Sabtu, 01 Juli 2017

Puncakmanggu Undercover #4: Anak Istimewa


Setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang dipaksa untuk ahli di satu bidang tertentu, sementara mungkin sebenarnya ia memiliki keunggulan di bidang lain. Hanya saja, tidak semua keluarga dan lingkungan di sekitarnya menyadari itu.

Jakarta, 2017

Aku tercenung menatap layar yang menampilkan credit di akhir film. Tanpa sadar, airmata sudah menggenang di pipiku, akibat menonton film Taare Zameen Par. Film ini menceritakan tentang seorang anak yang selalu tertinggal di kelas, yang dikira bodoh namun ternyata mengalami problem dysleksia, yaitu tidak mampu membaca layaknya orang normal. Aku terpukul menonton film ini, menyesal karena tidak menontonnya sejak dua tahun yang lalu. Pikiranku melayang, memutar memori, mengenangnya...

Sukabumi, 2015

“Fah, siap-siap ya.. Di kelas tiga yang kamu ajar ada satu orang Anak Berkebutuhan Khusus.”

Ketika aku mendengar bahwa harus mengajar kelas tiga SDN Puncakmanggu yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), aku langsung pasrah. Bingung memikirkan apa yang harus kuperbuat dengan anak ini. Apalagi, jurusanku adalah jurusan Hukum, bukan jurusan psikologi yang sedikit banyak mengerti bagaimana penanganan yang tepat untuk ABK.

Saat pertama kali kami datang ke Sekolah dan melakukan observasi kelas, aku meminta Pak Baban, guru kelas 3, untuk menceritakan siapa anak yang agak tertinggal dalam pelajaran. Tanpa ragu-ragu, Pak Baban menunjuk ia yang duduk di sudut kelas.

Namanya Nia. Wajahnya terlihat murung dan rendah diri. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan badannya lebih besar dari kebanyakan anak-anak di kelas. Menurut Pak Baban, Nia sudah tiga kali tidak naik kelas. Aku tersenyum kepada Nia, tapi Nia hanya menatapku dengan pandangan kosong dan ketakutan.

“Namanya siapa?” aku mencoba menyapanya. Nia hanya diam sambil memandangku bingung. Wah gawat, sepertinya dia tidak bisa bahasa Indonesia. Sementara aku tidak bisa berbahasa Sunda.

Aku kembali menyimak pelajaran di kelas. Sambil mencatat, aku memperhatikan metode yang digunakan Pak Baban untuk mengajar anak-anak. Pak Baban membagikan buku teks Agama Islam. Buku yang mereka gunakan dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh enam orang anak karena jumlahnya terbatas. Pak Baban meminta anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang beliau mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku untuk ditulis anak-anak. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.

“Nah anak-anak, rajin itu pangkal...” Pak Baban bertanya di depan kelas. “Pandaaai!” jawab anak-anak. “Kalau malas, pangkal?” tanyanya lagi. “Bodoooh..” sahut anak-anak.

“Nah ini contohnya anak yang malas pangkal bodoh. Liat Nia, udah kelas tiga masih nggak bisa baca. Makanya Nia jangan malas, belajar yang rajin ya supaya bisa baca.” Lanjut Pak Baban sambil menunjuk Nia.

Aku terhenyak karena Pak Baban mencontohkan “Nia malas makannya bodoh” dengan suara lantang kepada seisi kelas.

Pak Baban menyadari tatapan mataku yang kebingungan dan mencoba menjelaskan. “Bu Ipah, saya mah orangnya terus terang. Kalau anak pintar ya saya bilang pintar, kalau anak bodoh ya saya bilang bodoh.”

Hatiku ingin rasanya memprotes Pak Baban, namun lidahku kelu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun, aku bukan guru di sini, Pak Babanlah guru mereka sebenarnya yang harus kuhormati.

Sementara itu, Nia yang duduk di sudut kelas menunduk semakin dalam. Malu.

Labelling adalah hal paling menyakitkan yang mungkin tidak sengaja dilakukan oleh guru kepada muridnya. Ketika seseorang dicap bodoh, ia akan benar-benar menganggap dirinya bodoh, sehingga ia benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu. Potensi yang ada dalam diri anak akan padam. Dan Nia, telah mendapat labeling sedari awal. Padahal mungkin saja Nia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya, namun daya tangkapnya memang terbatas. Labelling ini bertambah parah karena Nia dicap sebagai “bodoh” di depan teman-temannya. Tidak heran Nia terlihat sangat rendah diri.

Kasihan Nia....

Hari-hari berikutnya, aku tidak bisa mengamati Nia dengan intensif. Mengajar di kelas berisi 31 orang membuat perhatianku terbagi-bagi. Setiap anak menuntut untuk diperhatikan dengan porsi yang sama besarnya, sementara kemampuanku terbatas. Akhirnya aku hanya bisa mengobservasi Nia dari jauh.

Selama ini kupikir Nia selalu mengerjakan tugas-tugasnya, karena ketika teman-temannya sibuk menulis, Nia juga asyik menulis. Namun ketika tugasnya dikumpulkan, aku terkejut. Apa yang dikumpulkan Nia adalah rangkaian huruf yang acak tanpa makna. Dugaanku, Nia menyibukkan diri menulis hanya agar ia tidak dimarahi guru. Sementara, ia sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang ia tulis. Akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan tugas lain untuk Nia, yang lebih sesuai dengan kemampuannya.

Beberapa kali aku meminta anak-anak untuk membentuk kelompok, Nia terlihat dihindari oleh teman-temannya untuk bergabung menjadi anggota kelompok. “Ih nggak mau sama Nia, ah. Nia mah gitu, lelet.” Bisikan-bisikan ini seringkali terdengar. Aku mencoba membujuk anak-anak, “Ayo, anak-anak. Kalau ada temannya yang belum selesai mengerjakan tugas atau belum mengerti pelajaran, tolong diajari yaa.”

Saat pelajaran Bahasa Indonesia, setiap anak mendapat tugas untuk membaca teks dongeng. Setiap anak mendapat giliran membaca walaupun ada yang terbata-bata. Namun bacaan berhenti ketika tiba giliran Nia.

“Nia, ayo dibaca tulisannya.” Aku tersenyum sambil menunjuk baris yang harus ia baca.
Nia menggeleng. “Teu tiasa, bu...”[1] Bisiknya dengan suara yang sangat lirih.
“Kalau begitu, kamu ikuti ibu ya? Ibu membaca, nanti Nia tirukan.”

Aku mengeja kata-kata satu persatu. Nia mengikuti. Walaupun kemampuannya terbatas, aku ingin tetap melibatkan Nia dalam setiap aktivitas kelas. Setidaknya hal ini akan menambah kepercayaan dirinya, bahwa ia sebenarnya bisa seperti teman-temannya yang lain.
***

Suatu pagi, seperti biasa aku meminta anak-anak untuk menulis Diary. Namun satu orang kulihat diam saja dan tidak menulis. Nia. Aku mendekatinya. Kulihat tangannya kosong tidak menggenggam alat tulis.

Aku menghampiri meja Nia. Duduk sejajar dan menatap kedua matanya. “Nia teh kunaon, teu nyerat?”[2]
Nia hanya menatapku takut-takut sambil menggeleng.
Hanifah, teman sebangku Nia, menyahut. “Nia nggak punya pulpen, bu.”
Aku mengambil pulpen di mejaku dan menyerahkannya ke Nia. “Kalau begitu, pakai pulpen ibu saja.”

Namun setiap satu jam pelajaran berakhir, Hanifah selalu mendatangiku dan menyerahkan pulpen yang tadi kupinjamkan ke Nia. Jam pelajaran berikutnya terjadi peristiwa yang sama, Nia tidak punya pulpen dan aku kembali meminjamkannya.

Keesokan harinya, ketika menghampiri meja Nia, aku melihat Nia menulis dengan isi pulpen. Ia tampak bersusah payah menulis dengan isi pulpen yang lemas itu. Aku hampir menangis melihatnya.

Aku meraih pulpenku dan menggenggamnya di jemari kecil Nia. “Nia, ini pulpen ibu, untuk kamu. Nggak usah dibalikin ya?”
Nia hanya mengangguk.

Di hari lain, beda lagi yang terjadi.
“Buuu! Nia nggak nulis buu!” Hanifa berteriak memanggilku.
Aku menghampiri mejanya, membungkuk agar sejajar dengan Nia, dan bertanya perlahan. “Nia kunaon teu nyerat?”
Nia masih diam seribu bahasa. Kuulangi lagi pertanyaanku, ia tidak menjawab. 

Aku mulai frustasi bagaimana cara memahami murid yang tidak mau berbicara. Kulihat genggaman tangannya, ia masih memegang pulpen yang kuberikan kemarin. Jadi masalahnya bukan karena tidak ada pulpen, lalu kenapa?

Untunglah saat itu Ucheng, RED alias bapak para pengajar GUIM di titik satu sedang melintas. Aku memanggilnya, meminta tolong Ucheng yang bisa berbahasa Sunda untuk membujuk Nia menulis. Ucheng menghampiri Nia dan berbincang-bincang dengannya. Tidak lama kemudian ia menghampiriku.

“Iffah punya kertas nggak untuk Nia? Bukunya habis.”
Aku terperangah. “Ya ampun, jadi masalahnya di kertas? Tadi waktu gue nanya kenapa, dia diam aja.”
“Dia juga nggak jawab waktu gue tanya. Pas gue bolak-balik buku tulisnya, semua halaman penuh. Nggak ada yang kosong.”

Kata-kata Ucheng membuatku terpukul. Aku merasa gagal jadi guru yang baik, karena kurang peka memperhatikan hal-hal kecil tentang muridku. Aku gagal memahami muridku sendiri.

Aku bertekad, aku akan menjadi guru yang lebih memperhatikan murid-muridku. Terutama Nia, yang memang butuh perhatian khusus.
***

Hari itu aku memutuskan untuk home visit ke rumah Nia ditemani Nuurul dan Ucheng. Rumah Nia terletak di daerah Cipeusar, dimana jalanannya masih berlumpur, belum diaspal atau setidaknya dilapisi dengan batu. Dalam kunjunganku ke beberapa murid yang rumahnya terletak di Cipeusar, aku menyimpulkan bahwa sebagian besar warga yang tinggal di sana memang tidak bisa berbahasa Indonesia. Entah kebetulan atau tidak, beberapa muridku yang agak tertinggal dalam menangkap pelajaran di kelas ternyata tinggal di Cipeusar. Mungkin saja, kemampuan bahasa Indonesia murid berkaitan dengan kemampuan mereka menangkap pelajaran. Sebab, sebagian besar buku teks yang digunakan di Sekolah memang berbahasa Indonesia.

Rumah Nia terletak di tengah pematang sawah, jadi mau tidak mau kami harus berjingkat di jalan setapak pembatas antar sawah dengan hati-hati untuk mencapai rumahnya. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Bapak dan Ibu Nia yang terlihat sangat tua. Mungkin, mereka bahkan lebih tua daripada orangtuaku. Rumah Nia merupakan rumah panggung dari kayu yang berukuran tidak terlalu luas. Dari luar rumah itu terlihat gelap, tidak banyak penerangan.

Kami berbincang-bincang di teras rumah Nia. Karena aku tidak mengerti bahasa Sunda, aku bercakap-cakap dengan orangtua Nia dengan perantara Ucheng sebagai penerjemah. Dari cerita Ucheng, sepertinya orangtua Nia buta huruf dan tidak menempuh pendidikan. Mereka belum mengerti betapa pendidikan sangat penting untuk meningkatkan derajat kehidupan Nia kelak. Tidak heran bila Nia masih belum bisa membaca, lingkungannya tidak kondusif untuk belajar. Apalagi ia tidak memiliki fasilitas untuk berhubungan dengan informasi dari luar, seperti televisi atau koran.

Sepulang dari sana, aku berpikir keras. Waktuku di sini tidak banyak, aku hanya punya waktu tiga minggu. “Gue harus berbuat apa untuk Nia? Nia nggak bisa bahasa Indonesia, sementara, kendala terbesar gue di Sukabumi adalah Bahasa Sunda. Bagaimana cara gue mendekati dan memahami dia?” tanyaku pada Ucheng.

“Yang paling penting, Iffah harus bisa setidaknya mengubah pandangan Pak Baban mengenai Nia. Karena itu langkah paling awal supaya Nia bisa berkembang setelah kita pulang.” Sahut Ucheng.
***

Tidak terasa sudah minggu terakhir di Sukabumi. Aku mencoba mengejar ketertinggalan, nilai-nilai yang belum kusampaikan, masalah anak-anak yang belum kuselesaikan. Terutama tentang Nia.

Minggu ini adalah saat dimana guru asli kembali mengambil alih kelas. Mencoba memanfaatkan kesempatan, aku meminta izin kepada Pak Baban untuk meminjam Nia dan Firman untuk mengajari mereka di lorong luar kelas. Aku memberi tugas kepada Firman untuk membaca bacaan dalam buku dongeng. Sementara untuk Nia, aku menggunakan tabel abjad yang kupinjam dari Maul, pengajar kelas satu.

Perlahan kuajari Nia belajar mengeja huruf. Aku sedikit takjub, ternyata Nia tidak sebodoh yang orang-orang bilang, ia mampu belajar membaca dengan cepat. Hanya saja, ia tidak pernah punya kesempatan untuk itu. Label yang ia terima dari guru dan teman-temannya, serta kurangnya fasilitas dan dukungan dari orangtuanya, tidak pernah mendukung ia untuk berkembang.
***

Hari ini hari terakhirku mengajar. Kuharap, kehadiranku yang sesaat di SD ini dapat memberikan jejak yang menginspirasi murid-muridku. Aku sudah berpesan kepada beberapa anak yang pintar agar membantu mengajari teman-teman mereka. Kepada Pak Baban, aku berpesan agar ia selalu memberi dukungan kepada murid-muridnya, dan Nia dapat berkembang selama ia dibantu oleh teman-temannya. Aku juga menitipkan pesan khusus kepada Hanifa, teman dekat Nia, untuk membantu Nia sampai dia bisa membaca.

Aku membuka lembaran Diary milik Nia yang penuh coret-coretan huruf tak beraturan itu, dan mulai menggoreskan pena di halaman kosong. Menulis surat untuk Nia.

Halo Nia :)

Mungkin saat Ibu menulis surat ini, Nia belum mengerti apa arti kata-kata yang Ibu tulis. Tapi kalau Nia sudah mengerti, selamat! Itu artinya Nia sudah berlatih dengan rajin sehingga Nia akhirnya bisa membaca :)

Selama tiga minggu di sini, Ibu senang sekali bisa mengajar anak yang mau berjuang dan bekerja keras seperti Nia. Sayang sekali, Ibu harus pulang karena harus melanjutkan sekolah Ibu di Jakarta.

Nia, kalau Ibu pulang nanti, tetap semangat belajar ya. Sering-sering main ke Rumah Pelangi, banyak buku bagus di sana. Banyak-banyaklah membaca, sebab buku adalah jendela ilmu. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak yang kita tahu tentang dunia di luar sana :)

Ibu sayang Nia

-Bu Iffah



[1] Tidak bisa, Bu
[2] Nia kenapa, tidak mau menulis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar