Selasa, 16 Mei 2017

Persiapan Keberangkatan: Lima Hari untuk Selamanya

"Salah satu hal paling kejam yang PK lakukan adalah mempertemukan orang-orang untuk kemudian memisahkan." - Pak Kamil, PIC PK LPDP

Untuk dapat dikatakan “sah” sebagai awardee LPDP, setiap awardee LPDP wajib mengikuti Persiapan Keberangkatan atau biasa disingkat menjadi PK. Kata Fitrah, temanku awardee LPDP yang banyak membantuku mempersiapkan seleksi LPDP, salah satu kelebihan LPDP dibandingkan dengan beasiswa lain adalah adanya Persiapan Keberangkatan ini. Karena, pelatihan kepemimpinan ini akan mempertemukan awardee-awardee LPDP dari seluruh Indonesia. “Seru banget fah, lo wajib ikut.” Tentunya, PK memang diwajibkan bagi awardee, sebagai syarat untuk mendapatkan kontrak beasiswa dari LPDP. Karena itu, ketika aku mendapat e-mail dari Pak Kamil yang menandakan bahwa namaku masuk dalam daftar PK Angkatan 104, aku mulai browsing karena penasaran, seperti apa sih PK itu?

Dari cerita-cerita di blog para peserta PK dan quote dari Pak Kamil, kelihatannya PK adalah kegiatan yang akan bikin baper. Aku adalah tipe orang yang jika sudah mencurahkan jiwa pada suatu kegiatan, maka akan susah move-on dari kegiatan tersebut. Misalnya ketika aku mengikuti Mabit dan GUIM. Karena aku takut terlibat attachment yang terlalu dalam dengan PK dan akhirnya sedih sendiri ketika harus berpisah dengan teman-teman, self-defense mechanism membuatku memutuskan untuk menjadi anggota yang pasif saja dan tidak ingin terlalu terlibat dengan persiapan PK. Apalagi, aku tidak punya waktu untuk baper, karena mau mempersiapkan berangkat S2. Bingung? Begitulah pola pikir seorang INTJ. Harap maklum.

Mulailah kegiatan pra-PK dengan pemilihan ketua angkatan dan perwakilan. Aku berpartisipasi untuk memilih, namun tidak terlalu aktif. Aku juga menjadi anggota dari divisi Media, namun sebelum PK tidak banyak tugas dari divisiku. Jadi, tidak banyak kegiatan yang kulakukan sebelum PK berlangsung.

Sampai suatu hari, Perwakilan mengajak anggota PK yang berada di Jabodetabek untuk mengikuti kopi darat di Wisma Hijau, tempat PK akan diselenggarakan. Sempat ragu-ragu, aku memutuskan untuk mampir sebentar. Toh, tidak ada salahnya mengenal calon teman-teman satu PK.

Di Gazebo Wisma Hijau, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan teman-teman satu PK-ku: Kak Iqbal, Ketua Angkatan; Lovita, Wakil Ketua Angkatan; Vidya, moderator; dan Joko, Ami, serta seseorang lagi yang aku lupa namanya (kelak, karena drama bongkar pasang PK, tiga orang yang terakhir tidak menjadi anggota PK 104 lagi). Kami berkenalan dan mengobrol-ngobrol. Ternyata, Kak Iqbal yang berasal dari Fakultas Hukum Universitas Mulawarman adalah teman Bang Ali ketika sama-sama menjadi Ketua BEM di tingkat Universitas. Sementara Lovita berasal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kampus yang juga banyak dihuni oleh teman-teman satu SMA-ku. Dunia sempit ternyata. Sementara Vidya adalah alumni ITB asal Bogor yang akan melanjutkan studi ke USA.

Sepulang dari kopi darat itu, aku berpikir mungkin baru akan bertemu lagi dengan mereka saat PK berlangsung saja. Namun tunggu punya tunggu, jadwal PK yang sudah dinanti-nanti sejak bulan Maret tidak juga muncul. Daftar nama anggota PK 104 juga dari hari ke hari berubah-ubah, entah mengapa nama yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, digantikan dengan nama-nama baru.

Suatu hari, Kak Iqbal menghubungiku dan menanyakan apakah aku sedang sibuk. Rupanya, perwakilan sedang butuh bantuan karena perwakilan yang lainnya sangat sibuk. Aku diminta untuk membantu jadi Perwakilan cabutan karena kekurangan orang yang standby jika sewaktu-waktu dipanggil ke LPDP. Menimbang waktuku yang memang fleksibel (asdos mah selow), akhirnya aku menyanggupi untuk membantu.

Mulailah hari-hariku bolak-balik ke LPDP sebagai perwakilan cabutan. Harus bangun pagi-pagi demi mengejar janji bertemu Pak Kamil, karena Pak Kamil orangnya sangat on time. Sempat kagok juga karena harus jadi pepes naik kereta rush hour sampai Juanda. Maklum, biasanya kereta yang mengantarku kerja ke kampus Depok lawan arah arus commuter. Aku juga jadi sering izin tidak masuk kerja ke atasan, dengan alasan mengurusi LPDP, walaupun kadang tidak enak karena sudah kebanyakan izin. Dan aku harus siap sedia memperbaiki database dikala mendadak ada perubahan nama anggota, yang datanya sangat cepat berubah-ubah, mulai dari hitungan hari ke hitungan jam. Aku menjadi anggota dari trio kwek-kwek bersama-sama dengan Lovita dan Kak Iqbal, bolak-balik ke LPDP bersama perwakilan-perwakilan lainnya. Kadang kami harus pulang malam menunggu jam rush hour kereta usai, pernah juga H-7 PK kami berjaga sampai jam 9 di FHUI untuk memperbaiki database. Aku juga mulai mengenal perwakilan yang lain: Mbak Merry, Mbak Erni, Agus, dan moderator: Vidya, Affan, dan Setiawan, walaupun kebanyakan hanya kukenal di grup whatsapp tim inti sebelum bertemu saat PK.

PK angkatan kami mungkin merupakan PK yang paling lama menunggu dan paling banyak dinamika. Jarak antara pelaksanaan PK 103 dan PK 104 adalah dua bulan, sementara PK-PK sebelumnya hanya berjarak seminggu antar pelaksanaannya. Banyak anggota PK 104 yang akhirnya dipindahkan ke PK lain, karena LPDP memprioritaskan awardee yang sudah on going namun belum mengikuti PK, untuk masuk ke daftar nama peserta PK 104. Posisiku saat itu aman karena aku memiliki LoA Unconditional dan memang akan intake tahun 2017, termasuk yang diprioritaskan. Namun, nama-nama perwakilan sendiri terancam dalam daftar nama yang harus dipindahkan: Kak Iqbal belum memiliki LoA, sementara Lovita, Vidya, dan Setiawan baru intake tahun 2018.  

Perubahan yang ada mengakibatkan banyak PIC dan anggota divisi yang keluar, padahal mereka sudah setengah jalan melakukan persiapan untuk PK. Divisi-divisi mulai tidak stabil, semangat teman-teman untuk mempersiapkan PK mulai kendor. Sehingga tim inti dengan dibantu oleh Om David Su dan Om Fitra memutuskan untuk meramaikan grup setiap harinya, agar semangat peserta tidak kendor. Tetap saja, yang rame di grup itu-itu saja hehe.

Sampai akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba: Pak Kamil meminta database fix karena akan dibuatkan surat undangan PK. Betapa senangnya hati kami karena akhirnya dapat kepastian juga, nggak digantungin terus. Undangan resmi terkirim H-12 pelaksanaan PK. Mulailah grup whatsapp kembali aktif, setiap anggota sama bersemangatnya dengan kami untuk segera memulai PK. Setiap divisi mulai aktif mempersiapkan tugas masing-masing di hari-H, anggota-anggota baru mulai beradaptasi. Kopi darat diadakan lagi dengan susunan anggota-anggota baru.

Dua hari sebelum pelaksanaan PK dimulai, kami sudah berkumpul dan menginap di Wisma Hijau; mengenal satu sama lain, dan bersama-sama mempersiapkan pelaksanaan PK. Untuk pertama kalinya aku bertatap muka dengan orang-orang yang biasanya hanya bercanda tawa di grup: Affan yang ketika ketemu ternyata sangat tinggi jangkung, Utma Simple Queen yang dikira “bocor” namun ternyata seorang ukhti-ukhti berkerudung lebar, Ping yang baik hati membawakan amplang dari Kalimantan, Om Fitra yang terlihat lebih muda dari yang disangka-sangka, dan tentunya Om David yang bundar dan humoris.

Selama PK, aku mengikuti setiap sesi dari pemateri-pemateri luar biasa: Muhammad Nuh, Yudi Latif, Ahmad Fuadi, Butet Manurung, dan Kak Andreas Senjaya dengan penuh semangat walaupun hanya tidur beberapa jam setiap harinya (bayangkan, baru selesai kegiatan dan mengurus printilan borang jam 1, harus bangun jam 4 untuk ikut intergrity sport). Kantong mata sudah semakin membayang, sehingga terkadang aku curi-curi waktu untuk bobo cantik di selasar samping aula. Untuk pertama kalinya (and I swear it would be my last) seorang Iffah berjoget mengikuti lagu dangdut dan gemu famire. Biasanya sih jaim kayak Putri Solo (tipuuu).


Terima kasih untuk kelompok Kresna, walaupun aku sering hilang-hilangan dari kelompok namun mereka tetap menerimaku apa adanya. Mbak Febri yang cantik anggun super inspiring, Mbak Maryam satu-satunya ketua kelompok wanita yang super sigap, Hilman yang cheerful dan penuh semangat seperti Leader JKT 48, Rahmita yang selalu siap sedia menyediakan stok pulpen, Daeng yang menemukan pujaan hatinya di PK 104, Bang Niko dan Bang Mes yang sering bikin geleng-geleng kepala, Hanifi yang selalu terlihat tersenyum ceria (dan masih banyak lagi yang namanya tidak bisa disebutkan satu-satu karena anggota Kresna ada 23 orang, bayangin mau sepanjang apa?).



Special place in my heart belongs to keluarga tim inti PK: Setiawan alias Kokoh Ping yang super baik hati dan tidak sombong, suka mentraktir, enak diajak curhat, mantan pegawai Chevron pula; Affan yang polos, medok (maap bukannya rasis fan), dan selalu eksis sebagai maskot Kapila; Vidya yang super inspiring dan bikin terkagum-kagum dengan prestasi luar biasanya, padahal masih muda; Mbak Merry dokter gigi super sibuk yang jago main piano; Mbak Erni yang super keibuan layaknya Ibu sendiri; Agus yang eksis di IG stories dan diem-diem jago joget; Kak Iqbal yang dicurigai berumur hampir 30 tahun, selalu standby dimana ada wanita cantik, dan diam-diam menyimpan bakat terpendam sebagai stand-up comedian, dan Opit roommate tersayang, temen ngakak bareng dan curhat baper bareng yang super perhatian dan super sigap.

Persiapan Keberangkatan, walaupun hanya diadakan lima hari, telah menimbulkan memori yang akan membekas selamanya. Bagiku, mengikuti PK adalah sebuah pengalaman luar biasa. Aku baru mengerti tujuan PK sesungguhnya, seperti yang dikatakan Pak Kamil: PK bukanlah sekedar pelatihan untuk para awardee, tetapi merupakan ajang untuk membangun jejaring dan tempat para awardee menginspirasi satu sama lain. Di PK, aku mengenal orang-orang luar biasa. Banyak yang terlihat biasa-biasa saja dan kalem, namun prestasinya membuat tercengang. Semakin aku merasa diri ini hanyalah remahan rengginang di dasar kaleng Khong Guan. Dan aku menyadari sepenuhnya, mereka memang layak untuk menjadi seorang awardee LPDP.

Misalnya Om David Su, yang merupakan anak seorang peladang dari Kalimantan, namun sudah menyabet dua gelar magister dan akan menempuh Doktor. Kisahnya membuatku merasa harus lebih berjuang lebih darinya, karena aku yang tinggal di Ibukota dan mendapatkan banyak previlege pendidikan saja belum menghasilkan apa-apa dan belum menjadi siapa-siapa. Atau kisah mbak Citra, seorang ibu yang berjuang untuk bisa lanjut kuliah sambil mengurus dua orang anak, yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk bisa mendapatkan beasiswa. Kembali aku merasa sangat bersyukur, karena berkesempatan mendapatkan beasiswa dalam percobaan pertama. Atau Mbak Raisya yang cantik, ayu, masih sangat muda tapi sudah akan menempuh studi Doktornya.

Banyak dari teman-teman baruku juga yang memilih untuk kembali ke daerah masing-masing dan mengabdi sebagai dosen, di tengah keterbatasan yang mereka miliki di daerah masing-masing. Kembali aku merasa bersyukur, sebagai asisten dosen di Universitas (yang katanya) terbaik di Indonesia, kesempatanku untuk berkembang lebih banyak dan lebih luas; apalagi aku tinggal di Ibukota. Banyak teman-teman yang tinggal di daerah dimana sinyal internet saja kadang tidak ada. Namun setiap dari mereka bisa melakukan perubahan di bidangnya masing-masing. So, what my excuse?

Tiba di hari terakhir PK, saatnya closing, aku baru sadar kalau saat yang kutakutkan terjadi: saatnya berpisah. Besok, kami akan kembali berpencar ke daerah masing-masing. Aku menatap ruangan yang ramai dengan semarak baju daerah; untuk closing, setiap orang mengenakan baju khas daerahnya masing-masing. Melihat ragam baju daerah yang berasal dari suku-suku dari Sabang sampai Merauke, aku baru menyadari satu hal: mungkin, aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi, atau baru bertahun-tahun lagi akan bertemu dengan mereka. Jarak akan memisahkan kami juga, pada akhirnya.

Ah, aku benci pada kalimat perpisahan. Robin Williams pernah berkata: “Never say goodbye, because saying goodbye means going away, and going away means forgetting.” Lebih baik tidak mengucapkan perpisahan sama sekali.

Namun, saat satu persatu dari kami mulai berpamitan dan saling mengucapkan selamat jalan, aku menyadari apa yang saling kami ucapkan: bukan kata “Goodbye.”, melainkan “See you on top!” Kami yakin, bahwa masing-masing dari kami akan dipertemukan lagi dalam keadaan sukses. Kami yakin, suatu saat kami akan menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Karena sesuai janji kami, kami pasti akan kembali dan membangun negeri di bidang masing-masing.

Indonesia, aku pasti mengabdi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar