffah tidak pernah beli Haagen Dasz kalau tidak diskon).
Harus kuakui, semester dua ini menimbulkan banyak tekanan yang membuatku sangat stress. Aku sempat mengalami demotivasi dalam belajar karena terlalu stress. Aku mencoba berpikir, apa yang salah ya? Ternyata, aku merasakan beban berat di semester ini karena alhamdulillah nilaiku semester sebelumnya tidak telalu jelek. Sehingga muncul kekhawatiran kalau-kalau nilaiku semester ini tidak sebaik semester kemarin. Hal ini membuatku sangat tertekan. Di saat-saat seperti itu, aku mencoba mengingat kata-kata Prof. Mehmet:
Datangnya musim ujian menimbulkan permasalahan sendiri. Ujian adalah tantangan yang sangat berat karena musim ujian bertepatan dengan bulan Ramadhan. Saat itu bulan Ramadhan jatuh pada saat Summer dimana maghrib selama 18 jam, dimana Subuh jam 3 pagi dan Maghrib jam 9 malam. Gimana rasanya ujian di bulan puasa? Beraat. Aku yang sapi gelonggongan ini biasanya harus selalu minum air putih bergelas-gelas saat belajar agar menajamkan konsentrasi (udah kayak iklan Aqua belum?). Namun kali ini sulit berkonsentrasi karena kurang minum air. Akhirnya, berdasarkan saran dari senior dan teman-teman, aku membalik pola tidurku: aku tidur di siang hari, dan terjaga di malam hari sampai subuh untuk belajar. Sejak maghrib hingga subuh aku tidak tidur, dan mengganti jadwal tidur sehabis subuh. Sunnahnya sih sebenarnya nggak boleh ya, tidur habis subuh. Tapi, ijtihad ulama setempat menyarankan begitu agar bisa menjalani Ramadhan dengan aman.
Alhamdulillah aku bisa menjalani ujian dengan baik, terutama di mata kuliah favoritku, mata kuliah Prof. Habib. Ketika exam period berakhir, rasanya legaaa sekali sampai aku ingin teriak karena terbebas dari beban hidup. Di jalan-jalan sepanjang kampus yang tersebar di kota Durham, beberapa mahasiswa menaburkan confetti dan menuangkan champagne sebagai pelampiasan kelegaan. Tidak lupa, ada boat party yang mengelilingi sungai Durham sebagai perayaan berakhirnya exam period.
Sayangnya ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena sesaat kemudian kami memasuki dissertation period..... (bersambung)
Kembali lagi bersama Iffah yang akhirnya bisa kembali menulis blog setelah melalui semester dua yang menggila dan menyelesaikan dissertation dalam waktu tiga bulan sahaja.
Tulisan part dua kali ini untuk menceritakan kehidupan perkuliahan di semester dua yang semakin berat dan masa-masa menulis disertasi. Kalau semester satu adalah masa-masa adaptasi dengan sistem belajar, dengan segala paper, written exam, mengatur jadwal dan membaca jurnal, semester dua adalah masanya untuk survival karena kuliahnya beraat banget. Semester dua ini mata kuliah yang kuambil ada lima, dengan judul Islamic Banking and Finance, Risk Management in Islamic Banking, Islamic Accounting, Islamic Capital Market, dan Research Method for Dissertation. Tentunya, jadwal kuliahnya dan seminarnya semakin banyak dan padat, sampai-sampai kadang nafas pun susah. Di semester ini juga banyak tugas yang berkelompok serta presentasi, sehingga kita harus pintar-pintar membagi waktu dan berkoordinasi dengan teman-teman kelompok.
Mata kuliah semester dua ini lebih banyak yang bersifat teknis dan praktek, berbeda dengan mata kuliah semester satu yang sifatnya basic, teoritis dan abstrak banget. Tapi aku sukaaa sekali mata kuliah yang ada di semester dua ini karena menantang, dan banyak pembahasan mengenai legal aspect dalam Islamic economic yang sedikit banyak sudah kupelajari sejak S1. Di semester ini pula aku bertemu dengan Professor Habib Ahmed yang super kece, pintar, dan mengajarnya enak. Belum lagi paper-paper tulisannya enak dibaca. Kayaknya, cuma di kelas Prof. Habib saja aku nggak pernah ketiduran, wkwkwk. Dan di kelas-kelas beliaulah aku semangat berdiskusi karena sedikit paham ilmu yang dia ajarkan. Pokoknya Prof. Habib ini lovely banget lah, paket lengkap seorang dosen, karena dosen yang mengajarnya enak sekaligus tulisannya mudah dimengerti itu jaraang banget ada. Karena sudah kepalang jatuh hati, aku pun meminta Prof. Habib untuk menjadi supervisorku dalam menulis disertasi.
Alhamdulillah, pengalaman di semester satu membuatku lebih bisa survive di semester kedua, terutama dalam menulis paper dan menghadapi written exam. Aku sadar sekali, salah satu kelemahanku adalah kurang bisa menulis dengan baik. Mungkin, basic academic writing yang dulu kupelajari di FHUI, UI, atau di Indonesia secara keseluruhan kurang baik. Apalagi esai yang kutulis harus berbahasa Inggris (ya iyalah ndro) sehingga tentunya tingkat kesulitannya jauh berbeda dengan esai dalam bahasa Indonesia. Karena itu, beberapa kali aku mengambil kelas tambahan Academic Writing yang memang disediakan bagi mahasiswa-mahasiswa yang merasa perlu berlatih lagi. Selain itu, Prof. Mehmet juga memberikan panduan singkat untuk menulis dengan baik, yang sangat berguna bagi kami. Beberapa kali pula aku meminta masukan dari senior-senior untuk esaiku. Alhamdulillah hal ini sangat menolongku dalam menyusun essay yang baik.
Ada satu ketika aku melakukan kesalahan fatal dalam menulis esai untuk Islamic Banking and Finance. Saat berkonsultasi dengan senior tentang esaiku, tenyata aku salah memahami apa jawaban yang diminta dari pertanyaan esainya. Hal ini membuatku sangat stress dan menangis karena esai ini menyumbang 50% dari nilai akhir modul. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Toh dengan menangis paperku tidak akan selesai dengan sendirinya. Akhirnya aku terpaksa merombak esaiku H-3 deadline. Dengan sekuat tenaga aku membaca puluhan jurnal dan menyusun esai dari awal, dan mengumpulkan hasil yang seadanya karena waktu yang terbatas. Kesalahan ini membuatku lebih berhati-hati dalam menulis esai lainnya.
Semester kedua benar-benar semester work hard, play hard. Di sela-sela semester dua yang berat, aku dan teman-teman merencanakan eurotrip sekaligus study tour yang akan dilakukan saat Spring. Karena di UK waktu liburan kuliah biasanya diberikan sebelum exam, maka Eurotrip kami dilakukan dua minggu sebelum deadline essay dan final exam dimulai. Mati nggak tuh?
Akhirnya, selesai Eurotrip, kami pontang-panting mengerjakan essay dan belajar untuk ujian. Jangan tanya, pola hidup kami berantakan semuanya. Pola makan kami sangat-sangat berantakan, kalau hari-hari kuliah kita sempat berkreasi membuat makanan seperti Martabak, Pempek, Cireng, Dendeng, dan lain-lain, di masa-masa deadline seringnya kita hanya makan nugget, mie, dan telor ceplok. Terkadang aku insomnia sampai pagi, atau malah kebanyakan tidur karena stress. Kalau dulu aku biasanya stay di rumah mengerjakan essay bersama Fira, di semester dua ini Fira memilih untuk di perpustakaan sepanjang waktu, bahkan sampai beberapa hari tidak pulang. Begitu juga dengan Danis dan Rumy, sehingga otomatis aku selalu di rumah sendirian. Terkadang aku tersiksa dengan kesepian, dan salah satu pelampiasan stress-ku adalah dengan menelpon rumah atau ngemil es krim Haagen Dasz (yang diskonan pastinya, Iffah tidak pernah beli Haagen Dasz kalau tidak diskon).
Harus kuakui, semester dua ini menimbulkan banyak tekanan yang membuatku sangat stress. Aku sempat mengalami demotivasi dalam belajar karena terlalu stress. Aku mencoba berpikir, apa yang salah ya? Ternyata, aku merasakan beban berat di semester ini karena alhamdulillah nilaiku semester sebelumnya tidak telalu jelek. Sehingga muncul kekhawatiran kalau-kalau nilaiku semester ini tidak sebaik semester kemarin. Hal ini membuatku sangat tertekan. Di saat-saat seperti itu, aku mencoba mengingat kata-kata Prof. Mehmet:
"You are a master student now. You don't have to pursue the high grade. You just have to learning here. Learning as much knowledge as you can."Kata-kata itu sedikit banyak membantuku untuk belajar ikhlas. Kalau kata Ahmad Fuadi di novel Negeri 5 Menara, belajar itu harus diniatkan sebagai ibadah. Jadi, kita ikhlas belajar karena tidak ada kepentingan apa-apa selain ibadah. Mengingatnya, aku mulai belajar dengan tenang karena tanpa beban.
Datangnya musim ujian menimbulkan permasalahan sendiri. Ujian adalah tantangan yang sangat berat karena musim ujian bertepatan dengan bulan Ramadhan. Saat itu bulan Ramadhan jatuh pada saat Summer dimana maghrib selama 18 jam, dimana Subuh jam 3 pagi dan Maghrib jam 9 malam. Gimana rasanya ujian di bulan puasa? Beraat. Aku yang sapi gelonggongan ini biasanya harus selalu minum air putih bergelas-gelas saat belajar agar menajamkan konsentrasi (udah kayak iklan Aqua belum?). Namun kali ini sulit berkonsentrasi karena kurang minum air. Akhirnya, berdasarkan saran dari senior dan teman-teman, aku membalik pola tidurku: aku tidur di siang hari, dan terjaga di malam hari sampai subuh untuk belajar. Sejak maghrib hingga subuh aku tidak tidur, dan mengganti jadwal tidur sehabis subuh. Sunnahnya sih sebenarnya nggak boleh ya, tidur habis subuh. Tapi, ijtihad ulama setempat menyarankan begitu agar bisa menjalani Ramadhan dengan aman.
Alhamdulillah aku bisa menjalani ujian dengan baik, terutama di mata kuliah favoritku, mata kuliah Prof. Habib. Ketika exam period berakhir, rasanya legaaa sekali sampai aku ingin teriak karena terbebas dari beban hidup. Di jalan-jalan sepanjang kampus yang tersebar di kota Durham, beberapa mahasiswa menaburkan confetti dan menuangkan champagne sebagai pelampiasan kelegaan. Tidak lupa, ada boat party yang mengelilingi sungai Durham sebagai perayaan berakhirnya exam period.
Sayangnya ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena sesaat kemudian kami memasuki dissertation period..... (bersambung)