Kamis, 19 Maret 2015

Kompetisi



Assalamualaikum...

Halo blog, sudah lama aku tidak berbagi cerita. Kali ini, aku ingin bercerita tentang kompetisi Olimpiade Ekonomi Syariah yang kuikuti beberapa hari yang lalu.

Suatu hari, aku melihat info tentang lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Second FEUI. Karena tertarik, aku bersama Asya dan Rico, junior-junior yang kukenal di Serambi, bertekad untuk mendaftar. Kami berdiskusi, merumuskan ide dan membuat paper sebagai syarat perlombaan. Namun karena saat itu di akhir tahun 2014 kami memiliki kesibukan lain, akhirnya paper itu terbengkalai. Aku sedang persiapan untuk mengikuti GUIM (Gerakan UI Mengajar), Asya sedang menjadi panitia Pemilu FHUI, dan Rico maju sebagai calon anggota independen BPM FHUI. Akhirnya, kami memutuskan untuk merelakan lomba itu, dan tidak mengirimkannya karena khawatir hasilnya kurang maksimal.

Namun, ketika satu pintu tertutup, Allah ternyata membukakan pintu lainnya.

Bulan Januari, kami melihat pengumuman mengenai lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Universitas Gunadarma, tetangga sebelah kami. Melihat tema perlombaan yang serupa dengan tema esai kami, aku mengajak Asya dan Rico untuk menyelesaikan dan mengirimkan esai kami ke perlombaan itu. Aku ingat, Olimpiade ini adalah lomba yang juga ingin kuikuti tahun lalu, namun aku tidak lolos penyisihan. Yang lolos adalah Camila, Mbak Gusva, dan Mbak Rana. Mereka bahkan mendapatkan juara dua dalam lomba tahun lalu.

Akhirnya kami mengirimkan esai tersebut. Sambil menunggu hari perlombaan, sesekali kami berkumpul dan berlatih soal-soal ekonomi Syariah. Selain mengirimkan esai, seleksi penyisihan juga dilakukan dengan tes tertulis online. Kami hanya memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikan soal-soal pilihan ganda dalam tes online.

Hari-H tes online, kami berkumpul di kampus, di S n T yang wi-finya kencang. Aku berlari dari balairung sehabis melakukan Simulasi Mengajar Pendidik Rumah Belajar BEM UI. Untunglah aku tiba tepat waktu. Bersama Asya dan Rico, kami bertiga mengerjakan soal-soal tersebut dengan dibantu tumpukan buku-buku ekonomi syariah yang kami pinjam dari perpustakaan.

Beberapa hari berlalu setelah tes. Kami harap-harap cemas menanti pengumuman.
Pada jam 10 malam aku membuka website GSENT, dan membaca dengan hati berdebar.

Nama kami ada dalam daftar 15 tim yang lolos penyisihan. Alhamdulillah. Rasanya tidak percaya. Apalagi menurut cerita Fitra, temanku yang juga panitia GSENT, dari UI ada tiga tim dari Fakultas Ekonomi UI yang juga mendaftar, namun hanya tim kami yang menjadi perwakilan dari UI. Padahal kami dari Fakultas Hukum.

Bismillah.
Kami memutuskan untuk melanjutkan kompetisi dengan modal nekat. Di sela-sela jadwal kuliah Asya dan Rico yang padat, dan kesibukanku berlatih untuk tes TOEFL dan mengerjakan skripsi, kami meluangkan waktu untuk berlatih soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah.

Sehari sebelum perlombaan, semua tim berkumpul di Universitas Gunadarman dan mengikuti Technical Meeting. Karena Asya dan Rico masih kuliah, aku datang sebagai perwakilan tim. Aku berkenalan dengan tim-tim lain yang berasal dari berbagai Universitas: ada yang dari Universitas Brawijaya, SEBI, Tazkia, UGM, namun sebagian besar tim berasal dari institusi UIN, yang di Jakarta, Malang, Bandung, dan Yogyakarta.

"Kalian dari KSEI juga?" tanya salah satu tim kepadaku.
Aku menggeleng. "Bahkan aku belum pernah dengar. KSEI itu apa?"
"Loh, setau aku FEUI punya KSEI juga deh. Yang kemarin buat lomba Olimpiade Ekonomi Syariah juga kan?"
Aku mulai ragu. "Mungkin mereka punya KSEI. Tapi kita bukan anak Fakultas Ekonomi. Kita dari Fakultas Hukum."
"Loh, kok anak Hukum bisa ikut lomba Olimpiade Ekonomi?" Ia terlihat terkejut.
Mana aku tahu, batinku cemas. Mungkin panitianya melakukan kesalahan dan salah memasukkan nama finalis?

Ternyata, kebanyakan dari mereka sudah sering mengikuti Olimpiade Ekonomi Syariah. Bahkan, semua tim yang bertanding --kecuali kami--merupakan anggota KSEI (komunitas Ekonomi Syariah di Universitas-Universitas seluruh Indonesia). Beberapa tim merupakan langganan juara Olimpiade Ekonomi Syariah. Kabarnya, beberapa hari yang lalu mereka baru saja mengikuti seleksi Olimpiade Ekonomi Syariah tingkat Regional yang baru diadakan antar KSEI se-Indonesia.

Mendengar cerita mereka, seketika nyaliku ciut. Bagi tim kami, ini pertama kalinya kami ikut Olimpiade Ekonomi Syariah. Apalagi kami tidak memiliki background core competence Fakultas Ekonomi, berbeda dengan tim lain yang berasal dari Fakultas Ekonomi atau jurusan Ekonomi Syariah. 

Menurut Camila, lomba GSENT tahun lalu adalah cerdas-cermat soal olimpiade per tim dan case study. Sementara babak finalnya adalah mempresentasikan esai yang kita buat. Oleh karena itu, tim kami mengatur strategi. Panitia memberikan kisi-kisi 12 materi yang akan keluar dalam soal. Kami membagi tugas: masing-masing orang bertugas mempelajari 4 BAB dari materi tersebut. Dengan begitu saat olimpiade, kami hanya perlu menjawab bagian yang kami pelajari. Setiap orang bertanggungjawab untuk menguasai materi yang menjadi kewajibannya. Dengan cara ini, kami bisa saling melengkapi dalam menjawab soal.

Namun rencana kami rusak karena ternyata peraturan telah berubah.
Babak Semifinal mencakup babak Tes Tertulis, Mini Council, dan Mini Presentation. Dalam tes tertulis, kami akan menghadapi 80 soal Pilihan Ganda dan 20 soal TTS yang harus dikerjakan secara terpisah. Setelah itu nilai dari setiap anggota tim akan dikumulasikan. Dalam sesi mini council, kami akan menghadapi case study. Di sesi mini presentation, kami harus mempresentasikan esai kami. Sementara untuk babak final, kami akan mendapatkan case study lagi dan diberi waktu 1,5 hari untuk membuat presentasi dan mempresentasikan jawaban kami.

Peraturan yang berubah cukup mengejutkan kami. Ini tidak seperti yang kami rencanakan. Aku, Asya, dan Rico bertatapan dengan campuran antara perasaan bingung, pasrah, dan jiper menghadapi lawan-lawan kami. Kami tidak siap.

“Yaudah teman-teman, kita pasrah aja ya. Nothing to loose. Kalaupun kita nggak lolos, toh ini bisa jadi pelajaran untuk anak-anak Serambi ikut lomba ini tahun depan.”

Kami memanfaatkan sisa waktu malam itu untuk mempelajari soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah. Kami tanya jawab soal di lobby penginapan, dengan tumpukan buku-buku di hadapan kami. Aku baru berhenti belajar jam 12 malam. Ikhtiar sudah maksimal, sisanya dipasrahkan saja kepada Allah, pikirku.

Pagi hari sebelum lomba, kami berkumpul untuk berdoa. Kami meluruskan niat, agar kami semata-mata mengikuti lomba ini untuk mengharumkan nama baik Serambi, LDF kami. Kami memohon doa agar dimudahkan oleh Allah dalam kompetisi ini.

Sesi tes tertulis tidak seperti yang kuharapkan. Walaupun aku sudah banyak belajar materinya, tetap saja aku kagok menjawab soal-soalnya yang sebagian besar tertulis dalam bahasa Inggris. Aku bahkan sempat tertidur di tengah tes berlangsung. Kulirik Asya yang duduk beberapa meter di sebelahku, ia hanya tertawa pasrah.

Sesi presentasi lebih buruk lagi. Kami memaparkan ide kami, yang kami buat susah payah, namun juri tidak bertanya pertanyaan yang kami harapkan. Juri tidak menanyakan hal-hal yang substansial dari ide kami. Selain itu kami baru tahu bahwa juri tidak membaca esai yang telah kami buat dengan susah payah. Jadi, juri hanya menilai kami berdasarkan presentasi.

Sementara di sesi mini council, kami duduk melingkar menghadapi lima tim lainnya. Kami mendapatkan case study dan harus membantah atau mendukung jawaban tim lain. Tim lain mendapatkan case study mengenai LKMS (Lembaga Keuangan Mikro Syariah), Baitul Maal, dan lain-lain yang aku merasa kami tidak dapat menjawabnya apabila dapat soal itu. Alhamdulillah, kami mendapatkan soal tentang Ekonomi Kreatif, yang sudah kami kuasai karena kami bahas dalam Essai dan pernah kami diskusikan sebelumnya. Baru pada sesi inilah kami dapat menunjukkan taring kami. Apalagi Asya sebagai anak yang sudah biasa debat, ia terlihat sangat menguasai ruangan.

Sesi semifinal selesai sudah. Seluruh tim dikumpulkan dalam satu ruangan. Panitia akan mengumumkan nama-nama empat tim yang lolos ke babak final berdasarkan kumulasi nilai-nilai seleksi semifinal.

Aku dan Asya berpegangan tangan, menanti dengan hati berdebar. Sejujurnya kami sudah pasrah, namun melihat performance tim kami saat mini council, secercah harapan muncul. Mungkinkah?

“Tim pertama yang lolos ke babak semifinal adalah....” panitia memperlambat tempo bicara, menikmati ketegangan yang muncul di wajah-wajah peserta.
“Universitas Brawijaya.”
Tim dari Universitas Brawijaya bersorak. Aku menyelamati Rita, anak Unbraw yang kukenal sejak awal bertanding. Wajah Rita terlihat campuran perasaan tidak percaya dan terharu.
“Universitas Gajah Mada.”
Aku menggenggam tangan Asya semakin erat sambil berdzikir.
“Universitas Indonesia.”
Kami bertatapan dengan wajah tak percaya. Tim-tim lain menyalami kami, memberikan selamat. Wajah Rico kulihat sama bingungnya, namun terlihat gembira.
Panitia mengumumkan UIN Sunan Kalijaga sebagai finalis keempat. Hasil tabulasi nilai muncul di layar depan. Ternyata kami tidak seburuk yang kami bayangkan, nilai kami berada di urutan kedua dari empat finalis.
“Selamat untuk para finalis, persiapkan diri kalian untuk final hari Jum’at nanti.” Panitia menutup acara.

Setelah para peserta bubar untuk kembali ke penginapan, kami bertiga, aku, asya, Rico, berkumpul dengan perasaan tidak percaya.
“Guys... kita udah sejauh ini. Kita udah nggak bisa mundur lagi. Nggak ada pilihan lain, kita harus menang. Gue percaya kok, kita sampai final pasti bukan karena kebetulan atau keberuntungan, tapi karena udah ditakdirkan Allah.”
Kamipun menyusun strategi untuk final. Namun sampai malam itu, soal untuk babak final belum juga diberikan. Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.

Baru saat keesokan harinya kami mendapatkan case study yang harus dipecahkan saat final. Inti dari pertanyaan yang diberikan kepada kami adalah, “Apa langkah-langkah yang harus ditempuh agar Bank Syariah dapat bertahan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015?”
Kami menghembuskan nafas lega. Soal ini bukan tentang materi yang kami sama sekali tidak mengerti.
Tidak terasa waktu sehari berjalan cepat. Sehari kami lewatkan dengan lebih banyak diskusi, pembuatan PPT pun kami lakukan dengan terburu-buru dan seadanya. Asya sebagai perwakilan yang mempresentasikan hanya sempat latihan beberapa menit sebelum kami tampil. Apakah kami bisa tampil maksimal?

Kami terhenyak melihat deretan antrian mahasiswa yang berbaris, akan memasuki aula besar tempat kami akan presentasi.
“Mbak, itu orang-orangnya pada mau kemana? Bukan nonton kita, kan?” Asya memastikan pada panitia lomba yang berjaga.
“Mereka datang untuk menonton presentasi kalian. Selain para juri, kalian akan ditonton oleh 300 orang peserta seminar ini. Jadi dalam seminar ini, kalian jadi pembicara.” Panitia menjelaskan.
Kami terbengong-bengong. Tiga ratus orang? Dan mereka mau menonton kami, yang notabene masih mahasiswa ini, berbicara di depan? Wah, kami merasa tersanjung.

Kami mendapat urutan kedua dalam presentasi. Asya maju dan berbicara di podium. Harus kuakui, Asya memiliki public speaking yang amat bagus. Kami juga dapat menjawab pertanyaan dari juri maupun penonton dengan memuaskan. Namun kami agak khawatir, sebab tim lain memberikan solusi konkrit berupa program atau model, sementara solusi yang kami berikan adalah langkah-langkah, yang bahasannya luas dan tidak terfokus.

Semua peserta telah mempresentasikan jawabannya. Juri meminta waktu untuk berunding di ruangan lain. Tidak lama kemudian, para juri kembali memasuki ruangan.
 Juri siap untuk mengumumkan pemenang lomba ini.

Kami berdiri berjajar di depan panggung. Aku dan Asya bergenggaman tangan erat. Lomba ini hanya memiliki dua juara, juara satu dan dua. Itu artinya, dua tim dari kami tidak akan mendapatkan apa-apa.
“Juara keempat jatuh kepada...” Juri mulai membaca. “UIN Sunan Kalijaga.”
Genggaman tanganku dan Asya semakin erat. Sedikit lagi.
“Juara tiga jatuh kepada......” hening sejenak. “Universitas Gadjah Mada.”
Jantungku berdegup kencang. Kami bisa juara dua, atau juara satu. Tidak ada yang tahu.
“Dan juara satu, jatuh kepada....” aku memejamkan mata. “Universitas Brawijaya.”
Aku dan Asya berpelukan. Kami juara dua! Walaupun agak kecewa karena tidak mendapat juara satu, tetap saja kami bersyukur. Juara dua, bagi mahasiswa Hukum, diantara saingan-saingan kami yang berasal dari Fakultas Ekonomi, adalah sebuah pencapaian yang bagus.

Kami maju ke depan dan mengangkat piala itu. Disaat itulah, aku merasa bangga, karena pada tahun terakhirku di Universitas ini, ternyata aku bisa juga membantu mengharumkan nama baik Serambi.


Alhamdulillah.

Tidak ada yang tidak mungkin. Dengan ikhtiar dan doa, segalanya jadi mungkin. Kami telah membuktikan hal itu. Entah mengapa, jalan kami dalam kompetisi ini sepertinya dimudahkan. Kami mendapatkan soal-soal yang kami kuasai. Kami bisa bertanding dengan baik, walaupun hasilnya belum maksimal.

Kompetisi ini membuatku merasa bersyukur mengenal junior seperti Asya dan Rico yang memiliki passion di bidang keilmuan. Aku belajar banyak sekali dari mereka, karena mereka cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas. Selain itu, pertemuan dengan mahasiswa penggiat ekonomi syariah dari seluruh Indonesia membuat tekadku semakin kuat untuk menjadi ahli di bidang Ekonomi Syariah.  

Kompetisi ini hanya salah satu jalan pembuka bagiku. Masih banyak jalan terbentang di depan mata yang harus ditempuh untuk mencapai cita-citaku.
Semangat!