Assalamualaikum Guys!
Kali ini, aku akan menceritakan pengalaman saat mengikuti seleksi substantif LPDP.
Seleksi ini merupakan seleksi yang sangat menentukan apakah kita akan diterima menjadi awardee beasiswa LPDP atau tidak. Oleh karena itu, persiapkan diri sebaik mungkin sebelum mengikuti seleksi!
Disclaimer: Tulisan dibuat berdasarkan pengalamanku saat mengikuti seleksi LPDP Batch 4 Tahun 2016. Kemungkinan ada perubahan mekanisme atau passing grade untuk tahapan seleksi terbaru. Untuk panduan lengkap selalu mengacu ke web LPDP ya!
Saat seleksi Batch 4 Tahun 2016, ada tiga seleksi yang harus diikuti dalam tahapan seleksi substantif, yaitu Leaderless Group Discussion, Writing Essay on The Spot, dan Interview. Untuk calon awardee tujuan Dalam Negeri, LGD dan EOTS dilakukan dengan bahasa Indonesia, sementara interview dalam kombinasi bahasa Indonesia dan Inggris. Sementara untuk calon awardee tujuan Luar Negeri, ketiga seleksi dilakukan dalam bahasa Inggris.
Saat hari-H, peserta harus melakukan verifikasi berkas untuk memastikan keaslian berkas yang di upload ke portal LPDP saat pendaftaran. Karena itu, kita wajib membawa berkas-berkas asli saat jadwal verifikasi berkas. Catat dan urutkan berkas di satu map, beserta kartu kelengkapan berkas, agar mudah di verifikasi. Setiap calon awardee akan mendapatkan jadwal yang berbeda-beda, misalnya aku mendapatkan jadwal Essay dan Leaderless Group Discussion di hari pertama, sementara jadwal verifikasi berkas dan wawancara di hari kedua.
Leaderless Group Discussion
Leaderless Group Discussion adalah diskusi berkelompok tanpa adanya pemimpin (leader). Saat Leaderless Group Discussion, aku dikelompokkan bersama beberapa orang di dalam sebuah ruangan dan diberikan sebuah kertas berisi topik untuk didiskusikan. Ada dua psikolog di ruangan yang mengawasi jalannya LGD namun tidak memberikan instruksi apa-apa. Kita mendapatkan waktu 5 menit untuk membaca masalah sebelum memulai diskusi selama 40 menit. Masing-masing peserta mendapatkan peran dalam diskusi tersebut. Karena kelompok LGD-ku mendapatkan topik mengenai Defisit pada BPJS, ada yang mendapatkan peran sebagai menteri kesehatan, menteri ekonomi, tenaga kesehatan, dan sebagainya. Kita diminta untuk menyampaikan pandangan mengenai topik berdasarkan peran masing-masing. Masing-masing peserta seleksi harus mendapatkan giliran untuk menyatakan pendapat. Jangan lupa, penting adanya notulen dan time keeper dalam grup. Setelah semua mengutarakan pendapat, kita merumuskan solusi yang disepakati dan satu orang volunteer untuk membacakan kesimpulan tersebut. Kemudian, catatan yang kita buat selama LGD dikumpulkan oleh panitia.
Tips untuk LGD, jangan menjadi orang yang terlalu dominan, tetapi jangan juga menjadi orang yang terlalu pasif. Justru kita akan mendapat nilai plus ketika mengapresiasi opini orang lain dan meng-encourage teman satu tim untuk mengemukakan pendapatnya, misalnya dengan mengatakan "Saya setuju dengan pendapat saudara.." Kita harus menyampaikan pendapat dengan baik, tidak memaksakan pendapat kita atau menggurui. Jauhi sikap offensif atau defensif dengan pendapat orang lain, yang juga bisa terlihat dari sikap kita seperti menyilangkan tangan di depan dada atau menggeleng-gelengkan kepala ketika teman satu tim sedang berbicara. Memotong omongan teman satu tim is a big No. Kepercayaan diri, manner, cara kita berkomunikasi dengan teman satu tim, dan cara kita menghargai dan menanggapi pendapat orang lain merupakan hal-hal yang dinilai dalam LGD.
Essay On The Spot
Essay On The Spot diadakan di sebuah ruangan besar bersama puluhan orang. Saat EOTS, kita akan mendapatkan dua topik yang bisa dipilih salah satunya. Saat itu, aku mendapatkan tema pendidikan vokasi dan sekolah nelayan, kedua topik yang sejujurnya tak kukuasai. Kita mendapatkan waktu 30 menit untuk membaca pertanyaan dan membuat essay. Buatlah essay dengan struktur judul, pernyataan/masalah, solusi, dan kesimpulan. Bila yang ditanya adalah pro-kontra, maka bandingkanlah kelebihan dan kekurangan dari kedua opsi yang ada. EOTS sangat serupa dengan Writing Task 2 IELTS, oleh karena itu banyak-banyak berlatihlah menulis gaya writing task 2 IELTS.
Topik yang keluar saat LGD maupun EOTS adalah isu-isu terkini di Indonesia. Karena itu banyak-banyaklah membaca berita di koran agar selalu update, misalnya Jakarta Post yang memang berbahasa Inggris. Kami juga bergabung dengan grup telegram calon awardee LPDP dan berbagi informasi untuk kemungkinan topik yang keluar. Topik-topik yang keluar saat itu antara lain adalah tentang Reklamasi, Dwikewarganegaraan, Tarif Tol, Brain Drain, BBM satu harga, Pendidikan Vokasi, Dokter Layanan Primer, Tax Amnesty, Defisit BPJS, Hukuman Mati Bandar Narkoba, Kebijakan Plastik Berbayar, Kedaulatan Pangan.
Untuk persiapan sebelum seleksi substantif, sering-seringlah melakukan simulasi LGD, EOTS, maupun interview. Saat persiapan seleksi substantif, aku dan teman-teman melakukan simulasi dengan dibimbing oleh Bang Ali, Fitrah, dan Rania yang merupakan awardee LPDP, sehingga mereka bisa memberikan masukan dan evaluasi bagi kami.
Interview
Perlu diketahui, LPDP memiliki tiga tingkatan prioritas yang menjadi panduan dalam menyeleksi calon awardee.
Prioritas pertama yaitu bidang keilmuan teknik, sains pertanian, kelautan dan perikanan, dan kedokteran/kesehatan dengan passing grade 700.
Prioritas kedua yaitu bidang ilmu keilmuan, hukum, pendidikan, akuntansi/keuangan, dan agama dengan passing grade 750
Prioritas ketiga yaitu bidang keilmuan ekonomi, sosial, budaya/bahasa dan bidang lainnya dengan passing grade 800
Nilai yang kita dapat merupakan akumulasi dari nilai Leaderless Group Discussion, Essay on The Spot, dan Interview. Di antara ketiga seleksi, interview memiliki bobot yang paling menentukan yaitu sebesar 70% dari total nilai. Penentuan kelulusan didasarkan pada dua faktor, yaitu nilai total yang diperoleh calon awardee (apakah sudah lolos passing grade atau belum) dan berdasarkan catatan rekomendasi dari interviewer independen dan psikolog (direkomendasikan/tidak direkomendasikan). Dalam beberapa kasus, ada awardee yang sebenarnya nilai totalnya sudah memenuhi passing grade namun ternyata tidak direkomendasikan oleh interviewer sehingga tidak lolos seleksi. Oleh karena itu, interview memegang aspek paling penting.
Posisiku saat itu sangat tidak menguntungkan. Pertama, aku mengambil lintas jurusan dari Fakultas Hukum ke Fakultas Ekonomi. Tentunya, perlu usaha ekstra untuk meyakinkan interviewer mengapa aku harus mengambil bidang lintas jurusan dan apa benefitnya bagi Indonesia. Kedua, bidang yang kuambil merupakan prioritas ketiga, yang tentunya butuh passing grade jauh lebih besar. Ketiga, aku memilih negara tujuan UK--yang konon menurut desas-desus kuota awardee ke UK sangat dikurangi karena sudah terlalu banyak yang dikirim ke sana. Namun aku tetap optimis, toh kalau memang rezeki tidak lari kemana. Apalagi, jurusan yang kutuju merupakan jurusan Ekonomi Syariah, salah satu dari tema prioritas LPDP (mencakup Kemaritiman, Perikanan, Pertanian, Ketahanan Energi, Ketahanan Pangan, Industri Kreatif, Manajemen Pendidikan, Teknologi Transportasi, Teknologi Pertahanan dan Keamanan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Teknologi Kedokteran dan Kesehatan, Keperawatan, Lingkungan Hidup, Keagamaan, Ketrampilan (Vokasional), Ekonomi/Keuangan Syariah, Budaya/Bahasa, dan Hukum Bisnis Internasional)
Interview, walaupun merupakan aspek yang paling menentukan, ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Saat itu karena aku mengambil bidang disiplin ekonomi, aku masuk ke dalam kelompok wawancara 20. Setelah namaku dipanggil, aku masuk ke dalam sebuah aula besar yang berisi banyak meja yang sedang diwawancarai. Aku bergegas menuju meja 20 dan memberikan senyum terbaikku.
Karena memilih bidang Ilmu Ekonomi, aku mendapatkan dua interviewer yang berasal dari dosen-dosen Fakultas Ekonomi dari PTN dan satu orang Psikolog.
Kurang lebih, ini pertanyaan yang diberikan kepadaku:
1. Jelaskan tentang diri kamu
2. Jelaskan jurusan yang mau kamu ambil. Mengapa mengambil jurusan tersebut?
3. Kenapa Inggris? Memang di Indonesia nggak ada jurusannya? Kenapa Universitas itu?
4. Organisasi apa saja yang diikuti selama kuliah? Kontribusi yang pernah dilakukan apa aja? Jelaskan satu-persatu. (Aku lama dikorek di bagian kontribusi)
5. Gimana style memimpin dan koordinasi dengan bawahan?
6. Habis lulus mau ngapain? Ada jaminan balik langsung jadi dosen nggak?
7. Pernah mengalami kesulitan apa saja dalam hidup?
Kunci dari wawancara adalah menjawab pertanyaan dengan tenang. Untungnya, interviewer-ku sangat ramah, rasanya seperti berhadapan dengan bapak dan ibu dosen sendiri saja. Saat wawancara asumsikan interviewer belum membaca essay kita, karena interviewer baru membaca essay secara scanning saat kita datang. Ceritakan poin-poin penting yang menjual, yakinkan mereka kenapa kita layak menjadi awardee. Tentu saja kejujuran paling penting, jangan membual atau melebih-lebihkan. Karena psikolog bisa mengetahui kalau kita menjawab tidak jujur. Jawab apa adanya saja sambil tetap menjual.
Ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan awal, aku bisa menjawab dengan lancar. Aku menjelaskan bahwa aku memilih lintas jurusan karena masih sedikit ahli hukum yang memahami ekonomi syariah, dan mereka mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Mereka juga sudah tahu bahwa Durham University yang terbaik di dunia untuk jurusan Ekonomi Syariah. Ketika mereka bertanya mengapa aku tidak mengambil Malaysia, kukatakan dengan jujur bahwa aku berharap bisa bertemu dengan scholar internasional di UK untuk menjalin riset dan kerjasama internasional. Namun, satu pertanyaan tricky sempat agak sulit kujawab.
"Kamu dari tadi berkata bahwa sehabis lulus ingin jadi dosen. Kamu yakin kalau kembali ke Indonesia pasti akan diterima di kampus kamu?"
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya menyadari, dan Bapak dan Ibu sebagai dosen juga pasti sudah tahu, kalau jalan untuk menjadi dosen di Indonesia masih sangat panjang. Saya masih harus melalui tahun-tahun yang panjang dan mengikuti seleksi lagi untuk benar-benar menjadi dosen. Tidak ada jaminan saya pasti diterima kampus menjadi dosen, tapi setidaknya, saya berusaha untuk itu. Dengan aktif mengikuti riset di lembaga kampus, menjadi asisten dosen di kampus, bahkan yang saya lakukan dengan menempuh S2 ini adalah upaya saya memantaskan diri agar layak menjadi dosen di Universitas Indonesia."
Mereka mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Kami bersalaman, dan mereka tersenyum hangat kepadaku. Aku meninggalkan ruangan dengan perasaan lega. Tenyata, 45 menit sudah berlalu.
Aku tidak yakin dengan hasil LGD dan Essay On The Spot-ku, tapi aku cukup optimis dengan hasil wawancaraku.
Bismillah, aku sudah melakukan ikhtiar yang terbaik, sisanya tinggal berdoa.
Alhamdulillah, tanggal 9 Desember, sebuah e-mail mampir di inbox-ku:
Sekian pengalamanku dalam mengikuti seleksi substantif LPDP. Bagi teman-teman yang akan mengikuti seleksi substansi, persiapkan diri yang terbaik, jangan lupa berusaha dan selalu berdoa!
Goodluck!
Postingan Terkait: