Rabu, 20 September 2017

Kenapa Harus ke Kampung Inggris?

“Kalau cuma untuk belajar bahasa Inggris doang, kenapa harus ke Pare? Di Jakarta juga banyak tempat les, kok!”

Bukan satu dua orang yang menanyakan pertanyaan itu ketika aku menyatakan ingin pergi ke Kampung Inggris, Pare untuk belajar bahasa Inggris selama sebulan. Dosen-dosen senior, keluarga, teman-teman, sampai boss-ku.

Ingin rasanya aku menjawab, “Kalau orang yang belum pernah ke Pare, pasti nggak tau rasanya, deh”, tapi tentunya, aku tidak bisa menjawab seperti itu ke boss-ku, hehe.

What’s so special about Kampung Inggris di Pare, sehingga aku merelakan resign kerja lebih awal untuk persiapan bahasa Inggris di sana? Apa daya tarik yang membuat ribuan siswa, dari SD, SMP mahasiswa, pekerja, bahkan ada juga kakek-kakek dari seluruh Indonesia sengaja datang ke sebuah desa kecil yang terletak di Kediri, Jawa Timur untuk belajar bahasa Inggris?

Pertama, kursus bahasa Inggris di Pare sangat banyak dan beragam. Dari program yang dasar seperti speaking dasar, pronounciation, vocabulary, grammar, sampai program public speaking maupun academic writing semua tersedia di sana, dengan lembaga kursus yang tersedia berjumlah ratusan. Tinggal pilih saja program mana yang paling sesuai dengan yang kita butuhkan. Dulu ketika pertama kali aku datang ke Kampung Inggris tahun 2013, karena kemampuan bahasa Inggris-ku masih nol, kursus yang kuambil adalah Pronounciation, Speaking, dan TOEFL. Sekarang berhubung aku perlu mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris untuk studi S2 di UK, maka kursus yang kuambil juga yang menunjang kebutuhan kuliah: Academic Writing, Public Speaking, dan Pre-Intermediate Speaking (Speaking for Presentation). Alhamdulillah, sebulan belajar di Pare membuatku semakin mantap untuk beradaptasi dengan kehidupan akademik di Inggris kelak, minimal untuk membuat paper, berdiskusi, presentasi, atau ikut confrence.




Beberapa lembaga les di Pare

Kedua, biaya kursus dan biaya hidup di Kampung Inggris yang super duper murah. Biaya program di Kampung Inggris beragam sesuai kebutuhan. Aku mengambil program kelas Public Speaking di Daffodils 175 ribu, Public Speaking di Global English 150 ribu, dan Academic Writing di Kresna hanya 70 ribu (!) untuk periode dua minggu atau sepuluh kali pertemuan. Bayangkan, mana dapet harga kursus segitu di Jakarta? Belum lagi setiap program masih menawarkan study club atau kelas tambahan tanpa perlu membayar biaya tambahan. Sementara biaya untuk makanan, sebenarnya biayanya agak lebih mahal dibandingkan ketika aku ke Kampung Inggris tahun 2013 karena inflasi, namun tetap saja: murah! Rata-rata habis 12 ribu sekali makan, paling hedon 15-20 ribu. Tapi tetap saja setiap hari aku harus menahan godaan jajanan-jajanan murah yang bertebaran sepanjang Pare: Ketan susu (3 ribu), sempol (sate lilit ayam, 500 rupiah per tusuk), pentol (bakso, 500-1000 rupiah per buah), dawet, jamur crispy, dan masih banyak lagi. Untuk tempat tinggal di camp aku membayar 500 ribu sebulan, dimana satu kamar ditempati berdua. Selain itu, untuk transportasi sehari-hari kami menggunakan sepeda yang bisa disewa sebesar 85 ribu per bulan. Intinya, biaya di Kampung Inggris sangat terjangkau bagi kantong mahasiswa, apalagi untuk sebuah investasi pendidikan.


My luvly sempol ayam

Daily transportation in Pare

Murah kan?

Ketiga, sistem belajar dan lingkungan belajar di Kampung Inggris yang mengubah mindset. Di Kampung Inggris, bahasa Inggris itu seperti oksigen: ada di mana-mana.  Biasanya, yang menjadi mental block orang Indonesia untuk mempelajari bahasa Inggris adalah karena malu untuk mempraktekkannya. Kita malu untuk melatih kemampuan bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris karena takut salah atau takut dibilang sok. Namun di Kampung Inggris, orang-orang tidak malu untuk melatih kemampuan berbahasa dengan mengobrol menggunakan bahasa Inggris, mewawancarai orang yang ditemui dengan menggunakan bahasa Inggris, dan kadang kutemui di jalan-jalan ada yang sedang berpidato menggunakan bahasa Inggris. Prinsipnya, tidak apa salah, yang penting berani mencoba untuk berbicara. Tidak sedikit satu-dua temanku di Pare yang bahasa Inggrisnya masih medok bercampur bahasa Jawa, namun kemauan dan semangat mereka untuk mempelajari bahasa Inggris patut diacungi jempol. Program di camp-camp juga melatih kami untuk menggunakan bahasa Inggris setiap harinya, dengan adanya speaking area, menghafal vocabulary subuh-subuh, presentasi dan public speaking di hadapan banyak orang setiap malamnya, dan masih banyak lagi. Aku pernah diwawancara dalam bahasa Inggris oleh siswa yang kutemui di warung, dan di belokan jalan menuju tempat les yang biasa kulewati, ada anak-anak yang melatih public speakingnya disaksikan orang-orang yang lewat.

Speaking for Presentation di Kresna

Last but not least, Kampung Inggris terletak di sebuah desa yang pemandangannya masih desa banget, dengan sawah di mana-mana. Cocok buat menjauhkan diri dari hiruk-pikuk suasana kota yang sumpek. Selain itu, Kampung Inggris dekat dengan tujuan wisata seperti Batu, Malang, Gunung Bromo, Pulau Sempu, Bali, dan masih banyak lainnya yang paket wisatanya ditawarkan dengan harga murah. Tidak heran, setiap musim liburan Kampung Inggris penuh dengan mahasiswa yang menghabiskan liburan kuliahnya dengan aktivitas belajar sambil berlibur.

In the end, Kampung Inggris sebenarnya bukan tempat ajaib yang bisa membuat seseorang langsung jago berbahasa Inggris. Tapi, Kampung Inggris adalah tempat yang pas untuk mengubah mindset: belajar bahasa Inggris itu susah. Kuakui, setelah pertama kali datang ke Pare, aku semakin percaya diri untuk berbahasa Inggris. Dan kemampuan berbahasa Inggris membuka satu demi satu pintu peluang kepadaku: kesempatan untuk mendapat beasiswa dan berkuliah di Inggris. Karena itu, bagi teman-teman yang ada waktu, dana, dan ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya, aku sarankan sekali untuk mencoba belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris. 

Yuk, ke Kampung Inggris!








PS: Penulis tidak dibayar untuk endorse wkwkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar