Bagiku, hanya ada satu kata yang tepat untuk merefleksikan tahun 2016: Alhamdulillah...
Awal tahun ini dimulai dengan tekadku untuk mendapatkan beasiswa S2.
Bagiku, belajar IELTS adalah salah satu pintu awal untuk beasiswa ke luar negeri.
Sebenarnya, sejak September 2015 aku sudah mengikuti les privat untuk tes IELTS. Untungnya, guru les-ku, Kak Putri, sangaat baik. Dia sabar mengajariku yang sering telat datang privat, karena jadwal privatku setiap dua kali seminggu dimulai jam 7 pagi. Jujur tidak mudah bagiku untuk les sambil bekerja, apalagi kak Putri seringkali memberikan PR Reading dan Writing untuk kami kerjakan. Untungnya pula, Kak Putri merupakan awardee LPDP, sehingga sedikit banyak kami bisa belajar tips dan trik dari Kak Putri.
Setelah sekian lama mengikuti les privat IELTS (hampir 6 bulan! wkwk), aku memutuskan untuk mengambil tes. Sebelumnya, aku belum merasa siap karena IELTS memang sangat menantang. Apalagi, biaya tes IELTS yang tidak murah (hampir 3 jutaan) membuatku maju-mundur untuk mengikuti tes. Akhirnya setelah merasa siap dan dengan mengucapkan bismillah, aku mendaftar di British Council untuk mengikuti ujian tanggal 7 Mei. Dua minggu sebelum ujian, kami melakukan try out intensif IELTS.
Ujian diadakan di sebuah hotel di kawasan Blok-M. Ujian memakan waktu seharian, mulai dari Listening, Reading, Writing sampai menunggu giliran speaking. Saat giliran speaking aku berjumpa dengan native speaker dari Inggris. Walaupun nervous, ternyata ujian speaking berjalan dengan santai, seperti mengobrol saja. Untungnya, pekerjaanku di kampus mengharuskanku untuk berkomunikasi dengan bule-bule, sehingga aku sudah tidak gugup lagi berbicara dengan bule.
Dua minggu kemudian, aku mendapatkan hasil IELTS-ku, dan tak disangka, aku berhasil mencapai overall score 7.5. Alhamdulillah... nilai yang lebih dari cukup untuk mendapatkan beasiswa dan LoA. Dengan berbekal nilai IELTS, aku mencoba mendaftar ke beberapa Universitas: Durham University, SOAS University of London, dan Bangor University yang semuanya terletak di United Kingdom.
Alhamdulillah, aku mendapat kabar bahagia bahwa aku diterima sebagai calon mahasiswa magister Islamic Finance and Management di Durham University, UK. Ini artinya, tinggal selangkah lagi bagiku untuk meraih impian melanjutkan S2 di luar negeri.
Di tahun ini juga, Allah memberikan karunia kepada kakakku. Setelah sekian lama menanti, kakakku Nana akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Rafa. Rafa merupakan pujaan hati baru di rumah kami. He is so cute!
Dua ribu enam belas juga merupakan tahun dimana aku banyak berpergian.
Bulan Maret, demi menjalankan tugas promosi program Kelas Khusus Internasional FHUI di Bandung, Surabaya, dan Medan. Saat itulah aku merasa sangat bersyukur karena berkesempatan melihat daerah-daerah lain di Indonesia, naik pesawat, dibayarin pula, dikasih uang transport pula. Maaf norak, maklum fresh graduate wkwk.
Dengan kompaknya, geng gadis-gadis geulis asdos dan karyawan FHUI bersama-sama berkeliaran di Belitung mencari spot unik demi foto-foto indah nan instagram-able. Kami berkunjung ke Kampung Laskar Pelangi, berkeliling dari satu pulau ke pulau lain, snorkelling, dan berkunjung ke pantai Laskar Pelangi yang penuh dengan batu-batu indah.
Sepulangnya dari Belitung, aku, Bu Ida, Ghozi, dan Bang Heru berangkat menuju Malaysia untuk melakukan penelitian mengenai Jaminan Produk Halal di Malaysia dan Thailand. Dari perjalanan ini aku mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat berharga. Penelitian ini semakin menyadarkanku untuk peduli terhadap isu produk halal di Indonesia. (Selengkapnya bisa dibaca di postingan sebelumnya)
Di bulan November, aku memberanikan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Sebenarnya sejak seleksi batch pertama di awal tahun aku ingin mendaftar, namun aku belum juga merasa siap. Akhirnya di batch keempat aku dan beberapa temanku mencoba mengikuti seleksi. Di sela-sela pekerjaan yang padat dan tak ada habisnya, kami meluangkan waktu untuk persiapan menghadapi seleksi LPDP.
Seminggu setelah seleksi LPDP, aku dan kawan-kawan serta dosen-dosen pengurus Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam mengadakan sebuah acara besar: International Confrence of Islamic Law in Indonesia (ICILI), yaitu konferensi Internasional dengan tema Hukum Islam. Walaupun SDM kami sangat terbatas, dan pontang-panting mengurus acara dengan keterbatasan yang ada, alhamdulillah acara besar pertama kami berhasil terlaksana dengan baik. Aku bertemu dengan akademisi dan praktisi-praktisi Hukum Islam dari seluruh Indonesia, bahkan dari negara-negara lain. Tentunya, acara ini memantik semangatku untuk terus mengembangkan ilmu hukum Islam di Indonesia.
Rencananya, aku akan mempresentasikan paperku dengan topik mengenai produk halal pada hari terakhir konfrensi. Namun Allah berkehendak lain. Malam sebelum hari presentasi, aku mendapat kabar bahwa Abiku terkena serangan stroke. Kabar ini cukup membuatku kalut, karena ini bukan pertama kalinya Abi terkena stroke, apalagi Abi terkena stroke di batang otak.
Aku sempat ragu-ragu haruskah aku pulang, mengingat amanahku sebagai bendahara ICILI belum selesai, dan ada presentasi yang harus kutampilkan. Namun sebuah kalimat dari seniorku, Bang Ali, membuatku menguatkan tekad: "Pulang! Kamu cuma punya satu bapak! "
Aku memutuskan pulang dan menitipkan semua urusan ICILI kepada orang lain. Aku takut yang terburuk akan terjadi kepada Abi, dan aku tak mau menyesal belakangan. Untungnya, Kelly membantu menggantikan tugasku, dan Bu Ida serta Ghozi menggantikanku presentasi.
Alhamdulillah, ternyata stroke yang diderita abi tidak cukup parah. Dalam beberapa hari saja Abi sudah membaik dan bisa keluar dari Rumah Sakit, padahal stroke kedua biasanya berakibat fatal. Alhamdulillah, Allah masih menyayangi Abi..
Tanggal 9 Desember adalah hari dimana aku mendapat kabar membahagiakan sebagai penutup akhir tahun.
Setelah penantian dengan jantung deg-degan, dzikir panjang yang tak putus-putus, siang itu aku mendapatkan sebuah email.
Alhamdulillah, aku terpilih sebagai salah satu awardee beasiswa LPDP. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Inggris. Rasanya seperti mimpi. Karena aku sadar, tanpa beasiswa, mana mungkin aku yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja ini bisa melanjutkan studi ke Luar Negeri. Ini merupakan anugerah yang tak terhingga bagiku. Sungguh benar pepatah yang digaungkan Ahmad Fuadi di Trilogi Negeri Lima Menara: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.
Insya Allah, bila tak ada halangan, September 2017 aku akan berangkat untuk melanjutkan studi ke Inggris. Aku sadar, melanjutkan studi dengan dibiayai negara adalah sebuah amanah besar. Oleh karena itu, aku bertekad akan menempuh studi master dengan sebaik-baiknya.
Bagiku, 2016 sungguh merupakan tahun yang memberikan pelajaran berarti. Tentu saja, tidak semua kisahku di tahun 2016 ini berakhir bahagia. Ada saatnya dimana aku harus diam menangis karena menerima kenyataan pahit. Ada saatnya dimana aku harus mengikhlaskan apapun yang terjadi. Ada saatnya dimana aku harus belajar menerima diriku dan keluargaku apa adanya. Ada saatnya dimana aku terpuruk dan tenggelam dalam depresi, namun mencoba bangkit demi orang-orang yang kusayangi. Namun, tentunya lebih banyak syukur, lebih banyak karunia yang kudapatkan sepanjang tahun ini. Semua kejadian yang kualami memberikan pelajaran bagiku, agar lebih kuat menghadapi cobaan, dan agar selalu bersyukur terhadap karunia yang telah diberikan Allah kepadaku.
Tahun 2017 telah tiba, semoga tahun ini aku bisa berproses lebih baik daripada sebelumnya, dan bisa mewujudkan impian dan targetan yang ingin kucapai. Dan semoga, Allah memberikan yang terbaik bagiku nantinya.
Selamat berproses!
Awal tahun ini dimulai dengan tekadku untuk mendapatkan beasiswa S2.
Bagiku, belajar IELTS adalah salah satu pintu awal untuk beasiswa ke luar negeri.
Sebenarnya, sejak September 2015 aku sudah mengikuti les privat untuk tes IELTS. Untungnya, guru les-ku, Kak Putri, sangaat baik. Dia sabar mengajariku yang sering telat datang privat, karena jadwal privatku setiap dua kali seminggu dimulai jam 7 pagi. Jujur tidak mudah bagiku untuk les sambil bekerja, apalagi kak Putri seringkali memberikan PR Reading dan Writing untuk kami kerjakan. Untungnya pula, Kak Putri merupakan awardee LPDP, sehingga sedikit banyak kami bisa belajar tips dan trik dari Kak Putri.
Setelah sekian lama mengikuti les privat IELTS (hampir 6 bulan! wkwk), aku memutuskan untuk mengambil tes. Sebelumnya, aku belum merasa siap karena IELTS memang sangat menantang. Apalagi, biaya tes IELTS yang tidak murah (hampir 3 jutaan) membuatku maju-mundur untuk mengikuti tes. Akhirnya setelah merasa siap dan dengan mengucapkan bismillah, aku mendaftar di British Council untuk mengikuti ujian tanggal 7 Mei. Dua minggu sebelum ujian, kami melakukan try out intensif IELTS.
Ujian diadakan di sebuah hotel di kawasan Blok-M. Ujian memakan waktu seharian, mulai dari Listening, Reading, Writing sampai menunggu giliran speaking. Saat giliran speaking aku berjumpa dengan native speaker dari Inggris. Walaupun nervous, ternyata ujian speaking berjalan dengan santai, seperti mengobrol saja. Untungnya, pekerjaanku di kampus mengharuskanku untuk berkomunikasi dengan bule-bule, sehingga aku sudah tidak gugup lagi berbicara dengan bule.
Dua minggu kemudian, aku mendapatkan hasil IELTS-ku, dan tak disangka, aku berhasil mencapai overall score 7.5. Alhamdulillah... nilai yang lebih dari cukup untuk mendapatkan beasiswa dan LoA. Dengan berbekal nilai IELTS, aku mencoba mendaftar ke beberapa Universitas: Durham University, SOAS University of London, dan Bangor University yang semuanya terletak di United Kingdom.
Alhamdulillah, aku mendapat kabar bahagia bahwa aku diterima sebagai calon mahasiswa magister Islamic Finance and Management di Durham University, UK. Ini artinya, tinggal selangkah lagi bagiku untuk meraih impian melanjutkan S2 di luar negeri.
Di tahun ini juga, Allah memberikan karunia kepada kakakku. Setelah sekian lama menanti, kakakku Nana akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Rafa. Rafa merupakan pujaan hati baru di rumah kami. He is so cute!
![]() |
| Rafaaa! |
Dua ribu enam belas juga merupakan tahun dimana aku banyak berpergian.
Bulan Maret, demi menjalankan tugas promosi program Kelas Khusus Internasional FHUI di Bandung, Surabaya, dan Medan. Saat itulah aku merasa sangat bersyukur karena berkesempatan melihat daerah-daerah lain di Indonesia, naik pesawat, dibayarin pula, dikasih uang transport pula. Maaf norak, maklum fresh graduate wkwk.
![]() |
| Open House di Surabaya |
![]() |
| Open House Medan |
![]() |
| Wisata Kuliner di Medan! |
Bulan Agustus adalah bulannya travelling!
Awal Agustus, aku berkesempatan mengikuti outing kantor FHUI. Alhamdulillah, ternyata outing tahun ini ke Kepulauan Belitung!Dengan kompaknya, geng gadis-gadis geulis asdos dan karyawan FHUI bersama-sama berkeliaran di Belitung mencari spot unik demi foto-foto indah nan instagram-able. Kami berkunjung ke Kampung Laskar Pelangi, berkeliling dari satu pulau ke pulau lain, snorkelling, dan berkunjung ke pantai Laskar Pelangi yang penuh dengan batu-batu indah.
Sepulangnya dari Belitung, aku, Bu Ida, Ghozi, dan Bang Heru berangkat menuju Malaysia untuk melakukan penelitian mengenai Jaminan Produk Halal di Malaysia dan Thailand. Dari perjalanan ini aku mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat berharga. Penelitian ini semakin menyadarkanku untuk peduli terhadap isu produk halal di Indonesia. (Selengkapnya bisa dibaca di postingan sebelumnya)
Di bulan November, aku memberanikan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Sebenarnya sejak seleksi batch pertama di awal tahun aku ingin mendaftar, namun aku belum juga merasa siap. Akhirnya di batch keempat aku dan beberapa temanku mencoba mengikuti seleksi. Di sela-sela pekerjaan yang padat dan tak ada habisnya, kami meluangkan waktu untuk persiapan menghadapi seleksi LPDP.
Seminggu setelah seleksi LPDP, aku dan kawan-kawan serta dosen-dosen pengurus Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam mengadakan sebuah acara besar: International Confrence of Islamic Law in Indonesia (ICILI), yaitu konferensi Internasional dengan tema Hukum Islam. Walaupun SDM kami sangat terbatas, dan pontang-panting mengurus acara dengan keterbatasan yang ada, alhamdulillah acara besar pertama kami berhasil terlaksana dengan baik. Aku bertemu dengan akademisi dan praktisi-praktisi Hukum Islam dari seluruh Indonesia, bahkan dari negara-negara lain. Tentunya, acara ini memantik semangatku untuk terus mengembangkan ilmu hukum Islam di Indonesia.
Rencananya, aku akan mempresentasikan paperku dengan topik mengenai produk halal pada hari terakhir konfrensi. Namun Allah berkehendak lain. Malam sebelum hari presentasi, aku mendapat kabar bahwa Abiku terkena serangan stroke. Kabar ini cukup membuatku kalut, karena ini bukan pertama kalinya Abi terkena stroke, apalagi Abi terkena stroke di batang otak.
Aku sempat ragu-ragu haruskah aku pulang, mengingat amanahku sebagai bendahara ICILI belum selesai, dan ada presentasi yang harus kutampilkan. Namun sebuah kalimat dari seniorku, Bang Ali, membuatku menguatkan tekad: "Pulang! Kamu cuma punya satu bapak! "
Aku memutuskan pulang dan menitipkan semua urusan ICILI kepada orang lain. Aku takut yang terburuk akan terjadi kepada Abi, dan aku tak mau menyesal belakangan. Untungnya, Kelly membantu menggantikan tugasku, dan Bu Ida serta Ghozi menggantikanku presentasi.
Alhamdulillah, ternyata stroke yang diderita abi tidak cukup parah. Dalam beberapa hari saja Abi sudah membaik dan bisa keluar dari Rumah Sakit, padahal stroke kedua biasanya berakibat fatal. Alhamdulillah, Allah masih menyayangi Abi..
Tanggal 9 Desember adalah hari dimana aku mendapat kabar membahagiakan sebagai penutup akhir tahun.
Setelah penantian dengan jantung deg-degan, dzikir panjang yang tak putus-putus, siang itu aku mendapatkan sebuah email.
Alhamdulillah, aku terpilih sebagai salah satu awardee beasiswa LPDP. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Inggris. Rasanya seperti mimpi. Karena aku sadar, tanpa beasiswa, mana mungkin aku yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja ini bisa melanjutkan studi ke Luar Negeri. Ini merupakan anugerah yang tak terhingga bagiku. Sungguh benar pepatah yang digaungkan Ahmad Fuadi di Trilogi Negeri Lima Menara: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.
Insya Allah, bila tak ada halangan, September 2017 aku akan berangkat untuk melanjutkan studi ke Inggris. Aku sadar, melanjutkan studi dengan dibiayai negara adalah sebuah amanah besar. Oleh karena itu, aku bertekad akan menempuh studi master dengan sebaik-baiknya.
Bagiku, 2016 sungguh merupakan tahun yang memberikan pelajaran berarti. Tentu saja, tidak semua kisahku di tahun 2016 ini berakhir bahagia. Ada saatnya dimana aku harus diam menangis karena menerima kenyataan pahit. Ada saatnya dimana aku harus mengikhlaskan apapun yang terjadi. Ada saatnya dimana aku harus belajar menerima diriku dan keluargaku apa adanya. Ada saatnya dimana aku terpuruk dan tenggelam dalam depresi, namun mencoba bangkit demi orang-orang yang kusayangi. Namun, tentunya lebih banyak syukur, lebih banyak karunia yang kudapatkan sepanjang tahun ini. Semua kejadian yang kualami memberikan pelajaran bagiku, agar lebih kuat menghadapi cobaan, dan agar selalu bersyukur terhadap karunia yang telah diberikan Allah kepadaku.
Tahun 2017 telah tiba, semoga tahun ini aku bisa berproses lebih baik daripada sebelumnya, dan bisa mewujudkan impian dan targetan yang ingin kucapai. Dan semoga, Allah memberikan yang terbaik bagiku nantinya.
Selamat berproses!









alhamdulillah, turut senaaang kyaaa :'D
BalasHapus