Assalamualaikum...
Halo blog, sudah lama aku tidak
berbagi cerita. Kali ini, aku ingin bercerita tentang kompetisi Olimpiade
Ekonomi Syariah yang kuikuti beberapa hari yang lalu.
Suatu hari, aku melihat info tentang
lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Second FEUI. Karena
tertarik, aku bersama Asya dan Rico, junior-junior yang kukenal di Serambi,
bertekad untuk mendaftar. Kami berdiskusi, merumuskan ide dan membuat paper
sebagai syarat perlombaan. Namun karena saat itu di akhir tahun 2014 kami
memiliki kesibukan lain, akhirnya paper itu terbengkalai. Aku sedang persiapan
untuk mengikuti GUIM (Gerakan UI Mengajar), Asya sedang menjadi panitia Pemilu
FHUI, dan Rico maju sebagai calon anggota independen BPM FHUI. Akhirnya, kami
memutuskan untuk merelakan lomba itu, dan tidak mengirimkannya karena khawatir
hasilnya kurang maksimal.
Namun, ketika satu pintu tertutup,
Allah ternyata membukakan pintu lainnya.
Bulan Januari, kami melihat
pengumuman mengenai lomba Olimpiade Ekonomi Syariah yang diadakan oleh
Universitas Gunadarma, tetangga sebelah kami. Melihat tema perlombaan yang
serupa dengan tema esai kami, aku mengajak Asya dan Rico untuk menyelesaikan
dan mengirimkan esai kami ke perlombaan itu. Aku ingat, Olimpiade ini adalah
lomba yang juga ingin kuikuti tahun lalu, namun aku tidak lolos penyisihan.
Yang lolos adalah Camila, Mbak Gusva, dan Mbak Rana. Mereka bahkan mendapatkan
juara dua dalam lomba tahun lalu.
Akhirnya kami mengirimkan esai
tersebut. Sambil menunggu hari perlombaan, sesekali kami berkumpul dan berlatih
soal-soal ekonomi Syariah. Selain mengirimkan esai, seleksi penyisihan juga
dilakukan dengan tes tertulis online. Kami hanya memiliki waktu satu jam untuk
menyelesaikan soal-soal pilihan ganda dalam tes online.
Hari-H tes online, kami berkumpul di
kampus, di S n T yang wi-finya kencang. Aku berlari dari balairung sehabis
melakukan Simulasi Mengajar Pendidik Rumah Belajar BEM UI. Untunglah aku tiba
tepat waktu. Bersama Asya dan Rico, kami bertiga mengerjakan soal-soal tersebut
dengan dibantu tumpukan buku-buku ekonomi syariah yang kami pinjam dari
perpustakaan.
Beberapa hari berlalu setelah tes.
Kami harap-harap cemas menanti pengumuman.
Pada jam 10 malam aku membuka
website GSENT, dan membaca dengan hati berdebar.
Nama kami ada dalam daftar 15 tim
yang lolos penyisihan. Alhamdulillah. Rasanya tidak percaya. Apalagi menurut
cerita Fitra, temanku yang juga panitia GSENT, dari UI ada tiga tim dari
Fakultas Ekonomi UI yang juga mendaftar, namun hanya tim kami yang menjadi
perwakilan dari UI. Padahal kami dari Fakultas Hukum.
Bismillah.
Kami memutuskan untuk melanjutkan
kompetisi dengan modal nekat. Di sela-sela jadwal kuliah Asya dan Rico yang
padat, dan kesibukanku berlatih untuk tes TOEFL dan mengerjakan skripsi, kami
meluangkan waktu untuk berlatih soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah.
Sehari sebelum perlombaan, semua tim
berkumpul di Universitas Gunadarman dan mengikuti Technical Meeting. Karena
Asya dan Rico masih kuliah, aku datang sebagai perwakilan tim. Aku berkenalan
dengan tim-tim lain yang berasal dari berbagai Universitas: ada yang dari
Universitas Brawijaya, SEBI, Tazkia, UGM, namun sebagian besar tim berasal dari
institusi UIN, yang di Jakarta, Malang, Bandung, dan Yogyakarta.
"Kalian dari KSEI juga?"
tanya salah satu tim kepadaku.
Aku menggeleng. "Bahkan aku
belum pernah dengar. KSEI itu apa?"
"Loh, setau aku FEUI punya KSEI
juga deh. Yang kemarin buat lomba Olimpiade Ekonomi Syariah juga kan?"
Aku mulai ragu. "Mungkin mereka
punya KSEI. Tapi kita bukan anak Fakultas Ekonomi. Kita dari Fakultas
Hukum."
"Loh, kok anak Hukum bisa ikut
lomba Olimpiade Ekonomi?" Ia terlihat terkejut.
Mana aku tahu, batinku cemas. Mungkin
panitianya melakukan kesalahan dan salah memasukkan nama finalis?
Ternyata, kebanyakan dari mereka
sudah sering mengikuti Olimpiade Ekonomi Syariah. Bahkan, semua tim yang
bertanding --kecuali kami--merupakan anggota KSEI (komunitas Ekonomi Syariah di
Universitas-Universitas seluruh Indonesia). Beberapa tim merupakan langganan
juara Olimpiade Ekonomi Syariah. Kabarnya, beberapa hari yang lalu mereka baru
saja mengikuti seleksi Olimpiade Ekonomi Syariah tingkat Regional yang baru
diadakan antar KSEI se-Indonesia.
Mendengar cerita mereka, seketika
nyaliku ciut. Bagi tim kami, ini pertama kalinya kami ikut Olimpiade Ekonomi
Syariah. Apalagi kami tidak memiliki background core competence Fakultas
Ekonomi, berbeda dengan tim lain yang berasal dari Fakultas Ekonomi atau
jurusan Ekonomi Syariah.
Menurut Camila, lomba GSENT tahun
lalu adalah cerdas-cermat soal olimpiade per tim dan case study. Sementara
babak finalnya adalah mempresentasikan esai yang kita buat. Oleh karena itu,
tim kami mengatur strategi. Panitia memberikan kisi-kisi 12 materi yang akan
keluar dalam soal. Kami membagi tugas: masing-masing orang bertugas mempelajari
4 BAB dari materi tersebut. Dengan begitu saat olimpiade, kami hanya perlu
menjawab bagian yang kami pelajari. Setiap orang bertanggungjawab untuk
menguasai materi yang menjadi kewajibannya. Dengan cara ini, kami bisa saling
melengkapi dalam menjawab soal.
Namun rencana kami rusak karena
ternyata peraturan telah berubah.
Babak Semifinal mencakup babak Tes
Tertulis, Mini Council, dan Mini Presentation. Dalam tes tertulis, kami akan
menghadapi 80 soal Pilihan Ganda dan 20 soal TTS yang harus dikerjakan secara terpisah. Setelah itu nilai dari
setiap anggota tim akan dikumulasikan. Dalam sesi mini council, kami akan
menghadapi case study. Di sesi mini presentation, kami harus mempresentasikan
esai kami. Sementara untuk babak final, kami akan mendapatkan case study lagi
dan diberi waktu 1,5 hari untuk membuat presentasi dan mempresentasikan jawaban
kami.
Peraturan yang berubah cukup
mengejutkan kami. Ini tidak seperti yang kami rencanakan. Aku, Asya, dan Rico
bertatapan dengan campuran antara perasaan bingung, pasrah, dan jiper
menghadapi lawan-lawan kami. Kami tidak siap.
“Yaudah teman-teman, kita pasrah aja
ya. Nothing to loose. Kalaupun kita nggak lolos, toh ini bisa jadi pelajaran
untuk anak-anak Serambi ikut lomba ini tahun depan.”
Kami memanfaatkan sisa waktu malam
itu untuk mempelajari soal-soal Olimpiade Ekonomi Syariah. Kami tanya jawab
soal di lobby penginapan, dengan tumpukan buku-buku di hadapan kami. Aku baru
berhenti belajar jam 12 malam. Ikhtiar
sudah maksimal, sisanya dipasrahkan saja kepada Allah, pikirku.
Pagi hari sebelum lomba, kami
berkumpul untuk berdoa. Kami meluruskan niat, agar kami semata-mata mengikuti
lomba ini untuk mengharumkan nama baik Serambi, LDF kami. Kami memohon doa agar
dimudahkan oleh Allah dalam kompetisi ini.
Sesi tes tertulis tidak seperti yang
kuharapkan. Walaupun aku sudah banyak belajar materinya, tetap saja aku kagok
menjawab soal-soalnya yang sebagian besar tertulis dalam bahasa Inggris. Aku
bahkan sempat tertidur di tengah tes berlangsung. Kulirik Asya yang duduk
beberapa meter di sebelahku, ia hanya tertawa pasrah.
Sesi presentasi lebih buruk lagi.
Kami memaparkan ide kami, yang kami buat susah payah, namun juri tidak bertanya
pertanyaan yang kami harapkan. Juri tidak menanyakan hal-hal yang substansial
dari ide kami. Selain itu kami baru tahu bahwa juri tidak membaca esai yang
telah kami buat dengan susah payah. Jadi, juri hanya menilai kami berdasarkan
presentasi.
Sementara di sesi mini council, kami
duduk melingkar menghadapi lima tim lainnya. Kami mendapatkan case study dan
harus membantah atau mendukung jawaban tim lain. Tim lain mendapatkan case
study mengenai LKMS (Lembaga Keuangan Mikro Syariah), Baitul Maal, dan
lain-lain yang aku merasa kami tidak dapat menjawabnya apabila dapat soal itu.
Alhamdulillah, kami mendapatkan soal tentang Ekonomi Kreatif, yang sudah kami
kuasai karena kami bahas dalam Essai dan pernah kami diskusikan sebelumnya.
Baru pada sesi inilah kami dapat menunjukkan taring kami. Apalagi Asya sebagai
anak yang sudah biasa debat, ia terlihat sangat menguasai ruangan.
Sesi semifinal selesai sudah.
Seluruh tim dikumpulkan dalam satu ruangan. Panitia akan mengumumkan nama-nama
empat tim yang lolos ke babak final berdasarkan kumulasi nilai-nilai seleksi
semifinal.
Aku dan Asya berpegangan tangan,
menanti dengan hati berdebar. Sejujurnya kami sudah pasrah, namun melihat
performance tim kami saat mini council, secercah harapan muncul. Mungkinkah?
“Tim pertama yang lolos ke babak
semifinal adalah....” panitia memperlambat tempo bicara, menikmati ketegangan
yang muncul di wajah-wajah peserta.
“Universitas Brawijaya.”
Tim dari Universitas Brawijaya
bersorak. Aku menyelamati Rita, anak Unbraw yang kukenal sejak awal bertanding.
Wajah Rita terlihat campuran perasaan tidak percaya dan terharu.
“Universitas Gajah Mada.”
Aku menggenggam tangan Asya semakin
erat sambil berdzikir.
“Universitas Indonesia.”
Kami bertatapan dengan wajah tak
percaya. Tim-tim lain menyalami kami, memberikan selamat. Wajah Rico kulihat
sama bingungnya, namun terlihat gembira.
Panitia mengumumkan UIN Sunan
Kalijaga sebagai finalis keempat. Hasil tabulasi nilai muncul di layar depan.
Ternyata kami tidak seburuk yang kami bayangkan, nilai kami berada di urutan
kedua dari empat finalis.
“Selamat untuk para finalis,
persiapkan diri kalian untuk final hari Jum’at nanti.” Panitia menutup acara.
Setelah para peserta bubar untuk
kembali ke penginapan, kami bertiga, aku, asya, Rico, berkumpul dengan perasaan
tidak percaya.
“Guys... kita udah sejauh ini. Kita
udah nggak bisa mundur lagi. Nggak ada pilihan lain, kita harus menang. Gue
percaya kok, kita sampai final pasti bukan karena kebetulan atau keberuntungan,
tapi karena udah ditakdirkan Allah.”
Kamipun menyusun strategi untuk
final. Namun sampai malam itu, soal untuk babak final belum juga diberikan. Akhirnya
kami pulang ke rumah masing-masing.
Baru saat keesokan harinya kami
mendapatkan case study yang harus dipecahkan saat final. Inti dari pertanyaan yang
diberikan kepada kami adalah, “Apa langkah-langkah yang harus ditempuh agar
Bank Syariah dapat bertahan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015?”
Kami menghembuskan nafas lega. Soal ini
bukan tentang materi yang kami sama sekali tidak mengerti.
Tidak terasa waktu sehari berjalan
cepat. Sehari kami lewatkan dengan lebih banyak diskusi, pembuatan PPT pun kami
lakukan dengan terburu-buru dan seadanya. Asya sebagai perwakilan yang
mempresentasikan hanya sempat latihan beberapa menit sebelum kami tampil. Apakah
kami bisa tampil maksimal?
Kami terhenyak melihat deretan
antrian mahasiswa yang berbaris, akan memasuki aula besar tempat kami akan
presentasi.
“Mbak, itu orang-orangnya pada mau
kemana? Bukan nonton kita, kan?” Asya memastikan pada panitia lomba yang berjaga.
“Mereka datang untuk menonton
presentasi kalian. Selain para juri, kalian akan ditonton oleh 300 orang
peserta seminar ini. Jadi dalam seminar ini, kalian jadi pembicara.” Panitia menjelaskan.
Kami terbengong-bengong. Tiga ratus
orang? Dan mereka mau menonton kami, yang notabene masih mahasiswa ini, berbicara
di depan? Wah, kami merasa tersanjung.
Kami mendapat urutan kedua dalam
presentasi. Asya maju dan berbicara di podium. Harus kuakui, Asya memiliki
public speaking yang amat bagus. Kami juga dapat menjawab pertanyaan dari juri
maupun penonton dengan memuaskan. Namun kami agak khawatir, sebab tim lain
memberikan solusi konkrit berupa program atau model, sementara solusi yang kami
berikan adalah langkah-langkah, yang bahasannya luas dan tidak terfokus.
Semua peserta telah mempresentasikan
jawabannya. Juri meminta waktu untuk berunding di ruangan lain. Tidak lama
kemudian, para juri kembali memasuki ruangan.
Juri siap untuk mengumumkan pemenang
lomba ini.
Kami berdiri berjajar di depan panggung.
Aku dan Asya bergenggaman tangan erat. Lomba ini hanya memiliki dua juara,
juara satu dan dua. Itu artinya, dua tim dari kami tidak akan mendapatkan
apa-apa.
“Juara keempat jatuh kepada...” Juri
mulai membaca. “UIN Sunan Kalijaga.”
Genggaman tanganku dan Asya semakin
erat. Sedikit lagi.
“Juara tiga jatuh kepada......”
hening sejenak. “Universitas Gadjah Mada.”
Jantungku berdegup kencang. Kami bisa
juara dua, atau juara satu. Tidak ada yang tahu.
“Dan juara satu, jatuh kepada....”
aku memejamkan mata. “Universitas Brawijaya.”
Aku dan Asya berpelukan. Kami juara
dua! Walaupun agak kecewa karena tidak mendapat juara satu, tetap saja kami
bersyukur. Juara dua, bagi mahasiswa Hukum, diantara saingan-saingan kami yang
berasal dari Fakultas Ekonomi, adalah sebuah pencapaian yang bagus.
Kami maju ke depan dan mengangkat
piala itu. Disaat itulah, aku merasa bangga, karena pada tahun terakhirku di
Universitas ini, ternyata aku bisa juga membantu mengharumkan nama baik Serambi.
Alhamdulillah.
Tidak ada yang tidak mungkin. Dengan ikhtiar dan doa, segalanya jadi mungkin. Kami telah membuktikan hal itu. Entah mengapa, jalan kami dalam kompetisi ini sepertinya dimudahkan. Kami mendapatkan soal-soal yang kami kuasai. Kami bisa bertanding dengan baik, walaupun hasilnya belum maksimal.
Kompetisi ini membuatku merasa
bersyukur mengenal junior seperti Asya dan Rico yang memiliki passion di bidang
keilmuan. Aku belajar banyak sekali dari mereka, karena mereka cerdas dan
memiliki pengetahuan yang luas. Selain itu, pertemuan dengan mahasiswa penggiat
ekonomi syariah dari seluruh Indonesia membuat tekadku semakin kuat untuk
menjadi ahli di bidang Ekonomi Syariah.
Kompetisi ini hanya salah satu jalan pembuka bagiku. Masih banyak jalan terbentang di depan mata yang harus ditempuh untuk mencapai cita-citaku.
Semangat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar