Setiap anak terlahir dengan potensinya
masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang dipaksa
untuk ahli di satu bidang tertentu, sementara mungkin sebenarnya ia memiliki
keunggulan di bidang lain. Hanya saja, tidak semua keluarga dan lingkungan di sekitarnya menyadari itu.
Jakarta,
2017
Aku tercenung menatap layar yang menampilkan
credit di akhir film. Tanpa sadar, airmata sudah menggenang di pipiku, akibat
menonton film Taare Zameen Par. Film ini menceritakan tentang seorang anak yang
selalu tertinggal di kelas, yang dikira bodoh namun ternyata mengalami problem
dysleksia, yaitu tidak mampu membaca layaknya orang normal. Aku terpukul
menonton film ini, menyesal karena tidak menontonnya sejak dua tahun yang lalu.
Pikiranku melayang, memutar memori, mengenangnya...
Sukabumi,
2015
“Fah, siap-siap ya.. Di kelas tiga
yang kamu ajar ada satu orang Anak Berkebutuhan Khusus.”
Ketika aku mendengar bahwa harus
mengajar kelas tiga SDN Puncakmanggu yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus
(ABK), aku langsung pasrah. Bingung memikirkan apa yang harus kuperbuat dengan
anak ini. Apalagi, jurusanku adalah jurusan Hukum, bukan jurusan psikologi yang
sedikit banyak mengerti bagaimana penanganan yang tepat untuk ABK.
Saat pertama kali kami datang ke
Sekolah dan melakukan observasi kelas, aku meminta Pak Baban, guru kelas 3,
untuk menceritakan siapa anak yang agak tertinggal dalam pelajaran. Tanpa
ragu-ragu, Pak Baban menunjuk ia yang duduk di sudut kelas.
Namanya Nia. Wajahnya terlihat murung
dan rendah diri. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan badannya lebih besar dari
kebanyakan anak-anak di kelas. Menurut Pak Baban, Nia sudah tiga kali tidak
naik kelas. Aku tersenyum kepada Nia, tapi Nia hanya menatapku dengan pandangan
kosong dan ketakutan.
“Namanya siapa?” aku mencoba
menyapanya. Nia hanya diam sambil memandangku bingung. Wah gawat, sepertinya
dia tidak bisa bahasa Indonesia. Sementara aku tidak bisa berbahasa Sunda.
Aku kembali menyimak pelajaran di
kelas. Sambil mencatat, aku memperhatikan metode yang digunakan Pak Baban untuk
mengajar anak-anak. Pak Baban membagikan buku teks Agama Islam. Buku yang
mereka gunakan dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh
enam orang anak karena jumlahnya terbatas. Pak Baban meminta anak-anak untuk
membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang beliau
mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku untuk ditulis anak-anak. Aku perhatikan,
sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih
tepatnya menyalin.
“Nah anak-anak, rajin itu pangkal...”
Pak Baban bertanya di depan kelas. “Pandaaai!” jawab anak-anak. “Kalau malas,
pangkal?” tanyanya lagi. “Bodoooh..” sahut anak-anak.
“Nah ini contohnya anak yang malas
pangkal bodoh. Liat Nia, udah kelas tiga masih nggak bisa baca. Makanya Nia
jangan malas, belajar yang rajin ya supaya bisa baca.” Lanjut Pak Baban sambil
menunjuk Nia.
Aku terhenyak karena Pak Baban
mencontohkan “Nia malas makannya bodoh” dengan suara lantang kepada seisi
kelas.
Pak Baban menyadari tatapan mataku
yang kebingungan dan mencoba menjelaskan. “Bu Ipah, saya mah orangnya terus
terang. Kalau anak pintar ya saya bilang pintar, kalau anak bodoh ya saya
bilang bodoh.”
Hatiku ingin rasanya memprotes Pak
Baban, namun lidahku kelu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun, aku
bukan guru di sini, Pak Babanlah guru mereka sebenarnya yang harus kuhormati.
Sementara itu, Nia yang duduk di sudut
kelas menunduk semakin dalam. Malu.
Labelling adalah hal paling
menyakitkan yang mungkin tidak sengaja dilakukan oleh guru kepada muridnya.
Ketika seseorang dicap bodoh, ia akan benar-benar menganggap dirinya bodoh,
sehingga ia benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu. Potensi yang ada dalam
diri anak akan padam. Dan Nia, telah mendapat labeling sedari awal. Padahal
mungkin saja Nia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya,
namun daya tangkapnya memang terbatas. Labelling ini bertambah parah karena Nia
dicap sebagai “bodoh” di depan teman-temannya. Tidak heran Nia terlihat sangat
rendah diri.
Kasihan Nia....
Hari-hari berikutnya, aku tidak bisa
mengamati Nia dengan intensif. Mengajar di kelas berisi 31 orang membuat perhatianku
terbagi-bagi. Setiap anak menuntut untuk diperhatikan dengan porsi yang sama
besarnya, sementara kemampuanku terbatas. Akhirnya aku hanya bisa mengobservasi
Nia dari jauh.
Selama ini kupikir Nia selalu
mengerjakan tugas-tugasnya, karena ketika teman-temannya sibuk menulis, Nia
juga asyik menulis. Namun ketika tugasnya dikumpulkan, aku terkejut. Apa yang
dikumpulkan Nia adalah rangkaian huruf yang acak tanpa makna. Dugaanku, Nia
menyibukkan diri menulis hanya agar ia tidak dimarahi guru. Sementara, ia
sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang ia tulis. Akhirnya, aku memutuskan
untuk memberikan tugas lain untuk Nia, yang lebih sesuai dengan kemampuannya.
Beberapa kali aku meminta anak-anak
untuk membentuk kelompok, Nia terlihat dihindari oleh teman-temannya untuk
bergabung menjadi anggota kelompok. “Ih nggak mau sama Nia, ah. Nia mah gitu,
lelet.” Bisikan-bisikan ini seringkali terdengar. Aku mencoba membujuk
anak-anak, “Ayo, anak-anak. Kalau ada temannya yang belum selesai mengerjakan
tugas atau belum mengerti pelajaran, tolong diajari yaa.”
Saat pelajaran Bahasa Indonesia,
setiap anak mendapat tugas untuk membaca teks dongeng. Setiap anak mendapat
giliran membaca walaupun ada yang terbata-bata. Namun bacaan berhenti ketika
tiba giliran Nia.
“Nia, ayo dibaca tulisannya.” Aku
tersenyum sambil menunjuk baris yang harus ia baca.
Nia menggeleng. “Teu tiasa, bu...”[1] Bisiknya dengan suara yang
sangat lirih.
“Kalau begitu, kamu ikuti ibu ya? Ibu
membaca, nanti Nia tirukan.”
Aku mengeja kata-kata satu persatu.
Nia mengikuti. Walaupun kemampuannya terbatas, aku ingin tetap melibatkan Nia
dalam setiap aktivitas kelas. Setidaknya hal ini akan menambah kepercayaan
dirinya, bahwa ia sebenarnya bisa seperti teman-temannya yang lain.
***
Suatu pagi, seperti biasa aku meminta
anak-anak untuk menulis Diary. Namun satu orang kulihat diam saja dan tidak
menulis. Nia. Aku mendekatinya. Kulihat tangannya kosong tidak menggenggam alat
tulis.
Aku menghampiri meja Nia. Duduk
sejajar dan menatap kedua matanya. “Nia teh kunaon, teu nyerat?”[2]
Nia hanya menatapku takut-takut sambil
menggeleng.
Hanifah, teman sebangku Nia, menyahut.
“Nia nggak punya pulpen, bu.”
Aku mengambil pulpen di mejaku dan
menyerahkannya ke Nia. “Kalau begitu, pakai pulpen ibu saja.”
Namun setiap satu jam pelajaran
berakhir, Hanifah selalu mendatangiku dan menyerahkan pulpen yang tadi
kupinjamkan ke Nia. Jam pelajaran berikutnya terjadi peristiwa yang sama, Nia
tidak punya pulpen dan aku kembali meminjamkannya.
Keesokan harinya, ketika menghampiri
meja Nia, aku melihat Nia menulis dengan isi pulpen. Ia tampak bersusah payah
menulis dengan isi pulpen yang lemas itu. Aku hampir menangis melihatnya.
Aku meraih pulpenku dan menggenggamnya
di jemari kecil Nia. “Nia, ini pulpen ibu, untuk kamu. Nggak usah dibalikin
ya?”
Nia hanya mengangguk.
Di hari lain, beda lagi yang terjadi.
“Buuu! Nia nggak nulis buu!” Hanifa
berteriak memanggilku.
Aku menghampiri mejanya, membungkuk agar sejajar dengan
Nia, dan bertanya perlahan. “Nia kunaon teu nyerat?”
Nia masih diam seribu bahasa. Kuulangi
lagi pertanyaanku, ia tidak menjawab.
Aku mulai frustasi bagaimana cara
memahami murid yang tidak mau berbicara. Kulihat genggaman tangannya, ia masih
memegang pulpen yang kuberikan kemarin. Jadi masalahnya bukan karena tidak ada
pulpen, lalu kenapa?
Untunglah saat itu Ucheng, RED alias
bapak para pengajar GUIM di titik satu sedang melintas. Aku memanggilnya,
meminta tolong Ucheng yang bisa berbahasa Sunda untuk membujuk Nia menulis.
Ucheng menghampiri Nia dan berbincang-bincang dengannya. Tidak lama kemudian ia
menghampiriku.
“Iffah punya kertas nggak untuk Nia?
Bukunya habis.”
Aku terperangah. “Ya ampun, jadi
masalahnya di kertas? Tadi waktu gue nanya kenapa, dia diam aja.”
“Dia juga nggak jawab waktu gue tanya.
Pas gue bolak-balik buku tulisnya, semua halaman penuh. Nggak ada yang kosong.”
Kata-kata Ucheng membuatku terpukul.
Aku merasa gagal jadi guru yang baik, karena kurang peka memperhatikan hal-hal
kecil tentang muridku. Aku gagal memahami muridku sendiri.
Aku bertekad, aku akan menjadi guru
yang lebih memperhatikan murid-muridku. Terutama Nia, yang memang butuh
perhatian khusus.
***
Hari itu aku memutuskan untuk home
visit ke rumah Nia ditemani Nuurul dan Ucheng. Rumah Nia terletak di daerah
Cipeusar, dimana jalanannya masih berlumpur, belum diaspal atau setidaknya
dilapisi dengan batu. Dalam kunjunganku ke beberapa murid yang rumahnya
terletak di Cipeusar, aku menyimpulkan bahwa sebagian besar warga yang tinggal
di sana memang tidak bisa berbahasa Indonesia. Entah kebetulan atau tidak,
beberapa muridku yang agak tertinggal dalam menangkap pelajaran di kelas
ternyata tinggal di Cipeusar. Mungkin saja, kemampuan bahasa Indonesia murid
berkaitan dengan kemampuan mereka menangkap pelajaran. Sebab, sebagian besar
buku teks yang digunakan di Sekolah memang berbahasa Indonesia.
Rumah Nia terletak di tengah pematang
sawah, jadi mau tidak mau kami harus berjingkat di jalan setapak pembatas antar
sawah dengan hati-hati untuk mencapai rumahnya. Sesampainya di sana, kami
disambut oleh Bapak dan Ibu Nia yang terlihat sangat tua. Mungkin, mereka
bahkan lebih tua daripada orangtuaku. Rumah Nia merupakan rumah panggung dari
kayu yang berukuran tidak terlalu luas. Dari luar rumah itu terlihat gelap,
tidak banyak penerangan.
Kami berbincang-bincang di teras rumah
Nia. Karena aku tidak mengerti bahasa Sunda, aku bercakap-cakap dengan orangtua
Nia dengan perantara Ucheng sebagai penerjemah. Dari cerita Ucheng, sepertinya
orangtua Nia buta huruf dan tidak menempuh pendidikan. Mereka belum mengerti
betapa pendidikan sangat penting untuk meningkatkan derajat kehidupan Nia
kelak. Tidak heran bila Nia masih belum bisa membaca, lingkungannya tidak
kondusif untuk belajar. Apalagi ia tidak memiliki fasilitas untuk berhubungan
dengan informasi dari luar, seperti televisi atau koran.
Sepulang dari sana, aku berpikir
keras. Waktuku di sini tidak banyak, aku hanya punya waktu tiga minggu. “Gue
harus berbuat apa untuk Nia? Nia nggak bisa bahasa Indonesia, sementara,
kendala terbesar gue di Sukabumi adalah Bahasa Sunda. Bagaimana cara gue
mendekati dan memahami dia?” tanyaku pada Ucheng.
“Yang paling penting, Iffah harus bisa
setidaknya mengubah pandangan Pak Baban mengenai Nia. Karena itu langkah paling
awal supaya Nia bisa berkembang setelah kita pulang.” Sahut Ucheng.
***
Tidak terasa sudah minggu terakhir di
Sukabumi. Aku mencoba mengejar ketertinggalan, nilai-nilai yang belum
kusampaikan, masalah anak-anak yang belum kuselesaikan. Terutama tentang Nia.
Minggu ini adalah saat dimana guru
asli kembali mengambil alih kelas. Mencoba memanfaatkan kesempatan, aku meminta
izin kepada Pak Baban untuk meminjam Nia dan Firman untuk mengajari mereka di
lorong luar kelas. Aku memberi tugas kepada Firman untuk membaca bacaan dalam
buku dongeng. Sementara untuk Nia, aku menggunakan tabel abjad yang kupinjam
dari Maul, pengajar kelas satu.
Perlahan kuajari Nia belajar mengeja
huruf. Aku sedikit takjub, ternyata Nia tidak sebodoh yang orang-orang bilang,
ia mampu belajar membaca dengan cepat. Hanya saja, ia tidak pernah punya
kesempatan untuk itu. Label yang ia terima dari guru dan teman-temannya, serta
kurangnya fasilitas dan dukungan dari orangtuanya, tidak pernah mendukung ia
untuk berkembang.
***
Hari ini hari terakhirku mengajar. Kuharap, kehadiranku yang sesaat di
SD ini dapat memberikan jejak yang menginspirasi murid-muridku. Aku sudah
berpesan kepada beberapa anak yang pintar agar membantu mengajari teman-teman
mereka. Kepada Pak Baban, aku berpesan agar ia selalu memberi dukungan kepada
murid-muridnya, dan Nia dapat berkembang selama ia dibantu oleh teman-temannya.
Aku juga menitipkan pesan khusus kepada Hanifa, teman dekat Nia, untuk membantu
Nia sampai dia bisa membaca.
Aku membuka lembaran Diary milik Nia
yang penuh coret-coretan huruf tak beraturan itu, dan mulai menggoreskan pena
di halaman kosong. Menulis surat untuk Nia.
Halo
Nia :)
Mungkin
saat Ibu menulis surat ini, Nia belum mengerti apa arti kata-kata yang Ibu
tulis. Tapi kalau Nia sudah mengerti, selamat! Itu artinya Nia sudah berlatih
dengan rajin sehingga Nia akhirnya bisa membaca :)
Selama
tiga minggu di sini, Ibu senang sekali bisa mengajar anak yang mau berjuang dan
bekerja keras seperti Nia. Sayang sekali, Ibu harus pulang karena harus
melanjutkan sekolah Ibu di Jakarta.
Nia,
kalau Ibu pulang nanti, tetap semangat belajar ya. Sering-sering main ke Rumah
Pelangi, banyak buku bagus di sana. Banyak-banyaklah membaca, sebab buku adalah
jendela ilmu. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak yang kita tahu
tentang dunia di luar sana :)
Ibu
sayang Nia
-Bu
Iffah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar