Kita tidak pernah tahu rahasia Allah...
Baru-baru ini, aku menemukan sebuah benda yang membuatku bertambah yakin akan kebesaran Allah. Akan rahasia-Nya atas semua takdir yang telah ditentukan dalam hidup kita.
Kira-kira setahun yang lalu, aku masih bimbang akan jurusan yang akan ku ambil di PTN nanti. Saat itu, aku masih memilih jurusan akuntansi sebagai pilihan pertamaku, dan psikologi sebagai pilihan keduaku. Aku memilih akuntansi hanya untuk menyenangkan hati keluargaku, dan psikologi kupilih karena saat itu aku begitu berminat mempelajari sifat-sifat seseorang.
Belakangan baru kusadari bahwa aku sama sekali tidak berminat dengan akuntansi. Aku pun tidak begitu cocok untuk masuk psikologi, karena sifatku sendiri yang masih labil dan emosional. Kan kasihan pasienku nanti kalau aku jadi psikolog, hehe.
Di tengah-tengah kebingungan itu, aku menemukan sebuah benda milik kakakku, benda kecil yang lucu. Miniatur jaket kuning UI yang terbuat dari kain flanel. Aku memajang miniatur itu di binder-ku, agar selalu terlihat, sebagai salah satu penyemangatku untuk memiliki versi aslinya. Walaupun warna lambang makara UI yang tertera di jaketnya tidak sesuai dengan yang kuinginkan, aku tetap memajangnya.
Beberapa kali, pilihan jurusanku terus berganti. Aku sempat ingin memilih jurusan komunikasi, tetapi ditentang oleh kakakku, karena katanya orang berkerudung susah mendapat pekerjaan sebagai Public Relation. Akhirnya, aku memilih psikologi sebagai pilihan jurusan pertama.
Beberapa saat kemudian, aku ke UI, aku berkunjung ke Fakultas Psikologi. Ini pertama kalinya aku mendatangi fakultas yang aku inginkan itu. Tetapi, sesampainya disana, aku merasa kecewa. Entah mengapa, aku tidak mendapatkan feel untuk kuliah di fakulas itu. Aku merasa tidak cocok dengan atmosfir kampusnya.
Aku kemudian mendatangi Fakultas Ekonomi. Aku terperangah, jatuh cinta dengan atmosfir FE, jatuh cinta dengan atmosfirnya, dengan gedungnya yang megah, dengan kolam berhiaskan patung makara abu-abu yang terletak ditengah-tengahnya. Hal ini membuatku sangat tertarik, dan berambisi untuk masuk FEUI.
Aku memilih Ilmu Ekonomi sebagai pilihan pertamaku, karena aku tertarik menjadi seorang dosen, dan ekonomi adalah pelajaran favoritku. Aku tadinya ingin memilih psikologi sebagai pilihan kedua, tetapi jurusan itu passing grade-nya terlalu dekat dengan Ilmu Ekonomi, terlalu rawan. Akhirnya, aku memilih Ilmu Hukum sebagai pilihan keduaku.
SNMPTN berlalu, pengumumannya keluar.
Alhamdulillah, aku diterima, walaupun di pilihan kedua. Aku diterima di Fakultas Hukum.
Walaupun, jujur saja, aku sedikit kecewa, tetapi aku menerimanya dengan hati ikhlas.
Aku teringat dengan doaku di malam pengumuman SNMPTN:
“Ya Allah, berikanlah yang terbaik untukku, apapun itu. Seandainya yang terbaik untukku adalah tidak diterima sekalipun, aku ikhlas akan keputusan-Mu itu.”
Ya, aku sudah meminta, dan Allah sudah memberikannya. Yang terbaik untukku adalah kuliah di Fakultas Hukum, apapun yang akan terjadi nanti.
Aku masih mencari-cari, menebak-nebak, kira-kira skenario apa yang telah Allah rancang untukku? Apakah Ia ingin, dengan mempelajari Hukum, aku memperbaiki hukum di Indonesia yang semakin bobrok ini? Haruskah aku menjadi seorang pembela kejujuran, walaupun taruhannya di Indonesia adalah nyawa? Wallahu alam.
Beberapa hari yang lalu, aku sedang membereskan barang-barangku. Aku menemukan kembali miniatur jaket kuning UI yang terbuat dari flanel itu. Aku memungutnya.
Aku mengamatinya dengan seksama, dan aku terperanjat saat menyadari bahwa makara yang tertera di jaket kuning mini tersebut berwarna merah.
Makara merah adalah makara Fakultas Hukum UI.
Selama setahun ini, tanpa pernah kuduga, aku membawa-bawa miniatur jaket kuning dengan makara fakultas yang menjadi fakultasku sekarang. Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Wallahu alam.
Kita tidak akan pernah tahu, apa rahasia-Nya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar