Jumat, 21 Agustus 2020

Tips Survive Seorang Mahasiswa di UK

Bagi seorang mahasiswa yang hidup dari uang beasiswa, mengatur keuangan selama berkuliah adalah hal yang susah-susah gampang. Apalagi, kampus tempatku menempuh studi master terletak di United Kingdom (UK), yang merupakan salah satu negara dengan biaya hidup yang cukup tinggi.

Kenapa susah? Soalnya, hidup di negara lain dengan currency yang berbeda dan standar hidup yang berbeda membuat kita bingung menentukan batas dimana boros dan hemat. Contohnya, harga buah-buahan di Indonesia lumayan mahal sehingga aku sendiri jarang makan buah, tapi di UK, harga buah-buahan sangat terjangkau sehingga buah menjadi asupan wajib bagiku. Begitu juga dengan Susu dan Roti, yang menjadi makanan wajib karena harganya terjangkau. Sementara, makanan khas Indonesia banget seperti tempe, cabe, beras, atau mie instan harganya malah lebih mahal.

Selain itu, bagi orang-orang yang tidak terbiasa memegang uang banyak, mendapat dana beasiswa sebesar tiga bulan yang dibayarkan di awal bisa menjadi sebuah cobaan berat. Banyak kasus dimana belum mendekati akhir bulan, namun uang beasiswa di tangan sudah habis, yang pernah juga kualami hehe. Sungguh, sangat tidak enak saat sedang pusing kuliah, homesick karena jauh dari keluarga, sudah begitu bokek pula. Konsentrasi belajar bisa buyaaar.

Sebenarnya, pemberi beasiswa (wabil khusus LPDP) sudah mengalokasikan uang yang cukup untuk mahasiswa hidup sejahtera (tidak akan kurang, tapi nggak berlebihan juga) di negeri rantau. Tentunya, bagi beberapa anak beasiswa sepertiku, ada keinginan untuk mengalokasikan uang beasiswa yang kami terima untuk hal-hal lain. Misalnya untuk membantu keluarga di Indonesia, menabung, atau sekedar untuk travelling. Tetapi, asal kita tahu tips dan trik memanage keuangan, semua problem di atas bisa teratasi.

Berkaca dari pengalaman pribadiku selama setahun, dengan dana beasiswa yang kudapat, aku bisa menabung kira-kira seperempatnya (buat tabungan nikah!), berkesempatan travelling di UK dan Eropa, dan juga mengirim untuk keluarga. Berikut aku akan membagikan tips dan trik untuk survive (financially), terutama bagi mahasiswa yang berkuliah di UK.

Pertama, ada pengeluaran utama yang bisa banget dipangkas, yaitu makanan. Kalau akomodasi, seringnya sih nggak bisa ditawar-tawar lagi karena memang harga pasarannya segitu. Prinsipnya, semakin dekat akomodasi dari kampus, semakin mahal harganya. Contohnya, rumah kami di 72 Hastings Avenue sewanya sebesar 350 Pounds (sekitar 7 juta) per kamar, dengan jarak 10 menit berjalan kaki dari kampus. Sementara teman sekelasku Mas Lukman, satu rumahnya memiliki 4 kamar dan sewanya hanya 500 Pounds per rumah, namun lokasinya di Bowburn sehingga ia perlu naik bis dan sedikit berjalan kaki untuk mencapai kampus.

Di UK, kebanyakan biaya akomodasi bisa memakan sepertiga dari uang bulanan kita. Terlebih lagi di London, setengah dari uang bulanan bisa habis buat akomodasi saja. Karena itu, kita bisa mulai menghemat dari hal yang kecil namun dampaknya signifikan buat kantong karena nggak berasa saat mengeluarkan uang, yaitu makanan.

Selama di UK, aku selalu memasak di rumah. Kadang aku makan di luar, tapi bisa dihitung dengan jari, mungkin hanya sebulan sekali di restoran all you can eat, hehe. Soalnya, biaya yang bisa dihemat dengan memasak dibandingkan makan di luar itu lumayan bangeet. Menimbang biaya jasa yang cukup tinggi di UK, tidak heran seporsi makanan saja dijual mulai dari 5 Pound. Sementara kalau kita memasak, sebulan bisa habis sekitar 150-200 Pound saja. Karena itu, memasak dan membawa bekal menjadi pilihan yang masuk akal untuk hidup yang sehat dan hemat.

Jenis makanan yang dimasak juga sangat beragam, mulai dari yang simpel-simpel seperti ayam geprek atau nasi goreng campur tuna, sampai yang niat banget seperti martabak, siomay, bakso, pempek, dan dendeng balado. Seringnya, masakan yang kita buat tergantung pada bahan apa saja yang ada di kulkas, karena itu kreativitas kita sangat diuji agar tidak bosan makan menu yang itu-itu saja.
Memasak juga menjadi alat pelampiasan stress akan beratnya tugas-tugas kuliah, dan juga menjadi alat procrastination dikala mengejar deadline. Terkadang dikala mengerjakan tugas, aku malah menunda-nunda mengerjakan tugas dengan menyibukkan memasak, hehehe. Masaknya pun nggak tanggung-tanggung, bukannya yang simple-simple aja tapi yang masak serius. Sesungguhnya perbuatan kami itu disengaja, untuk mengulur waktu menghadapi realita deadline essay.

Dendeng, masakan favorit Iffah kala procastination tingkat tinggi

Di UK khususnya, ada beberapa supermarket serba 1 Pound. Salah satu tempat favoritku (dan mahasiswa-mahasiswa lainnya) untuk belanja adalah Iceland, dimana banyak tersedia pilihan frozen food dengan harga berkisar satu Pound ke atas. Iceland adalah tempat untuk belanja bahan masakan favoritku seperti Hash Brown (dan segala kentang-kentangan), Telur, Crabstick, Fish Finger, Fish n Chips, Tuna Kaleng, dan sayuran. Bahan-bahan tersebut bisa dikreasikan untuk membuat menu masakan yang praktis. Ada beberapa Supermarket yang harganya lebih murah (dengan kualitas barang yang lebih rendah), yaitu Lidl atau Aldi. Hanya saja letaknya agak jauh dan bukan di City Center, sehingga kadang demi kepraktisan aku lebih memilih belanja di Iceland saja. 



Selain itu, membandingkan harga antar Supermarket jadi strategi kami untuk menghemat. Kalau misalnya suatu barang dijual di supermarket Sainsbury seharga 3 Pound, bisa jadi di Tesco harganya hanya 2 Pound. Kan lumayan (banget) menghemat satu pound *bakat emak-emaknya keluar. Selain itu, memantau tanggal-tanggal sale menjadi salah satu kunci berhemat. Salah satu snack kegemaranku adalah es krim Haagen Dazs, yang kalau lagi diskon harganya jadi hanya 2.5 Pounds alias 50 ribu sajaa untuk bowl besar (Di Indonesia, harganya 200 ribu untuk bowl besar woooow).


Selain Iceland, toko andalanku untuk berbelanja adalah Poundland, dimana segala snack-snack favoritku untuk nyemil di kelas seperti Kit-Kat, Bueno, Walkers dijual grosiran dengan harga satu Pound saja. Di Poundland juga banyak pernak-pernik hiasan dengan harga semuanya satu Pound. Uniknya, barang-barang yang dijual di Poundland berubah sesuai dengan musimnya. Kalau lagi Haloween, yang dijual adalah pernak-pernik serba hantu dan labu. Kalau summer, yang keluar adalah peralatan musim panas seperti ban, kolam renang, kipas, topi lebar. Yang paling unik saat Royal Wedding Prince Harry dan Meghan Markle, pernak-pernik serba British dan topeng para Royal Family lah yang dipajang.


Untuk alat-alat mandi, skincare dan kosmetik, ada toko bernama Savers yang menjadi andalan kami. Harga skincare di Savers jauuh lebih murah daripada di Boots, toko drugstore yang banyak tersebar di UK. Aku pernah mendapatkan Tea Tree Oil yang harganya 1 Pound saja. Bandingkan dengan Tea Tree Oil dari The Body Shop yang harganya 200 ribuan.

Ada salah satu tradisi unik selama di UK. Di beberapa toko seperti Tesco dan Mark and Spencer, setelah jam 5 sore ada reduce harga, terutama untuk produk-produk segar seperti roti dan sayuran. Terkadang, aku sengaja iseng menunggu sampai jam 5 untuk membeli roti atau cookies incaranku. Lumayan banget diskonnya, aku pernah dapat sebungkus croissant yang aslinya 1 Pound di diskon menjadi 10 Pence (sekitar 2 ribu) saja. Biasanya barang reduce yang sudah agak kurang segar atau mendekati expired, tapi rasanya masih enak dan masih aman dimakan kook.

Untuk pakaian, hampir semua mahasiswa di UK menjadikan Primark sebagai tempat tujuan berbelanja. Primark adalah toko retail asal Irlandia yang menjual barang-barang super lucu dengan harga muraaah banget. Model-model barangnya sangat beragam, bahkan ada satu section khusus yang menjual pernak-pernik khas Harry Potter. So cuute and so cheap. Harganya murah karena diproduksi di negara dunia ketiga seperti Bangladesh, Myanmar, atau.... Indonesia. Tentunya barangnya juga jadi kurang awet; salah satu sepatu Boots yang aku beli seharga 9 Pound (IDR 180 ribu) di Primark hanya bertahan sampai 3 bulan sebelum solnya lepas. Jadi, kalau mau beli di Primark sebaiknya buat barang pernak-pernik yang lucu-lucu ajaa.


Namun, setelah memantau tanggal-tanggal sale, aku hampir tidak pernah beli baju atau sepatu di Primark lagi. Karena eh karena, barang-barang di H & M, New Look, Next, Dorothy Perkins, dsb pun harganya bisa mirip-mirip Primark kalau lagi ada diskon. Mendingan beli yang brand sekalian kaan?

SALE adalah kuntji. Selain sale rutin setiap season, ada dua hari kebangsaan bagi shopaholic di seluruh UK, yaitu Black Friday dan Boxing Day. Black Friday adalah hari sesudah Thanksgiving, dimana banyak toko-toko ritel besar yang sale. Pada 2017, Black Friday di UK jatuh sebulan sebelum Natal, yaitu tanggal 25 November. Karena tradisi sale Black Friday berasal dari Amerika, maka diskon Black Friday di UK juga kurang nampol, paling-paling hanya beberapa produk elektronik yang diskonnya lumayan. Saat Black Friday ini lah aku dan teman-temanku membeli tablet. Lumayan, aku hemat 300 rb rupiah hasil diskon. Namun, diskon yang paling berasa adalah saat hari Boxing Day atau sehari setelah Natal. Karena habis Natal dan daya beli orang-orang cenderung tidak seheboh saat belanja hadiah Natal, maka banyak ritel yang memberikan diskon gila-gilaan. Saat Boxing Day inilah, aku baru melihat Mall-Mall di UK dipadati orang-orang seperti emak-emak belanja di Tanah Abang. Salah satu best deal andalanku adalah beli sepatu Clarks, yang aslinya sekitar 50-70 Pounds (IDR 1 juta-1,4 juta) saat Boxing Day diskon jadi 20 Pounds (IDR 400 rb) sahaja. Brb borong Clarks buat oleh-oleh orang rumah!

Bagaimana halnya untuk travelling?
Harus kuakui, travelling di UK lumayan mahal karena harga tiket keretanya nggak santai. Sebagai gambaran, dari Durham ke Newcastle yang jaraknya hanya 15 menit naik kereta, harga tiketnya 5 Pound (100 ribu). Dari Durham sampai London, harga normal (artinya harus pesan jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan) bisa 80 Pound (1,6 juta) sendiri. Untuk dapat tiket harga murah, kita harus berlangganan Railcard 16-25 (untung waktu kuliah masih umur 25 fyuuuh) yang berlaku selama setahun, dengan biaya 30 Pounds bisa dapat diskon 30% untuk semua kereta di UK. Lumayan banget kaan.

Sistem tiket kereta di Eropa sebagian besar mirip-mirip; kalau pesan jauh-jauh hari, harganya lebih murah. Berani-beraninya beli tiket kereta di hari keberangkatan? Niscaya harganya akan melonjak berkali-kali lipat dari harga asli (aku pernah mengalaminya, hiks). Pantas saja, orang barat sangat on time, karena seandainya telat sedikit saja dan ketinggalan kereta, bisa bangkrut kalau harus beli tiket on the spot.
Selain itu, jam-jam keberangkatan yang tidak lazim (misalnya pagi banget jam 6 atau malem banget jam 10) juga bisa memberikan harga yang lebih murah. Makanya, suatu hari aku terpaksa jalan kaki jam 11 malam melintasi hutan di Durham sepulangnya dari Edinburgh, karena Bis sudah nggak ada, dan kalau naik taksi mahal banget.

Untuk Bis yang kami pakai sehari-hari di kota pun tak kalah mahalnya. Sebelum dapat Student Card, pulang pergi naik bis ke City Center bisa dikenakan biaya sekitar 3 Pounds (60 ribu). Dengan Student Card dari Durham, kami cukup membayar 1 Pounds (20 ribu) untuk tiket seharian, berapa kalipun naik turun. Namun ini hanya berlaku di Bus merk Arriva saja kalau di Durham. Di kota-kota lain bisa berbeda, kalau beruntung Student Card kita bisa laku, kalau tidak bisa dikenakan biaya normal. Yang jelas, Student Card memberikan banyak diskon yang sangat bermanfaat buat mahasiswa. I love you, my Student Card.



Sebenarnya, biaya travelling antar kota di UK menggunakan kereta bisa dibilang cukup mahal. Contohnya, aku pernah mendapatkan tiket kereta PP Durham-York seharga 10 Pounds, Durham-Edinburgh 30 Pounds, Durham-Manchester 35-40 Pounds, dan paling nampol adalah Durham-London 80 Pounds. Harap dicatat, itu pun harga yang sudah menggunakan discount Railcard dan dipesan jauh-jauh hari.

Alternatif paling hemat untuk travelling di UK adalah naik bis antar kota, yang di UK disebut dengan Coach. Untuk bis kalangan menengah seperti National Express, harga tiket PP Durham-London bisa dapat 40 Pound dengan bis yang lumayan nyaman dan ada wifinya. Mau yang lebih murah? Ada opsi Megabus yang hanya 20 Pound (!), tentunya tanpa wifi dan dengan jam-jam keberangkatan yang tidak lazim seperti jam 12 malam. Makanya, mengemper di Coach Station London sambil menunggu bus berangkat jam 12 malam pun sudah pernah kujabani. Perjalanan darat naik bis Durham ke London memakan waktu 8 jam (sementara kalau naik kereta 3 jam). Lumayan juga punggung ane langsung rata. Namun demi harga tiket murah, apapun akan kulakukan!

Bagaimana caraku menabung? 
Karena dapat uang beasiswa setiap tiga bulan sekali di awal, pastinya ada godaan besar untuk membelanjakan semuanya. Oleh karena itu, setiap kiriman uang datang aku pasti menyisihkan sebagian ke rekeningku di Indonesia untuk beli emas. Uang dikirim ke Indonesia saat kurs Poundsterling lagi tinggi-tingginya dengan menggunakan Transfree, akun buatan mahasiswa Indonesia untuk transfer uang Pounds ke Rupiah (dan sebaliknya). Ada juga temanku yang menabung dalam bentuk Pounds. Yang penting, uang tersebut diamankan ke rekening lain yang bukan rekening kita-sehari-hari, sehingga kita bebas dari godaan menjajankan uang tersebut. 

Sekian ceritaku tentang lika-liku hidup berhemat selama di UK. Tentunya, setiap orang punya preferensi berbeda dalam menggunakan dana yang dia punya; ada temanku yang setiap ada konser Ed Sheeran, Demi Lovato, Ariana Grande, dll yang lagi di UK pasti dia ikut datang; ada temanku yang kerjanya bolak-balik Belanda-UK demi nonton Manchester United bertanding; ada temanku yang sudah yang mencoret semua negara di Eropa dari wishlist dia. 

Namun, pesanku bagi para Sobat Beasiswaqu, yang terpenting adalah jangan sampai kita lupa diri. Masih panjang looh kehidupan setelah lulus di Indonesia. You will need that money; jangan sampai lupa nabung!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar