Kamis, 18 Agustus 2011

Alasan Masuk Fakultas Hukum

Assalamualaikum kawan :)
        
Maaf banget baru sempat ngepost sekarang, beberapa hari ini sibuk benget sama OSPEK fakultas hukum alias PSAF, yang tugasnya seabrek-abrek. Bayangin aja, bikin nametag yang susahnye minta ampun, bikin essay 8 halaman ditulis tangan, ada juga bikin essay bahasa inggris empat halaman, tentang demokrasi pancasila, dalam waktu sehari!! Capeeeek. Tapi nggak cuma capeknya sih, ada juga senangnya. Seneng banget pas di akhir PSAF, ada kejutan yaitu peradilan semu. Ruangan disulap kayak ruang sidang beneran, plus kakak-kakak senior yang pakai jubah, jadi hakim sama jaksa. Lengkap dengan palu sidangnya! Wow, aku sampe merinding. Seriously, banyaak banget rasanya yang mau aku ceritain, tapi belum sempat. Maybe next time ya :)
Di sini, aku mau posting salah satu tugas essay-ku. Tentang alasan kenapa aku memilih jurusan hukum. Ehm, sebenernya sih gara-gara nggak diterima IE *nggak deng bercanda hahaha. Ketauan senior, bisa-bisa diusir dari FH :p
Tapi sekarang, sepertinya perlahan-lahan aku mulai mencintai FH, kampusku yang kecil itu, huahaha. Doain ya supaya aku bisa menjadi mahasiswi yang berprestasi di FH :)
But honestly, apa yang saya tulis di bawah ini bukanlah rekayasa. Murni isi hati, haha.
Hope you enjoy reading it! :)
      

Sedari saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya gemar membaca koran dan menonton berita di televisi. Berbagai isi berita saya lahap, mulai dari hiburan sampai ke bisnis, politik, dan hukum.

Saya terkadang suka tertawa miris setiap melihat berita tentang politik dan hukum di Indonesia, terutama hukum. Sungguh lucu hukum di Indonesia, banyak sekali kasus hukum yang terkesan berlarut-larut dan seolah tidak mendapat penyelesaian. Apalagi, jika kasus hukum itu menyangkut nama seorang pejabat tinggi negara, atau orang-orang yang memiliki banyak harta dan kekuasaan. Semua pihak, baik para penegak hukum seperti hakim, jaksa, maupun polisi, terkesan menutup-nutupi kasus hukum tersebut. Bahkan, pers zaman sekarang pun rasanya sangat mudah diatur isi beritanya. Pers mudah saja menghentikan peliputan sebuah kasus hukum apabila mendapat tekanan dari yang berkuasa. Sebagai gantinya, dibuatlah berita pengalihan isu. Karena pers, masyarakat mudah dialihkan perhatiannya sehingga kasus bermasalah tersebut perlahan tidak ketahuan rimbanya.

Saya teringat dengan berita lumpur Lapindo yang sempat heboh beberapa tahun silam. Tepatnya pada tahun 2006, keluar lumpur panas di daerah Porong, Sidoarjo akibat eksploitasi besar-besaran oleh PT Lapindo Brantas. Lumpur itu, sampai sekarang, telah menenggelamkan beberapa desa. Perusahaan milik Aburizal Bakrie tersebut telah merusak negara ini, merugikan banyak rakyat kecil. Seharusnya Aburizal Bakrie dituntut ganti rugi sepenuhnya atas akibat yang ditimbulkan perusahaan miliknya. Akan tetapi, entah mengapa, dalam kurun waktu beberapa tahun, kasus itu seolah menghilang ditelan bumi. Pers pun sunyi senyap, tidak lagi memberitakan perkembangan kasusnya. Mungkin juga, karena sebagian besar media massa sahamnya dimiliki oleh Aburizal Bakrie? Entahlah. Sampai saat ini, belum ada kejelasan nasib para korban lumpur Lapindo.

Saya juga masih ingat dengan skandal di balik kasus bail-out Bank Century. Kasus yang sangat menghebohkan negara ini karena terlibatnya pejabat tinggi negara yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mantan Gubenur Bank Indonesia Aulia Pohan, yang juga besannya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kasus sebesar ini, yang juga merugikan negara sangat besar, kembali seolah hilang ditelan bumi. Para tersangka kejahatan, yang tergolong orang dekat Presiden SBY, seolah tidak bisa tersentuh hukum.

Ya, Indonesia sungguh negara yang sangat lucu. Negara dimana seseorang yang mencuri ayam dapat dihukum 3 tahun penjara, sementara seseorang yang telah merampok negara bermiliar-miliar dapat melenggang bebas, bahkan jalan-jalan ke luar negeri dengan harta hasil rampokan tersebut.

Katanya, Indonesia adalah negara hukum. Tetapi, di manakah hukum sesungguhnya ditegakkan? Dimanakah pengaplikasian dari sila kedua pancasila: “kemanusiaan yang adil dan beradab”?

Jujur, sesungguhnya saya merasa malu. Amat sangat malu dengan hukum di Indonesia yang sedemikian buruk citranya. Tetapi saya menyadari, rasa malu tidak akan mengubah apa-apa. Harus ada tindakan konkret dari kita sebagai warga negara, agar bisa memperbaiki hukum di Indonesia yang sedemikian rusaknya.

Saat saya memilih kuliah di jurusan hukum, keputusan ini dipertanyakan oleh beberapa orang. Mereka mengkhawatirkan masa depan saya.

“Kenapa kamu masuk hukum? Kamu tahu sendiri kan hukum di Indonesia kotor. Mau jadi apa kamu? Hakim? Hakim jaman sekarang mudah diatur vonisnya. Sekalinya kamu mencoba menjadi hakim yang adil, nyawamu akan diincar oleh orang-orang yang membenci sikap adilmu. Mau jadi jaksa? Jaksa sangat mudah disogok. Orang baik-baik dituntut sangat berat, sementara para mafia dituntut seringan-ringannya. Mau jadi pengacara? Membela siapapun yang bayar, tidak peduli benar atau salah, yang penting mereka dibayar mahal. Mau jadi apa kamu? Ingat, kamu hidup di negara Indonesia!”

Ya, saya tahu saya hidup di Indonesia. Saya tahu hukum di Indonesia sekotor apa. Tetapi saya menyadari, mengindari sesuatu yang tidak kita sukai tidak akan akan menyelesaikan masalah. Jika semua orang bersih dan jujur menolak masuk ke dunia hukum karena tidak mau terpengaruh kotornya, kapan hukum di Indonesia akan bersih? Jika kita tidak mempelajari dan memahami hukum itu sendiri, bagaimana cara kita menuntut keadilan hukum?

Mungkin, cita-cita saya sama sekali tidak berhubungan dengan hukum. Saya bercita-cita menjadi seorang dosen, seorang pendidik bagi para penuntut ilmu. Saya ingin mewariskan cita-cita saya memperbaiki hukum di Indonesia kepada anak-anak didik saya kelak. Kepada para calon jaksa, hakim, maupun pengacara, agar kelak mereka bisa menegakkan hukum yang jujur dan adil di Indonesia ini.

Semoga saja, cita-cita ini bukan sekedar idealisme masa muda saya. Semoga ini akan terus menjadi pedoman hidup saya, dan saya tetap istiqomah menjalankannya. Semoga semua kawan-kawan saya sesama mahasiswa hukum memiliki impian yang sama dengan saya untuk meluruskan hukum di Indonesia. Karena, kami semua adalah para pemimpin masa depan.

Seperti dalam kata-kata mutiara favorit saya:

“Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar