Kamis, 21 September 2017

Hijrah ke Durham



Merantaulah.. 
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman.. 
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang.. 

Merantaulah.. 
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.. 
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang.. 

Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan.. 
Jika mengalir, ia kan jernih.. 
Jika diam, ia kan keruh menggenang.. 

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan.. 
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran.. 
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam.. 
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang.. 

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah.. 
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan.. 
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai.. 
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..

(Syair Imam Syafi'i)


Pada dasarnya, merantau merupakan sebuah hijrah, yaitu suatu perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menemukan atau melakukan hal yang lebih baik. Bagi suku Minang, merantau sesungguhnya bukan hal yang asing lagi; tradisi ini mendarah daging dalam adat Minang. Lihat saja di belahan Indonesia manapun, pasti orang Minang ada dimana-mana. Namun lucunya, bagiku ini adalah pengalaman pertamaku hidup jauh dari rumah dan keluarga. Tidak tanggung-tanggung, perjalanan merantauku yang pertama mengantarkanku ke benua lain. Bertepatan dengan tibanya tahun baru Hijriyah, empat hari sudah aku "hijrah" alias merantau ke sebuah kota kecil bernama Durham di Inggris, tempatku akan menuntut ilmu setahun kedepan.

Sampai saat ini aku masih saja tak percaya akhirnya bisa sampai di sini. Namun, aku percaya tidak ada yang namanya suatu kebetulan atau keberuntungan. Keberadaanku disini merupakan hasil dari suatu rangkaian usaha dan doa selama dua tahun terakhir, sehingga dengan izin Allah semesta berkonspirasi mengantarkanku menjadi candidate Magister Islamic Finance and Management di Durham.

Awalnya, tidak sedikit teman-teman, keluarga, atau dosen-dosen senior yang mempertanyakan mengapa aku memilih untuk melanjutkan kuliah di Durham. 

"Durham itu Universitas apa? Dimana?" 
"Mengapa ambil jurusan ekonomi syariah? Kenapa nggak hukum aja? Nanti kamu susah jadi Professor."
"Memangnya di Inggris ada jurusan ekonomi syariah? Kok belajarnya di Inggris?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berdatangan, yang untungnya dapat kujawab dengan baik. Melanjutkan studi ke Durham adalah keputusan yang sudah kuambil dengan banyak pertimbangan, karena itu aku pun harus siap atas segala konsekuensinya: mengejar ketertinggalan materi dari teman-teman lainnya dan ketidaklinieran jurusan, serta jauh dari keluarga dan teman-teman yang kusayangi.

My hardest goodbye

Jujur ada rasa sedih dan cemas menelusup di dada akan kekhawatiranku karena aku akan sendiri di sini, jauh dari keluarga. Namun benar kata Imam Syafi'i, "merantaulah, maka akan kau temukan pengganti keluarga dan teman yang kau tinggalkan". Aku dipertemukan dengan Danis, Rumy, dan Shafira, teman-teman seperjuangan di 72 Hastings Avenue, rumah kami bersama. Mereka adalah teman-teman yang sangat menginspirasiku: sholehah, cerdas, berprestasi serta bersemangat untuk membumikan ekonomi syariah di Indonesia. Kelebihan lainnya, kita masih single semua (ini info yang paling penting).

Ukhti-ukhti Hastings Avenue, kurang Fira


Tak sampai beberapa hari di Durham, kami menemukan senior-senior di Durham yang menyambut kami dengan ramahnya seperti keluarga sendiri. Kami dijemput dan dibawa berkeliling Durham, serta diberikan sharing pengalaman mereka survive di kota kecil ini. Dan tentu saja, senior-seniorku adalah orang-orang yang sangat menginspirasi dengan prestasinya masing-masing, yang membuatku bersemangat untuk mengikuti jejak mereka.

Salah satu nikmat terbesar yang kusyukuri adalah rumahku di Hastings Avenue, yang merupakan rumah "warisan" dari kakak-kakak senior yang sebagian besar merupakan pengurus PPI Durham tahun lalu. Rumah dengan empat kamar, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur ini sangat nyaman dan rent per-bulannya sekitar 350 Poundsterling, tidak terlalu mahal untuk ukuran Inggris. Peralatan yang ada sangat lengkap, mulai dari peralatan masak, peralatan belajar beserta aneka pernak-pernik bahkan makanan, mereka tinggalkan buat kami. Kami tidak perlu berbelanja banyak, hanya tinggal belanja bahan makanan saja. Tentunya ini sangat membantu mengingat biaya beasiswa dari LPDP masih lama turunnya (sekalian curcol). Kamarku yang terletak di lantai dua besar dan nyaman, serta memiliki view ke jalanan depan, yang membuatku betah berlama-lama di kamar (semoga nggak sering-sering ketiduran).







Room sweet room


Seperti kebanyakan orang lainnya, aku juga terkena culture shock, terutama menyangkut toilet. Toilet di Inggris yang tanpa air membuatku pusing bagaimana harus bersuci dengan baik. Untungnya, perlahan-lahan aku mulai beradaptasi. Selain itu jam yang berbeda dari Indonesia --7 jam lebih lambat--membuat tubuhku harus beradaptasi. Tidak jarang jam 6 sore tubuhku sudah sangat lelah dan mengantuk (karena di Indonesia sudah jam 1 pagi), namun aku memaksakan diri untuk tetap terjaga. Perbedaan jam dengan Indonesia juga menjadi tantangan ketika ingin berkomunikasi dengan orang-orang tersayang (Ehem. Keluarga dan teman-teman kok) di Indonesia. Tentunya masih banyak tantangan-tantangan lainnya yang harus kuhadapi setahun kedepan, termasuk waktu berpuasa di Inggris yang paling lama di dunia, yaitu 18 jam.

Durham merupakan sebuah kota (atau mungkin desa)? yang terletak tidak jauh dari Newcastle. Kampus Durham sangat luas dan terletak di sebagian besar kota, mungkin seperti Universitas Indonesia yang merupakan jantung kegiatan kota Depok. Rumah-rumah disini tertata rapi dalam satu kompleks, dimana Hastings Avenue tempatku tinggal kebanyakan diisi oleh kakek dan nenek pensiunan. 

Kayak rumahnya Harry Potter



Jangan bayangkan kalau lapar kita bisa jajan di Alfamart sebelah rumah, karena kemana-mana harus menggunakan sebuah bis. Untuk berbelanja kita harus pergi ke city Center dimana deretan toko terpusat menjadi satu, tidak ada mall besar. Bahkan masjid juga terletak di City Center. 






Durham juga terkenal dengan landmark Kastil dan Cathedralnya (yang juga menjadi tempat shooting Harry Potter 1 & 2). Di dekat Kastil dan Cathedralnya ada sebuah sungai membelah, kadang satu-dua orang melintas dengan perahu dayung. So far aku baru berjalan-jalan ke City Center saja, belum menjelajah sudut-sudut kota lainnya. 



Durham Cathedral






Depan Kastil tempat asrama mahasiswa undergraduate



Aku merasa sangat bersyukur karena memilih Durham, sebuah kota kecil yang indah, tenang, cocok bagi orang sepertiku yang mencari kedamaian. 
Seperti filosofi Minang "Alam Terkembang Jadi Guru", belajar bisa dilakukan dimanapun dan dari sumber manapun. Aku berharap bisa belajar bertumbuh dari kota kecil ini, berkembang, belajar menyerap ilmu sebanyak-banyaknya (baik ilmu ekonomi syariah maupun ilmu kehidupan) dan kembali untuk mengajarkannya. Dan tentunya, aku berharap ilmu yang kupelajari akan berguna untuk kemajuan Islam dan Ekonomi Islam di Indonesia. 

Aku percaya bahwa ilmu yang bermanfaat akan mendekatkanmu kepada Allah, bukan malah menjauhkan kita dari-Nya. Karena itulah esensi belajar sesungguhnya: semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin meyakini kebesaran Allah. 



Bismillah


Durham, 21 September 2017

Rabu, 20 September 2017

Kenapa Harus ke Kampung Inggris?

“Kalau cuma untuk belajar bahasa Inggris doang, kenapa harus ke Pare? Di Jakarta juga banyak tempat les, kok!”

Bukan satu dua orang yang menanyakan pertanyaan itu ketika aku menyatakan ingin pergi ke Kampung Inggris, Pare untuk belajar bahasa Inggris selama sebulan. Dosen-dosen senior, keluarga, teman-teman, sampai boss-ku.

Ingin rasanya aku menjawab, “Kalau orang yang belum pernah ke Pare, pasti nggak tau rasanya, deh”, tapi tentunya, aku tidak bisa menjawab seperti itu ke boss-ku, hehe.

What’s so special about Kampung Inggris di Pare, sehingga aku merelakan resign kerja lebih awal untuk persiapan bahasa Inggris di sana? Apa daya tarik yang membuat ribuan siswa, dari SD, SMP mahasiswa, pekerja, bahkan ada juga kakek-kakek dari seluruh Indonesia sengaja datang ke sebuah desa kecil yang terletak di Kediri, Jawa Timur untuk belajar bahasa Inggris?

Pertama, kursus bahasa Inggris di Pare sangat banyak dan beragam. Dari program yang dasar seperti speaking dasar, pronounciation, vocabulary, grammar, sampai program public speaking maupun academic writing semua tersedia di sana, dengan lembaga kursus yang tersedia berjumlah ratusan. Tinggal pilih saja program mana yang paling sesuai dengan yang kita butuhkan. Dulu ketika pertama kali aku datang ke Kampung Inggris tahun 2013, karena kemampuan bahasa Inggris-ku masih nol, kursus yang kuambil adalah Pronounciation, Speaking, dan TOEFL. Sekarang berhubung aku perlu mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris untuk studi S2 di UK, maka kursus yang kuambil juga yang menunjang kebutuhan kuliah: Academic Writing, Public Speaking, dan Pre-Intermediate Speaking (Speaking for Presentation). Alhamdulillah, sebulan belajar di Pare membuatku semakin mantap untuk beradaptasi dengan kehidupan akademik di Inggris kelak, minimal untuk membuat paper, berdiskusi, presentasi, atau ikut confrence.




Beberapa lembaga les di Pare

Kedua, biaya kursus dan biaya hidup di Kampung Inggris yang super duper murah. Biaya program di Kampung Inggris beragam sesuai kebutuhan. Aku mengambil program kelas Public Speaking di Daffodils 175 ribu, Public Speaking di Global English 150 ribu, dan Academic Writing di Kresna hanya 70 ribu (!) untuk periode dua minggu atau sepuluh kali pertemuan. Bayangkan, mana dapet harga kursus segitu di Jakarta? Belum lagi setiap program masih menawarkan study club atau kelas tambahan tanpa perlu membayar biaya tambahan. Sementara biaya untuk makanan, sebenarnya biayanya agak lebih mahal dibandingkan ketika aku ke Kampung Inggris tahun 2013 karena inflasi, namun tetap saja: murah! Rata-rata habis 12 ribu sekali makan, paling hedon 15-20 ribu. Tapi tetap saja setiap hari aku harus menahan godaan jajanan-jajanan murah yang bertebaran sepanjang Pare: Ketan susu (3 ribu), sempol (sate lilit ayam, 500 rupiah per tusuk), pentol (bakso, 500-1000 rupiah per buah), dawet, jamur crispy, dan masih banyak lagi. Untuk tempat tinggal di camp aku membayar 500 ribu sebulan, dimana satu kamar ditempati berdua. Selain itu, untuk transportasi sehari-hari kami menggunakan sepeda yang bisa disewa sebesar 85 ribu per bulan. Intinya, biaya di Kampung Inggris sangat terjangkau bagi kantong mahasiswa, apalagi untuk sebuah investasi pendidikan.


My luvly sempol ayam

Daily transportation in Pare

Murah kan?

Ketiga, sistem belajar dan lingkungan belajar di Kampung Inggris yang mengubah mindset. Di Kampung Inggris, bahasa Inggris itu seperti oksigen: ada di mana-mana.  Biasanya, yang menjadi mental block orang Indonesia untuk mempelajari bahasa Inggris adalah karena malu untuk mempraktekkannya. Kita malu untuk melatih kemampuan bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris karena takut salah atau takut dibilang sok. Namun di Kampung Inggris, orang-orang tidak malu untuk melatih kemampuan berbahasa dengan mengobrol menggunakan bahasa Inggris, mewawancarai orang yang ditemui dengan menggunakan bahasa Inggris, dan kadang kutemui di jalan-jalan ada yang sedang berpidato menggunakan bahasa Inggris. Prinsipnya, tidak apa salah, yang penting berani mencoba untuk berbicara. Tidak sedikit satu-dua temanku di Pare yang bahasa Inggrisnya masih medok bercampur bahasa Jawa, namun kemauan dan semangat mereka untuk mempelajari bahasa Inggris patut diacungi jempol. Program di camp-camp juga melatih kami untuk menggunakan bahasa Inggris setiap harinya, dengan adanya speaking area, menghafal vocabulary subuh-subuh, presentasi dan public speaking di hadapan banyak orang setiap malamnya, dan masih banyak lagi. Aku pernah diwawancara dalam bahasa Inggris oleh siswa yang kutemui di warung, dan di belokan jalan menuju tempat les yang biasa kulewati, ada anak-anak yang melatih public speakingnya disaksikan orang-orang yang lewat.

Speaking for Presentation di Kresna

Last but not least, Kampung Inggris terletak di sebuah desa yang pemandangannya masih desa banget, dengan sawah di mana-mana. Cocok buat menjauhkan diri dari hiruk-pikuk suasana kota yang sumpek. Selain itu, Kampung Inggris dekat dengan tujuan wisata seperti Batu, Malang, Gunung Bromo, Pulau Sempu, Bali, dan masih banyak lainnya yang paket wisatanya ditawarkan dengan harga murah. Tidak heran, setiap musim liburan Kampung Inggris penuh dengan mahasiswa yang menghabiskan liburan kuliahnya dengan aktivitas belajar sambil berlibur.

In the end, Kampung Inggris sebenarnya bukan tempat ajaib yang bisa membuat seseorang langsung jago berbahasa Inggris. Tapi, Kampung Inggris adalah tempat yang pas untuk mengubah mindset: belajar bahasa Inggris itu susah. Kuakui, setelah pertama kali datang ke Pare, aku semakin percaya diri untuk berbahasa Inggris. Dan kemampuan berbahasa Inggris membuka satu demi satu pintu peluang kepadaku: kesempatan untuk mendapat beasiswa dan berkuliah di Inggris. Karena itu, bagi teman-teman yang ada waktu, dana, dan ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya, aku sarankan sekali untuk mencoba belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris. 

Yuk, ke Kampung Inggris!








PS: Penulis tidak dibayar untuk endorse wkwkwk