Halo
everybadeh! Aku akan bercerita pengalamanku jalan-jalan ke Jawa untuk menuntut
ilmu di kampung Inggris (lebay deh padahal cuma dua minggu).
Seumur ini, aku
belum bisa fasih berbicara bahasa inggris. Padahal, diam-diam (kalo diceritain
kayaknya bukan diam-diam, tapi yasudahlah) aku menyimpan cita-cita untuk ambil
S2 di eropa. Dan syarat beasiswa sekarang menuntut nilai TOEFL yang besar,
kira-kira 550. Sementara aku sama sekali belum pernah ikut tes TOEFL dan nggak
tau sebesar apa kapasitasku dalam berbahasa Inggris sekarang. Hal ini
diperparah dengan tugas-tugas kuliah yang mewajibkan mahasiswa untuk mengambil
referensi dari jurnal berbahasa inggris. Belum lagi ujian Kontrak Dagang dan
ujian TJP full bahasa Inggris. Dengan skill bahasa inggris selevel google
translate yang kumiliki, bisa kebayang nggak apa yang harus kutulis di lembar
jawaban?
Sadar bahwa
diri ini masih perlu banyak belajar (ciee), aku memutuskan untuk mengambil
course bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal sebagai Kampung Inggris.
Pare terkenal sebagai Kampung Inggris karena disana buanyaak banget tempat
kursus bahasa Inggris. Jadi ibaratnya udah spesialisasi Pare sebagai tempat
belajar bahasa inggris, dan konon percakapan di sana sehari-hari juga biasanya
pake bahasa inggris (benarkah? We’ll see)
Awalnya, aku
berencana untuk ke Pare sendiri, tapi ternyata Muthi mau ikut ke Pare lagi
untuk belajar (menurutku Muthi nggak perlu belajar lagi, dia sih bahasa
inggrisnya udah level dewa). Ditengah-tengah aku dan Muthi nyusun rencana untuk
ke Pare, ternyata Camila juga bilang dia mau ikut ke Pare. Yippie! Three Idiots
goes to Java!
Sebelumnya,
Camila sama Muthi juga udah pernah ke Pare, jadi mereka tau kurang lebih
ngapain aja di sana. Tapi Camila udah jelasin dari awal bahwa jangan
berekspektasi terlalu tinggi untuk Kampung Inggris, soalnya Pare emang tempat
orang-orang belajar. Artinya, orang yang udah jago bahasa Inggris bisa jadi
akan sangat bosan di Pare karena belajarnya nggak selevel. Tapi buat aku sih
nggak apa-apa kakak, berhubung my english is poor. VERY POOR.
Jadi kita susun
rencana untuk ke Kampung Inggris bersama-sama, nggak sabar menanti-nanti UAS
berakhir dan segera cabut ke Jawa. Tiket udah dibeli, rencananya tanggal 8 Juni
kita mau naik kereta Brantas dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Kediri.
Tiketnya murah banget cuma Rp55 ribu, yah itu juga yang ekonomi AC sih. Tapi
nggak apa-apalah yang penting bisa sampai ke Kediri dengan cepat murah dan
selamat :)
Seminggu
sebelum keberangkatan, Muthi membawa berita buruk. Ternyata dia nggak bisa ikut
ke Kampung Inggris karena harus nemenin belajar Nisa. Nisa, adek Muthi, akan
menghadapi ujian SBMPTN dan SIMAK UI tanggal 17 dan 22 Juni. Dia butuh dukungan
materil dan moriil untuk menghadapi ujian yang deketan tanggalnya, jadi Muthi
sebagai kakak yang baik harus menemani Nisa. Sadar bahwa Muthi emang diperluin
untuk nemenin Nisa belajar, akhirnya kita merelakan Muthi untuk nggak ikut.
Rencana diubah, jadinya cuma aku dan Camila yang berangkat.
Minggu tanggal
8 Juni, aku dan Camila janjian bertemu di stasiun Pasar Senen. Muthi datang
juga untuk mengantar kita berdua. Setelah dadah-dadahan, kita pun menaiki
kereta Brantas jurusan Stasiun Kediri. Kereta berangkat jam 16.00 hari minggu
dan sampai di Kediri jam 04.00 pagi hari seninnya. Bisa dibayangkan gimana
keadaan badan kita, selama 12 jam duduk di kursi kereta yang keras itu. Turun di
stasiun kediri, kita langsung sholat subuh. Di stasiun Kediri, kita bertemu
banyak anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang juga mau belajar di
Kampung Inggris. Di luar stasiun, sudah ada travel yang menjemput kita dari
eureka. Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya sampailah kita di Pare
alias Kampung Inggris! *jengjeng*
Kampung Inggris
sebenarnya nggak gede-gede banget, kira-kira Cuma beberapa blok rumah-rumah
warga. Tapi yang bikin Pare terkenal dengan Kampung Inggrisnya karena di setiap
jalan berjejer tempat-tempat les, dari bahasa inggris, bahasa arab, sampai
bahasa korea ada. Cuma mayoritas tempat les yang ada emang spesialisasinya
bahasa inggris. Sebaiknya kalau mau ke Pare googling dulu tempat les apa yang
bagus, karena tempat les punya spesialisasinya masing-masing bagus di bidang
apa. Misalnya, untuk Speaking, tempat les yang terkenal bagus adalah Mr Bob dan
Daffodil.
Sebelum
berangkat ke Pare, aku dan camila udah reservasi paket di tempat les Global
English. Kita pilih paket camp 2 minggu dan dua program di Global English. Aku ambil
kelas TOEFL dan Speaking. Kelas Speaking di Global English ada beberapa
tingkatan, mulai dari Pre-Speaking sampai Speaking 5. Untuk tahu kita akan
ditempatkan di kelas yang mana, akan ada tes lisan sama tutor sebelum masuk
kelas. Sementara Camila, karena emang bahasa Inggris dia lebih jago daripada
aku, dia mengambil kelas TOEFL dan Job Interview. Selain di Global English, aku
mengambil kelas tambahan pronounciation di Mr Bob, dan Camila mengambil kelas
Writing Academic di TEST.
Habis daftar,
kita tes lisan sama tutor Global English. Aku dan Camila masing-masing
berhadapan dengan seorang tutor. Pertama-tama, tutor itu menanyakan hal-hal dasar
tentang aku, misalnya asalnya darimana, hobinya apa, dan lain-lain. In english,
off course.
“Miss Iffah, I
want to asking you, what’s your opinion about death penal for corruptor?” Mister
yang mewawancaraiku bertanya.
Awalnya aku
terbengong-bengong, tidak mengerti apa yang dia maksud dengan ‘Death Penal’. Setelah
Mister-nya mengisyaratkan potong leher, barulah aku menangkap apa yang dia
maksud.
“Well, as we
know, some countries using death penal as a punishment for corruptor. For example
China, and in China, that punishment can be implied effectively. But I think,
we can’t use death penal for corruptor in Indonesia. Why? Because, in
Indonesia, sometimes the person which is being accused as a corruptor actually
isn’t an actor intelectual, but they just help the real corruptor. Or maybe,
the corruptor doing corrupt because their party ask them to gathering money. Corruption
is a system, someone can’t corrupt by themself. So, I think, death penal can’t
be used effectively as punishment for corruptor in Indonesia.” Jawabku dengan
bahasa Inggris yang terpatah-patah dan grammar yang berantakan.
Setelah wawancara,
Mister memutuskan aku untuk mengikuti kelas Speaking 2. Alhamdulillah, bukan pre-Speaking, batinku. Lalu kami diberikan
jadwal oleh petugas office Global English, dan diberikan peta yang menunjukkan
letak kelas-kelas di Global English, yang letaknya tersebar di rumah-rumah
penduduk. Kami juga diinformasikan bahwa camp kami terletak di Bakery Danish. Setelah
itu, aku dan camila diantar dengan koper masing-masing ke camp kita. Letaknya tidak
terlalu jauh dari kantor pusat GE. Aku dan camila sekamar dengan 2 orang lain
tetanggaku, yaitu Miss Gita dan Miss Anna.
Oh iya, karena letak
tempat-tempat di Pare lumayan jaraknya, untuk transportasi sehari-hari kita
menggunakan sepeda. Rental sepeda ada dimana-mana, harga sewanya 80 ribu untuk
sebulan. Tapi karena kita di Pare cuma 2 minggu, kita menawar harganya jadi 40
ribu. Sebagai jaminan, setiap peminjam sepeda wajib menitipkan KTPnya. Sepeda kita
dikasih kunci, karena katanya sering ada yang kehilangan sepeda.
Di camp, banyak
aturan yang dibuat supaya kita bisa lancar berbahasa Inggris. Di camp, kita
wajib berbicara full english. Kalau ada yang ketahuan ngomong bahasa Indonesia,
didenda seribu per kata. Waduh. Terus gimana kalau mau ngomong tapi nggak tau
kata dalam bahasa inggrisnya? Ada magic word, kita bisa pakai kata “how to say”.
Misalnya kita mau ngomong “I want take a bath.”, tapi kita nggak tahu bahasa
Inggrisnya mandi. Jadi kita bisa bilang, “I want—how to say—mandi.” Nah, kata “how
to say” Cuma berlaku untuk satu kata. Jadi kalo banyak kata-kata yang kita
nggak tahu, kita harus ngomong “how to say” per kata. Nah loh.
Camp GE
mewajibkan program camp setiap pagi dan setiap malam. Jadi, kita wajib bangun
jam 4 pagi, sholat shubuh, lalu menghapalkan expression dan menyetorkan hapalan
kita ke tutor di camp. Setelah kegiatan camp, kita dikasih waktu bebas untuk
semua aktivitas kita termasuk kursus. Malamnya, kegiatan camp dimulai lagi jam setengah
7 sampai jam 8, lalu habis itu waktu bebas.
Kurang lebih,
beginilah jadwalku sehari-hari selama di Pare:
04.00-05.30
Program Camp
05.30-07.00
Istirahat (biasanya aku mandi dan sarapan)
07.00-08.30
Speaking
08.30-11.30
TOEFL
11.30-12.30
Istirahat
12.30-14.00
Pronounciation
14.00-14.30
Istirahat
14.30-16.00
TOEFL
16.30-17.30
Kelas tambahan Speaking
17.30-18.30
Istirahat
18.30-20.00
Program Camp
20.00-21.30
Istirahat
21.30
Tidur
(To be continued)
Kalau ke pare daftarnya apa harus online?
BalasHapus