Jumat, 14 Agustus 2015

Puncakmanggu Undercover #2: Tiba di Desa Puncakmanggu



Jeep yang kunaiki berguncang-guncang karena jeleknya jalan yang kami lewati. Bahkan dari dalam Jeep pun, kami dapat merasakan batu-batu kerikil kasar yang menjadi material jalan. Tentu saja di desa ini, tidak ada jalan yang sudah diaspal. Belum lagi puluhan kelokan dan tanjakan yang harus kami lalui menuju desa Puncakmanggu. Beberapa tanjakan begitu terjal, bahkan ada tanjakan yang sepertinya kecuramannya mencapai 35 derajat. Baru aku pahami, kenapa kami harus menggunakan jeep untuk mencapai titik lokasi mengajar.

Subuh itu, kami sampai di Sukabumi setelah perjalanan selama delapan jam. Bis-bis kuning yang mengantar kami dari Depok diparkir rapi di halaman masjid tempat meeting point. Di sebelahnya, berderet puluhan Mini Jeep dari Komunitas Little Jeep Owner Community (LJOC) yang akan memobilisasi kami ke Titik masing-masing. Kabarnya medan menuju lokasi mengajar tidak bisa ditempuh kendaraan biasa, karena itu kami harus memakai Jeep. Apalagi konon Titik Satu tempat kami akan mengajar terletak di lokasi terjauh dan memiliki jalanan terjal, sehingga kami harus siap sedia sendal gunung.

Setelah sholat subuh, sarapan, dan mengikuti upacara di Kelurahan, tiba saatnya mobilisasi ke titik masing-masing. Kami berpisah dengan teman-teman titik lain karena kami baru akan berjumpa kembali tiga minggu lagi. Kemudian aku bersama Maul, Melati, dan Ela masuk ke dalam sebuah mini jeep. Tenyata kami memilih Jeep yang tepat. Walaupun kami harus duduk berdempetan di bagian belakang Jeep yang sempit, Jeep itu memiliki air conditioner, tidak seperti Jeep lain. Misalnya Jeep yang dinaiki Gugum dan Risky yang beratap terbuka, sehingga mereka menempuh perjalanan dengan posisi berdiri.
Risky dan Gugum: Awalnya keren, lama-lama capek juga berdiri terus

Pemilik Jeep tempat kami menumpang ternyata sangat menyenangkan. Sejujurnya aku lupa siapa namanya, sebut saja namanya Om Robi dan Om Joko. Ternyata mereka pengemudi Jeep yang sudah punya jam terbang banyak. Konon menurut cerita Om Robi dan Om Joko, pengemudi jeep-jeep yang mengantar kami ke titik satu adalah pengemudi jeep yang jam terbangnya tinggi, misalnya sering ikut balapan, sudah pernah masuk jurang, dan lain-lain. Mereka sengaja mengantar kami karena jalan menuju Titik 1 benar-benar sempit, curam, dan jelek, maka dibutuhkan pemilik Jeep yang sudah berpengalaman. Kami ternganga mendengar cerita-cerita mereka yang sudah pernah mengemudi di segala medan, mulai dari gunung, padang pasir, bahkan pernah Om Robi ikut balapan sampai masuk jurang. Di sela-sela kegiatan komunitas mereka, mereka juga melakukan kegiatan sosial, salah satunya yang sedang mereka lakukan adalah membantu mobilisasi GUIM.

Dua jam lebih perjalanan, rasanya kami tidak sampai-sampai juga. Jalanan semakin menanjak curam, kasar, dan sempit. Mobil terus berguncang-guncang karena kasarnya jalan yang kami lewati. Namun akhirnya mobil kami berhenti juga. Kami sampai di rumah tujuan kami yang terletak persis di depan SD Puncakmanggu. Carrier-carrier kami diturunkan.

Pemilik rumah yang bernama Bu Maesaroh menyambut kedatangan kami. Bu Maesaroh tinggal di rumahnya bersama dengan anaknya yang bernama Agung, anak  kelas 6 SD Puncakmanggu. Di samping rumah Bu Maesaroh yang memiliki warung, berdiri rumah anaknya yang bernama Bu Ika. Bu Ika yang juga merupakan guru kelas 1 di SDN Puncakmanggu memiliki anak yang cantik dan menggemaskan bernama Pia.

Rumah Bu Maesaroh yang cukup luas rencananya akan ditempati oleh para panitia. Sementara para pengajar akan ditempatkan di rumah-rumah warga secara terpisah. Pada hari pertama, beberapa pengajar sudah diantar ke rumah housefamnya masing-masing. Berhubung Bu Uam, Ibu house fam yang kutempati sedang ada hajatan di rumah saudaranya, maka aku belum bisa menempati rumah house fam.

Keesokan harinya, hari Jum’at, adalah hari pertama kami masuk sekolah. Beberapa anak sudah mengamati kedatangan kami dari jauh. Kami hanya tersenyum gugup, tidak sabar untuk berkenalan dengan anak-anak kami masing-masing. Aku memperhatikan, beberapa anak yang sedang menunggu bel masuk berbunyi menghabiskan waktu mereka dengan bermain voli dan sepak takraw di lapangan sekolah. Mereka sangat lihai bermain sepak takraw, tidak terkecuali anak-anak perempuannya. 

Sambil menunggu, kami berlatih kosakata dasar bahasa sunda supaya nanti bisa menyapa anak-anak. Apalagi, konon anak-anak kelas kecil tidak terbiasa untuk berbicara bahasa sunda. Tentunya hal ini menjadi salah satu PR bagiku yang harus mengajar kelas tiga. Aku tidak bisa berbahasa sunda!
Ceritanya nunggu sekolah mulai, entah kenapa jadi keliatan kayak anak-anak dihukum sama guru

Di sisi lain sekolah ada tebing tinggi yang bisa didaki. Disana anak-anak bermain lari-larian. Aku terpekik melihat pemandangan dari atas tebing. Sungguh, desa ini adalah tempat yang sangat indah. Aku merasa bersyukur walaupun ditempatkan di titik terjauh. Pemandangan sawah dan bukit hijau membentang. Kami berfoto-foto di atas tebing dan mengajak beberapa anak untuk berfoto bersama, walaupun mereka masih agak malu-malu.

Sesaat kemudian lonceng sekolah berdentang. Anak-anak berhamburan menuju lapangan, membentuk barisan sesuai dengan kelas masing-masing. Hanya anak-anak kelas satu saja yang masih perlu diarahkan untuk merapikan barisan mereka. Kami berbaris menghadap barisan anak-anak. Anak-anak menatap kami dengan penasaran. Pak Sulton, guru kelas 5, memperkenalkan kami kepada anak-anak. Kami satu-persatu maju dan memperkenalkan diri.


“Sampurasun, sadayana. Wilujeng enjing. Tepangkeun, nami abdi  Ibu Iffah. (Halo, semuanya. Selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Ibu Iffah).” Aku menyapa mereka.

Setelah itu kami melakukan persembahan dengan menyanyikan lagu roti mentega. Beberapa anak terdiam dan malu-malu untuk mengikuti kami, namun ada beberapa yang mengikuti lagu dan gerakan kami.

Guru dan Pengajar GUIM di SD Puncakmanggu

Kemudian kami berkumpul bersama para guru di ruang guru. Kami berdiskusi dengan guru-guru mengenai apa yang akan kami lakukan di SD Puncakmanggu. Lalu kami mengikuti guru-guru ke kelas masing-masing, untuk mengobservasi cara mereka mengajar di kelas. Aku mengikuti Pak Baban, guru yang saat ini mengajar kelas tiga. Sebelumnya Pak Baban adalah Guru Agama Islam, namun karena Pak Badru, guru kelas tiga sebelumnya baru saja dimutasi, Pak Baban menjadi guru kelas tiga menggantikan Pak Badru merangkap guru Agama.

Aku duduk di meja guru, memperhatikan Pak Baban mengajar anak-anak. Memang, hari pertama datang kami dilarang untuk mengajar oleh RED, kami hanya diminta untuk mengobservasi kelas, bagaimana biasanya KBM di kelas berlangsung. Beberapa anak dengan raut penasaran mengamatiku yang duduk di meja guru. Mungkin jaket kuning yang kukenakan memang begitu mencolok.

Salah satu anak menyiapkan kelas, kemudian mereka membaca doa dan memberi salam. Lalu Pak Baban mengabsen satu persatu anak-anak. Anak-anak duduk membentuk kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari sekitar enam orang. Buku yang mereka gunakan untuk belajar dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh enam orang anak.

Kesimpulanku hasil observasi, gaya mengajar di sekolah ini masih gaya mengajar yang berorientasi pada guru, bukan pada siswa. Pak Baban meminta anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang Pak Baban mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku. Anak-anak menyalin secara berebutan, karena buku yang dimiliki memang terbatas. Kadang satu orang bertugas mendiktekan, sementara yang lain menulis mengikuti. Sehabis itu Pak Baban menjelaskan materi, dan akhir kelas ditutup dengan menjawab soal-soal yang ada di akhir setiap BAB. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.

Aku merasa berdebar-debar. Metode mengajar kreatif yang dibawa GUIM sama sekali berbeda dengan metode yang mereka gunakan sekarang. Akankah kami berhasil membawakan metode mengajar kreatif di SD Puncakmanggu ini? Apakah aku sanggup, dalam waktu tiga minggu ini, untuk menanamkan nilai-nilai dan membentuk karakter yang membekas pada murid-murid kelas tiga?

Aaah, aku sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba. Hari pertamaku mengajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar