Program camp di
Kampung Inggris setiap malam menurutku lumayan seru. Hari selasa, tiga orang
speaker wajib presentasi di camp masing-masing. Topiknya bebas, yang penting
dalam bahasa Inggris. Rabu, kita berkumpul di camp pusat, gabung laki-laki dan
perempuan, untuk debat. Selain debat, hari rabu adalah hari hukuman buat
pelanggar aturan terbanyak di camp. Yang melanggar wajib speaking, dan harus di
depan gerombolan camp lawan jenisnya. Pelanggar terbesar wajib speaking di
tengah-tengah aula dengan microphone. Hari kamis adalah hari wajib baca yasin,
dan salah satu murid dipilih untuk pidato dalam bahasa Indonesia di depan
teman-teman.
Aku selalu
bersemangat mengikuti semua program camp, hitung-hitung sambil belajar. Alhamdulillah
selama di pare, ada aja kesempatan untuk mencoba semua program camp. Aku kebagian
tugas presentasi hari selasa, dalam dua kali sesi debate pun aku menjadi
speaker. Di dalam beberapa kesempatan, aku mencoba jadi peserta yang paling
aktif dan menonjol, walaupun bahasa inggris masih belepotan. Soalnya kupikir,
udah jauh-jauh ke Pare, sayang banget kalau aku nggak memanfaatkan setiap
kesempatan sebaik-baiknya, apalagi waktu yang kupunya cuma dua minggu. Yah,
sejujurnya nggak semua speech atau debate yang kujalani berjalan sukses, tapi
at least aku sudah berani mencoba :)
Camila dan
beberapa anak di camp mendapat tugas sebagai Miss Punishment. Tugasnya,
mencatat setiap pelanggaran bahasa yang dilakukan oleh anak-anak, dan
menuliskannya di papan punishment beserta jumlah denda-nya. Yang membuatku
terkadang terheran-heran, nominal denda-ku di papan punishment setiap hari bertambah.
Kok mereka tau ya kalau aku diam-diam
suka ngobrol pake bahasa Indonesia?
Apa Camila yang
ngelaporin? Huahahaha tidaak mungkiin. Soalnya, aku biasanya seenaknya ngobrol
bahasa Indonesia di kamar bareng Camila dan Liv. Dengan pintu tertutup
tentunya, takut Miss Punishment yang lain denger. Kita berdua sudah kongkalingkong,
Camila nggak akan melaporkan aku dan aku nggak akan melaporkan Camila
(nepotisme ceritanya, hahaha). Buat Camila, ancaman itu lebih menakutkan karena
jika Miss Punishment melanggar, denda mereka dua kali lipat.
Hari demi hari,
tumpukan denda kita semakin bertambah. Iya, karena mungkin banyak yang nge-gap
kita ngobrol pakai bahasa Indonesia. Puncaknya di Rabu berikutnya, aku, Camila,
dan Liv terpilih jadi terhukum yang wajib speaking saat agenda camp bersama.
Aku dibawa oleh
mentor camp ke sebuah sudut, dan ia menyuruhku speech di tengah-tengah gerombolan
cowok-cowok. Mereka menyorakiku, mungkin kegirangan ada bahan untuk diledekin. Perasaan
grogi merambatiku, maklum aja, speaking di depan cewek aja terkadang aku masih
grogi, apalagi di depan gerombolan cowok-cowok yang memasang wajah iseng ini.
Aku mulai
membuka mulut, memaparkan speech-ku yang berisi kampanye untuk tidak Golput
dalam pemilihan presiden. Dalam bahasa Inggris, tentunya. Muka-muka iseng tadi
berubah menjadi bengong, setengah menganga.
Rasain, nggak ngerti kan gue ngomong apa. Makanya
jangan main-main sama anak hukum. Batinku.
Setelah speech,
berlangsung tanya jawab antara aku dan audiens-ku. Aku berusaha menjawab
pertanyaan itu dengan kosakata yang masih pas-pas-an. Setelah selesai,
buru-buru aku hengkang dari hadapan mereka sebelum diledekin lagi.
Selama di Pare,
aku, Camila, dan Liv memutuskan untuk menjadi anak yang ambisius. Ya iyalah, Cuma
dua minggu ini, nanggung kalau nggak ambi, pikirku. Setiap malam setelah
selesai acara camp, kita mencari cafe-cafe untuk latihan soal-soal TOEFL sambil
makan malam. Begitu juga di setiap waktu luang, kita menyempatkan untuk belajar
bersama. Keambisiusan kita membawa hasil, setidaknya nilai TOEFL kita lumayan
bagus. Aku mencapai nilai TOEFL tertinggi 600, Camila 500-an, Liv 400-an (yang
sebenarnya gede banget, mengingat Liv baru lulus SMP). Kita ambi dan kita
bangga!
Oh iya, ada
satu hal yang sangat kucinta dari Kampung Inggris. Apa itu? Makanan di sini
murah-murah banget suer nggak bohong. Suatu ketika, aku menyantap menu ayam
penyet + nasi + telur + minuman, harganya Cuma sepuluh ribu. Mungkin murah atau
mahal itu relatif buat semua orang, namun buatku yang tinggal di Jakarta dan
biasa makan di kantin FH yang sekali makan bisa 20 ribuan, harga segitu
benar-benar bikin terharu. Setiap malam, kita makan di tempat yang
berbeda-beda, namun nggak ada yang menguras kantong. Jajan paling hedon aja cuma
abis 15 ribu. Menu favoritku di Pare adalah ayam penyet, tempe penyet, dan
telur penyet, pokoknya segala sesuatu yang dipenyet deh. Hidup makanan Pare
yang murah dan enak!
Oh iya, cuaca di Pare sangat nggak enak, khususnya buat perempuan. Pertama, mataharinya terik sepanjang waktu. Jadi yang nggak mau item, sedia aja alat-alat pelindung dari matahari kayak sunblock, masker, sarung tangan, dan topi lebar. Jangan khawatir, di Pare banyak yang jual barang-barang tersebut dengan harga terjangkau. Selain itu, udaranya kering dan berpasir. Seringkali, kita cewek-cewek harus sering keramas karena rambut jadi lepek karena udara yang kering dan berpasir itu.
Overall, selama
di Pare, banyak pengalaman yang meningkatkan skill bahasa Inggris-ku. Jadi,
kalau misalnya ada yang nanya, “Fah, belajar bahasa Inggris di Pare ngaruh
nggak sih?”, gue akan jawab, “Bagi gue, sangat ngaruh.” Setidaknya walaupun aku
belajar di Pare Cuma dua minggu, atmosfir berbahasa Inggris yang dibangun
berhasil membuat gue berani untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Dulu, cuma ngeliat
baris-baris tulisan berbahasa inggris aja aku udah alergi duluan, nggak sanggup
bacanya. Sekarang, aku bahkan bisa melahap novel-novel dan buku berbahasa
Inggris. Dulu, kalau denger listening bahasa Inggris atau orang bule ngomong,
rasanya kayak denger orang kumur-kumur. Sekarang, aku bisa menonton puluhan
series HIMYM tanpa subtitle.
Sejujurnya,
masih ada satu kekuranganku, yaitu aku masih kagok speaking dalam bahasa
Inggris. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan ke Kampung Inggris lagi untuk
meningkatkan skill speaking-ku. Pare, wait for me! :)