Senin, 16 Januari 2017

Endless Pray

"Berdoa tanpa putus itu seperti membuat anak tangga yang semakin tinggi. Awalnya hanya setinggi sekian centi, lalu kita naik.
Kita buat lagi, jadi sekian puluh centi hingga akhirnya ratusan meter dan menyentuh bahkan menyundul langit
Disitulah, langit membuka pintu.
Apalagi yang mendoakan banyak, tangganya makin cepat tinggi dan makin banyak menyundul langit rame-rame. Pasti yang di atas langit tidak mungkin tidak membukakan."
-dikutip dari postingan Hanum Rais

:')

Kamis, 12 Januari 2017

Harus Kaya!

Jadi muslim itu harus kaya. Sepakat nggak?

Kebanyakan orang mungkin akan mengernyitkan dahi, dan membantah, "Bukannya semakin kaya semakin banyak godaaannya ya? Semakin susah masuk surga dong. Enakan jadi orang miskin ah, disayang Allah."

Ya itu tergantung, kamu mau jadi orang kaya yang seperti apa? 
Seorang muslim haruslah mandiri secara finansial dan nggak merepotkan orang lain. Selain itu, semakin kaya seseorang, semakin terbukalah kesempatannya untuk beramal baik. Naik Haji, Zakat, Sedekah, adalah sederetan amalan yang bisa kita lakukan dengan bebas bila kita banyak rezeki. Menjadi kaya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tapi juga bagi masyarakat banyak yang kita bantu--dengan sedekah, dengan membuka lowongan pekerjaan. Dunia di tangan, akhirat di hati. 

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah buku yang sangat inspiratif dari Robert T. Kiyosaki, pengarang Best Seller "Rich Dad Poor Dad". Buku ini berjudul "Why A Students Work for C Students?". Judul yang menggugah rasa penasaran saya, sehingga saya membacanya. And I swear, this is must read books for people in quarter life age like me. Dari buku ini, saya belajar tentang personal finance, ilmu yang nggak pernah diajarkan di jenjang pendidikan manapun, tapi sangat berguna di dunia nyata.


Short review, buku ini bercerita tentang betapa pentingnya menjadi C Student--Capitalist. Banyak orang yang membenci kapitalisme, karena menganggap kapitalisme itu jahat. Tapi, tidak banyak orang yang berpikir untuk menjadi kapitalis. Kapitalis yang dimaksud adalah penggerak perekonomian. Menurut Kiyosaki, kapitalis sesungguhnya adalah seorang enterpreneur, bukan CEO perusahaan yang sekedar menjadi manager. 

Kiyosaki mengatakan bahwa kondisi keuangan global saat ini berawal dari kegagalan sistem pendidikan. Kebanyakan orangtua meng-encourage anak-anak mereka untuk sekolah yang tinggi agar bisa mendapat pekerjaan yang bagus. Sayangnya, kebanyakan orang tidak sadar sistem pendidikan saat ini secara tidak langsung membentuk seseorang untuk menjadi Employer (bekerja bagi orang lain) dan Salarymen (orang yang menjual skillnya untuk mendapatkan uang, contohnya Dokter dan pengacara). Padahal, orang-orang terkaya di dunia bukanlah berasal dari kalangan E atau S, tetapi berasal dari kalangan Investor (menanamkan modal di usaha orang lain) dan Businessman (yang menciptakan lapangan pekerjaan). Kebanyakan siswa yang merupakan A Students (Academic-- whoa, thats me!) akan dikalahkan oleh C students (Capitalist).

Buku ini juga menceritakan sumber masalah di masyarakat sekarang, yaitu entitlement mentality, atau perasaan merasa berhak atas bantuan dari orang lain. Atau bahasa kasarnya, manja. 
Kiyosaki menggambarkan program Obamacare (yang diikuti oleh program BPJS di Indonesia), yaitu program bantuan sosial bagi masyarakat di Amerika. Program ini dengan cepat menjadi populer, namun masyarakat maupun pemerintah tidak menyadari bahwa program ini merupakan sebuah bom waktu. Obamacare merupakan subsidi bagi masyarakat yang diberikan oleh pemerintah, dimana sebenarnya dana pemerintah berasal dari pajak yang dikenakan kepada masyarakat. Suatu saat, dana yang ada sudah tidak akan cukup lagi menanggung kebutuhan masyarakat, sehingga akan tiba masanya seorang cucu wajib membayar beban yang ditimbulkan oleh generasi kakek dan neneknya. 
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa daripada terus menerus mengharap diberikan ikan, kita harus mulai belajar memancing. Dan pengetahuan akan personal finance sangat penting dalam menghadapi kondisi keuangan dunia yang serba tidak pasti.

Masih banyak lagi point bagus di buku ini, bisa dibaca sendiri ya. Yang jelas, buku ini sangat merubah mindset saya tentang keuangan. Buku ini juga menggugah kesadaran saya untuk belajar banyak tentang personal finance. 

Ketertarikan saya membuat saya menemukan sebuah game yang seru untuk belajar mengenai keuangan: Money Race 2

Money Race 2, bisa di download di playstore

Game ini merupakan simulasi kehidupan nyata, dengan player sebagai seseorang yang memiliki modal awal. Player hanya seorang karyawan biasa, yang memiliki gaji, punya tunggakan kartu kredit, dan cicilan mobil. Namun player bisa memilih kemana uangnya akan ia salurkan: ke investasi melalui saham, atau properti. Sesekali, player juga mengalami hal-hal yang membuat uangnya menyusut, seperti dipecat dari pekerjaan, rumah kebakaran, atau mengalami perceraian. Dengan game yang super addicted ini, saya belajar banyak prinsip keuangan yang sudah diajarkan di buku-buku Kiyosaki. 

Calon anak FE belajar neraca. Kayak neraka.

Saya belajar mengenai prinsip asset (something that put money in your pocket) dan liability (something that take money out of your pocket). Saya belajar bahwa ada jenis hutang yang baik (hutang yang digunakan untuk investasi) dan hutang yang buruk (hutang yang digunakan untuk tujuan konsumtif). Saya juga belajar bahwa investasi berupa memiliki aset (kantor, atau properti) jauh lebih menguntungkan dan lebih banyak memberikan passive income dibandingkan memiliki saham. Game ini recommended deh pokoknya!

Perlahan-lahan, saya mencoba mempraktekkan ilmu personal finance, dimulai dari mencatat income dan expenses. Selama ini saya suka bingung melihat rekening yang cepat sekali menyusutnya, yang entah pada kabur kemana. Akhirnya saya mencoba menginstall aplikasi android yang bernama Money Lover



Contoh, bukan punya saya ini... 

Applikasi ini sangat membantu dan sangat praktis. Setiap pengeluaran dan pemasukan kita setiap harinya bisa tercatat dengan rapi, dengan tampilan yang lucu pula. Kita bisa melihat pengeluaran kita hari ini apa saja, dan habis berapa. Nggak ada lagi yang kebingungan kenapa uang tau-tau sudah habis. Ini juga melatih kita untuk disiplin terhadap pengeluaran kita. Sejak menggunakan aplikasi ini, saya yang hampir setiap hari jajan jadi mulai malas jajan, karena malu aja kalau ketahuan pengeluaran paling banyak di makanan hehe..


Overview
Serunya, apps ini juga bisa mereview pengeluaran kita keseluruhan. Jadi kita bisa melihat persentase pengeluaran kita selama ini, lebih banyak habis di mana? Selain itu apps ini juga memiliki fitur budget, dimana kita bisa menargetkan berapa batas pengeluaran kita dalam sebulan.

Jalan untuk menjadi muslim yang kaya memang nggak mudah. Bagi saya, jalan ini dimulai dengan memiliki kesadaran akan personal finance. Tentunya, belajar nggak afdol kalau belum praktek. Saya berencana untuk belajar pasar modal dan main saham, nggak mau kalah sama kakak dan adek (!) saya yang sudah main saham sejak lama. Siapa tahu juga, ini bisa jadi bahan Tesis tentang pasar modal syariah, hehe. 

Semoga, suatu saat nanti, saya yang masih seorang Employer ini bisa berubah menjadi Investor, bahkan Businessman (Aaaamiiin..)

Yuk, jadi kaya!

Minggu, 01 Januari 2017

When Your Wish is Granted (Kaledioskop 2016)

Bagiku, hanya ada satu kata yang tepat untuk merefleksikan tahun 2016: Alhamdulillah...

Awal tahun ini dimulai dengan tekadku untuk mendapatkan beasiswa S2.
Bagiku, belajar IELTS adalah salah satu pintu awal untuk beasiswa ke luar negeri.
Sebenarnya, sejak September 2015 aku sudah mengikuti les privat untuk tes IELTS. Untungnya, guru les-ku, Kak Putri, sangaat baik. Dia sabar mengajariku yang sering telat datang privat, karena jadwal privatku setiap dua kali seminggu dimulai jam 7 pagi. Jujur tidak mudah bagiku untuk les sambil bekerja, apalagi kak Putri seringkali memberikan PR Reading dan Writing untuk kami kerjakan. Untungnya pula, Kak Putri merupakan awardee LPDP, sehingga sedikit banyak kami bisa belajar tips dan trik dari Kak Putri.

Setelah sekian lama mengikuti les privat IELTS (hampir 6 bulan! wkwk), aku memutuskan untuk mengambil tes. Sebelumnya, aku belum merasa siap karena IELTS memang sangat menantang. Apalagi, biaya tes IELTS yang tidak murah (hampir 3 jutaan) membuatku maju-mundur untuk mengikuti tes. Akhirnya setelah merasa siap dan dengan mengucapkan bismillah, aku mendaftar di British Council untuk mengikuti ujian tanggal 7 Mei. Dua minggu sebelum ujian, kami melakukan try out intensif IELTS.

Ujian diadakan di sebuah hotel di kawasan Blok-M. Ujian memakan waktu seharian, mulai dari Listening, Reading, Writing sampai menunggu giliran speaking. Saat giliran speaking aku berjumpa dengan native speaker dari Inggris. Walaupun nervous, ternyata ujian speaking berjalan dengan santai, seperti mengobrol saja. Untungnya, pekerjaanku di kampus mengharuskanku untuk berkomunikasi dengan bule-bule, sehingga aku sudah tidak gugup lagi berbicara dengan bule.

Dua minggu kemudian, aku mendapatkan hasil IELTS-ku, dan tak disangka, aku berhasil mencapai overall score 7.5. Alhamdulillah... nilai yang lebih dari cukup untuk mendapatkan beasiswa dan LoA. Dengan berbekal nilai IELTS, aku mencoba mendaftar ke beberapa Universitas: Durham University, SOAS University of London, dan Bangor University yang semuanya terletak di United Kingdom.


Alhamdulillah, dua hari sebelum ulangtahunku yang ke 24, aku mendapat kabar bahagia bahwa aku diterima sebagai calon mahasiswa magister Islamic Finance and Management di Durham University, UK. Ini artinya, tinggal selangkah lagi bagiku untuk meraih impian melanjutkan S2 di luar negeri.

Di tahun ini juga, Allah memberikan karunia kepada kakakku. Setelah sekian lama menanti, kakakku Nana akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Rafandra Attarayhan Lesmana. Rafa, nama panggilannya, merupakan pujaan hati baru di rumah kami. He is so cute!

Rafaaa!

Dua ribu enam belas juga merupakan tahun dimana aku banyak berpergian.

Bulan Maret, demi menjalankan tugas promosi program Kelas Khusus Internasional FHUI di Bandung, Surabaya, dan Medan. Saat itulah aku merasa sangat bersyukur karena berkesempatan melihat daerah-daerah lain di Indonesia, naik pesawat, dibayarin pula, dikasih uang transport pula. Maaf norak, maklum fresh graduate wkwk.


Open House di Surabaya

Open House Medan

Wisata Kuliner di Medan!

Bulan Agustus adalah bulannya travelling! 
Awal Agustus,  aku berkesempatan mengikuti outing kantor FHUI. Alhamdulillah, ternyata outing tahun ini ke Kepulauan Belitung!
Dengan kompaknya,  geng gadis-gadis geulis asdos dan karyawan FHUI bersama-sama berkeliaran di Belitung mencari spot unik demi foto-foto indah nan instagram-able. Kami berkunjung ke Kampung Laskar Pelangi, berkeliling dari satu pulau ke pulau lain, snorkelling, dan berkunjung ke pantai Laskar Pelangi yang penuh dengan batu-batu indah.




Sepulangnya dari Belitung, aku,  Bu Ida,  Ghozi,  dan Bang Heru berangkat menuju Malaysia untuk melakukan penelitian mengenai Jaminan Produk Halal di Malaysia dan Thailand. Dari perjalanan ini aku mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat berharga. Penelitian ini semakin menyadarkanku untuk peduli terhadap isu produk halal di Indonesia. (Selengkapnya bisa dibaca di postingan sebelumnya)

Di bulan November, aku memberanikan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Sebenarnya sejak seleksi batch pertama di awal tahun aku ingin mendaftar, namun aku belum juga merasa siap. Akhirnya di batch keempat aku dan beberapa temanku mencoba mengikuti seleksi. Di sela-sela pekerjaan yang padat dan tak ada habisnya, kami meluangkan waktu untuk persiapan menghadapi seleksi LPDP.

Seminggu setelah seleksi LPDP,  aku dan kawan-kawan serta dosen-dosen pengurus Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam mengadakan sebuah acara besar: International Confrence of Islamic Law in Indonesia (ICILI), yaitu konferensi Internasional dengan tema Hukum Islam. Walaupun SDM kami sangat terbatas, dan pontang-panting mengurus acara dengan keterbatasan yang ada, alhamdulillah acara besar pertama kami berhasil terlaksana dengan baik. Aku bertemu dengan akademisi dan praktisi-praktisi Hukum Islam dari seluruh Indonesia, bahkan dari negara-negara lain. Tentunya,  acara ini memantik semangatku untuk terus mengembangkan ilmu hukum Islam di Indonesia.


Rencananya, aku akan mempresentasikan paperku dengan topik mengenai produk halal pada hari terakhir konfrensi. Namun Allah berkehendak lain. Malam sebelum hari presentasi, aku mendapat kabar bahwa Abiku terkena serangan stroke. Kabar ini cukup membuatku kalut, karena ini bukan pertama kalinya Abi terkena stroke, apalagi Abi terkena stroke di batang otak.

Aku sempat ragu-ragu haruskah aku pulang, mengingat amanahku sebagai bendahara ICILI belum selesai, dan ada presentasi yang harus kutampilkan. Namun sebuah kalimat dari seniorku,  Bang Ali, membuatku menguatkan tekad: "Pulang!  Kamu cuma punya satu bapak! "
Aku memutuskan pulang dan menitipkan semua urusan ICILI kepada orang lain. Aku takut yang terburuk akan terjadi kepada Abi, dan aku tak mau menyesal belakangan. Untungnya, Kelly membantu menggantikan tugasku,  dan Bu Ida serta Ghozi menggantikanku presentasi.

Alhamdulillah, ternyata stroke yang diderita abi tidak cukup parah.  Dalam beberapa hari saja Abi sudah membaik dan bisa keluar dari Rumah Sakit,  padahal stroke kedua biasanya berakibat fatal. Alhamdulillah,  Allah masih menyayangi Abi..

Tanggal 9 Desember adalah hari dimana aku mendapat kabar membahagiakan sebagai penutup akhir tahun.
Setelah penantian dengan jantung deg-degan, dzikir panjang yang tak putus-putus, siang itu aku mendapatkan sebuah email.


Alhamdulillah, aku terpilih sebagai salah satu awardee beasiswa LPDP. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Inggris.  Rasanya seperti mimpi. Karena aku sadar, tanpa beasiswa, mana mungkin aku yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja ini bisa melanjutkan studi ke Luar Negeri. Ini merupakan anugerah yang tak terhingga bagiku. Sungguh benar pepatah yang digaungkan Ahmad Fuadi di Trilogi Negeri Lima Menara: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Insya Allah, bila tak ada halangan,  September 2017 aku akan berangkat untuk melanjutkan studi ke Inggris. Aku sadar, melanjutkan studi dengan dibiayai negara adalah sebuah amanah besar. Oleh karena itu, aku bertekad akan menempuh studi master dengan sebaik-baiknya.

Bagiku, 2016 sungguh merupakan tahun yang memberikan pelajaran berarti. Tentu saja, tidak semua kisahku di tahun 2016 ini berakhir bahagia. Ada saatnya dimana aku harus diam menangis karena menerima kenyataan pahit. Ada saatnya dimana aku harus mengikhlaskan apapun yang terjadi. Ada saatnya dimana aku harus belajar menerima diriku dan keluargaku apa adanya. Ada saatnya dimana aku terpuruk dan tenggelam dalam depresi, namun mencoba bangkit demi orang-orang yang kusayangi. Namun, tentunya lebih banyak syukur, lebih banyak karunia yang kudapatkan sepanjang tahun ini. Semua kejadian yang kualami memberikan pelajaran bagiku, agar lebih kuat menghadapi cobaan, dan agar selalu bersyukur terhadap karunia yang telah diberikan Allah kepadaku.

Tahun 2017 telah tiba, semoga tahun ini aku bisa berproses lebih baik daripada sebelumnya, dan bisa mewujudkan impian dan targetan yang ingin kucapai. Dan semoga, Allah memberikan yang terbaik bagiku nantinya.


Selamat berproses!

Sabtu, 24 Desember 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 2)

Hari ketiga, kami membuat janji untuk bertemu dengan Bu Siti Zubaidah, dosen dari Fakulti Undang-Undang (Fakultas Hukum) University Malaya. Kami berangkat ke University Malaya, dimana Bang Heru dan Bu Ida menghadiri acara penutupan confrence.

Sambil menunggu acara selesai, kami duduk-duduk di University Malaya. Siang menjelang, sebuah wajah yang familiar muncul dan menyapaku. Bu Siti!

Bu Siti Zubaidah adalah dosen University Malaya yang pada awal tahun berkunjung ke Fakultas Hukum UI sebagai dosen tamu (guest lecture). Beliau mengajar mata kuliah hukum Islam di Kelas Khusus Internasional FHUI. Aku ingat, selama dua minggu Bu Siti di Indonesia, beliau sempat beberapa kali minta ditemani jalan-jalan ke Bogor, Bandung dan Cirebon, namun karena satu dan lain hal aku belum sempat mendampingi beliau. Maaf ya, Bu Siti!

"Iffah sama Ghozi masih hutang ya temani saya pusing-pusing (jalan-jalan)!" Ledek Bu Siti. Kami tertawa malu meminta maaf.

Karena Bu Ida masih harus menunggu sertifikat peserta, kami memutuskan untuk berangkat duluan. Dengan menumpang mobil Bu Siti, kami tiba di Fakulti Undang-Undang UM. Sampailah kami di Departemen Hukum Islam Fakulti Undang-Undang.

Bu Siti mempertemukan kami dengan Dr. Zalina, koleganya di Departemen Hukum Islam. Rupanya, spesialisasi ilmu Dr. Zalina adalah hukum perlindungan konsumen dan hukum produk halal. Wah, pas sekali!

Dalam sekejap, kami asyik berdiskusi bersama mengenai penelitian kami. Walaupun kami tidak bisa berbahasa Melayu, hal itu tidak menjadi halangan. Dr. Zalina menerangkan dengan baik mengenai kondisi di Malaysia. Isu regulasi produk halal juga merupakan isu yang menarik di Malaysia sebagai negara Islam. Malaysia telah sukses menerapkan regulasi tersebut sehingga Malaysia dikenal sebagai pengekspor produk halal nomor satu di dunia.

"Masyarakat di sini sangat strict mengenai produk halal. Bisa saja ada muslim yang tidak sholat, tapi dia akan mengamuk kalau tahu produk yang dia konsumsi ternyata produk tidak halal." Cerita Dr. Zalina sambil tertawa. Dari cerita beliau, kami baru tahu bahwa bahkan Undang-undang mengatur bahwa perempuan yang berkerudung dilarang menjual makanan haram, karena bisa menimbulkan salah persepsi mengenai kehalalan produk. Aku teringat kasus yang sama di Indonesia, dimana ada kasus muslimah yang terpaksa berjualan siomay babi dan sempat menjadi kontroversi. Sayangnya, tidak ada aturan serupa di Indonesia.

"Apa rahasianya sehingga produsen yang sebagian besar dari kalangan non muslim (FYI, muslim di Malaysia hanya 60% dari total penduduk) mau melakukan sertifikasi halal? Karena, di Indonesia masih banyak pelaku usaha yang tidak memiliki kesadaran untuk melakukan sertifikasi halal." Tanyaku.

"Tentu saja, produsen kami sadar bahwa pangsa pasar terbesar mereka beragama muslim. They do it for the sake of market and money." Jawab beliau simple.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kami mengakhiri diskusi seru tersebut dengan puas. Tidak lupa, kami membuat janji agar suatu saat bisa melakukan joint research di Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat regulasi produk halal di kedua negara. Wah mau banget!!

Kiri: Dr. Zalina, Kanan: Bu Siti Zubaidah

Sore menjelang, kami berencana untuk pergi ke Central Market untuk membeli oleh-oleh, karena besok kami akan berangkat ke Thailand. Bu Siti dan Dr. Zalina dengan baik hati mengantar kami sampai ke Stasiun LRT. Kami berpamitan kepada mereka, dan bersiap untuk menuju destinasi selanjutnya: Central Market. Belanjaaa!

Sumber: http://www.wonderfulmalaysia.com/attractions/files/2012/01/central-market-pasar-seni-kuala-lumpur-2.jpg

Central Market atau Pasar Seni merupakan pusat perbelanjaan yang terkenal untuk membeli oleh-oleh. 
Dari Universiti Malaya sampai ke Central Market tidak terlalu jauh, bahkan dari Central Market ke stasiun LRT KL Central dekat tempat kami menginap hanya berjarak satu stasiun. Di tempat ini banyak dijual oleh-oleh khas Malaysia, mulai dari gantungan kunci miniatur twin tower, tempelan kulkas, cokelat khas Malaysia, dan lain-lain. Tempat ini lumayan luas walaupun hanya terdiri dari dua lantai. Banyak pilihan yang tersedia sehingga kami tidak bingung mencari oleh-oleh. Belanja di Central Market pun bisa ditawar, dan Central Market sudah dilengkapi dengan AC sehingga kegiatan belanja menjadi nyaman, tidak kepanasan.

Sumber: http://www.centralmarket.com.my/images/history-photos/part5_photos/CM-1-Part-5.JPG

Langsung saja kami asyik memborong oleh-oleh, teringat keluarga dan teman-teman di Indonesia. Aku sendiri membeli serenteng gantungan kunci, magnet kulkas, tas kanvas logo I Love KL, tas batik, serta Cokelat dan Milo khas Malaysia. Karena waktu maghrib sudah tiba, kami melaksanakan sholat dan makan malam di Central Market. Makan malam di sini cukup puas dengan menu yang beragam. Setelah kenyang, kami bersiap untuk kembali ke hotel.

Wajah-wajah sumringah sehabis ngeborong di Central Market KL


Hari keempat di Malaysia, kami berencana ke Putrajaya, Pusat Pemerintahan, untuk mewawancarai JAKIM, otoritas yang berwenang mengatur masalah produk Halal di Malaysia. Kami akan berangkat siang ini ke Putrajaya, karena Bang Heru akan mengikuti pertemuan penggiat HAM yang diadakan oleh CENTHRA, lembaga tempat Cik Azril bernaung. Kami pun berpisah dengan bang Heru dan berjanji akan bertemu sehabis dzuhur.

Bu Ida yang sejak kemarin naksir dengan baju kurung yang dipakai wanita-wanita khas Malaysia pun penasaran, ingin membeli baju kurung. Setelah bertanya-tanya, sebagian orang-orang menyarankan kami untuk mencari baju kurung di daerah Masjid Jamek yang konon banyak menjual baju kurung bagus-bagus. Dengan menggunakan LRT, kami berangkat menuju Masjid Jamek.

Ternyata, yang dimaksud dengan Masjid Jamek adalah deretan tenda-tenda tempat berbelanja di sekitar Masjid Jami'. Tempat ini seperti pasar dengan tenda tidak permanen. Banyak aksesoris dan pakaian wanita yang dijual di sana. Kami berburu bros dengan harga murah, dan bentuk yang lucu-lucu. Di sini juga kami memutuskan untuk membeli tongsis seharga 10 Ringgit demi tujuan mulia untuk foto-foto yang instagram-able.

First trial tongsis, Location: Masjid Jami'

Setelah berjalan kesana-kemari dan mengubek-ngubek satu toko ke toko yang lain, akhirnya Bu Ida menemukan baju kurung yang dia cari. Kami sempat mencari di beberapa toko yang menjual baju kurung, namun motif bajunya kebanyakan enggak banget (red: norak, wkwk), ada juga yang motifnya bagus tapi harganya muahal, sehingga kami terus mencari. Sampailah kami di toko yang motifnya bagus-bagus dan cukup classy, harganya juga cukup terjangkau. Ternyata, toko itu punya orang Indonesia! Dia juga memiliki toko serupa di Tanah Abang. Wah, emang ya kalau soal selera pakaian orang Indonesia lebih hebat :p

Petualangan kami di Masjid Jamek menghasilkan bros-bros lucu, baju kurung dan jubah, serta kerudung khas Malaysia yang dibeli Bu Ida. Tidak lama, kami bertemu dengan Bang Heru di tempat yang sudah dijanjikan dan berangkat ke Putrajaya dengan menaiki taksi.

Perjalanan ke Putrajaya berlangsung beberapa lama, yang memakan biaya taksi sekitar 80 RM. Akhirnya, kami sampai di Putrajaya.

Aku tercengang melihat situasi kota Putrajaya. Blok seluas hampir 5000 hektar yang terdiri dari gedung-gedung pemerintahan yang megah terhampar. Konon, wilayah Putrajaya dulunya merupakan wilayah hutan yang sengaja dipersiapkan untuk menjadi daerah pusat administratif dan keuangan, karena wilayah Kuala Lumpur sudah sedemikian padat. Tak heran, hampir tidak ada pemukiman tempat tinggal di wilayah Putrajaya. Kediaman resmi Perdana Menteri Malaysia juga terletak di Putrajaya.

Sempat berputar-putar dan nyasar, kami memutuskan untuk makan siang dulu di kedai pinggir jalan. Loh, ternyata harga makanan pinggir jalan murah-murah banget! Hanya berkisar 3-5 RM saja per porsi (biasanya jajan di Mall sih, jadi habis 50 RM sekali makan). Sudah begitu, rasa laksa dan nasi lemak yang dijual enak pula.
Selamat makan!

Anak nongkrong Putrajaya

Akhirnya, kami tiba juga di JAKIM. Halal Hub JAKIM berlokasi di gedung besar, dan membutuhkan kartu untuk mengaksesnya. Yah, mirip-mirip gedung perkantoran di Jakarta lah. Kami bertemu dengan sekertaris dan menyampaikan bahwa kami sudah memiliki janji untuk wawancara.

Ternyata, kami disambut langsung oleh Direktur Halal Hub JAKIM, Pak Sirajuddin Suhaimee. Wah, kalau di Indonesia rasanya seperti langsung bertemu dengan Direktur LPPOM MUI. Walaupun beliau sangat sibuk, Pak Sirajuddin sangat ramah dan helpful, menjelaskan segala sesuatu mengenai sejarah Sertifikasi Halal di Malaysia dan pelaksanaannya. Tak urung, aku merasa iri karena pelaksanaan Jaminan Produk Halal di Malaysia sangat lancar dan maju, tentunya juga karena dukungan penuh dari pemerintah Malaysia. Lucunya, Pak Sirajuddin bercerita bahwa sertifikasi halal dari Malaysia sudah diterima secara luas di semua negara, kecuali Indonesia karena belum dicapainya kesepakatan. Waduuh kok bisa ya? Hahaha

Terima kasih Pak Cik Sirajuddin!

Selepas wawancara, kami menuju Masjid Putra, yaitu masjid megah di Putrajaya yang sangat terkenal. Kami mencari-cari taksi namun tak kunjung menemukannya. Akhirnya Bang Heru mengajak untuk berjalan kaki saja, karena kata Bang Heru masjidnya "dekat, kok"

Satu jam kemudian.... (lebay deng)

Ternyata oh ternyata, jarak antara kantor JAKIM dan Masjid Putra lumayan dekat bila ditempuh dengan kereta. Alhasil di siang yang terik itu kami berjalan kaki jauh dan panas-panasan, ditambah suhu di Putrajaya sangat tidak santai. Untuk melupakan rasa penat, kami akhirnya selfie-selfie selama perjalanan.


Akhirnyaa sampai di Masjid Putra!

Tak lama setelah menunaikan sholat ashar, Aiman datang menjemput kami.
Aiman adalah mahasiswa di Kelas Khusus Internasional, yang merupakan warga asli Malaysia. Ibunya Aiman adalah teman akrab Bang Heru. Aiman mengantarkan kami ke UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), dimana Ibunya menjadi dosen di sana. Kami berbincang-bincang dan mengelilingi UKM sejenak sebelum pulang ke rumah Aiman.


Rencananya, malam ini kami akan melintasi perbatasan Malaysia-Thailand menggunakan bus malam. Sambil menunggu jadwal keberangkatan, kami berbincang-bincang dengan Ibu Aiman yang menceritakan pengalamannya mengajar di beberapa negara. Tak terasa, waktu sudah berlalu. Setelah berpamitan dengan Ibu Aiman, Aiman mengantar kami menuju terminal Bis Pudu Sentral Kuala Lumpur yang terletak di Bukit Bintang.

Sesampainya di Pudu Sentral, aku menatap takjub. Beda sekali ya, sama terminal Bus di Pulo Gadung. Terminal Bus Pudu Sentral tidak jauh berbeda dengan airport. Ada papan elektronik yang menunjukkan waktu keberangkatan dan sebagainya. Kami diminta mempersiapkan paspor dan berkas-berkas untuk petugas imigrasi di perbatasan. 

Waktu keberangkatan tiba. Kami memasukkan koper di bagasi dan menaiki bis. Rupanya bis malam ini lumayan nyaman, dengan kursi empuk yang bisa disandarkan dan space yang luas. Aku duduk di samping Bu Ida dan bersiap untuk tidur, mengingat waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

Bis perlahan mulai bergerak membelah malam yang masih hingar-bingar. Kami menjauhi Malaysia, menuju Hatyai, Thailand. Sinyal di HP-ku mulai menipis, menandakan kami semakin meninggalkan wilayah Malaysia, dan akan memasuki Thailand.

Sampai jumpa lagi, Malaysia!


Jumat, 07 Oktober 2016

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 1)

Assalamualaikum fellas! Long time no see~

Kali ini, aku akan menceritakan perjalananku ketika berpetualang ke Malaysia dan Thailand selama seminggu untuk melakukan penelitian. 
Ceritanya, suatu hari dibuka pengajuan proposal penelitian dari kampus. Melihat peluang yang ada, aku, Ghozi, Bu Ida, dan Bang Heru memasukkan proposal penelitian dengan tema perbandingan kebijakan mengenai produk Halal di Indonesia dengan Malaysia dan Thailand. Tak disangka, proposal kami terpilih sehingga kami melaksanakan penelitian dengan bertemu para akademisi dan pemangku kebijakan di negara masing-masing. Perjalanan kami dimulai pada hari Senin, 15 Agustus 2016.  

Senin pagi kita sudah berkumpul di kampus. Tiket Malindo Air dengan destinasi Kuala Lumpur sudah di tangan, dibooking jauh-jauh hari sebelumnya (harganya sekitar Rp500 ribuan seorang). 

Tadinya, aku sudah menyiapkan koper ukuran besar untuk perjalanan seminggu ini. Sayangnya, saat H-1 berangkat aku baru menyadari kalau koperku (yang besar) rodanya hanya dua, artinya mobilitasnya akan sangat terhambat mengingat aku akan berpindah-pindah hotel beberapa hari. Dengan berat hati, akhirnya aku membawa koper dengan ukuran jauh lebih kecil yang sebelumnya kugunakan untuk outing kantor ke Belitung. Keputusan yang kusesali akhirnya, karena koper itu hanya dapat memuat tujuh stel pakaian, itu pun sudah dipress sedemikian rupa.

Kami berangkat dengan diantar supir Ghozi ke Bandara Soekarno Hatta. Setelah sempat mengalami delay, pesawat kami akhirnya lepas landas jam dua siang. Tiga jam perjalanan tidak terasa, Kami sampai di bandara bersamaan dengan waktu maghrib. Namun waktu Malaysia sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Rupanya, perbedaan waktu antara Malaysia dan Indonesia adalah satu jam. Loh kok bisa? Bukannya Indonesia dan Malaysia berdekatan ya?

Ternyata, menurut bang Heru, perbedaan waktu Indonesia dan Malaysia hanyalah masalah politik, untuk membedakan batas wilayah antar negara. Selangkah saja memasuki perbatasan Malaysia, maka waktu akan berubah. Padahal secara geografis kondisinya sama saja. Lucu aja, jam 7 di Malaysia baru mau maghrib dan langit masih terang.

Bandara Malaysia sudah sangat canggih. Dari bandara Internasional KLIA di daerah Sepang, kami naik MRT yang membawa kami ke terminal penjemputan. Bandara KL luar biasa bagus, aku merasa seperti sedang berada di dalam mall saja. Di bandara, Bang Heru membeli simcard Malaysia agar bisa mengontak Cik Azril, kenalan Bang Heru yang rencananya akan menjemput kami. Aku tertawa-tawa membaca keterangan di papan-papan petunjuk yang berbahasa Melayu, yang bila dibaca artinya sangat lucu. Misalnya toilet menjadi kamar tandas, atau kamar ganti menjadi bilik salin, dan gratis bahasa melayunya adalah percuma.

Di tempat penjemputan bandara, ternyata Cik Azril dan kawannya sudah menunggu kami. Cik Azril adalah advokat Malaysia yang lumayan sering berkunjung FHUI. Di suatu saat aku beruntung berkesempatan berbincang-bincang dengan Cik Azril mengenai kondisi Islam di Malaysia yang mengikuti tren di Indonesia, mulai mengarah kepada sekulerisme. Cik Azril adalah ketua CENTHRA, lembaga bantuan hukum Malaysia yang memperjuangkan nilai-nilai Islam.

Kami naik mobil Cik Azril dan dibawa ke sebuah masjid untuk sholat. Masjid di Malaysia sangat bagus, besar dan bersih. Hanya saja culture shock pertama mulai muncul saat melihat toilet; sprinkle untuk membasuh di toilet Malaysia bentuknya seperti selang, tidak seperti di Indonesia yang berbentuk semprotan.

Dari sana, kami menuju sebuah rumah makan khas India yang terletak di wilayah dekat Putrajaya. Cik Azril dengan murah hati mentraktir kami makan malam dengan nasi kebuli ayam. Satu nampan besar datang dengan beras kuning dan tujuh buah ayam besar-besar beserta beberapa mangkuk berisi kuah kental kecoklatan. Beras yang digunakan adalah beras basmati yang berbulir panjang-panjang. Kuperhatikan, rumah makan halal di Malaysia kebanyakan adalah yang menunya berasal dari India atau Timur Tengah. 


Tahap pertama penelitian: tes produk halal di pasaran



Sehabis makan, kami berkunjung ke kantor Centhra di daerah Putrajaya. Sayangnya kantor sudah dikunci, namun kami sempat berfoto di depannya. Sepulangnya dari sana, Cik Azril meminta sopirnya mengantarkan kami ke hotel kami di KL Sentral.

Kami sampai di hotel dan membawa koper ke kamar kami di lantai 13. Baru kali ini aku menemukan hotel dengan lantai 13, rupanya orang Malaysia nggak percaya takhayul ya, hehe. Kamarku dan Bu Ida berisi dua kasur, namun kamarnya terlihat agak kumuh. Aku agak terkejut melihat kamar yang sangat sederhana untuk rate harga 170 Ringgit (sekitar 600 ribu rupiah) sehari, padahal kamar yang kami pilih lebih luas daripada kamar Bang Heru dan Ghozi. Namun kami tak sempat protes, karena yang ada di pikiran kami saat itu hanyalah bersih-bersih dan tidur.

Pagi hari menjelang. Azan subuh berkumandang di saat jam menunjukkan angka enam. Namun, pemandangan di luar tak ubahnya pemandangan di Indonesia jam empat atau jam lima pagi. 

Kusibakkan gorden kamar, dan melihat daerah KL Sentral dari jendela kamar kami di lantai 13. Baru kusadari, hanya sepelemparan batu dari hotel kami berdiri stasiun LRT KL Sentral. Kulihat monorel bolak balik melintas diatas rel besi.

Kami turun dan menyantap sarapan dengan nikmat. Makanan di hotel tak jauh beda dari makanan semalam, nasi dari beras basmati yang butirnya panjang-panjang, roti prata beserta kari, dan scramble egg.

Hari pertama, agenda kami adalah menuju Universiti Malaya untuk mengikuti confrence. Bu Ida dan Bang Heru akan mengikuti konfrensi yang diadakan UM untuk membahas relasi Indonesia-Malaysia.

Kami naik taksi dari hotel KL sentral menuju UM. Walaupun taksi memiliki argo, sopir menolak untuk menggunakan argo sehingga harus tawar menawar terlebih dulu. Disepakatilah harga 20 RM untuk perjalanan dari hotel ke Universiti Malaya.

Universiti Malaya berada di kompleks yang sangat luas, jauh lebih luas daripada UI. Antar fakultas yang jaraknya cukup jauh dapat ditempuh dengan menggunakan bis kampus. Saat itu ternyata sedang libur kuliah, sehingga kampus agak sepi. Hanya sesekali bis melintas, ternyata ada kompetisi olahraga antar Universitas yang diselenggarakan di UM.

Sambil menunggu Bu Ida dan Bang Heru mengikuti konfrensi, aku dan Ghozi menuju perpustakaan, ingin mencari buku referensi untuk penelitian kami. Namun kami kecewa karena di perpustakaan yang cukup besar itu dipungut biaya sebesar 21 RM per orang (kurs Ringgit 3500, jadi sekitar 73 ribu rupiah) apabila ingin memasuki perpustakaan sepuasnya. Mahal jugaaa. Karena kami di UM hanya beberapa jam saja, kami mengurungkan niat untuk masuk ke perpustakaan. Akhirnya kami berfoto-foto di depan perpustakaan aja *sempet-sempetnya narsis wkwk. Baru kusadari, karena saat itu bulan Agustus yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Malaysia, di sepanjang jalan tergantung bendera Malaysia.




Bang Heru dan Bu Ida keluar dari ruangan tempat confrence dan mengajak kami menuju destinasi selanjutnya, bertemu dengan Ustadz Ruslan Said, salah satu ulama dari JAKIM (MUI-nya Malaysia). Kami bertemu Ustadz Ruslan di daerah Masjid Negara. Kami berbincang-bincang dengan Ustadz Ruslan mengenai kondisi Islam di Malaysia sambil makan siang di sebuah kedai. Ustadz Ruslan menyarankan kami untuk menghubungi divisi bagian halal di kantor pusat JAKIM di daerah Putrajaya. Kami pun mengagendakan untuk mengunjungi JAKIM hari Kamis. Tak lupa kami berfoto bersama sebelum berpisah dengan Ustadz Ruslan.




Setelah itu kami menuju Masjid Negara untuk sholat dzuhur. Setiap masjid di Malaysia memiliki jadwal khusus untuk wisatawan. Setiap waktu sholat, masjid ditutup bagi wisatawan yang beragama bukan muslim karena akan dilaksanakan ibadah. Saat aku datang, turis-turis tampak sabar menunggu waktu sholat berakhir di depan masjid.




Rupanya, setiap orang yang memasuki masjid harus mematuhi adab syariat. Orang-orang yang mengenakan baju pendek atau ketat diwajibkan mengenakan jubah khusus yang telah disediakan untuk menutup aurat. Bahkan sekalipun pengunjung memakai kerudung, bila bajunya ketat atau mengenakan celana (ala-ala hijabers di Indonesia), mereka tetap diwajibkan mengenakan jubah. Warna jubah dibedakan antara muslim dengan non muslim, rupanya untuk membatasi agar pengunjung tidak mengganggu orang-orang yang sholat. Lucunya, wisatawan terlihat sangat fashionable dengan jubah ungu ala-ala Hogwarts school itu. Dengan gembira turis-turis bule dan chinese berfoto-foto di sudut masjid dengan jubah lucu itu.


Jubah Ungu ala-ala. Sumber: Themalaysianreserve.com

Aku tertakjub-takjub melihat bagaimana cara Malaysia mempromosikan Islam melalui masjid-masjid yang mereka punya. Di setiap sudut masjid ada penjelasan mengenai Islam dengan bahasa yang sederhana; misalnya mengapa umat Islam sholat, dan apa saja rukun Islam. Setiap petunjuk tertera dengan tiga bahasa: Melayu, Inggris, dan Chinese.

Di sudut yang lain, aku menemukan rak brosur penuh dengan penjelasan mengenai Islam. Brosur ini tersedia pula dengan berbagai versi bahasa, sampai bahasa Jepang dan Korea pun ada. Brosur yang kubaca memaparkan Islam dengan cara yang mudah dipahami dan membujuk; pokoknya bikin adeem deh. Beginilah cara Malaysia berdakwah: tidak menggurui, tidak menggunakan cara lakukan-ini-atau-kamu-masuk-neraka. Mereka berdakwah dengan mengedukasi, bahkan menjelaskan dengan mematahkan stigma-stigma tentang Islam yang selama ini ada. Salah satu brosur yang ada berjudul "Marry only one: Polygamy is neither obligatory nor encouraged in Islam." Kami tertawa-tawa membacanya dan menunjukkannya kepada Bang Heru.
Narsis di depan rak brosur bersama penjaga Masjid Negara


Dari Masjid Negara, kami berjalan kaki menuju ke Museum Kebudayaan Islam. Aku baru tahu, museum-museum di Malaysia terletak di satu komplek yang berdekatan dengan Masjid Negara. Selain Museum Kebudayaan Islam ada museum-museum lain yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki. Museum Kebudayaan Islam sangat menarik, banyak paparan mengenai sejarah Islam secara umum dan sejarah Islam di Malaysia khususnya, dan juga sejarah Nusantara seperti kerajaan Islam di Samudra pasai.

Puas mengelilingi Museum, kami menuju destinasi selanjutnya: Twin Tower alias Menara Petronas dong! Belum dibilang ke Malaysia kalau belum foto di depan twin tower yang ngehitz itu. Sempat bingung menentukan jalan, akhirnya kami naik kereta dulu ke stasiun KL Sentral, baru berganti transportasi naik LRT ke stasiun KLCC. Aku terperangah melihat stasiun KL Sentral yang besar, padat dan sangat modern, tak ubahnya bandara Malaysia. Kami membeli tiket LRT di mesin otomatis yang mengeluarkan koin-koin plastik. Saat akan memasuki stasiun, kami tinggal menempelkan koin tersebut di mesin scanner untuk membuka gate. Di stasiun tujuan, kami memasukkan koin tersebut ke lubang seperti celengan di mesin untuk membuka gate.

Saat itu jam rush hour, sehingga stasiun padat oleh orang-orang yang kuduga habis pulang kerja. Aku memperhatikan pakaian beberapa wanita Malaysia, dan kebanyakan dari mereka mengenakan baju kurung, yaitu blus panjang yang mencapai lutut dan rok di bawahnya. Walaupun beberapa motif baju kurung menurutku bukan seleraku banget, ada perasaan adem melihat wanita-wanita berbaju kurung berlalu-lalang.

LRT datang, dan ternyata LRT itu penuh sesak. Aku, Bu Ida, dan Bang Heru berhasil masuk ke dalam LRT, namun Ghozi yang paling belakang tertinggal dan pintu LRT langsung menutup. Aku sempat panik mengingat tidak ada sarana komunikasi bagi kami bila Ghozi tersasar. Dari balik pintu LRT yang tertutup Ghozi mengisyaratkan kami untuk bertemu di stasiun tujuan, stasiun KLCC. Kami mengangguk lega.

Kami sampai di stasiun KLCC, dan menunggu Ghozi yang datang dengan kereta selanjutnya. Dari bawah tanah kami menaiki eskalator dan tiba di tengah-tengah Mall. Kemudian kami menyeberang ke gedung di depan Mall tersebut yang tak lain adalah gedung Menara Twin Tower. Bang Heru menyarankan untuk berfoto dengan Twin Tower sehabis gelap karena konon Twin Tower di malam hari lebih cantik. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat dan makan dulu. Kami ke food court di Mall dan mulai mencari-cari makanan yang tersedia. Kebanyakan menu yang ada adalah nasi lemak dan laksa, makanan khas Malaysia. Bang Heru memilih makan Nasi Lemak beserta lauk pauk Ikan. Bu Ida memilih laksa. Aku dan Ghozi setelah berputar-putar bingung memilih makanan akhirnya mentok di satu restoran Indonesia yang menjual ayam penyet. Total makanan dan minuman yang kita beli kira-kira 24 ringgit, jadi satu orang bayar 6 ringgit. Kenyang makan, kami turun menuju dasar Twin Tower. Di depan Twin Tower sudah ramai dengan orang-orang yang berfoto dengan latar Twin Tower. Kami pun bersiap berpose.



Nggak foto nggak heitz


(Bersambung ke postingan selanjutnya)

Jumat, 15 Juli 2016

QS 55:13

“Nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan?”

Rabu, 14 Juli 2016, begitu tanggal yang tertera di kalender yang kulirik. Hari masih pagi, dan aku baru sampai di kantorku yang tak lain tak bukan adalah almamater tempatku menuntut pendidikan tinggi.

Kubuka laptop merahku dan menyalakannya. Hal pertama yang kulakukan saat koneksi internet terhubung dengan laptopku adalah membuka e-mail.

Jantungku berdegup melihat e-mail dengan subject “Durham University Offer” di inbox. Bergegas kugerakkan kursor untuk melihat isi email, dengan mulut komat-kamit merapal bismillah.

“Dear Iffah Karimah,

I am delighted to inform you that we are happy to make you an offer on your chosen postgraduate programme at Durham University.  Please find attached your offer letter.......”


Alhamdulillah! Hatiku bersorak riang. Tak hentinya aku mengucap syukur, karena application yang kukirimkan ke Durham University sebulan yang lalu membawa kabar gembira. Dua minggu sebelumnya, aku mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari SOAS University of London, namun LoA tersebut masih bersifat Conditional karena aku belum memenuhi syarat IELTS (skor writing-ku 6.0, kurang 0.5 dari syarat untuk masuk Law School. Law School memang kejam). Selain itu, jauh di lubuk hatiku aku masih menanti-nanti kabar gembira dari Durham University karena sejak dulu aku menargetkan untuk melanjutkan S2 ke Durham, yang merupakan Universitas nomor satu dalam hal riset ekonomi syariah. Lambang Durham University beserta foto-foto khas Inggris seperti Big Ben dan Double Decker menghiasi wallpaper laptopku, sebagai pemacu bagiku untuk mencapai cita-citaku.

Alhamdulillah, jalan untuk meraih cita-cita melanjutkan S2 mulai terbuka sedikit-demi sedikit..

Aku ingat beberapa bulan (atau mungkin tahun) yang lalu, ketika kulihat satu demi satu senior dan teman-temanku berkesempatan melanjutkan studi di luar negeri. Perasaan kagum, iri, bercampur insecure mulai menghampiriku. Tapi, iri dalam hal kebaikan—atau prestasi merupakan hal yang baik bukan?

Satu persatu, teman-teman sepermainanku mulai mendapatkan kesempatan berkuliah di luar negeri. Seperti Reiput yang mendapatkan Universitas di Belanda, Muthi yang mendapatkan Universitas di Jerman, dan  Upi yang mendapatkan Universitas di Jepang. 

Perasaan insecure semakin menyelimuti dan menekan, yang ujung-ujungnya setan mencari cara untuk membuatku merasa tidak bersyukur. Kenapa aku masih begini-begini saja? Sepertinya aku tertinggal jauh dari teman-teman yang lain. Bagaimana mungkin aku melanjutkan cita-cita menjadi dosen kalau belum dapat kuliah? Stressku bertambah dengan pertanyaan yang berdatangan dari para dosen, “Kapan kamu lanjut kuliah? Kapan nikah?" *lohh

Namun suatu saat aku menyadari, mengapa teman-temanku sudah mendapatkan sekolah dan beasiswa sementara aku belum.

Mengapa? Karena usaha yang kami lakukan berbeda jauh. Muthi dan Reiput bersama-sama teman satu liqo-nya sudah sejak lama pontang-panting kesana kemari mengurus berkas application Universitas dan beasiswa. Upi sudah sejak zaman mahasiswa mengincar setiap kesempatan untuk ke luar negeri. 

Sementara aku? Mengikuti les IELTS saja masih ogah-ogahan, berkas aplikasi sama sekali belum disentuh. Apalagi berkas beasiswa. 

Ibaratnya suatu perjalanan, tujuan kami sama yaitu ingin melanjutkan S2 di luar negeri. Namun, tentulah orang yang lebih siap dengan perbekalan dan persyaratan akan lebih dulu mencapai tujuan dibanding orang yang baru berniat-akan-memulai-perjalanan, dengan ogah-ogahan pula.

Terkadang, kita menilai segala sesuatu hanya dari hasilnya, tanpa tahu ada cerita panjang dan perjuangan dibaliknya.

Mungkin kita tidak tahu, dibalik foto-foto seru di instagram senior yang sedang Euro-trip, ternyata mereka habis melampiaskan rasa lega setelah setahun berjuang mati-matian bagai di neraka dengan kuliah berbahasa inggris dan persaingan serta sistem pendidikan yang jauh berbeda dibandingkan dengan Indonesia. 
Mungkin kita juga tidak tahu bahwa dibalik senyum bahagia seorang penerima beasiswa, ada perjuangan panjang berkali-kali mengikuti seleksi dan gagal, berlatih bahasa Inggris, dan membuang kesempatan bekerja demi mengejar beasiswanya. 
Kita tidak tahu bahwa ada awardee LPDP yang harus mengambil tes IELTS sampai lima kali agar dapat memenuhi syarat. Semua itu memakan waktu, usaha, dan tentunya biaya.

Aku pun sempat down dan merasa tidak bersyukur ketika seseorang yang kukabari bahwa aku mendapat LoA, berkata, “Oh, baru dapet LoA? Dapet LoA mah gampang, yang susah itu dapet beasiswanya.” Rasanya, segala usahaku tidak ada artinya. Lagi-lagi aku diserang oleh monster-merasa-tidak-bersyukur. Lalu kembali membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang kuanggap lebih sukses.

Namun bila kutengok ke belakang, ada langkah-langkah panjang yang telah kulalui. Les bahasa inggris dan tes IELTS yang memakan biaya, revisi motivation letter, mengejar-ngejar dosen untuk recomendation letter, dan menyiapkan berkas-berkas. Tentu semua itu memberikan pelajaran bagiku, bahwa harus ada upaya keras untuk mencapai suatu hasil. Aku merasa bersyukur karena setelah mendapatkan LoA, aku telah memenuhi salah satu syarat untuk kuliah di luar negeri.

Tentunya, perjuanganku belum berakhir saat ini. Aku masih di setengah perjalanan. Masih panjang perjuangan yang harus kulalui agar bisa mendapatkan beasiswa dan benar-benar berangkat menuntut ilmu ke Inggris, negeri impian. 

Namun tulisan ini kubuat sebagai pengingat, untuk mengusir dikala monster-tidak-bersyukur kembali menyerang. Tentunya juga sebagai pengingat agar aku selalu merasa bersyukur terhadap nikmat apapun yang aku dapatkan, bukan malah mengeluh. 

Aku bertekad tidak akan membanding-bandingkan nasibku dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Dan orang yang pada akhirnya berhasil mencapai tujuannya adalah orang yang memiliki tujuan dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya.

“Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil”
Man Jadda Wajada!


*PS: Mohon doanya semoga aku mendapatkan beasiswa dan bisa berangkat S2 ke luar negeri ya!