Yap setelah sekian lama nggak mengisi diary online ini,
akhirnya hari ini aku tiba-tiba ingin menulis. Bercerita tentang suatu hal yang
melintas di benakku.
Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, akhir-akhir ini aku sedang
mengalami kegamangan (gamang ya, bukan galau. Because galau is too mainstream~)
dalam memilih program kekhususan (PK) alias penjurusan yang akan kuambil di
Fakultas Hukum.
FYI, di FHUI itu ada tiga program kekhususan (PK) yang
biasanya mulai diambil oleh mahasiswa sejak semester 3. PK 1 adalah mengenai
Hukum Perdata, PK 2 adalah mengenai Hukum Pidana, PK 3 adalah Hukum Acara
(kerjanya di pengadilan), PK 4 adalah hukum bisnis, PK 5 adalah tentang Hukum
Tata Negara, PK 6 tentang hukum Internasional, dan PK 7 tentang kemasyarakatan.
Sebenarnya, keluargaku banyak yang berlatar belakang hukum.
Mulai dari Om-ku, sepupuku, sampai kakakku, hampir semuanya mengenyam
pendidikan di Fakultas Hukum. Kalau dihitung-hitung, totalnya ada sembilan orang di
keluarga besarku yang telah dan sedang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum.
Dan setelah bekerja, kebanyakan dari mereka memilih untuk menjadi advokat.
Tidak bisa kupungkiri, mungkin ada beberapa orang di keluargaku yang
mengharapkanku untuk mengikuti jejak saudara-saudaraku yang telah sukses
menjadi advokat. Itu berarti, aku diharapkan untuk mengambil PK 3 yang
menyangkut praktik advokat, seperti PK yang diambil oleh kakakku. Di sisi lain,
dunia advokat itu setahuku sangat keras. Kita harus pandai menguntai kata,
berdebat, berargumen. Sementara aku bukanlah tipe orang yang suka berargumen
jika ilmu yang kumiliki belum mumpuni.
Di sisi lain, aku juga tertarik untuk mengambil PK 4 yang
menyangkut hukum bisnis, karena mata kuliah di dalam PK 4 juga menyangkut
ekonomi. Aku tertarik dengan isu mengenai perlindungan konsumen di Indonesia
yang masih sangat lemah dibandingkan dengan di Amerika, dimana konsumen benar-benar raja. Sebagai
konsumen yang sering dirugikan, akan sangat menyenangkan ketika aku berhasil
memperjuangkan ketidakpuasanku akan pelayanan yang seadanya dari para produsen
kapitalis di Indonesia (balas dendam ceritanya, fufufu~).
Dua PK ini masih menjadi pertimbanganku dalam memilih
penjurusan, sampai pada suatu saat..
Salah seorang kawanku mengirimkan sms kepadaku, bertanya,
“Fah, lo kan anak hukum. Gue mau tanya dong, kalau misalnya ada satu orang
bupati maju dalam pemilihan, trus dia nggak punya saingan lagi, apakah bupati
itu bisa langsung terpilih jadi bupati?”
Pertanyaan itu lumayan membuatku berpikir keras, karena
sejujurnya aku belum pernah membayangkan kasus seperti ini, walaupun
sesungguhnya aku mempelajarinya di mata kuliah Hukum Tata Negara. Aku merasa
amat bodoh karena tidak tahu apa-apa. Akhirnya aku menanyakan solusinya kepada
seniorku yang mengambil PK tentang HTN, PK 5.
Di saat yang lain, kawanku juga menanyakan tentang sebuah
kasus pidana, tentang peristiwa pidana yang dialaminya langsung. Aku sangat
ingin membantunya, memberinya saran, tetapi sayang ilmu yang kumiliki sangat
pas-pasan. Padahal ia sangat membutuhkan saranku, selaku anak hukum. Akhirnya
dengan ilmu seadanya yang kumiliki, dan dengan bertanya ke sana-sini, aku
memberi informasi tentang kasus pidana tersebut. Sekali lagi, aku merasa sangat
bodoh.
Dua kasus di atas membuatku berpikir… apalah artinya PK? Toh
PK hanya akan digunakan dalam penulisan skripsi nanti. Saat aku lulus nanti,
orang-orang akan memandangku sebagai “Sarjana Hukum”, bukan “Sarjana Hukum yang
Mengambil PK 3” atau “Sarjana Hukum yang Mengambil PK 4”, misalnya. Mereka akan
mengharapkan saran dariku tentang segala kasus hukum, apalagi kebanyakan orang
Indonesia masihlah sangat awam mengenai urusan hukum. Sungguh tidak etis bila
suatu hari ada orang yang bertanya padaku mengenai masalah hukum yang
menimpanya, lalu aku menolaknya dengan alasan, “Maaf, gue nggak bisa ngasih
saran tentang pidana. Gue anak PK 4, ngertinya hukum bisnis.”
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa setiap ilmu yang
kupelajari sangatlah penting. Walaupun satu-satunya materi hukum adat yang
kumengerti hanyalah “pernikahan suku minang” *lohh* , tetapi hukum adat tetap
penting jika suatu hari aku menghadapi kasus sengketa adat, misalnya.
Yup, memang tidak ada sesuatu yang diciptakan sia-sia, apalagi ilmu. PK berapa
yang kuambil sesungguhnya tidak penting, yang penting berapa banyak ilmu yang
kudapat kan?
-Iffah, mahasiswi yang masih istikhoroh dalam kegamangan memilih PK-
Ketika kepala sudah blank dan sudah tidak tahu mau menulis apa lagi di lembar jawaban, bergegaslah keluar ruangan. Karena pilihan lainnya hanya ada dua: mencontek, atau dicontekin.
“Drrrrrtt…drttt..drrttt…” Getaran
di handphone-ku mengalihkan perhatianku sejenak dari layar laptopku. Kuraih
handphone-ku dengan perasaan malas, dan kubuka kuncinya.
5 New Message
Kubuka inbox-ku, dan
perlahan-lahan menelusuri pesan itu satu persatu. Ah, benar tebakanku. Sms-sms
yang masuk ke ponselku sebagian besar berasal dari Kadep-Kadep organisasiku,
yang semuanya orang-orang yang berbeda dan mengirimkan tugas yang berbeda-beda.
“Fah, gimana proposalnya?”
“Fah, artikel buat majalah udah selesai
belum?”
“Fah, nanti ada rapat di pusgiwa,
kamu bisa datang nggak mewakili kita?”
“Fah, soal-soal ekonomi yang
harus dikumpulin deadlinenya minggu depan ya…”
“Fah, udah buat konsep acara belum?”
Aku menghempaskan handphone-ku ke
kasur di sampingku, menelungkupkan wajahku. Sekalinya ada sms yang datang ke
handphone-ku, mengapa isinya tugas semua? Bahkan tidak ada satupun dari
temanku, yang isinya menanyakan kabar atau apa. Semuanya berisi tentang
tugas-tugas yang harus kukerjakan. Dan sebagian besar adalah tugas dari
organisasi yang kuikuti. Sejenak pikiranku melayang pada tumpukan tugas kuliah
yang masih menunggu, utuh tak tersentuh.
Sekelebat pikiran tidak ikhlas
muncul di pikiranku. Untuk apa sebenarnya aku melakukan ini semua? Lebih baik
aku mengabaikannya, dan menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Toh aku tidak
digaji untuk tugas yang kulakukan di organisasi-organisasi ini.
Ah, mungkin ini yang dinamakan
titik jenuh.
Iseng, kuraih handphone-ku dan
kukirimkan sms ke Muthi
Muuuut gue beteee. Masa sms yang masuk ke handphone gue isinya tentang
rapat semua, tugas dari kadep semuaa. Jodoh mana jodooooh.
Beberapa jam kemudian, sebuah
pesan masuk ke handphone-ku dari Muthi:
Astaghfirulloh… justru seharusnya kita bersyukur. Ketika kita diberi
banyak amanah, kita diberi banyak kesempatan untuk memberi manfaat kepada orang
lain. Jangan mengeluh, karena di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih
banyak amanahnya dari kita tapi nggak pernah mengeluh. Keep hamasah!
JLEBBB! Serasa ada pisau yang
menghujamku ketika aku membaca balasan sms Muthi. Astaghfirulloh, aku malu.
Baru segini saja, dan aku sudah mengeluh? Bagaimana kalau aku diuji dengan
cobaan yang lebih besar daripada ini? Aku malu…..
Dan hari ini, kepada Mbak Iffah,
mentorku, kuceritakan keluh-kesahku,
dan Mbak Iffah menyodorkan sebuah
tulisan yang sangat menohokku, membuatku merenung dalam…
Amanah itu…
Sejatinya amanah itu,
Bukan karena kamu mampu
Bukan pula karena mereka merasa kamu mampu
Bukan karena kamu tahu kapasitasmu
Bukan pula karena mereka tahu kapasitasmu
Dan jangan sampai pula karena kemauanmu
Amanah itu kehendak Allah, rencana Allah atas kehidupanmu
Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berhimpun untuk
menjauhkanmu dari amanah itu, jika Allah tahu itu yang terbaik bagimu, maka ia
berikan amanah itu kepadamu.
Bahkan sekiranya semua orang disekitarmu bersepakat
menyatakan bahwa kamu tak mampu, jika Allah tahu amanah itu jalan terbaik untuk
meningkatkan kapasitas dirimu, maka ia berikan amanah itu kepadamu.
Bahkan sekiranya semua orang disekitarmu berupaya maksimal
agar seseorang yang bukan dirimu yang mengemban amanah itu, jika Allah ingin
mendidikmu dengan amanah itu, maka ia berikan amanah itu kepadamu.
Bahkan sekiranya seluruh aibmu seketika memenuhi fikiranmu
dan membuatmu berhenti melangkah karena ragu, jika Allah tahu amanah itu akan
membuatmu menjadi hamba yang semakin baik dan semakin dekat dengan-Nya, maka
amanah itu akan dia berikan kepadamu.
Percayalah, ada rencana terbaik yang sudah Allah persiapkan,
Sikapilah dengan ikhtiar terbaik yang kamu lakukan,
Serta pertanggungjawaban terbaik yang bisa kamu persiapkan.
Sekali lagi, ini bukan tentang kamu dan mereka, ini tentang
kamu dan Dia
Dan melangkahlah dengan percaya, bahwa bersama-Nya semuanya
akan baik-baik saja.
Kubagikan tulisan ini kepada kalian yang membacanya, agar kalian
mengerti,
agar kalian tidak mengeluh saat memegang sebuah amanah,
tetapi malah bersyukur karena
amanah itu telah memilih kalian….
“Cinta itu menyembuhkan.. ketika kita mencintai orang-orang yang tepat.”
Mungkin, terlalu sakit apa yang pernah kurasakan kemarin. Kusadari, aku perlahan mulai menata hati. Dan aku memutuskan untuk sementara ini lebih berhati-hati dengan organ tubuh dan perasaan yang sangat abstrak ini. Aku menolak untuk dicintai… dan menolak untuk mencintai sementara ini. Tentunya, ini berlaku untuk lawan jenis.
Tapi, kusadari bahwa manusia adalah makhluk pencinta. Hati akan hampa bila tidak mencintai, bahkan lebih hampa daripada tidak dicintai.
Lalu, perlahan kucoba alihkan cinta ini pada tempatnya, pada orang yang lebih membutuhkannya.
Adik-adikku. Teman-temanku. Murid-muridku.
Kucoba mencurahkan semua perhatian yang ku punya, berbagi senyuman dan tawa.
Menghabiskan waktu-waktu yang jauh lebih berkualitas dengan diskusi ringan penuh renungan bersama kawan-kawanku. Bersama-sama berbagi cerita, berlomba-lomba menuju cita-cita. Dan sejenak kulupakan kisah tentang cinta.
Memberi perhatian terhadap adik-adikku yang memang membutuhkannya. Mereka yang merindukan hadirku, hadirnya seorang kakak yang peduli, tapi aku terlalu sombong dan terlena pada kesibukan di kampus. Kucoba sebisa mungkin memperhatikan mereka dalam waktu singkat yang kupunya selama liburan. Menemani mereka belajar di setiap malam, berusaha menyenangkan mereka walaupun hanya dengan perhatian.
Aku juga mencoba mencintai murid-muridku. Kusadari, aku memang perlahan jatuh cinta. Bahagia rasanya saat melihat raut wajah mereka yang antusias menyambut pelajaran di kelas. Kebahagiaan tertinggiku adalah ketika melihat ekspresi mereka yang perlahan berubah dari kebingungan menjadi gembira saat berhasil memahami pelajaran. Saat mereka mencurahkan kegelisahan akademis yang mereka rasakan, dan aku berbagi kisah yang sama yang pernah kualami.
Dan kami berbagi tawa. Kulupakan semua luka. Dan kini kunikmati indahnya cinta, ketika segenap cinta itu diarahkan untuk mencintai orang-orang yang tepat. Orang-orang yang memang layak untuk mendapatkan cinta itu dariku.
Lalu perlahan luka itu mulai memudar, sedikit demi sedikit memudar…
Orang bilang, teman adalah sumber kebaikan. Ia adalah orang yang memperingatkanmu ketika kau menempuh jalan yang salah, dan menarikmu kembali bersamanya menyusuri jalan yang benar. Ia bukan hanya sekedar teman satu perjalanan, tapi ia juga teman satu tujuan. Ia bukanlah orang yang hanya menghiburmu disaat kau sedang down dan terjatuh, tapi juga mengajakmu kembali bangkit. Ia adalah sahabat sekaligus rival bagimu, dimana kau dan dia berlomba-lomba dalam menggapai kebaikan (fastabiqul khairat). Teman juga merupakan seseorang yang menginspirasimu, yang membuatmu malu dan mengintrospeksi diri ketika kebaikan yang kau lakukan tidak sebanyak kebaikan yang dilakukannya.
Aku bersyukur Allah telah menciptakan kejadian-kejadian unik yang mempertemukanku dengan mereka. Teman-teman yang kusayangi, kukagumi, dan menjadi sumber inspirasiku.
Dia. Dia adalah makhluk Allah paling cerdas yang pernah kutemui. Ia sangat mudah memahami suatu pelajaran, lebih dari itu, ia juga dengan mudahnya mengajariku. Ia seorang yang kritis, berpendirian teguh, walau terkadang sifat keras kepalanya membuatku jengkel, haha. Dia tidak pernah mempedulikan hal-hal yang memang tidak penting, ia hanya mau memikirkan hal-hal yang bermanfaat. Tetapi dibalik keseriusannya, bagiku ia adalah seorang badut yang membuat hari-hariku berwarna dengan joke dan gombalannya, ketika kami sering beradu gombalan dan kegalauan remaja. Ia adalah teman dimana aku banyak mempelajari ilmu agama dan ilmu kehidupan darinya. Ia juga jauh lebih dewasa dariku, yang terkadang membuatku malu karena ia lebih bijak, padahal usiaku lebih tua darinya. Ia sering memberikan nasihat-nasihat yang menyejukkan hatiku.
Jujur, saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku tercengang-cengang melihat kecerdasannya, membuatku menyimpan tekad membara di dalam hati: suatu saat nanti, aku akan mengalahkannya! Tetapi, seiring waktu berlalu, terciptalah kejadian-kejadian yang akhirnya mendekatkan kami sebagai sahabat :)
Dia. Dia adalah makhluk super-sensitif dan super-polos yang pernah kutemui. Perasaannya mudah disentuh hanya dengan hal-hal kecil, bertolak belakang denganku yang super cuek. Ia sangat peduli dengan orang lain, dan ia sangat sensitif terhadap perilaku orang lain terhadapnya. Ia polos, sangat mudah untuk dibohongi, karena pikirannya masih sangat naïf. Terkadang aku dan kawan-kawan lain membohonginya, dan reaksinya sangat lucu karena ia begitu mudah percaya kepada orang lain. Jika diibaratkan, ia adalah sebuah buku yang terbuka, karena ia begitu mudah ditebak perasaannya. Tetapi dibalik kepolosannya itu, ia menyimpan banyak pertanyaan-pertanyaan cerdas dan kritis yang seringkali membuatku merenung dalam.
Ia adalah atlet serba-bisa dalam hal olahraga, yang membuatku terkagum-kagum. Lebih dari itu, ia ramah, supel, dan memiliki kepercayaan diri yang besar. Predikat loved-by-all pantas disematkan kepadanya. Ia juga seorang yang sangat konyol, dengan tingkah lakunya yang selalu bisa membuatku tertawa. Ia seperti matahari yang selalu membawa keceriaan, membawa antusiame besar yang mudah menular kepada orang lain. Ia adalah sahabat tempatku bersama-sama tertawa terbahak-bahak, tetapi juga bersama-sama merenung mendalam.
Dia. Dia adalah seorang yang sholehah dan alim, kesan yang kutangkap saat pertama kali bertemu. Tetapi dibalik itu, ternyata dia seseorang yang sangat humoris dan selalu membuat kami tertawa. Tidak jarang, ia menjadi sasaran empuk bagi kami untuk membully-nya. Ia biasa memanggil teman-temanku yang laki-laki dengan caranya yang khas, seperti memanggil pembantu. Tetapi, ia terkadang memberi kami tausiyah-tausiyah yang menyejukkan melalui pesan singkat. Ia begitu perhatian, begitu bijak, dan sering memberi nasihat indah penuh hikmah kepadaku. Ia adalah aktivis dengan kegiatan seabrek yang patut diacungi jempol, sebab ia selalu memberi manfaat dimanapun ia berada. Ia yang dengan sabar mengajariku untuk melancarkan bacaan Al-Qur’an-ku. Ia yang selalu kami rindukan saat ketidakhadirannya..
Dia. Dia adalah seorang yang kalem, lembut, dan manis dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya. Ia cerdas, dinamis, dan lain dari yang lain. Mungkin motto hidupnya adalah “talk less, do more”, sebab, dibalik kediamannya, ia selalu produktif menghasilkan karya yang luar biasa. Aku mengaguminya karena ia memang unik, berbeda, cerdas, dan enak untuk diajak berdiskusi sebab jalan pikirannya sulit ditebak, tidak mainstream. Ia penuh dengan ide-ide dinamis, penuh kejutan, yang tidak dapat kuduga. Menyenangkan sekali ketika aku berdiskusi tentang hal-hal yang tidak biasa dengannya..
Dia. Dia adalah teman masa kecilku, yang dipertemukan denganku lagi oleh Allah di bangku kuliah ini. Ia sangat bijak, dewasa, dan terasa seperti ‘abang’ bagi kami. Ia selalu melindungi kami seperti seorang kakak kepada adik-adiknya. Walaupun secara usia dia sama denganku, tetapi dalam hal kedewasaan, ia jauuuuh diatasku. Ia sangat bijak, dan sering menjadi penengah ketika ada masalah diantara aku dan kawan-kawan lain. Agamanya kuat, dan dia adalah seorang aktivis dakwah kampus yang giat. Ia mudah dekat dengan semua orang, dan ia adalah tempat aku dan kawan-kawanku bercerita tentang banyak hal. Ia adalah teman diskusi yang seru ketika kami memperbincangkan banyak hal, bahkan waktu berjam-jam pun tidak akan habis untuk memperbincangkan masalah aktual di sekeliling kami. Ia membuka mataku tentang banyak hal dalam dakwah yang tidak pernah kuketahui sebelumnya.
Dia. Dia adalah orang yang baru kukenal di bangku kuliah ini, dengan kecerdasan dan kemampuan berbicaranya yang membuatku terkagum-kagum. Ia memiliki kepercayaan diri yang besar, supel, dan mudah akrab dengan banyak orang karena sifat humorisnya. Tetapi, dibalik itu, ia juga menyimpan sebuah kecerdasan dan kekritisan yang besar, yang sering membuatku tercengang saat kami berdiskusi bersama-sama. Ia selalu membuatku merasa sebagai orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, karena kecerdasannya itu. Ia sangat bijak, terkadang menohokku dengan kata-katanya yang sederhana namun begitu bermakna.
Dia. Dia adalah salah satu orang paling kharismatik yang pernah kutemui. Ia memiliki wibawa yang memang sudah bawaannya, dengan pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa. Ia kritis, dapat diandalkan, tetapi juga humoris dan selalu memeriahkan suasana dengan lawakannya yang terkadang jayus. Ia pandai mengaji dan adzan, suatu hal yang sangat kuapresiasi darinya. Ia mudah bergaul dengan semua orang, dapat berbaur ke semua kalangan. Ia memiliki cita-cita unik dan mulia sebagai seorang pemimpin masa depan..
Dia. Awalnya, kupikir dia konyol dan terlihat sedikit kekanakan. Ia humoris, bahkan cenderung jayus, dan terkadang menjadi bahan ledekan. Barulah perlahan-lahan aku tahu bahwa ia orang yang sangat rajin beribadah, tidak pernah absen shalat lima waktu dan shalat sunnah, juga selalu tepat waktu. Ia juga menjaga hijab dengan baik kepada wanita, walaupun dari luar terlihat ia biasa-biasa saja. Ia masih memegang prinsipnya, suatu hal yang sangat kuapresiasi. Walaupun dari luar ia terlihat konyol, ternyata ia juga seseorang yang dapat berpikir secara mendalam..
Ini hanya sebagian kecil kisah tentang dia, dia, dan dia. Dan masih banyak lagi cerita tentang dia dia yang lain, yang akan segera kuceritakan, segera setelah aku menggali kisah hidup mereka dan mengenali mereka lebih dekat. Orang-orang yang mewarnai masa-masa dalam kisah buku, pesta, dan cinta-ku…
*Bersihin sarang laba-laba di blog* *Ngepelin sampe kinclong*
Graciaas! Long time no post! Hehehe. Maaf yaa blog udah lama nggak ngepost, kamu kan tau aku sibuk *tepuk-tepuk blog yang ngambek dicuekin*
Iya iya maaf kalo aku sepertinya sok sibuk, hehe. Soalnya semakin banyak aja amanah yang dateng dan belum sempat juga cerita di blog, padahal memang udah lama mau ceritaa. Terutama yang paling banyak menyita waktu dan perhatianku ya amanah di Mabit Nurul Fikri, tapi dari situ jugalah aku paling banyak dapet cerita :’)
Oh iya sekedar ngasih kabar, inilah amanah yang aku dapat baru-baru ini:
·Kepala Departemen Ekonomi Mabit Nurul Fikri
Actually amanah yang satu ini aku dapat udah lama, tapi eksekusi tugasnya baru dimulai tanggal 24 Februari kemarin. Tugas yang satu ini cukup riweuh karena aku harus mencurahkan perhatian penuh di sini. Thanks to Allah yang telah mengirimkan rekan-rekan sekaligus malaikat-malaikat ini untukku: Anggi, Wahyu, Kak Hen, dan pengajar-pengajar departemen ekonomi lainnya. Thanks juga buat Aim dan Iki yang ngebantuin banget, padahal mereka pengajar tamu hehehe. Love you all guys :)
·Staff Departemen Pendidikan dan Keilmuan BEM FHUI
Yak dan akhirnya aku bersama Tita menjadi bagian dari keluarga departemen P&K BEM UI, Alhamdulillah. FYI, Muthi juga jadi staff Kastrat (Kajian dan Aksi Strategis) BEM FH, Camilla jadi staff Departemen Advokasi, dan Fara jadi wakadept Seni Budaya.
·Staff Jurnalistik LK2 FHUI
Alhamdulillah jadi staff jurnalistik juga.. walaupun actually kemampuan menulisku masih sangat pas-pasan -__-
·Staff Muslimah Community Serambi FHUI
Nah kalau di bagian yang satu ini, alasanku bergabung ya simple saja: supaya bisa sering ketemu (dan mengganggu) Umi Mput Sukma yang jadi wakadepnya. Fufufu :3
Oke, bantu doa yaa semoga semua amanah ini bisa terpegang dengan baik, no gabut, dan aku bisa membagi waktuku dengan baik antara kuliah dan organisasi.
Sekian dan terima kasih, itulah cerita terbaru yang bisa kubagi :)