Rabu, 23 Juli 2014

Kampung Inggris (2)


Program camp di Kampung Inggris setiap malam menurutku lumayan seru. Hari selasa, tiga orang speaker wajib presentasi di camp masing-masing. Topiknya bebas, yang penting dalam bahasa Inggris. Rabu, kita berkumpul di camp pusat, gabung laki-laki dan perempuan, untuk debat. Selain debat, hari rabu adalah hari hukuman buat pelanggar aturan terbanyak di camp. Yang melanggar wajib speaking, dan harus di depan gerombolan camp lawan jenisnya. Pelanggar terbesar wajib speaking di tengah-tengah aula dengan microphone. Hari kamis adalah hari wajib baca yasin, dan salah satu murid dipilih untuk pidato dalam bahasa Indonesia di depan teman-teman.
Aku selalu bersemangat mengikuti semua program camp, hitung-hitung sambil belajar. Alhamdulillah selama di pare, ada aja kesempatan untuk mencoba semua program camp. Aku kebagian tugas presentasi hari selasa, dalam dua kali sesi debate pun aku menjadi speaker. Di dalam beberapa kesempatan, aku mencoba jadi peserta yang paling aktif dan menonjol, walaupun bahasa inggris masih belepotan. Soalnya kupikir, udah jauh-jauh ke Pare, sayang banget kalau aku nggak memanfaatkan setiap kesempatan sebaik-baiknya, apalagi waktu yang kupunya cuma dua minggu. Yah, sejujurnya nggak semua speech atau debate yang kujalani berjalan sukses, tapi at least aku sudah berani mencoba :)
Camila dan beberapa anak di camp mendapat tugas sebagai Miss Punishment. Tugasnya, mencatat setiap pelanggaran bahasa yang dilakukan oleh anak-anak, dan menuliskannya di papan punishment beserta jumlah denda-nya. Yang membuatku terkadang terheran-heran, nominal denda-ku di papan punishment setiap hari bertambah. Kok mereka tau ya kalau aku diam-diam suka ngobrol pake bahasa Indonesia?
Apa Camila yang ngelaporin? Huahahaha tidaak mungkiin. Soalnya, aku biasanya seenaknya ngobrol bahasa Indonesia di kamar bareng Camila dan Liv. Dengan pintu tertutup tentunya, takut Miss Punishment yang lain denger. Kita berdua sudah kongkalingkong, Camila nggak akan melaporkan aku dan aku nggak akan melaporkan Camila (nepotisme ceritanya, hahaha). Buat Camila, ancaman itu lebih menakutkan karena jika Miss Punishment melanggar, denda mereka dua kali lipat.
Hari demi hari, tumpukan denda kita semakin bertambah. Iya, karena mungkin banyak yang nge-gap kita ngobrol pakai bahasa Indonesia. Puncaknya di Rabu berikutnya, aku, Camila, dan Liv terpilih jadi terhukum yang wajib speaking saat agenda camp bersama.
Aku dibawa oleh mentor camp ke sebuah sudut, dan ia menyuruhku speech di tengah-tengah gerombolan cowok-cowok. Mereka menyorakiku, mungkin kegirangan ada bahan untuk diledekin. Perasaan grogi merambatiku, maklum aja, speaking di depan cewek aja terkadang aku masih grogi, apalagi di depan gerombolan cowok-cowok yang memasang wajah iseng ini.
Aku mulai membuka mulut, memaparkan speech-ku yang berisi kampanye untuk tidak Golput dalam pemilihan presiden. Dalam bahasa Inggris, tentunya. Muka-muka iseng tadi berubah menjadi bengong, setengah menganga.
Rasain, nggak ngerti kan gue ngomong apa. Makanya jangan main-main sama anak hukum. Batinku.
Setelah speech, berlangsung tanya jawab antara aku dan audiens-ku. Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan kosakata yang masih pas-pas-an. Setelah selesai, buru-buru aku hengkang dari hadapan mereka sebelum diledekin lagi.
Selama di Pare, aku, Camila, dan Liv memutuskan untuk menjadi anak yang ambisius. Ya iyalah, Cuma dua minggu ini, nanggung kalau nggak ambi, pikirku. Setiap malam setelah selesai acara camp, kita mencari cafe-cafe untuk latihan soal-soal TOEFL sambil makan malam. Begitu juga di setiap waktu luang, kita menyempatkan untuk belajar bersama. Keambisiusan kita membawa hasil, setidaknya nilai TOEFL kita lumayan bagus. Aku mencapai nilai TOEFL tertinggi 600, Camila 500-an, Liv 400-an (yang sebenarnya gede banget, mengingat Liv baru lulus SMP). Kita ambi dan kita bangga!
Oh iya, ada satu hal yang sangat kucinta dari Kampung Inggris. Apa itu? Makanan di sini murah-murah banget suer nggak bohong. Suatu ketika, aku menyantap menu ayam penyet + nasi + telur + minuman, harganya Cuma sepuluh ribu. Mungkin murah atau mahal itu relatif buat semua orang, namun buatku yang tinggal di Jakarta dan biasa makan di kantin FH yang sekali makan bisa 20 ribuan, harga segitu benar-benar bikin terharu. Setiap malam, kita makan di tempat yang berbeda-beda, namun nggak ada yang menguras kantong. Jajan paling hedon aja cuma abis 15 ribu. Menu favoritku di Pare adalah ayam penyet, tempe penyet, dan telur penyet, pokoknya segala sesuatu yang dipenyet deh. Hidup makanan Pare yang murah dan enak!
Oh iya, cuaca di Pare sangat nggak enak, khususnya buat perempuan. Pertama, mataharinya terik sepanjang waktu. Jadi yang nggak mau item, sedia aja alat-alat pelindung dari matahari kayak sunblock, masker, sarung tangan, dan topi lebar. Jangan khawatir, di Pare banyak yang jual barang-barang tersebut dengan harga terjangkau. Selain itu, udaranya kering dan berpasir. Seringkali, kita cewek-cewek harus sering keramas karena rambut jadi lepek karena udara yang kering dan berpasir itu.  
Overall, selama di Pare, banyak pengalaman yang meningkatkan skill bahasa Inggris-ku. Jadi, kalau misalnya ada yang nanya, “Fah, belajar bahasa Inggris di Pare ngaruh nggak sih?”, gue akan jawab, “Bagi gue, sangat ngaruh.” Setidaknya walaupun aku belajar di Pare Cuma dua minggu, atmosfir berbahasa Inggris yang dibangun berhasil membuat gue berani untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Dulu, cuma ngeliat baris-baris tulisan berbahasa inggris aja aku udah alergi duluan, nggak sanggup bacanya. Sekarang, aku bahkan bisa melahap novel-novel dan buku berbahasa Inggris. Dulu, kalau denger listening bahasa Inggris atau orang bule ngomong, rasanya kayak denger orang kumur-kumur. Sekarang, aku bisa menonton puluhan series HIMYM tanpa subtitle.
Sejujurnya, masih ada satu kekuranganku, yaitu aku masih kagok speaking dalam bahasa Inggris. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan ke Kampung Inggris lagi untuk meningkatkan skill speaking-ku. Pare, wait for me! :)

Senin, 14 Juli 2014

Kampung Inggris (1)


Halo everybadeh! Aku akan bercerita pengalamanku jalan-jalan ke Jawa untuk menuntut ilmu di kampung Inggris (lebay deh padahal cuma dua minggu).
Seumur ini, aku belum bisa fasih berbicara bahasa inggris. Padahal, diam-diam (kalo diceritain kayaknya bukan diam-diam, tapi yasudahlah) aku menyimpan cita-cita untuk ambil S2 di eropa. Dan syarat beasiswa sekarang menuntut nilai TOEFL yang besar, kira-kira 550. Sementara aku sama sekali belum pernah ikut tes TOEFL dan nggak tau sebesar apa kapasitasku dalam berbahasa Inggris sekarang. Hal ini diperparah dengan tugas-tugas kuliah yang mewajibkan mahasiswa untuk mengambil referensi dari jurnal berbahasa inggris. Belum lagi ujian Kontrak Dagang dan ujian TJP full bahasa Inggris. Dengan skill bahasa inggris selevel google translate yang kumiliki, bisa kebayang nggak apa yang harus kutulis di lembar jawaban?
Sadar bahwa diri ini masih perlu banyak belajar (ciee), aku memutuskan untuk mengambil course bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal sebagai Kampung Inggris. Pare terkenal sebagai Kampung Inggris karena disana buanyaak banget tempat kursus bahasa Inggris. Jadi ibaratnya udah spesialisasi Pare sebagai tempat belajar bahasa inggris, dan konon percakapan di sana sehari-hari juga biasanya pake bahasa inggris (benarkah? We’ll see)
Awalnya, aku berencana untuk ke Pare sendiri, tapi ternyata Muthi mau ikut ke Pare lagi untuk belajar (menurutku Muthi nggak perlu belajar lagi, dia sih bahasa inggrisnya udah level dewa). Ditengah-tengah aku dan Muthi nyusun rencana untuk ke Pare, ternyata Camila juga bilang dia mau ikut ke Pare. Yippie! Three Idiots goes to Java!
Sebelumnya, Camila sama Muthi juga udah pernah ke Pare, jadi mereka tau kurang lebih ngapain aja di sana. Tapi Camila udah jelasin dari awal bahwa jangan berekspektasi terlalu tinggi untuk Kampung Inggris, soalnya Pare emang tempat orang-orang belajar. Artinya, orang yang udah jago bahasa Inggris bisa jadi akan sangat bosan di Pare karena belajarnya nggak selevel. Tapi buat aku sih nggak apa-apa kakak, berhubung my english is poor. VERY POOR.
Jadi kita susun rencana untuk ke Kampung Inggris bersama-sama, nggak sabar menanti-nanti UAS berakhir dan segera cabut ke Jawa. Tiket udah dibeli, rencananya tanggal 8 Juni kita mau naik kereta Brantas dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Kediri. Tiketnya murah banget cuma Rp55 ribu, yah itu juga yang ekonomi AC sih. Tapi nggak apa-apalah yang penting bisa sampai ke Kediri dengan cepat murah dan selamat :)
Seminggu sebelum keberangkatan, Muthi membawa berita buruk. Ternyata dia nggak bisa ikut ke Kampung Inggris karena harus nemenin belajar Nisa. Nisa, adek Muthi, akan menghadapi ujian SBMPTN dan SIMAK UI tanggal 17 dan 22 Juni. Dia butuh dukungan materil dan moriil untuk menghadapi ujian yang deketan tanggalnya, jadi Muthi sebagai kakak yang baik harus menemani Nisa. Sadar bahwa Muthi emang diperluin untuk nemenin Nisa belajar, akhirnya kita merelakan Muthi untuk nggak ikut. Rencana diubah, jadinya cuma aku dan Camila yang berangkat.
Minggu tanggal 8 Juni, aku dan Camila janjian bertemu di stasiun Pasar Senen. Muthi datang juga untuk mengantar kita berdua. Setelah dadah-dadahan, kita pun menaiki kereta Brantas jurusan Stasiun Kediri. Kereta berangkat jam 16.00 hari minggu dan sampai di Kediri jam 04.00 pagi hari seninnya. Bisa dibayangkan gimana keadaan badan kita, selama 12 jam duduk di kursi kereta yang keras itu. Turun di stasiun kediri, kita langsung sholat subuh. Di stasiun Kediri, kita bertemu banyak anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang juga mau belajar di Kampung Inggris. Di luar stasiun, sudah ada travel yang menjemput kita dari eureka. Kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya sampailah kita di Pare alias Kampung Inggris! *jengjeng*
Kampung Inggris sebenarnya nggak gede-gede banget, kira-kira Cuma beberapa blok rumah-rumah warga. Tapi yang bikin Pare terkenal dengan Kampung Inggrisnya karena di setiap jalan berjejer tempat-tempat les, dari bahasa inggris, bahasa arab, sampai bahasa korea ada. Cuma mayoritas tempat les yang ada emang spesialisasinya bahasa inggris. Sebaiknya kalau mau ke Pare googling dulu tempat les apa yang bagus, karena tempat les punya spesialisasinya masing-masing bagus di bidang apa. Misalnya, untuk Speaking, tempat les yang terkenal bagus adalah Mr Bob dan Daffodil.
Sebelum berangkat ke Pare, aku dan camila udah reservasi paket di tempat les Global English. Kita pilih paket camp 2 minggu dan dua program di Global English. Aku ambil kelas TOEFL dan Speaking. Kelas Speaking di Global English ada beberapa tingkatan, mulai dari Pre-Speaking sampai Speaking 5. Untuk tahu kita akan ditempatkan di kelas yang mana, akan ada tes lisan sama tutor sebelum masuk kelas. Sementara Camila, karena emang bahasa Inggris dia lebih jago daripada aku, dia mengambil kelas TOEFL dan Job Interview. Selain di Global English, aku mengambil kelas tambahan pronounciation di Mr Bob, dan Camila mengambil kelas Writing Academic di TEST.
Habis daftar, kita tes lisan sama tutor Global English. Aku dan Camila masing-masing berhadapan dengan seorang tutor. Pertama-tama, tutor itu menanyakan hal-hal dasar tentang aku, misalnya asalnya darimana, hobinya apa, dan lain-lain. In english, off course.
“Miss Iffah, I want to asking you, what’s your opinion about death penal for corruptor?” Mister yang mewawancaraiku bertanya.
Awalnya aku terbengong-bengong, tidak mengerti apa yang dia maksud dengan ‘Death Penal’. Setelah Mister-nya mengisyaratkan potong leher, barulah aku menangkap apa yang dia maksud.
“Well, as we know, some countries using death penal as a punishment for corruptor. For example China, and in China, that punishment can be implied effectively. But I think, we can’t use death penal for corruptor in Indonesia. Why? Because, in Indonesia, sometimes the person which is being accused as a corruptor actually isn’t an actor intelectual, but they just help the real corruptor. Or maybe, the corruptor doing corrupt because their party ask them to gathering money. Corruption is a system, someone can’t corrupt by themself. So, I think, death penal can’t be used effectively as punishment for corruptor in Indonesia.” Jawabku dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dan grammar yang berantakan.
Setelah wawancara, Mister memutuskan aku untuk mengikuti kelas Speaking 2. Alhamdulillah, bukan pre-Speaking, batinku. Lalu kami diberikan jadwal oleh petugas office Global English, dan diberikan peta yang menunjukkan letak kelas-kelas di Global English, yang letaknya tersebar di rumah-rumah penduduk. Kami juga diinformasikan bahwa camp kami terletak di Bakery Danish. Setelah itu, aku dan camila diantar dengan koper masing-masing ke camp kita. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor pusat GE. Aku dan camila sekamar dengan 2 orang lain tetanggaku, yaitu Miss Gita dan Miss Anna.
Oh iya, karena letak tempat-tempat di Pare lumayan jaraknya, untuk transportasi sehari-hari kita menggunakan sepeda. Rental sepeda ada dimana-mana, harga sewanya 80 ribu untuk sebulan. Tapi karena kita di Pare cuma 2 minggu, kita menawar harganya jadi 40 ribu. Sebagai jaminan, setiap peminjam sepeda wajib menitipkan KTPnya. Sepeda kita dikasih kunci, karena katanya sering ada yang kehilangan sepeda.
Di camp, banyak aturan yang dibuat supaya kita bisa lancar berbahasa Inggris. Di camp, kita wajib berbicara full english. Kalau ada yang ketahuan ngomong bahasa Indonesia, didenda seribu per kata. Waduh. Terus gimana kalau mau ngomong tapi nggak tau kata dalam bahasa inggrisnya? Ada magic word, kita bisa pakai kata “how to say”. Misalnya kita mau ngomong “I want take a bath.”, tapi kita nggak tahu bahasa Inggrisnya mandi. Jadi kita bisa bilang, “I want—how to say—mandi.” Nah, kata “how to say” Cuma berlaku untuk satu kata. Jadi kalo banyak kata-kata yang kita nggak tahu, kita harus ngomong “how to say” per kata. Nah loh.
Camp GE mewajibkan program camp setiap pagi dan setiap malam. Jadi, kita wajib bangun jam 4 pagi, sholat shubuh, lalu menghapalkan expression dan menyetorkan hapalan kita ke tutor di camp. Setelah kegiatan camp, kita dikasih waktu bebas untuk semua aktivitas kita termasuk kursus. Malamnya, kegiatan camp dimulai lagi jam setengah 7 sampai jam 8, lalu habis itu waktu bebas.
Kurang lebih, beginilah jadwalku sehari-hari selama di Pare:
04.00-05.30 Program Camp
05.30-07.00 Istirahat (biasanya aku mandi dan sarapan)
07.00-08.30 Speaking
08.30-11.30 TOEFL
11.30-12.30 Istirahat
12.30-14.00 Pronounciation
14.00-14.30 Istirahat
14.30-16.00 TOEFL
16.30-17.30 Kelas tambahan Speaking
17.30-18.30 Istirahat
18.30-20.00 Program Camp
20.00-21.30 Istirahat
          21.30             Tidur


         (To be continued)