Assalamualaikum guys!
Alhamdulillah tahun 2016 kemarin, aku berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2. Insya Allah bila tidak ada halangan, September 2017 ini aku akan berangkat sekolah ke Inggris.
Akhir-akhir ini, beberapa junior atau teman-teman bertanya-tanya kepadaku mengenai tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa. Oleh karena itu, aku bertekad membuat rangkaian postingan #Scholarshipseries yang kubuat berdasarkan pengalamanku dalam berburu beasiswa. Semoga, tulisanku bisa bermanfaat bagi para pemburu beasiswa ya :)
People say, if you fail to prepare, you are prepare to fail. Langkah pertama yang paling penting untuk berburu beasiswa adalah: mempersiapkan!
Semua orang bisa bilang, "Gue pengen lanjut S2 di luar negeri nih". Namun, hanya orang-orang yang benar-benar punya plan dan action-lah yang benar-benar akan mendapatkannya. Oleh karena itu, dibutuhkan perencanaan matang sebelum berburu beasiswa, minimal setahun sebelum keberangkatan.
Kurang lebih, beginilah langkah-langkahku saat mencari beasiswa:
1. Les Bahasa Inggris
Setiap kita ingin mendaftar ke kampus atau mendaftar untuk mendapatkan beasiswa, ada syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar: skor kemampuan berbahasa. Setiap negara meminta jenis yang berbeda. Umumnya negara Inggris dan negara-negara persemakmurannya, Eropa, dan Australia meminta skor IELTS, sementara Amerika Serikat dan kampus-kampus di Asia menerima TOEFL. Oleh karena itu harus dilihat dulu persyaratan dari kampus.
Khusus IELTS, selain syarat overall score ada juga syarat band score. Misalnya kebanyakan Law School mensyaratkan overall score 7.0 dan band score writing minimal 6.5. Sementara beasiswa umumnya menerima semua jenis skor, kecuali TOEFL ITP atau prediction test.
Tes kemampuan bahasa tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. Saat aku mengambil tes IELTS Maret 2016 di British Council, biayanya sekitar 2,7 juta rupiah. Biaya tes di lembaga lain di atas itu, sampai dengan 3 juta rupiah. Artinya, sebelum mengambil tes bahasa, kita harus fully prepared karena pertaruhannya besar! Oleh karena itu, sejak September 2015 aku mengambil les privat IELTS.
2. Tes Bahasa Inggris
Setelah merasa siap untuk mengikuti tes, segeralah mendaftar untuk mengambil tes IELTS. Tes IELTS hanya diadakan dua kali dalam sebulan, dan seringkali kuotanya penuh, apalagi mendekati musim apply Universitas dan beasiswa. Oleh karena itu mendaftarlah jauh-jauh hari.
Oh iya, pemilihan lembaga yang mengadakan tes juga penting. Ada lembaga tertentu yang konon 'pelit' memberikan nilai, ada yang penyelenggaraannya tidak profesional dan super ngaret, ada yang saat sesi listening speakernya tidak jelas sehingga akan berpengaruh terhadap skor IELTS akhir kita. Penting memilih lembaga yang tepat karena tes IELTS memakan waktu seharian, jadi kondisi fisik kita akan sangat capek, jangan sampai kondisi psikis kita juga terganggu.
Setelah riset dan bertanya-tanya, aku memutuskan untuk mengambil tes di British Council. Dan alhamdulillah persiapan yang cukup lama memberikan hasil tes IELTS yang cukup memuaskan. Overall score-ku 7.5, dengan nilai Speaking 8.0, Reading 8.0, Listening 7.5, dan Writing 6.0 (hiks).
3. Berburu LoA
Letter of Acceptance (LoA) merupakan tiket masuk kita untuk menjadi mahasiswa sebuah Universitas. Berburu LoA sebenarnya susah-susah gampang. Menurutku, selama semua syarat administrasi terpenuhi (skor IELTS, minimum GPA, dll), rekomendasi yang cihuy, dan Personal Statement yang menarik, tidak ada alasan bagi kampus untuk menolak kita. Tentunya, LoA juga harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Sambil mengikuti les IELTS, aku juga mempersiapkan draft Personal Statement dan berburu Recommendation Letter. Sehingga ketika skor IELTS sudah keluar, aku tinggal mengirimkan berkas-berkas yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari.
Perhatikan deadline pendaftaran setiap kampus. Kebanyakan kampus memberikan deadline bulan Juni untuk intake bulan September. LoA tidak memakan waktu lama untuk diproses, biasanya keputusan dari kampus akan keluar dua sampai empat minggu setelah pendaftaran.
4. Berburu Beasiswa
LoA sudah di tangan, saatnya berburu beasiswa! Banyak-banyaklah mencari informasi. Kebanyakan orang berpikir beasiswa S2 itu hanya sekedar LPDP, padahal sebenarnya buanyaaak banget beasiswa yang tersedia. Selain beasiswa BPI LPDP, pemerintah memberikan alternatif lain seperti beasiswa presiden, Beasiswa Unggulan Dikti, dan lain-lain. Setiap pemerintah juga biasanya memberikan program beasiswa, misalnya Chevening dari Inggris atau AAS dari Australia. Atau seperti kisah Muthi temanku, dia mendapatkan beasiswa dari DAAD dan juga dari kampusnya. Intinya, jangan pernah menggantungkan harapan ke satu beasiswa, karena kalau ditolak, rasanya perih sekali *halah.
Aku sendiri membuat plan A B C untuk apply beasiswa, jadi ada cadangan kalau gagal di satu beasiswa. Aku mempersiapkan diri untuk apply beasiswa LPDP, Chevening, dan Beasiswa Unggulan Dikti (BUDI). Seminggu setelah deadline berkas LPDP adalah deadline berkas Chevening. Kebayang nggak, betapa pontang-pantingnya aku mempersiapkan berkas? Untungnya sebagian besar berkas sudah kusiapkan jauh-jauh hari, misalnya essay LPDP sudah kutulis sejak tahun 2015 dan beberapa kali dirombak serta di proofread. Karena itu, persiapkanlah segala berkas jauh-jauh hari, jangan sampai baru mengerjakan last minute!
5. Berdoa dan luruskan niat
Ini sebenarnya kunci utama dari keberhasilanku mendapatkan beasiswa. Aku percaya, Allah dengan 'invisible hand'-Nya sudah mengatur semua rezeki kita. Dan tentunya kita harus bisa membujuk Sang Pemilik Rezeki untuk bersedia memberikan rezeki beasiswa untuk kita, dong? Saat itu aku berpikir, darimanapun aku mendapatkan beasiswa tidak masalah. Yang penting aku sudah berusaha, dan Allah pasti memberikan jalan bagi orang yang mau berusaha. Seperti pepatah Arab Man Jadda Wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.
Terakhir, yang harus diingat, jangan lupa meluruskan niat. Kita mau melanjutkan S2 ke luar negeri untuk apa? Kalau sekedar untuk jalan-jalan, hanya ikut-ikutan teman-teman yang ke luar negeri, atau karena belum mau bekerja setelah lulus kuliah, sebaiknya berpikir ulang. Karena motif kita pasti akan diketahui oleh pihak yang mewawancarai dari pemberi beasiswa. Beasiswa bukanlah tujuan, tapi hanya sebuah sarana bagi kita untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi, untuk kemudian kembali dan mengabdi kepada Indonesia. Oleh karena itu, luruskanlah niat sebelum memilih melanjutkan S2.
Sekian gambaran singkat dariku, untuk langkah-langkah diatas akan kujelaskan dalam postingan-postingan selanjutnya. Selamat berburu beasiswa!
Postingan Terkait:
Bermanfaat sekali kak iffah :)
BalasHapusKak iffah boleh minta CV nya? :)
BalasHapus