Jeep yang kunaiki berguncang-guncang karena jeleknya jalan yang kami
lewati. Bahkan dari dalam Jeep pun, kami dapat merasakan batu-batu kerikil
kasar yang menjadi material jalan. Tentu saja di desa ini, tidak ada jalan yang
sudah diaspal. Belum lagi puluhan kelokan dan tanjakan yang harus kami lalui
menuju desa Puncakmanggu. Beberapa tanjakan begitu terjal, bahkan ada tanjakan
yang sepertinya kecuramannya mencapai 35 derajat. Baru aku pahami, kenapa kami
harus menggunakan jeep untuk mencapai titik lokasi mengajar.
Subuh itu, kami sampai di Sukabumi setelah perjalanan selama delapan jam.
Bis-bis kuning yang mengantar kami dari Depok diparkir rapi di halaman masjid
tempat meeting point. Di sebelahnya, berderet puluhan Mini Jeep dari Komunitas
Little Jeep Owner Community (LJOC) yang akan memobilisasi kami ke Titik
masing-masing. Kabarnya medan menuju lokasi mengajar tidak bisa ditempuh
kendaraan biasa, karena itu kami harus memakai Jeep. Apalagi konon Titik Satu
tempat kami akan mengajar terletak di lokasi terjauh dan memiliki jalanan
terjal, sehingga kami harus siap sedia sendal gunung.
Setelah sholat subuh, sarapan, dan mengikuti upacara di Kelurahan, tiba
saatnya mobilisasi ke titik masing-masing. Kami berpisah dengan teman-teman
titik lain karena kami baru akan berjumpa kembali tiga minggu lagi. Kemudian
aku bersama Maul, Melati, dan Ela masuk ke dalam sebuah mini jeep. Tenyata kami
memilih Jeep yang tepat. Walaupun kami harus duduk berdempetan di bagian
belakang Jeep yang sempit, Jeep itu memiliki air conditioner, tidak seperti
Jeep lain. Misalnya Jeep yang dinaiki Gugum dan Risky yang beratap terbuka,
sehingga mereka menempuh perjalanan dengan posisi berdiri.
| Risky dan Gugum: Awalnya keren, lama-lama capek juga berdiri terus |
Pemilik Jeep tempat kami menumpang ternyata sangat menyenangkan.
Sejujurnya aku lupa siapa namanya, sebut saja namanya Om Robi dan Om Joko.
Ternyata mereka pengemudi Jeep yang sudah punya jam terbang banyak. Konon
menurut cerita Om Robi dan Om Joko, pengemudi jeep-jeep yang mengantar kami ke
titik satu adalah pengemudi jeep yang jam terbangnya tinggi, misalnya sering
ikut balapan, sudah pernah masuk jurang, dan lain-lain. Mereka sengaja
mengantar kami karena jalan menuju Titik 1 benar-benar sempit, curam, dan
jelek, maka dibutuhkan pemilik Jeep yang sudah berpengalaman. Kami ternganga
mendengar cerita-cerita mereka yang sudah pernah mengemudi di segala medan,
mulai dari gunung, padang pasir, bahkan pernah Om Robi ikut balapan sampai
masuk jurang. Di sela-sela kegiatan komunitas mereka, mereka juga melakukan
kegiatan sosial, salah satunya yang sedang mereka lakukan adalah membantu
mobilisasi GUIM.
Dua jam lebih perjalanan, rasanya kami tidak sampai-sampai juga. Jalanan
semakin menanjak curam, kasar, dan sempit. Mobil terus berguncang-guncang
karena kasarnya jalan yang kami lewati. Namun akhirnya mobil kami berhenti
juga. Kami sampai di rumah tujuan kami yang terletak persis di depan SD
Puncakmanggu. Carrier-carrier kami diturunkan.
Pemilik rumah yang bernama Bu Maesaroh menyambut kedatangan kami. Bu
Maesaroh tinggal di rumahnya bersama dengan anaknya yang bernama Agung,
anak kelas 6 SD Puncakmanggu. Di samping
rumah Bu Maesaroh yang memiliki warung, berdiri rumah anaknya yang bernama Bu
Ika. Bu Ika yang juga merupakan guru kelas 1 di SDN Puncakmanggu memiliki anak
yang cantik dan menggemaskan bernama Pia.
Rumah Bu Maesaroh yang cukup luas rencananya akan ditempati oleh para
panitia. Sementara para pengajar akan ditempatkan di rumah-rumah warga secara terpisah.
Pada hari pertama, beberapa pengajar sudah diantar ke rumah housefamnya
masing-masing. Berhubung Bu Uam, Ibu house fam yang kutempati sedang ada
hajatan di rumah saudaranya, maka aku belum bisa menempati rumah house fam.
Keesokan harinya, hari Jum’at, adalah hari pertama kami masuk sekolah.
Beberapa anak sudah mengamati kedatangan kami dari jauh. Kami hanya tersenyum
gugup, tidak sabar untuk berkenalan dengan anak-anak kami masing-masing. Aku
memperhatikan, beberapa anak yang sedang menunggu bel masuk berbunyi
menghabiskan waktu mereka dengan bermain voli dan sepak takraw di lapangan
sekolah. Mereka sangat lihai bermain sepak takraw, tidak terkecuali anak-anak
perempuannya.
Sambil menunggu, kami berlatih kosakata dasar bahasa sunda supaya nanti
bisa menyapa anak-anak. Apalagi, konon anak-anak kelas kecil tidak terbiasa
untuk berbicara bahasa sunda. Tentunya hal ini menjadi salah satu PR bagiku
yang harus mengajar kelas tiga. Aku tidak bisa berbahasa sunda!
| Ceritanya nunggu sekolah mulai, entah kenapa jadi keliatan kayak anak-anak dihukum sama guru |
Di sisi lain sekolah ada tebing tinggi yang bisa didaki. Disana anak-anak
bermain lari-larian. Aku terpekik melihat pemandangan dari atas tebing.
Sungguh, desa ini adalah tempat yang sangat indah. Aku merasa bersyukur
walaupun ditempatkan di titik terjauh. Pemandangan sawah dan bukit hijau
membentang. Kami berfoto-foto di atas tebing dan mengajak beberapa anak untuk
berfoto bersama, walaupun mereka masih agak malu-malu.
Sesaat kemudian lonceng sekolah berdentang. Anak-anak berhamburan menuju
lapangan, membentuk barisan sesuai dengan kelas masing-masing. Hanya anak-anak
kelas satu saja yang masih perlu diarahkan untuk merapikan barisan mereka. Kami
berbaris menghadap barisan anak-anak. Anak-anak menatap kami dengan penasaran.
Pak Sulton, guru kelas 5, memperkenalkan kami kepada anak-anak. Kami
satu-persatu maju dan memperkenalkan diri.
“Sampurasun, sadayana. Wilujeng enjing. Tepangkeun, nami abdi Ibu Iffah. (Halo, semuanya. Selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Ibu Iffah).” Aku menyapa mereka.
Setelah itu kami melakukan persembahan dengan menyanyikan lagu roti
mentega. Beberapa anak terdiam dan malu-malu untuk mengikuti kami, namun ada
beberapa yang mengikuti lagu dan gerakan kami.
![]() |
| Guru dan Pengajar GUIM di SD Puncakmanggu |
Kemudian kami berkumpul bersama para guru di ruang guru. Kami berdiskusi dengan guru-guru mengenai apa yang akan kami lakukan di SD Puncakmanggu. Lalu kami mengikuti guru-guru ke kelas masing-masing, untuk mengobservasi cara mereka mengajar di kelas. Aku mengikuti Pak Baban, guru yang saat ini mengajar kelas tiga. Sebelumnya Pak Baban adalah Guru Agama Islam, namun karena Pak Badru, guru kelas tiga sebelumnya baru saja dimutasi, Pak Baban menjadi guru kelas tiga menggantikan Pak Badru merangkap guru Agama.
Aku duduk di meja guru, memperhatikan Pak Baban mengajar anak-anak.
Memang, hari pertama datang kami dilarang untuk mengajar oleh RED, kami hanya
diminta untuk mengobservasi kelas, bagaimana biasanya KBM di kelas berlangsung.
Beberapa anak dengan raut penasaran mengamatiku yang duduk di meja guru.
Mungkin jaket kuning yang kukenakan memang begitu mencolok.
Salah satu anak menyiapkan kelas, kemudian mereka membaca doa dan memberi
salam. Lalu Pak Baban mengabsen satu persatu anak-anak. Anak-anak duduk
membentuk kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari sekitar enam orang. Buku
yang mereka gunakan untuk belajar dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan
bersama-sama oleh enam orang anak.
Kesimpulanku hasil observasi, gaya mengajar di sekolah ini masih gaya
mengajar yang berorientasi pada guru, bukan pada siswa. Pak Baban meminta
anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku.
Terkadang Pak Baban mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku. Anak-anak menyalin
secara berebutan, karena buku yang dimiliki memang terbatas. Kadang satu orang
bertugas mendiktekan, sementara yang lain menulis mengikuti. Sehabis itu Pak
Baban menjelaskan materi, dan akhir kelas ditutup dengan menjawab soal-soal
yang ada di akhir setiap BAB. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak
di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.
Aku merasa berdebar-debar. Metode mengajar kreatif yang dibawa GUIM sama
sekali berbeda dengan metode yang mereka gunakan sekarang. Akankah kami
berhasil membawakan metode mengajar kreatif di SD Puncakmanggu ini? Apakah aku
sanggup, dalam waktu tiga minggu ini, untuk menanamkan nilai-nilai dan
membentuk karakter yang membekas pada murid-murid kelas tiga?
Aaah, aku sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba. Hari pertamaku
mengajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar