Sabtu, 24 Desember 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 2)

Hari ketiga, kami membuat janji untuk bertemu dengan Bu Siti Zubaidah, dosen dari Fakulti Undang-Undang (Fakultas Hukum) University Malaya. Kami berangkat ke University Malaya, dimana Bang Heru dan Bu Ida menghadiri acara penutupan confrence.

Siang menjelang, sebuah wajah yang familiar muncul dan menyapaku. Bu Siti!

Bu Siti Zubaidah adalah dosen University Malaya yang pada awal tahun berkunjung ke Fakultas Hukum UI sebagai dosen tamu (guest lecture). Beliau mengajar mata kuliah hukum Islam di Kelas Khusus Internasional FHUI. Aku ingat, selama dua minggu Bu Siti di Indonesia, beliau sempat beberapa kali minta ditemani jalan-jalan ke Bogor, Bandung dan Cirebon, namun karena satu dan lain hal aku belum sempat mendampingi beliau. Maaf ya, Bu Siti!

"Iffah masih hutang ya temani saya pusing-pusing (jalan-jalan)!" Ledek Bu Siti. Kami tertawa malu meminta maaf.

Karena Bu Ida masih harus menunggu sertifikat peserta, kami memutuskan untuk berangkat duluan. Dengan menumpang mobil Bu Siti, kami tiba di Fakulti Undang-Undang UM. Sampailah kami di Departemen Hukum Islam Fakulti Undang-Undang.

Bu Siti mempertemukan kami dengan Dr. Zalina, koleganya di Departemen Hukum Islam. Rupanya, spesialisasi ilmu Dr. Zalina adalah hukum perlindungan konsumen dan hukum produk halal. Wah, pas sekali!

Dalam sekejap, kami asyik berdiskusi bersama mengenai penelitian kami. Walaupun kami tidak bisa berbahasa Melayu, hal itu tidak menjadi halangan. Dr. Zalina menerangkan dengan baik mengenai kondisi di Malaysia. Isu regulasi produk halal juga merupakan isu yang menarik di Malaysia sebagai negara Islam. Malaysia telah sukses menerapkan regulasi tersebut sehingga Malaysia dikenal sebagai pengekspor produk halal nomor satu di dunia.

"Masyarakat di sini sangat strict mengenai produk halal. Bisa saja ada muslim yang tidak sholat, tapi dia akan mengamuk kalau tahu produk yang dia konsumsi ternyata produk tidak halal." Cerita Dr. Zalina sambil tertawa. Dari cerita beliau, kami baru tahu bahwa bahkan Undang-undang mengatur bahwa perempuan yang berkerudung dilarang menjual makanan haram, karena bisa menimbulkan salah persepsi mengenai kehalalan produk. Aku teringat kasus yang sama di Indonesia, dimana ada kasus muslimah yang terpaksa berjualan siomay babi dan sempat menjadi kontroversi. Sayangnya, tidak ada aturan serupa di Indonesia.

"Apa rahasianya sehingga produsen yang sebagian besar dari kalangan non muslim (FYI, muslim di Malaysia hanya 60% dari total penduduk) mau melakukan sertifikasi halal? Karena, di Indonesia masih banyak pelaku usaha yang tidak memiliki kesadaran untuk melakukan sertifikasi halal." Tanyaku.

"Tentu saja, produsen kami sadar bahwa pangsa pasar terbesar mereka beragama muslim. They do it for the sake of market and money." Jawab beliau simple.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kami mengakhiri diskusi seru tersebut dengan puas. Tidak lupa, kami membuat janji agar suatu saat bisa melakukan joint research di Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat regulasi produk halal di kedua negara. Wah mau banget!!

Kiri: Dr. Zalina, Kanan: Bu Siti Zubaidah

Sore menjelang, kami berencana untuk pergi ke Central Market untuk membeli oleh-oleh, karena besok kami akan berangkat ke Thailand. Bu Siti dan Dr. Zalina dengan baik hati mengantar kami sampai ke Stasiun LRT. Kami berpamitan kepada mereka, dan bersiap untuk menuju destinasi selanjutnya: Central Market. Belanjaaa!

Sumber: http://www.wonderfulmalaysia.com/attractions/files/2012/01/central-market-pasar-seni-kuala-lumpur-2.jpg

Central Market atau Pasar Seni merupakan pusat perbelanjaan yang terkenal untuk membeli oleh-oleh. 
Dari Universiti Malaya sampai ke Central Market tidak terlalu jauh, bahkan dari Central Market ke stasiun LRT KL Central dekat tempat kami menginap hanya berjarak satu stasiun. Di tempat ini banyak dijual oleh-oleh khas Malaysia, mulai dari gantungan kunci miniatur twin tower, tempelan kulkas, cokelat khas Malaysia, dan lain-lain. Tempat ini lumayan luas walaupun hanya terdiri dari dua lantai. Banyak pilihan yang tersedia sehingga kami tidak bingung mencari oleh-oleh. Belanja di Central Market pun bisa ditawar, dan Central Market sudah dilengkapi dengan AC sehingga kegiatan belanja menjadi nyaman, tidak kepanasan.

Sumber: http://www.centralmarket.com.my/images/history-photos/part5_photos/CM-1-Part-5.JPG

Langsung saja kami asyik memborong oleh-oleh, teringat keluarga dan teman-teman di Indonesia. Aku sendiri membeli serenteng gantungan kunci, magnet kulkas, tas kanvas logo I Love KL, tas batik, serta Cokelat dan Milo khas Malaysia. Karena waktu maghrib sudah tiba, kami melaksanakan sholat dan makan malam di Central Market. Makan malam di sini cukup puas dengan menu yang beragam. Setelah kenyang, kami bersiap untuk kembali ke hotel.

Wajah-wajah sumringah sehabis ngeborong di Central Market KL


Hari keempat di Malaysia, kami berencana ke Putrajaya, Pusat Pemerintahan, untuk mewawancarai JAKIM, otoritas yang berwenang mengatur masalah produk Halal di Malaysia. Kami akan berangkat siang ini ke Putrajaya, karena Bang Heru akan mengikuti pertemuan penggiat HAM yang diadakan oleh CENTHRA, lembaga tempat Cik Azril bernaung. Kami pun berpisah dengan bang Heru dan berjanji akan bertemu sehabis dzuhur.

Bu Ida yang sejak kemarin naksir dengan baju kurung yang dipakai wanita-wanita khas Malaysia pun penasaran, ingin membeli baju kurung. Setelah bertanya-tanya, sebagian orang-orang menyarankan kami untuk mencari baju kurung di daerah Masjid Jamek yang konon banyak menjual baju kurung bagus-bagus. Dengan menggunakan LRT, kami berangkat menuju Masjid Jamek.

Ternyata, yang dimaksud dengan Masjid Jamek adalah deretan tenda-tenda tempat berbelanja di sekitar Masjid Jami'. Tempat ini seperti pasar dengan tenda tidak permanen. Banyak aksesoris dan pakaian wanita yang dijual di sana. Kami berburu bros dengan harga murah, dan bentuk yang lucu-lucu. Di sini juga kami memutuskan untuk membeli tongsis seharga 10 Ringgit demi tujuan mulia untuk foto-foto yang instagram-able.

Setelah berjalan kesana-kemari dan mengubek-ngubek satu toko ke toko yang lain, akhirnya Bu Ida menemukan baju kurung yang dia cari. Kami sempat mencari di beberapa toko yang menjual baju kurung, namun motif bajunya kebanyakan enggak banget (red: norak, wkwk), ada juga yang motifnya bagus tapi harganya muahal, sehingga kami terus mencari. Sampailah kami di toko yang motifnya bagus-bagus dan cukup classy, harganya juga cukup terjangkau. Ternyata, toko itu punya orang Indonesia! Dia juga memiliki toko serupa di Tanah Abang. Wah, emang ya kalau soal selera pakaian orang Indonesia lebih hebat :p

Petualangan kami di Masjid Jamek menghasilkan bros-bros lucu, baju kurung dan jubah, serta kerudung khas Malaysia yang dibeli Bu Ida. Tidak lama, kami bertemu dengan Bang Heru di tempat yang sudah dijanjikan dan berangkat ke Putrajaya dengan menaiki taksi.

Perjalanan ke Putrajaya berlangsung beberapa lama, yang memakan biaya taksi sekitar 80 RM. Akhirnya, kami sampai di Putrajaya.

Aku tercengang melihat situasi kota Putrajaya. Blok seluas hampir 5000 hektar yang terdiri dari gedung-gedung pemerintahan yang megah terhampar. Konon, wilayah Putrajaya dulunya merupakan wilayah hutan yang sengaja dipersiapkan untuk menjadi daerah pusat administratif dan keuangan, karena wilayah Kuala Lumpur sudah sedemikian padat. Tak heran, hampir tidak ada pemukiman tempat tinggal di wilayah Putrajaya. Kediaman resmi Perdana Menteri Malaysia juga terletak di Putrajaya.

Sempat berputar-putar dan nyasar, kami memutuskan untuk makan siang dulu di kedai pinggir jalan. Loh, ternyata harga makanan pinggir jalan murah-murah banget! Hanya berkisar 3-5 RM saja per porsi (biasanya jajan di Mall sih, jadi habis 50 RM sekali makan). Sudah begitu, rasa laksa dan nasi lemak yang dijual enak pula.
Selamat makan!

Anak nongkrong Putrajaya

Akhirnya, kami tiba juga di JAKIM. Halal Hub JAKIM berlokasi di gedung besar, dan membutuhkan kartu untuk mengaksesnya. Yah, mirip-mirip gedung perkantoran di Jakarta lah. Kami bertemu dengan sekertaris dan menyampaikan bahwa kami sudah memiliki janji untuk wawancara.

Ternyata, kami disambut langsung oleh Direktur Halal Hub JAKIM, Pak Sirajuddin Suhaimee. Wah, kalau di Indonesia rasanya seperti langsung bertemu dengan Direktur LPPOM MUI. Walaupun beliau sangat sibuk, Pak Sirajuddin sangat ramah dan helpful, menjelaskan segala sesuatu mengenai sejarah Sertifikasi Halal di Malaysia dan pelaksanaannya. Tak urung, aku merasa iri karena pelaksanaan Jaminan Produk Halal di Malaysia sangat lancar dan maju, tentunya juga karena dukungan penuh dari pemerintah Malaysia. Lucunya, Pak Sirajuddin bercerita bahwa sertifikasi halal dari Malaysia sudah diterima secara luas di semua negara, kecuali Indonesia karena belum dicapainya kesepakatan. Waduuh kok bisa ya? Hahaha

Terima kasih Pak Cik Sirajuddin!

Selepas wawancara, kami menuju Masjid Putra, yaitu masjid megah di Putrajaya yang sangat terkenal. Kami mencari-cari taksi namun tak kunjung menemukannya. Akhirnya Bang Heru mengajak untuk berjalan kaki saja, karena kata Bang Heru masjidnya "dekat, kok"

Satu jam kemudian.... (lebay deng)

Ternyata oh ternyata, jarak antara kantor JAKIM dan Masjid Putra lumayan dekat bila ditempuh dengan kereta. Alhasil di siang yang terik itu kami berjalan kaki jauh dan panas-panasan, ditambah suhu di Putrajaya sangat tidak santai. 

Akhirnyaa sampai di Masjid Putra!

Tak lama setelah menunaikan sholat ashar, Aiman datang menjemput kami.
Aiman adalah mahasiswa di Kelas Khusus Internasional, yang merupakan warga asli Malaysia. Ibunya Aiman adalah teman akrab Bang Heru. Aiman mengantarkan kami ke UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), dimana Ibunya menjadi dosen di sana. Kami berbincang-bincang dan mengelilingi UKM sejenak sebelum pulang ke rumah Aiman.


Rencananya, malam ini kami akan melintasi perbatasan Malaysia-Thailand menggunakan bus malam. Sambil menunggu jadwal keberangkatan, kami berbincang-bincang dengan Ibu Aiman yang menceritakan pengalamannya mengajar di beberapa negara. Tak terasa, waktu sudah berlalu. Setelah berpamitan dengan Ibu Aiman, Aiman mengantar kami menuju terminal Bis Pudu Sentral Kuala Lumpur yang terletak di Bukit Bintang.

Sesampainya di Pudu Sentral, aku menatap takjub. Beda sekali ya, sama terminal Bus di Pulo Gadung. Terminal Bus Pudu Sentral tidak jauh berbeda dengan airport. Ada papan elektronik yang menunjukkan waktu keberangkatan dan sebagainya. Kami diminta mempersiapkan paspor dan berkas-berkas untuk petugas imigrasi di perbatasan. 

Waktu keberangkatan tiba. Kami memasukkan koper di bagasi dan menaiki bis. Rupanya bis malam ini lumayan nyaman, dengan kursi empuk yang bisa disandarkan dan space yang luas. Aku duduk di samping Bu Ida dan bersiap untuk tidur, mengingat waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

Bis perlahan mulai bergerak membelah malam yang masih hingar-bingar. Kami menjauhi Malaysia, menuju Hatyai, Thailand. Sinyal di HP-ku mulai menipis, menandakan kami semakin meninggalkan wilayah Malaysia, dan akan memasuki Thailand.

Sampai jumpa lagi, Malaysia!


Jumat, 07 Oktober 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 1)

Assalamualaikum fellas! Long time no see~

Kali ini, aku akan menceritakan perjalananku ketika berpetualang ke Malaysia dan Thailand selama seminggu untuk melakukan penelitian. 
Ceritanya, suatu hari dibuka pengajuan proposal penelitian dari kampus. Melihat peluang yang ada, aku, Ghozi, Bu Ida, dan Bang Heru memasukkan proposal penelitian dengan tema perbandingan kebijakan mengenai produk Halal di Indonesia dengan Malaysia dan Thailand. Tak disangka, proposal kami terpilih sehingga kami melaksanakan penelitian dengan bertemu para akademisi dan pemangku kebijakan di negara masing-masing. Perjalanan kami dimulai pada hari Senin, 15 Agustus 2016.  

Senin pagi kita sudah berkumpul di kampus. Tiket Malindo Air dengan destinasi Kuala Lumpur sudah di tangan, dibooking jauh-jauh hari sebelumnya (harganya sekitar Rp500 ribuan seorang). 

Tadinya, aku sudah menyiapkan koper ukuran besar untuk perjalanan seminggu ini. Sayangnya, saat H-1 berangkat aku baru menyadari kalau koperku (yang besar) rodanya hanya dua, artinya mobilitasnya akan sangat terhambat mengingat aku akan berpindah-pindah hotel beberapa hari. Dengan berat hati, akhirnya aku membawa koper dengan ukuran jauh lebih kecil yang sebelumnya kugunakan untuk outing kantor ke Belitung. Keputusan yang kusesali akhirnya, karena koper itu hanya dapat memuat tujuh stel pakaian, itu pun sudah dipress sedemikian rupa.

Kami berangkat dengan diantar supir Ghozi ke Bandara Soekarno Hatta. Setelah sempat mengalami delay, pesawat kami akhirnya lepas landas jam dua siang. Tiga jam perjalanan tidak terasa, Kami sampai di bandara bersamaan dengan waktu maghrib. Namun waktu Malaysia sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Rupanya, perbedaan waktu antara Malaysia dan Indonesia adalah satu jam. Loh kok bisa? Bukannya Indonesia dan Malaysia berdekatan ya?

Ternyata, menurut bang Heru, perbedaan waktu Indonesia dan Malaysia hanyalah masalah politik, untuk membedakan batas wilayah antar negara. Selangkah saja memasuki perbatasan Malaysia, maka waktu akan berubah. Padahal secara geografis kondisinya sama saja. Lucu aja, jam 7 di Malaysia baru mau maghrib dan langit masih terang.

Bandara Malaysia sudah sangat canggih. Dari bandara Internasional KLIA di daerah Sepang, kami naik MRT yang membawa kami ke terminal penjemputan. Bandara KL luar biasa bagus, aku merasa seperti sedang berada di dalam mall saja. Di bandara, Bang Heru membeli simcard Malaysia agar bisa mengontak Cik Azril, kenalan Bang Heru yang rencananya akan menjemput kami. Aku tertawa-tawa membaca keterangan di papan-papan petunjuk yang berbahasa Melayu, yang bila dibaca artinya sangat lucu. Misalnya toilet menjadi kamar tandas, atau kamar ganti menjadi bilik salin, dan gratis bahasa melayunya adalah percuma.

Di tempat penjemputan bandara, ternyata Cik Azril dan kawannya sudah menunggu kami. Cik Azril adalah advokat Malaysia yang lumayan sering berkunjung FHUI. Di suatu saat aku beruntung berkesempatan berbincang-bincang dengan Cik Azril mengenai kondisi Islam di Malaysia yang mengikuti tren di Indonesia, mulai mengarah kepada sekulerisme. Cik Azril adalah ketua CENTHRA, lembaga bantuan hukum Malaysia yang memperjuangkan nilai-nilai Islam.

Kami naik mobil Cik Azril dan dibawa ke sebuah masjid untuk sholat. Masjid di Malaysia sangat bagus, besar dan bersih. Hanya saja culture shock pertama mulai muncul saat melihat toilet; sprinkle untuk membasuh di toilet Malaysia bentuknya seperti selang, tidak seperti di Indonesia yang berbentuk semprotan.

Dari sana, kami menuju sebuah rumah makan khas India yang terletak di wilayah dekat Putrajaya. Cik Azril dengan murah hati mentraktir kami makan malam dengan nasi kebuli ayam. Satu nampan besar datang dengan beras kuning dan tujuh buah ayam besar-besar beserta beberapa mangkuk berisi kuah kental kecoklatan. Beras yang digunakan adalah beras basmati yang berbulir panjang-panjang. Kuperhatikan, rumah makan halal di Malaysia kebanyakan adalah yang menunya berasal dari India atau Timur Tengah. 


Tahap pertama penelitian: tes produk halal di pasaran



Sehabis makan, kami berkunjung ke kantor Centhra di daerah Putrajaya. Sayangnya kantor sudah dikunci, namun kami sempat berfoto di depannya. Sepulangnya dari sana, Cik Azril meminta sopirnya mengantarkan kami ke hotel kami di KL Sentral.

Kami sampai di hotel dan membawa koper ke kamar kami di lantai 13. Baru kali ini aku menemukan hotel dengan lantai 13, rupanya orang Malaysia nggak percaya takhayul ya, hehe. Kamarku dan Bu Ida berisi dua kasur, namun kamarnya terlihat agak kumuh. Aku agak terkejut melihat kamar yang sangat sederhana untuk rate harga 170 Ringgit (sekitar 600 ribu rupiah) sehari, padahal kamar yang kami pilih lebih luas daripada kamar Bang Heru dan Ghozi. Namun kami tak sempat protes, karena yang ada di pikiran kami saat itu hanyalah bersih-bersih dan tidur.

Pagi hari menjelang. Azan subuh berkumandang di saat jam menunjukkan angka enam. Namun, pemandangan di luar tak ubahnya pemandangan di Indonesia jam empat atau jam lima pagi. 

Kusibakkan gorden kamar, dan melihat daerah KL Sentral dari jendela kamar kami di lantai 13. Baru kusadari, hanya sepelemparan batu dari hotel kami berdiri stasiun LRT KL Sentral. Kulihat monorel bolak balik melintas diatas rel besi.

Kami turun dan menyantap sarapan dengan nikmat. Makanan di hotel tak jauh beda dari makanan semalam, nasi dari beras basmati yang butirnya panjang-panjang, roti prata beserta kari, dan scramble egg.

Hari pertama, agenda kami adalah menuju Universiti Malaya untuk mengikuti confrence. Bu Ida dan Bang Heru akan mengikuti konfrensi yang diadakan UM untuk membahas relasi Indonesia-Malaysia.

Kami naik taksi dari hotel KL sentral menuju UM. Walaupun taksi memiliki argo, sopir menolak untuk menggunakan argo sehingga harus tawar menawar terlebih dulu. Disepakatilah harga 20 RM untuk perjalanan dari hotel ke Universiti Malaya.

Universiti Malaya berada di kompleks yang sangat luas, jauh lebih luas daripada UI. Antar fakultas yang jaraknya cukup jauh dapat ditempuh dengan menggunakan bis kampus. Saat itu ternyata sedang libur kuliah, sehingga kampus agak sepi. Hanya sesekali bis melintas, ternyata ada kompetisi olahraga antar Universitas yang diselenggarakan di UM.

Sambil menunggu Bu Ida dan Bang Heru mengikuti konfrensi, aku dan Ghozi menuju perpustakaan, ingin mencari buku referensi untuk penelitian kami. Namun kami kecewa karena di perpustakaan yang cukup besar itu dipungut biaya sebesar 21 RM per orang (kurs Ringgit 3500, jadi sekitar 73 ribu rupiah) apabila ingin memasuki perpustakaan sepuasnya. Mahal jugaaa. Karena kami di UM hanya beberapa jam saja, kami mengurungkan niat untuk masuk ke perpustakaan. Akhirnya kami berfoto-foto di depan perpustakaan aja *sempet-sempetnya narsis wkwk. Baru kusadari, karena saat itu bulan Agustus yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Malaysia, di sepanjang jalan tergantung bendera Malaysia.




Bang Heru dan Bu Ida keluar dari ruangan tempat confrence dan mengajak kami menuju destinasi selanjutnya, bertemu dengan Ustadz Ruslan Said, salah satu ulama dari JAKIM (MUI-nya Malaysia). Kami bertemu Ustadz Ruslan di daerah Masjid Negara. Kami berbincang-bincang dengan Ustadz Ruslan mengenai kondisi Islam di Malaysia sambil makan siang di sebuah kedai. Ustadz Ruslan menyarankan kami untuk menghubungi divisi bagian halal di kantor pusat JAKIM di daerah Putrajaya. Kami pun mengagendakan untuk mengunjungi JAKIM hari Kamis. Tak lupa kami berfoto bersama sebelum berpisah dengan Ustadz Ruslan.




Setelah itu kami menuju Masjid Negara untuk sholat dzuhur. Setiap masjid di Malaysia memiliki jadwal khusus untuk wisatawan. Setiap waktu sholat, masjid ditutup bagi wisatawan yang beragama bukan muslim karena akan dilaksanakan ibadah. Saat aku datang, turis-turis tampak sabar menunggu waktu sholat berakhir di depan masjid.




Rupanya, setiap orang yang memasuki masjid harus mematuhi adab syariat. Orang-orang yang mengenakan baju pendek atau ketat diwajibkan mengenakan jubah khusus yang telah disediakan untuk menutup aurat. Bahkan sekalipun pengunjung memakai kerudung, bila bajunya ketat atau mengenakan celana (ala-ala hijabers di Indonesia), mereka tetap diwajibkan mengenakan jubah. Warna jubah dibedakan antara muslim dengan non muslim, rupanya untuk membatasi agar pengunjung tidak mengganggu orang-orang yang sholat. Lucunya, wisatawan terlihat sangat fashionable dengan jubah ungu ala-ala Hogwarts school itu. Dengan gembira turis-turis bule dan chinese berfoto-foto di sudut masjid dengan jubah lucu itu.


Jubah Ungu ala-ala. Sumber: Themalaysianreserve.com

Aku tertakjub-takjub melihat bagaimana cara Malaysia mempromosikan Islam melalui masjid-masjid yang mereka punya. Di setiap sudut masjid ada penjelasan mengenai Islam dengan bahasa yang sederhana; misalnya mengapa umat Islam sholat, dan apa saja rukun Islam. Setiap petunjuk tertera dengan tiga bahasa: Melayu, Inggris, dan Chinese.

Di sudut yang lain, aku menemukan rak brosur penuh dengan penjelasan mengenai Islam. Brosur ini tersedia pula dengan berbagai versi bahasa, sampai bahasa Jepang dan Korea pun ada. Brosur yang kubaca memaparkan Islam dengan cara yang mudah dipahami dan membujuk; pokoknya bikin adeem deh. Beginilah cara Malaysia berdakwah: tidak menggurui, tidak menggunakan cara lakukan-ini-atau-kamu-masuk-neraka. Mereka berdakwah dengan mengedukasi, bahkan menjelaskan dengan mematahkan stigma-stigma tentang Islam yang selama ini ada. Salah satu brosur yang ada berjudul "Marry only one: Polygamy is neither obligatory nor encouraged in Islam." Kami tertawa-tawa membacanya dan menunjukkannya kepada Bang Heru.
Narsis di depan rak brosur bersama penjaga Masjid Negara


Dari Masjid Negara, kami berjalan kaki menuju ke Museum Kebudayaan Islam. Aku baru tahu, museum-museum di Malaysia terletak di satu komplek yang berdekatan dengan Masjid Negara. Selain Museum Kebudayaan Islam ada museum-museum lain yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki. Museum Kebudayaan Islam sangat menarik, banyak paparan mengenai sejarah Islam secara umum dan sejarah Islam di Malaysia khususnya, dan juga sejarah Nusantara seperti kerajaan Islam di Samudra pasai.

Puas mengelilingi Museum, kami menuju destinasi selanjutnya: Twin Tower alias Menara Petronas dong! Belum dibilang ke Malaysia kalau belum foto di depan twin tower yang ngehitz itu. Sempat bingung menentukan jalan, akhirnya kami naik kereta dulu ke stasiun KL Sentral, baru berganti transportasi naik LRT ke stasiun KLCC. Aku terperangah melihat stasiun KL Sentral yang besar, padat dan sangat modern, tak ubahnya bandara Malaysia. Kami membeli tiket LRT di mesin otomatis yang mengeluarkan koin-koin plastik. Saat akan memasuki stasiun, kami tinggal menempelkan koin tersebut di mesin scanner untuk membuka gate. Di stasiun tujuan, kami memasukkan koin tersebut ke lubang seperti celengan di mesin untuk membuka gate.

Saat itu jam rush hour, sehingga stasiun padat oleh orang-orang yang kuduga habis pulang kerja. Aku memperhatikan pakaian beberapa wanita Malaysia, dan kebanyakan dari mereka mengenakan baju kurung, yaitu blus panjang yang mencapai lutut dan rok di bawahnya. Walaupun beberapa motif baju kurung menurutku bukan seleraku banget, ada perasaan adem melihat wanita-wanita berbaju kurung berlalu-lalang.

LRT datang, dan ternyata LRT itu penuh sesak. Aku, Bu Ida, dan Bang Heru berhasil masuk ke dalam LRT, namun Ghozi yang paling belakang tertinggal dan pintu LRT langsung menutup. Aku sempat panik mengingat tidak ada sarana komunikasi bagi kami bila Ghozi tersasar. Dari balik pintu LRT yang tertutup Ghozi mengisyaratkan kami untuk bertemu di stasiun tujuan, stasiun KLCC. Kami mengangguk lega.

Kami sampai di stasiun KLCC, dan menunggu Ghozi yang datang dengan kereta selanjutnya. Dari bawah tanah kami menaiki eskalator dan tiba di tengah-tengah Mall. Kemudian kami menyeberang ke gedung di depan Mall tersebut yang tak lain adalah gedung Menara Twin Tower. Bang Heru menyarankan untuk berfoto dengan Twin Tower sehabis gelap karena konon Twin Tower di malam hari lebih cantik. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat dan makan dulu. Kami ke food court di Mall dan mulai mencari-cari makanan yang tersedia. Kebanyakan menu yang ada adalah nasi lemak dan laksa, makanan khas Malaysia. Bang Heru memilih makan Nasi Lemak beserta lauk pauk Ikan. Bu Ida memilih laksa. Aku dan Ghozi setelah berputar-putar bingung memilih makanan akhirnya mentok di satu restoran Indonesia yang menjual ayam penyet. Total makanan dan minuman yang kita beli kira-kira 24 ringgit, jadi satu orang bayar 6 ringgit. Kenyang makan, kami turun menuju dasar Twin Tower. Di depan Twin Tower sudah ramai dengan orang-orang yang berfoto dengan latar Twin Tower. Kami pun bersiap berpose.



Nggak foto nggak heitz


(Bersambung ke postingan selanjutnya)

Senin, 25 Januari 2016

A Trip to Sempu Island

Assalamualaikum, long time no post!

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman travelling ke pulau Sempu, Malang. Emang sih udah lama banget aku ke pulau Sempu, kira-kira bulan Juni tahun 2014 kemarin. 

Waktu itu aku dan Camila sedang mengambil kursus selama dua minggu di kampung Inggris, Pare. Karena kursus jadwalnya Senin sampai Sabtu pagi, biasanya setiap Sabtu dan Minggu para siswa di Kampung Inggris jalan-jalan ke tempat wisata seputar kediri, dari Gunung Bromo, Malang, sampai ke Bali. Banyak travel di wilayah kampung Inggris yang menawarkan paket wisata dengan harga yang relatif terjangkau.

Berhubung awalnya kita memang nggak merencanakan untuk jalan-jalan, akhir minggu pertama kita habiskan dengan jalan-jalan ke Malang, tepatnya ke wilayah Batu. Aku, Camila, dan Liv (siswa SMP yang sekamar dengan kita di asrama) pergi ke Malang naik bis dan menempuh waktu satu jam. Kita pergi ke Batu Night Spectacular, tempat wisata dengan suasana pasar malam. Batu Night Spectacular juga terkenal dengan lampion-lampion aneka bentuknya. Camila dan Liv sempat balapan go-kart, dan kita bertiga main di arena trampolin sampai puas dan belajar akrobat sambil melompat. Malam itu, kita menginap di motel super murah di dekat Batu (serius murah banget, sekamar bertiga cuma 120 ribu per malam!). Paginya, kita berjalan-jalan di alun-alun kota Batu dan naik Ferris Wheel yang ada di alun-alun, belanja oleh-oleh khas Malang, berkunjung ke Oemah Munir, lalu menguber-uber bis pulang ke Pare. 





Minggu berikutnya, tercetuslah ide dari Camila untuk main-main ke Pulau Sempu sebelum pulang. Tadinya aku ogah-ogahan, namun karena terbujuk Camila akhirnya aku setuju, karena penasaran dan belum pernah dapat pengalaman travelling. Untuk pergi ke Pulau Sempu, kami menggunakan jasa travel milik mahasiswa Universitas Brawijaya. Mereka akan mengurus kepergian kami dari Malang sampai ke Pantai Sendang Biru yang terletak di seberang Pulau Sempu. Mereka juga menyewakan tenda dan sleeping bag, mengurus izin masuk hutan, dan mencarikan guide untuk perjalanan kami selama di hutan.

Karena untuk travelling butuh jumlah minimal, jadilah Camila kelimpungan mencari orang-orang yang mau barengan ke Pulau Sempu. Kami mencoba mengajak teman-teman les maupun teman-teman satu asrama, tapi ternyata mereka sudah punya rencana lain untuk weekend.

Alhamdulillah, ternyata Annisa Noor, Ifah, dan Jayani, temen  satu fakultas kita lagi berlibur di rumah Noor di Malang. Mereka pun mau ikut bersama-sama ke Pulau Sempu. Berhubung semua yang ikut adalah makhluk-makhluk manis manja yang nggak punya pengalaman naik gunung dan masuk hutan (kecuali Camila), maka Camila meminta tolong Rozak, adiknya Bang Thowi yang mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mengawal kita selama perjalanan. 

Hari-H pun tiba, kami berangkat pagi-pagi dari rumah Nisa dengan membawa tas masing-masing. Menurut Camila dan Rozak, barang bawaan yang kita bawa nggak usah kebanyakan baju karena perjalanan di hutan lumayan lama (sekitar 1-2 jam jalan kaki). Dan bawaan yang paling penting adalah air mineral, karena disana nggak ada sumber air bersih untuk minum dan buang air. Akhirnya masing-masing orang menenteng barang pribadi, air mineral 1,5 Liter, perbekalan, dan sleeping bag. Rozak sebagai satu-satunya pria menenteng dua tenda, head lamp, dan matras dengan ranselnya yang segede kulkas (literally).

Mahasiswa Unbraw yang mengurus travel menjemput kami dengan mobil Elf mereka dan mengantar kami ke Pantai Sendang biru. Perjalanan dari Malang sampai ke Sendang Biru memakan waktu sekitar 2-3 jam. Lumayan juga jadi pepes di mobil, but trust me, bahkan jalan-jalan menuju ke Sendang Biru indaaah banget. Kita melewati deretan hutan-hutan yang berjajar rapi sampai akhirnya tiba di pinggir pantai Sendang Biru.

Sendang Biru

Aku terkesiap melihat Sendang Biru. Airnya benar-benar biru, dan di seberang laut terlihat rimbunan hijau hutan Pulau Sempu. Pemandangan disini aja udah indah banget, apalagi di Pulau Sempu? Begitu pikirku. 

Sebelum berangkat, kami mengurus izin masuk hutan konservasi dan menyewa sepatu untuk trekking di hutan. Di pinggir pantai ada rumah yang menyewakan sepatu khusus trekking yang berbahan karet.
Sepatu khusus trekking yang disewakan

Setelah sholat dan makan siang, kami pun bersiap-siap berangkat. Kami bertemu dengan Pak Aji, guide yang akan mendampingi dan mengantar kami dari Sendang Biru sampai ke Pulau Sempu dan Pantai Segara Anakan, teluk kecil di dalam Pulau Sempu. Setelah dadah-dadahan dengan para mahasiswa Unbraw yang akan menjemput kami besok, kami menaiki perahu boat yang menuju Pulau Sempu. 


Foto-foto dulu di boat

Perjalanan dengan perahu memakan waktu sekitar 15 menit, sebelum kami melihat pantai kecil di sisi luar Pulau Sempu tempat perahu akan mendarat. Jantungku berdegup melihat hutan-hutan yang menyambut kami, mendadak menyesal semalam sebelumnya habis membaca Hunger Games-Catching Fire yang lokasi pembantaiannya di hutan dan pantai. Diam-diam aku merapal doa, semoga di Pulau Sempu nggak ada monyet-monyet ganas.

Pantai sebelum masuk hutan Pulau Sempu

Perahu berhenti tidak jauh dari pantai. tidak bisa lebih merapat lagi. Kami turun disambut ombak yang merendam celana sampai selutut, dan berjalan mendekati pantai. Kami siap untuk memasuki hutan. Hutan Pulau Sempu sangat luas, butuh perjalanan 1-2 jam berjalan kaki untuk sampai. Oleh karena itu perlu ada guide supaya kita nggak tersasar di hutan. Kami mulai melangkah memasuki hutan dengan dipimpin Pak Aji di depan. Berhubung Ifah kakinya habis operasi, maka kita menjaga ritme perjalanan agar tidak terlalu cepat. Aku berjalan di belakang Pak Aji sambil sesekali mengobrol. Diikuti oleh Noor, Jayani, dan Ifah. Camila dan Rozak di belakang kami, sesekali mengikatkan tanda ke pohon-pohon supaya ingat jalan pulang, karena Pak Aji tidak ikut menginap bersama kami dan besok kami harus kembali sendiri. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang yang kembali dari Pulau Sempu dan saling bertegur sapa. Satu-dua bule terlihat diantara pengunjung yang berpapasan dengan kami di hutan. Ada pengunjung yang menginap, ada juga yang hanya melihat-lihat dan kembali. (Dalam hati aku berpikir, apa nggak gempor kakinya bolak-balik Pulau Sempu dalam sehari?). Trek jalan menuju Pulau Sempu naik turun, kadang ada akar-akar pohon yang melintang di tengah jalan. Namun karena sedang musim kemarau, kami bisa melihat jejak-jejak bekas orang-orang melintas di jalan.

Hutan Pulau Sempu


Kami sudah semakin dekat dengan pantai Segara Anakan, dari celah-celah pohon terlihat air jernih berwarna biru kehijauan. Terpikir olehku untuk langsung terjun aja dari atas tebing supaya nggak perlu jauh-jauh muter ke Pantai, tapi kuurungkan niat itu karena takut ransel basah dan mengingat aku nggak bisa berenang.   

Trek semakin curam saat mendekati pantai, jalannya juga semakin sempit. Kalau nggak hati-hati, bisa aja terpeleset dan langsung jatuh ke laut di bawah tebing. Sesekali juga kami harus berhenti jalan karena bergantian jalan dengan orang-orang yang kembali dari Segara Anakan.

Akhirnya sampai juga. Pulau Sempu!






Segara Anakan adalah pantai yang unik karena seolah-olah laut yang berada di tengah-tengah daratan Pulau Sempu. Air yang mengalir ke Segara Anakan berasal dari laut di sebelah luar Pulau Sempu, yang masuk melalui teluk kecil. Karena Pulau Sempu memang hutan konservasi, maka pulau ini nggak berpenghuni, sehingga Segara Anakan masih baguus banget dan alami banget.

Berhubung kami sampainya sudah sore, kami mengurungkan niat untuk berenang karena kata guide airnya asin dan kami bisa gatal-gatal semalaman karena nggak ada air tawar untuk berenang. Yaudah kami mendirikan tenda, mempersiapkan base camp. Karena tak bisa menahan godaan air biru, kami bermain ombak di pinggiran pantai.


Maafkan muka yang kucel.. Maklum ga bisa cuci muka pake facial foam


Semacam anak ilang


Malam tiba, segala sesuatu jadi gelaap banget. Nggak ada penerangan sama sekali kecuali dari lampu badai milik pengunjung yang berkemah. Mau internetan nggak bisa karena sama sekali nggak ada sinyal di Pulau Sempu. Mau makan nggak ada tukang jualan popmie yang lewat (menurut ngana?). Mau buang air kecil pun ditahan-tahan karena WCnya "alami" banget. Akhirnya kami menghabiskan waktu dengan mengobrol sampai mengantuk dan akhirnya nggak ada suara lagi.


Pagi pun tiba, suara deburan ombak membuat kami terbangun. Pemandangan pagi ini super breath-taking. Segera aku dan Camila bersiap-siap untuk nyebur. Namun Noor, Ifah, dan Jay nggak mau berenang dan memilih untuk berfoto-foto di pinggir pantai. Rozak sibuk foto-foto dengan SLR. Aku dan Camila nyebur dengan perasaan bahagia. Camila sempat berenang agak jauh, namun aku yang cupu ini memilih menghanyutkan diri di air dangkal aja. Camila sempat tergoda untuk pergi ke atas tebing dan terjun dari atas seperti orang-orang, tapi akhirnya mengurungkan niatnya.










Saatnya pulang tiba. Dengan berat hati kami berkemas dan melipat tenda-tenda. Kami mengemas semua barang, memastikan tidak ada satupun sampah yang tertinggal. Kami membagikan sisa bekal dan air minum ke orang-orang yang masih stay berkemah di pulau Sempu. Kami pulang mengikuti orang-orang yang ingin kembali ke Segara Anakan, sehingga ada penuntun jalan.

Baru aku rasakan, orang-orang sesama pecinta alam sangat ramah satu sama lain. Mereka baik-baik dan saling menolong. Berulang kali, kami mendapat ajakan untuk bertemu lagi di Mahameru pada tanggal 17 Agustus karena akan diadakan upacara bendera di puncaknya. Berhubung aku pecinta alam pemula, aku hanya tersenyum mendengar ajakan itu sambil dalam hati berharap Umi suatu saat akan membolehkanku pergi ke puncak gunung yang nggak ada villa-nya.

Terima kasih banyak untuk Camila dan Rozak, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau Sempu, pengalaman pertamaku travelling di alam. Kalau bukan karena mereka pasti aku tidak akan berani ke sini *hugss*. Aku berharap, semoga suatu saat nanti aku bisa ke Pulau Sempu lagi dan sudah ada yang menemani *lohh *lohh lohh

Oh iya, saat kami ke Pulau Sempu, pengunjung masih diizinkan untuk menginap di Pulau Sempu. Kabarnya sekarang sudah nggak boleh lagi karena Pulau Sempu semakin penuh dengan sampah :(

Bye Pulau Sempu, We'll always miss you :')