Assalamualaikum
blog!
Long
time no see! Huhuhu maafkan.. kalau di dunia nyata lagi ngetrend penelantaran
anak, ini saya juga melakukan penelantaran pada blog yang udah setia menemani
dari jaman saya masih SMA labil sampai sekarang yang (alhamdulillah) udah jadi
Sarjana Hukum. Kehectican di tingkat
akhir membuat saya jadi amat sangat jarang nengokin blog atau sekedar mengepost
tulisan. Padahal, sebenarnya banyak banget cerita, tawa, dan airmata yang mau
dibagi ke blog ini.
Karena
itu, saya mau menuangkan segala momen-momen mahasiswa tingkat akhir yang sudah
saya lalui dan tidak sempat terekam di blog ke tulisan pendek ini.
Here
we go!
Kaledioskop
Mahasiswa Tingkat Akhir
Menjadi
mahasiswa tingkat akhir bukan hal yang mudah, kita dilenakan dengan keluangan
waktu karena sudah nggak ada mata kuliah yang harus diambil, tapi dituntut
untuk bertanggungjawab dengan selesainya tugas akhir mulia sebagai mahasiswa
yaitu... skripsi.
Alhamdulillah,
momen tingkat akhir saya sebagai mahasiswa tidak terbuang sia-sia. Bahkan, saya
merasa amat sangat bersyukur karena sepanjang tahun 2014-2015 ini sudah
diberikan banyak anugerah dari Allah untuk mencoba berbagai kesempatan.
Liburan
panjang semester 6 tahun 2014 kemarin saya habiskan untuk dua kegiatan
produktif.
Pertama,
saya dan Muthi ikut Sekolah HAM selama dua minggu yang diadakan oleh LBH Masyarakat,
sebuah lembaga bantuan hukum publik. LBH Masyarakat yang letaknya di Tebet,
dekat rumah saya itu mengadakan Sekolah Hak Asasi Manusia yang ditujukan bagi
mahasiswa-mahasiswa. Materi yang dipelajari juga menarik, misalnya kebebasan
berpendapat, kebebasan beragama, hak hidup, dan lain-lain. Yang seru dari kegiatan ini adalah selain kita
didatangkan pembicara kompeten untuk mengajarkan materi seputar Hak Asasi
Manusia, kita juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke lembaga-lembaga
yang bergerak di isu seputar HAM. Kita mengunjungi Kontras, Komnas HAM, KIP, ELSAM,
Wahid Institute, mendengar pengalaman hidup mantan pengguna narkotika dan
penderita AIDS, dan berkunjung ke komunitas LGBT yang ada di Tebet. Pengalaman dua minggu ini
malah semakin membuat keyakinan saya kuat bahwa apa yang saya yakini benar
adalah benar, dan saya tetap menghormati orang yang berbeda keyakinan dengan
saya.
Lesson
learned: Jangan pernah takut untuk mempelajari sesuatu yang terdengar “berbeda”,
karena mungkin saja dari sana kita malah bisa belajar banyak. Jangan pernah
berpikiran sempit dan menjudge
sesuatu sebelum kita benar-benar mengerti mengenai sesuatu itu.
Di
bulan yang sama, memasuki bulan Ramadhan, saya ikut magang di PAHAM. PAHAM
adalah lembaga bantuan hukum (serupa LBHM) yang letaknya di Pasar Rebo. Hanya saja,
PAHAM berbeda concern dengan LBHM.
LBHM lebih fokus melakukan advokasi terhadap kasus-kasus pengguna narkotika,
LGBT, dan lain-lain. Sementara PAHAM melakukan advokasi kepada isu-isu
keislaman di masyarakat. PAHAM sebagai lembaga bantuan hukum juga menerima
klien-klien yang datang. Selama saya magang di sana, saya bertemu klien yang
mempunyai masalah yang berbeda-beda: seorang mahasiswa hidup susah karena uang
pensiun ayahnya bertahun-tahun tidak cair, dan ia mencoba memperjuangkannya;
kasus guru-guru di sekolah swasta yang diberikan kontrak kerja yang sewenang-wenang;
dan kasus human trafficking dimana seorang remaja diberangkatkan ke Malaysia
dengan tujuan jadi TKI, tapi sesampainya di sana malah dipekerjakan sebagai
wanita penghibur di panti pijat plus-plus.
Selama
saya magang di sana, saya semakin merasa ilmu yang dipelajari di kampus tidak
ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan masalah yang dihadapi di dunia nyata. Saya
yang mahasiswa peminatan hukum perdata, harus bisa menangani masalah buruh,
masalah human trafficking, masalah
pidana (that’s why, kita nggak boleh
jadi mahasiswa hukum yang cuma ngerti masalah peminatan hukum kita aja). Saya juga
merasa bersyukur bisa ikut magang di PAHAM karena bisa ikut bertemu klien,
mendengarkan permasalahan yang ada, dan melihat langsung bagaimana advokat-advokat
senior menangani kasus-kasus hukum yang ada. Yang hebatnya, setiap pengacara
yang ada di sana tidak menerima bayaran dari klien. Namanya juga lembaga
bantuan hukum, bayaran yang diberikan oleh klien tergantung kemampuan klien. Kadang
kalau beruntung, klien membawakan makanan sebagai ucapan terima kasih. Tentu saja
lembaga bantuan hukum berbeda dengan Lawfirm
yang corporate lawyer-nya gajinya
dihitung per jam waktu konsultasi. Bapak-bapak dan mbak-mbak yang ada di PAHAM
ikhlas melakukan pekerjaannya dengan gaji yang tidak seberapa.
Selesai liburan, saya memasuki semester 7. Di semester
ini saya memfokuskan kegiatan kemahasiswaan pada bidang yang menjadi passion saya sejak dulu: pendidikan.
Kalau
di semester sebelumnya saya jadi pendidik Rumah Belajar BEM UI, kali ini saya
memutuskan untuk menjadi panitia pengurus Rumbel BEM UI. Saya bergabung dengan
Rumah Belajar BEM UI sebagai Wakil Kepala Divisi Akademik. Divisi akademik
adalah divisi yang melakukan pelatihan dan memanajemen pendidik-pendidik volunteer Rumbel. Divisi ini juga
mengatur kegiatan belajar mengajar setiap sabtunya di Rumbel BEM UI. Dan tentu
saja, saya setiap sabtu merasakan sweet escape
karena bisa ketemu adik-adik Rumbel yang unyu-unyu, sambil sesekali mengajar.
![]() |
| KBM di Rumbel BEM UI: Walaupun beralaskan karpet beratapkan langit, tetap semangat belajar! |
Anugerah
lain yang saya dapatkan adalah bergabung dengan keluarga Gerakan UI Mengajar.
Gerakan UI Mengajar (GUIM) terinspirasi dari Indonesia Mengajar yang mengirim
pendidik ke pelosok Indonesia untuk mengajar selama satu tahun. Bedanya, GUIM mengirim
mahasiswa UI untuk mengajar di daerah yang kurang akses pendidikannya di Jawa
Barat hanya selama tiga minggu. Setelah dua tahun kemarin ikut seleksi pengajar
GUIM dan belum berhasil lolos, alhamdulillah kali ini saya berkesempatan untuk
menjadi pengajar GUIM 4. Saya berkenalan dengan panitia dan pengajar GUIM lain
yang keren-keren dan menginspirasi.
![]() |
| Pengajar GUIM 4 di Titik Satu, dari kiri ke kanan: Gugum, Risky, Melati, Iffah, Ela, Maul |
Selama
tiga minggu, saya dan teman-teman di Titik Satu, SD Puncakmanggu Kabupaten
Sukabumi, saling mengenal satu sama lain seperti keluarga sendiri. Saya juga
belajar banyak dari anak-anak kelas 3 Ceria yang saya ajar.
| Bu Iffah dan Anak-anak Kelas 3 Ceria |
Di Sukabumi, setiap
hari yang ada hanya keceriaan walaupun setiap harinya kita harus naik-turun melewati
bukit berbatu untuk mengajar di sekolah dan mengunjungi rumah murid-murid. Saat
itu juga, saya harus berjuang keras melawan diri sendiri karena beberapa hari
menghadapi homesick, dan belajar
bahasa sunda dari nol di tengah lingkungan yang memaksa untuk bisa berbahasa
sunda. Tapi dari pengalaman selama di GUIM ini, saya belajar amat sangat
banyak. Menjadi bagian dari GUIM 4 adalah anugerah tiada terkira yang saya
syukuri.
Di
semester 7, saya juga menggiatkan diri bersama teman-teman mengikuti beberapa
lomba karya tulis. Walaupun tidak semua karya dari lomba yang saya ikuti
mendapatkan juara, tentu saja. Tetapi, pengalaman saat mengikuti lomba-lomba
itu memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya sebagai sarana upgrading diri. Kalau dihitung-hitung,
ada 10 karya tulis yang saya hasilkan selama tahun 2014-2015 kemarin. Alhamdulillah,
berhasil menunaikan resolusi awal tahun untuk mengikuti banyak lomba. Dan
beberapa dari karya tulis itu memberikan hadiah, misalnya memenangkan juara Program
Kreativitas Mahasiswa di Fakultas, dan memenangkan juara 2 saat kompetisi di
Gunadarma.
Semester
8 adalah saat ketika saya harus fokus hanya kepada satu hal: Skripsi!
Setelah
menunda-nunda untuk sama sekali tidak memikirkan skripsi selama semester 7, di
semester ini saya “dipaksa” untuk mulai memusingkan skripsi. Biasanya, ketika
ada yang nanya ke saya, “Iffah, gimana skripsinya? Udah bab berapa?”, jawaban cuek
saya adalah, “Masih bab niat-rencana-persiapan-pembuatan-proposal.”
Tapi,
sejujurnya saya menyesal nggak mempersiapkan skripsi dari jauh-jauh hari. Beberapa
teman saya, misalnya Muthi, Athun, dan Ghozi, sudah mempersiapkan skripsinya
dari semester 7. Bahkan sekitar setengah dari mahasiswa di peminatan hukum
perdata, peminatan saya, sudah selesai di semester 7 dan lulus 3,5 tahun. Dulu
saya cuek-cuek saja karena bagi saya lulus juga nggak perlu buru-buru. Tapi saya
juga nggak mempersiapkan apa-apa, sehingga di semester 8 saya kelabakan
menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah, saya udah dapat tema skripsi, yaitu
tentang Jaminan Produk Halal yang terinspirasi dari seminar yang diadakan oleh
lembaga yang saya ikuti, Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam (LKIHI).
Saat-saat
mengerjakan skripsi adalah momen krusial bagi seorang mahasiswa. Demi bisa
menyelesaikan skripsi, saya fokus dan mengabaikan semua kesempatan yang datang.
Setiap hari (literally) menghubungi
pembimbing, menanyakan kapan bimbingan. Jadi kebal karena berkali-kali di
PHP-in untuk bertemu dosen pembimbing. Tapi di saat yang sama jadi
supersensitif, gampang emosi dan nangis kalau ada masalah sedikit, terutama
masalah yang berhubungan dengan skripsi. Kafe-kafe, KFC, Seven Eleven, dan
berbagai tempat nongkrong di sekitar rumah dan kampus menjadi saksi bisu
perjuangan saya. Memasuki bulan Ramadhan, tempat ngerjain skripsi pindah ke
Perpustakaan FH yang baru diresmikan, yang super pewe karena penuh sofa-sofa
empuk, ber-AC, wifi kencang. Setiap saat saya dan teman-teman menggentayangi perpustakaan
FH, dari pagi sampai menjelang sore.
Dan
perjuangan panjang akan berbuah manis juga pada akhirnya.
Sarjana
Hukum sekarang melekat pada akhir nama saya.
Tak
hentinya rasa syukur terucap. Rasa terima kasih yang tak terhitung, kepada
orangtua saya yang tak hentinya mendoakan saya. Kepada sahabat-sahabat yang
selalu ada untuk membantu saya, dan menemani saya selama empat tahun kuliah.
Tapi,
seperti yang Tita, sahabat saya, bilang, Sarjana itu hanya titel. Masih sangaaat
panjang jalan yang menanti di depan. Masih banyak mimpi yang membayang-bayang
di kepala. Menjadi asisten dosen. Menikah. Menempuh S2 jurusan Ekonomi Syariah
di Durham University, Inggris. Menjadi dosen di Universitas Indonesia. Membuat
buku. Dan masih banyak lagi.
What’s
next?




Tidak ada komentar:
Posting Komentar