Assalamualaikum, long time no post!
Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman travelling ke pulau Sempu, Malang. Emang sih udah lama banget aku ke pulau Sempu, kira-kira bulan Juni tahun 2014 kemarin.
Waktu itu aku dan Camila sedang mengambil kursus selama dua minggu di kampung Inggris, Pare. Karena kursus jadwalnya Senin sampai Sabtu pagi, biasanya setiap Sabtu dan Minggu para siswa di Kampung Inggris jalan-jalan ke tempat wisata seputar kediri, dari Gunung Bromo, Malang, sampai ke Bali. Banyak travel di wilayah kampung Inggris yang menawarkan paket wisata dengan harga yang relatif terjangkau.
Berhubung awalnya kita memang nggak merencanakan untuk jalan-jalan, akhir minggu pertama kita habiskan dengan jalan-jalan ke Malang, tepatnya ke wilayah Batu. Aku, Camila, dan Liv (siswa SMP yang sekamar dengan kita di asrama) pergi ke Malang naik bis dan menempuh waktu satu jam. Kita pergi ke Batu Night Spectacular, tempat wisata dengan suasana pasar malam. Batu Night Spectacular juga terkenal dengan lampion-lampion aneka bentuknya. Camila dan Liv sempat balapan go-kart, dan kita bertiga main di arena trampolin sampai puas dan belajar akrobat sambil melompat. Malam itu, kita menginap di motel super murah di dekat Batu (serius murah banget, sekamar bertiga cuma 120 ribu per malam!). Paginya, kita berjalan-jalan di alun-alun kota Batu dan naik Ferris Wheel yang ada di alun-alun, belanja oleh-oleh khas Malang, berkunjung ke Oemah Munir, lalu menguber-uber bis pulang ke Pare.
Minggu berikutnya, tercetuslah ide dari Camila untuk main-main ke Pulau Sempu sebelum pulang. Tadinya aku ogah-ogahan, namun karena terbujuk Camila akhirnya aku setuju, karena penasaran dan belum pernah dapat pengalaman travelling. Untuk pergi ke Pulau Sempu, kami menggunakan jasa travel milik mahasiswa Universitas Brawijaya. Mereka akan mengurus kepergian kami dari Malang sampai ke Pantai Sendang Biru yang terletak di seberang Pulau Sempu. Mereka juga menyewakan tenda dan sleeping bag, mengurus izin masuk hutan, dan mencarikan guide untuk perjalanan kami selama di hutan.
Karena untuk travelling butuh jumlah minimal, jadilah Camila kelimpungan mencari orang-orang yang mau barengan ke Pulau Sempu. Kami mencoba mengajak teman-teman les maupun teman-teman satu asrama, tapi ternyata mereka sudah punya rencana lain untuk weekend.
Alhamdulillah, ternyata Annisa Noor, Ifah, dan Jayani, temen satu fakultas kita lagi berlibur di rumah Noor di Malang. Mereka pun mau ikut bersama-sama ke Pulau Sempu. Berhubung semua yang ikut adalah makhluk-makhluk manis manja yang nggak punya pengalaman naik gunung dan masuk hutan (kecuali Camila), maka Camila meminta tolong Rozak, adiknya Bang Thowi yang mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mengawal kita selama perjalanan.
Hari-H pun tiba, kami berangkat pagi-pagi dari rumah Nisa dengan membawa tas masing-masing. Menurut Camila dan Rozak, barang bawaan yang kita bawa nggak usah kebanyakan baju karena perjalanan di hutan lumayan lama (sekitar 1-2 jam jalan kaki). Dan bawaan yang paling penting adalah air mineral, karena disana nggak ada sumber air bersih untuk minum dan buang air. Akhirnya masing-masing orang menenteng barang pribadi, air mineral 1,5 Liter, perbekalan, dan sleeping bag. Rozak sebagai satu-satunya pria menenteng dua tenda, head lamp, dan matras dengan ranselnya yang segede kulkas (literally).
Mahasiswa Unbraw yang mengurus travel menjemput kami dengan mobil Elf mereka dan mengantar kami ke Pantai Sendang biru. Perjalanan dari Malang sampai ke Sendang Biru memakan waktu sekitar 2-3 jam. Lumayan juga jadi pepes di mobil, but trust me, bahkan jalan-jalan menuju ke Sendang Biru indaaah banget. Kita melewati deretan hutan-hutan yang berjajar rapi sampai akhirnya tiba di pinggir pantai Sendang Biru.
Aku terkesiap melihat Sendang Biru. Airnya benar-benar biru, dan di seberang laut terlihat rimbunan hijau hutan Pulau Sempu. Pemandangan disini aja udah indah banget, apalagi di Pulau Sempu? Begitu pikirku.
Sebelum berangkat, kami mengurus izin masuk hutan konservasi dan menyewa sepatu untuk trekking di hutan. Di pinggir pantai ada rumah yang menyewakan sepatu khusus trekking yang berbahan karet.
Setelah sholat dan makan siang, kami pun bersiap-siap berangkat. Kami bertemu dengan Pak Aji, guide yang akan mendampingi dan mengantar kami dari Sendang Biru sampai ke Pulau Sempu dan Pantai Segara Anakan, teluk kecil di dalam Pulau Sempu. Setelah dadah-dadahan dengan para mahasiswa Unbraw yang akan menjemput kami besok, kami menaiki perahu boat yang menuju Pulau Sempu.
| Sepatu khusus trekking yang disewakan |
Setelah sholat dan makan siang, kami pun bersiap-siap berangkat. Kami bertemu dengan Pak Aji, guide yang akan mendampingi dan mengantar kami dari Sendang Biru sampai ke Pulau Sempu dan Pantai Segara Anakan, teluk kecil di dalam Pulau Sempu. Setelah dadah-dadahan dengan para mahasiswa Unbraw yang akan menjemput kami besok, kami menaiki perahu boat yang menuju Pulau Sempu.
Perjalanan dengan perahu memakan waktu sekitar 15 menit, sebelum kami melihat pantai kecil di sisi luar Pulau Sempu tempat perahu akan mendarat. Jantungku berdegup melihat hutan-hutan yang menyambut kami, mendadak menyesal semalam sebelumnya habis membaca Hunger Games-Catching Fire yang lokasi pembantaiannya di hutan dan pantai. Diam-diam aku merapal doa, semoga di Pulau Sempu nggak ada monyet-monyet ganas.
Perahu berhenti tidak jauh dari pantai. tidak bisa lebih merapat lagi. Kami turun disambut ombak yang merendam celana sampai selutut, dan berjalan mendekati pantai. Kami siap untuk memasuki hutan. Hutan Pulau Sempu sangat luas, butuh perjalanan 1-2 jam berjalan kaki untuk sampai. Oleh karena itu perlu ada guide supaya kita nggak tersasar di hutan. Kami mulai melangkah memasuki hutan dengan dipimpin Pak Aji di depan. Berhubung Ifah kakinya habis operasi, maka kita menjaga ritme perjalanan agar tidak terlalu cepat. Aku berjalan di belakang Pak Aji sambil sesekali mengobrol. Diikuti oleh Noor, Jayani, dan Ifah. Camila dan Rozak di belakang kami, sesekali mengikatkan tanda ke pohon-pohon supaya ingat jalan pulang, karena Pak Aji tidak ikut menginap bersama kami dan besok kami harus kembali sendiri. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang yang kembali dari Pulau Sempu dan saling bertegur sapa. Satu-dua bule terlihat diantara pengunjung yang berpapasan dengan kami di hutan. Ada pengunjung yang menginap, ada juga yang hanya melihat-lihat dan kembali. (Dalam hati aku berpikir, apa nggak gempor kakinya bolak-balik Pulau Sempu dalam sehari?). Trek jalan menuju Pulau Sempu naik turun, kadang ada akar-akar pohon yang melintang di tengah jalan. Namun karena sedang musim kemarau, kami bisa melihat jejak-jejak bekas orang-orang melintas di jalan.
Kami sudah semakin dekat dengan pantai Segara Anakan, dari celah-celah pohon terlihat air jernih berwarna biru kehijauan. Terpikir olehku untuk langsung terjun aja dari atas tebing supaya nggak perlu jauh-jauh muter ke Pantai, tapi kuurungkan niat itu karena takut ransel basah dan mengingat aku nggak bisa berenang.
Trek semakin curam saat mendekati pantai, jalannya juga semakin sempit. Kalau nggak hati-hati, bisa aja terpeleset dan langsung jatuh ke laut di bawah tebing. Sesekali juga kami harus berhenti jalan karena bergantian jalan dengan orang-orang yang kembali dari Segara Anakan.
Segara Anakan adalah pantai yang unik karena seolah-olah laut yang berada di tengah-tengah daratan Pulau Sempu. Air yang mengalir ke Segara Anakan berasal dari laut di sebelah luar Pulau Sempu, yang masuk melalui teluk kecil. Karena Pulau Sempu memang hutan konservasi, maka pulau ini nggak berpenghuni, sehingga Segara Anakan masih baguus banget dan alami banget.
Berhubung kami sampainya sudah sore, kami mengurungkan niat untuk berenang karena kata guide airnya asin dan kami bisa gatal-gatal semalaman karena nggak ada air tawar untuk berenang. Yaudah kami mendirikan tenda, mempersiapkan base camp. Karena tak bisa menahan godaan air biru, kami bermain ombak di pinggiran pantai.
Malam tiba, segala sesuatu jadi gelaap banget. Nggak ada penerangan sama sekali kecuali dari lampu badai milik pengunjung yang berkemah. Mau internetan nggak bisa karena sama sekali nggak ada sinyal di Pulau Sempu. Mau makan nggak ada tukang jualan popmie yang lewat (menurut ngana?). Mau buang air kecil pun ditahan-tahan karena WCnya "alami" banget. Akhirnya kami menghabiskan waktu dengan mengobrol sampai mengantuk dan akhirnya nggak ada suara lagi.
Pagi pun tiba, suara deburan ombak membuat kami terbangun. Pemandangan pagi ini super breath-taking. Segera aku dan Camila bersiap-siap untuk nyebur. Namun Noor, Ifah, dan Jay nggak mau berenang dan memilih untuk berfoto-foto di pinggir pantai. Rozak sibuk foto-foto dengan SLR. Aku dan Camila nyebur dengan perasaan bahagia. Camila sempat berenang agak jauh, namun aku yang cupu ini memilih menghanyutkan diri di air dangkal aja. Camila sempat tergoda untuk pergi ke atas tebing dan terjun dari atas seperti orang-orang, tapi akhirnya mengurungkan niatnya.
Saatnya pulang tiba. Dengan berat hati kami berkemas dan melipat tenda-tenda. Kami mengemas semua barang, memastikan tidak ada satupun sampah yang tertinggal. Kami membagikan sisa bekal dan air minum ke orang-orang yang masih stay berkemah di pulau Sempu. Kami pulang mengikuti orang-orang yang ingin kembali ke Segara Anakan, sehingga ada penuntun jalan.
Baru aku rasakan, orang-orang sesama pecinta alam sangat ramah satu sama lain. Mereka baik-baik dan saling menolong. Berulang kali, kami mendapat ajakan untuk bertemu lagi di Mahameru pada tanggal 17 Agustus karena akan diadakan upacara bendera di puncaknya. Berhubung aku pecinta alam pemula, aku hanya tersenyum mendengar ajakan itu sambil dalam hati berharap Umi suatu saat akan membolehkanku pergi ke puncak gunung yang nggak ada villa-nya.
Terima kasih banyak untuk Camila dan Rozak, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau Sempu, pengalaman pertamaku travelling di alam. Kalau bukan karena mereka pasti aku tidak akan berani ke sini *hugss*. Aku berharap, semoga suatu saat nanti aku bisa ke Pulau Sempu lagi dan sudah ada yang menemani *lohh *lohh lohh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar