Sabtu, 31 Juli 2021

Rumah untuk Millenials

Rumah untuk Millenials sedang menjadi perbincangan hangat. 
Saat ini beberapa developer perumahan memasarkan so-called rumah yang diberi brand rumah millenials, yaitu rumah yg sizenya super duper mungil dengan harga yang tidak semahal rumah ukuran normal. 

Rumah Millenials versi ekstrim: Beli tanah, dapet kamar

Generasi Boomer mengira millenials suka tinggal di rumah yang sizenya imut-imut dan compact, padahal mah bukan karena suka, tapi lebih karena nggak punya opsi dan dana untuk beli rumah yang luasnya agak besar.

Harus diakui, nggak gampang bagi generasi millenials untuk bisa memiliki rumah. Dan seringkali millenial disalahkan nggak bisa punya rumah karena Latte Factor -- kebanyakan jajan starbucks, travelling, ngegojek makanan, beli merchandise kpop, atau apapun itu pengeluaran lifestyle yang membuat bocor-bocor halus di dompet. Tapi, selain Latte Factor, sebenarnya banyaak banget faktor yang membuat millenials barely cannot  afford house, antara lain:

1. Harga Rumah VS Pendapatan

Harga hunian dan tanah yang naik terus, sementara income yang nggak naik-naik, membuat tidak semua orang bisa punya rumah. Bahkan Sophia Latjuba aja bilang, harga rumah di Jakarta sama mahalnya dengan rumah di Beverly Hills. Akupun terkaget-kaget ketika temanku yang di Jogja bilang rumah sepetak aja harganya udah ratusan juta. Meskipun misalnya pakai KPR sekalipun, 30% dari gaji kelas menengah sekarang (gaji 10 juta ke atas) pun hanya mampu mencicil rumah yang mini di Jabodetabek. Itu aja masih harus nyicil 15 tahun.

2. Hukum Supply Demand
Demand untuk rumah akan selalu ada, sementara supply rumah (khususnya rumah tapak yang perlu tanah) semakin sedikit. Kalau jaman orangtua kita masih terjangkau beli rumah di Jakarta, sekarang rumah-rumah di kota satelit Jabodetabek udah mulai nggak masuk akal harganya. Sekalinya ada yang harganya terjangkau, letaknya di ujung berung.

3. Boomers menggunakan rumah sebagai instrumen investasi
Generasi orangtua kita belum mengenal (dan sampai sekarang masih sedikit yang familiar dengan) investasi di pasar uang kayak saham, reksadana, sukuk, dll. Paling mentok mereka investasi di tanah, emas, deposito, dan property. Akibatnya, supply rumah (tapak) yang emang sudah terbatas sebagian besar dikuasai boomers yang udah punya dananya dari hasil nabung bertahun-tahun lalu. Millenials yang baru kerja beberapa tahun jelas kalah kenceng modalnya.

Beberapa orang mengharapkan harga rumah yang terus-terusan melambung, pada suatu saat "bubble"nya akan meletus sehingga harganya bisa terjun bebas. Seperti kondisi USA yang di tahun 2008 harga property bubble akibat sub-prime mortgage. Sehingga pada akhirnya millenials dapat membeli rumah dengan harga yang murah. Sebenarnya, selama pandemi ini udah banyak orang yang mendadak Butuh Uang akibat covid dan menjual rumah dengan harga murah. Bahkan bukan hanya orang yang butuh uang, tapi orang-orang kaya pemilik rumah mewah di Pondok Indah dan Menteng juga mulai mengobral rumah mewahnya. Because in crisis, cash is a King. Orang super kaya pun butuh cash in hand untuk berjaga-jaga untuk dana darurat covid atau kalau mau mengungsi ke negara lain selama pandemi.


Dengan banyaknya orang yang menjual rumah, sesuai hukum supply and demand, seharusnya harga rumah juga jadi lebih murah, dong? Namun sayangnya, yang sanggup beli rumah juga berkurang jumlahnya karena keuangan mereka terdampak pandemi. Dan biasanya, mereka-mereka yang menjual rumah murah ini meminta pembayaran dalam bentuk cash (karena butuh duit). The question is, berapa banyak sih orang yang udah punya tabungan cash ratusan juta rupiah?

Jadi, solusinya apa dong supaya rumah bisa terjangkau buat semua?

Yang pertama, penting adanya intervensi dari pemerintah supaya ada penyediaan rumah bersubsidi yang harganya terjangkau. Sebenarnya saat ini udah ada  beberapa program seperti itu yang tersedia, but again, nggak cukup banyak jumlahnya. Karena itu program rumah bersubsidi perlu diperbanyak.

Yang kedua, stop memasarkan rumah atau property sebagai "investasi". Rumah sudah seharusnya menjadi kebutuhan pokok setiap orang, bukan kebutuhan tersier ataupun investasi. Kecuali misalnya yaa ada orang yang beli rumah banyak-banyak tapi tujuannya emang buat di wariskan ke anak-anaknya. Dan seharusnya, pajak progresif yang berlaku buat kepemilikan mobil itu juga diberlakukan ke kepemilikan rumah, jadi orang males untuk menimbun rumah kebanyakan.

Yang ketiga (dan sebenarnya aku agak berat nulisnya), orang indonesia harus mulai mengubah mindset bahwa yang namanya rumah itu adalah rumah tapak atau landed house. Apartement itu juga merupakan bentuk tempat tinggal. Kalau mindset orang Indonesia berubah menganggap flat adalah rumah, seperti di Korea Selatan misalnya, maka penyediaan rumah bagi semua orang akan dimungkinkan karena orang nggak ragu-ragu untuk membeli apartemen. Saat ini sudah banyak model penataan apartemen yang bisa membuat apartemen senyaman rumah tapak walaupun dengan space yang terbatas. 

inspirasi apartemen cantik dari instagram @ga.apato

Hal ini mungkin dapat diterapkan di Jakarta yang tanahnya sudah sangat jarang-jarang dan semakin padat. Tapi sejujurnya, menganggap apartemen sebagai rumah lebih mudah diterapkan bagi single atau pasangan yang belum memiliki anak. Ketika memiliki anak, tinggal di apartemen membuat was-was, khususnya soal keamanan dan kenyamanan anak yang dibesarkan di apartemen.

Intinya, rumah --baik itu landed house atau apartemen-- sudah selayaknya dimiliki semua orang, termasuk millenials, karena rumah merupakan suatu kebutuhan pokok. Pemerintah seharusnya melakukan apa yang bisa mereka lakukan agar jangan sampai banyak homeless atau orang-orang yang tinggal di pemukiman liar seperti bantaran sungai, karena tidak ada pemukiman bersubsidi yang disediakan. Pemerintah juga seharusnya bisa mencegah millenials menghabiskan gaji dan sepanjang hidup mereka untuk mencicil KPR yang mahalnya ampun-ampunan. Jangan sampai pemerintah Indonesia menyerahkan supply and demand seluruhnya kepada pasar--yang bisa berakibat seperti Hongkong, dimana tempat tinggal yang disediakan luasnya sebesar peti mati dengan harga yang juga tidak murah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar