Assalamualaikum guys!
Tidak terasa, sudah hampir tiga bulan lebih aku berkuliah di Durham. Masa-masa yang konon katanya merupakan masa krusial adaptasi seseorang yang menjalani studi di luar negeri. Kemarin, aku baru saja selesai menjalani final examination untuk term pertama. Ujian di Durham lumayan stressful, karena udah materinya susah (ekonomi banget, anak hukum mana ngerti cyiin), pakai bahasa Inggris pula. Selain exam, ada beberapa mata kuliah yang menuntut pengumpulan tugas akhir sebagai komponen nilai.
Sebelum exam, sesungguhnya kita diberikan waktu sebulan untuk liburan bertepatan dengan natal dan tahun baru. Hampir semua mahasiswa meninggalkan Durham untuk jalan-jalan, entah pulang ke negaranya masing-masing atau sekedar Eurotrip atau UK trip. Durham kembali jadi kota mati, berhubung ini kota pelajar yang ramai karena ada mahasiswa. Aku sendiri sempat ke London untuk mengikuti pelatihan dari INDEF (plus jalan-jalan) dan ke York, menemani Tita yang lagi main dari Cambridge. Tapi setelahnya, aku langsung mengurung diri di kamar mempersiapkan exam dan mengerjakan essay summative. Soalnya, setelah exam period, kita langsung memasuki term 2 tanpa ada jeda liburan lagi. Nah loh.
Sejujurnya, masa-masa menjelang ujian dan deadline summative adalah mimpi buruk yang paling horror. Insecure setiap melihat teman keliatannya lancar-lancar aja mengerjakan tugas (padahal sama-sama nggak ngerti). Stress melihat deretan reading material yang harus dibaca, belum lagi bahasa dan istilahnya yang njelimet. Terkadang suara ketikan laptop atau gesekan pulpen dengan kertas dari kamar sebelah membangkitkan rasa insecure. Makan dan tidur mulai tak teratur, kamar yang biasanya rapi jali penuh tumpukan kertas. Sampai-sampai, aku jarang keluar menghirup udara segar dan melihat matahari karena berhari-hari mengurung diri di kamar *lebay*. Intinya, ritme hidup mulai tak karuan.
Ujian dan tugas akhir summative juga menyebabkan tingkat stress meningkat, ditandai dengan badan yang pegel-pegel, jerawatan, banyak tidur, dan nafsu makan yang tidak manusiawi. (Padahal dalam kondisi normal dan tanpa stress aja aku udah banyak tidur dan banyak makan). Hal ini berdampak pada pipi yang semakin chubby, ditandai dengan percakapan terakhir dengan Umi:
I: Mi, liat deh ada salju di Durham
U: Itu siapa di video? Gendut banget?
I: ................. itu Iffah mi.............
*pundung*
*brb Zumba*
Sebagai mahasiswa master, perasaan insecure terkadang menghantui selama belajar. Kok rasa-rasanya susah banget mengerti materi, masih keteteran bahasa Inggris terutama writing. Perasaan anxious dan merasa paling bodoh sendiri terkadang menghantui, apalagi kalo melihat teman-teman lain kayaknya lancar-lancar aja kuliahnya. Apa aku salah ambil jurusan ya??
Belum lagi sistem belajarnya yang memang beda dengan Indonesia. Kalau waktu S1 di UI, bobot nilai akhir banyak komponennya: ada absen (10%), Tugas (15%), UTS (35%), UAS (40%). Di Durham, komponen nilai cuma dua atau kadang-kadang satu. Bayangkan, sekali failed, artinya nggak ada kesempatan mengamankan nilai di komponen yang lain. Absen sama sekali nggak berpengaruh (bahkan nggak ada absen); buktinya ada teman sekelasku yang jarang masuk kelas, dan dia fine-fine aja. Selain itu ada assesment menulis paper dua kali, tapi tugas yang pertama (formative) nggak masuk ke nilai, cuma buat latihan melihat kemampuan writing mahasiswa. Itupun aku sudah pontang-panting mengerjakannya. Maklum di Indonesia nggak terbiasa academic writing, pakai bahasa Inggris pula.
Ternyata, bukan cuma aku saja yang stress dan merasa nggak memahami pelajaran, tapi juga teman-teman yang lain. Stress saat kuliah merupakan hal yang wajar dialami mahasiswa, apalagi yang berkuliah di luar negeri. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, ada mahasiswa yang sampai bunuh diri karena stress. Naudzubillah min dzalik.
Untungnya, waktu gathering PPI, Mbak Dhani senior PhD di Durham memberikan tips untuk beradaptasi dan menghandle stress selama belajar: jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain! Iya, karena setiap orang memang punya daya tangkap yang berbeda-beda dan gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang jago dan menguasai satu materi tapi lemah dalam materi yang lain. Berdiskusi bersama adalah solusinya. Biasanya, kita membuat grup diskusi kecil dan minta diajarkan sama teman sekelas yang paling menguasai materi. Selain itu, kita nggak bisa memaksakan style belajar setiap orang. Di rumahku misalnya, Rumy dan Danis adalah tipe yang senangnya belajar di perpustakaan Bill Bryson maupun di Doctoral Training Center Durham. Mereka seringkali belajar sampai pagi baru pulang. Sementara aku dan Fira lebih senang dan fokus kalau belajar di kamar, selain kita merasa rumah lebih nyaman untuk belajar karena mau mandi, makan, ke toilet lebih mudah. Aku dan Fira juga punya ritme belajar yang berbeda; Fira biasa jadi kalong, baru bisa tidur jam 4 pagi karena insomnia. Aku yang Sleeping Beauty ini paling nggak bisa tidur diatas jam 11, paling malam jam 12 malam, itupun biasanya terbangun dengan kepala hangover. Aku lebih memilih untuk tidur cepat dan bangun pagi untuk belajar. Jadi pas ketika Fira tidur, aku baru bangun.
Begitu exam tiba, tingkat stress meningkat berkali-kali lipat. Salah seorang temanku bercucuran keringat sampai tangannya saat ujian, dan kudapati muka-muka pias dan lemas setelah ujian selesai. Di ujian yang lain, ada kasus ketika bahkan suara gesekan seseorang yang membalik lembar jawaban menimbulkan rasa insecure di kelas, karena yang lain belum menulis sampai halaman kedua. Namun begitu exam berakhir, rasanya lega sekali karena seolah-olah beban ribuan kilogram diangkat dari pundak. Tinggal berdoa menanti nilai keluar.
Kenapa kami segitu stressnya menghadapi ujian? Iya, karena sistem penilaian di UK hanya memberikan tiga pilihan nilai: Pass (40-59%), Merit (60-70%), dan Distinction (diatas 70%). Cuma, jangan bayangkan mendapatkan nilai di UK semudah di Indonesia. Dapat Merit saja rasanya sudah bersyukur banget, karena mendapatkan nilai di atas 60 itu sangat susah. Ada beberapa senior yang berhasil mendapatkan distinction, namun jumlahnya tidak banyak.
Banyak orang yang berpikir, mahasiswa yang kuliah di luar negeri itu kerjaannya hanya jalan-jalan saja karena foto-foto yang kami unggah di instagram. Ada salah seorang temanku yang meledekku jalan-jalan terus karena foto yang kuunggah, dan aku bingung harus menjawab apa karena foto itu diambil di halaman belakang rumahku.
Tapi, tidak semua orang tahu tentang perjuangan teman-teman yang berkuliah di luar negeri dengan segala struggle yang ada: kendala bahasa, makanan, adaptasi, dan sebagainya. Wajar, karena mana ada orang yang mengunggah muka-muka stress kucel saat ujian ke instagram. Yang terlihat hanya wajah bahagia dan baik-baik saja, padahal kebanyakan waktu kami dihabiskan begadang di depan laptop dengan deretan reading material.
Bagi teman-teman yang berpikir akan melanjutkan studi ke luar negeri, pikirkan baik-baik: apa sudah siap menghadapi segala konsekuensinya? Karena, kuliah di luar negeri itu memang tidak seindah foto-foto di instagram.
Tidak terasa, sudah hampir tiga bulan lebih aku berkuliah di Durham. Masa-masa yang konon katanya merupakan masa krusial adaptasi seseorang yang menjalani studi di luar negeri. Kemarin, aku baru saja selesai menjalani final examination untuk term pertama. Ujian di Durham lumayan stressful, karena udah materinya susah (ekonomi banget, anak hukum mana ngerti cyiin), pakai bahasa Inggris pula. Selain exam, ada beberapa mata kuliah yang menuntut pengumpulan tugas akhir sebagai komponen nilai.
Sebelum exam, sesungguhnya kita diberikan waktu sebulan untuk liburan bertepatan dengan natal dan tahun baru. Hampir semua mahasiswa meninggalkan Durham untuk jalan-jalan, entah pulang ke negaranya masing-masing atau sekedar Eurotrip atau UK trip. Durham kembali jadi kota mati, berhubung ini kota pelajar yang ramai karena ada mahasiswa. Aku sendiri sempat ke London untuk mengikuti pelatihan dari INDEF (plus jalan-jalan) dan ke York, menemani Tita yang lagi main dari Cambridge. Tapi setelahnya, aku langsung mengurung diri di kamar mempersiapkan exam dan mengerjakan essay summative. Soalnya, setelah exam period, kita langsung memasuki term 2 tanpa ada jeda liburan lagi. Nah loh.
Sejujurnya, masa-masa menjelang ujian dan deadline summative adalah mimpi buruk yang paling horror. Insecure setiap melihat teman keliatannya lancar-lancar aja mengerjakan tugas (padahal sama-sama nggak ngerti). Stress melihat deretan reading material yang harus dibaca, belum lagi bahasa dan istilahnya yang njelimet. Terkadang suara ketikan laptop atau gesekan pulpen dengan kertas dari kamar sebelah membangkitkan rasa insecure. Makan dan tidur mulai tak teratur, kamar yang biasanya rapi jali penuh tumpukan kertas. Sampai-sampai, aku jarang keluar menghirup udara segar dan melihat matahari karena berhari-hari mengurung diri di kamar *lebay*. Intinya, ritme hidup mulai tak karuan.
Ujian dan tugas akhir summative juga menyebabkan tingkat stress meningkat, ditandai dengan badan yang pegel-pegel, jerawatan, banyak tidur, dan nafsu makan yang tidak manusiawi. (Padahal dalam kondisi normal dan tanpa stress aja aku udah banyak tidur dan banyak makan). Hal ini berdampak pada pipi yang semakin chubby, ditandai dengan percakapan terakhir dengan Umi:
I: Mi, liat deh ada salju di Durham
U: Itu siapa di video? Gendut banget?
I: ................. itu Iffah mi.............
*pundung*
*brb Zumba*
Sebagai mahasiswa master, perasaan insecure terkadang menghantui selama belajar. Kok rasa-rasanya susah banget mengerti materi, masih keteteran bahasa Inggris terutama writing. Perasaan anxious dan merasa paling bodoh sendiri terkadang menghantui, apalagi kalo melihat teman-teman lain kayaknya lancar-lancar aja kuliahnya. Apa aku salah ambil jurusan ya??
Belum lagi sistem belajarnya yang memang beda dengan Indonesia. Kalau waktu S1 di UI, bobot nilai akhir banyak komponennya: ada absen (10%), Tugas (15%), UTS (35%), UAS (40%). Di Durham, komponen nilai cuma dua atau kadang-kadang satu. Bayangkan, sekali failed, artinya nggak ada kesempatan mengamankan nilai di komponen yang lain. Absen sama sekali nggak berpengaruh (bahkan nggak ada absen); buktinya ada teman sekelasku yang jarang masuk kelas, dan dia fine-fine aja. Selain itu ada assesment menulis paper dua kali, tapi tugas yang pertama (formative) nggak masuk ke nilai, cuma buat latihan melihat kemampuan writing mahasiswa. Itupun aku sudah pontang-panting mengerjakannya. Maklum di Indonesia nggak terbiasa academic writing, pakai bahasa Inggris pula.
Ternyata, bukan cuma aku saja yang stress dan merasa nggak memahami pelajaran, tapi juga teman-teman yang lain. Stress saat kuliah merupakan hal yang wajar dialami mahasiswa, apalagi yang berkuliah di luar negeri. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, ada mahasiswa yang sampai bunuh diri karena stress. Naudzubillah min dzalik.
Untungnya, waktu gathering PPI, Mbak Dhani senior PhD di Durham memberikan tips untuk beradaptasi dan menghandle stress selama belajar: jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain! Iya, karena setiap orang memang punya daya tangkap yang berbeda-beda dan gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang jago dan menguasai satu materi tapi lemah dalam materi yang lain. Berdiskusi bersama adalah solusinya. Biasanya, kita membuat grup diskusi kecil dan minta diajarkan sama teman sekelas yang paling menguasai materi. Selain itu, kita nggak bisa memaksakan style belajar setiap orang. Di rumahku misalnya, Rumy dan Danis adalah tipe yang senangnya belajar di perpustakaan Bill Bryson maupun di Doctoral Training Center Durham. Mereka seringkali belajar sampai pagi baru pulang. Sementara aku dan Fira lebih senang dan fokus kalau belajar di kamar, selain kita merasa rumah lebih nyaman untuk belajar karena mau mandi, makan, ke toilet lebih mudah. Aku dan Fira juga punya ritme belajar yang berbeda; Fira biasa jadi kalong, baru bisa tidur jam 4 pagi karena insomnia. Aku yang Sleeping Beauty ini paling nggak bisa tidur diatas jam 11, paling malam jam 12 malam, itupun biasanya terbangun dengan kepala hangover. Aku lebih memilih untuk tidur cepat dan bangun pagi untuk belajar. Jadi pas ketika Fira tidur, aku baru bangun.
Begitu exam tiba, tingkat stress meningkat berkali-kali lipat. Salah seorang temanku bercucuran keringat sampai tangannya saat ujian, dan kudapati muka-muka pias dan lemas setelah ujian selesai. Di ujian yang lain, ada kasus ketika bahkan suara gesekan seseorang yang membalik lembar jawaban menimbulkan rasa insecure di kelas, karena yang lain belum menulis sampai halaman kedua. Namun begitu exam berakhir, rasanya lega sekali karena seolah-olah beban ribuan kilogram diangkat dari pundak. Tinggal berdoa menanti nilai keluar.
Kenapa kami segitu stressnya menghadapi ujian? Iya, karena sistem penilaian di UK hanya memberikan tiga pilihan nilai: Pass (40-59%), Merit (60-70%), dan Distinction (diatas 70%). Cuma, jangan bayangkan mendapatkan nilai di UK semudah di Indonesia. Dapat Merit saja rasanya sudah bersyukur banget, karena mendapatkan nilai di atas 60 itu sangat susah. Ada beberapa senior yang berhasil mendapatkan distinction, namun jumlahnya tidak banyak.
Banyak orang yang berpikir, mahasiswa yang kuliah di luar negeri itu kerjaannya hanya jalan-jalan saja karena foto-foto yang kami unggah di instagram. Ada salah seorang temanku yang meledekku jalan-jalan terus karena foto yang kuunggah, dan aku bingung harus menjawab apa karena foto itu diambil di halaman belakang rumahku.
Tapi, tidak semua orang tahu tentang perjuangan teman-teman yang berkuliah di luar negeri dengan segala struggle yang ada: kendala bahasa, makanan, adaptasi, dan sebagainya. Wajar, karena mana ada orang yang mengunggah muka-muka stress kucel saat ujian ke instagram. Yang terlihat hanya wajah bahagia dan baik-baik saja, padahal kebanyakan waktu kami dihabiskan begadang di depan laptop dengan deretan reading material.
Bagi teman-teman yang berpikir akan melanjutkan studi ke luar negeri, pikirkan baik-baik: apa sudah siap menghadapi segala konsekuensinya? Karena, kuliah di luar negeri itu memang tidak seindah foto-foto di instagram.
buruan gabung di AGENS128 bisa dapetin uang yang mudah kalo gabung
BalasHapus