Jumat, 07 Oktober 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 1)

Assalamualaikum fellas! Long time no see~

Kali ini, aku akan menceritakan perjalananku ketika berpetualang ke Malaysia dan Thailand selama seminggu untuk melakukan penelitian. 
Ceritanya, suatu hari dibuka pengajuan proposal penelitian dari kampus. Melihat peluang yang ada, aku, Ghozi, Bu Ida, dan Bang Heru memasukkan proposal penelitian dengan tema perbandingan kebijakan mengenai produk Halal di Indonesia dengan Malaysia dan Thailand. Tak disangka, proposal kami terpilih sehingga kami melaksanakan penelitian dengan bertemu para akademisi dan pemangku kebijakan di negara masing-masing. Perjalanan kami dimulai pada hari Senin, 15 Agustus 2016.  

Senin pagi kita sudah berkumpul di kampus. Tiket Malindo Air dengan destinasi Kuala Lumpur sudah di tangan, dibooking jauh-jauh hari sebelumnya (harganya sekitar Rp500 ribuan seorang). 

Tadinya, aku sudah menyiapkan koper ukuran besar untuk perjalanan seminggu ini. Sayangnya, saat H-1 berangkat aku baru menyadari kalau koperku (yang besar) rodanya hanya dua, artinya mobilitasnya akan sangat terhambat mengingat aku akan berpindah-pindah hotel beberapa hari. Dengan berat hati, akhirnya aku membawa koper dengan ukuran jauh lebih kecil yang sebelumnya kugunakan untuk outing kantor ke Belitung. Keputusan yang kusesali akhirnya, karena koper itu hanya dapat memuat tujuh stel pakaian, itu pun sudah dipress sedemikian rupa.

Kami berangkat dengan diantar supir Ghozi ke Bandara Soekarno Hatta. Setelah sempat mengalami delay, pesawat kami akhirnya lepas landas jam dua siang. Tiga jam perjalanan tidak terasa, Kami sampai di bandara bersamaan dengan waktu maghrib. Namun waktu Malaysia sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Rupanya, perbedaan waktu antara Malaysia dan Indonesia adalah satu jam. Loh kok bisa? Bukannya Indonesia dan Malaysia berdekatan ya?

Ternyata, menurut bang Heru, perbedaan waktu Indonesia dan Malaysia hanyalah masalah politik, untuk membedakan batas wilayah antar negara. Selangkah saja memasuki perbatasan Malaysia, maka waktu akan berubah. Padahal secara geografis kondisinya sama saja. Lucu aja, jam 7 di Malaysia baru mau maghrib dan langit masih terang.

Bandara Malaysia sudah sangat canggih. Dari bandara Internasional KLIA di daerah Sepang, kami naik MRT yang membawa kami ke terminal penjemputan. Bandara KL luar biasa bagus, aku merasa seperti sedang berada di dalam mall saja. Di bandara, Bang Heru membeli simcard Malaysia agar bisa mengontak Cik Azril, kenalan Bang Heru yang rencananya akan menjemput kami. Aku tertawa-tawa membaca keterangan di papan-papan petunjuk yang berbahasa Melayu, yang bila dibaca artinya sangat lucu. Misalnya toilet menjadi kamar tandas, atau kamar ganti menjadi bilik salin, dan gratis bahasa melayunya adalah percuma.

Di tempat penjemputan bandara, ternyata Cik Azril dan kawannya sudah menunggu kami. Cik Azril adalah advokat Malaysia yang lumayan sering berkunjung FHUI. Di suatu saat aku beruntung berkesempatan berbincang-bincang dengan Cik Azril mengenai kondisi Islam di Malaysia yang mengikuti tren di Indonesia, mulai mengarah kepada sekulerisme. Cik Azril adalah ketua CENTHRA, lembaga bantuan hukum Malaysia yang memperjuangkan nilai-nilai Islam.

Kami naik mobil Cik Azril dan dibawa ke sebuah masjid untuk sholat. Masjid di Malaysia sangat bagus, besar dan bersih. Hanya saja culture shock pertama mulai muncul saat melihat toilet; sprinkle untuk membasuh di toilet Malaysia bentuknya seperti selang, tidak seperti di Indonesia yang berbentuk semprotan.

Dari sana, kami menuju sebuah rumah makan khas India yang terletak di wilayah dekat Putrajaya. Cik Azril dengan murah hati mentraktir kami makan malam dengan nasi kebuli ayam. Satu nampan besar datang dengan beras kuning dan tujuh buah ayam besar-besar beserta beberapa mangkuk berisi kuah kental kecoklatan. Beras yang digunakan adalah beras basmati yang berbulir panjang-panjang. Kuperhatikan, rumah makan halal di Malaysia kebanyakan adalah yang menunya berasal dari India atau Timur Tengah. 


Tahap pertama penelitian: tes produk halal di pasaran



Sehabis makan, kami berkunjung ke kantor Centhra di daerah Putrajaya. Sayangnya kantor sudah dikunci, namun kami sempat berfoto di depannya. Sepulangnya dari sana, Cik Azril meminta sopirnya mengantarkan kami ke hotel kami di KL Sentral.

Kami sampai di hotel dan membawa koper ke kamar kami di lantai 13. Baru kali ini aku menemukan hotel dengan lantai 13, rupanya orang Malaysia nggak percaya takhayul ya, hehe. Kamarku dan Bu Ida berisi dua kasur, namun kamarnya terlihat agak kumuh. Aku agak terkejut melihat kamar yang sangat sederhana untuk rate harga 170 Ringgit (sekitar 600 ribu rupiah) sehari, padahal kamar yang kami pilih lebih luas daripada kamar Bang Heru dan Ghozi. Namun kami tak sempat protes, karena yang ada di pikiran kami saat itu hanyalah bersih-bersih dan tidur.

Pagi hari menjelang. Azan subuh berkumandang di saat jam menunjukkan angka enam. Namun, pemandangan di luar tak ubahnya pemandangan di Indonesia jam empat atau jam lima pagi. 

Kusibakkan gorden kamar, dan melihat daerah KL Sentral dari jendela kamar kami di lantai 13. Baru kusadari, hanya sepelemparan batu dari hotel kami berdiri stasiun LRT KL Sentral. Kulihat monorel bolak balik melintas diatas rel besi.

Kami turun dan menyantap sarapan dengan nikmat. Makanan di hotel tak jauh beda dari makanan semalam, nasi dari beras basmati yang butirnya panjang-panjang, roti prata beserta kari, dan scramble egg.

Hari pertama, agenda kami adalah menuju Universiti Malaya untuk mengikuti confrence. Bu Ida dan Bang Heru akan mengikuti konfrensi yang diadakan UM untuk membahas relasi Indonesia-Malaysia.

Kami naik taksi dari hotel KL sentral menuju UM. Walaupun taksi memiliki argo, sopir menolak untuk menggunakan argo sehingga harus tawar menawar terlebih dulu. Disepakatilah harga 20 RM untuk perjalanan dari hotel ke Universiti Malaya.

Universiti Malaya berada di kompleks yang sangat luas, jauh lebih luas daripada UI. Antar fakultas yang jaraknya cukup jauh dapat ditempuh dengan menggunakan bis kampus. Saat itu ternyata sedang libur kuliah, sehingga kampus agak sepi. Hanya sesekali bis melintas, ternyata ada kompetisi olahraga antar Universitas yang diselenggarakan di UM.

Sambil menunggu Bu Ida dan Bang Heru mengikuti konfrensi, aku dan Ghozi menuju perpustakaan, ingin mencari buku referensi untuk penelitian kami. Namun kami kecewa karena di perpustakaan yang cukup besar itu dipungut biaya sebesar 21 RM per orang (kurs Ringgit 3500, jadi sekitar 73 ribu rupiah) apabila ingin memasuki perpustakaan sepuasnya. Mahal jugaaa. Karena kami di UM hanya beberapa jam saja, kami mengurungkan niat untuk masuk ke perpustakaan. Akhirnya kami berfoto-foto di depan perpustakaan aja *sempet-sempetnya narsis wkwk. Baru kusadari, karena saat itu bulan Agustus yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Malaysia, di sepanjang jalan tergantung bendera Malaysia.




Bang Heru dan Bu Ida keluar dari ruangan tempat confrence dan mengajak kami menuju destinasi selanjutnya, bertemu dengan Ustadz Ruslan Said, salah satu ulama dari JAKIM (MUI-nya Malaysia). Kami bertemu Ustadz Ruslan di daerah Masjid Negara. Kami berbincang-bincang dengan Ustadz Ruslan mengenai kondisi Islam di Malaysia sambil makan siang di sebuah kedai. Ustadz Ruslan menyarankan kami untuk menghubungi divisi bagian halal di kantor pusat JAKIM di daerah Putrajaya. Kami pun mengagendakan untuk mengunjungi JAKIM hari Kamis. Tak lupa kami berfoto bersama sebelum berpisah dengan Ustadz Ruslan.




Setelah itu kami menuju Masjid Negara untuk sholat dzuhur. Setiap masjid di Malaysia memiliki jadwal khusus untuk wisatawan. Setiap waktu sholat, masjid ditutup bagi wisatawan yang beragama bukan muslim karena akan dilaksanakan ibadah. Saat aku datang, turis-turis tampak sabar menunggu waktu sholat berakhir di depan masjid.




Rupanya, setiap orang yang memasuki masjid harus mematuhi adab syariat. Orang-orang yang mengenakan baju pendek atau ketat diwajibkan mengenakan jubah khusus yang telah disediakan untuk menutup aurat. Bahkan sekalipun pengunjung memakai kerudung, bila bajunya ketat atau mengenakan celana (ala-ala hijabers di Indonesia), mereka tetap diwajibkan mengenakan jubah. Warna jubah dibedakan antara muslim dengan non muslim, rupanya untuk membatasi agar pengunjung tidak mengganggu orang-orang yang sholat. Lucunya, wisatawan terlihat sangat fashionable dengan jubah ungu ala-ala Hogwarts school itu. Dengan gembira turis-turis bule dan chinese berfoto-foto di sudut masjid dengan jubah lucu itu.


Jubah Ungu ala-ala. Sumber: Themalaysianreserve.com

Aku tertakjub-takjub melihat bagaimana cara Malaysia mempromosikan Islam melalui masjid-masjid yang mereka punya. Di setiap sudut masjid ada penjelasan mengenai Islam dengan bahasa yang sederhana; misalnya mengapa umat Islam sholat, dan apa saja rukun Islam. Setiap petunjuk tertera dengan tiga bahasa: Melayu, Inggris, dan Chinese.

Di sudut yang lain, aku menemukan rak brosur penuh dengan penjelasan mengenai Islam. Brosur ini tersedia pula dengan berbagai versi bahasa, sampai bahasa Jepang dan Korea pun ada. Brosur yang kubaca memaparkan Islam dengan cara yang mudah dipahami dan membujuk; pokoknya bikin adeem deh. Beginilah cara Malaysia berdakwah: tidak menggurui, tidak menggunakan cara lakukan-ini-atau-kamu-masuk-neraka. Mereka berdakwah dengan mengedukasi, bahkan menjelaskan dengan mematahkan stigma-stigma tentang Islam yang selama ini ada. Salah satu brosur yang ada berjudul "Marry only one: Polygamy is neither obligatory nor encouraged in Islam." Kami tertawa-tawa membacanya dan menunjukkannya kepada Bang Heru.
Narsis di depan rak brosur bersama penjaga Masjid Negara


Dari Masjid Negara, kami berjalan kaki menuju ke Museum Kebudayaan Islam. Aku baru tahu, museum-museum di Malaysia terletak di satu komplek yang berdekatan dengan Masjid Negara. Selain Museum Kebudayaan Islam ada museum-museum lain yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki. Museum Kebudayaan Islam sangat menarik, banyak paparan mengenai sejarah Islam secara umum dan sejarah Islam di Malaysia khususnya, dan juga sejarah Nusantara seperti kerajaan Islam di Samudra pasai.

Puas mengelilingi Museum, kami menuju destinasi selanjutnya: Twin Tower alias Menara Petronas dong! Belum dibilang ke Malaysia kalau belum foto di depan twin tower yang ngehitz itu. Sempat bingung menentukan jalan, akhirnya kami naik kereta dulu ke stasiun KL Sentral, baru berganti transportasi naik LRT ke stasiun KLCC. Aku terperangah melihat stasiun KL Sentral yang besar, padat dan sangat modern, tak ubahnya bandara Malaysia. Kami membeli tiket LRT di mesin otomatis yang mengeluarkan koin-koin plastik. Saat akan memasuki stasiun, kami tinggal menempelkan koin tersebut di mesin scanner untuk membuka gate. Di stasiun tujuan, kami memasukkan koin tersebut ke lubang seperti celengan di mesin untuk membuka gate.

Saat itu jam rush hour, sehingga stasiun padat oleh orang-orang yang kuduga habis pulang kerja. Aku memperhatikan pakaian beberapa wanita Malaysia, dan kebanyakan dari mereka mengenakan baju kurung, yaitu blus panjang yang mencapai lutut dan rok di bawahnya. Walaupun beberapa motif baju kurung menurutku bukan seleraku banget, ada perasaan adem melihat wanita-wanita berbaju kurung berlalu-lalang.

LRT datang, dan ternyata LRT itu penuh sesak. Aku, Bu Ida, dan Bang Heru berhasil masuk ke dalam LRT, namun Ghozi yang paling belakang tertinggal dan pintu LRT langsung menutup. Aku sempat panik mengingat tidak ada sarana komunikasi bagi kami bila Ghozi tersasar. Dari balik pintu LRT yang tertutup Ghozi mengisyaratkan kami untuk bertemu di stasiun tujuan, stasiun KLCC. Kami mengangguk lega.

Kami sampai di stasiun KLCC, dan menunggu Ghozi yang datang dengan kereta selanjutnya. Dari bawah tanah kami menaiki eskalator dan tiba di tengah-tengah Mall. Kemudian kami menyeberang ke gedung di depan Mall tersebut yang tak lain adalah gedung Menara Twin Tower. Bang Heru menyarankan untuk berfoto dengan Twin Tower sehabis gelap karena konon Twin Tower di malam hari lebih cantik. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat dan makan dulu. Kami ke food court di Mall dan mulai mencari-cari makanan yang tersedia. Kebanyakan menu yang ada adalah nasi lemak dan laksa, makanan khas Malaysia. Bang Heru memilih makan Nasi Lemak beserta lauk pauk Ikan. Bu Ida memilih laksa. Aku dan Ghozi setelah berputar-putar bingung memilih makanan akhirnya mentok di satu restoran Indonesia yang menjual ayam penyet. Total makanan dan minuman yang kita beli kira-kira 24 ringgit, jadi satu orang bayar 6 ringgit. Kenyang makan, kami turun menuju dasar Twin Tower. Di depan Twin Tower sudah ramai dengan orang-orang yang berfoto dengan latar Twin Tower. Kami pun bersiap berpose.



Nggak foto nggak heitz


(Bersambung ke postingan selanjutnya)

1 komentar:

  1. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Great, love it.
    mgmdomino

    BalasHapus