Jumat, 07 Oktober 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 1)

Assalamualaikum fellas! Long time no see~

Kali ini, aku akan menceritakan perjalananku ketika berpetualang ke Malaysia dan Thailand selama seminggu untuk melakukan penelitian. 
Ceritanya, suatu hari dibuka pengajuan proposal penelitian dari kampus. Melihat peluang yang ada, aku, Ghozi, Bu Ida, dan Bang Heru memasukkan proposal penelitian dengan tema perbandingan kebijakan mengenai produk Halal di Indonesia dengan Malaysia dan Thailand. Tak disangka, proposal kami terpilih sehingga kami melaksanakan penelitian dengan bertemu para akademisi dan pemangku kebijakan di negara masing-masing. Perjalanan kami dimulai pada hari Senin, 15 Agustus 2016.  

Senin pagi kita sudah berkumpul di kampus. Tiket Malindo Air dengan destinasi Kuala Lumpur sudah di tangan, dibooking jauh-jauh hari sebelumnya (harganya sekitar Rp500 ribuan seorang). 
Tadinya, aku sudah menyiapkan koper ukuran besar untuk perjalanan seminggu ini. Sayangnya, saat H-1 berangkat aku baru menyadari kalau koperku (yang besar) rodanya hanya dua, artinya mobilitasnya akan sangat terhambat mengingat aku akan berpindah-pindah hotel beberapa hari. Dengan berat hati, akhirnya aku membawa koper dengan ukuran jauh lebih kecil yang sebelumnya kugunakan untuk outing kantor ke Belitung. Keputusan yang kusesali akhirnya, karena koper itu hanya dapat memuat tujuh stel pakaian, itu pun sudah dipress sedemikian rupa.

Kami berangkat dengan diantar supir Ghozi ke Bandara Soekarno Hatta. Setelah sempat mengalami delay, pesawat kami akhirnya lepas landas jam dua siang. Tiga jam perjalanan tidak terasa, Kami sampai di bandara bersamaan dengan waktu maghrib. Namun waktu Malaysia sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Rupanya, perbedaan waktu antara Malaysia dan Indonesia adalah satu jam. Loh kok bisa? Bukannya Indonesia dan Malaysia berdekatan ya?

Ternyata, menurut bang Heru, perbedaan waktu Indonesia dan Malaysia hanyalah masalah politik, untuk membedakan batas wilayah antar negara. Selangkah saja memasuki perbatasan Malaysia, maka waktu akan berubah. Padahal secara geografis kondisinya sama saja. Lucu aja, jam 7 di Malaysia baru mau maghrib dan langit masih terang.

Bandara Malaysia sudah sangat canggih. Dari bandara Internasional KLIA di daerah Sepang, kami naik MRT yang membawa kami ke terminal penjemputan. Bandara KL luar biasa bagus, aku merasa seperti sedang berada di dalam mall saja. Di bandara, Bang Heru membeli simcard Malaysia agar bisa mengontak Cik Azril, kenalan Bang Heru yang rencananya akan menjemput kami. Aku tertawa-tawa membaca keterangan di papan-papan petunjuk yang berbahasa Melayu, yang bila dibaca artinya sangat lucu. Misalnya toilet menjadi kamar tandas, atau kamar ganti menjadi bilik salin, dan gratis bahasa melayunya adalah percuma.

Di tempat penjemputan bandara, ternyata Cik Azril dan kawannya sudah menunggu kami. Cik Azril adalah advokat Malaysia yang lumayan sering berkunjung FHUI. Di suatu saat aku beruntung berkesempatan berbincang-bincang dengan Cik Azril mengenai kondisi Islam di Malaysia yang mengikuti tren di Indonesia, mulai mengarah kepada sekulerisme. Cik Azril adalah ketua CENTHRA, lembaga bantuan hukum Malaysia yang memperjuangkan nilai-nilai Islam.

Kami naik mobil Cik Azril dan dibawa ke sebuah masjid untuk sholat. Masjid di Malaysia sangat bagus, besar dan bersih. Hanya saja culture shock pertama mulai muncul saat melihat toilet; sprinkle untuk membasuh di toilet Malaysia bentuknya seperti selang, tidak seperti di Indonesia yang berbentuk semprotan.

Dari sana, kami menuju sebuah rumah makan khas India yang terletak di wilayah dekat Putrajaya. Cik Azril dengan murah hati mentraktir kami makan malam dengan nasi kebuli ayam. Satu nampan besar datang dengan beras kuning dan tujuh buah ayam besar-besar beserta beberapa mangkuk berisi kuah kental kecoklatan. Beras yang digunakan adalah beras basmati yang berbulir panjang-panjang. Kuperhatikan, rumah makan halal di Malaysia kebanyakan adalah yang menunya berasal dari India atau Timur Tengah. 


Tahap pertama penelitian: tes produk halal di pasaran


Sehabis makan, kami berkunjung ke kantor Centhra di daerah Putrajaya. Sayangnya kantor sudah dikunci, namun kami sempat berfoto di depannya. Sepulangnya dari sana, Cik Azril meminta sopirnya mengantarkan kami ke hotel kami di KL Sentral.

Kami sampai di hotel dan membawa koper ke kamar kami di lantai 13. Baru kali ini aku menemukan hotel dengan lantai 13, rupanya orang Malaysia nggak percaya takhayul ya, hehe. Kamarku dan Bu Ida berisi dua kasur, namun kamarnya terlihat agak kumuh. Aku agak terkejut melihat kamar yang sangat sederhana untuk rate harga 170 Ringgit (sekitar 600 ribu rupiah) sehari, padahal kamar yang kami pilih lebih luas daripada kamar Bang Heru dan Ghozi. Namun kami tak sempat protes, karena yang ada di pikiran kami saat itu hanyalah bersih-bersih dan tidur.

Pagi hari menjelang. Azan subuh berkumandang di saat jam menunjukkan angka enam. Namun, pemandangan di luar tak ubahnya pemandangan di Indonesia jam empat atau jam lima pagi. 
Kusibakkan gorden kamar, dan melihat daerah KL Sentral dari jendela kamar kami di lantai 13. Baru kusadari, hanya sepelemparan batu dari hotel kami berdiri stasiun LRT KL Sentral. Kulihat monorel bolak balik melintas diatas rel besi.

Kami turun dan menyantap sarapan dengan nikmat. Makanan di hotel tak jauh beda dari makanan semalam, nasi dari beras basmati yang butirnya panjang-panjang, roti prata beserta kari, dan scramble egg.

Hari pertama, agenda kami adalah menuju Universiti Malaya untuk mengikuti confrence. Bu Ida dan Bang Heru akan mengikuti konfrensi yang diadakan UM untuk membahas relasi Indonesia-Malaysia.
Kami naik taksi dari hotel KL sentral menuju UM. Walaupun taksi memiliki argo, sopir menolak untuk menggunakan argo sehingga harus tawar menawar terlebih dulu. Disepakatilah harga 20 RM untuk perjalanan dari hotel ke Universiti Malaya.

Universiti Malaya berada di kompleks yang sangat luas, jauh lebih luas daripada UI. Antar fakultas yang jaraknya cukup jauh dapat ditempuh dengan menggunakan bis kampus. Saat itu ternyata sedang libur kuliah, sehingga kampus agak sepi. Hanya sesekali bis melintas, ternyata ada kompetisi olahraga antar Universitas yang diselenggarakan di UM.

Sambil menunggu Bu Ida dan Bang Heru mengikuti konfrensi, aku dan Ghozi menuju perpustakaan, ingin mencari buku referensi untuk penelitian kami. Namun kami kecewa karena di perpustakaan yang cukup besar itu dipungut biaya sebesar 21 RM per orang (kurs Ringgit 3500, jadi sekitar 73 ribu rupiah) apabila ingin memasuki perpustakaan sepuasnya. Mahal jugaaa. Karena kami di UM hanya beberapa jam saja, kami mengurungkan niat untuk masuk ke perpustakaan. Akhirnya kami berfoto-foto di depan perpustakaan aja *sempet-sempetnya narsis wkwk. Baru kusadari, karena saat itu bulan Agustus yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Malaysia, di sepanjang jalan tergantung bendera Malaysia.



Bang Heru dan Bu Ida keluar dari ruangan tempat confrence dan mengajak kami menuju destinasi selanjutnya, bertemu dengan Ustadz Ruslan Said, salah satu ulama dari JAKIM (MUI-nya Malaysia). Kami bertemu Ustadz Ruslan di daerah Masjid Negara. Kami berbincang-bincang dengan Ustadz Ruslan mengenai kondisi Islam di Malaysia sambil makan siang di sebuah kedai. Ustadz Ruslan menyarankan kami untuk menghubungi divisi bagian halal di kantor pusat JAKIM di daerah Putrajaya. Kami pun mengagendakan untuk mengunjungi JAKIM hari Kamis. Tak lupa kami berfoto bersama sebelum berpisah dengan Ustadz Ruslan.



Setelah itu kami menuju Masjid Negara untuk sholat dzuhur. Setiap masjid di Malaysia memiliki jadwal khusus untuk wisatawan. Setiap waktu sholat, masjid ditutup bagi wisatawan yang beragama bukan muslim karena akan dilaksanakan ibadah. Saat aku datang, turis-turis tampak sabar menunggu waktu sholat berakhir di depan masjid.



Rupanya, setiap orang yang memasuki masjid harus mematuhi adab syariat. Orang-orang yang mengenakan baju pendek atau ketat diwajibkan mengenakan jubah khusus yang telah disediakan untuk menutup aurat. Bahkan sekalipun pengunjung memakai kerudung, bila bajunya ketat atau mengenakan celana (ala-ala hijabers di Indonesia), mereka tetap diwajibkan mengenakan jubah. Warna jubah dibedakan antara muslim dengan non muslim, rupanya untuk membatasi agar pengunjung tidak mengganggu orang-orang yang sholat. Lucunya, wisatawan terlihat sangat fashionable dengan jubah ungu ala-ala Hogwarts school itu. Dengan gembira turis-turis bule dan chinese berfoto-foto di sudut masjid dengan jubah lucu itu.

Jubah Ungu ala-ala. Sumber: Themalaysianreserve.com

Aku tertakjub-takjub melihat bagaimana cara Malaysia mempromosikan Islam melalui masjid-masjid yang mereka punya. Di setiap sudut masjid ada penjelasan mengenai Islam dengan bahasa yang sederhana; misalnya mengapa umat Islam sholat, dan apa saja rukun Islam. Setiap petunjuk tertera dengan tiga bahasa: Melayu, Inggris, dan Chinese.
 Di sudut yang lain, aku menemukan rak brosur penuh dengan penjelasan mengenai Islam. Brosur ini tersedia pula dengan berbagai versi bahasa, sampai bahasa Jepang dan Korea pun ada. Brosur yang kubaca memaparkan Islam dengan cara yang mudah dipahami dan membujuk; pokoknya bikin adeem deh. Beginilah cara Malaysia berdakwah: tidak menggurui, tidak menggunakan cara lakukan-ini-atau-kamu-masuk-neraka. Mereka berdakwah dengan mengedukasi, bahkan menjelaskan dengan mematahkan stigma-stigma tentang Islam yang selama ini ada. Salah satu brosur yang ada berjudul "Marry only one: Polygamy is neither obligatory nor encouraged in Islam." Kami tertawa-tawa membacanya dan menunjukkannya kepada Bang Heru.
Narsis di depan rak brosur bersama penjaga Masjid Negara


Dari Masjid Negara, kami berjalan kaki menuju ke Museum Kebudayaan Islam. Aku baru tahu, museum-museum di Malaysia terletak di satu komplek yang berdekatan dengan Masjid Negara. Selain Museum Kebudayaan Islam ada museum-museum lain yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki. Museum Kebudayaan Islam sangat menarik, banyak paparan mengenai sejarah Islam secara umum dan sejarah Islam di Malaysia khususnya, dan juga sejarah Nusantara seperti kerajaan Islam di Samudra pasai.

Puas mengelilingi Museum, kami menuju destinasi selanjutnya: Twin Tower alias Menara Petronas dong! Belum dibilang ke Malaysia kalau belum foto di depan twin tower yang ngehitz itu. Sempat bingung menentukan jalan, akhirnya kami naik kereta dulu ke stasiun KL Sentral, baru berganti transportasi naik LRT ke stasiun KLCC. Aku terperangah melihat stasiun KL Sentral yang besar, padat dan sangat modern, tak ubahnya bandara Malaysia. Kami membeli tiket LRT di mesin otomatis yang mengeluarkan koin-koin plastik. Saat akan memasuki stasiun, kami tinggal menempelkan koin tersebut di mesin scanner untuk membuka gate. Di stasiun tujuan, kami memasukkan koin tersebut ke lubang seperti celengan di mesin untuk membuka gate.

Saat itu jam rush hour, sehingga stasiun padat oleh orang-orang yang kuduga habis pulang kerja. Aku memperhatikan pakaian beberapa wanita Malaysia, dan kebanyakan dari mereka mengenakan baju kurung, yaitu blus panjang yang mencapai lutut dan rok di bawahnya. Walaupun beberapa motif baju kurung menurutku bukan seleraku banget, ada perasaan adem melihat wanita-wanita berbaju kurung berlalu-lalang.

LRT datang, dan ternyata LRT itu penuh sesak. Aku, Bu Ida, dan Bang Heru berhasil masuk ke dalam LRT, namun Ghozi yang paling belakang tertinggal dan pintu LRT langsung menutup. Aku sempat panik mengingat tidak ada sarana komunikasi bagi kami bila Ghozi tersasar. Dari balik pintu LRT yang tertutup Ghozi mengisyaratkan kami untuk bertemu di stasiun tujuan, stasiun KLCC. Kami mengangguk lega.

Kami sampai di stasiun KLCC, dan menunggu Ghozi yang datang dengan kereta selanjutnya. Dari bawah tanah kami menaiki eskalator dan tiba di tengah-tengah Mall. Kemudian kami menyeberang ke gedung di depan Mall tersebut yang tak lain adalah gedung Menara Twin Tower. Bang Heru menyarankan untuk berfoto dengan Twin Tower sehabis gelap karena konon Twin Tower di malam hari lebih cantik. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat dan makan dulu. Kami ke food court di Mall dan mulai mencari-cari makanan yang tersedia. Kebanyakan menu yang ada adalah nasi lemak dan laksa, makanan khas Malaysia. Bang Heru memilih makan Nasi Lemak beserta lauk pauk Ikan. Bu Ida memilih laksa. Aku dan Ghozi setelah berputar-putar bingung memilih makanan akhirnya mentok di satu restoran Indonesia yang menjual ayam penyet. Total makanan dan minuman yang kita beli kira-kira 24 ringgit, jadi satu orang bayar 6 ringgit. Kenyang makan, kami turun menuju dasar Twin Tower. Di depan Twin Tower sudah ramai dengan orang-orang yang berfoto dengan latar Twin Tower. Kami pun bersiap berpose.


Nggak foto nggak heitz


(Bersambung ke postingan selanjutnya)

Jumat, 15 Juli 2016

QS 55:13

“Nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan?”

Rabu, 14 Juli 2016, begitu tanggal yang tertera di kalender yang kulirik. Hari masih pagi, dan aku baru sampai di kantorku yang tak lain tak bukan adalah almamater tempatku menuntut pendidikan tinggi.

Kubuka laptop merahku dan menyalakannya. Hal pertama yang kulakukan saat koneksi internet terhubung dengan laptopku adalah membuka e-mail.

Jantungku berdegup melihat e-mail dengan subject “Durham University Offer” di inbox. Bergegas kugerakkan kursor untuk melihat isi email, dengan mulut komat-kamit merapal bismillah.

“Dear Iffah Karimah,

I am delighted to inform you that we are happy to make you an offer on your chosen postgraduate programme at Durham University.  Please find attached your offer letter.......”


Alhamdulillah! Hatiku bersorak riang. Tak hentinya aku mengucap syukur, karena application yang kukirimkan ke Durham University sebulan yang lalu membawa kabar gembira. Dua minggu sebelumnya, aku mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari SOAS University of London, namun LoA tersebut masih bersifat Conditional karena aku belum memenuhi syarat IELTS (skor writing-ku 6.0, kurang 0.5 dari syarat untuk masuk Law School. Law School memang kejam). Selain itu, jauh di lubuk hatiku aku masih menanti-nanti kabar gembira dari Durham University karena sejak dulu aku menargetkan untuk melanjutkan S2 ke Durham, yang merupakan Universitas nomor satu dalam hal riset ekonomi syariah. Lambang Durham University beserta foto-foto khas Inggris seperti Big Ben dan Double Decker menghiasi wallpaper laptopku, sebagai pemacu bagiku untuk mencapai cita-citaku.

Alhamdulillah, jalan untuk meraih cita-cita melanjutkan S2 mulai terbuka sedikit-demi sedikit..

Aku ingat beberapa bulan (atau mungkin tahun) yang lalu, ketika kulihat satu demi satu senior dan teman-temanku berkesempatan melanjutkan studi di luar negeri. Perasaan kagum, iri, bercampur insecure mulai menghampiriku. Tapi, iri dalam hal kebaikan—atau prestasi merupakan hal yang baik bukan?

Satu persatu, teman-teman sepermainanku mulai mendapatkan kesempatan berkuliah di luar negeri. Seperti Reiput yang mendapatkan Universitas di Belanda, Muthi yang mendapatkan Universitas di Jerman, dan  Upi yang mendapatkan Universitas di Jepang. 

Perasaan insecure semakin menyelimuti dan menekan, yang ujung-ujungnya setan mencari cara untuk membuatku merasa tidak bersyukur. Kenapa aku masih begini-begini saja? Sepertinya aku tertinggal jauh dari teman-teman yang lain. Bagaimana mungkin aku melanjutkan cita-cita menjadi dosen kalau belum dapat kuliah? Stressku bertambah dengan pertanyaan yang berdatangan dari para dosen, “Kapan kamu lanjut kuliah? Kapan nikah?" *lohh

Namun suatu saat aku menyadari, mengapa teman-temanku sudah mendapatkan sekolah dan beasiswa sementara aku belum.

Mengapa? Karena usaha yang kami lakukan berbeda jauh. Muthi dan Reiput bersama-sama teman satu liqo-nya sudah sejak lama pontang-panting kesana kemari mengurus berkas application Universitas dan beasiswa. Upi sudah sejak zaman mahasiswa mengincar setiap kesempatan untuk ke luar negeri. 

Sementara aku? Mengikuti les IELTS saja masih ogah-ogahan, berkas aplikasi sama sekali belum disentuh. Apalagi berkas beasiswa. 

Ibaratnya suatu perjalanan, tujuan kami sama yaitu ingin melanjutkan S2 di luar negeri. Namun, tentulah orang yang lebih siap dengan perbekalan dan persyaratan akan lebih dulu mencapai tujuan dibanding orang yang baru berniat-akan-memulai-perjalanan, dengan ogah-ogahan pula.

Terkadang, kita menilai segala sesuatu hanya dari hasilnya, tanpa tahu ada cerita panjang dan perjuangan dibaliknya.

Mungkin kita tidak tahu, dibalik foto-foto seru di instagram senior yang sedang Euro-trip, ternyata mereka habis melampiaskan rasa lega setelah setahun berjuang mati-matian bagai di neraka dengan kuliah berbahasa inggris dan persaingan serta sistem pendidikan yang jauh berbeda dibandingkan dengan Indonesia. 
Mungkin kita juga tidak tahu bahwa dibalik senyum bahagia seorang penerima beasiswa, ada perjuangan panjang berkali-kali mengikuti seleksi dan gagal, berlatih bahasa Inggris, dan membuang kesempatan bekerja demi mengejar beasiswanya. 
Kita tidak tahu bahwa ada awardee LPDP yang harus mengambil tes IELTS sampai lima kali agar dapat memenuhi syarat. Semua itu memakan waktu, usaha, dan tentunya biaya.

Aku pun sempat down dan merasa tidak bersyukur ketika seseorang yang kukabari bahwa aku mendapat LoA, berkata, “Oh, baru dapet LoA? Dapet LoA mah gampang, yang susah itu dapet beasiswanya.” Rasanya, segala usahaku tidak ada artinya. Lagi-lagi aku diserang oleh monster-merasa-tidak-bersyukur. Lalu kembali membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang kuanggap lebih sukses.

Namun bila kutengok ke belakang, ada langkah-langkah panjang yang telah kulalui. Les bahasa inggris dan tes IELTS yang memakan biaya, revisi motivation letter, mengejar-ngejar dosen untuk recomendation letter, dan menyiapkan berkas-berkas. Tentu semua itu memberikan pelajaran bagiku, bahwa harus ada upaya keras untuk mencapai suatu hasil. Aku merasa bersyukur karena setelah mendapatkan LoA, aku telah memenuhi salah satu syarat untuk kuliah di luar negeri.

Tentunya, perjuanganku belum berakhir saat ini. Aku masih di setengah perjalanan. Masih panjang perjuangan yang harus kulalui agar bisa mendapatkan beasiswa dan benar-benar berangkat menuntut ilmu ke Inggris, negeri impian. 

Namun tulisan ini kubuat sebagai pengingat, untuk mengusir dikala monster-tidak-bersyukur kembali menyerang. Tentunya juga sebagai pengingat agar aku selalu merasa bersyukur terhadap nikmat apapun yang aku dapatkan, bukan malah mengeluh. 

Aku bertekad tidak akan membanding-bandingkan nasibku dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Dan orang yang pada akhirnya berhasil mencapai tujuannya adalah orang yang memiliki tujuan dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya.

“Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil”
Man Jadda Wajada!


*PS: Mohon doanya semoga aku mendapatkan beasiswa dan bisa berangkat S2 ke luar negeri ya!

Rabu, 29 Juni 2016

Alhamdulillah :)


Bersyukur dulu.....


...baru mikirin cari beasiswanya belakangan.

Still, alhamdulillah :)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Rabu, 11 Mei 2016

Menghapus Sesak

Akhir-akhir ini, laptop kesayanganku sering mengalami error.
Seringkali macet sendiri,
lalu mendadak mati.
Khawatir pekerjaanku terhambat,
kucari tahu mengapa laptopku bermasalah.

Tenyata, kapasitas laptopku terlalu penuh karena banyak file yang kusimpan.
Tentu saja laptopku penuh karena data yang kumiliki
sejak awal aku memiliki laptop lima tahun yang lalu.

Kemudian kubuka folder-folder lama.
Kuhapus beberapa file yang menumpuk.

Jujur sulit bagiku menghapus beberapa file
karena ada nilai sentimentil dan kenangannya,
walaupun file tersebut sesungguhnya sudah tidak berguna.
Namun aku mencoba menghapus file-file lama tersebut
agar komputerku bisa berjalan dengan lancar.

Benar saja, setelah kuhapus file-file lama,
laptopku dapat digunakan dengan lancar.
Laptopku juga memiliki ruang yang lebih luas
untuk kugunakan menyimpan file di masa yang akan datang.

Begitu juga dengan hati dan pikiran kita.
Terkadang, ada beberapa hal yang harus dibuang dari memori,
karena sudah tidak diperlukan lagi.
Jika tidak, hidup kita tak akan berjalan lancar dan berhenti di tempat,
seperti yang terjadi pada laptop yang macet.

Cobalah tengok sebentar ruang hati dan ruang kenang,
singkirkan segala sesuatu yang sudah tak penting.
Rasa dendam, penasaran, sakit, kecewa yang pernah ada di masa lalu.
Ikhlaskanlah semuanya. Lepaskan.
Lalu kau akan merasakan hidupmu lebih lapang,
dan siap untuk menyambut masa depan.

Cerita dari Balik Meja Loket

Kerja di Biro Pendidikan (birpen) Fakultas membawa cerita tersendiri bagi saya.

Dulu, bagi saya, birpen hanyalah tempat singgah sebentar untuk menandatangani absen kelas, membuat surat perizinan, melihat jadwal ujian, dan akhirnya mengambil ijazah.
Namun bekerja di birpen memberikan perspektif yang sama sekali berbeda. Melihat cerita mahasiswa yang bermasalah menjadi pembelajaran tersendiri buat saya.

Pernah saya temui mahasiswa yang begitu arogannya, meminta dibuatkan sebuah surat untuk selesai saat itu juga. Karena tak sabar, ia memaki salah satu petugas birpen, "Saya disini udah bayar mahal pak, 30 juta per semester! Nggak murah itu pak, 30 juta! Kok pelayanannya jelek banget!"
Saya mengutuk mahasiswa itu, "Bayar ndasmu. Duit mama papa aja belagu." Dalam hati tentunya, hehe.

Sedihnya, karena program internasional memang biaya per semesternya lumayan mahal, beberapa oknum mahasiswa merasa bisa berbuat sekehendak hati karena merasa "Gue udah bayar mahal". Manner atau sopan santun ke orangtua pun tidak ada. Well, money absolutely cannot buy manners.

Dengan sabar, bapak petugas yang dimaki itu menjawab, "Saya tau mas, 30 juta itu besar. Gaji saya berbulan-bulan pun belum tentu bisa buat bayar kamu semesteran. Tapi peraturan di sini memang begitu, kalau surat harus sehari baru bisa jadi. Suka tidak suka, kamu harus nunggu sampai suratnya selesai."
*tepuk tangan buat pak birpen*

Salah satu kisah unik adalah mahasiswa WNA yg sempat dicari-cari karena "menculik" pacarnya yang mahasiswa jurusan lain.

Alkisah, suatu hari sepasang orangtua datang ke kampus menanyakan kabar seorang mahasiswa WNA. Konon, anak gadis mereka yang merupakan pacar mahasiswa ini sudah dua bulan tidak pulang ke rumah, bahkan saat Lebaran. Sang orangtua curiga bahwa anak mereka melarikan diri dari rumah karena hamil.

Setelah kami mencoba menghubungi sang mahasiswa, ternyata dia ada dan menjawab dengan santai bahwa sang pacar ada di rumahnya selama dua bulan terakhir ini.

Saya berpikir keras, *dua bulan tinggal di rumah? Itu udah ngapain aja ya?*

Rupanya akibat culture shock, sang mahasiswa WNA tidak sadar bahwa samen leven is morally and culturally forbidden di Indonesia. Di negara dia sih santaai.
Akhirnya sang anak dikembalikan kepada orangtua. Entah apa sanksi bagi mahasiswa, sayangnya zina antara dua orang yang belum menikah tidak bisa dipidana di Indonesia. Jadi sang mahasiswa tidak bisa diproses secara hukum.

Plot twist: orangtua sang anak yang hilang adalah orang salafi (yang kerudungnya bercadar). Sedih.

Kisah lain yang paling sering saya temui adalah mahasiswa yang bermasalah secara akademik. Kasus mahasiswa-mahasiswa ini mendominasi hari-hari di biro pendidikan. Berdasarkan pengamatan sotil saya, hampir semua mahasiswa yang bermasalah secara akademik bukannya kurang cerdas, tapi kebanyakan masalahnya karena salah jurusan.

Ada seorang mahasiswa tingkat akhir yang sudah berkali-kali tidak lulus mata kuliah. Dari obrolan saya dengannya, saya baru tahu bahwa sesungguhnya passionnya mahasiswa tersebut bukan di jurusan Hukum. Ia sebenarnya sangat ingin bekerja di bidang pertanian, namun orangtuanya memintanya berkuliah di jurusan ini. Akibatnya, mahasiswa ini menjadi mahasiswa abadi. 

Konon, kesempatannya hanya tinggal satu semester lagi agar tidak di Drop Out di semester 12.

Kasus lain adalah sepasang orangtua yang mendatangi birpen dengan muka shock setelah mendatangi rapat evaluasi tahunan. Mereka terkejut bukan kepalang saat mendengar kabar anak kesayangan mereka ternyata sudah dua semester tidak masuk kuliah dan semester ini terancam DO.

"Padahal setiap pagi pamit ke kami berangkat kuliah, pak." tutur sang Ibu kelu.
Suatu saat sang Ibu mengantar anaknya ke kampus dengan mobil, sang anak meminta diturunkan bukan di fakultas, namun di perpustakaan dengan alasan ada kerja kelompok terlebih dahulu di perpustakaan.

Uang kuliah dua semester selalu dibayarkan oleh orangtua, uang jajan rutin diberikan setiap hari, namun batang hidung sang anak tak pernah tampak di kampus.
Baru saat surat panggilan dari kampus datang, sang anak baru mengakui kepada orangtuanya bahwa sejak dulu ia tidak pernah ingin berkuliah di jurusan ini (setelah 12 semester baru bilang? Helloo), namun tidak berani menyampaikannya ke orangtuanya karena takut mereka marah.

Memandangi wajah orangtua tersebut, saya merasakan perih di dalam dada. Kenapa ada anak yang tega menipu orangtuanya sendiri?

Sang orangtua pun bukannya konglomerat yang tajir melintir, melainkan pekerja biasa yang setiap bulannya rela menyisihkan dana yang tidak sedikit untuk membayar biaya pendidikan anak yang mereka sayang.
Inikah balasan dari anaknya?

Dengan getir, kedua orangtua tersebut meminta surat pengunduran diri dari kampus bagi anaknya. Setidaknya dengan mengundurkan diri, sang anak masih berkesempatan untuk melanjutkan kuliah di Universitas swasta untuk setidaknya meraih gelar.

Semoga, kali ini ia memilih jurusan yang benar-benar ia inginkan.

Cerita terakhir adalah cerita yang paling membuat saya sesak nafas.

Alkisah, suatu saat datanglah sepasang bapak dan ibu yang terlihat kebingungan ke birpen. Mereka mengenakan pakaian rapi, berusaha tampil formal walaupun sederhana. Dari raut wajahnya, sepertinya mereka berasal dari luar pulau Jawa.

Mereka bertanya apakah benar hari ini adalah hari wisuda? Sebab anak mereka mengabari mereka bahwa hari ini adalah hari wisudanya, dan meminta mereka untuk datang.
Petugas birpen kebingungan mendengar pertanyaan tersebut, karena hari itu bukanlah hari wisuda.

Setelah mengecek nama sang mahasiswa di database kampus, ternyata nama anak mereka sudah sejak dua tahun yang lalu tidak terdaftar sebagai mahasiswa.

Sang orangtua tidak percaya. "Tidak mungkin pak. Setiap bulan kami selalu mengirimkan uang untuk biaya pendidikan dan kos anak kami di sini. Bulan lalu anak saya meminta uang tambahan untuk membeli buku-buku."

"Tapi bu, anak ibu sudah sejak lama tidak terdaftar di data kami. Ia sudah bukan mahasiswa kami lagi."

"Saya tidak percaya, pak. Dia sendiri yang menelepon, meminta kami datang hari ini karena katanya ia akan wisuda." Sang orangtua denial, masih tak bisa menerima kenyataan.

Akhirnya, orangtua dan petugas berusaha menghubungi sang anak. Namun, sang anak tidak pernah mengangkat teleponnya, entah dimana ia.


***

NB: Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi sama sekali.
Saya tahu, terkadang tidak semua hal dalam kehidupan kita berjalan lancar, termasuk dalam menghadapi kegiatan perkuliahan. Ada banyak faktor yang menyebabkan akademis seorang mahasiswa bermasalah.
Namun, ada satu pesan saya bagi mahasiswa yang bermasalah. Tolong, jangan sekali-sekali berbohong kepada orangtua kalian. Jujurlah kepada mereka. Hadapilah masalah kalian bersama dengan mereka, bukan malah menyembunyikannya dari mereka.
Sudah cukup bagi saya melihat pedih di mata orangtua yang dibohongi anaknya sendiri.

Jumat, 29 Januari 2016

Ketidakjujuran


Sore itu, saya pergi ke J.CO Margo City, mau membeli donat untuk adik-adik saya. Sesampainya di antrian, saya memilih-milih donat yang akan saya beli.
"Berapa mas harga donat satu lusin?" tanya saya. 
"76 ribu, mbak." Sahut mas-mas yang berjaga di balik counter. 

Saya memutuskan membeli donat yang selusin. Mas-mas J.CO tersebut sempat menawari saya paket lain yang sedang promo yaitu paket J.CO campur J.Pops, tapi saya tolak dengan sopan karena dari awal memang mau membeli donat biasa saja.

Sesampainya di kasir, seorang mbak-mbak berkata, "Mbak dapet croisant nih, mau yg keju apa yg cokelat mbak?"

Tanpa pikir panjang saya berkata "Keju aja." sambil mikir, lumayan dapet bonus croisant hehe. 
Saat mbaknya selesai menghitung, saya memperhatikan layar monitor. Mendadak ada tulisan "Croisant Cheese" masuk dalam bill saya.

"Totalnya 91 ribu ya mbak." Kata mbak-mbak kasirnya.

Saya tersentak kaget. "Loh,  bukannya 76 ribu ya mbak? Tadi saya tanya harga donat selusin cuma segitu."

"Kan sama croisant mbak.." Mbak itu terlihat ragu-ragu menjelaskan.

Saya merasa ditipu. Seingat saya,  tadi katanya croisantnya gratis. Kenapa tiba-tiba harus bayar? 

"Abort aja croisantnya." Tegas saya.

"Tapi nggak bisa di abort mbak.." suara Mbak-mbak kasir itu terdengar ragu-ragu.

"Loh kok begitu? Orang saya nggak pesan croisant kok." Jawab saya sambil menatap Mbaknya tanpa rasa takut.

Sebenarnya nggak tega juga sih jutek begini,  karena mbak-mbaknya mulai berkaca2 matanya kayak mau nangis. Tapi kelihatannya dia nggak mau memperpanjang masalah karena orang-orang yang mengantrian di belakang saya mulai menengok dan berbisik-berbisik. 
Saya nggak bergeming, ini hak saya sebagai konsumen kok. Saya udah "dikecoh" biar beli croisant, padahal saya nggak mau beli croisant itu. 

Akhirnya sang kasir berkata, "Yaudah 76 ribu aja mbak." Sambil menyerahkan bon dan kembalian. Tak lupa saya ucapkan terima kasih walaupun mata mbak itu menghindari saya, wajahnya terlihat kesal dan marah.  

Sesampainya di kereta, saya baru cek ternyata bill tagihan saya masih 91 ribu (tentunya croisantnya nggak saya bawa pulang), tapi kembaliannya sesuai dengan total belanjaan asli saya. 
Artinya, si mbak-mbak emang nggak mengabort dan mgkn memutuskan untuk membayar sisa belanjaan saya dengan uang entah darimana.

Penipuan belanja seperti ini emang umum, dengan kata-kata manis seolah-olah konsumen dapet bonus, mereka diam-diam menyelipkan barang tambahan ke dalam belanjaan kita yang sebenarnya nggak mau kita beli. 
Kebanyakan konsumen mungkin tidak sadar, baru sadar setelah sampai rumah dan mengecek bonnya. Apalagi, J.CO tempat saya belanja merupakan bakery yang pasarnya adalah konsumen kelas menengah ke atas, tentu para konsumen tidak mempedulikan selisih yang mendadak kurang ketika menerima kembalian.

Bagi saya, bukan nominalnya yang jadi masalah. Tapi ketidakjujurannya itu loh, yang seolah-olah memberi saya croisant gratisan tapi ujung-ujungnya harus saya bayar. 
Kalau saya mau beli pasti saya beli, nggak perlulah melakukan cara rendah dengan membohongi konsumen demi selisih 15 ribu saja. Sayangnya si mbak-mbak lagi apes, saya sadar kalau ada nominal yang ganjil. Salah siapa kalau kemudian belanjaannya nggak bisa di abort?

Saya sadar ini bukan kesalahan si kasir sepenuhnya, pastinya ini sudah sistem atau trik-trik yang diajarkan manajemen perusahaan supaya barangnya bisa cepat laku. Bayangkan kalau setiap konsumen dicurangi seperti itu, berapa besar keuntungan yang didapat setiap harinya dari setiap outlet?

Ini sekedar sharing saja supaya kita lebih berhati-hati. Mengingat perlindungan konsumen di Indonesia masih belum terlalu kuat, dimana kasus seperti ini sudah jadi santapan sehari-hari, maka kitalah, konsumen sendiri yang harus jeli terhadap setiap produk yang kita konsumsi. Awasi dan laporkan. Jangan pernah takut untuk komplain langsung, ingat, konsumen adalah raja!