“Wilujeng enjing sadayana! Tepangkeun, nami abdi teh Ibu Iffah. Ti dieu,
Ibu hayang ngawulang barudak kelas tilu. Punten, ibu teu tiasa basa sunda.
Tapi, ibu hayang diajar. Ajarkeun Ibu yaa. Hatur nuhun.”[1]
Aku mengucapkan kalimat itu di depan kelas sambil sesekali melirik
catatan yang kubawa. Bahasa Sunda memang bukan bahasa yang kukuasai. Namun, Bahasa Sunda adalah bahasa
yang sehari-hari dipakai di Sukabumi, tempat SDN Puncakmanggu berada. Sebagai
pengajar Gerakan UI Mengajar 4 yang akan mengajar selama tiga minggu di sini,
tentu saja kami aku harus mengerti bahasa Sunda. Selain itu, sebagian besar
murid kelas tiga yang akan kuajar tidak mengerti bahasa Indonesia. Syukurlah,
aku sudah mencatat beberapa kosakata bahasa sunda untuk berkenalan.
***
Hari kedua di Sukabumi, sepulang observasi di sekolah, Rina dan Ucheng
mengantarkanku ke rumah tempatku akan menumpang tinggal selama tiga minggu ke
depan. Aku mendapatkan housefam milik
Bu Uam yang tinggal sendirian, karena anak-anaknya sudah dewasa dan suaminya
sudah meninggal. Rumah Bu Uam terletak paling jauh dari sekolah, letaknya di
bawah bukit dan harus menuruni jalan yang curam. Artinya, aku berangkat ke
sekolah harus paling pagi dan menaiki bukit yang curamnya seperti sedang naik
gunung. Sisi positifnya, aku pulang bisa tinggal menggelinding, nanti juga
sampai ke rumah haha.
Bila kuamati, rumah-rumah yang ada di desa ini sebagian besar sudah memiliki
fisik bagus, terbuat dari beton, bahkan ada beberapa yang rumahnya bertingkat
dua dan memiliki parabola. Hanya sebagian kecil rumah yang masih merupakan
rumah panggung dan terbuat sepenuhnya dari kayu. Tak urung ini membuatku
bertanya-tanya, apa ya pekerjaan mereka sampai bisa membangun rumah yang bagus di
desa terpencil?
Saat sampai di rumah Bu Uam, aku baru menyadari masalahku yang sangat
genting: Bu Uam sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia! Sudah begitu, aku juga
tidak bisa berbahasa sunda. Tentu akan sulit tinggal serumah dengan orang yang
berbeda bahasa dengan kita. Terkadang walaupun aku sudah menggunakan bahasa
isyaratpun, Ibu Uam tetap tidak mengerti. Itu artinya, aku memang harus
memaksakan diri agar dapat mengerti dan mengucapkan bahasa sunda.
Beberapa saat aku dan Bu Uam mengalami awkard moment karena kami tidak tahu harus mengucapkan kata-kata
apa. Kami hanya saling tersenyum canggung.
Bring me Oxford Dictionary Basa
Sunda full version please!
Teman-teman, aku bingung nih mau
ngobrol apa sama ibunya pake bahasa sunda. Toloong. Jeritku di grup chat
Whatsapp Panitia dan Pengajar GUIM.
Untunglah saat itu Bu Dewi dan Bu Wulan, tetangga sebelah, datang
berkunjung untuk melihat keadaanku. Aku merasa lega saat mengetahui mereka
dapat berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Ternyata mereka masih
bersaudara dengan Bu Uam. Seperti layaknya desa-desa di Indonesia, biasanya
penduduk yang tinggal dalam satu kampung masih bersaudara. Bu Uam sendiri
memiliki beberapa saudara yang rumahnya tersebar di desa ini. Ibu housefam dari
para pengajar pun ternyata masih memiliki hubungan darah satu sama lain. Bu
Wulan bercerita bahwa sebagian besar dari saudara Bu Uam pernah bekerja sebagai
TKI ke Arab Saudi, oleh karena itu mereka bisa berbahasa Indonesia dengan
lancar. Hanya Bu Uam saja di keluarga mereka yang tidak bisa berbahasa
Indonesia sebab ia tidak pernah ke luar kampung. Dan ternyata sebagian besar
warga yang memiliki parabola adalah warga yang pernah menjadi TKI ke luar
negeri. Pertanyaanku tadi terjawab sudah.
Mumpung ada Bu Dewi dan Bu Wulan, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk
belajar bahasa sunda. Aku meminta mereka menjadi penerjemah untuk menyampaikan
kata-kata dariku kepada Bu Uam. Selain itu aku menanyakan beberapa kosakata
percakapan bahasa sunda agar dapat berkomunikasi dengan Bu Uam. Buru-buru aku
mencatat kata-kata itu dalam selembar kertas.
Handphoneku bergetar. Muncul sebuah pesan di grup chat. Dari Rina, Koordinator
Lapangan kami yang memang bisa berbahasa sunda.
Bilang fah, Urang keur neangan
bobogohan. [2]
Aku penasaran dan bertanya pada Bu Wulan. “Bu, Urang keur neangan
bobogohan artinya apa?”
Bu Wulan, Bu Uam, dan Bu Dewi tertawa berderai mendengar pertanyaanku.
“Emang Bu Iffah lagi nyari pacar?” tanya Bu Wulan setengah menggoda.
Kontan mukaku memerah. Dasar Rinaaaa!
Rin, kamu harus tanggung jawab
kalau aku beneran dicariin kabogohan![3]
***
Aku diberikan sebuah kamar yang terletak di bagian paling depan rumah Bu
Uam. Kamar itu berukuran kecil, hanya cukup untuk sebuah kasur. Namun menurutku
kamar itu sudah cukup nyaman untuk tidur. Aku membongkar semua isi carrierku
dan menatanya di sudut kamar. Saat aku pergi ke kamar mandi, ternyata kamar
mandinya lampunya rusak, sehingga untuk mandi maupun buang air aku selalu membawa
senter. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku akan betah sebulan tinggal disini.
Oleh karena itu, goal pertamaku agar betah adalah harus bisa bahasa sunda agar
bisa ngobrol sama Bu Uam!
Tiba saatnya tidur, aku berkata pada Bu Uam dengan bahasa sunda yang terpatah-patah,
“Bu, abdi bade kulem tipayun ya.”
(Bu, saya izin tidur duluan ya). Bu Uam hanya mengangguk sambil tersenyum.
Aku merebahkan diri di tempat tidur. Sambil tidur, aku membaca-baca buku
cerita Pasukan Mau Tahu yang kupinjam dari perpustakaan Rumah Pelangi. Kamar
sangat gelap, untung sebelum berangkat Camila memberikanku lampu baca portable
untuk membaca buku saat malam hari.
Iseng-iseng mataku menelusuri tembok kamar tempatku berada. Ada
retakan-retakan yang baru diperbaiki secara temporer, disangga dengan balok
kayu. Seolah-olah.. kamar ini habis terbelah. Aku teringat cerita Rina
sebelumnya bahwa desa ini sering mengalami gempa dan longsor. Terakhir kali bahkan
ada longsor yang menyebabkan beberapa rumah retak. Aku merinding, membayangkan
jika terjadi gempa lagi, langit-langit dan tembok kamarku akan runtuh menimpaku
yang sedang tidur.
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
***
Aku mulai frustasi. Entah mengapa, tidak ada anak-anak yang mengerti
setiap instruksi yang kuberikan di kelas. Begitupun saat aku meminta mereka
menjawab pertanyaan, beberapa anak yang kutanyai langsung menutup mulutnya dan
menggeleng, menolak untuk menjawab. Awalnya kupikir mereka memang pendiam dan
pemalu, tapi toh mereka justru cerewet mengobrol dengan temannya saat jam istirahat
tiba.
Apakah aku guru yang buruk karena
tidak bisa mengajari mereka? Pikirku.
Saat itu aku sedang mengajar materi IPA, menjelaskan perbedaan benda
padat, cair, dan gas. Kemudian aku meminta mereka mengidentifikasi benda-benda
yang ada di sekitar mereka. Namun mereka tidak juga mengerti walaupun telah
berkali-kali kujelaskan.
Ucheng, panitia RED (pengawas pengajar) yang kebetulan sedang melintas di
depan kelas mencoba membantuku. “Coba Iffah jelaskan ke mereka pakai bahasa
yang lebih sederhana. Lamun tiasa dipegang, namina benda padat. Lamun teu tiasa dipegang, namina benda gas. Lamun dipegang tangan basah, namina
benda cair.”[4]
Aku mengingat-ingat kalimat tersebut dan mengulanginya di depan kelas.
Ajaib, anak-anak menjadi paham dan dapat mengerjakan tugas dengan baik. Mereka
bukannya tidak mengerti materi, mereka hanya tidak mengerti bahasa Indonesia
yang kugunakan.
***
Selama jam istirahat aku dan Risky, pengajar kelas 5, menyimak kosakata
bahasa Sunda yang diajarkan Pak Falah, guru kelas 4. Pak Falah memberikan
contoh penggunaan bahasa Sunda, khususnya kosakata yang sering digunakan di
Sekolah. Aku mencatatnya di buku kecil yang khusus kusediakan untuk belajar
bahasa Sunda. Pak Falah juga mengajari kami mempraktikkan kalimat-kalimat itu
kepada murid-murid yang sedang melintas. Dengan semangat kami menjajal
kemampuan berbahasa Sunda kami, walaupun sesekali masih mengintip catatan.
Walaupun beberapa murid menertawakan kami yang masih kaku mengucapkan bahasa
Sunda, aku tidak peduli. Bagiku, menguasai bahasa Sunda adalah kunci utamaku
untuk bisa survive di sini.
***
“Atos,sadayana?”[5]
“Teu acan, Bu.”[6]
Sahut anak-anak.
“Sok atuh, kerjakeun soalna. Lamun
aya teu ngartos, wartos ka ibu.”[7]
“Muhun, Bu.”[8]
Aku takjub melihat perubahan yang terjadi sejak aku menggunakan Bahasa
Sunda. Jika sebelumnya anak-anak tidak mengerjakan tugas karena bingung,
sekarang mereka dapat mengerti instruksi dariku dan mengerjakan tugas dengan
baik. Anak-anak yang sebelumnya kukira pemalu karena jarang bicara, sekarang
berani mencerocos dengan bahasa Sunda, bercerita kepadaku, walaupun aku belum
tentu mengerti apa yang mereka bicarakan. Ternyata, selama ini mereka diam dan
tidak mau menjawab karena aku selalu memberikan pertanyaan dengan bahasa
Indonesia. Mereka takut salah apabila menjawab pertanyaanku dengan bahasa
sunda.
***
“Sudah makan?”
Aku terheran-heran mendengar Bu Uam bisa berbahasa Indonesia. “Atos, Bu. Abdi tos tuang ti bumina Bu
Maesaroh.”[9]
Betapa lucu perkembangan komunikasi antara aku dan Bu Uam. Bu Uam,
sepertinya malu karena tidak bisa berbahasa Indonesia, meminta diajari bahasa
Indonesia oleh tetangga-tetangga. Sementara aku juga sudah bisa menanggapi Bu
Uam dengan bahasa Sunda. Perlahan-lahan, kami mulai memahami maksud satu sama
lain.
Di Sukabumi, aku belajar mengenai kekuatan bahasa dalam berkomunikasi.
Bila ingin diterima dalam sebuah masyarakat, kunci pertama adalah kuasai bahasa
mereka. Sesudah itu, maka mudah saja untuk meraih hati mereka.
Jadi, kalau sekarang ada yang bertanya setengah meledek kepadaku, “Iffah
udah bisa bahasa sunda, belum?”
Aku hanya menjawab sambil tersenyum, “Alhamdulillah, abdi tiasa ngarios
basa sunda saleutik-saleutik.”[10]
[1] Selamat
pagi semuanya! Kenalkan, nama saya Ibu Iffah. Di sini, ibu akan mengajar
anak-anak kelas tiga. Maaf, ibu tidak bisa bahasa sunda. Tapi ibu mau diajar.
Ajarkan ibu, ya. Terima kasih
[2] Saya
lagi cari pacar
[3] Pacar
[4] Kalau
bisa dipegang, namanya benda padat. Kalau tidak bisa dipegang, namanya benda
gas. Kalau dipegang tangan jadi basah, namanya benda cair.
[5] Sudah,
semuanya?
[6] Belum,
Bu.
[7] Ayo,
kerjakan soalnya. Kalau ada yang tidak mengerti, bilang ke Ibu.
[8] Baik, Bu.
[9] Sudah
Bu, saya sudah makan di rumah Bu Maesaroh.
[10]
Alhamdulillah, saya bisa ngomong bahasa sunda sedikit-sedikit.
Tengok donk blog baru kami.. he.he.he. supaya ada pengikut
BalasHapushttp://sdnpucakmangguxo.blogspot.com.tr/
http://sdnpucakmangguxo.blogspot.co.id
BalasHapus