Sabtu, 10 Agustus 2019

Ramadhan di Rantau

Ramadhan tahun lalu yang kulalui di Inggris bukanlah ramadhan seperti biasanya.

Selain jauh dari keluarga dan tidak bisa jajan takjil di pasar depan rumah, berpuasa selama 18 jam bukanlah sebuah hal yang mudah. Saat itu (tahun 2018), bulan Ramadhan jatuh pada saat Summer dimana Subuh jam 3 pagi dan Maghrib jam 9 malam. Ditambah lagi, Ramadhan kali ini bertepatan dengan minggu-minggu ujian yang menentukan nilai akhir kuliah dan juga penulisan dissertation.

Awalnya, aku menyangsikan diriku sendiri, apakah bisa tetap berpuasa dengan prima di Ramadhan ini? Apalagi, setiap musim ujian aku memerlukan tenaga ekstra dari suplai air minum dan makanan, karena berpikir memang memerlukan tenaga yang besar. Namun kalau orang-orang lain yang tinggal di UK saja bisa menjalani puasa setiap tahun, kenapa aku tidak? Bismillah sajalah.

Gimana rasanya ujian di bulan puasa? Beraat. Aku biasanya harus selalu minum air putih bergelas-gelas saat belajar agar menajamkan konsentrasi (udah kayak iklan Aqua belum?). Namun kali ini aku sulit berkonsentrasi karena kurang minum air. Akhirnya, berdasarkan saran dari senior dan teman-teman, aku membalik pola tidurku. Untuk menyiasati waktu puasa yang sangat panjang, jadwal tidur harus berubah. Aku tidur di siang hari sehabis ashar, dan terjaga dari maghrib sampai subuh menjelang. Habis subuh sampai dzuhur tidur lagi untuk mengganti jadwal tidur malam. Sunnahnya sih sebenarnya nggak boleh ya, tidur habis subuh. Tapi, ulama setempat menyarankan begitu agar bisa menjalani Ramadhan dengan aman. Sehingga waktu subuh dari jam setengah 3 pagi sampai berbuka jam setengah 10 malam tidak terasa.

Ramadhan itu juga aku merindukan itikaf di Masjid Universitas Indonesia bersama geng itikaf Nabila dan Muthi. Aku memilih itikaf di rumah karena  tarawih di masjid City Center berakhir jam setengah sebelas sampai jam dua belas malam, yang artinya sudah tidak ada kendaraan umum untuk pulang ke rumah. Suatu waktu aku mengikuti tarawih dan memutuskan untuk pulang dari city center berjalan kaki, aku dan kawan-kawan berpapasan dengan orang-orang mabuk di jalan-jalan. Demi alasan keamanan, aku memilih itikaf di rumah saja.

Namun, Ramadhan di Durham memang menawarkan sesuatu yang berbeda. Setiap hari di Masjid City Center, selalu ada makanan berbuka yang enak-enak, hasil sumbangan dari berbagai komunitas muslim yang tinggal di Durham. Hari ini makanan dari masyarakat muslim Malaysia, hari lain dari muslim Pakistan, Bangladesh, Turki, Lebanon, dan lain-lain. Dan tentunya kami warga Indonesia tak mau ketinggalan. Kami menyumbangkan sate, nasi uduk, dan gado-gado khas Indonesia untuk brother dan sister yang berbuka puasa.




 Ifthar dengan masakan Indonesia


Selain itu, imam yang memimpin sholat adalah imam dari berbagai negara, salah satunya teman sekelasku yang merupakan Qori ternama dari Nigeria, yang suaranya merdu Masya Allah, menambah kesyahduan tarawih. Terharu rasanya melihat brother dan sister dari seluruh dunia dipersatukan dalam satu ibadah yang sama. Aku melihat bahwa bahkan banyak keberagaman dalam tata cara beribadah; ada yang mengenakan mukena, ada yang mengenakan abaya, ada yang hanya mengenakan jaket dan kerudung. Baru kemudian aku tahu, ternyata hanya muslimah Melayu seperti Indonesia dan Malaysia saja loh yang biasa sholat mengenakan mukena.

Tak terasa, Ramadhan sudah berakhir saja. Tiba saatnya bagi kami untuk menyambut Idul Fitri tanpa Ketupat, Opor, Dendeng Balado, Rendang, takbiran keliling, THR, dan pertanyaan kapan nikah. Supaya nuansa lebaran berasa, jauh-jauh hari kami menyiapkan hidangan khas lebaran seperti kue-kue kering. Dengan dibantu oleh Bunga yang master of baking, aku sempat memanggang beberapa kue kering seperti sagu keju, lidah kucing, dan kastangel. Beberapa kali kue buatanku gagal, walau akhirnya ada juga yang berhasil hehe. Kami pun memasak beberapa masakan khas lebaran seperti rendang (pakai bumbu instan), gulai paku, ketupat (pakai ketupat instan), walau seadanya namun cukuplah untuk mengobati rasa kangen kepada suasana lebaran di Indonesia.

Hari lebaran tiba, kami warga muslim Durham berkumpul di Maiden Castle. Salah satu ruangan aula disulap menjadi tempat kami melaksanakan shalat Idul Fitri. Satu persatu, kulihat wajah-wajah tidak asing yang pernah kutemui entah di masjid City Center Durham maupun di kampus. Dari kejauhan kulihat Prof. Habib, dosenku bersama dengan anak-anaknya yang masih kecil namun tampan-tampan (I won't lie, orang Bangladesh memang manis-manis).

Uniknya, selain sajadah yang terhampar di aula, mereka juga menyediakan arena bermain anak-anak lengkap dengan trampoline dan istana dari balon. Tujuannya agar anak-anak bisa bermain dengan nyaman dan tidak mengganggu orangtuanya yang melakukan ibadah sholat. Aku tersenyum-senyum melihat kostum yang dikenakan Muslim dari berbagai dunia. Muslim dari timur tengah dengan garis muka arab kebanyakan mengenakan abaya. Muslim dan muslimah dari Malaysia mengenakan pakaian khas mereka, baju kurung dan baju koko dengan sarung yang melilit dari pinggang sampai atas lutut, yang mengingatkanku dengan Upin-Ipin hehe.

Baju Upin-Ipin

Seseorang anak menyapaku, mengagetkanku dari lamunan. Ternyata ia seorang bocah kecil yang tampan, dengan mata belo, bulu mata lentik, kulit putih dan rambut hitam keriting. Ia tersenyum dan mengulurkan sebuah bingkisan kepadaku dan teman-teman. "This is for you." Terkejut tapi senang, aku mengucapkan terima kasih dan menerima parcel kecil yang diulurkannya. Sebuah bingkisan kecil yang berisi permen dan cokelat aneka merk. Rupanya, salah satu tradisi Idul Fitri di Durham adalah membagikan parcel yang berisi makanan kecil kepada jamaah-jamaah lainnya. Beberapa kali aku mendapat bingkisan serupa.

Selesai sholat, tiba saatnya untuk menyantap hidangan. Islamic Society di Durham sudah menyediakan makanan yaitu nasi kebuli dengan kebab daging, beserta jus mangga. Kontan saja aku dan teman-teman menyerbu antrian. Kebabnya pedas namun sangat sedap, sehingga kami  mengambil satu bungkusan lagi untuk dimakan di rumah. Maklum, anak kos.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar