Selasa, 11 November 2014

Pasukan Langit Rumbel BEM UI

          Ini kisah tentang pengalamanku saat pertama bergabung dengan keluarga baruku: Rumah Belajar BEM UI.

          Sekitar bulan Februari 2014, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi pendidik di Rumbel BEM UI. Rumbel BEM UI adalah rumah belajar yang menampung anak-anak maupun karyawan di sekitar UI dan Depok untuk mendapatkan pelajaran SD, SMP, Paket B, dan Paket C. Kenapa harus Rumbel BEM UI? Sejujurnya, aku berminat untuk mendaftar di Rumbel BEM UI sejak zaman mahasiswa baru, namun dengan berbagai alasan aku tidak pernah bisa untuk mengajar di sana, entah karena sibuk (waktu mahasiswa baru aku ikut 3 organisasi), capek, malas hari sabtu pergi ke kampus, dan alasan-alasan lain. Padahal sebenarnya Rumbel BEM UI tidak terlalu berat, kegiatannya hanya dilakukan seminggu sekali.

         Tahun ini, aku mengenyahkan segala alasan-alasan yang muncul untuk tidak mendaftar Rumbel BEM UI. Akhirnya, aku mendaftarkan diri menjadi pendidik walau aku sebenarnya tidak yakin bakal diterima, hehe. Setelah melewati tahapan wawancara, tak disangka aku terpilih menjadi salah satu bagian dari pasukan langit—julukan bagi para pendidik di Rumbel BEM UI. Selain Pasukan Langit, ada juga Pasukan Awan, yaitu Panitia Rumbel yang mengurus semua kegiatan Rumbel secara keseluruhan.

         Sejujurnya, aku selalu kagum setiap melihat anak-anak Pasukan Langit dan Pasukan Awan Rumbel. Bagiku, mereka terlihat sangat sabar dan tangguh karena bisa menghadapi berbagai macam tingkah anak-anak. Bayangkan saja, anak-anak SD dan SMP yang kami ajar sangat aktif berlari-lari dan menjerit-jerit. Jika tidak kuat menghadapi mereka, bisa-bisa stress sendiri.

        Di Rumbel, aku masih harus belajar banyak. Sebelumnya, aku biasa mengajar anak-anak SMA di Mabit Nurul Fikri. Jelas, berbeda sekali tantangannya mengajar anak-anak SMA dibandingkan mengajar anak-anak SD dan SMP yang nggak bisa diam. Belum apa-apa, sudah berkecamuk sejuta kecemasan di pikiranku. Duh, gimana ya kalo gue ngajarnya ngebosenin? Gimana cara menghadapi anak yang nakal? Gimana kalo nggak ada yang ngerti apa yang gue ajarin?

         Suatu ketika, aku mendapat tugas mengajar IPS untuk anak-anak kelas 3 dan 4 SD. Sebelumnya aku pernah mengajar, tapi yang kelas 1,2 SD dan 1,2 SMP. Mata ajar yang diberikan oleh Kak Rizky, wali kelasnya kelas 3 dan 4 kebetulan tentang Jual-Beli dan Alat Tukar. Otakku berputar mencari metode mengajar yang asyik buat anak SD. Tapi, sampai sehari sebelum waktu mengajar, belum ada ide apa-apa di benakku. Lalu aku teringat, waktu hari Rabu aku pulang ke Tangerang dan menemukan sebuah benda lucu di toko souvenir. Tau mesin penjual permen karet yang ada di luar negeri kan? Yap, mesin yang biasanya dimasukkin koin terus tuasnya diputar, untuk ngeluarin permen karet. Waktu ngeliat mesin seukuran mug itu, aku terpekik gemas dan bertekad, gue-nggak-akan-pulang-sebelum-beli-mainan-itu. Walaupun diledek oleh adik-adik dan kakak-kakakku, akhirnya aku beli juga mesin itu.

Unyu kan?

Apa hubungannya mesin permen sama Rumbel? Nah, rencananya, aku mau membuat games berhadiah permen. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan yang aku kasih, dapat kesempatan memutar tuas mesin itu sekali untuk mendapatkan permen sebagai reward. Namanya juga anak-anak, pasti mereka senang bisa main sambil belajar, pikirku.

        Hari sabtu, aku membeli dua bungkus permen cha-cha untuk mengisi mesin itu. Pertama-tama, aku harus mengajari anak-anak kelas 4 SD. Sesampainya di Rumbel, tepatnya di PKM lantai 2, ada beberapa anak yang sudah menunggu. Aku tersenyum dan mengajak mereka berkenalan satu-persatu. Kebanyakan murid-murid kelas 4 SD adalah perempuan, cuma satu orang laki-lakinya. Aku bernafas lega. Bukan apa-apa, kebanyakan anak cowok SD yang kukenal adalah trouble maker. *stereotipe banget sih fah*

         Aku menjelaskan kepada mereka tentang alat jual beli dan alat tukar yang ada di masyarakat dan ciri-cirinya. 
“Di sini siapa yang suka jajan?”
“Aku kak, aku kak!” Beberapa anak langsung mengangkat tangannya, beberapa lainnya masih malu-malu.
“Di mana biasanya kalian jajan?”
“Di Mall kaak.”
“Di warung.”
“Di Indomaret.”
“Coba, kakak mau denger kalian cerita satu-satu, kalian pernah jajan di mana, apa yang kalian beli? Terus, biasanya kalian bayar pakai uang receh, uang kertas, atau kartu kredit?”

          Beberapa anak  menjawab pertanyaanku dengan antusias. Ada satu anak dengan rambut dikuncir dua yang super antusias (sayangnya aku lupa namanya. Aku memang bukan pengingat yang baik, hiks.) sampai-sampai suara beberapa anak yang lain menjadi teredam. Anak-anak seperti ini selalu membuatku merasa gembira, jarang-jarang loh ada anak SD yang berani seperti dia. Namun aku juga memperhatikan ada seorang anak berkacamata yang pendiam dan jarang menjawab, makanya kucoba memberikan kesempatan lebih baginya untuk menjawab.

        Tiba saatnya kuis. Di papan tulis, aku menggambar panel 10x10 yang berisi huruf-huruf yang sekilas terlihat acak dan tidak berarti apa-apa.
“Nah ade-ade, coba cari nama-nama tempat melakukan jual-beli. Yang duluan nemu angkat tangan, ceritain ke kakak apa yang kalian tahu tentang tempat jual beli itu. Yang bisa jawab,” aku mengangkat mesin permen dan menggoyang-goyangkannya di depan mereka. “Dapat kesempatan untuk memutar tuas mesin ini dan mengambil permennya!”
“Aku kak, aku kak!” Mata mereka berbinar-binar, siap untuk menjawab.
“Oke, siapa yang mau jawab pertama!”

        Tidak lama kemudian, aku sudah asyik bermain dengan anak-anak kelas 4 SD. Mereka pun sudah tidak malu-malu lagi untuk menjawab pertanyaan. Aku mengajak mereka membentuk kelompok untuk bergantian berdialog memperagakan proses transaksi jual-beli, dan kelompok lainnya kuminta untuk menebak tempat jual-beli dilakukan dan alat transaksi apa yang digunakan. Mereka mengikuti pelajaran dengan semangat. Mereka terpekik kegirangan saat mendapatkan kesempatan menggunakan mesin permen dan mengambil permen cha-cha di dalamnya.

Setelah selesai mengajar, aku bersiap-siap memberikan materi yang serupa di kelas 3 SD. Saat aku mengakhiri kelas, beberapa anak bertanya, “Kakak kapan lagi ngajar kita?” Sejujurnya, hatiku berbunga-bunga mendengar pertanyaan itu. Apakah ini artinya aku berhasil merebut hati mereka?

          Another class, another challange.
Waktu aku mendatangi kelas 3 yang letaknya di bawah pohon, situasi chaos sudah menyambutku. Beberapa anak laki-laki sedang kejar-kejaran dan guling-gulingan. Sementara di sudut sana, kulihat Kak Rizky sedang membujuk seorang anak perempuan berkerudung. Tak jauh dari anak berkerudung itu, seorang anak cantik berambut panjang sedang memunggunginya sambil cemberut. Tangannya disilangkan di depan dada.

         Kak Rizky menghampiriku, “Fah, ini di kelas 3 lagi ada yang berantem, Sita sama Siti. Kamu tolong bantu mereka buat berbaikan, ya?”
Aku mengangguk, walaupun aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mendamaikan mereka. Selama ini, kelas yang kuajar belum pernah ada dinamika di muridnya.

         “Kak, itu isinya permen ya? Mau dong!” Beberapa orang anak menunjuk-nunjuk mesin permen yang kubawa.
“Boleh, tapi nanti ya abis jawab soal.” Aku memasukkan mesin permen itu ke dalam tas-ku.

        Aku mulai memberikan materi yang sama dengan materi kelas 4. Namun, berbeda dengan kelas sebelumnya, kali ini tidak ada yang memperhatikanku. Sita dan Siti bertengkar, duduk berjauhan dan saling memunggungi satu sama lain. Dua orang anak cowok saling memukul sambil berguling-guling. Dua orang yang lain berkejar-kejaran. Sisa anak yang ada perhatiannya teralihkan karena menonton anak-anak yang berkelahi. Suasana chaos.

         Aku berusaha menarik perhatian mereka, namun hanya sebagian anak yang memperhatikan materi yang kuberikan. Anak-anak lainnya sudah tidak fokus. Aku menghela nafas panjang, merasa pusing. Aku berusaha memanggil anak-anak yang sibuk sendiri, namun aku diacuhkan.

       Akhirnya aku menuliskan soal-soal untuk bermain kuis di papan tulis. Salah satu anak berusaha mengintip kunci jawabannya, sehingga aku menyingkir untuk menuliskan soal di papan tulis.
Saat aku berbalik, tak kusangka salah satu anak, sebut saja Aril, sudah membongkar tasku dan mengambil mesin permenku. Ia memutar mesinnya dan mengambil permen dari dalamnya.
Emosiku sudah tidak dapat dibendung lagi. Tidak sopan, dan aku merasa privasiku dilanggar karena tasku dibuka-buka sembarangan.
Aku bergegas menghampiri mereka dan mengambil mesin permen itu. “Oke, adik-adik.” Aku tak dapat menahan nada marah dalam suaraku, “Yang nggak mau belajar, nggak usah di sini. Kalian main ke lapangan aja, jangan ganggu teman-teman yang mau belajar!”
Semua anak terdiam. Tidak ada yang bersuara. Mungkin mereka kaget dengan reaksiku.
Aku merasa menyesal telah marah-marah kepada anak kecil. Suaraku melunak.  “Siapa yang masih mau belajar sama kakak? Kalau masih mau, duduk yang tenang. Kakak janji, abis ini kita main games. Yang masih mau belajar, angkat tangan.”
Semua anak mengangkat tangan. Aku merasa heran, mengapa mereka tiba-tiba jinak? Syukurlah.

         Akhirnya aku melanjutkan pelajaran dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tak disangka, Aril yang membuatku marah-marah ternyata pintar dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan. Mungkin ia merasa bersalah telah membuatku marah, dan bertekad menebusnya dengan mengikuti pelajaran sebaik mungkin. Aku mengapresiasinya, dan tidak segan memujinya ketika ia menjawab dengan baik.

        Waktu belajar sudah selesai. Aku mengakhiri pelajaran dengan berdoa bersama. Satu persatu anak-anak berpamitan kepadaku, dan beberapa orang bertanya, “Kakak minggu depan ngajar kita lagi kan?”. Aku hanya tersenyum.

        Pengalamanku mengajar di kelas yang berisi anak-anak aktif dan sulit diatur sangat berkesan. Ternyata, untuk dapat mengendalikan anak-anak, kita harus meraih hati mereka terlebih dahulu. Jika mereka sudah menganggap kita sebagai teman, mereka akan percaya dengan kita dan menuruti nasehat kita.

       Setiap kali aku bertemu dengan anak-anak kelas 3, mereka mengenaliku dan selalu menyalamiku. Terkadang saat aku sedang mengajar di kelas lain, mereka ikut bergabung karena ingin diajar olehku. Sungguh, aku terharu dengan tingkah mereka. Aku merasa menyesal pernah marah-marah kepada anak-anak lucu ini.

        Menjadi Pasukan Langit Rumbel BEM UI memberiku pengalaman tak terlupakan. Dulu kupikir, aku bisa memberikan banyak hal untuk anak-anak di Rumbel BEM UI. Namun ternyata, mereka memberiku lebih banyak dari yang kuberikan kepada mereka. Karena mereka, aku belajar bersabar. Aku belajar untuk mencoba memahami anak-anak. Aku belajar untuk menjadi teladan yang baik karena mendapat teguran dari celotehan polos mereka, misalnya “Kak Iffah kok minumnya sambil berdiri?”. Aku belajar untuk memberi tanpa mengharap balas jasa apapun, hanya senyum anak-anak itu yang membuat hilang rasa lelahku karena mengajar anak-anak aktif seharian.

Iffah bersama bocil-bocil


Pengalamanku menjadi Pasukan Langit yang berkesan kemudian membawaku menjadi Pasukan Awan.

Tapi, itu cerita yang lain :)

Rabu, 23 Juli 2014

Kampung Inggris (2)


Program camp di Kampung Inggris setiap malam menurutku lumayan seru. Hari selasa, tiga orang speaker wajib presentasi di camp masing-masing. Topiknya bebas, yang penting dalam bahasa Inggris. Rabu, kita berkumpul di camp pusat, gabung laki-laki dan perempuan, untuk debat. Selain debat, hari rabu adalah hari hukuman buat pelanggar aturan terbanyak di camp. Yang melanggar wajib speaking, dan harus di depan gerombolan camp lawan jenisnya. Pelanggar terbesar wajib speaking di tengah-tengah aula dengan microphone. Hari kamis adalah hari wajib baca yasin, dan salah satu murid dipilih untuk pidato dalam bahasa Indonesia di depan teman-teman.
Aku selalu bersemangat mengikuti semua program camp, hitung-hitung sambil belajar. Alhamdulillah selama di pare, ada aja kesempatan untuk mencoba semua program camp. Aku kebagian tugas presentasi hari selasa, dalam dua kali sesi debate pun aku menjadi speaker. Di dalam beberapa kesempatan, aku mencoba jadi peserta yang paling aktif dan menonjol, walaupun bahasa inggris masih belepotan. Soalnya kupikir, udah jauh-jauh ke Pare, sayang banget kalau aku nggak memanfaatkan setiap kesempatan sebaik-baiknya, apalagi waktu yang kupunya cuma dua minggu. Yah, sejujurnya nggak semua speech atau debate yang kujalani berjalan sukses, tapi at least aku sudah berani mencoba :)
Camila dan beberapa anak di camp mendapat tugas sebagai Miss Punishment. Tugasnya, mencatat setiap pelanggaran bahasa yang dilakukan oleh anak-anak, dan menuliskannya di papan punishment beserta jumlah denda-nya. Yang membuatku terkadang terheran-heran, nominal denda-ku di papan punishment setiap hari bertambah. Kok mereka tau ya kalau aku diam-diam suka ngobrol pake bahasa Indonesia?
Apa Camila yang ngelaporin? Huahahaha tidaak mungkiin. Soalnya, aku biasanya seenaknya ngobrol bahasa Indonesia di kamar bareng Camila dan Liv. Dengan pintu tertutup tentunya, takut Miss Punishment yang lain denger. Kita berdua sudah kongkalingkong, Camila nggak akan melaporkan aku dan aku nggak akan melaporkan Camila (nepotisme ceritanya, hahaha). Buat Camila, ancaman itu lebih menakutkan karena jika Miss Punishment melanggar, denda mereka dua kali lipat.
Hari demi hari, tumpukan denda kita semakin bertambah. Iya, karena mungkin banyak yang nge-gap kita ngobrol pakai bahasa Indonesia. Puncaknya di Rabu berikutnya, aku, Camila, dan Liv terpilih jadi terhukum yang wajib speaking saat agenda camp bersama.
Aku dibawa oleh mentor camp ke sebuah sudut, dan ia menyuruhku speech di tengah-tengah gerombolan cowok-cowok. Mereka menyorakiku, mungkin kegirangan ada bahan untuk diledekin. Perasaan grogi merambatiku, maklum aja, speaking di depan cewek aja terkadang aku masih grogi, apalagi di depan gerombolan cowok-cowok yang memasang wajah iseng ini.
Aku mulai membuka mulut, memaparkan speech-ku yang berisi kampanye untuk tidak Golput dalam pemilihan presiden. Dalam bahasa Inggris, tentunya. Muka-muka iseng tadi berubah menjadi bengong, setengah menganga.
Rasain, nggak ngerti kan gue ngomong apa. Makanya jangan main-main sama anak hukum. Batinku.
Setelah speech, berlangsung tanya jawab antara aku dan audiens-ku. Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan kosakata yang masih pas-pas-an. Setelah selesai, buru-buru aku hengkang dari hadapan mereka sebelum diledekin lagi.
Selama di Pare, aku, Camila, dan Liv memutuskan untuk menjadi anak yang ambisius. Ya iyalah, Cuma dua minggu ini, nanggung kalau nggak ambi, pikirku. Setiap malam setelah selesai acara camp, kita mencari cafe-cafe untuk latihan soal-soal TOEFL sambil makan malam. Begitu juga di setiap waktu luang, kita menyempatkan untuk belajar bersama. Keambisiusan kita membawa hasil, setidaknya nilai TOEFL kita lumayan bagus. Aku mencapai nilai TOEFL tertinggi 600, Camila 500-an, Liv 400-an (yang sebenarnya gede banget, mengingat Liv baru lulus SMP). Kita ambi dan kita bangga!
Oh iya, ada satu hal yang sangat kucinta dari Kampung Inggris. Apa itu? Makanan di sini murah-murah banget suer nggak bohong. Suatu ketika, aku menyantap menu ayam penyet + nasi + telur + minuman, harganya Cuma sepuluh ribu. Mungkin murah atau mahal itu relatif buat semua orang, namun buatku yang tinggal di Jakarta dan biasa makan di kantin FH yang sekali makan bisa 20 ribuan, harga segitu benar-benar bikin terharu. Setiap malam, kita makan di tempat yang berbeda-beda, namun nggak ada yang menguras kantong. Jajan paling hedon aja cuma abis 15 ribu. Menu favoritku di Pare adalah ayam penyet, tempe penyet, dan telur penyet, pokoknya segala sesuatu yang dipenyet deh. Hidup makanan Pare yang murah dan enak!
Oh iya, cuaca di Pare sangat nggak enak, khususnya buat perempuan. Pertama, mataharinya terik sepanjang waktu. Jadi yang nggak mau item, sedia aja alat-alat pelindung dari matahari kayak sunblock, masker, sarung tangan, dan topi lebar. Jangan khawatir, di Pare banyak yang jual barang-barang tersebut dengan harga terjangkau. Selain itu, udaranya kering dan berpasir. Seringkali, kita cewek-cewek harus sering keramas karena rambut jadi lepek karena udara yang kering dan berpasir itu.  
Overall, selama di Pare, banyak pengalaman yang meningkatkan skill bahasa Inggris-ku. Jadi, kalau misalnya ada yang nanya, “Fah, belajar bahasa Inggris di Pare ngaruh nggak sih?”, gue akan jawab, “Bagi gue, sangat ngaruh.” Setidaknya walaupun aku belajar di Pare Cuma dua minggu, atmosfir berbahasa Inggris yang dibangun berhasil membuat gue berani untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Dulu, cuma ngeliat baris-baris tulisan berbahasa inggris aja aku udah alergi duluan, nggak sanggup bacanya. Sekarang, aku bahkan bisa melahap novel-novel dan buku berbahasa Inggris. Dulu, kalau denger listening bahasa Inggris atau orang bule ngomong, rasanya kayak denger orang kumur-kumur. Sekarang, aku bisa menonton puluhan series HIMYM tanpa subtitle.
Sejujurnya, masih ada satu kekuranganku, yaitu aku masih kagok speaking dalam bahasa Inggris. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan ke Kampung Inggris lagi untuk meningkatkan skill speaking-ku. Pare, wait for me! :)

Senin, 14 Juli 2014

Kampung Inggris (1)


Halo everybadeh! Aku akan bercerita pengalamanku jalan-jalan ke Jawa untuk menuntut ilmu di kampung Inggris (lebay deh padahal cuma dua minggu).
Seumur ini, aku belum bisa fasih berbicara bahasa inggris. Padahal, diam-diam (kalo diceritain kayaknya bukan diam-diam, tapi yasudahlah) aku menyimpan cita-cita untuk ambil S2 di eropa. Dan syarat beasiswa sekarang menuntut nilai TOEFL yang besar, kira-kira 550. Sementara aku sama sekali belum pernah ikut tes TOEFL dan nggak tau sebesar apa kapasitasku dalam berbahasa Inggris sekarang. Hal ini diperparah dengan tugas-tugas kuliah yang mewajibkan mahasiswa untuk mengambil referensi dari jurnal berbahasa inggris. Belum lagi ujian Kontrak Dagang dan ujian TJP full bahasa Inggris. Dengan skill bahasa inggris selevel google translate yang kumiliki, bisa kebayang nggak apa yang harus kutulis di lembar jawaban?
Sadar bahwa diri ini masih perlu banyak belajar (ciee), aku memutuskan untuk mengambil course bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal sebagai Kampung Inggris. Pare terkenal sebagai Kampung Inggris karena disana buanyaak banget tempat kursus bahasa Inggris. Jadi ibaratnya udah spesialisasi Pare sebagai tempat belajar bahasa inggris, dan konon percakapan di sana sehari-hari juga biasanya pake bahasa inggris (benarkah? We’ll see)
Awalnya, aku berencana untuk ke Pare sendiri, tapi ternyata Muthi mau ikut ke Pare lagi untuk belajar (menurutku Muthi nggak perlu belajar lagi, dia sih bahasa inggrisnya udah level dewa). Ditengah-tengah aku dan Muthi nyusun rencana untuk ke Pare, ternyata Camila juga bilang dia mau ikut ke Pare. Yippie! Three Idiots goes to Java!
Sebelumnya, Camila sama Muthi juga udah pernah ke Pare, jadi mereka tau kurang lebih ngapain aja di sana. Tapi Camila udah jelasin dari awal bahwa jangan berekspektasi terlalu tinggi untuk Kampung Inggris, soalnya Pare emang tempat orang-orang belajar. Artinya, orang yang udah jago bahasa Inggris bisa jadi akan sangat bosan di Pare karena belajarnya nggak selevel. Tapi buat aku sih nggak apa-apa kakak, berhubung my english is poor. VERY POOR.
Jadi kita susun rencana untuk ke Kampung Inggris bersama-sama, nggak sabar menanti-nanti UAS berakhir dan segera cabut ke Jawa. Tiket udah dibeli, rencananya tanggal 8 Juni kita mau naik kereta Brantas dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Kediri. Tiketnya murah banget cuma Rp55 ribu, yah itu juga yang ekonomi AC sih. Tapi nggak apa-apalah yang penting bisa sampai ke Kediri dengan cepat murah dan selamat :)
Seminggu sebelum keberangkatan, Muthi membawa berita buruk. Ternyata dia nggak bisa ikut ke Kampung Inggris karena harus nemenin belajar Nisa. Nisa, adek Muthi, akan menghadapi ujian SBMPTN dan SIMAK UI tanggal 17 dan 22 Juni. Dia butuh dukungan materil dan moriil untuk menghadapi ujian yang deketan tanggalnya, jadi Muthi sebagai kakak yang baik harus menemani Nisa. Sadar bahwa Muthi emang diperluin untuk nemenin Nisa belajar, akhirnya kita merelakan Muthi untuk nggak ikut. Rencana diubah, jadinya cuma aku dan Camila yang berangkat.
Minggu tanggal 8 Juni, aku dan Camila janjian bertemu di stasiun Pasar Senen. Muthi datang juga untuk mengantar kita berdua. Setelah dadah-dadahan, kita pun menaiki kereta Brantas jurusan Stasiun Kediri. Kereta berangkat jam 16.00 hari minggu dan sampai di Kediri jam 04.00 pagi hari seninnya. Bisa dibayangkan gimana keadaan badan kita, selama 12 jam duduk di kursi kereta yang keras itu. Turun di stasiun kediri, kita langsung sholat subuh. Di stasiun Kediri, kita bertemu banyak anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang juga mau belajar di Kampung Inggris. Di luar stasiun, sudah ada travel yang menjemput kita dari eureka. Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya sampailah kita di Pare alias Kampung Inggris! *jengjeng*
Kampung Inggris sebenarnya nggak gede-gede banget, kira-kira Cuma beberapa blok rumah-rumah warga. Tapi yang bikin Pare terkenal dengan Kampung Inggrisnya karena di setiap jalan berjejer tempat-tempat les, dari bahasa inggris, bahasa arab, sampai bahasa korea ada. Cuma mayoritas tempat les yang ada emang spesialisasinya bahasa inggris. Sebaiknya kalau mau ke Pare googling dulu tempat les apa yang bagus, karena tempat les punya spesialisasinya masing-masing bagus di bidang apa. Misalnya, untuk Speaking, tempat les yang terkenal bagus adalah Mr Bob dan Daffodil.
Sebelum berangkat ke Pare, aku dan camila udah reservasi paket di tempat les Global English. Kita pilih paket camp 2 minggu dan dua program di Global English. Aku ambil kelas TOEFL dan Speaking. Kelas Speaking di Global English ada beberapa tingkatan, mulai dari Pre-Speaking sampai Speaking 5. Untuk tahu kita akan ditempatkan di kelas yang mana, akan ada tes lisan sama tutor sebelum masuk kelas. Sementara Camila, karena emang bahasa Inggris dia lebih jago daripada aku, dia mengambil kelas TOEFL dan Job Interview. Selain di Global English, aku mengambil kelas tambahan pronounciation di Mr Bob, dan Camila mengambil kelas Writing Academic di TEST.
Habis daftar, kita tes lisan sama tutor Global English. Aku dan Camila masing-masing berhadapan dengan seorang tutor. Pertama-tama, tutor itu menanyakan hal-hal dasar tentang aku, misalnya asalnya darimana, hobinya apa, dan lain-lain. In english, off course.
“Miss Iffah, I want to asking you, what’s your opinion about death penal for corruptor?” Mister yang mewawancaraiku bertanya.
Awalnya aku terbengong-bengong, tidak mengerti apa yang dia maksud dengan ‘Death Penal’. Setelah Mister-nya mengisyaratkan potong leher, barulah aku menangkap apa yang dia maksud.
“Well, as we know, some countries using death penal as a punishment for corruptor. For example China, and in China, that punishment can be implied effectively. But I think, we can’t use death penal for corruptor in Indonesia. Why? Because, in Indonesia, sometimes the person which is being accused as a corruptor actually isn’t an actor intelectual, but they just help the real corruptor. Or maybe, the corruptor doing corrupt because their party ask them to gathering money. Corruption is a system, someone can’t corrupt by themself. So, I think, death penal can’t be used effectively as punishment for corruptor in Indonesia.” Jawabku dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dan grammar yang berantakan.
Setelah wawancara, Mister memutuskan aku untuk mengikuti kelas Speaking 2. Alhamdulillah, bukan pre-Speaking, batinku. Lalu kami diberikan jadwal oleh petugas office Global English, dan diberikan peta yang menunjukkan letak kelas-kelas di Global English, yang letaknya tersebar di rumah-rumah penduduk. Kami juga diinformasikan bahwa camp kami terletak di Bakery Danish. Setelah itu, aku dan camila diantar dengan koper masing-masing ke camp kita. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor pusat GE. Aku dan camila sekamar dengan 2 orang lain tetanggaku, yaitu Miss Gita dan Miss Anna.
Oh iya, karena letak tempat-tempat di Pare lumayan jaraknya, untuk transportasi sehari-hari kita menggunakan sepeda. Rental sepeda ada dimana-mana, harga sewanya 80 ribu untuk sebulan. Tapi karena kita di Pare cuma 2 minggu, kita menawar harganya jadi 40 ribu. Sebagai jaminan, setiap peminjam sepeda wajib menitipkan KTPnya. Sepeda kita dikasih kunci, karena katanya sering ada yang kehilangan sepeda.
Di camp, banyak aturan yang dibuat supaya kita bisa lancar berbahasa Inggris. Di camp, kita wajib berbicara full english. Kalau ada yang ketahuan ngomong bahasa Indonesia, didenda seribu per kata. Waduh. Terus gimana kalau mau ngomong tapi nggak tau kata dalam bahasa inggrisnya? Ada magic word, kita bisa pakai kata “how to say”. Misalnya kita mau ngomong “I want take a bath.”, tapi kita nggak tahu bahasa Inggrisnya mandi. Jadi kita bisa bilang, “I want—how to say—mandi.” Nah, kata “how to say” Cuma berlaku untuk satu kata. Jadi kalo banyak kata-kata yang kita nggak tahu, kita harus ngomong “how to say” per kata. Nah loh.
Camp GE mewajibkan program camp setiap pagi dan setiap malam. Jadi, kita wajib bangun jam 4 pagi, sholat shubuh, lalu menghapalkan expression dan menyetorkan hapalan kita ke tutor di camp. Setelah kegiatan camp, kita dikasih waktu bebas untuk semua aktivitas kita termasuk kursus. Malamnya, kegiatan camp dimulai lagi jam setengah 7 sampai jam 8, lalu habis itu waktu bebas.
Kurang lebih, beginilah jadwalku sehari-hari selama di Pare:
04.00-05.30 Program Camp
05.30-07.00 Istirahat (biasanya aku mandi dan sarapan)
07.00-08.30 Speaking
08.30-11.30 TOEFL
11.30-12.30 Istirahat
12.30-14.00 Pronounciation
14.00-14.30 Istirahat
14.30-16.00 TOEFL
16.30-17.30 Kelas tambahan Speaking
17.30-18.30 Istirahat
18.30-20.00 Program Camp
20.00-21.30 Istirahat
          21.30             Tidur


         (To be continued)

Senin, 17 Februari 2014

Dead(th)line


“Kita semua tau betapa nggak enaknya ngerasain deadline, tapi kenapa kita nggak pernah kapok jadi deadliner?” – Quote by Camila Bani Alawia

Ya, deadliner. Kebiasaan orang yang suka menunda-nunda, mengerjakan mepet tenggat waktu... lalu kelabakan sendiri. Baru-baru ini, aku mengalami deadline yang merenggut waktu dan kebebasanku, dan membuatku membatin... “Ya Allah. Ampuni segala dosa-dosa hamba. Jangan beri hamba cobaan seberat ini :’( “

Begini ceritanya...

Baru-baru ini, aku, Muthi, sama Camila iseng-iseng berhadiah mencoba ikut Lomba yang diadakan oleh Mahkamah Agung. Lomba itu menganalisis putusan-putusan MA yang pernah ada. Dan hadiahnya guedeee banget. Alhasil, banyak banget anak FHUI 2011 yang ikut lombanya. Hari-hari kita mulai diwarnai curiga dan insecure. Setiap kali ngeliat ada anak-anak yang lagi berkumpul dan mengerjakan sesuatu, di otak terbayang perasaan was-was: “Mereka saingan! Kita harus berhati-hati.”

FYI, motivasi kita bertiga untuk mengikuti lomba ini berbeda-beda namun tetap satu:
-                 Mau upgrading diri
-                 Mencoba produktif
-                 Hadiahnya besar, lumayan
-                 Mau menyibukkan diri dengan kegiatan, daripada galau mikirin yang orang yang nggak seharusnya dipikirin *curcol*
-                 Mau membuat seseorang merasa menyesal karena telah meninggalkannya *lahh ini apa?*
Note: Satu orang bisa memiliki 3 alasan sekaligus

Setelah diwarnai perdebatan seru, kita mulai mengerjakan lombanya. Kita mulai ngerancang ini dari jaman liburan, kira2 ada sebulan sebelum deadline. Nyatanya? Ngerjainnya mepet-mepet deadline juga sih *merunduk malu*
Oh iya, selain lomba ini, gue sama camila juga ikut lomba lain namun dengan kelompok yg berbeda. Gue sama Adlul Ghaida, Camila sama Mbak Rana dan Mbak Gusva. Dan bayangkan saudara-saudara, dua lomba ini memiliki deadline yang cuma berbeda satu hari. Kalau dipikir-pikir nekat juga ya kita, berani mengambil dua lomba yang deadlinenya deketan. Tau sendiri orang Indonesia deadliner.

Alhasil, selama dua hari kemarin, Iffah begadang di kampus sampai malem dan nginep di rumah Camila. Kira-kira beginilah kronologis kejadian yang merenggut kebebasanku...

Jum’at
Pukul 23.59 adalah deadline essay buat penyisihan olimpiade. Pukul 16.00, Iffah masih ngotak-ngatik essay. Nunggu bahan dari Ghaida sama adlul. Nggak tahu topik essay mau dibawa kemana.
Pukul 18.00, Iffah bertemu kak Jihan. Lalu sempat labil untuk mengganti topik essay. Sayang deadline tidak memungkinkan.
Pukul 19.00, Iffah berkumpul dengan Camila dan Muthi di lobby untuk lomba putusan. Otak masih berusaha berfokus, pindah dari topik ekonomi syariah ke hukum perusahaan. Diskusi hebat, selesai pukul 22.00
Pukul 22.00 malam pulang ke rumah Camilla. Nunggu bahan essay dari adlul. Belum dikirim. Agak-agak hopeless
Pukul 23.40 Adlul mengirimkan bahan. Iffah berusaha mengcompile dengan sekuat tenaga
Pukul 23.59, Yahoo lemot. INNALILLAHI (part 1)

Sabtu
Pukul 00.02, essay baru terkirim.
Setelah hopeless bahwa essay nggak akan diterima, mendadak aku teringat bahwa ada cobaan lebih besar yang sedang menanti. Ya, deadline putusan hari ini.
Pukul 08.00, dapat konfirmasi dari panitia bahwa soal babak penyisihan olimpiade udah dikirim. Waktu deadline pengumpulan soal jam 21.00. Seneng karena essay diterima, insecure karena nanti malam adalah deadline putusan.
Lupa pukul berapa, ngerjain soal penyisihan olimpiade bareng Adlul Ghaida di kampus sampai jam 6. Memutuskan untuk multitasking ngerjain soal olim karena harus ngumpul bareng Muthi Camila
Pukul 19.00, makan dulu. Masih santai.
Pukul 20.00, masih bisa ketawa-tawa. Mushola Alfath kita jadikan basecamp
Pukul 20.40, baru inget bahwa deadline soal Olim jam 9. Kirain jam 23.59. Mengebut mengerjakan soal.
Pukul 20.59, soal olimp sent.
Pukul 21.30, masih tertawa-tawa, tapi tawa sudah berganti dengan tawa stress. Camila sama Muthi bajak-bajakan di facebook
Pukul 22.00, mulai panik
Pukul 23.30, mulai berantem
Pukul 23.40, listrik di FH mati termasuk wi-fi. INNALILLAHI (part 2)
Pukul 23.50, panik menjalar. Nggak ada wi-fi, akhirnya tethering dari HP camila.
Pukul 23.55, batre laptop camila yang menyimpan semua berkas udah low. Dan listrik masih mati. INNALILLAHI (part 3)
Pukul 23.58, berhasil mengejar deadline. Sent.

Hikmah dari semua ini, aku belajar: Deadliner adalah salah satu kebiasaan yang dapat memicu serangan jantung. Selain itu, jadi deadliner nggak Cuma ngerugiin diri sendiri, tapi bisa ngerugiin banyak orang, apalagi kalau kamu bekerja dalam tim.
Intinya satu: Jangan sampe jadi deadliner lagi, faaah!

Eh, btw belum ngerjain tugas filhum buat dikumpul besok nih. Udah dulu yaa *plaaak*
Sekian dan terima kasih,
Wassalamualaikum wr. wb