Gerakan UI Mengajar (GUIM) adalah program yang terinspirasi dari
Indonesia Mengajar, dimana mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia dari
berbagai jurusan dan angkatan dikirim ke desa yang akses pendidikannya masih
kurang untuk mengajar di Sekolah Dasar selama tiga minggu.
Kali ini, aku beruntung terpilih menjadi salah satu dari 36 Pengajar GUIM
angkatan 4. Program GUIM 4 berlangsung selama bulan Januari 2015 ini. Setelah
GUIM pertama di Garut, GUIM 2 di Sobang, Banten, dan GUIM 3 di Indramayu, GUIM
4 memilih lokasi Kabupaten Sukabumi sebagai tempat pengabdian kami. Kenapa
Sukabumi? Konon, Sukabumi memiliki angka putus sekolah yang cukup tinggi.
Banyak anaknya yang tidak melanjutkan jenjang pendidikan selepas lulus SD,
apalagi yang melanjutkan dari SMP ke SMA. Sedih rasanya mendengar fakta bahwa
persebaran akses pendidikan di Indonesia masih timpang, apalagi Sukabumi
sebenarnya letaknya tidak terlalu jauh dari Ibukota, masih di Provinsi Jawa
Barat, masih di Pulau Jawa.
Aku mendapat tugas untuk mengajar kelas 3, ditemani oleh pengajar kelas
lain dan panitia yang tergabung dalam Titik Satu. Kami mendapatkan amanah untuk
membantu mengajar di SDN Puncakmanggu, desa Balekambang, Kecamatan Jampang
Kulon selama bulan Januari 2015. Selain mengajar, kami juga bertugas untuk
menanamkan nilai dan menginspirasi anak-anak yang kami ajar.
Cerita ini kubuat bukan untuk bernostalgia tentang kisah kami selama tiga
minggu disana. Bukan itu. Karena rasanya, berlembar-lembar halaman pun tidak
akan cukup untuk menceritakan pengalaman menakjubkan yang kami alami di sana.
Aku menulis cerita ini untuk berbagi, berbagi pelajaran yang kudapatkan dalam
waktu yang singkat di sana. Dan aku harap, kisahku ini dapat memberikan
pelajaran bagi kalian yang membaca, sekaligus menghibur.
Sebelum aku mulai bercerita, yuk kenalan dulu dengan tokoh-tokoh dalam
kisah ini:
Iffah. Iffah adalah mahasiswa tingkat akhir yang mencoba menjajal
kemampuannya mengajar. Walaupun Iffah pernah beberapa kali mengajar anak SMA
untuk persiapan SNMPTN, namun dia merasa bahwa di GUIM tantangannya lebih
berat. Mengajar anak SD artinya menanamkan nilai, dan kau tak mungkin
mengajarkan anak-anak untuk berperilaku baik sementara dirimu tidak
mencontohkan perilaku baik, bukan? Dan beruntungnya, melalui GUIM Iffah
dipertemukan dengan murid-murid kelas tiga yang memberikan pengalaman hidup tak
terlupakan.
Maul. Maul adalah pengajar kelas satu. Maul adalah orang yang kukagumi
karena kemampuannya untuk lembut sekaligus tegas kepada murid-murid kelas satu
yang masih cilik-cilik. Untuk menghadapi anak-anak kelas satu yang perilakunya
masih seperti anak TK tentu diperlukan kesabaran ekstra, dan Maul memiliki itu.
Walaupun Maul selalu bercerita kalau dia terkadang kesal dengan tingkah laku
anak muridnya, namun jauh di lubuk hati aku tahu, Maul begitu menyayangi
mereka, dan mereka amat sangat menyayangi Maul. Maul memiliki cita-cita yang unik untuk mendirikan TK dan memiliki banyak anak. Di luar kelas, Maul adalah
tempatku bercerita tentang banyak hal karena aku dan dia memiliki banyak
kesamaan, kami sama-sama suka menulis. Maul juga berbakat di bidang teater, pengalaman mengajarnya didapat
dari pengalamannya sebagai penulis skenario sekaligus pelatih teater. Cool.
Ela. Ela adalah pengajar kelas dua yang ceria, selalu menyemarakkan suasana, namun strong. Di bawah bimbingan Ela,
murid-murid kelas dua berhasil menjadi murid paling disiplin dan teratur yang
pernah kulihat diantara kelas-kelas kecil seperti kelas 1, 2, dan 3. Ela sangat
periang namun tegas di dalam kelas, namun kalau sudah berkumpul dengan pengajar
di luar kelas, Ela bisa menjadi orang yang sangat gokil dan alay (maaf Girls Ela.
Tapi kamu memang alay). Namun bersamanya, aku bisa puas melakukan hal-hal aneh
tanpa harus repot-repot jaim (menjaga image). Di balik wajahnya yang manis
tidak mengancam, diam-diam ternyata Ella sangar. Ia salah satu anggota Gandewa,
organisasi pecinta alamnya Fakultas Psikologi.
Melati. Melati pengajar kelas empat yang cantik seperti bidadari. Melati
menghadapi tantangan karena sebagian besar murid kelas empat adalah anak
laki-laki yang aktif dan cerewet (kami memanggil mereka BOYZ). Melati dapat
mengendalikan anak-anak kelas 4 sehingga mereka mengarahkan keaktifan mereka
untuk hal-hal yang positif. Di dalam maupun luar kelas, Melati selalu ceria dan
selalu memancing tawa. Melati juga tempatku bercerita banyak hal. Selain itu,
Melati ternyata pemimpin redaksi website Suara Mahasiswa (lembaga pers kampus).
Keren banget deh temenku satu ini.
Bila aku, Melati, Ela, dan Maul sudah berkumpul, kami sering
membincangkan atau melakukan hal-hal random yang sering membuat Ucheng
geleng-geleng kepala. Namun kuakui, tanpa mereka, hari-hariku di Puncakmanggu
tidak akan seceria itu.
Risky. Risky adalah pengajar kelas lima yang lumayan geek, khas anak
Fasilkom. Risky penuh dengan ide-ide tidak biasa, yang mungkin tidak pernah
kami pikirkan sebelumnya. Risky punya kebiasaan sehabis mengajar pergi ke lapangan untuk bermain sepakbola bersama remaja-remaja desa sampai maghrib tiba. Risky sangat sayang dengan murid-murid kelas lima,
kelas yang dinamai “Sukamadu”. Saat terakhir kami pulang, Risky yang menangis
paling kencang dan paling susah move-on :p
Gugum. Gugum adalah pengajar kelas enam yang paling kharismatik. Selain
menerapkan ilmu psikologi pendidikan-nya dalam mengajar, Gugum juga selalu
mengajar dengan hati. Walaupun awalnya Gugum pendiam, ternyata kalau sudah
bercerita, Gugum bisa cerita banyak hal. Kupikir, Gugum adalah pengajar paling
menginspirasi diantara pengajar-pengajar yang lain.
Kami sebagai pengajar tinggal bersama-sama dengan panitia GUIM sebagai
satu keluarga. Inilah panitia-panitia di titik satu:
Rina. Rina adalah koordinator lapangan (korlap) titik satu. Rina
cengengesan dan selow, humoris, dan senggol curhat. Namun walaupun begitu, Rina
punya kharisma dalam memimpin titik satu. Ia bisa mengambil keputusan dengan
kepala dingin dan tegas. Terkadang aku lupa kalau Rina masih angkatan 2013.
Rina adalah orang sunda asli, jadi mudah bagi kami untuk belajar bahasa sunda
sama Rina. Sialnya aku pernah diisengi Rina karena tidak bisa bahasa sunda
(akan kuceritakan di postingan selanjutnya. Rina membuktikan kekerenannya dan konsistensinya di dunia ini dengan menjadi WaPO dari GUIM 5.
Ucheng. Ucheng adalah RED di titik satu, bapaknya para pengajar.
Istilahnya, kalau kami pengajarnya, Ucheng adalah Kepsek-nya. Setiap hari ia
berkeliling memantau KBM dari luar kelas melalui jendela, seperti Kepsek
sungguhan. Seringkali, aku langsung sibuk “berakting jadi pengajar yang baik”
kalau kepala Ucheng muncul dari jendela. Kupikir aku saja yang melakukannya,
pengajar-pengajar lain juga melakukannya haha. Ucheng juga sangat helpful,
kalau pengajar lagi pusing mengajar dan butuh bantuan, ia akan datang dan
membantu mengajar di kelas. Pokoknya Ucheng Kepsek teladan deh.
Wawan. Wawan adalah bendahara titik satu yang terkadang ngeselin
terkadang ngangenin. Entah kenapa kalau lagi ngobrol sama Wawan, secara
misterius orang akan emosi kepadanya. Padahal Wawan tidak melakukan apa-apa. Seringkali
Wawan hanya bisa pasrah saat dibully orang-orang. Wawan sebenarnya anaknya baik,
polos dan sayang anak, buktinya Wawan selalu mengajak bermain Pia, anak di
rumah housefam panitia. Kabarnya Wawan ke Puncakmanggu untuk mencari jodoh, dan
akhirnya Wawan ditaksir oleh gadis Puncakmanggu bernama Pia, yang berumur..
empat tahun.
Nismen. Nismen adalah CED yang tugasnya mengadakan kegiatan untuk
masyarakat di titik kami. Nismen orangnya polos namun selalu memberikan keceriaan. Nismen juga sangat perhatian
kepada anak-anak di titik satu layaknya ibu sendiri. Nismen adalah teman curhat paling asyik selama di Puncakmanggu. Pernah suatu saat aku menjadi angel-nya Nismen,
tapi ternyata aku gabut karena Nismen jauh lebih perhatian kepadaku daripada
aku kepadanya sebagai angel-nya. Pokoknya Nismen super perhatian deeh.
Nabila. Nabila adalah Humas di titik satu. Tugas Nabila adalah
berkeliling rumah-rumah warga dan berbaur dengan warga sekitar. Sekalian Nabila
menyalurkan bakatnya demi mendapatkan informasi terkini untuk dibagikan kepada
genggos alias geng gosip di titik satu. Nabila juga sangat sayang dengan salah
satu Ibu housefam di titik satu yang bernama Bu Cucun. Saking dekatnya, Nabila
mendapatkan predikat sebagai anaknya Bu Cucun.
Nia. Nia bertugas sebagai medis di titik satu. Nia merupakan panitia yang
unik dan lain dari yang lain. Nia selalu membuat kita tertawa dengan gayanya
yang khas. Konon Nia ikut GUIM untuk belajar bertani bersama masyarakat, namun
selama kami di sini ia belum sempat menyalurkan bakatnya dalam mengayunkan
pacul. Nia juga sangat jago dalam mengkepo orang, setiap malam ia membawa gosip
terbaru hasil kepoannya dengan orang-orang di instagram.
Farid. Farid adalah akomodasi di titik satu yang super strong. Ia mampu
menggotong dua carier sekaligus. Selain itu karena Farid anak robotik, ia
sering berkreasi dengan bahan-bahan seadanya dan membuat alat-alat unik,
misalnya mobil-mobilan tenaga angin (bisa jalan loh!) dan semacam robot yang
bisa terbang. Farid bermuka seperti anak bayi dan hobi melet. Farid adalah
akomo kesayangan kami karena setiap malam Farid setia mengantar pengajar pulang
ke rumah housefam masing-masing yang letaknya lumayan jauh. Farid juga merupakan akomo kebanggaan girls karena grup robotiknya banyak berprestasi.
Nurul. Nurul selalu menenteng kamera kemana-mana karena ia adalah
dokumentasi di titik satu. Nurul sering masuk ke kelas dan mengambil foto kami
yang sedang mengajar. Sedihnya, foto Nurul hampir tidak ada karena dia yang
megang kamera. Nurul amat sangat polos seperti adik sendiri, dan dia sangat
takut kepada Ucheng seperti anak yang takut kepada bapaknya. Nurul sangat dekat dengan Pia, cucu dari Bu Maesaroh, tempat kami menginap, ia layaknya kakak Pia.
Kak Mbing. Kak Mbing adalah penumpang gelap di titik satu. Bohong deng,
dia adalah Steering Comitee GUIM karena Kak Mbing adalah Kadept Sosmas BEM UI.
Kak Mbing dibolehkan tinggal di titik satu karena kami perlu orang untuk
ngepel-ngepel rumah. Maaf aku banyak membully Kak Mbing dalam tulisan ini
karena Kak Mbing sangat bullyable. Setiap hari dia menjadi bahan bully-an di
titik satu karena memang layak di bully. Ketika Kak Mbing tidak ada, kami
sempat merasa kehilangan karena tidak ada orang yang bisa dibully.
Kak Ivan. Kak Ivan adalah Ketua BEM UI. Sama seperti Kak Mbing, Kak Ivan
sebagai SC yang tinggal bersama kami di titik satu. Namun karena kak Ivan tidak
ngeselin-ngeselin banget, dia tidak menjadi bahan bully seperti kak Mbing. Walau Kak Ivan baru
lengser sebagai pejabat, Kak Ivan tidak segan-segan untuk mencuci piring
rakyat-rakyatnya.
Itulah perkenalan tokoh-tokoh di titik satu SDN Puncakmanggu, nantikan
kisah selanjutnya :)