Baran adalah sebuah kisah cinta yang berlatar belakang di Iran, dengan melibatkan Afghanistan yang pada saat itu sedang mengalami konflik di negaranya. Salah satu yang terkena dampak konflik itu adalah Baran dan keluarganya. Demi mencari nafkah menggantikan ayahnya yang patah tulang, ia rela bekerja di sebuah perusahaan konstruksi, menyamar menjadi seorang anak laki-laki bernama Rahmat. Ia rela walaupun hanya diberi upah minim, karena pekerja Afghanistan saat itu berupah sangat rendah.
Kehadiran Rahmat di tempat konstruksi itu rupanya tidak disenangi oleh seorang pekerja bernama Lateef. Ia membenci Rahmat karena pekerjaannya sebagai pembuat minuman (atau mungkin office boy?) diambil alih oleh Rahmat. Kebenciannya semakin memuncak karena Rahmat lebih baik darinya dalam menjalankan tugas, sehingga Rahmat disenangi oleh hampir semua pekerja kontruksi tersebut. Jauh berbeda dengan Lateef yang temperamen dan kerap kali berkelahi dengan pekerja lain hanya karena masalah sepele. Begitu bencinya Lateef kepada Rahmat, sehingga ia seringkali melakukan hal-hal konyol dengan tujuan mengusili Rahmat. Misalnya, ia pernah menuangkan air kotor (bekas adukan semen?) ke atas kepala Rahmat, diam-diam dari atas atap gedung. Lateef juga pernah mengamuk di dapur, ruang kerja Rahmat, membuat alat-alat berantakan dan dapur kacau-balau. Akan tetapi, Rahmat terus berusaha sabar, tidak menggubris tingkah Lateef yang keterlaluan itu. Responnya itu membuat Lateef semakin membencinya.
Sampai pada suatu hari, Lateef tidak sengaja melihat Rahmat yang sedang menyisir rambutnya. Lateef menyadari bahwa Rahmat ternyata seorang wanita. Sejak saat itu, sikap Lateef kepada Rahmat berubah 180 derajat, ia menjadi begitu sopan dan selalu berusaha menjaga dan melindungi Rahmat. Ia bahkan ikut mengubah gaya berpakaiannya menjadi rapi dan klimis.
Banyak pengorbanan yang Lateef lakukan demi menolong Baran dan keluarganya dari masalah ekonomi, sampai-sampai ia membobol tabungannya, berhutang kepada Bos-nya, bahkan sampai menjual kartu identitas penduduknya. Semua itu ia lakukan tanpa pamrih, demi menolong Baran, gadis yang ia cintai. Lateef bahkan tidak menunjukkan bahwa ia-lah yang telah menolong keluarga Baran secara finansial.
Ketika akhirnya keluarga Baran memiliki uang yang cukup, mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Afghanistan. Hati Lateef tentu saja sangat hancur karena ia ditinggal pergi jauh oleh Baran. Ia bahkan tidak sempat mengucap kata cinta kepada Baran. Pada hari keberangkatan keluarga Baran ke Afghanistan, Lateef datang untuk membantu kepindahan mereka. Dalam sebuah momen, barang-barang yang dibawa Baran jatuh dan Lateef membantu memungutnya. Pada saat itulah, kedua pandangan mereka bertemu, mereka saling bertatapan.
Baran menyunggingkan senyum manisnya pada Lateef; senyum pertama dan terakhirnya.
Film ini sedikit banyak menceritakan tentang cinta, walau tidak banyak—bahkan hampir tidak ada—kata cinta yang terucap sepanjang film ini. Perasaan cinta yang dialami sang tokoh lebih banyak diungkapkan dalam ekspresinya dan dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Misalnya dapat kita lihat dalam perilaku Lateef yang berubah 180 derajat setelah ia mengetahui bahwa Rahmat adalah wanita. Walaupun banyak penonton yang mungkin mengganggap tindakan Lateef irasional, adegan ini bermaksud menyindir kita, bahwa batas antara cinta dan benci sesungguhnya sangat tipis. Seseorang yang tadinya membenci, bisa saja tiba-tiba menjadi mencintai. Pesan ini juga diungkapkan dalam dialog antara Lateef dan seorang musafir yang ditemuinya di jalan. Dalam film ini juga diungkapkan bahwa cinta bisa membuat seseorang mengorbankan apapun, sampai membuat seseorang menjadi irasional. Lateef rela mengorbankan seluruh hartanya, sampai ia harus berhutang kepada Bos-nya, demi membantu keluarga Baran.
Yang terpenting lagi, film ini mengisahkan kisah cinta yang tidak terucap; untold love story. Walaupun pada akhirnya Lateef tidak mengucapkan sepatah pun kata cinta kepada Baran, walaupun Baran tidak mengetahui perasaan Lateef yang sesungguhnya, walaupun Lateef hanya mendapatkan sebuah senyuman dari Baran, tapi Lateef tetap tersenyum bahagia.
Pada akhirnya, ia hanya bisa memandangi jejak sepatu Baran yang membekas di tanah basah, seperti jejak Baran yang telah membekas dalam di hatinya.

