Minggu, 15 Oktober 2017

Cerca Trova


Cerca Trova
(Cari dan temukan)

Dalam hidup yang singkat ini,
Kita akan menjumpai beberapa situasi, peristiwa dan sosok yang membuat kita bertanya-tanya:
Mengapa?

Setiap hari kita mencari
Mencari arti dalam setiap perjumpaan, tatap, jabat, perpisahan, luka, tangis, dan senyuman.

Baik buruknya, semua tabir hikmah akan membuka di akhir
Memberi jawaban atas setiap tanya yang menimbulkan sesak di dada.
Memberikan sebentuk pemahaman yang berujung kepada penerimaan

Hidup adalah sebuah perjalanan demi mengumpulkan mozaik hikmah yang terserak.
Lekas cari, dan temukan.

Because life is endless searching of the meaning..

Selasa, 03 Oktober 2017

Mencari Islam di Durham

"Gimana Inggris? Apakah kamu menjadi korban islamophobia di sana?"

Sebagai seorang muslimah yang menempuh studi di Eropa, ada satu-dua pertanyaan seperti itu yang datang kepadaku. Mengingat aku seorang muslimah yang mengenakan jilbab, identitas sebagai seorang muslim selalu kubawa dimanapun aku berada, sehingga aku lebih rawan menjadi sasaran islamophobia.

Sebelum aku menjejakkan kaki di Durham, aku tidak terlalu memusingkan masalah menjadi seorang muslim yang minoritas. Kupikir, Durham sama seperti kota-kota besar di Inggris yang muslim-friendly seperti London atau Birmingham dimana imigran muslim sangat banyak sehingga tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan makanan halal. Setidaknya, menurutku menjadi muslim di UK lebih nyaman daripada di negara Eropa lainnya atau bahkan di negara-negara Asia.

Namun Durham memang bukan London; Durham adalah sebuah desa kecil dimana Islam sangat menjadi minoritas. Karena itu, sebagai minoritas wajar jika aku harus mengalami penyesuaian. Sebenarnya, secara penerimaan terhadap muslim, Durham adalah kota yang ramah dan baik. Walau mungkin satu-dua kali kami mengalami rasisme secara verbal, namun overall penduduk Durham tidak seperti itu; penduduk yang sebagian besar merupakan kakek dan nenek pensiunan sangat ramah, kami saling bertukar sapa dan senyum serta bercakap-cakap di jalan.

Untuk tempat beribadah, sebenarnya kampus menyediakan Prayer Room yang biasa digunakan oleh semua agama, termasuk Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha dan sebagainya. Sehingga kami bisa sholat di ruangan yang memiliki salib besar menggantung. Prayer Room juga biasa digunakan oleh Islamic Society, yaitu komunitas muslim di Durham University untuk melakukan kegiatan mingguan mengkaji ayat Al-Qur'an. Namun Prayer Room terdekat ada di College yang letaknya agak jauh. Untungnya, sebagai mahasiswa magister Islamic Finance kami mendapat keistimewaan bisa mengakses Doctoral Training Center for Islamic Finance, yang dihuni oleh sebagian besar muslim. Selain penuh dengan kubikel dan komputer, ada ruangan khusus yang biasa digunakan sholat berjamaah. Namun bila jarak antar kuliah sangat mepet dan tidak sempat ke DTC, kami bisa menggunakan tangga darurat di kampus Business School untuk sholat.

Prayer Room di Aidan College

Durham University menyediakan mushola yang terletak di City Center, yang biasa digunakan oleh komunitas muslim di Durham untuk sekedar sholat atau melaksanakan sholat jumat, dan pada bulan Ramadhan digunakan untuk ifthar dan shalat tarawih. Namun karena letaknya sangat jauh di City Center (sekitar 45 menit berjalan kaki dari rumah), maka kami tidak terlalu sering ke mushola, kecuali jika kebetulan sedang berbelanja atau berjalan-jalan ke City Center. Mushola ini pun bentuknya merupakan semacam ruko dua lantai yang diberi kunci elektronik, tidak terbuka untuk umum. Letaknya persis di belakang Pub Dun Cow, sehingga untuk menuju mushola kami harus melewati gang Pub dimana banyak orang sedang berkumpul menikmati alkohol. Karena itu, kami diwanti-wanti oleh kakak-kakak senior agar tidak pulang terlalu malam dari mushola, mengingat kemungkinan berpapasan dengan orang-orang mabuk. Terkadang senior kami harus menginap di mushola menunggu sampai pagi datang agar lebih aman. 

Dun Cow Pub, pintu masuk untuk mengakses mushola di City Center

Satu-satunya masjid (yang benar-benar merupakan bangunan masjid) di County (Provinsi) Durham terletak di Stockton, yang dapat ditempuh selama satu jam dengan menggunakan bis dari Durham. Masjid ini hanya dibuka saat waktu sholat saja; selain itu masjid ini terkunci rapat.

Satu-satunya "Masjid Beneran" di Stockton

Satu hal yang menjadi tantangan besar bagiku di Durham adalah soal makanan halal. Sebagai seseorang yang concern pada isu produk halal-haram (bahkan mengambil skripsi dan penelitian tentang ini), mungkin rasanya hipokrit jika aku tidak mengkonsumsi produk halal. Tapi percayalah, kondisi menjadi minoritas memang tidak semudah itu. Aku nyaris tidak bisa menemukan makanan dengan label halal di sini, kalaupun ada itu hanya daging-daging di toko halal khusus muslim yang letaknya di luar kota dan harganya lebih mahal. Untuk beberapa barang makanan kebutuhan sehari-hari tentu saja hampir tidak ada yang berlabel halal. Sehingga, aku berusaha menyiasatinya dengan memperhatikan ingredients, melihat kode makanan, menggunakan scan halal (yang belum tentu info kehalalan semua produk tersedia), atau sekedar mencari label: suitable for vegetarian. Sebelum kami sempat berbelanja ke toko halal, kami hanya memakan seafood dan telur sebagai sumber protein. Sebisa mungkin kami berusaha menjaga agar yang masuk ke tubuh kami hanya makanan halal saja.

Di City Center Durham, sedikit sekali restoran atau tempat makan yang menjual makanan halal, mungkin hanya ada dua atau tiga restoran saja. Jangan bayangkan restorannya bersertifikasi halal seperti Indonesia; dasarnya adalah kepercayaan. Karena pegawai-pegawai dan pemilik restorannya adalah orang-orang IPB (India, Pakistan, Bangladesh, tiga negara asal imigran muslim yang paling banyak di Durham), maka kami percaya berdasarkan statement mereka bahwa mereka hanya menjual makanan halal dengan daging yang disembelih sesuai dengan syariat Islam. Biasanya juga aku tidak makan di luar tapi membawa bekal yang dipersiapkan sebelumnya dari rumah. Selain menjaga kehalalan makanan yang kita konsumsi, pastinya membawa makanan dari rumah lebih hemat (karena sekali makan di luar bisa 5 pounds). 

Dixy, salah satu restoran fast food yang halal

Namun ketika kami ke Newcastle, kota besar yang berjarak 15 menit naik kereta dari Durham, tentunya pilihan makanan halal lebih banyak tersedia, juga restoran halal. Bahkan di kawasan Fenham yang banyak tinggal warga keturunan arab, toko-toko besar yang menjual makanan halal banyak tersebar. Di Stockton yang juga banyak warga komunitas muslim keturunan arab, banyak toko yang menjual makanan bahkan frozen food halal. Sekali lagi, harga makanan halal tidaklah murah. Namun alhamdulillah, kami masih bisa mengakses daging atau ayam potong halal walaupun harus menempuh jarak jauh dan merogoh kocek lebih dalam.

Salah satu toko halal di Stockton

Overall, menjadi minoritas dimanapun memang tidak mudah. Namun aku bersyukur, sebagai muslim aku masih bisa tetap menjalankan kewajiban dan kepercayaanku di Inggris, negara minoritas muslim. Tentunya menjalankan ibadah yang tidak semudah di Indonesia seharusnya bukan menjadi excuse bagiku untuk tidak melaksanakannya; tetapi malah menjadi pemacu untuk tetap berpegang teguh pada agama dimanapun aku berada. 

Bagiku, inilah ujian keimanan sesungguhnya: apakah aku masih bisa mengaku dan menjalankan kewajiban sebagai muslim di luar zona nyamanku?

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (QS Al-Ankabut:2-3).

Kamis, 21 September 2017

Hijrah ke Durham



Merantaulah.. 
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman.. 
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang.. 

Merantaulah.. 
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.. 
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang.. 

Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan.. 
Jika mengalir, ia kan jernih.. 
Jika diam, ia kan keruh menggenang.. 

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan.. 
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran.. 
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam.. 
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang.. 

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah.. 
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan.. 
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai.. 
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..

(Syair Imam Syafi'i)


Pada dasarnya, merantau merupakan sebuah hijrah, yaitu suatu perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menemukan atau melakukan hal yang lebih baik. Bagi suku Minang, merantau sesungguhnya bukan hal yang asing lagi; tradisi ini mendarah daging dalam adat Minang. Lihat saja di belahan Indonesia manapun, pasti orang Minang ada dimana-mana. Namun lucunya, bagiku ini adalah pengalaman pertamaku hidup jauh dari rumah dan keluarga. Tidak tanggung-tanggung, perjalanan merantauku yang pertama mengantarkanku ke benua lain. Bertepatan dengan tibanya tahun baru Hijriyah, empat hari sudah aku "hijrah" alias merantau ke sebuah kota kecil bernama Durham di Inggris, tempatku akan menuntut ilmu setahun kedepan.

Sampai saat ini aku masih saja tak percaya akhirnya bisa sampai di sini. Namun, aku percaya tidak ada yang namanya suatu kebetulan atau keberuntungan. Keberadaanku disini merupakan hasil dari suatu rangkaian usaha dan doa selama dua tahun terakhir, sehingga dengan izin Allah semesta berkonspirasi mengantarkanku menjadi candidate Magister Islamic Finance and Management di Durham.

Awalnya, tidak sedikit teman-teman, keluarga, atau dosen-dosen senior yang mempertanyakan mengapa aku memilih untuk melanjutkan kuliah di Durham. 

"Durham itu Universitas apa? Dimana?" 
"Mengapa ambil jurusan ekonomi syariah? Kenapa nggak hukum aja? Nanti kamu susah jadi Professor."
"Memangnya di Inggris ada jurusan ekonomi syariah? Kok belajarnya di Inggris?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berdatangan, yang untungnya dapat kujawab dengan baik. Melanjutkan studi ke Durham adalah keputusan yang sudah kuambil dengan banyak pertimbangan, karena itu aku pun harus siap atas segala konsekuensinya: mengejar ketertinggalan materi dari teman-teman lainnya dan ketidaklinieran jurusan, serta jauh dari keluarga dan teman-teman yang kusayangi.

My hardest goodbye

Jujur ada rasa sedih dan cemas menelusup di dada akan kekhawatiranku karena aku akan sendiri di sini, jauh dari keluarga. Namun benar kata Imam Syafi'i, "merantaulah, maka akan kau temukan pengganti keluarga dan teman yang kau tinggalkan". Aku dipertemukan dengan Danis, Rumy, dan Shafira, teman-teman seperjuangan di 72 Hastings Avenue, rumah kami bersama. Mereka adalah teman-teman yang sangat menginspirasiku: sholehah, cerdas, berprestasi serta bersemangat untuk membumikan ekonomi syariah di Indonesia. Kelebihan lainnya, kita masih single semua (ini info yang paling penting).

Ukhti-ukhti Hastings Avenue, kurang Fira


Tak sampai beberapa hari di Durham, kami menemukan senior-senior di Durham yang menyambut kami dengan ramahnya seperti keluarga sendiri. Kami dijemput dan dibawa berkeliling Durham, serta diberikan sharing pengalaman mereka survive di kota kecil ini. Dan tentu saja, senior-seniorku adalah orang-orang yang sangat menginspirasi dengan prestasinya masing-masing, yang membuatku bersemangat untuk mengikuti jejak mereka.

Salah satu nikmat terbesar yang kusyukuri adalah rumahku di Hastings Avenue, yang merupakan rumah "warisan" dari kakak-kakak senior yang sebagian besar merupakan pengurus PPI Durham tahun lalu. Rumah dengan empat kamar, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur ini sangat nyaman dan rent per-bulannya sekitar 350 Poundsterling, tidak terlalu mahal untuk ukuran Inggris. Peralatan yang ada sangat lengkap, mulai dari peralatan masak, peralatan belajar beserta aneka pernak-pernik bahkan makanan, mereka tinggalkan buat kami. Kami tidak perlu berbelanja banyak, hanya tinggal belanja bahan makanan saja. Tentunya ini sangat membantu mengingat biaya beasiswa dari LPDP masih lama turunnya (sekalian curcol). Kamarku yang terletak di lantai dua besar dan nyaman, serta memiliki view ke jalanan depan, yang membuatku betah berlama-lama di kamar (semoga nggak sering-sering ketiduran).







Room sweet room


Seperti kebanyakan orang lainnya, aku juga terkena culture shock, terutama menyangkut toilet. Toilet di Inggris yang tanpa air membuatku pusing bagaimana harus bersuci dengan baik. Untungnya, perlahan-lahan aku mulai beradaptasi. Selain itu jam yang berbeda dari Indonesia --7 jam lebih lambat--membuat tubuhku harus beradaptasi. Tidak jarang jam 6 sore tubuhku sudah sangat lelah dan mengantuk (karena di Indonesia sudah jam 1 pagi), namun aku memaksakan diri untuk tetap terjaga. Perbedaan jam dengan Indonesia juga menjadi tantangan ketika ingin berkomunikasi dengan orang-orang tersayang (Ehem. Keluarga dan teman-teman kok) di Indonesia. Tentunya masih banyak tantangan-tantangan lainnya yang harus kuhadapi setahun kedepan, termasuk waktu berpuasa di Inggris yang paling lama di dunia, yaitu 18 jam.

Durham merupakan sebuah kota (atau mungkin desa)? yang terletak tidak jauh dari Newcastle. Kampus Durham sangat luas dan terletak di sebagian besar kota, mungkin seperti Universitas Indonesia yang merupakan jantung kegiatan kota Depok. Rumah-rumah disini tertata rapi dalam satu kompleks, dimana Hastings Avenue tempatku tinggal kebanyakan diisi oleh kakek dan nenek pensiunan. 

Kayak rumahnya Harry Potter



Jangan bayangkan kalau lapar kita bisa jajan di Alfamart sebelah rumah, karena kemana-mana harus menggunakan sebuah bis. Untuk berbelanja kita harus pergi ke city Center dimana deretan toko terpusat menjadi satu, tidak ada mall besar. Bahkan masjid juga terletak di City Center. 





Strolling around in City Center

Durham juga terkenal dengan landmark Kastil dan Cathedralnya (yang juga menjadi tempat shooting Harry Potter 1 & 2). Di dekat Kastil dan Cathedralnya ada sebuah sungai membelah, kadang satu-dua orang melintas dengan perahu dayung. So far aku baru berjalan-jalan ke City Center saja, belum menjelajah sudut-sudut kota lainnya. 



Durham Cathedral






Depan Kastil tempat asrama mahasiswa undergraduate


Bareng Kak Baz, Ketua PPI Durham merangkap tourguide

Aku merasa sangat bersyukur karena memilih Durham, sebuah kota kecil yang indah, tenang, cocok bagi orang sepertiku yang mencari kedamaian. Seperti filosofi Minang "Alam Terkembang Jadi Guru", belajar bisa dilakukan dimanapun dan dari sumber manapun. Aku berharap bisa belajar bertumbuh dari kota kecil ini, berkembang, belajar menyerap ilmu sebanyak-banyaknya (baik ilmu ekonomi syariah maupun ilmu kehidupan) dan kembali untuk mengajarkannya. Dan tentunya, aku berharap ilmu yang kupelajari akan berguna untuk kemajuan Islam dan Ekonomi Islam di Indonesia. 

Aku percaya bahwa ilmu yang bermanfaat akan mendekatkanmu kepada Allah, bukan malah menjauhkan kita dari-Nya. Karena itulah esensi belajar sesungguhnya: semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin meyakini kebesaran Allah. 



Bismillah


Durham, 21 September 2017

Rabu, 20 September 2017

Kenapa Harus ke Kampung Inggris?

“Kalau cuma untuk belajar bahasa Inggris doang, kenapa harus ke Pare? Di Jakarta juga banyak tempat les, kok!”

Bukan satu dua orang yang menanyakan pertanyaan itu ketika aku menyatakan ingin pergi ke Kampung Inggris, Pare untuk belajar bahasa Inggris selama sebulan. Dosen-dosen senior, keluarga, teman-teman, sampai boss-ku.

Ingin rasanya aku menjawab, “Kalau orang yang belum pernah ke Pare, pasti nggak tau rasanya, deh”, tapi tentunya, aku tidak bisa menjawab seperti itu ke boss-ku, hehe.

What’s so special about Kampung Inggris di Pare, sehingga aku merelakan resign kerja lebih awal untuk persiapan bahasa Inggris di sana? Apa daya tarik yang membuat ribuan siswa, dari SD, SMP mahasiswa, pekerja, bahkan ada juga kakek-kakek dari seluruh Indonesia sengaja datang ke sebuah desa kecil yang terletak di Kediri, Jawa Timur untuk belajar bahasa Inggris?

Pertama, kursus bahasa Inggris di Pare sangat banyak dan beragam. Dari program yang dasar seperti speaking dasar, pronounciation, vocabulary, grammar, sampai program public speaking maupun academic writing semua tersedia di sana, dengan lembaga kursus yang tersedia berjumlah ratusan. Tinggal pilih saja program mana yang paling sesuai dengan yang kita butuhkan. Dulu ketika pertama kali aku datang ke Kampung Inggris tahun 2013, karena kemampuan bahasa Inggris-ku masih nol, kursus yang kuambil adalah Pronounciation, Speaking, dan TOEFL. Sekarang berhubung aku perlu mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris untuk studi S2 di UK, maka kursus yang kuambil juga yang menunjang kebutuhan kuliah: Academic Writing, Public Speaking, dan Pre-Intermediate Speaking (Speaking for Presentation). Alhamdulillah, sebulan belajar di Pare membuatku semakin mantap untuk beradaptasi dengan kehidupan akademik di Inggris kelak, minimal untuk membuat paper, berdiskusi, presentasi, atau ikut confrence.




Beberapa lembaga les di Pare

Kedua, biaya kursus dan biaya hidup di Kampung Inggris yang super duper murah. Biaya program di Kampung Inggris beragam sesuai kebutuhan. Aku mengambil program kelas Public Speaking di Daffodils 175 ribu, Public Speaking di Global English 150 ribu, dan Academic Writing di Kresna hanya 70 ribu (!) untuk periode dua minggu atau sepuluh kali pertemuan. Bayangkan, mana dapet harga kursus segitu di Jakarta? Belum lagi setiap program masih menawarkan study club atau kelas tambahan tanpa perlu membayar biaya tambahan. Sementara biaya untuk makanan, sebenarnya biayanya agak lebih mahal dibandingkan ketika aku ke Kampung Inggris tahun 2013 karena inflasi, namun tetap saja: murah! Rata-rata habis 12 ribu sekali makan, paling hedon 15-20 ribu. Tapi tetap saja setiap hari aku harus menahan godaan jajanan-jajanan murah yang bertebaran sepanjang Pare: Ketan susu (3 ribu), sempol (sate lilit ayam, 500 rupiah per tusuk), pentol (bakso, 500-1000 rupiah per buah), dawet, jamur crispy, dan masih banyak lagi. Untuk tempat tinggal di camp aku membayar 500 ribu sebulan, dimana satu kamar ditempati berdua. Selain itu, untuk transportasi sehari-hari kami menggunakan sepeda yang bisa disewa sebesar 85 ribu per bulan. Intinya, biaya di Kampung Inggris sangat terjangkau bagi kantong mahasiswa, apalagi untuk sebuah investasi pendidikan.

Kamar di Camp Evergreen Pare

My luvly sempol ayam

Daily transportation in Pare

Murah kan?

Ketiga, sistem belajar dan lingkungan belajar di Kampung Inggris yang mengubah mindset. Di Kampung Inggris, bahasa Inggris itu seperti oksigen: ada di mana-mana.  Biasanya, yang menjadi mental block orang Indonesia untuk mempelajari bahasa Inggris adalah karena malu untuk mempraktekkannya. Kita malu untuk melatih kemampuan bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris karena takut salah atau takut dibilang sok. Namun di Kampung Inggris, orang-orang tidak malu untuk melatih kemampuan berbahasa dengan mengobrol menggunakan bahasa Inggris, mewawancarai orang yang ditemui dengan menggunakan bahasa Inggris, dan kadang kutemui di jalan-jalan ada yang sedang berpidato menggunakan bahasa Inggris. Prinsipnya, tidak apa salah, yang penting berani mencoba untuk berbicara. Tidak sedikit satu-dua temanku di Pare yang bahasa Inggrisnya masih medok bercampur bahasa Jawa, namun kemauan dan semangat mereka untuk mempelajari bahasa Inggris patut diacungi jempol. Program di camp-camp juga melatih kami untuk menggunakan bahasa Inggris setiap harinya, dengan adanya speaking area, menghafal vocabulary subuh-subuh, presentasi dan public speaking di hadapan banyak orang setiap malamnya, dan masih banyak lagi. Aku pernah diwawancara dalam bahasa Inggris oleh siswa yang kutemui di warung, dan di belokan jalan menuju tempat les yang biasa kulewati, ada anak-anak yang melatih public speakingnya disaksikan orang-orang yang lewat.

Speaking for Presentation di Kresna

Last but not least, Kampung Inggris terletak di sebuah desa yang pemandangannya masih desa banget, dengan sawah di mana-mana. Cocok buat menjauhkan diri dari hiruk-pikuk suasana kota yang sumpek. Selain itu, Kampung Inggris dekat dengan tujuan wisata seperti Batu, Malang, Gunung Bromo, Pulau Sempu, Bali, dan masih banyak lainnya yang paket wisatanya ditawarkan dengan harga murah. Tidak heran, setiap musim liburan Kampung Inggris penuh dengan mahasiswa yang menghabiskan liburan kuliahnya dengan aktivitas belajar sambil berlibur.

In the end, Kampung Inggris sebenarnya bukan tempat ajaib yang bisa membuat seseorang langsung jago berbahasa Inggris. Tapi, Kampung Inggris adalah tempat yang pas untuk mengubah mindset: belajar bahasa Inggris itu susah. Kuakui, setelah pertama kali datang ke Pare, aku semakin percaya diri untuk berbahasa Inggris. Dan kemampuan berbahasa Inggris membuka satu demi satu pintu peluang kepadaku: kesempatan untuk mendapat beasiswa dan berkuliah di Inggris. Karena itu, bagi teman-teman yang ada waktu, dana, dan ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya, aku sarankan sekali untuk mencoba belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris. 

Yuk, ke Kampung Inggris!








PS: Penulis tidak dibayar untuk endorse wkwkwk

Sabtu, 15 Juli 2017

Menjadi Awardee LPDP: Seleksi Substantif

Assalamualaikum Guys!

Kali ini, aku akan menceritakan pengalaman saat mengikuti seleksi substantif LPDP.
Seleksi ini merupakan seleksi yang sangat menentukan apakah kita akan diterima menjadi awardee beasiswa LPDP atau tidak. Oleh karena itu, persiapkan diri sebaik mungkin sebelum mengikuti seleksi!

Disclaimer: Tulisan dibuat berdasarkan pengalamanku saat mengikuti seleksi LPDP Batch 4 Tahun 2016. Kemungkinan ada perubahan mekanisme atau passing grade untuk tahapan seleksi terbaru. Untuk panduan lengkap selalu mengacu ke web LPDP ya!

Saat seleksi Batch 4 Tahun 2016, ada tiga seleksi yang harus diikuti dalam tahapan seleksi substantif, yaitu Leaderless Group Discussion, Writing Essay on The Spot, dan Interview. Untuk calon awardee tujuan Dalam Negeri, LGD dan EOTS dilakukan dengan bahasa Indonesia, sementara interview dalam kombinasi bahasa Indonesia dan Inggris. Sementara untuk calon awardee tujuan Luar Negeri, ketiga seleksi dilakukan dalam bahasa Inggris.

Saat hari-H, peserta harus melakukan verifikasi berkas untuk memastikan keaslian berkas yang di upload ke portal LPDP saat pendaftaran. Karena itu, kita wajib membawa berkas-berkas asli saat jadwal verifikasi berkas. Catat dan urutkan berkas di satu map, beserta kartu kelengkapan berkas, agar mudah di verifikasi. Setiap calon awardee akan mendapatkan jadwal yang berbeda-beda, misalnya aku mendapatkan jadwal Essay dan Leaderless Group Discussion di hari pertama, sementara jadwal verifikasi berkas dan wawancara di hari kedua.

Leaderless Group Discussion

Leaderless Group Discussion adalah diskusi berkelompok tanpa adanya pemimpin (leader). Saat Leaderless Group Discussion, aku dikelompokkan bersama beberapa orang di dalam sebuah ruangan dan diberikan sebuah kertas berisi topik untuk didiskusikan. Ada dua psikolog di ruangan yang mengawasi jalannya LGD namun tidak memberikan instruksi apa-apa. Kita mendapatkan waktu 5 menit untuk membaca masalah sebelum memulai diskusi selama 40 menit. Masing-masing peserta mendapatkan peran dalam diskusi tersebut. Karena kelompok LGD-ku mendapatkan topik mengenai Defisit pada BPJS, ada yang mendapatkan peran sebagai menteri kesehatan, menteri ekonomi, tenaga kesehatan, dan sebagainya. Kita diminta untuk menyampaikan pandangan mengenai topik berdasarkan peran masing-masing. Masing-masing peserta seleksi harus mendapatkan giliran untuk menyatakan pendapat. Jangan lupa, penting adanya notulen dan time keeper dalam grup. Setelah semua mengutarakan pendapat, kita merumuskan solusi yang disepakati dan satu orang volunteer untuk membacakan kesimpulan tersebut. Kemudian, catatan yang kita buat selama LGD dikumpulkan oleh panitia. 

Tips untuk LGD, jangan menjadi orang yang terlalu dominan, tetapi jangan juga menjadi orang yang terlalu pasif. Justru kita akan mendapat nilai plus ketika mengapresiasi opini orang lain dan meng-encourage teman satu tim untuk mengemukakan pendapatnya, misalnya dengan mengatakan "Saya setuju dengan pendapat saudara.." Kita harus menyampaikan pendapat dengan baik, tidak memaksakan pendapat kita atau menggurui. Jauhi sikap offensif atau defensif dengan pendapat orang lain, yang juga bisa terlihat dari sikap kita seperti menyilangkan tangan di depan dada atau menggeleng-gelengkan kepala ketika teman satu tim sedang berbicara. Memotong omongan teman satu tim is a big No. Kepercayaan diri, manner, cara kita berkomunikasi dengan teman satu tim, dan cara kita menghargai dan menanggapi pendapat orang lain merupakan hal-hal yang dinilai dalam LGD.

Essay On The Spot

Essay On The Spot diadakan di sebuah ruangan besar bersama puluhan orang. Saat EOTS, kita akan mendapatkan dua topik yang bisa dipilih salah satunya. Saat itu, aku mendapatkan tema pendidikan vokasi dan sekolah nelayan, kedua topik yang sejujurnya tak kukuasai. Kita mendapatkan waktu 30 menit untuk membaca pertanyaan dan membuat essay. Buatlah essay dengan struktur judul, pernyataan/masalah, solusi, dan kesimpulan. Bila yang ditanya adalah pro-kontra, maka bandingkanlah kelebihan dan kekurangan dari kedua opsi yang ada. EOTS sangat serupa dengan Writing Task 2 IELTS, oleh karena itu banyak-banyak berlatihlah menulis gaya writing task 2 IELTS.

Topik yang keluar saat LGD maupun EOTS adalah isu-isu terkini di Indonesia. Karena itu banyak-banyaklah membaca berita di koran agar selalu update, misalnya Jakarta Post yang memang berbahasa Inggris. Kami juga bergabung dengan grup telegram calon awardee LPDP dan berbagi informasi untuk kemungkinan topik yang keluar. Topik-topik yang keluar saat itu antara lain adalah tentang Reklamasi, Dwikewarganegaraan, Tarif Tol, Brain Drain, BBM satu harga, Pendidikan Vokasi, Dokter Layanan Primer, Tax Amnesty, Defisit BPJS, Hukuman Mati Bandar Narkoba, Kebijakan Plastik Berbayar, Kedaulatan Pangan.

Untuk persiapan sebelum seleksi substantif, sering-seringlah melakukan simulasi LGD, EOTS, maupun interview. Saat persiapan seleksi substantif, aku dan teman-teman melakukan simulasi dengan dibimbing oleh Bang Ali, Fitrah, dan Rania yang merupakan awardee LPDP, sehingga mereka bisa memberikan masukan dan evaluasi bagi kami.

Interview

Perlu diketahui, LPDP memiliki tiga tingkatan prioritas yang menjadi panduan dalam menyeleksi calon awardee.
Prioritas pertama yaitu bidang keilmuan teknik, sains pertanian, kelautan dan perikanan, dan kedokteran/kesehatan dengan passing grade 700.
Prioritas kedua yaitu bidang ilmu keilmuan, hukum, pendidikan, akuntansi/keuangan, dan agama dengan passing grade 750
Prioritas ketiga yaitu bidang keilmuan ekonomi, sosial, budaya/bahasa dan bidang lainnya dengan passing grade 800

Nilai yang kita dapat merupakan akumulasi dari nilai Leaderless Group Discussion, Essay on The Spot, dan Interview. Di antara ketiga seleksi, interview memiliki bobot yang paling menentukan yaitu sebesar 70% dari total nilai. Penentuan kelulusan didasarkan pada dua faktor, yaitu nilai total yang diperoleh calon awardee (apakah sudah lolos passing grade atau belum) dan berdasarkan catatan rekomendasi dari interviewer independen dan psikolog (direkomendasikan/tidak direkomendasikan). Dalam beberapa kasus, ada awardee yang sebenarnya nilai totalnya sudah memenuhi passing grade namun ternyata tidak direkomendasikan oleh interviewer sehingga tidak lolos seleksi. Oleh karena itu, interview memegang aspek paling penting. 

Posisiku saat itu sangat tidak menguntungkan. Pertama, aku mengambil lintas jurusan dari Fakultas Hukum ke Fakultas Ekonomi. Tentunya, perlu usaha ekstra untuk meyakinkan interviewer mengapa aku harus mengambil bidang lintas jurusan dan apa benefitnya bagi Indonesia. Kedua, bidang yang kuambil merupakan prioritas ketiga, yang tentunya butuh passing grade jauh lebih besar. Ketiga, aku memilih negara tujuan UK--yang konon menurut desas-desus kuota awardee ke UK sangat dikurangi karena sudah terlalu banyak yang dikirim ke sana. Namun aku tetap optimis, toh kalau memang rezeki tidak lari kemana. Apalagi, jurusan yang kutuju merupakan jurusan Ekonomi Syariah, salah satu dari tema prioritas LPDP (mencakup Kemaritiman, Perikanan, Pertanian, Ketahanan Energi, Ketahanan Pangan, Industri Kreatif, Manajemen Pendidikan, Teknologi Transportasi, Teknologi Pertahanan dan Keamanan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Teknologi Kedokteran dan Kesehatan, Keperawatan, Lingkungan Hidup, Keagamaan, Ketrampilan (Vokasional),  Ekonomi/Keuangan Syariah, Budaya/Bahasa, dan Hukum Bisnis Internasional)

Interview, walaupun merupakan aspek yang paling menentukan, ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Saat itu karena aku mengambil bidang disiplin ekonomi, aku masuk ke dalam kelompok wawancara 20. Setelah namaku dipanggil, aku masuk ke dalam sebuah aula besar yang berisi banyak meja yang sedang diwawancarai. Aku bergegas menuju meja 20 dan memberikan senyum terbaikku.

Karena memilih bidang Ilmu Ekonomi, aku mendapatkan dua interviewer yang berasal dari dosen-dosen Fakultas Ekonomi dari PTN dan satu orang Psikolog. 

Kurang lebih, ini pertanyaan yang diberikan kepadaku:
1. Jelaskan tentang diri kamu
2. Jelaskan jurusan yang mau kamu ambil. Mengapa mengambil jurusan tersebut?
3. Kenapa Inggris? Memang di Indonesia nggak ada jurusannya? Kenapa Universitas itu?
4. Organisasi apa saja yang diikuti selama kuliah? Kontribusi yang pernah dilakukan apa aja? Jelaskan satu-persatu. (Aku lama dikorek di bagian kontribusi)
5. Gimana style memimpin dan koordinasi dengan bawahan?
6. Habis lulus mau ngapain? Ada jaminan balik langsung jadi dosen nggak?
7. Pernah mengalami kesulitan apa saja dalam hidup?

Kunci dari wawancara adalah menjawab pertanyaan dengan tenang. Untungnya, interviewer-ku sangat ramah, rasanya seperti berhadapan dengan bapak dan ibu dosen sendiri saja. Saat wawancara asumsikan interviewer belum membaca essay kita, karena interviewer baru membaca essay secara scanning saat kita datang. Ceritakan poin-poin penting yang menjual, yakinkan mereka kenapa kita layak menjadi awardee. Tentu saja kejujuran paling penting, jangan membual atau melebih-lebihkan. Karena psikolog bisa mengetahui kalau kita menjawab tidak jujur. Jawab apa adanya saja sambil tetap menjual. 

Ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan awal, aku bisa menjawab dengan lancar. Aku menjelaskan bahwa aku memilih lintas jurusan karena masih sedikit ahli hukum yang memahami ekonomi syariah, dan mereka mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Mereka juga sudah tahu bahwa Durham University yang terbaik di dunia untuk jurusan Ekonomi Syariah. Ketika mereka bertanya mengapa aku tidak mengambil Malaysia, kukatakan dengan jujur bahwa aku berharap bisa bertemu dengan scholar internasional di UK untuk menjalin riset dan kerjasama internasional. Namun, satu pertanyaan tricky sempat agak sulit kujawab.

"Kamu dari tadi berkata bahwa sehabis lulus ingin jadi dosen. Kamu yakin kalau kembali ke Indonesia pasti akan diterima di kampus kamu?"

Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya menyadari, dan Bapak dan Ibu sebagai dosen juga pasti sudah tahu, kalau jalan untuk menjadi dosen di Indonesia masih sangat panjang. Saya masih harus melalui tahun-tahun yang panjang dan mengikuti seleksi lagi untuk benar-benar menjadi dosen. Tidak ada jaminan saya pasti diterima kampus menjadi dosen, tapi setidaknya, saya berusaha untuk itu. Dengan aktif mengikuti riset di lembaga kampus, menjadi asisten dosen di kampus, bahkan yang saya lakukan dengan menempuh S2 ini adalah upaya saya memantaskan diri agar layak menjadi dosen di Universitas Indonesia."

Mereka mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Kami bersalaman, dan mereka tersenyum hangat kepadaku. Aku meninggalkan ruangan dengan perasaan lega. Tenyata, 45 menit sudah berlalu.

Aku tidak yakin dengan hasil LGD dan Essay On The Spot-ku, tapi aku cukup optimis dengan hasil wawancaraku.

Bismillah, aku sudah melakukan ikhtiar yang terbaik, sisanya tinggal berdoa.

Alhamdulillah, tanggal 9 Desember, sebuah e-mail mampir di inbox-ku:


Sekian pengalamanku dalam mengikuti seleksi substantif LPDP. Bagi teman-teman yang akan mengikuti seleksi substansi, persiapkan diri yang terbaik, jangan lupa berusaha dan selalu berdoa!
Goodluck!



Postingan Terkait:

Sabtu, 01 Juli 2017

Ujian

Kata orang, ujian adalah sebuah keniscayaan; sebuah tahapan yang harus dilalui setiap orang sebelum naik tingkat.

Seorang karateka harus menempuh ujian penuh peluh untuk mendapatkan sabuk berbeda warna; seorang anak harus menempuh ujian akhir untuk naik kelas, dan seorang mahasiswa harus menempuh ujian skripsi untuk memperoleh sebuah gelar di belakang namanya.

Ujian menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diraih tanpa pengorbanan.

Kadang, ujian dengan materi yang sama diberikan berkali-kali. Itu artinya, kita belum lulus ujian tersebut. Kita harus mengulang, karena apa yang kita pelajari belum maksimal. Atau jangan-jangan, kita tidak mengerti apa yang diujikan.

Pernahkah kau berfikir, di dunia ini, setiap orang diuji dengan soal yang berbeda-beda?

Ada orang yang diuji dengan kekurangan harta; ada yang diuji dengan kelebihan harta. Ada yang diuji dengan kematian anaknya; ada yang diuji dengan kelahiran anaknya. Ada yang diuji ketika tidak punya pekerjaan, ada yang diuji dengan pekerjaannya. Ada yang diuji ketika belum menikah, dan ada yang diuji dengan pernikahannya.

Di suatu rumah, seorang anak sibuk mengais receh demi receh di sela-sela rak buku; demi mengumpulkan ongkos empat ribu rupiah, agar ia bisa berangkat sekolah

Di dapur sebuah rumah, seorang ibu mencampur nasi dengan garam dan membentuknya menjadi bulatan; hanya itu yang bisa ia sediakan untuk anak-anaknya

Di suatu kereta yang penuh sesak tanpa AC, seorang ibu berdesak-desak penuh keringat. Jarak jauh yang harus ditempuhnya setiap hari tidak sebanding dengan kebahagiaannya ketika bisa membelikan makan bagi anak-anaknya di rumah dengan jerih payahnya.

Seringkali, ketika ujian berat menimpaku, aku hanya menangis tanpa suara, dan bertanya-tanya:
Kenapa aku? Kenapa harus seberat ini?

Lalu aku melihat wajah Ummi. Dan semua keluh kesah serta pertanyaanku menguap jadi debu.

Apa artinya ujian hidupku bila dibandingkan dengan Ummi?

Puncakmanggu Undercover #4: Anak Istimewa


Setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang dipaksa untuk ahli di satu bidang tertentu, sementara mungkin sebenarnya ia memiliki keunggulan di bidang lain. Hanya saja, tidak semua keluarga dan lingkungan di sekitarnya menyadari itu.

Jakarta, 2017

Aku tercenung menatap layar yang menampilkan credit di akhir film. Tanpa sadar, airmata sudah menggenang di pipiku, akibat menonton film Taare Zameen Par. Film ini menceritakan tentang seorang anak yang selalu tertinggal di kelas, yang dikira bodoh namun ternyata mengalami problem dysleksia, yaitu tidak mampu membaca layaknya orang normal. Aku terpukul menonton film ini, menyesal karena tidak menontonnya sejak dua tahun yang lalu. Pikiranku melayang, memutar memori, mengenangnya...

Sukabumi, 2015

“Fah, siap-siap ya.. Di kelas tiga yang kamu ajar ada satu orang Anak Berkebutuhan Khusus.”

Ketika aku mendengar bahwa harus mengajar kelas tiga SDN Puncakmanggu yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), aku langsung pasrah. Bingung memikirkan apa yang harus kuperbuat dengan anak ini. Apalagi, jurusanku adalah jurusan Hukum, bukan jurusan psikologi yang sedikit banyak mengerti bagaimana penanganan yang tepat untuk ABK.

Saat pertama kali kami datang ke Sekolah dan melakukan observasi kelas, aku meminta Pak Baban, guru kelas 3, untuk menceritakan siapa anak yang agak tertinggal dalam pelajaran. Tanpa ragu-ragu, Pak Baban menunjuk ia yang duduk di sudut kelas.

Namanya Nia. Wajahnya terlihat murung dan rendah diri. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan badannya lebih besar dari kebanyakan anak-anak di kelas. Menurut Pak Baban, Nia sudah tiga kali tidak naik kelas. Aku tersenyum kepada Nia, tapi Nia hanya menatapku dengan pandangan kosong dan ketakutan.

“Namanya siapa?” aku mencoba menyapanya. Nia hanya diam sambil memandangku bingung. Wah gawat, sepertinya dia tidak bisa bahasa Indonesia. Sementara aku tidak bisa berbahasa Sunda.

Aku kembali menyimak pelajaran di kelas. Sambil mencatat, aku memperhatikan metode yang digunakan Pak Baban untuk mengajar anak-anak. Pak Baban membagikan buku teks Agama Islam. Buku yang mereka gunakan dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh enam orang anak karena jumlahnya terbatas. Pak Baban meminta anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang beliau mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku untuk ditulis anak-anak. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.

“Nah anak-anak, rajin itu pangkal...” Pak Baban bertanya di depan kelas. “Pandaaai!” jawab anak-anak. “Kalau malas, pangkal?” tanyanya lagi. “Bodoooh..” sahut anak-anak.

“Nah ini contohnya anak yang malas pangkal bodoh. Liat Nia, udah kelas tiga masih nggak bisa baca. Makanya Nia jangan malas, belajar yang rajin ya supaya bisa baca.” Lanjut Pak Baban sambil menunjuk Nia.

Aku terhenyak karena Pak Baban mencontohkan “Nia malas makannya bodoh” dengan suara lantang kepada seisi kelas.

Pak Baban menyadari tatapan mataku yang kebingungan dan mencoba menjelaskan. “Bu Ipah, saya mah orangnya terus terang. Kalau anak pintar ya saya bilang pintar, kalau anak bodoh ya saya bilang bodoh.”

Hatiku ingin rasanya memprotes Pak Baban, namun lidahku kelu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun, aku bukan guru di sini, Pak Babanlah guru mereka sebenarnya yang harus kuhormati.

Sementara itu, Nia yang duduk di sudut kelas menunduk semakin dalam. Malu.

Labelling adalah hal paling menyakitkan yang mungkin tidak sengaja dilakukan oleh guru kepada muridnya. Ketika seseorang dicap bodoh, ia akan benar-benar menganggap dirinya bodoh, sehingga ia benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu. Potensi yang ada dalam diri anak akan padam. Dan Nia, telah mendapat labeling sedari awal. Padahal mungkin saja Nia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya, namun daya tangkapnya memang terbatas. Labelling ini bertambah parah karena Nia dicap sebagai “bodoh” di depan teman-temannya. Tidak heran Nia terlihat sangat rendah diri.

Kasihan Nia....

Hari-hari berikutnya, aku tidak bisa mengamati Nia dengan intensif. Mengajar di kelas berisi 31 orang membuat perhatianku terbagi-bagi. Setiap anak menuntut untuk diperhatikan dengan porsi yang sama besarnya, sementara kemampuanku terbatas. Akhirnya aku hanya bisa mengobservasi Nia dari jauh.

Selama ini kupikir Nia selalu mengerjakan tugas-tugasnya, karena ketika teman-temannya sibuk menulis, Nia juga asyik menulis. Namun ketika tugasnya dikumpulkan, aku terkejut. Apa yang dikumpulkan Nia adalah rangkaian huruf yang acak tanpa makna. Dugaanku, Nia menyibukkan diri menulis hanya agar ia tidak dimarahi guru. Sementara, ia sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang ia tulis. Akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan tugas lain untuk Nia, yang lebih sesuai dengan kemampuannya.

Beberapa kali aku meminta anak-anak untuk membentuk kelompok, Nia terlihat dihindari oleh teman-temannya untuk bergabung menjadi anggota kelompok. “Ih nggak mau sama Nia, ah. Nia mah gitu, lelet.” Bisikan-bisikan ini seringkali terdengar. Aku mencoba membujuk anak-anak, “Ayo, anak-anak. Kalau ada temannya yang belum selesai mengerjakan tugas atau belum mengerti pelajaran, tolong diajari yaa.”

Saat pelajaran Bahasa Indonesia, setiap anak mendapat tugas untuk membaca teks dongeng. Setiap anak mendapat giliran membaca walaupun ada yang terbata-bata. Namun bacaan berhenti ketika tiba giliran Nia.

“Nia, ayo dibaca tulisannya.” Aku tersenyum sambil menunjuk baris yang harus ia baca.
Nia menggeleng. “Teu tiasa, bu...”[1] Bisiknya dengan suara yang sangat lirih.
“Kalau begitu, kamu ikuti ibu ya? Ibu membaca, nanti Nia tirukan.”

Aku mengeja kata-kata satu persatu. Nia mengikuti. Walaupun kemampuannya terbatas, aku ingin tetap melibatkan Nia dalam setiap aktivitas kelas. Setidaknya hal ini akan menambah kepercayaan dirinya, bahwa ia sebenarnya bisa seperti teman-temannya yang lain.
***

Suatu pagi, seperti biasa aku meminta anak-anak untuk menulis Diary. Namun satu orang kulihat diam saja dan tidak menulis. Nia. Aku mendekatinya. Kulihat tangannya kosong tidak menggenggam alat tulis.

Aku menghampiri meja Nia. Duduk sejajar dan menatap kedua matanya. “Nia teh kunaon, teu nyerat?”[2]
Nia hanya menatapku takut-takut sambil menggeleng.
Hanifah, teman sebangku Nia, menyahut. “Nia nggak punya pulpen, bu.”
Aku mengambil pulpen di mejaku dan menyerahkannya ke Nia. “Kalau begitu, pakai pulpen ibu saja.”

Namun setiap satu jam pelajaran berakhir, Hanifah selalu mendatangiku dan menyerahkan pulpen yang tadi kupinjamkan ke Nia. Jam pelajaran berikutnya terjadi peristiwa yang sama, Nia tidak punya pulpen dan aku kembali meminjamkannya.

Keesokan harinya, ketika menghampiri meja Nia, aku melihat Nia menulis dengan isi pulpen. Ia tampak bersusah payah menulis dengan isi pulpen yang lemas itu. Aku hampir menangis melihatnya.

Aku meraih pulpenku dan menggenggamnya di jemari kecil Nia. “Nia, ini pulpen ibu, untuk kamu. Nggak usah dibalikin ya?”
Nia hanya mengangguk.

Di hari lain, beda lagi yang terjadi.
“Buuu! Nia nggak nulis buu!” Hanifa berteriak memanggilku.
Aku menghampiri mejanya, membungkuk agar sejajar dengan Nia, dan bertanya perlahan. “Nia kunaon teu nyerat?”
Nia masih diam seribu bahasa. Kuulangi lagi pertanyaanku, ia tidak menjawab. 

Aku mulai frustasi bagaimana cara memahami murid yang tidak mau berbicara. Kulihat genggaman tangannya, ia masih memegang pulpen yang kuberikan kemarin. Jadi masalahnya bukan karena tidak ada pulpen, lalu kenapa?

Untunglah saat itu Ucheng, RED alias bapak para pengajar GUIM di titik satu sedang melintas. Aku memanggilnya, meminta tolong Ucheng yang bisa berbahasa Sunda untuk membujuk Nia menulis. Ucheng menghampiri Nia dan berbincang-bincang dengannya. Tidak lama kemudian ia menghampiriku.

“Iffah punya kertas nggak untuk Nia? Bukunya habis.”
Aku terperangah. “Ya ampun, jadi masalahnya di kertas? Tadi waktu gue nanya kenapa, dia diam aja.”
“Dia juga nggak jawab waktu gue tanya. Pas gue bolak-balik buku tulisnya, semua halaman penuh. Nggak ada yang kosong.”

Kata-kata Ucheng membuatku terpukul. Aku merasa gagal jadi guru yang baik, karena kurang peka memperhatikan hal-hal kecil tentang muridku. Aku gagal memahami muridku sendiri.

Aku bertekad, aku akan menjadi guru yang lebih memperhatikan murid-muridku. Terutama Nia, yang memang butuh perhatian khusus.
***

Hari itu aku memutuskan untuk home visit ke rumah Nia ditemani Nuurul dan Ucheng. Rumah Nia terletak di daerah Cipeusar, dimana jalanannya masih berlumpur, belum diaspal atau setidaknya dilapisi dengan batu. Dalam kunjunganku ke beberapa murid yang rumahnya terletak di Cipeusar, aku menyimpulkan bahwa sebagian besar warga yang tinggal di sana memang tidak bisa berbahasa Indonesia. Entah kebetulan atau tidak, beberapa muridku yang agak tertinggal dalam menangkap pelajaran di kelas ternyata tinggal di Cipeusar. Mungkin saja, kemampuan bahasa Indonesia murid berkaitan dengan kemampuan mereka menangkap pelajaran. Sebab, sebagian besar buku teks yang digunakan di Sekolah memang berbahasa Indonesia.

Rumah Nia terletak di tengah pematang sawah, jadi mau tidak mau kami harus berjingkat di jalan setapak pembatas antar sawah dengan hati-hati untuk mencapai rumahnya. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Bapak dan Ibu Nia yang terlihat sangat tua. Mungkin, mereka bahkan lebih tua daripada orangtuaku. Rumah Nia merupakan rumah panggung dari kayu yang berukuran tidak terlalu luas. Dari luar rumah itu terlihat gelap, tidak banyak penerangan.

Kami berbincang-bincang di teras rumah Nia. Karena aku tidak mengerti bahasa Sunda, aku bercakap-cakap dengan orangtua Nia dengan perantara Ucheng sebagai penerjemah. Dari cerita Ucheng, sepertinya orangtua Nia buta huruf dan tidak menempuh pendidikan. Mereka belum mengerti betapa pendidikan sangat penting untuk meningkatkan derajat kehidupan Nia kelak. Tidak heran bila Nia masih belum bisa membaca, lingkungannya tidak kondusif untuk belajar. Apalagi ia tidak memiliki fasilitas untuk berhubungan dengan informasi dari luar, seperti televisi atau koran.

Sepulang dari sana, aku berpikir keras. Waktuku di sini tidak banyak, aku hanya punya waktu tiga minggu. “Gue harus berbuat apa untuk Nia? Nia nggak bisa bahasa Indonesia, sementara, kendala terbesar gue di Sukabumi adalah Bahasa Sunda. Bagaimana cara gue mendekati dan memahami dia?” tanyaku pada Ucheng.

“Yang paling penting, Iffah harus bisa setidaknya mengubah pandangan Pak Baban mengenai Nia. Karena itu langkah paling awal supaya Nia bisa berkembang setelah kita pulang.” Sahut Ucheng.
***

Tidak terasa sudah minggu terakhir di Sukabumi. Aku mencoba mengejar ketertinggalan, nilai-nilai yang belum kusampaikan, masalah anak-anak yang belum kuselesaikan. Terutama tentang Nia.

Minggu ini adalah saat dimana guru asli kembali mengambil alih kelas. Mencoba memanfaatkan kesempatan, aku meminta izin kepada Pak Baban untuk meminjam Nia dan Firman untuk mengajari mereka di lorong luar kelas. Aku memberi tugas kepada Firman untuk membaca bacaan dalam buku dongeng. Sementara untuk Nia, aku menggunakan tabel abjad yang kupinjam dari Maul, pengajar kelas satu.

Perlahan kuajari Nia belajar mengeja huruf. Aku sedikit takjub, ternyata Nia tidak sebodoh yang orang-orang bilang, ia mampu belajar membaca dengan cepat. Hanya saja, ia tidak pernah punya kesempatan untuk itu. Label yang ia terima dari guru dan teman-temannya, serta kurangnya fasilitas dan dukungan dari orangtuanya, tidak pernah mendukung ia untuk berkembang.
***

Hari ini hari terakhirku mengajar. Kuharap, kehadiranku yang sesaat di SD ini dapat memberikan jejak yang menginspirasi murid-muridku. Aku sudah berpesan kepada beberapa anak yang pintar agar membantu mengajari teman-teman mereka. Kepada Pak Baban, aku berpesan agar ia selalu memberi dukungan kepada murid-muridnya, dan Nia dapat berkembang selama ia dibantu oleh teman-temannya. Aku juga menitipkan pesan khusus kepada Hanifa, teman dekat Nia, untuk membantu Nia sampai dia bisa membaca.

Aku membuka lembaran Diary milik Nia yang penuh coret-coretan huruf tak beraturan itu, dan mulai menggoreskan pena di halaman kosong. Menulis surat untuk Nia.

Halo Nia :)

Mungkin saat Ibu menulis surat ini, Nia belum mengerti apa arti kata-kata yang Ibu tulis. Tapi kalau Nia sudah mengerti, selamat! Itu artinya Nia sudah berlatih dengan rajin sehingga Nia akhirnya bisa membaca :)

Selama tiga minggu di sini, Ibu senang sekali bisa mengajar anak yang mau berjuang dan bekerja keras seperti Nia. Sayang sekali, Ibu harus pulang karena harus melanjutkan sekolah Ibu di Jakarta.

Nia, kalau Ibu pulang nanti, tetap semangat belajar ya. Sering-sering main ke Rumah Pelangi, banyak buku bagus di sana. Banyak-banyaklah membaca, sebab buku adalah jendela ilmu. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak yang kita tahu tentang dunia di luar sana :)

Ibu sayang Nia

-Bu Iffah



[1] Tidak bisa, Bu
[2] Nia kenapa, tidak mau menulis?