Kamis, 23 Februari 2017

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 4-Final)

Pagi itu, kami terbang dari Bandara Hatyai menuju Bangkok.
Bangkok memberikan pengalaman luar biasa. Sekilas, Bangkok mirip seperti Jakarta, dengan kemacetan di mana-mana dan copet dimana-mana. Maklum, namanya juga Ibukota, banyak tempat wisatanya pula. 

Kami naik taksi dari bandara dan menuju Bangkok City Hotel tempat kami akan bermalam. Rate hotel ini lebih mahal dari hotel di Pattani, yaitu 1.390 Baht per malam (sekitar 535 ribu) untuk twin room. Namun hotel ini cukup lux dengan fasilitas bath tub, letaknya pun strategis sehingga mudah untuk kemana-mana.

Karena masih pagi dan belum waktunya check-in, kami memutuskan menitipkan koper di Hotel dan kemudian berkeliling. Untungnya, tak jauh dari hotel ada tempat makan yang menjual makanan halal. Dengan riang gembira kami memakan telur dadar khas Thailand, daging goreng, dan tak lupa... Thai Tea!

Di Pattani mungkin berkomunikasi lebih mudah karena banyak orang-orang yang bisa berbahasa Melayu, namun di sini, sebagian besar masyarakat berbahasa Thailand. Bang Heru mengajarkan kami Bahasa Thailand dasar seperti "Sawadi khap", yang digunakan untuk greetings. Rupanya penggunaan bahasa untuk laki-laki dan perempuan di Thailand berbeda di akhir kata. Kalau "sawadi khap" digunakan kepada laki-laki, untuk perempuan digunakan "sawadi khaa", begitu pula kata terima kasih bisa berbunyi "kapunkhap" dan "kapunhaa". 
"Kalau bicara ke bencong, akhirannya meliuk-liuk." kata Bang Heru, entah benar atau tidak.
Kursus Bahasa Thailand singkat itu berhasil membuatku dan Bu Ida menghafalkan satu kata paling krusial selama kami di Thailand: khong nam. Artinya? Toilet.

Setelah makan, kami singgah di Masjid Darul Aman yang terletak tak jauh dari rumah makan tersebut. Masjid Darul Aman lumayan besar dan bagus, sehingga kami memanfaatkan waktu sejenak untuk bersantai di masjid tersebut sebelum menghadapi sengatan matahari di luar sana. Bangkok panas, euy.
Tak disangka, aku bertemu dengan mahasiswi Indonesia yang sedang kuliah di Chulalongkorn University. Ia berasal dari IPB dan sedang mengambil Teknik Pangan Halal di Chulalongkorn. Wah, pas sekali! Kami pun berdiskusi dengan asyik.

Ternyata, banyak mahasiswa PPI Thailand yang sedang menunaikan sholat dzuhur di Masjid ini. Langsung saja, Bang Heru yang mantan Ketua PPI Thailand mendadak eksis dikerumuni mahasiswa. Aku salut dengan Bang Heru, ke negara manapun Bang Heru pergi pasti ada saja orang yang mengenalnya.


Bersama mahasiswi PPI Thailand

Sesuai perjanjian, Prof. Winai Dahlan berjanji untuk bertemu sore ini di MBK, sebuah mall terkenal di Bangkok. Sehingga kami masih banyak waktu untuk agenda selanjutnya: jalan-jalan!

Destinasi kami hari ini adalah Grand Palace, Candi Wat Arun dan Wat Pho.
Di Taksi, sang supir dengan santainya menawari Bang Heru untuk mendatangi "hiburan-hiburan malam" di Thailand seperti aksi cabaret atau Tiger Show. Entah kenapa yang ditawari cuma Bang Heru. Beliau hanya bisa nyengir sementara aku, Bu Ida, dan Ghozi ngakak di kursi belakang. Aku juga menemukan brosur promosi pariwisata Bangkok di kursi belakang, dan sebagian besar menawarkan wisata "nyeleneh", walau tentu saja ada hiburan khas Thailand seperti atraksi menaiki Gajah. Operasi Plastik juga merupakan salah satu program pariwisata yang dimiliki Thailand, karena kabarnya biaya operasi plastik di Thailand murah meriah. Wah, mau menyaingi Korea Selatan rupanya. Bedanya, kalau di Korsel kebanyakan operasi plastik mengubah "mas-mas" menjadi "Oppa-oppa ganteng", di Thailand kebanyakan operasi plastik mengubah "mas-mas" menjadi "mbak-mbak".



Grand Palace!

Sayang sekali waktu kami di Bangkok bertepatan dengan hari minggu, sehingga atraksi-atraksi wisata ramai dengan turis. Grand Palace seramai cendol sehingga kami enggan berlama-lama di siang yang terik itu. Ditambah lagi, untuk masuk ke Grand Palace dikenakan biaya 500 Baht (mahal gila. Buat warga Thailand padahal gratis) sehingga kami memutuskan tidak masuk ke Grand Palace. Lanjut ke Wat Pho!

Wat Pho terletak tidak begitu jauh dari Grand Palace, dan diseberangnya terletak Wat Arun. Kami berjalan kaki menuju Wat Pho, yah lumayan juga perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan aku tergoda melihat street food Thailand yang menggiurkan; jajanan gorengan-gorengan dan seafood yang sedang dikipas abang-abang. Hampir saja aku beli, kalau aku tak menyadari bahwa penjual tersebut juga menjual babi goreng. Iyuh.

Di sepanjang jalan juga terdapat foto-foto keluarga kerajaan Thailand yang terpampang, mulai dari Raja Bhumibol Adulyadej, Ratu Sirikit, Pangeran Maha Vijalongkorn, Putri Maha Chakri Shirindorn, Putri Ubolratana, dan Putri Chulaborn. Rupanya, setiap anggota kerajaan memiliki warna khas yang berbeda-beda. Misalnya untuk Raja Bhumibol, warna hiasan yang mendominasi adalah warna kuning. Sementara warna khas Ratu Sirikit adalah warna biru.


Berpose dengan Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit

Wat Pho terkenal dengan patung "Budha Tiduran" yang terbuat dari emas. Saat kami tiba di sana, Wat Pho penuh dengan turis, namun masih banyak ruang untuk berjalan-jalan. Ternyata Wat Pho tidak sekedar berisi patung "Budha Tiduran" tapi banyak sekali patung Budha dalam berbagai pose dan ukuran, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Wat Pho juga berisi pagoda-pagoda cantik yang tersusun rapi dalam berbagai ukuran.

Namun kekagumanku akan Wat Pho bertambah ketika melihat patung Reclining Buddha yang luarbiasa besarnya. Satu ruangan besar itu didominasi oleh Reclining Buddha yang tersepuh emas. Bahkan untuk mengambil foto bersama, kami harus menyesuaikan angle sedemikian rupa agar patung Budha tersebut bisa masuk dalam frame.


Reclining Buddha

Selepas dari Wat Pho, kami menuju ke Wat Arun yang berada di seberang sungai Chao Phraya. Kami menyeberang sungai yang berombak dengan perahu penyeberangan. Tiket untuk menyeberang sangat murah, cuma satu baht (385 rupiah)! Gilee bayar bensinnya pakai apa itu. Karena jarak yang sangat dekat, cukup lima menit kami sudah sampai di seberang: Candi Wat Arun.

Wat Arun
Di Wat Arun, iseng-iseng aku mencoba mengenakan pakaian khas Thailand. Biaya sewanya 100 THB. Dengan dibantu ibu-ibu pemilik baju, aku menyamar menjadi putri Thailand imitasi.





Assalamualaikum Bangkok!
Puas berfoto-foto ria, kami membeli souvenir yang banyak dijajakan di Wat Arun. Tips buat yang ke Thailand, belanja di sini jauh lebih murah daripada di MBK Mall! Sempat nyesel juga karena aku di Wat Arun cuma berbelanja sedikit, karena berpikir nanti sekalian shopping di MBK Mall. Sebagai perbandingan, souvenir kaca yang harganya 30 Baht saja di Wat Arun, dijual di MBK Mall dengan harga 100 Baht. Bye.

Salah satu kegiatan turis di Wat Arun adalah memberi makan ikan-ikan yang berenang-renang di sungai Chao Phraya. Kami membeli roti tawar dan memberi makan ikan-ikan gemuk tersebut. Menurut kepercayaan masyarakat Thailand, ikan-ikan di sungai tersebut adalah nenek moyang mereka, makanya tidak boleh ditangkap. Pantas saja, sungai Chao Phraya penuh ikan-ikan gemuk. "Kalau di Palembang, mungkin ikan-ikan ini udah jadi Pempek." seloroh Bang Heru.


Memberi makan "Nenek Moyang"


Tidak terasa waktu berlalu cepat, sudah hampir jam lima. Kami teringat janji pertemuan dengan Ajarn Winai Dahlan di Mall MBK. Dengan menumpang taksi, kami menuju Mall yang terletak tidak jauh dari Chulalongkorn University. Chulalangkorn University merupakan institusi tempat Ajarn Winai Dahlan mengabdikan dirinya, juga tempat salah satu dari sedikit Halal Science Center di Thailand.

Tidak lama, kami sudah sampai di MBK Mall, di sebuah restoran. Kulirik salah satu sudut restoran, disana terpampang Sertifikat Halal berlogo CICOT. Alhamdulillah, bisa makan dengan lega.
Prof. Winai Dahlan menyambut kami dengan senyum. Ia hadir bersama rekan-rekannya di Halal Science Center Chulalongkorn University.

Prof. Winai Dahlan memiliki nama yang sepertinya tidak asing lagi. Ya, ternyata Prof. Winai Dahlan adalah cucu dari KH Ahmad Dahlan, "Sang Pencerah" pendiri Muhammadiyah. Namun bukan itu saja yang membuatku terkagum-kagum kepadanya, tapi juga saat mendengar kisahnya memperjuangkan Halal Industry di Thailand. Ajarn Winai Dahlan mendirikan laboratorium halal di Chulalongkorn University dengan usahanya sendiri sampai akhirnya sekarang disokong penuh oleh Kerajaan Thailand, bahkan ia mendapatkan penghargaan khusus dari Raja Thailand atas jasanya bagi halal industry di Thailand. Namanya juga tercantum dalam buku "The World's 500 Most Influental Muslim".

Rupanya, pertemuan malam itu bukan wawancara serius namun perbincangan santai sambil makan malam. Aku mengurungkan niatku mengeluarkan recorder dan buku catatan yang biasa kubawa-bawa saat mewawancarai narasumber. 

Ternyata, Prof. Winai Dahlan sangat menyenangkan. Rasanya seperti sedang berbincang-bincang dengan kakek sendiri saja. Tak terasa, obrolan berlangsung dengan cair dan seru, sampai beberapa jam terlalui dan piring-piring makanan mulai kosong. (Sekali lagi Iffah khilaf karena kuliner Thailand). Omongan kami yang tadinya ringan menjadi filosofis. Bahkan, percakapan malam itu berlanjut karena Ajarn Winai Dahlan mengajak kami ke kantornya di Chulalongkorn University, dengan disupiri olehnya sendiri. OMG. Kalo di Indonesia rasanya kayak disupirin sama Prof BJ Habibie kali ya. 

Prof. Winai Dahlan membawa kami berkeliling laboratoriumnya yang terletak di dalam kompleks Chulalongkorn University. Sambil berkeliling beliau menjelaskan sejarah dan cita-citanya dalam mengembangkan industri halal di Thailand. Kami mendatangi ruangannya dan melihat sederet penghargaan untuk Prof. Winai Dahlan baik dari Thailand maupun dari dunia internasional. Malam itu sangat menyenangkan, bisa dibaca tulisan Bang Heru disini mengenai pertemuan kami dengan Prof. Winai Dahlan yang berkesan.

with Ajarn Winai Dahlan


Salah satu penemuan yang membuat kami terkagum-kagum adalah Hal-Klean.

Dalam fiqh umat Islam, katanya kalau umat Islam kena najis berat (liur anjing, menyentuh babi dll) harus disucikan dengan tanah dari tujuh sumber yang berbeda. Nah loh gimana cara nyari tanahnya? 


Laboratorium Halal Research Center di Chulalangkorn menciptakan produk Hal-Klean, sabun pembersih yang terbuat dari tanah liat dari tujuh sumber. Dan percaya atau nggak, tanpa bahan kimia apapun (cuma clay), pembersih ini bisa menghilangkan noda di tangan dalam sekejap. 




Untuk membuktikannya, kami mencelupkan tangan ke mangkuk berisi minyak dan kemudian menuangkan Hal-Klean di tangan. Tanpa menggunakan air, minyak di tangan langsung luruh dan tangan bersih kesat.

Kami terkagum-kagum dan bertanya-tanya, kok bisa mereka menemukan ide seperti ini?

Prof. Winai Dahlan tersenyum dan berkata, "Allah sudah mengatakan di dalam Al-Qur'an bahwa tanah bisa digunakan untuk membersihkan kotoran. We just prove it with science."






Keesokan harinya, kami kembali mengunjungi Halal Science Center Chulalongkorn University. Kali ini kunjungan kami adalah kunjungan resmi. Kami disambut oleh kepala laboratorium (maaf aku lupa namanya) dan Azhari, asisten Prof. Winai Dahlan yang kemarin mendampingi kami mengelilingi laboratorium.

Mereka menjelaskan, di Thailand, halal sudah menjadi semacam lifestyle atau gaya hidup. Thailand memiliki jargon "Diamond Halal Thailand", merujuk kepada logo CICOT yang seperti berlian. Orang-orang Thailand menganggap produk yang memiliki logo Diamond Halal merupakan produk dengan jaminan bermutu, karena tidak mudah bagi suatu produk untuk mendapatkan logo "berlian" tersebut. Karena itu, baik muslim maupun non-muslim memandang suatu produk halal sudah pasti berkualitas baik. Kesungguhan Thailand dalam melaksanakan industry halal sebagai bagian dari pariwisata juga didukung oleh pemerintah kerajaan Thailand yang mensupport dana. Saat ini, Thailand adalah negara dengan ekspor produk halal terbanyak di ASEAN. 

Selain itu, Halal Industry juga dibuat untuk menarik turis-turis dari negara muslim. Untuk mengakomodir kebutuhan makanan halal bagi turis, mereka menerbitkan direktori makanan halal Thailand yang berisi daftar nama dan alamat restoran di Thailand yang sudah bersertifikasi halal. Kerennya, direktori ini juga bisa diakses dengan aplikasi handphone. Nggak ada lagi deh, susah mencari makanan halal di Thailand.


Halal Directory

Overall, perjalanan riset ini memberikan banyak pelajaran bagiku. Berkaca dari kesuksesan dua negara tetangga untuk memajukan industri halalnya, aku optimis Indonesia juga bisa seperti mereka. Semoga, suatu saat industri halal Indonesia bisa merebut kejayaan di tingkat Regional, bahkan di tingkat Internasional. Namun, memang masih panjang perjuangan untuk melaksanakan jaminan produk halal di Indonesia. Harus di kawal terus sampai selesai!



-with love, Iffah