Senin, 31 Agustus 2015

My Precious Moment: Graduation Day

Akhirnya tiba juga hari besar yang menandakan fase terakhirku sebagai mahasiswa: Wisuda!
Sudah sekian lama kutandai tanggal ini, 28 Agustus, dengan spidol besar di kalender, sebagai pengingat dan penyemangat dalam mengerjakan skripsi.

Sebenarnya, secara de facto aku memang sudah bukan mahasiswa lagi, karena sidang dan segala printilannya sudah kuselesaikan dari sebelum lebaran. Bahkan aku sudah memulai pekerjaan di kampus seminggu sebelum wisuda. Tapi tetap saja, hari wisuda adalah momen yang kutunggu-tunggu sebagai seremoni pelepasan status mahasiswa.

Karena sedang hectic beradaptasi dengan pekerjaan baru di kampus, persiapan wisuda baru kulakukan pada detik-detik terakhir. Bahkan sepatu high heels untuk wisuda baru kubeli H-1 Gladi Resik. Lalu tadinya saat Gladi Resik aku memilih untuk didandani Icha saja, tapi karena satu dan lain hal aku terpaksa ke salon Moz5 Tebet pada hari-H (yang mahalnya minta ampun dan aku nggak suka gaya hijab yang dipakaikan mbaknya).

Sehari sebelum wisuda, para wisudawan program reguler mengikuti Gladi Resik, dimana kita mempersiapkan susunan acara besok secara singkat, dan berjabat tangan bersama Dekan Fakultas masing-masing dan Rektor UI. Sesudah berjabat tangan, so pasti kita menyerbu Rotunda untuk foto-foto dong :3

Foto Wisuda Wajib 1: Foto depan gedung rektorat

Foto Wajib 2: Lempar toga ala-ala

Hari-H wisuda dilalui dengan super rempong, make-up bareng Camila di Moz5 Depok dari jam 10 pagi. Tenyata di Moz5 banyak anak-anak FH lainnya yang lagi di make-up. Untungnya aku lagi dapet, jadi nggak musingin gimana caranya wudhu dengan make-up. Untungnya juga ada Una si ade tersayang (tipu) yang siap menemani selama di make-up, ngasih arahan ke mbaknya tentang make-up dan hijab style yang dikenakan kepadaku, jadi make-upnya nggak fail-fail banget. Bahkan aku jauh lebih sukaa hijab style yang kukenakan saat hari wisuda.

Setelah di make-up rapi, aku, Camila, dan Una bergegas ke balairung, mengingat sudah jam 1 kurang 10 menit sementara wisudawan wajib berkumpul di sisi balairung jam 1. Melihat jalanan yang super macet nggak bergerak, akhirnya kami nekat naik ojek dari stasiun UI, dengan wajah sudah di make-up dan kebaya rapi.

Kami sampai tepat pada waktunya, beberapa menit sebelum wisudawan Fakultas Hukum dipanggil masuk ke dalam Balairung. 

Dengan berbaris rapi, wisudawan dari Fakultas Hukum memasuki Balairung.
Aku menatap jejeran Jaket Kuning di atas balkon dan deretan toga hitam di bawah balkon dengan takjub. Empat tahun yang lalu, aku berada di deretan atas balkon, mengenakan Jaket Kuning dan bertanya-tanya apa rasanya jadi kakak-kakak wisudawan yang dinyanyikan di bawah sana.
Ternyata, begini rasanya.

Kami mengikuti prosesi wisuda dengan bergembira. Mengadu yel-yel antar Fakultas ketika satu persatu wisudawan terbaik dari setiap Fakultas dipanggil. Ikut bernyanyi saat adik-adik mahasiswa baru menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur, Genderang UI, Selamat Datang Pahlawan Muda, dan lagu favorit kami Keroncong Kemayoran yang membuat kami asyik menggoyang-goyangkan badan mengikuti irama lagu. Tapi momen paling unyu adalah saat solis menyanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil, dan deretan mahasiswa baru menyalakan senter HP mereka dan menimbulkan efek ribuan titik cahaya yang bergerak seperti lilin di langit-langit balairung.


Sempet-sempetnya selfie selama prosesi wisuda

Prosesi wisuda selesai, kami pun bubar dan menghampiri keluarga masing-masing untuk berfoto.

Maaf fotonya banyak banget, because every moment with them is my precious moment

Tidak lupa selfie cantik bersama ade kakak

Selesai sesi berfoto bersama keluarga, kami memutuskan untuk berpisah karena aku dan teman-teman sudah berjanji untuk berkumpul di PPMT, untuk foto bersama.

Di depan Rektorat, aku bertemu dengan teman-teman Mabit: Upi, Dicky, Aim, Novia dan Onad. 

Sebagian dari Wisudawan Mabit. Sayang nggak kekumpul semua :')

Para penyandang gelar Sarjana Hukum

Tidak lupa berfoto dengan Go-Pronya Sandipa yang hitz

Satu persatu junior-juniorku datang menghampiri, mengucapkan selamat, dan mengajak foto bersama. Dan yang membuatku terharu, mereka memberikan hadiah wisuda untukku, baik bunga maupun bingkisan lain, padahal aku nggak minta looh hehe. Makasih banyak adik-adik Serambi, adik-adik Rumah Belajar BEM UI, dan adik-adik panitia PMH 2015! :3


Saat kulihat jam, mendadak aku teringat akan janji untuk bertemu teman-teman GUIM di baliho Sadewa. Aku berputar-putar mencari baliho Sadewa, dan pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya aku bertemu girls disana!

With GUIM dan Girls

Wisuda hari ini merupakan moment tak telupakan bagiku. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah menyempatkan datang, memberi ucapan selamat, mengajak berfoto bersama, bahkan memberikan hadiah. Seandainya aku bisa mengawetkan bunga, mungkin aku akan mengawetkan satu persatu bunga pemberian teman-temanku, supaya aku teringat terus dengan yang memberikan bunga.

Anyway thanks a lot, I can't make it without you, my supporting system! :) (you-nya jamak ya *klarifikasi).

Sebagian dari hadiah-hadiah wisuda. Thanks a lot guys! I really appreciate it :')

Gimana rasanya jadi wisudawan? Hmmm aku tidak bisa bilang rasanya lega, karena satu persatu tantangan di kehidupan pasca kampus sudah bermunculan. Wisuda ini adalah momen naik level bagiku. Kamu tahu kan kalau kita main game, sehabis mengalahkan musuh besar, pasti kita akan mendapatkan tantangan di stage selanjutnya yang lebih sulit dengan musuh besar yang semakin sulit dikalahkan. What I can say is, sekolah maupun kuliah adalah part termudah dalam hidup yang harus kita lalui. Masih banyak tantangan-tantangan dalam tahapan hidup kita yang lain. Masih banyak musuh-musuh besar lain yang harus dikalahkan!


Kulirik poster mimpi-mimpi yang terpampang di dinding kamarku. Deret paling bawah dalam target mimpiku sudah terwujud. Saatnya mewujudkan deret selanjutnya! :)

Selasa, 18 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #3 : Lost in Translation

“Wilujeng enjing sadayana! Tepangkeun, nami abdi teh Ibu Iffah. Ti dieu, Ibu hayang ngawulang barudak kelas tilu. Punten, ibu teu tiasa basa sunda. Tapi, ibu hayang diajar. Ajarkeun Ibu yaa. Hatur nuhun.”[1]

Aku mengucapkan kalimat itu di depan kelas sambil sesekali melirik catatan yang kubawa. Bahasa Sunda memang bukan bahasa yang kukuasai. Namun, Bahasa Sunda adalah bahasa yang sehari-hari dipakai di Sukabumi, tempat SDN Puncakmanggu berada. Sebagai pengajar Gerakan UI Mengajar 4 yang akan mengajar selama tiga minggu di sini, tentu saja kami aku harus mengerti bahasa Sunda. Selain itu, sebagian besar murid kelas tiga yang akan kuajar tidak mengerti bahasa Indonesia. Syukurlah, aku sudah mencatat beberapa kosakata bahasa sunda untuk berkenalan.
***

Hari kedua di Sukabumi, sepulang observasi di sekolah, Rina dan Ucheng mengantarkanku ke rumah tempatku akan menumpang tinggal selama tiga minggu ke depan. Aku mendapatkan housefam milik Bu Uam yang tinggal sendirian, karena anak-anaknya sudah dewasa dan suaminya sudah meninggal. Rumah Bu Uam terletak paling jauh dari sekolah, letaknya di bawah bukit dan harus menuruni jalan yang curam. Artinya, aku berangkat ke sekolah harus paling pagi dan menaiki bukit yang curamnya seperti sedang naik gunung. Sisi positifnya, aku pulang bisa tinggal menggelinding, nanti juga sampai ke rumah haha.

Bila kuamati, rumah-rumah yang ada di desa ini sebagian besar sudah memiliki fisik bagus, terbuat dari beton, bahkan ada beberapa yang rumahnya bertingkat dua dan memiliki parabola. Hanya sebagian kecil rumah yang masih merupakan rumah panggung dan terbuat sepenuhnya dari kayu. Tak urung ini membuatku bertanya-tanya, apa ya pekerjaan mereka sampai bisa membangun rumah yang bagus di desa terpencil?

Saat sampai di rumah Bu Uam, aku baru menyadari masalahku yang sangat genting: Bu Uam sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia! Sudah begitu, aku juga tidak bisa berbahasa sunda. Tentu akan sulit tinggal serumah dengan orang yang berbeda bahasa dengan kita. Terkadang walaupun aku sudah menggunakan bahasa isyaratpun, Ibu Uam tetap tidak mengerti. Itu artinya, aku memang harus memaksakan diri agar dapat mengerti dan mengucapkan bahasa sunda.

Beberapa saat aku dan Bu Uam mengalami awkard moment karena kami tidak tahu harus mengucapkan kata-kata apa. Kami hanya saling tersenyum canggung.

Bring me Oxford Dictionary Basa Sunda full version please!

Teman-teman, aku bingung nih mau ngobrol apa sama ibunya pake bahasa sunda. Toloong. Jeritku di grup chat Whatsapp Panitia dan Pengajar GUIM.

Untunglah saat itu Bu Dewi dan Bu Wulan, tetangga sebelah, datang berkunjung untuk melihat keadaanku. Aku merasa lega saat mengetahui mereka dapat berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Ternyata mereka masih bersaudara dengan Bu Uam. Seperti layaknya desa-desa di Indonesia, biasanya penduduk yang tinggal dalam satu kampung masih bersaudara. Bu Uam sendiri memiliki beberapa saudara yang rumahnya tersebar di desa ini. Ibu housefam dari para pengajar pun ternyata masih memiliki hubungan darah satu sama lain. Bu Wulan bercerita bahwa sebagian besar dari saudara Bu Uam pernah bekerja sebagai TKI ke Arab Saudi, oleh karena itu mereka bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Hanya Bu Uam saja di keluarga mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia sebab ia tidak pernah ke luar kampung. Dan ternyata sebagian besar warga yang memiliki parabola adalah warga yang pernah menjadi TKI ke luar negeri. Pertanyaanku tadi terjawab sudah.

Mumpung ada Bu Dewi dan Bu Wulan, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar bahasa sunda. Aku meminta mereka menjadi penerjemah untuk menyampaikan kata-kata dariku kepada Bu Uam. Selain itu aku menanyakan beberapa kosakata percakapan bahasa sunda agar dapat berkomunikasi dengan Bu Uam. Buru-buru aku mencatat kata-kata itu dalam selembar kertas.

Handphoneku bergetar. Muncul sebuah pesan di grup chat. Dari Rina, Koordinator Lapangan kami yang memang bisa berbahasa sunda.
Bilang fah, Urang keur neangan bobogohan. [2]

Aku penasaran dan bertanya pada Bu Wulan. “Bu, Urang keur neangan bobogohan artinya apa?”
Bu Wulan, Bu Uam, dan Bu Dewi tertawa berderai mendengar pertanyaanku. “Emang Bu Iffah lagi nyari pacar?” tanya Bu Wulan setengah menggoda.
Kontan mukaku memerah. Dasar Rinaaaa!

Rin, kamu harus tanggung jawab kalau aku beneran dicariin kabogohan![3]
***

Aku diberikan sebuah kamar yang terletak di bagian paling depan rumah Bu Uam. Kamar itu berukuran kecil, hanya cukup untuk sebuah kasur. Namun menurutku kamar itu sudah cukup nyaman untuk tidur. Aku membongkar semua isi carrierku dan menatanya di sudut kamar. Saat aku pergi ke kamar mandi, ternyata kamar mandinya lampunya rusak, sehingga untuk mandi maupun buang air aku selalu membawa senter. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku akan betah sebulan tinggal disini. Oleh karena itu, goal pertamaku agar betah adalah harus bisa bahasa sunda agar bisa ngobrol sama Bu Uam!

Tiba saatnya tidur, aku berkata pada Bu Uam dengan bahasa sunda yang terpatah-patah, “Bu, abdi bade kulem tipayun ya.” (Bu, saya izin tidur duluan ya). Bu Uam hanya mengangguk sambil tersenyum.

Aku merebahkan diri di tempat tidur. Sambil tidur, aku membaca-baca buku cerita Pasukan Mau Tahu yang kupinjam dari perpustakaan Rumah Pelangi. Kamar sangat gelap, untung sebelum berangkat Camila memberikanku lampu baca portable untuk membaca buku saat malam hari.

Iseng-iseng mataku menelusuri tembok kamar tempatku berada. Ada retakan-retakan yang baru diperbaiki secara temporer, disangga dengan balok kayu. Seolah-olah.. kamar ini habis terbelah. Aku teringat cerita Rina sebelumnya bahwa desa ini sering mengalami gempa dan longsor. Terakhir kali bahkan ada longsor yang menyebabkan beberapa rumah retak. Aku merinding, membayangkan jika terjadi gempa lagi, langit-langit dan tembok kamarku akan runtuh menimpaku yang sedang tidur.

Malam itu, aku tidak bisa tidur.
***

Aku mulai frustasi. Entah mengapa, tidak ada anak-anak yang mengerti setiap instruksi yang kuberikan di kelas. Begitupun saat aku meminta mereka menjawab pertanyaan, beberapa anak yang kutanyai langsung menutup mulutnya dan menggeleng, menolak untuk menjawab. Awalnya kupikir mereka memang pendiam dan pemalu, tapi toh mereka justru cerewet mengobrol dengan temannya saat jam istirahat tiba.

Apakah aku guru yang buruk karena tidak bisa mengajari mereka? Pikirku.

Saat itu aku sedang mengajar materi IPA, menjelaskan perbedaan benda padat, cair, dan gas. Kemudian aku meminta mereka mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar mereka. Namun mereka tidak juga mengerti walaupun telah berkali-kali kujelaskan.

Ucheng, panitia RED (pengawas pengajar) yang kebetulan sedang melintas di depan kelas mencoba membantuku. “Coba Iffah jelaskan ke mereka pakai bahasa yang lebih sederhana. Lamun tiasa dipegang, namina benda padat. Lamun teu tiasa dipegang, namina benda gas. Lamun dipegang tangan basah, namina benda cair.”[4]

Aku mengingat-ingat kalimat tersebut dan mengulanginya di depan kelas. Ajaib, anak-anak menjadi paham dan dapat mengerjakan tugas dengan baik. Mereka bukannya tidak mengerti materi, mereka hanya tidak mengerti bahasa Indonesia yang kugunakan.
***

Selama jam istirahat aku dan Risky, pengajar kelas 5, menyimak kosakata bahasa Sunda yang diajarkan Pak Falah, guru kelas 4. Pak Falah memberikan contoh penggunaan bahasa Sunda, khususnya kosakata yang sering digunakan di Sekolah. Aku mencatatnya di buku kecil yang khusus kusediakan untuk belajar bahasa Sunda. Pak Falah juga mengajari kami mempraktikkan kalimat-kalimat itu kepada murid-murid yang sedang melintas. Dengan semangat kami menjajal kemampuan berbahasa Sunda kami, walaupun sesekali masih mengintip catatan. Walaupun beberapa murid menertawakan kami yang masih kaku mengucapkan bahasa Sunda, aku tidak peduli. Bagiku, menguasai bahasa Sunda adalah kunci utamaku untuk bisa survive di sini.
***

Atos,sadayana?”[5]
Teu acan, Bu.”[6] Sahut anak-anak.
Sok atuh, kerjakeun soalna. Lamun aya teu ngartos, wartos ka ibu.”[7]
Muhun, Bu.”[8]

Aku takjub melihat perubahan yang terjadi sejak aku menggunakan Bahasa Sunda. Jika sebelumnya anak-anak tidak mengerjakan tugas karena bingung, sekarang mereka dapat mengerti instruksi dariku dan mengerjakan tugas dengan baik. Anak-anak yang sebelumnya kukira pemalu karena jarang bicara, sekarang berani mencerocos dengan bahasa Sunda, bercerita kepadaku, walaupun aku belum tentu mengerti apa yang mereka bicarakan. Ternyata, selama ini mereka diam dan tidak mau menjawab karena aku selalu memberikan pertanyaan dengan bahasa Indonesia. Mereka takut salah apabila menjawab pertanyaanku dengan bahasa sunda.
***

“Sudah makan?”
Aku terheran-heran mendengar Bu Uam bisa berbahasa Indonesia. “Atos, Bu. Abdi tos tuang ti bumina Bu Maesaroh.”[9]

Betapa lucu perkembangan komunikasi antara aku dan Bu Uam. Bu Uam, sepertinya malu karena tidak bisa berbahasa Indonesia, meminta diajari bahasa Indonesia oleh tetangga-tetangga. Sementara aku juga sudah bisa menanggapi Bu Uam dengan bahasa Sunda. Perlahan-lahan, kami mulai memahami maksud satu sama lain.

Di Sukabumi, aku belajar mengenai kekuatan bahasa dalam berkomunikasi. Bila ingin diterima dalam sebuah masyarakat, kunci pertama adalah kuasai bahasa mereka. Sesudah itu, maka mudah saja untuk meraih hati mereka.

Jadi, kalau sekarang ada yang bertanya setengah meledek kepadaku, “Iffah udah bisa bahasa sunda, belum?”
Aku hanya menjawab sambil tersenyum, “Alhamdulillah, abdi tiasa ngarios basa sunda saleutik-saleutik.”[10]



[1] Selamat pagi semuanya! Kenalkan, nama saya Ibu Iffah. Di sini, ibu akan mengajar anak-anak kelas tiga. Maaf, ibu tidak bisa bahasa sunda. Tapi ibu mau diajar. Ajarkan ibu, ya. Terima kasih
[2] Saya lagi cari pacar
[3] Pacar
[4] Kalau bisa dipegang, namanya benda padat. Kalau tidak bisa dipegang, namanya benda gas. Kalau dipegang tangan jadi basah, namanya benda cair.
[5] Sudah, semuanya?
[6] Belum, Bu.
[7] Ayo, kerjakan soalnya. Kalau ada yang tidak mengerti, bilang ke Ibu.
[8] Baik, Bu.
[9] Sudah Bu, saya sudah makan di rumah Bu Maesaroh.
[10] Alhamdulillah, saya bisa ngomong bahasa sunda sedikit-sedikit.

Jumat, 14 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #2: Tiba di Desa Puncakmanggu



Jeep yang kunaiki berguncang-guncang karena jeleknya jalan yang kami lewati. Bahkan dari dalam Jeep pun, kami dapat merasakan batu-batu kerikil kasar yang menjadi material jalan. Tentu saja di desa ini, tidak ada jalan yang sudah diaspal. Belum lagi puluhan kelokan dan tanjakan yang harus kami lalui menuju desa Puncakmanggu. Beberapa tanjakan begitu terjal, bahkan ada tanjakan yang sepertinya kecuramannya mencapai 35 derajat. Baru aku pahami, kenapa kami harus menggunakan jeep untuk mencapai titik lokasi mengajar.

Subuh itu, kami sampai di Sukabumi setelah perjalanan selama delapan jam. Bis-bis kuning yang mengantar kami dari Depok diparkir rapi di halaman masjid tempat meeting point. Di sebelahnya, berderet puluhan Mini Jeep dari Komunitas Little Jeep Owner Community (LJOC) yang akan memobilisasi kami ke Titik masing-masing. Kabarnya medan menuju lokasi mengajar tidak bisa ditempuh kendaraan biasa, karena itu kami harus memakai Jeep. Apalagi konon Titik Satu tempat kami akan mengajar terletak di lokasi terjauh dan memiliki jalanan terjal, sehingga kami harus siap sedia sendal gunung.

Setelah sholat subuh, sarapan, dan mengikuti upacara di Kelurahan, tiba saatnya mobilisasi ke titik masing-masing. Kami berpisah dengan teman-teman titik lain karena kami baru akan berjumpa kembali tiga minggu lagi. Kemudian aku bersama Maul, Melati, dan Ela masuk ke dalam sebuah mini jeep. Tenyata kami memilih Jeep yang tepat. Walaupun kami harus duduk berdempetan di bagian belakang Jeep yang sempit, Jeep itu memiliki air conditioner, tidak seperti Jeep lain. Misalnya Jeep yang dinaiki Gugum dan Risky yang beratap terbuka, sehingga mereka menempuh perjalanan dengan posisi berdiri.
Risky dan Gugum: Awalnya keren, lama-lama capek juga berdiri terus

Pemilik Jeep tempat kami menumpang ternyata sangat menyenangkan. Sejujurnya aku lupa siapa namanya, sebut saja namanya Om Robi dan Om Joko. Ternyata mereka pengemudi Jeep yang sudah punya jam terbang banyak. Konon menurut cerita Om Robi dan Om Joko, pengemudi jeep-jeep yang mengantar kami ke titik satu adalah pengemudi jeep yang jam terbangnya tinggi, misalnya sering ikut balapan, sudah pernah masuk jurang, dan lain-lain. Mereka sengaja mengantar kami karena jalan menuju Titik 1 benar-benar sempit, curam, dan jelek, maka dibutuhkan pemilik Jeep yang sudah berpengalaman. Kami ternganga mendengar cerita-cerita mereka yang sudah pernah mengemudi di segala medan, mulai dari gunung, padang pasir, bahkan pernah Om Robi ikut balapan sampai masuk jurang. Di sela-sela kegiatan komunitas mereka, mereka juga melakukan kegiatan sosial, salah satunya yang sedang mereka lakukan adalah membantu mobilisasi GUIM.

Dua jam lebih perjalanan, rasanya kami tidak sampai-sampai juga. Jalanan semakin menanjak curam, kasar, dan sempit. Mobil terus berguncang-guncang karena kasarnya jalan yang kami lewati. Namun akhirnya mobil kami berhenti juga. Kami sampai di rumah tujuan kami yang terletak persis di depan SD Puncakmanggu. Carrier-carrier kami diturunkan.

Pemilik rumah yang bernama Bu Maesaroh menyambut kedatangan kami. Bu Maesaroh tinggal di rumahnya bersama dengan anaknya yang bernama Agung, anak  kelas 6 SD Puncakmanggu. Di samping rumah Bu Maesaroh yang memiliki warung, berdiri rumah anaknya yang bernama Bu Ika. Bu Ika yang juga merupakan guru kelas 1 di SDN Puncakmanggu memiliki anak yang cantik dan menggemaskan bernama Pia.

Rumah Bu Maesaroh yang cukup luas rencananya akan ditempati oleh para panitia. Sementara para pengajar akan ditempatkan di rumah-rumah warga secara terpisah. Pada hari pertama, beberapa pengajar sudah diantar ke rumah housefamnya masing-masing. Berhubung Bu Uam, Ibu house fam yang kutempati sedang ada hajatan di rumah saudaranya, maka aku belum bisa menempati rumah house fam.

Keesokan harinya, hari Jum’at, adalah hari pertama kami masuk sekolah. Beberapa anak sudah mengamati kedatangan kami dari jauh. Kami hanya tersenyum gugup, tidak sabar untuk berkenalan dengan anak-anak kami masing-masing. Aku memperhatikan, beberapa anak yang sedang menunggu bel masuk berbunyi menghabiskan waktu mereka dengan bermain voli dan sepak takraw di lapangan sekolah. Mereka sangat lihai bermain sepak takraw, tidak terkecuali anak-anak perempuannya. 

Sambil menunggu, kami berlatih kosakata dasar bahasa sunda supaya nanti bisa menyapa anak-anak. Apalagi, konon anak-anak kelas kecil tidak terbiasa untuk berbicara bahasa sunda. Tentunya hal ini menjadi salah satu PR bagiku yang harus mengajar kelas tiga. Aku tidak bisa berbahasa sunda!
Ceritanya nunggu sekolah mulai, entah kenapa jadi keliatan kayak anak-anak dihukum sama guru

Di sisi lain sekolah ada tebing tinggi yang bisa didaki. Disana anak-anak bermain lari-larian. Aku terpekik melihat pemandangan dari atas tebing. Sungguh, desa ini adalah tempat yang sangat indah. Aku merasa bersyukur walaupun ditempatkan di titik terjauh. Pemandangan sawah dan bukit hijau membentang. Kami berfoto-foto di atas tebing dan mengajak beberapa anak untuk berfoto bersama, walaupun mereka masih agak malu-malu.

Sesaat kemudian lonceng sekolah berdentang. Anak-anak berhamburan menuju lapangan, membentuk barisan sesuai dengan kelas masing-masing. Hanya anak-anak kelas satu saja yang masih perlu diarahkan untuk merapikan barisan mereka. Kami berbaris menghadap barisan anak-anak. Anak-anak menatap kami dengan penasaran. Pak Sulton, guru kelas 5, memperkenalkan kami kepada anak-anak. Kami satu-persatu maju dan memperkenalkan diri.


“Sampurasun, sadayana. Wilujeng enjing. Tepangkeun, nami abdi  Ibu Iffah. (Halo, semuanya. Selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Ibu Iffah).” Aku menyapa mereka.

Setelah itu kami melakukan persembahan dengan menyanyikan lagu roti mentega. Beberapa anak terdiam dan malu-malu untuk mengikuti kami, namun ada beberapa yang mengikuti lagu dan gerakan kami.

Guru dan Pengajar GUIM di SD Puncakmanggu

Kemudian kami berkumpul bersama para guru di ruang guru. Kami berdiskusi dengan guru-guru mengenai apa yang akan kami lakukan di SD Puncakmanggu. Lalu kami mengikuti guru-guru ke kelas masing-masing, untuk mengobservasi cara mereka mengajar di kelas. Aku mengikuti Pak Baban, guru yang saat ini mengajar kelas tiga. Sebelumnya Pak Baban adalah Guru Agama Islam, namun karena Pak Badru, guru kelas tiga sebelumnya baru saja dimutasi, Pak Baban menjadi guru kelas tiga menggantikan Pak Badru merangkap guru Agama.

Aku duduk di meja guru, memperhatikan Pak Baban mengajar anak-anak. Memang, hari pertama datang kami dilarang untuk mengajar oleh RED, kami hanya diminta untuk mengobservasi kelas, bagaimana biasanya KBM di kelas berlangsung. Beberapa anak dengan raut penasaran mengamatiku yang duduk di meja guru. Mungkin jaket kuning yang kukenakan memang begitu mencolok.

Salah satu anak menyiapkan kelas, kemudian mereka membaca doa dan memberi salam. Lalu Pak Baban mengabsen satu persatu anak-anak. Anak-anak duduk membentuk kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari sekitar enam orang. Buku yang mereka gunakan untuk belajar dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh enam orang anak.

Kesimpulanku hasil observasi, gaya mengajar di sekolah ini masih gaya mengajar yang berorientasi pada guru, bukan pada siswa. Pak Baban meminta anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang Pak Baban mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku. Anak-anak menyalin secara berebutan, karena buku yang dimiliki memang terbatas. Kadang satu orang bertugas mendiktekan, sementara yang lain menulis mengikuti. Sehabis itu Pak Baban menjelaskan materi, dan akhir kelas ditutup dengan menjawab soal-soal yang ada di akhir setiap BAB. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.

Aku merasa berdebar-debar. Metode mengajar kreatif yang dibawa GUIM sama sekali berbeda dengan metode yang mereka gunakan sekarang. Akankah kami berhasil membawakan metode mengajar kreatif di SD Puncakmanggu ini? Apakah aku sanggup, dalam waktu tiga minggu ini, untuk menanamkan nilai-nilai dan membentuk karakter yang membekas pada murid-murid kelas tiga?

Aaah, aku sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba. Hari pertamaku mengajar.

Jumat, 07 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #1: Perkenalan


Gerakan UI Mengajar (GUIM) adalah program yang terinspirasi dari Indonesia Mengajar, dimana mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia dari berbagai jurusan dan angkatan dikirim ke desa yang akses pendidikannya masih kurang untuk mengajar di Sekolah Dasar selama tiga minggu.
Kali ini, aku beruntung terpilih menjadi salah satu dari 36 Pengajar GUIM angkatan 4. Program GUIM 4 berlangsung selama bulan Januari 2015 ini. Setelah GUIM pertama di Garut, GUIM 2 di Sobang, Banten, dan GUIM 3 di Indramayu, GUIM 4 memilih lokasi Kabupaten Sukabumi sebagai tempat pengabdian kami. Kenapa Sukabumi? Konon, Sukabumi memiliki angka putus sekolah yang cukup tinggi. Banyak anaknya yang tidak melanjutkan jenjang pendidikan selepas lulus SD, apalagi yang melanjutkan dari SMP ke SMA. Sedih rasanya mendengar fakta bahwa persebaran akses pendidikan di Indonesia masih timpang, apalagi Sukabumi sebenarnya letaknya tidak terlalu jauh dari Ibukota, masih di Provinsi Jawa Barat, masih di Pulau Jawa.
Aku mendapat tugas untuk mengajar kelas 3, ditemani oleh pengajar kelas lain dan panitia yang tergabung dalam Titik Satu. Kami mendapatkan amanah untuk membantu mengajar di SDN Puncakmanggu, desa Balekambang, Kecamatan Jampang Kulon selama bulan Januari 2015. Selain mengajar, kami juga bertugas untuk menanamkan nilai dan menginspirasi anak-anak yang kami ajar.
Cerita ini kubuat bukan untuk bernostalgia tentang kisah kami selama tiga minggu disana. Bukan itu. Karena rasanya, berlembar-lembar halaman pun tidak akan cukup untuk menceritakan pengalaman menakjubkan yang kami alami di sana. Aku menulis cerita ini untuk berbagi, berbagi pelajaran yang kudapatkan dalam waktu yang singkat di sana. Dan aku harap, kisahku ini dapat memberikan pelajaran bagi kalian yang membaca, sekaligus menghibur.
Sebelum aku mulai bercerita, yuk kenalan dulu dengan tokoh-tokoh dalam kisah ini:


Iffah. Iffah adalah mahasiswa tingkat akhir yang mencoba menjajal kemampuannya mengajar. Walaupun Iffah pernah beberapa kali mengajar anak SMA untuk persiapan SNMPTN, namun dia merasa bahwa di GUIM tantangannya lebih berat. Mengajar anak SD artinya menanamkan nilai, dan kau tak mungkin mengajarkan anak-anak untuk berperilaku baik sementara dirimu tidak mencontohkan perilaku baik, bukan? Dan beruntungnya, melalui GUIM Iffah dipertemukan dengan murid-murid kelas tiga yang memberikan pengalaman hidup tak terlupakan.


Maul. Maul adalah pengajar kelas satu. Maul adalah orang yang kukagumi karena kemampuannya untuk lembut sekaligus tegas kepada murid-murid kelas satu yang masih cilik-cilik. Untuk menghadapi anak-anak kelas satu yang perilakunya masih seperti anak TK tentu diperlukan kesabaran ekstra, dan Maul memiliki itu. Walaupun Maul selalu bercerita kalau dia terkadang kesal dengan tingkah laku anak muridnya, namun jauh di lubuk hati aku tahu, Maul begitu menyayangi mereka, dan mereka amat sangat menyayangi Maul. Maul memiliki cita-cita yang unik untuk mendirikan TK dan memiliki banyak anak. Di luar kelas, Maul adalah tempatku bercerita tentang banyak hal karena aku dan dia memiliki banyak kesamaan, kami sama-sama suka menulis. Maul juga berbakat di bidang teater, pengalaman mengajarnya didapat dari pengalamannya sebagai penulis skenario sekaligus pelatih teater. Cool.


Ela. Ela adalah pengajar kelas dua yang ceria, selalu menyemarakkan suasana, namun strong. Di bawah bimbingan Ela, murid-murid kelas dua berhasil menjadi murid paling disiplin dan teratur yang pernah kulihat diantara kelas-kelas kecil seperti kelas 1, 2, dan 3. Ela sangat periang namun tegas di dalam kelas, namun kalau sudah berkumpul dengan pengajar di luar kelas, Ela bisa menjadi orang yang sangat gokil dan alay (maaf Girls Ela. Tapi kamu memang alay). Namun bersamanya, aku bisa puas melakukan hal-hal aneh tanpa harus repot-repot jaim (menjaga image). Di balik wajahnya yang manis tidak mengancam, diam-diam ternyata Ella sangar. Ia salah satu anggota Gandewa, organisasi pecinta alamnya Fakultas Psikologi.


Melati. Melati pengajar kelas empat yang cantik seperti bidadari. Melati menghadapi tantangan karena sebagian besar murid kelas empat adalah anak laki-laki yang aktif dan cerewet (kami memanggil mereka BOYZ). Melati dapat mengendalikan anak-anak kelas 4 sehingga mereka mengarahkan keaktifan mereka untuk hal-hal yang positif. Di dalam maupun luar kelas, Melati selalu ceria dan selalu memancing tawa. Melati juga tempatku bercerita banyak hal. Selain itu, Melati ternyata pemimpin redaksi website Suara Mahasiswa (lembaga pers kampus). Keren banget deh temenku satu ini.
Bila aku, Melati, Ela, dan Maul sudah berkumpul, kami sering membincangkan atau melakukan hal-hal random yang sering membuat Ucheng geleng-geleng kepala. Namun kuakui, tanpa mereka, hari-hariku di Puncakmanggu tidak akan seceria itu.


Risky. Risky adalah pengajar kelas lima yang lumayan geek, khas anak Fasilkom. Risky penuh dengan ide-ide tidak biasa, yang mungkin tidak pernah kami pikirkan sebelumnya. Risky punya kebiasaan sehabis mengajar pergi ke lapangan untuk bermain sepakbola bersama remaja-remaja desa sampai maghrib tiba. Risky sangat sayang dengan murid-murid kelas lima, kelas yang dinamai “Sukamadu”. Saat terakhir kami pulang, Risky yang menangis paling kencang dan paling susah move-on :p


Gugum. Gugum adalah pengajar kelas enam yang paling kharismatik. Selain menerapkan ilmu psikologi pendidikan-nya dalam mengajar, Gugum juga selalu mengajar dengan hati. Walaupun awalnya Gugum pendiam, ternyata kalau sudah bercerita, Gugum bisa cerita banyak hal. Kupikir, Gugum adalah pengajar paling menginspirasi diantara pengajar-pengajar yang lain.

Kami sebagai pengajar tinggal bersama-sama dengan panitia GUIM sebagai satu keluarga. Inilah panitia-panitia di titik satu:


Rina. Rina adalah koordinator lapangan (korlap) titik satu. Rina cengengesan dan selow, humoris, dan senggol curhat. Namun walaupun begitu, Rina punya kharisma dalam memimpin titik satu. Ia bisa mengambil keputusan dengan kepala dingin dan tegas. Terkadang aku lupa kalau Rina masih angkatan 2013. Rina adalah orang sunda asli, jadi mudah bagi kami untuk belajar bahasa sunda sama Rina. Sialnya aku pernah diisengi Rina karena tidak bisa bahasa sunda (akan kuceritakan di postingan selanjutnya. Rina membuktikan kekerenannya dan konsistensinya di dunia ini dengan menjadi WaPO dari GUIM 5.


Ucheng. Ucheng adalah RED di titik satu, bapaknya para pengajar. Istilahnya, kalau kami pengajarnya, Ucheng adalah Kepsek-nya. Setiap hari ia berkeliling memantau KBM dari luar kelas melalui jendela, seperti Kepsek sungguhan. Seringkali, aku langsung sibuk “berakting jadi pengajar yang baik” kalau kepala Ucheng muncul dari jendela. Kupikir aku saja yang melakukannya, pengajar-pengajar lain juga melakukannya haha. Ucheng juga sangat helpful, kalau pengajar lagi pusing mengajar dan butuh bantuan, ia akan datang dan membantu mengajar di kelas. Pokoknya Ucheng Kepsek teladan deh.


Wawan. Wawan adalah bendahara titik satu yang terkadang ngeselin terkadang ngangenin. Entah kenapa kalau lagi ngobrol sama Wawan, secara misterius orang akan emosi kepadanya. Padahal Wawan tidak melakukan apa-apa. Seringkali Wawan hanya bisa pasrah saat dibully orang-orang. Wawan sebenarnya anaknya baik, polos dan sayang anak, buktinya Wawan selalu mengajak bermain Pia, anak di rumah housefam panitia. Kabarnya Wawan ke Puncakmanggu untuk mencari jodoh, dan akhirnya Wawan ditaksir oleh gadis Puncakmanggu bernama Pia, yang berumur.. empat tahun.


Nismen. Nismen adalah CED yang tugasnya mengadakan kegiatan untuk masyarakat di titik kami. Nismen orangnya polos namun selalu memberikan keceriaan. Nismen juga sangat perhatian kepada anak-anak di titik satu layaknya ibu sendiri. Nismen adalah teman curhat paling asyik selama di Puncakmanggu. Pernah suatu saat aku menjadi angel-nya Nismen, tapi ternyata aku gabut karena Nismen jauh lebih perhatian kepadaku daripada aku kepadanya sebagai angel-nya. Pokoknya Nismen super perhatian deeh.


Nabila. Nabila adalah Humas di titik satu. Tugas Nabila adalah berkeliling rumah-rumah warga dan berbaur dengan warga sekitar. Sekalian Nabila menyalurkan bakatnya demi mendapatkan informasi terkini untuk dibagikan kepada genggos alias geng gosip di titik satu. Nabila juga sangat sayang dengan salah satu Ibu housefam di titik satu yang bernama Bu Cucun. Saking dekatnya, Nabila mendapatkan predikat sebagai anaknya Bu Cucun. 


Nia. Nia bertugas sebagai medis di titik satu. Nia merupakan panitia yang unik dan lain dari yang lain. Nia selalu membuat kita tertawa dengan gayanya yang khas. Konon Nia ikut GUIM untuk belajar bertani bersama masyarakat, namun selama kami di sini ia belum sempat menyalurkan bakatnya dalam mengayunkan pacul. Nia juga sangat jago dalam mengkepo orang, setiap malam ia membawa gosip terbaru hasil kepoannya dengan orang-orang di instagram.


Farid. Farid adalah akomodasi di titik satu yang super strong. Ia mampu menggotong dua carier sekaligus. Selain itu karena Farid anak robotik, ia sering berkreasi dengan bahan-bahan seadanya dan membuat alat-alat unik, misalnya mobil-mobilan tenaga angin (bisa jalan loh!) dan semacam robot yang bisa terbang. Farid bermuka seperti anak bayi dan hobi melet. Farid adalah akomo kesayangan kami karena setiap malam Farid setia mengantar pengajar pulang ke rumah housefam masing-masing yang letaknya lumayan jauh. Farid juga merupakan akomo kebanggaan girls karena grup robotiknya banyak berprestasi.


Nurul. Nurul selalu menenteng kamera kemana-mana karena ia adalah dokumentasi di titik satu. Nurul sering masuk ke kelas dan mengambil foto kami yang sedang mengajar. Sedihnya, foto Nurul hampir tidak ada karena dia yang megang kamera. Nurul amat sangat polos seperti adik sendiri, dan dia sangat takut kepada Ucheng seperti anak yang takut kepada bapaknya. Nurul sangat dekat dengan Pia, cucu dari Bu Maesaroh, tempat kami menginap, ia layaknya kakak Pia.



Kak Mbing. Kak Mbing adalah penumpang gelap di titik satu. Bohong deng, dia adalah Steering Comitee GUIM karena Kak Mbing adalah Kadept Sosmas BEM UI. Kak Mbing dibolehkan tinggal di titik satu karena kami perlu orang untuk ngepel-ngepel rumah. Maaf aku banyak membully Kak Mbing dalam tulisan ini karena Kak Mbing sangat bullyable. Setiap hari dia menjadi bahan bully-an di titik satu karena memang layak di bully. Ketika Kak Mbing tidak ada, kami sempat merasa kehilangan karena tidak ada orang yang bisa dibully.


Kak Ivan. Kak Ivan adalah Ketua BEM UI. Sama seperti Kak Mbing, Kak Ivan sebagai SC yang tinggal bersama kami di titik satu. Namun karena kak Ivan tidak ngeselin-ngeselin banget, dia tidak menjadi bahan bully seperti kak Mbing. Walau Kak Ivan baru lengser sebagai pejabat, Kak Ivan tidak segan-segan untuk mencuci piring rakyat-rakyatnya.
Itulah perkenalan tokoh-tokoh di titik satu SDN Puncakmanggu, nantikan kisah selanjutnya :)