Ini kisah tentang pengalamanku saat
pertama bergabung dengan keluarga baruku: Rumah Belajar BEM UI.
Sekitar bulan Februari 2014, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi pendidik di Rumbel BEM UI. Rumbel BEM UI adalah rumah belajar yang menampung anak-anak maupun karyawan di sekitar UI dan Depok untuk mendapatkan pelajaran SD, SMP, Paket B, dan Paket C. Kenapa harus Rumbel BEM UI? Sejujurnya, aku berminat untuk mendaftar di Rumbel BEM UI sejak zaman mahasiswa baru, namun dengan berbagai alasan aku tidak pernah bisa untuk mengajar di sana, entah karena sibuk (waktu mahasiswa baru aku ikut 3 organisasi), capek, malas hari sabtu pergi ke kampus, dan alasan-alasan lain. Padahal sebenarnya Rumbel BEM UI tidak terlalu berat, kegiatannya hanya dilakukan seminggu sekali.
Tahun ini, aku mengenyahkan segala alasan-alasan yang muncul untuk tidak mendaftar Rumbel BEM UI. Akhirnya, aku mendaftarkan diri menjadi pendidik walau aku sebenarnya tidak yakin bakal diterima, hehe. Setelah melewati tahapan wawancara, tak disangka aku terpilih menjadi salah satu bagian dari pasukan langit—julukan bagi para pendidik di Rumbel BEM UI. Selain Pasukan Langit, ada juga Pasukan Awan, yaitu Panitia Rumbel yang mengurus semua kegiatan Rumbel secara keseluruhan.
Sejujurnya, aku selalu kagum setiap melihat anak-anak Pasukan Langit dan Pasukan Awan Rumbel. Bagiku, mereka terlihat sangat sabar dan tangguh karena bisa menghadapi berbagai macam tingkah anak-anak. Bayangkan saja, anak-anak SD dan SMP yang kami ajar sangat aktif berlari-lari dan menjerit-jerit. Jika tidak kuat menghadapi mereka, bisa-bisa stress sendiri.
Di Rumbel, aku masih harus belajar banyak. Sebelumnya, aku biasa mengajar anak-anak SMA di Mabit Nurul Fikri. Jelas, berbeda sekali tantangannya mengajar anak-anak SMA dibandingkan mengajar anak-anak SD dan SMP yang nggak bisa diam. Belum apa-apa, sudah berkecamuk sejuta kecemasan di pikiranku. Duh, gimana ya kalo gue ngajarnya ngebosenin? Gimana cara menghadapi anak yang nakal? Gimana kalo nggak ada yang ngerti apa yang gue ajarin?
Suatu ketika, aku mendapat tugas mengajar IPS untuk anak-anak kelas 3 dan 4 SD. Sebelumnya aku pernah mengajar, tapi yang kelas 1,2 SD dan 1,2 SMP. Mata ajar yang diberikan oleh Kak Rizky, wali kelasnya kelas 3 dan 4 kebetulan tentang Jual-Beli dan Alat Tukar. Otakku berputar mencari metode mengajar yang asyik buat anak SD. Tapi, sampai sehari sebelum waktu mengajar, belum ada ide apa-apa di benakku. Lalu aku teringat, waktu hari Rabu aku pulang ke Tangerang dan menemukan sebuah benda lucu di toko souvenir. Tau mesin penjual permen karet yang ada di luar negeri kan? Yap, mesin yang biasanya dimasukkin koin terus tuasnya diputar, untuk ngeluarin permen karet. Waktu ngeliat mesin seukuran mug itu, aku terpekik gemas dan bertekad, gue-nggak-akan-pulang-sebelum-beli-mainan-itu. Walaupun diledek oleh adik-adik dan kakak-kakakku, akhirnya aku beli juga mesin itu.
Hari sabtu, aku membeli dua bungkus permen cha-cha untuk mengisi mesin itu. Pertama-tama, aku harus mengajari anak-anak kelas 4 SD. Sesampainya di Rumbel, tepatnya di PKM lantai 2, ada beberapa anak yang sudah menunggu. Aku tersenyum dan mengajak mereka berkenalan satu-persatu. Kebanyakan murid-murid kelas 4 SD adalah perempuan, cuma satu orang laki-lakinya. Aku bernafas lega. Bukan apa-apa, kebanyakan anak cowok SD yang kukenal adalah trouble maker. *stereotipe banget sih fah*
Aku menjelaskan kepada mereka tentang alat jual beli dan alat tukar yang ada di masyarakat dan ciri-cirinya.
Beberapa anak menjawab pertanyaanku dengan antusias. Ada satu anak dengan rambut dikuncir dua yang super antusias (sayangnya aku lupa namanya. Aku memang bukan pengingat yang baik, hiks.) sampai-sampai suara beberapa anak yang lain menjadi teredam. Anak-anak seperti ini selalu membuatku merasa gembira, jarang-jarang loh ada anak SD yang berani seperti dia. Namun aku juga memperhatikan ada seorang anak berkacamata yang pendiam dan jarang menjawab, makanya kucoba memberikan kesempatan lebih baginya untuk menjawab.
Tiba saatnya kuis. Di papan tulis, aku menggambar panel 10x10 yang berisi huruf-huruf yang sekilas terlihat acak dan tidak berarti apa-apa.
Tidak lama kemudian, aku sudah asyik bermain dengan anak-anak kelas 4 SD. Mereka pun sudah tidak malu-malu lagi untuk menjawab pertanyaan. Aku mengajak mereka membentuk kelompok untuk bergantian berdialog memperagakan proses transaksi jual-beli, dan kelompok lainnya kuminta untuk menebak tempat jual-beli dilakukan dan alat transaksi apa yang digunakan. Mereka mengikuti pelajaran dengan semangat. Mereka terpekik kegirangan saat mendapatkan kesempatan menggunakan mesin permen dan mengambil permen cha-cha di dalamnya.
Another class, another challange.
Kak Rizky menghampiriku, “Fah, ini di kelas 3 lagi ada yang berantem, Sita sama Siti. Kamu tolong bantu mereka buat berbaikan, ya?”
“Kak, itu isinya permen ya? Mau dong!” Beberapa orang anak menunjuk-nunjuk mesin permen yang kubawa.
Aku mulai memberikan materi yang sama dengan materi kelas 4. Namun, berbeda dengan kelas sebelumnya, kali ini tidak ada yang memperhatikanku. Sita dan Siti bertengkar, duduk berjauhan dan saling memunggungi satu sama lain. Dua orang anak cowok saling memukul sambil berguling-guling. Dua orang yang lain berkejar-kejaran. Sisa anak yang ada perhatiannya teralihkan karena menonton anak-anak yang berkelahi. Suasana chaos.
Aku berusaha menarik perhatian mereka, namun hanya sebagian anak yang memperhatikan materi yang kuberikan. Anak-anak lainnya sudah tidak fokus. Aku menghela nafas panjang, merasa pusing. Aku berusaha memanggil anak-anak yang sibuk sendiri, namun aku diacuhkan.
Akhirnya aku menuliskan soal-soal untuk bermain kuis di papan tulis. Salah satu anak berusaha mengintip kunci jawabannya, sehingga aku menyingkir untuk menuliskan soal di papan tulis.
Waktu belajar sudah selesai. Aku mengakhiri pelajaran dengan berdoa bersama. Satu persatu anak-anak berpamitan kepadaku, dan beberapa orang bertanya, “Kakak minggu depan ngajar kita lagi kan?”. Aku hanya tersenyum.
Pengalamanku mengajar di kelas yang berisi anak-anak aktif dan sulit diatur sangat berkesan. Ternyata, untuk dapat mengendalikan anak-anak, kita harus meraih hati mereka terlebih dahulu. Jika mereka sudah menganggap kita sebagai teman, mereka akan percaya dengan kita dan menuruti nasehat kita.
Setiap kali aku bertemu dengan anak-anak kelas 3, mereka mengenaliku dan selalu menyalamiku. Terkadang saat aku sedang mengajar di kelas lain, mereka ikut bergabung karena ingin diajar olehku. Sungguh, aku terharu dengan tingkah mereka. Aku merasa menyesal pernah marah-marah kepada anak-anak lucu ini.
Menjadi Pasukan Langit Rumbel BEM UI memberiku pengalaman tak terlupakan. Dulu kupikir, aku bisa memberikan banyak hal untuk anak-anak di Rumbel BEM UI. Namun ternyata, mereka memberiku lebih banyak dari yang kuberikan kepada mereka. Karena mereka, aku belajar bersabar. Aku belajar untuk mencoba memahami anak-anak. Aku belajar untuk menjadi teladan yang baik karena mendapat teguran dari celotehan polos mereka, misalnya “Kak Iffah kok minumnya sambil berdiri?”. Aku belajar untuk memberi tanpa mengharap balas jasa apapun, hanya senyum anak-anak itu yang membuat hilang rasa lelahku karena mengajar anak-anak aktif seharian.
Sekitar bulan Februari 2014, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi pendidik di Rumbel BEM UI. Rumbel BEM UI adalah rumah belajar yang menampung anak-anak maupun karyawan di sekitar UI dan Depok untuk mendapatkan pelajaran SD, SMP, Paket B, dan Paket C. Kenapa harus Rumbel BEM UI? Sejujurnya, aku berminat untuk mendaftar di Rumbel BEM UI sejak zaman mahasiswa baru, namun dengan berbagai alasan aku tidak pernah bisa untuk mengajar di sana, entah karena sibuk (waktu mahasiswa baru aku ikut 3 organisasi), capek, malas hari sabtu pergi ke kampus, dan alasan-alasan lain. Padahal sebenarnya Rumbel BEM UI tidak terlalu berat, kegiatannya hanya dilakukan seminggu sekali.
Tahun ini, aku mengenyahkan segala alasan-alasan yang muncul untuk tidak mendaftar Rumbel BEM UI. Akhirnya, aku mendaftarkan diri menjadi pendidik walau aku sebenarnya tidak yakin bakal diterima, hehe. Setelah melewati tahapan wawancara, tak disangka aku terpilih menjadi salah satu bagian dari pasukan langit—julukan bagi para pendidik di Rumbel BEM UI. Selain Pasukan Langit, ada juga Pasukan Awan, yaitu Panitia Rumbel yang mengurus semua kegiatan Rumbel secara keseluruhan.
Sejujurnya, aku selalu kagum setiap melihat anak-anak Pasukan Langit dan Pasukan Awan Rumbel. Bagiku, mereka terlihat sangat sabar dan tangguh karena bisa menghadapi berbagai macam tingkah anak-anak. Bayangkan saja, anak-anak SD dan SMP yang kami ajar sangat aktif berlari-lari dan menjerit-jerit. Jika tidak kuat menghadapi mereka, bisa-bisa stress sendiri.
Di Rumbel, aku masih harus belajar banyak. Sebelumnya, aku biasa mengajar anak-anak SMA di Mabit Nurul Fikri. Jelas, berbeda sekali tantangannya mengajar anak-anak SMA dibandingkan mengajar anak-anak SD dan SMP yang nggak bisa diam. Belum apa-apa, sudah berkecamuk sejuta kecemasan di pikiranku. Duh, gimana ya kalo gue ngajarnya ngebosenin? Gimana cara menghadapi anak yang nakal? Gimana kalo nggak ada yang ngerti apa yang gue ajarin?
Suatu ketika, aku mendapat tugas mengajar IPS untuk anak-anak kelas 3 dan 4 SD. Sebelumnya aku pernah mengajar, tapi yang kelas 1,2 SD dan 1,2 SMP. Mata ajar yang diberikan oleh Kak Rizky, wali kelasnya kelas 3 dan 4 kebetulan tentang Jual-Beli dan Alat Tukar. Otakku berputar mencari metode mengajar yang asyik buat anak SD. Tapi, sampai sehari sebelum waktu mengajar, belum ada ide apa-apa di benakku. Lalu aku teringat, waktu hari Rabu aku pulang ke Tangerang dan menemukan sebuah benda lucu di toko souvenir. Tau mesin penjual permen karet yang ada di luar negeri kan? Yap, mesin yang biasanya dimasukkin koin terus tuasnya diputar, untuk ngeluarin permen karet. Waktu ngeliat mesin seukuran mug itu, aku terpekik gemas dan bertekad, gue-nggak-akan-pulang-sebelum-beli-mainan-itu. Walaupun diledek oleh adik-adik dan kakak-kakakku, akhirnya aku beli juga mesin itu.
![]() |
| Unyu kan? |
Apa hubungannya mesin permen sama
Rumbel? Nah, rencananya, aku mau membuat games berhadiah permen. Siapa yang
bisa menjawab pertanyaan yang aku kasih, dapat kesempatan memutar tuas mesin
itu sekali untuk mendapatkan permen sebagai reward. Namanya juga anak-anak,
pasti mereka senang bisa main sambil belajar, pikirku.
Hari sabtu, aku membeli dua bungkus permen cha-cha untuk mengisi mesin itu. Pertama-tama, aku harus mengajari anak-anak kelas 4 SD. Sesampainya di Rumbel, tepatnya di PKM lantai 2, ada beberapa anak yang sudah menunggu. Aku tersenyum dan mengajak mereka berkenalan satu-persatu. Kebanyakan murid-murid kelas 4 SD adalah perempuan, cuma satu orang laki-lakinya. Aku bernafas lega. Bukan apa-apa, kebanyakan anak cowok SD yang kukenal adalah trouble maker. *stereotipe banget sih fah*
Aku menjelaskan kepada mereka tentang alat jual beli dan alat tukar yang ada di masyarakat dan ciri-cirinya.
“Di sini siapa yang suka jajan?”
“Aku kak, aku kak!” Beberapa anak
langsung mengangkat tangannya, beberapa lainnya masih malu-malu.
“Di mana biasanya kalian jajan?”
“Di Mall kaak.”
“Di warung.”
“Di Indomaret.”
“Coba, kakak mau denger kalian cerita
satu-satu, kalian pernah jajan di mana, apa yang kalian beli? Terus, biasanya
kalian bayar pakai uang receh, uang kertas, atau kartu kredit?”
Beberapa anak menjawab pertanyaanku dengan antusias. Ada satu anak dengan rambut dikuncir dua yang super antusias (sayangnya aku lupa namanya. Aku memang bukan pengingat yang baik, hiks.) sampai-sampai suara beberapa anak yang lain menjadi teredam. Anak-anak seperti ini selalu membuatku merasa gembira, jarang-jarang loh ada anak SD yang berani seperti dia. Namun aku juga memperhatikan ada seorang anak berkacamata yang pendiam dan jarang menjawab, makanya kucoba memberikan kesempatan lebih baginya untuk menjawab.
Tiba saatnya kuis. Di papan tulis, aku menggambar panel 10x10 yang berisi huruf-huruf yang sekilas terlihat acak dan tidak berarti apa-apa.
“Nah ade-ade, coba cari nama-nama
tempat melakukan jual-beli. Yang duluan nemu angkat tangan, ceritain ke kakak
apa yang kalian tahu tentang tempat jual beli itu. Yang bisa jawab,” aku
mengangkat mesin permen dan menggoyang-goyangkannya di depan mereka. “Dapat kesempatan
untuk memutar tuas mesin ini dan mengambil permennya!”
“Aku kak, aku kak!” Mata mereka
berbinar-binar, siap untuk menjawab.
“Oke, siapa yang mau jawab pertama!”
Tidak lama kemudian, aku sudah asyik bermain dengan anak-anak kelas 4 SD. Mereka pun sudah tidak malu-malu lagi untuk menjawab pertanyaan. Aku mengajak mereka membentuk kelompok untuk bergantian berdialog memperagakan proses transaksi jual-beli, dan kelompok lainnya kuminta untuk menebak tempat jual-beli dilakukan dan alat transaksi apa yang digunakan. Mereka mengikuti pelajaran dengan semangat. Mereka terpekik kegirangan saat mendapatkan kesempatan menggunakan mesin permen dan mengambil permen cha-cha di dalamnya.
Setelah selesai mengajar, aku
bersiap-siap memberikan materi yang serupa di kelas 3 SD. Saat aku mengakhiri
kelas, beberapa anak bertanya, “Kakak kapan lagi ngajar kita?” Sejujurnya, hatiku
berbunga-bunga mendengar pertanyaan itu. Apakah ini artinya aku berhasil
merebut hati mereka?
Another class, another challange.
Waktu aku mendatangi kelas 3 yang
letaknya di bawah pohon, situasi chaos sudah menyambutku. Beberapa anak
laki-laki sedang kejar-kejaran dan guling-gulingan. Sementara di sudut sana,
kulihat Kak Rizky sedang membujuk seorang anak perempuan berkerudung. Tak jauh
dari anak berkerudung itu, seorang anak cantik berambut panjang sedang
memunggunginya sambil cemberut. Tangannya disilangkan di depan dada.
Kak Rizky menghampiriku, “Fah, ini di kelas 3 lagi ada yang berantem, Sita sama Siti. Kamu tolong bantu mereka buat berbaikan, ya?”
Aku mengangguk, walaupun aku tidak
tahu harus berbuat apa untuk mendamaikan mereka. Selama ini, kelas yang kuajar
belum pernah ada dinamika di muridnya.
“Kak, itu isinya permen ya? Mau dong!” Beberapa orang anak menunjuk-nunjuk mesin permen yang kubawa.
“Boleh, tapi nanti ya abis jawab
soal.” Aku memasukkan mesin permen itu ke dalam tas-ku.
Aku mulai memberikan materi yang sama dengan materi kelas 4. Namun, berbeda dengan kelas sebelumnya, kali ini tidak ada yang memperhatikanku. Sita dan Siti bertengkar, duduk berjauhan dan saling memunggungi satu sama lain. Dua orang anak cowok saling memukul sambil berguling-guling. Dua orang yang lain berkejar-kejaran. Sisa anak yang ada perhatiannya teralihkan karena menonton anak-anak yang berkelahi. Suasana chaos.
Aku berusaha menarik perhatian mereka, namun hanya sebagian anak yang memperhatikan materi yang kuberikan. Anak-anak lainnya sudah tidak fokus. Aku menghela nafas panjang, merasa pusing. Aku berusaha memanggil anak-anak yang sibuk sendiri, namun aku diacuhkan.
Akhirnya aku menuliskan soal-soal untuk bermain kuis di papan tulis. Salah satu anak berusaha mengintip kunci jawabannya, sehingga aku menyingkir untuk menuliskan soal di papan tulis.
Saat aku berbalik, tak kusangka salah
satu anak, sebut saja Aril, sudah membongkar tasku dan mengambil mesin
permenku. Ia memutar mesinnya dan mengambil permen dari dalamnya.
Emosiku sudah tidak dapat dibendung
lagi. Tidak sopan, dan aku merasa privasiku dilanggar karena tasku dibuka-buka
sembarangan.
Aku bergegas menghampiri mereka dan
mengambil mesin permen itu. “Oke, adik-adik.” Aku tak dapat menahan nada marah
dalam suaraku, “Yang nggak mau belajar, nggak usah di sini. Kalian main ke
lapangan aja, jangan ganggu teman-teman yang mau belajar!”
Semua anak terdiam. Tidak ada yang
bersuara. Mungkin mereka kaget dengan reaksiku.
Aku merasa menyesal telah
marah-marah kepada anak kecil. Suaraku melunak. “Siapa yang masih mau belajar sama kakak?
Kalau masih mau, duduk yang tenang. Kakak janji, abis ini kita main games. Yang
masih mau belajar, angkat tangan.”
Semua anak mengangkat tangan. Aku merasa
heran, mengapa mereka tiba-tiba jinak? Syukurlah.
Akhirnya aku melanjutkan pelajaran dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tak disangka, Aril yang membuatku marah-marah ternyata pintar dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan. Mungkin ia merasa bersalah telah membuatku marah, dan bertekad menebusnya dengan mengikuti pelajaran sebaik mungkin. Aku mengapresiasinya, dan tidak segan memujinya ketika ia menjawab dengan baik.
Akhirnya aku melanjutkan pelajaran dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tak disangka, Aril yang membuatku marah-marah ternyata pintar dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan. Mungkin ia merasa bersalah telah membuatku marah, dan bertekad menebusnya dengan mengikuti pelajaran sebaik mungkin. Aku mengapresiasinya, dan tidak segan memujinya ketika ia menjawab dengan baik.
Waktu belajar sudah selesai. Aku mengakhiri pelajaran dengan berdoa bersama. Satu persatu anak-anak berpamitan kepadaku, dan beberapa orang bertanya, “Kakak minggu depan ngajar kita lagi kan?”. Aku hanya tersenyum.
Pengalamanku mengajar di kelas yang berisi anak-anak aktif dan sulit diatur sangat berkesan. Ternyata, untuk dapat mengendalikan anak-anak, kita harus meraih hati mereka terlebih dahulu. Jika mereka sudah menganggap kita sebagai teman, mereka akan percaya dengan kita dan menuruti nasehat kita.
Setiap kali aku bertemu dengan anak-anak kelas 3, mereka mengenaliku dan selalu menyalamiku. Terkadang saat aku sedang mengajar di kelas lain, mereka ikut bergabung karena ingin diajar olehku. Sungguh, aku terharu dengan tingkah mereka. Aku merasa menyesal pernah marah-marah kepada anak-anak lucu ini.
Menjadi Pasukan Langit Rumbel BEM UI memberiku pengalaman tak terlupakan. Dulu kupikir, aku bisa memberikan banyak hal untuk anak-anak di Rumbel BEM UI. Namun ternyata, mereka memberiku lebih banyak dari yang kuberikan kepada mereka. Karena mereka, aku belajar bersabar. Aku belajar untuk mencoba memahami anak-anak. Aku belajar untuk menjadi teladan yang baik karena mendapat teguran dari celotehan polos mereka, misalnya “Kak Iffah kok minumnya sambil berdiri?”. Aku belajar untuk memberi tanpa mengharap balas jasa apapun, hanya senyum anak-anak itu yang membuat hilang rasa lelahku karena mengajar anak-anak aktif seharian.
![]() |
| Iffah bersama bocil-bocil |
Pengalamanku menjadi Pasukan Langit
yang berkesan kemudian membawaku menjadi Pasukan Awan.
Tapi, itu cerita yang lain :)

