Selasa, 24 Januari 2017

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 3)

Sampai juga di Thailand!
Waktu menunjukkan jam 6 pagi. Bis berhenti di perbatasan antara Malaysia dan Thailand, di Sadao. Masih dengan wajah kucel dan setengah sadar habis bangun tidur, kami turun dari Bis dan melewati posko imigrasi di Thailand.

Welcome to Thailand!

Setelah beres urusan imigrasi, kami naik kembali ke dalam Bis. Bis kembali melaju, dan tidak berapa lama kemudian, kami sampai di Hatyai. 

Kami diturunkan di kantor travel tempat bis sambil  menunggu mobil jemputan datang. Bang Heru mencoba membeli simcard untuk menghubungi kenalannya yang orang Thailand. Bang Heru yang pernah menempuh studi Doktor di Mahidol University untungnya bisa berbahasa Thailand, walau hanya untuk conversation. Aku hanya bisa terbengong-bengong mendengarnya. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang mereka ucapkan, aku tidak bisa membaca aksara keriting-keriting yang terpampang di mana-mana. Kalau aku tersasar di Thailand, matilah sudah.

Ternyata, transaksi membeli simcard di Thailand sangat rumit. Kami membeli dua simcard, untuk hp ku dan hp Bang Heru. Kami diminta untuk membuka tutup belakang ponselnya, dan diminta untuk melepaskan simcard yang lain. Wajah mereka penuh curiga.

"Emang kenapa harus begini, bang?" Tanyaku penasaran.
"Ini wilayah rawan konflik. HP-nya harus diperiksa, khawatirnya isinya bom. Apalagi wajah kita muslim, nanti dikira mau ke Pattani untuk jadi mujahidin." Bang Heru menjelaskan.
"Tapi kita kan emang mau ke Pattani?"
"Iya, tapi kita pura-puranya mau bermalam di Hatyai dulu. Kalau ketahuan mau ke Pattani, pasti nggak diizinkan."

Barulah aku mengerti, ternyata kami hanya transit di Hatyai untuk menuju Pattani. Pattani yang terletak di Thailand Selatan memang kawasan yang mayoritas penduduknya adalah muslim, kontras sekali dengan wilayah-wilayah lain di Thailand.

Tak lama, jemputan yang akan mengantar kami ke Pattani datang. Kami menyewa sebuah minibus untuk perjalanan beberapa hari di Thailand beserta supirnya. Mobilnya sangat nyaman, apalagi abang sopirnya ternyata punya wifi, horee *fakir kuota*



Baru berangkat beberapa menit, kami memutuskan menepi sebentar untuk sarapan. Laper euy. Bang Heru sengaja memilih warung kecil yang penjualnya mengenakan kerudung, karena makanan di Thailand itu banyak Babinya. Penjual warung itu berwajah melayu, sepertinya dari suku Pattani. Setelah memastikan kehalalan menu yang dijual, dengan senang hati kami memesan makanan khas Thailand: Tom yam! 



Rasa asam pedas yang khas ditambah cumi dan udang yang melimpah membuatku jatuh hati kepada Tom Yam. Asam, tapi enak! Kami juga memesan telur dadar, yang entah kenapa rasanya beda dengan telur dadar di Indonesia. Super enak. Katanya sih, pakai minyak khas Thailand.


Untuk pertama kalinya pula, aku mencoba minuman khas Thailand: Thai Tea. Thai tea ini menu wajib di warung-warung Thailand, kalau di Indonesia istilahnya es teh manis kali ya. Dan ternyata... enak banget!



Must try!

Perut kenyang, hati riang, perjalanan kembali dilanjutkan.

Tujuan pertama kami adalah Prince of Songkla University.
Aku baru sadar bahwa kami berempat belum mandi, dan mobil tidak akan transit di tempat untuk membersihkan diri. Ya sudahlah pasrah saja..

Memasuki daerah Pattani, aku baru percaya bahwa cerita Bang Heru tidak berlebihan. Di jalan-jalan yang kami lewati, ada barikade dengan pasukan militer yang berjaga. Jantungku berdegup kencang, memangnya seperti apa daerah yang kami tuju? Apakah rawan konflik di sana-sini? Ya Allah, semoga kami tidak terkena imbas konflik, doaku dalam hati.


Memasuki daerah Prince of Songkla University, kami melihat pemandangan mahasiswa yang sedang berduyun-duyun menuju ke masjid untuk Sholat Jum'at. Di sana-sini aku melihat mahasiswa mengenakan seragam hitam putih, dengan wanita-wanita berkerudung panjang dan bercadar. Rupanya, mahasiswa Universitas di Thailand mengenakan seragam ketika menjalani aktivitas perkuliahan. Mobil menepi di pinggir masjid. Bang Heru, Ghozi, dan Pak Supir mengikuti sholat Jum'at, sementara aku dan Bu Ida menunggu di mobil. Tak berapa lama, Bu Ida sudah tertidur. Aku sibuk memperhatikan pemandangan sekitar. Kelihatannya Pattani aman-aman saja, tidak seseram yang kubayangkan.


Selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan ke Halal Institute Prince of Songkla University.

Kami ditemani oleh Bro Mahbub, kawan Bang Heru yang berasal dari Bangladesh.
Di sana kami bertemu dengan beberapa pengurus lembaga tersebut. Wajah-wajah mereka tak ubahnya orang Indonesia, khas Melayu, walaupun ada satu-dua orang yang berwajah oriental.
Masalah mulai muncul ketika kami mengalami kesulitan berkomunikasi. Kami tidak bisa bahasa Thailand (ya iyalah) sementara tuan rumah kami terbatas penguasaan bahasa Inggrisnya. Alhasil wawancara yang digali harus dibantu sana-sini agar kami memahami bahasa satu sama lain. Namun kami cukup mendapatkan banyak informasi yang bisa digunakan dalam penelitian kami. Mereka juga menyambut kami dengan ramah layaknya saudara sendiri, dan memanggil kami dengan sebutan "Sister" dan "Brother"


With brother and sister in Prince of Songkla University

Kami melanjutkan perjalanan menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Bang Heru memesan hotel ini melalui temannya di Pattani, karena saat aku mencari hotel via internet, tidak ada data hotel yang berlokasi di sana, entah kenapa.
Sebagai bendahara perjalanan ini, betapa girangnya hatiku ketika mengetahui biaya hotel kami hanya sebesar 880 Baht (sekitar 340 ribu) per malam, setengah dari harga hotel di Malaysia. Hotelnya bersih dan nyaman. Kualitasnya jauh lebih baik daripada hotel di Malaysia, dengan standar bintang 3. Sempat kulihat di lobby, hotel ini juga sudah memiliki sertifikat Halal dari CICOT (otoritas masalah halal di Thailand). Artinya, makanan yang disajikan hotel ini sudah terjamin kehalalannya.


Malam itu, kami makan malam bersama dengan Ajarn Syamsuddin, Dosen di Fatoni University kenalan Bang Heru. Ajarn (dibaca: acan) dalam Bahasa Thai artinya guru. Ternyata, Ajarn Syamsuddin juga pernah mengajar di Indonesia. Sedikit banyak beliau mengerti bahasa Indonesia, memudahkan kami untuk berkomunikasi. Selain menjadi dosen, Ajarn Syamsuddin juga menjual kerudung dan cadar panjang khas Pattani. Kami sempat mampir ke rumahnya yang juga merupakan toko. Melihat modelnya yang lucu-lucu dan bahannya yang berkualitas, aku dan Bu Ida tergoda dan membeli kerudungnya dan akhirnya kami membeli seorang satu.


Pattani merupakan surga wisata kuliner halal, dan aku bersyukur kami sempat mencicipi kuliner-kuliner khas Pattani. Seafood yang enak dan melimpah, halal, harganya juga murah-murah, membuat kami kalap dan tidak berpikir panjang ketika memesan makanan, hehe. Pokoknya puaas wisata kuliner di Pattani!



Serius banget makannya

Keesokan harinya, kami mengunjungi Fatoni University, diantar oleh Ajarn Syam. Ajarn Syam mempertemukan kami dengan Ajarn Panat Nontanawich, dari R&D Halal Product di Fatoni University. Ajarn Panat menceritakan kepada kami mengenai produk halal yang sesungguhnya masih berkembang di Thailand. 

Aku baru sadar, sesungguhnya Indonesia memiliki potensi yang lebih maju untuk mengembangkan produk halal daripada Thailand. Indonesia sudah memiliki lembaga yang berkompeten, ada Majelis Ulama, dan SDM yang dibutuhkan untuk memeriksa kehalalan produk juga sudah tersedia. Thailand hanya memiliki beberapa Laboratorium Halal, antara lain di Prince of Songkla University yang kami kunjungi kemarin, Fatoni University, dan Cholalangkorn University di Bangkok yang akan kami kunjungi besok. Namun, Thailand dengan jumlah penduduk Muslim hanya sebesar 10% berhasil menjadi lima besar eksportir produk Halal. Apa rahasianya?


(Bersambung biar penasaran. Sebagian besar pertanyaan kami tentang Thailand akan terjawab dalam kunjungan ke Chulalangkorn University. Jeng jeng jeeeng)



Diskusi dengan Dr. Panat, Fatoni University

Break makan siang tiba. Kami diajak menyantap makan di Fatoni University, karena kebetulan sedang ada acara pertemuan dari beberapa halal institute.


Saat itu, kami sedang kebingungan memikirkan agenda untuk keesokan hari di Bangkok. Bang Heru sudah menghubungi seorang Professor di Chulalangkorn University untuk bertemu, namun sampai saat itu kami belum mendapatkan jawaban dari beliau. Memang beliau salah satu tokoh terkenal di Thailand, yang tentunya sulit untuk dihubungi dan bertemu dengan orang biasa.


Rupanya Allah memberikan jalan yang tidak kami sangka-sangka. Siapa sangka, Prof. Winai Dahlan yang dicari-cari ternyata sedang menghadiri pertemuan di Fatoni University. Langsung saja, Bang Heru dan Ghozi menghampiri Prof. Winai yang sedang makan siang dan mengajukan permintaan untuk bertemu. Alhamdulillah, Prof. Winai setuju untuk meluangkan waktunya. Benar-benar rezeki anak sholeh!


Selepas dari Fatoni University, kami kembali ke hotel untuk berkemas. Besok pagi, kami akan berangkat ke Bangkok dari bandara Hatyai, karena itu kami meninggalkan Pattani menuju Hatyai. 

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri mengunjungi peninggalan Islam di Pattani. Tentu saja, sepanjang perjalanan kami berkeliling Pattani selama dua hari ini, kami melewati checkpoint yang dijaga oleh militer bersenjata.


Masjid 300 Tahun
Kami mengunjungi masjid Telok Manok di wilayah Narathiiwat, yang terkenal dengan sebutan masjid 300 tahun. Konon, masjid ini merupakan masjid tertua di Thailand. Arsitektur masjid ini mengingatkan kami dengan Masjid khas jawa. Lucunya, aku membaca tulisan-tulisan yang tertempel di masjid, walaupun aksaranya merupakan arab gundul, tapi bahasanya adalah bahasa melayu.


Masjid Krue Se


Perjalanan selanjutnya membawa kami ke Masjid Krue Se. Masjid ini disebut juga dengan nama Masjid Gersik. Konon, asal-usul nama ini karena sejarah penyebaran Islam di Pattani berasal dari Jawa. Masjid ini juga menyimpan sejarah kelam. Masjid ini tempat terjadinya pembantaian 32 gerilyawan Muslim oleh militer Thailand. Pada tanggal 28 April 2004, Militer menyerbu masjid setelah pengepungan selama tujuh jam dan menghujani masjid dengan peluru. Sampai sekarang, bekas-bekas peluru masih bisa dilihat di beberapa sudut masjid Krue Se.



Terakhir, kami singgah di Masjid Pattani. Masjid terbesar dan tercantik di Thailand itu sangat indah, namun sayangnya waktu kami terbatas sehingga kami hanya sempat berfoto-foto sebentar di depannya.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Mobil bergerak semakin menjauhi provinsi Thailand Selatan. Kami singgah sebentar di sebuah rumah makan untuk the last supper, karena perut sudah keroncongan. Itulah saat-saat terakhir kami bebas menikmati makanan tanpa meragukan kehalalannya. Bang Heru berpesan, puas-puasin saja makan halal di sini karena di Bangkok akan sulit mencari makanan halal. Siap Bang!




Hedon in Thailand

(bersambung ke part selanjutnya)

Senin, 16 Januari 2017

Endless Pray

"Berdoa tanpa putus itu seperti membuat anak tangga yang semakin tinggi. Awalnya hanya setinggi sekian centi, lalu kita naik.
Kita buat lagi, jadi sekian puluh centi hingga akhirnya ratusan meter dan menyentuh bahkan menyundul langit
Disitulah, langit membuka pintu.
Apalagi yang mendoakan banyak, tangganya makin cepat tinggi dan makin banyak menyundul langit rame-rame. Pasti yang di atas langit tidak mungkin tidak membukakan."
-dikutip dari postingan Hanum Rais

:')

Kamis, 12 Januari 2017

Harus Kaya!

Jadi muslim itu harus kaya. Sepakat nggak?

Kebanyakan orang mungkin akan mengernyitkan dahi, dan membantah, "Bukannya semakin kaya semakin banyak godaaannya ya? Semakin susah masuk surga dong. Enakan jadi orang miskin ah, disayang Allah."

Ya itu tergantung, kamu mau jadi orang kaya yang seperti apa? 
Seorang muslim haruslah mandiri secara finansial dan nggak merepotkan orang lain. Selain itu, semakin kaya seseorang, semakin terbukalah kesempatannya untuk beramal baik. Naik Haji, Zakat, Sedekah, adalah sederetan amalan yang bisa kita lakukan dengan bebas bila kita banyak rezeki. Menjadi kaya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tapi juga bagi masyarakat banyak yang kita bantu--dengan sedekah, dengan membuka lowongan pekerjaan. Dunia di tangan, akhirat di hati. 

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah buku yang sangat inspiratif dari Robert T. Kiyosaki, pengarang Best Seller "Rich Dad Poor Dad". Buku ini berjudul "Why A Students Work for C Students?". Judul yang menggugah rasa penasaran saya, sehingga saya membacanya. And I swear, this is must read books for people in quarter life age like me. Dari buku ini, saya belajar tentang personal finance, ilmu yang nggak pernah diajarkan di jenjang pendidikan manapun, tapi sangat berguna di dunia nyata.



Short review, buku ini bercerita tentang betapa pentingnya menjadi C Student--Capitalist. Banyak orang yang membenci kapitalisme, karena menganggap kapitalisme itu jahat. Tapi, tidak banyak orang yang berpikir untuk menjadi kapitalis. Kapitalis yang dimaksud adalah penggerak perekonomian. Menurut Kiyosaki, kapitalis sesungguhnya adalah seorang enterpreneur, bukan CEO perusahaan yang sekedar menjadi manager. 

Kiyosaki mengatakan bahwa kondisi keuangan global saat ini berawal dari kegagalan sistem pendidikan. Kebanyakan orangtua meng-encourage anak-anak mereka untuk sekolah yang tinggi agar bisa mendapat pekerjaan yang bagus. Sayangnya, kebanyakan orang tidak sadar sistem pendidikan saat ini secara tidak langsung membentuk seseorang untuk menjadi Employer (bekerja bagi orang lain) dan Salarymen (orang yang menjual skillnya untuk mendapatkan uang, contohnya Dokter dan pengacara). Padahal, orang-orang terkaya di dunia bukanlah berasal dari kalangan E atau S, tetapi berasal dari kalangan Investor (menanamkan modal di usaha orang lain) dan Businessman (yang menciptakan lapangan pekerjaan). Kebanyakan siswa yang merupakan A Students (Academic-- whoa, thats me!) akan dikalahkan oleh C students (Capitalist).

Buku ini juga menceritakan sumber masalah di masyarakat sekarang, yaitu entitlement mentality, atau perasaan merasa berhak atas bantuan dari orang lain. Atau bahasa kasarnya, manja. 
Kiyosaki menggambarkan program Obamacare (yang diikuti oleh program BPJS di Indonesia), yaitu program bantuan sosial bagi masyarakat di Amerika. Program ini dengan cepat menjadi populer, namun masyarakat maupun pemerintah tidak menyadari bahwa program ini merupakan sebuah bom waktu. Obamacare merupakan subsidi bagi masyarakat yang diberikan oleh pemerintah, dimana sebenarnya dana pemerintah berasal dari pajak yang dikenakan kepada masyarakat. Suatu saat, dana yang ada sudah tidak akan cukup lagi menanggung kebutuhan masyarakat, sehingga akan tiba masanya seorang cucu wajib membayar beban yang ditimbulkan oleh generasi kakek dan neneknya. 
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa daripada terus menerus mengharap diberikan ikan, kita harus mulai belajar memancing. Dan pengetahuan akan personal finance sangat penting dalam menghadapi kondisi keuangan dunia yang serba tidak pasti.

Masih banyak lagi point bagus di buku ini, bisa dibaca sendiri ya. Yang jelas, buku ini sangat merubah mindset saya tentang keuangan. Buku ini juga menggugah kesadaran saya untuk belajar banyak tentang personal finance. 

Ketertarikan saya membuat saya menemukan sebuah game yang seru untuk belajar mengenai keuangan: Money Race 2

Money Race 2, bisa di download di playstore

Game ini merupakan simulasi kehidupan nyata, dengan player sebagai seseorang yang memiliki modal awal. Player hanya seorang karyawan biasa, yang memiliki gaji, punya tunggakan kartu kredit, dan cicilan mobil. Namun player bisa memilih kemana uangnya akan ia salurkan: ke investasi melalui saham, atau properti. Sesekali, player juga mengalami hal-hal yang membuat uangnya menyusut, seperti dipecat dari pekerjaan, rumah kebakaran, atau mengalami perceraian. Dengan game yang super addicted ini, saya belajar banyak prinsip keuangan yang sudah diajarkan di buku-buku Kiyosaki. 

Calon anak FE belajar neraca. Kayak neraka.

Saya belajar mengenai prinsip asset (something that put money in your pocket) dan liability (something that take money out of your pocket). Saya belajar bahwa ada jenis hutang yang baik (hutang yang digunakan untuk investasi) dan hutang yang buruk (hutang yang digunakan untuk tujuan konsumtif). Saya juga belajar bahwa investasi berupa memiliki aset (kantor, atau properti) jauh lebih menguntungkan dan lebih banyak memberikan passive income dibandingkan memiliki saham. Game ini recommended deh pokoknya!

Perlahan-lahan, saya mencoba mempraktekkan ilmu personal finance, dimulai dari mencatat income dan expenses. Selama ini saya suka bingung melihat rekening yang cepat sekali menyusutnya, yang entah pada kabur kemana. Akhirnya saya mencoba menginstall aplikasi android yang bernama Money Lover



Contoh, bukan punya saya ini... 

Applikasi ini sangat membantu dan sangat praktis. Setiap pengeluaran dan pemasukan kita setiap harinya bisa tercatat dengan rapi, dengan tampilan yang lucu pula. Kita bisa melihat pengeluaran kita hari ini apa saja, dan habis berapa. Nggak ada lagi yang kebingungan kenapa uang tau-tau sudah habis. Ini juga melatih kita untuk disiplin terhadap pengeluaran kita. Sejak menggunakan aplikasi ini, saya yang hampir setiap hari jajan jadi mulai malas jajan, karena malu aja kalau ketahuan pengeluaran paling banyak di makanan hehe..


Overview
Serunya, apps ini juga bisa mereview pengeluaran kita keseluruhan. Jadi kita bisa melihat persentase pengeluaran kita selama ini, lebih banyak habis di mana? Selain itu apps ini juga memiliki fitur budget, dimana kita bisa menargetkan berapa batas pengeluaran kita dalam sebulan.

Jalan untuk menjadi muslim yang kaya memang nggak mudah. Bagi saya, jalan ini dimulai dengan memiliki kesadaran akan personal finance. Tentunya, belajar nggak afdol kalau belum praktek. Saya berencana untuk belajar pasar modal dan main saham, nggak mau kalah sama kakak dan adek (!) saya yang sudah main saham sejak lama. Siapa tahu juga, ini bisa jadi bahan Tesis tentang pasar modal syariah, hehe. 

Semoga, suatu saat nanti, saya yang masih seorang Employer ini bisa berubah menjadi Investor, bahkan Businessman (Aaaamiiin..)

Yuk, jadi kaya!

Minggu, 01 Januari 2017

When Your Wish is Granted (Kaledioskop 2016)

Bagiku, hanya ada satu kata yang tepat untuk merefleksikan tahun 2016: Alhamdulillah...

Awal tahun ini dimulai dengan tekadku untuk mendapatkan beasiswa S2.
Bagiku, belajar IELTS adalah salah satu pintu awal untuk beasiswa ke luar negeri.
Sebenarnya, sejak September 2015 aku sudah mengikuti les privat untuk tes IELTS. Untungnya, guru les-ku, Kak Putri, sangaat baik. Dia sabar mengajariku yang sering telat datang privat, karena jadwal privatku setiap dua kali seminggu dimulai jam 7 pagi. Jujur tidak mudah bagiku untuk les sambil bekerja, apalagi kak Putri seringkali memberikan PR Reading dan Writing untuk kami kerjakan. Untungnya pula, Kak Putri merupakan awardee LPDP, sehingga sedikit banyak kami bisa belajar tips dan trik dari Kak Putri.

Setelah sekian lama mengikuti les privat IELTS (hampir 6 bulan! wkwk), aku memutuskan untuk mengambil tes. Sebelumnya, aku belum merasa siap karena IELTS memang sangat menantang. Apalagi, biaya tes IELTS yang tidak murah (hampir 3 jutaan) membuatku maju-mundur untuk mengikuti tes. Akhirnya setelah merasa siap dan dengan mengucapkan bismillah, aku mendaftar di British Council untuk mengikuti ujian tanggal 7 Mei. Dua minggu sebelum ujian, kami melakukan try out intensif IELTS.

Ujian diadakan di sebuah hotel di kawasan Blok-M. Ujian memakan waktu seharian, mulai dari Listening, Reading, Writing sampai menunggu giliran speaking. Saat giliran speaking aku berjumpa dengan native speaker dari Inggris. Walaupun nervous, ternyata ujian speaking berjalan dengan santai, seperti mengobrol saja. Untungnya, pekerjaanku di kampus mengharuskanku untuk berkomunikasi dengan bule-bule, sehingga aku sudah tidak gugup lagi berbicara dengan bule.

Dua minggu kemudian, aku mendapatkan hasil IELTS-ku, dan tak disangka, aku berhasil mencapai overall score 7.5. Alhamdulillah... nilai yang lebih dari cukup untuk mendapatkan beasiswa dan LoA. Dengan berbekal nilai IELTS, aku mencoba mendaftar ke beberapa Universitas: Durham University, SOAS University of London, dan Bangor University yang semuanya terletak di United Kingdom.



Alhamdulillah, dua hari sebelum ulangtahunku yang ke 24, aku mendapat kabar bahagia bahwa aku diterima sebagai calon mahasiswa magister Islamic Finance and Management di Durham University, UK. Ini artinya, tinggal selangkah lagi bagiku untuk meraih impian melanjutkan S2 di luar negeri.

Di tahun ini juga, Allah memberikan karunia kepada kakakku. Setelah sekian lama menanti, kakakku Nana akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Rafandra Attarayhan Lesmana. Rafa, nama panggilannya, merupakan pujaan hati baru di rumah kami. He is so cute!


Rafaaa!

Dua ribu enam belas juga merupakan tahun dimana aku banyak berpergian.

Bulan Maret, demi menjalankan tugas promosi program Kelas Khusus Internasional FHUI di Bandung, Surabaya, dan Medan. Saat itulah aku merasa sangat bersyukur karena berkesempatan melihat daerah-daerah lain di Indonesia, naik pesawat, dibayarin pula, dikasih uang transport pula. Maaf norak, maklum fresh graduate wkwk.



Open House di Surabaya


Open House Medan


Wisata Kuliner di Medan!


Bulan Agustus adalah bulannya travelling! 
Awal Agustus,  aku berkesempatan mengikuti outing kantor FHUI. Alhamdulillah, ternyata outing tahun ini ke Kepulauan Belitung!
Dengan kompaknya,  geng gadis-gadis geulis asdos dan karyawan FHUI bersama-sama berkeliaran di Belitung mencari spot unik demi foto-foto indah nan instagram-able. Kami berkunjung ke Kampung Laskar Pelangi, berkeliling dari satu pulau ke pulau lain, snorkelling, dan berkunjung ke pantai Laskar Pelangi yang penuh dengan batu-batu indah.






Sepulangnya dari Belitung, aku,  Bu Ida,  Ghozi,  dan Bang Heru berangkat menuju Malaysia untuk melakukan penelitian mengenai Jaminan Produk Halal di Malaysia dan Thailand. Dari perjalanan ini aku mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat berharga. Penelitian ini semakin menyadarkanku untuk peduli terhadap isu produk halal di Indonesia. (Selengkapnya bisa dibaca di postingan sebelumnya)

Di bulan November, aku memberanikan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Sebenarnya sejak seleksi batch pertama di awal tahun aku ingin mendaftar, namun aku belum juga merasa siap. Akhirnya di batch keempat aku dan beberapa temanku mencoba mengikuti seleksi. Di sela-sela pekerjaan yang padat dan tak ada habisnya, kami meluangkan waktu untuk persiapan menghadapi seleksi LPDP.

Seminggu setelah seleksi LPDP,  aku dan kawan-kawan serta dosen-dosen pengurus Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam mengadakan sebuah acara besar: International Confrence of Islamic Law in Indonesia (ICILI), yaitu konferensi Internasional dengan tema Hukum Islam. Walaupun SDM kami sangat terbatas, dan pontang-panting mengurus acara dengan keterbatasan yang ada, alhamdulillah acara besar pertama kami berhasil terlaksana dengan baik. Aku bertemu dengan akademisi dan praktisi-praktisi Hukum Islam dari seluruh Indonesia, bahkan dari negara-negara lain. Tentunya,  acara ini memantik semangatku untuk terus mengembangkan ilmu hukum Islam di Indonesia.



Rencananya, aku akan mempresentasikan paperku dengan topik mengenai produk halal pada hari terakhir konfrensi. Namun Allah berkehendak lain. Malam sebelum hari presentasi, aku mendapat kabar bahwa Abiku terkena serangan stroke. Kabar ini cukup membuatku kalut, karena ini bukan pertama kalinya Abi terkena stroke, apalagi Abi terkena stroke di batang otak.

Aku sempat ragu-ragu haruskah aku pulang, mengingat amanahku sebagai bendahara ICILI belum selesai, dan ada presentasi yang harus kutampilkan. Namun sebuah kalimat dari seniorku,  Bang Ali, membuatku menguatkan tekad: "Pulang!  Kamu cuma punya satu bapak! "
Aku memutuskan pulang dan menitipkan semua urusan ICILI kepada orang lain. Aku takut yang terburuk akan terjadi kepada Abi, dan aku tak mau menyesal belakangan. Untungnya, Kelly membantu menggantikan tugasku,  dan Bu Ida serta Ghozi menggantikanku presentasi.

Alhamdulillah, ternyata stroke yang diderita abi tidak cukup parah.  Dalam beberapa hari saja Abi sudah membaik dan bisa keluar dari Rumah Sakit,  padahal stroke kedua biasanya berakibat fatal. Alhamdulillah,  Allah masih menyayangi Abi..

Tanggal 9 Desember adalah hari dimana aku mendapat kabar membahagiakan sebagai penutup akhir tahun.
Setelah penantian dengan jantung deg-degan, dzikir panjang yang tak putus-putus, siang itu aku mendapatkan sebuah email.



Alhamdulillah, aku terpilih sebagai salah satu awardee beasiswa LPDP. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Inggris.  Rasanya seperti mimpi. Karena aku sadar, tanpa beasiswa, mana mungkin aku yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja ini bisa melanjutkan studi ke Luar Negeri. Ini merupakan anugerah yang tak terhingga bagiku. Sungguh benar pepatah yang digaungkan Ahmad Fuadi di Trilogi Negeri Lima Menara: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Insya Allah, bila tak ada halangan,  September 2017 aku akan berangkat untuk melanjutkan studi ke Inggris. Aku sadar, melanjutkan studi dengan dibiayai negara adalah sebuah amanah besar. Oleh karena itu, aku bertekad akan menempuh studi master dengan sebaik-baiknya.

Bagiku, 2016 sungguh merupakan tahun yang memberikan pelajaran berarti. Tentu saja, tidak semua kisahku di tahun 2016 ini berakhir bahagia. Ada saatnya dimana aku harus diam menangis karena menerima kenyataan pahit. Ada saatnya dimana aku harus mengikhlaskan apapun yang terjadi. Ada saatnya dimana aku harus belajar menerima diriku dan keluargaku apa adanya. Ada saatnya dimana aku terpuruk dan tenggelam dalam depresi, namun mencoba bangkit demi orang-orang yang kusayangi. Namun, tentunya lebih banyak syukur, lebih banyak karunia yang kudapatkan sepanjang tahun ini. Semua kejadian yang kualami memberikan pelajaran bagiku, agar lebih kuat menghadapi cobaan, dan agar selalu bersyukur terhadap karunia yang telah diberikan Allah kepadaku.

Tahun 2017 telah tiba, semoga tahun ini aku bisa berproses lebih baik daripada sebelumnya, dan bisa mewujudkan impian dan targetan yang ingin kucapai. Dan semoga, Allah memberikan yang terbaik bagiku nantinya.


Selamat berproses!

Sabtu, 24 Desember 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 2)

Hari ketiga, kami membuat janji untuk bertemu dengan Bu Siti Zubaidah, dosen dari Fakulti Undang-Undang (Fakultas Hukum) University Malaya. Kami berangkat ke University Malaya, dimana Bang Heru dan Bu Ida menghadiri acara penutupan confrence.

Sambil menunggu acara selesai, kami duduk-duduk di University Malaya. Siang menjelang, sebuah wajah yang familiar muncul dan menyapaku. Bu Siti!

Bu Siti Zubaidah adalah dosen University Malaya yang pada awal tahun berkunjung ke Fakultas Hukum UI sebagai dosen tamu (guest lecture). Beliau mengajar mata kuliah hukum Islam di Kelas Khusus Internasional FHUI. Aku ingat, selama dua minggu Bu Siti di Indonesia, beliau sempat beberapa kali minta ditemani jalan-jalan ke Bogor, Bandung dan Cirebon, namun karena satu dan lain hal aku belum sempat mendampingi beliau. Maaf ya, Bu Siti!

"Iffah sama Ghozi masih hutang ya temani saya pusing-pusing (jalan-jalan)!" Ledek Bu Siti. Kami tertawa malu meminta maaf.

Karena Bu Ida masih harus menunggu sertifikat peserta, kami memutuskan untuk berangkat duluan. Dengan menumpang mobil Bu Siti, kami tiba di Fakulti Undang-Undang UM. Sampailah kami di Departemen Hukum Islam Fakulti Undang-Undang.

Bu Siti mempertemukan kami dengan Dr. Zalina, koleganya di Departemen Hukum Islam. Rupanya, spesialisasi ilmu Dr. Zalina adalah hukum perlindungan konsumen dan hukum produk halal. Wah, pas sekali!

Dalam sekejap, kami asyik berdiskusi bersama mengenai penelitian kami. Walaupun kami tidak bisa berbahasa Melayu, hal itu tidak menjadi halangan. Dr. Zalina menerangkan dengan baik mengenai kondisi di Malaysia. Isu regulasi produk halal juga merupakan isu yang menarik di Malaysia sebagai negara Islam. Malaysia telah sukses menerapkan regulasi tersebut sehingga Malaysia dikenal sebagai pengekspor produk halal nomor satu di dunia.

"Masyarakat di sini sangat strict mengenai produk halal. Bisa saja ada muslim yang tidak sholat, tapi dia akan mengamuk kalau tahu produk yang dia konsumsi ternyata produk tidak halal." Cerita Dr. Zalina sambil tertawa. Dari cerita beliau, kami baru tahu bahwa bahkan Undang-undang mengatur bahwa perempuan yang berkerudung dilarang menjual makanan haram, karena bisa menimbulkan salah persepsi mengenai kehalalan produk. Aku teringat kasus yang sama di Indonesia, dimana ada kasus muslimah yang terpaksa berjualan siomay babi dan sempat menjadi kontroversi. Sayangnya, tidak ada aturan serupa di Indonesia.

"Apa rahasianya sehingga produsen yang sebagian besar dari kalangan non muslim (FYI, muslim di Malaysia hanya 60% dari total penduduk) mau melakukan sertifikasi halal? Karena, di Indonesia masih banyak pelaku usaha yang tidak memiliki kesadaran untuk melakukan sertifikasi halal." Tanyaku.

"Tentu saja, produsen kami sadar bahwa pangsa pasar terbesar mereka beragama muslim. They do it for the sake of market and money." Jawab beliau simple.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kami mengakhiri diskusi seru tersebut dengan puas. Tidak lupa, kami membuat janji agar suatu saat bisa melakukan joint research di Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat regulasi produk halal di kedua negara. Wah mau banget!!

Kiri: Dr. Zalina, Kanan: Bu Siti Zubaidah

Sore menjelang, kami berencana untuk pergi ke Central Market untuk membeli oleh-oleh, karena besok kami akan berangkat ke Thailand. Bu Siti dan Dr. Zalina dengan baik hati mengantar kami sampai ke Stasiun LRT. Kami berpamitan kepada mereka, dan bersiap untuk menuju destinasi selanjutnya: Central Market. Belanjaaa!

Sumber: http://www.wonderfulmalaysia.com/attractions/files/2012/01/central-market-pasar-seni-kuala-lumpur-2.jpg

Central Market atau Pasar Seni merupakan pusat perbelanjaan yang terkenal untuk membeli oleh-oleh. 
Dari Universiti Malaya sampai ke Central Market tidak terlalu jauh, bahkan dari Central Market ke stasiun LRT KL Central dekat tempat kami menginap hanya berjarak satu stasiun. Di tempat ini banyak dijual oleh-oleh khas Malaysia, mulai dari gantungan kunci miniatur twin tower, tempelan kulkas, cokelat khas Malaysia, dan lain-lain. Tempat ini lumayan luas walaupun hanya terdiri dari dua lantai. Banyak pilihan yang tersedia sehingga kami tidak bingung mencari oleh-oleh. Belanja di Central Market pun bisa ditawar, dan Central Market sudah dilengkapi dengan AC sehingga kegiatan belanja menjadi nyaman, tidak kepanasan.

Sumber: http://www.centralmarket.com.my/images/history-photos/part5_photos/CM-1-Part-5.JPG

Langsung saja kami asyik memborong oleh-oleh, teringat keluarga dan teman-teman di Indonesia. Aku sendiri membeli serenteng gantungan kunci, magnet kulkas, tas kanvas logo I Love KL, tas batik, serta Cokelat dan Milo khas Malaysia. Karena waktu maghrib sudah tiba, kami melaksanakan sholat dan makan malam di Central Market. Makan malam di sini cukup puas dengan menu yang beragam. Setelah kenyang, kami bersiap untuk kembali ke hotel.

Wajah-wajah sumringah sehabis ngeborong di Central Market KL


Hari keempat di Malaysia, kami berencana ke Putrajaya, Pusat Pemerintahan, untuk mewawancarai JAKIM, otoritas yang berwenang mengatur masalah produk Halal di Malaysia. Kami akan berangkat siang ini ke Putrajaya, karena Bang Heru akan mengikuti pertemuan penggiat HAM yang diadakan oleh CENTHRA, lembaga tempat Cik Azril bernaung. Kami pun berpisah dengan bang Heru dan berjanji akan bertemu sehabis dzuhur.

Bu Ida yang sejak kemarin naksir dengan baju kurung yang dipakai wanita-wanita khas Malaysia pun penasaran, ingin membeli baju kurung. Setelah bertanya-tanya, sebagian orang-orang menyarankan kami untuk mencari baju kurung di daerah Masjid Jamek yang konon banyak menjual baju kurung bagus-bagus. Dengan menggunakan LRT, kami berangkat menuju Masjid Jamek.

Ternyata, yang dimaksud dengan Masjid Jamek adalah deretan tenda-tenda tempat berbelanja di sekitar Masjid Jami'. Tempat ini seperti pasar dengan tenda tidak permanen. Banyak aksesoris dan pakaian wanita yang dijual di sana. Kami berburu bros dengan harga murah, dan bentuk yang lucu-lucu. Di sini juga kami memutuskan untuk membeli tongsis seharga 10 Ringgit demi tujuan mulia untuk foto-foto yang instagram-able.

First trial tongsis, Location: Masjid Jami'

Setelah berjalan kesana-kemari dan mengubek-ngubek satu toko ke toko yang lain, akhirnya Bu Ida menemukan baju kurung yang dia cari. Kami sempat mencari di beberapa toko yang menjual baju kurung, namun motif bajunya kebanyakan enggak banget (red: norak, wkwk), ada juga yang motifnya bagus tapi harganya muahal, sehingga kami terus mencari. Sampailah kami di toko yang motifnya bagus-bagus dan cukup classy, harganya juga cukup terjangkau. Ternyata, toko itu punya orang Indonesia! Dia juga memiliki toko serupa di Tanah Abang. Wah, emang ya kalau soal selera pakaian orang Indonesia lebih hebat :p

Petualangan kami di Masjid Jamek menghasilkan bros-bros lucu, baju kurung dan jubah, serta kerudung khas Malaysia yang dibeli Bu Ida. Tidak lama, kami bertemu dengan Bang Heru di tempat yang sudah dijanjikan dan berangkat ke Putrajaya dengan menaiki taksi.

Perjalanan ke Putrajaya berlangsung beberapa lama, yang memakan biaya taksi sekitar 80 RM. Akhirnya, kami sampai di Putrajaya.

Aku tercengang melihat situasi kota Putrajaya. Blok seluas hampir 5000 hektar yang terdiri dari gedung-gedung pemerintahan yang megah terhampar. Konon, wilayah Putrajaya dulunya merupakan wilayah hutan yang sengaja dipersiapkan untuk menjadi daerah pusat administratif dan keuangan, karena wilayah Kuala Lumpur sudah sedemikian padat. Tak heran, hampir tidak ada pemukiman tempat tinggal di wilayah Putrajaya. Kediaman resmi Perdana Menteri Malaysia juga terletak di Putrajaya.

Sempat berputar-putar dan nyasar, kami memutuskan untuk makan siang dulu di kedai pinggir jalan. Loh, ternyata harga makanan pinggir jalan murah-murah banget! Hanya berkisar 3-5 RM saja per porsi (biasanya jajan di Mall sih, jadi habis 50 RM sekali makan). Sudah begitu, rasa laksa dan nasi lemak yang dijual enak pula.
Selamat makan!

Anak nongkrong Putrajaya

Akhirnya, kami tiba juga di JAKIM. Halal Hub JAKIM berlokasi di gedung besar, dan membutuhkan kartu untuk mengaksesnya. Yah, mirip-mirip gedung perkantoran di Jakarta lah. Kami bertemu dengan sekertaris dan menyampaikan bahwa kami sudah memiliki janji untuk wawancara.

Ternyata, kami disambut langsung oleh Direktur Halal Hub JAKIM, Pak Sirajuddin Suhaimee. Wah, kalau di Indonesia rasanya seperti langsung bertemu dengan Direktur LPPOM MUI. Walaupun beliau sangat sibuk, Pak Sirajuddin sangat ramah dan helpful, menjelaskan segala sesuatu mengenai sejarah Sertifikasi Halal di Malaysia dan pelaksanaannya. Tak urung, aku merasa iri karena pelaksanaan Jaminan Produk Halal di Malaysia sangat lancar dan maju, tentunya juga karena dukungan penuh dari pemerintah Malaysia. Lucunya, Pak Sirajuddin bercerita bahwa sertifikasi halal dari Malaysia sudah diterima secara luas di semua negara, kecuali Indonesia karena belum dicapainya kesepakatan. Waduuh kok bisa ya? Hahaha

Terima kasih Pak Cik Sirajuddin!

Selepas wawancara, kami menuju Masjid Putra, yaitu masjid megah di Putrajaya yang sangat terkenal. Kami mencari-cari taksi namun tak kunjung menemukannya. Akhirnya Bang Heru mengajak untuk berjalan kaki saja, karena kata Bang Heru masjidnya "dekat, kok"

Satu jam kemudian.... (lebay deng)

Ternyata oh ternyata, jarak antara kantor JAKIM dan Masjid Putra lumayan dekat bila ditempuh dengan kereta. Alhasil di siang yang terik itu kami berjalan kaki jauh dan panas-panasan, ditambah suhu di Putrajaya sangat tidak santai. Untuk melupakan rasa penat, kami akhirnya selfie-selfie selama perjalanan.


Akhirnyaa sampai di Masjid Putra!

Tak lama setelah menunaikan sholat ashar, Aiman datang menjemput kami.
Aiman adalah mahasiswa di Kelas Khusus Internasional, yang merupakan warga asli Malaysia. Ibunya Aiman adalah teman akrab Bang Heru. Aiman mengantarkan kami ke UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), dimana Ibunya menjadi dosen di sana. Kami berbincang-bincang dan mengelilingi UKM sejenak sebelum pulang ke rumah Aiman.


Rencananya, malam ini kami akan melintasi perbatasan Malaysia-Thailand menggunakan bus malam. Sambil menunggu jadwal keberangkatan, kami berbincang-bincang dengan Ibu Aiman yang menceritakan pengalamannya mengajar di beberapa negara. Tak terasa, waktu sudah berlalu. Setelah berpamitan dengan Ibu Aiman, Aiman mengantar kami menuju terminal Bis Pudu Sentral Kuala Lumpur yang terletak di Bukit Bintang.

Sesampainya di Pudu Sentral, aku menatap takjub. Beda sekali ya, sama terminal Bus di Pulo Gadung. Terminal Bus Pudu Sentral tidak jauh berbeda dengan airport. Ada papan elektronik yang menunjukkan waktu keberangkatan dan sebagainya. Kami diminta mempersiapkan paspor dan berkas-berkas untuk petugas imigrasi di perbatasan. 

Waktu keberangkatan tiba. Kami memasukkan koper di bagasi dan menaiki bis. Rupanya bis malam ini lumayan nyaman, dengan kursi empuk yang bisa disandarkan dan space yang luas. Aku duduk di samping Bu Ida dan bersiap untuk tidur, mengingat waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

Bis perlahan mulai bergerak membelah malam yang masih hingar-bingar. Kami menjauhi Malaysia, menuju Hatyai, Thailand. Sinyal di HP-ku mulai menipis, menandakan kami semakin meninggalkan wilayah Malaysia, dan akan memasuki Thailand.

Sampai jumpa lagi, Malaysia!