Rabu, 15 September 2021

Perempuan Solo Travelling, Why Not?

Bepergian jauh sendirian kedengarannya menakutkan, apalagi bagi perempuan. Tentunya sebagai wanita, peluang untuk menjadi korban kriminalitas -- pencurian, kekerasan seksual, pemerkosaan, penculikan, dll -- lebih besar daripada laki-laki. Apalagi, sebagai anak yang memiliki ibu (over) protektif, yang jam 9 belum sampe rumah udah ditelponin, sulit membayangkan aku bisa pergi-pergi jauh sendirian. 
Bayangkan aja, sehari sebelum aku berangkat ke Inggris untuk melanjutkan S2, tiba-tiba Ummiku berkata, "Kalau Ummi nggak izinin kamu berangkat ke Inggris gimana?"
Duuh Ummi, jangan aneh-aneh dong *mendadak migren

Sekalinya aku pernah pergi sendirian ke luar kota, waktu perjalanan dari Jakarta ke Kampung Inggris, Kediri. Karena jadwalku dan temanku yang tidak cocok, aku berangkat duluan sendirian. Tadinya aku berharap kursi sampingku kosong sehingga aku bisa tidur menyelonjor, ternyata tiga orang yang duduk di samping dan depanku semuanya bapak-bapak. What a nightmare!

Akhirnya sepanjang naik kereta yang memakan waktu sekitar 12 jam -- berangkat sore, sampai subuh -- aku memaksakan diri tidak tertidur. Setiap ke toilet, aku selalu membawa tas komplit dengan barang-barang berhargaku. Selain itu, aku memasang muka kenceng bin galak sepanjang jalan. Ibaratnya kalau aku ini landak, pasti duri-duriku lagi berdiri semua. Pokoknya, aku nggak mau memasang muka lemah lembut apalagi kebingungan, yang bisa menjadikanku sasaran empuk kejahatan. Alhamdulillah aku berhasil sampai Kediri dengan selamat walaupun mata berkantung karena 12 jam tidak tidur. Tentunya, Ummiku tidak tahu apa yang aku alami. Pokoknya dia tahunya anaknya sampai dengan selamat hehe.

Ketika di Inggris, beberapa kali aku melakukan solo travelling karena satu dan lain hal. Biasanya karena ada urusan ke luar kota, dan tidak ada teman yang bisa ikut menemani. Tapi, sebenarnya aku pun tidak terlalu khawatir kalau sampai harus tersasar misalnya. Toh orang-orangnya masih berbahasa Inggris, kalau nyasar ya tinggal tanya arah ke orang setempat. Kalau nyasar ya tinggal buka google maps. Kalau kecopetan ya tinggal lapor ke kantor polisi, toh semuanya juga bisa berbahasa Inggris. Berbeda dengan ketika aku travelling di Eropa, tentunya aku lebih waspada karena aku tidak fasih berbahasa Jerman, Prancis, atau Belanda.

Pertama kali aku memutuskan travelling sendirian ketika aku melihat tawaran day trip di milis mahasiswa Durham. Day trip adalah program dimana anak-anak yang suka travelling memilih untuk mencarter bus bersama-sama ke suatu tempat wisata. Jadi perginya pagi, pulangnya sore. Day trip biasanya menawarkan tiket yang lebih hemat daripada kalau kita pergi sendiri naik bis atau kereta, dan tempat yang ditawarkan biasanya tidak bisa langsung dicapai naik kereta.

Day trip yang ditawarkan saat itu adalah ke Lake District di Lancaster. Karena teman-temanku tidak ada yang tertarik ikut, akhirnya aku memutuskan mendaftar sendirian. Kekhawatiranku akan kesepian tidak terbukti, karena aku bertemu dengan Raihaneh, seorang gadis Iran berhijab mahasiswa Newcastle University yang sama-sama ikut day trip sendirian. Sepanjang perjalanan, kami malah asyik mengobrol mengenai kondisi Islam di negara masing-masing. Lucunya adalah ketika tiba waktu sholat. Karena Raihaneh seorang syiah, ia hanya sholat tiga waktu, sementara aku sholat lima waktu. Kami sholat berdampingan (tidak berjamaah) di lapangan rumput dengan keyakinan kami masing-masing. Ah, indahnya toleransi.
With Raihaneh

Dalam waktu yang lain, aku terpaksa pergi sendirian ke kota Edinburgh untuk mengurus VISA Schengen. Karena kebodohanku yang lupa bawa BRP (semacam KTP sementara selama di Inggris) saat apply VISA, aku harus kembali ke Edinburgh disaat teman-temanku sudah beres urusan VISA. Berhubung aku pergi sendirian, aku berpikir sekalian saja beli tiket yang pergi pagi pulang malam supaya bisa puas menjelajahi Edinburgh.

Lost in Edinburgh

Dan ternyata, memang solo trip itu banyak keuntungannya. Sebelumnya aku sudah pernah ke Edinburgh, tapi tidak sempat mengunjungi semua tempat karena terbatas waktu dan itinerary. Ketika pergi sendirian, aku bisa bebas berjalan kaki secara random memilih mengunjungi tempat yang kusuka. Tidak usah pusing memilih tempat makan atau tujuan, sesukanya saja. Selain itu aku sendiri yang menentukan jadwal kapan mau makan, kapan mau ke toilet, dan sebagainya. Kekurangannya hanya tidak ada orang yang bisa fotoin kita. No worries, untung Iffah bawa tripod



Pics taken by tripod

Kekurangan yang lain adalah ketika harus pulang. Kereta tiba di Durham jam 10 malam, yang artinya sudah tidak ada bis. Taksi sudah jarang, kalaupun ada harganya sangat mahal. Akhirnya aku terpaksa berjalan kaki sendirian dari Bus Station sampai rumah, yang harus ditempuh setengah jam berjalan kaki, sendirian, gelap-gelapan. Sambil merutuki pilihan sepatuku yang salah besar (boots with heels) aku hanya bisa berdzikir sambil berjalan melintasi hutan dan jalan yang gelap dan sepi, berharap tidak bertemu dengan jurig, rampok, maupun rapist.

Terakhir aku pergi sendirian saat mau mengikuti Takaful Summit di London. Kali itu aku pergi dalam durasi yang agak lama, yaitu seminggu. Awalnya Rumy dan Danis juga berencana ikut, namun mereka membatalkan ikut di last minute karena masih sibuk dengan Thesis. No worries, the show must go on. Aku berangkat malam-malam menaiki bus dari Durham ke London yang memakan waktu sekitar 8 jam. Pemandangan sepanjang jalan sangat indah--aku melihat ragam kecantikan desa dan kota di Inggris dari pinggir jendela. Hanya ada satu masalah, teman sebangkuku adalah seorang laki-laki yang terlihat cukup besar fisiknya. Dan terjadi lagi, aku tidak sanggup tidur di Bis karena insecure. Aku sampai bela-belain beli kopi di rest area agar tidak tertidur.
Namun sesampainya di London, semua ketakutanku menguap berganti menjadi excited. Agendaku sangat padat seminggu ini. Selain mengikuti Takaful Summit, aku juga bertemu dengan Suli--teman Rumbelku yang aku tumpangi selama di London, bertemu dengan rombongan dosen FHUI yang sedang mengikuti conference di London, dan mampir ke Cambridge mengunjungi Tita yang sedang kuliah di sana. Untungnya dari travelling sendirian adalah aku bisa bebas memiliki agenda sendiri, tidak perlu nggak enak kalau misalnya harus meninggalkan teman travellingku.

Kings College, Cambridge

All in all, travelling sendirian bagi wanita memang terdengar mengerikan. Tapi di negara maju, solo trip sudah jauh lebih aman bagi wanita, asal kita juga selalu waspada dan bisa menjaga diri. Dan bagiku, solo travelling memberikan pengalaman-pengalaman berharga yang belum pernah kualami sebelumnya.

Jadi, siap solo travelling dan keluar dari zona nyamanmu?