Jumat, 15 Juli 2016

QS 55:13

“Nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan?”

Rabu, 14 Juli 2016, begitu tanggal yang tertera di kalender yang kulirik. Hari masih pagi, dan aku baru sampai di kantorku yang tak lain tak bukan adalah almamater tempatku menuntut pendidikan tinggi.

Kubuka laptop merahku dan menyalakannya. Hal pertama yang kulakukan saat koneksi internet terhubung dengan laptopku adalah membuka e-mail.

Jantungku berdegup melihat e-mail dengan subject “Durham University Offer” di inbox. Bergegas kugerakkan kursor untuk melihat isi email, dengan mulut komat-kamit merapal bismillah.

“Dear Iffah Karimah,

I am delighted to inform you that we are happy to make you an offer on your chosen postgraduate programme at Durham University.  Please find attached your offer letter.......”


Alhamdulillah! Hatiku bersorak riang. Tak hentinya aku mengucap syukur, karena application yang kukirimkan ke Durham University sebulan yang lalu membawa kabar gembira. Dua minggu sebelumnya, aku mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari SOAS University of London, namun LoA tersebut masih bersifat Conditional karena aku belum memenuhi syarat IELTS (skor writing-ku 6.0, kurang 0.5 dari syarat untuk masuk Law School. Law School memang kejam). Selain itu, jauh di lubuk hatiku aku masih menanti-nanti kabar gembira dari Durham University karena sejak dulu aku menargetkan untuk melanjutkan S2 ke Durham, yang merupakan Universitas nomor satu dalam hal riset ekonomi syariah. Lambang Durham University beserta foto-foto khas Inggris seperti Big Ben dan Double Decker menghiasi wallpaper laptopku, sebagai pemacu bagiku untuk mencapai cita-citaku.

Alhamdulillah, jalan untuk meraih cita-cita melanjutkan S2 mulai terbuka sedikit-demi sedikit..

Aku ingat beberapa bulan (atau mungkin tahun) yang lalu, ketika kulihat satu demi satu senior dan teman-temanku berkesempatan melanjutkan studi di luar negeri. Perasaan kagum, iri, bercampur insecure mulai menghampiriku. Tapi, iri dalam hal kebaikan—atau prestasi merupakan hal yang baik bukan?

Satu persatu, teman-teman sepermainanku mulai mendapatkan kesempatan berkuliah di luar negeri. Seperti Reiput yang mendapatkan Universitas di Belanda, Muthi yang mendapatkan Universitas di Jerman, dan  Upi yang mendapatkan Universitas di Jepang. 

Perasaan insecure semakin menyelimuti dan menekan, yang ujung-ujungnya setan mencari cara untuk membuatku merasa tidak bersyukur. Kenapa aku masih begini-begini saja? Sepertinya aku tertinggal jauh dari teman-teman yang lain. Bagaimana mungkin aku melanjutkan cita-cita menjadi dosen kalau belum dapat kuliah? Stressku bertambah dengan pertanyaan yang berdatangan dari para dosen, “Kapan kamu lanjut kuliah? Kapan nikah?" *lohh

Namun suatu saat aku menyadari, mengapa teman-temanku sudah mendapatkan sekolah dan beasiswa sementara aku belum.

Mengapa? Karena usaha yang kami lakukan berbeda jauh. Muthi dan Reiput bersama-sama teman satu liqo-nya sudah sejak lama pontang-panting kesana kemari mengurus berkas application Universitas dan beasiswa. Upi sudah sejak zaman mahasiswa mengincar setiap kesempatan untuk ke luar negeri. 

Sementara aku? Mengikuti les IELTS saja masih ogah-ogahan, berkas aplikasi sama sekali belum disentuh. Apalagi berkas beasiswa. 

Ibaratnya suatu perjalanan, tujuan kami sama yaitu ingin melanjutkan S2 di luar negeri. Namun, tentulah orang yang lebih siap dengan perbekalan dan persyaratan akan lebih dulu mencapai tujuan dibanding orang yang baru berniat-akan-memulai-perjalanan, dengan ogah-ogahan pula.

Terkadang, kita menilai segala sesuatu hanya dari hasilnya, tanpa tahu ada cerita panjang dan perjuangan dibaliknya.

Mungkin kita tidak tahu, dibalik foto-foto seru di instagram senior yang sedang Euro-trip, ternyata mereka habis melampiaskan rasa lega setelah setahun berjuang mati-matian bagai di neraka dengan kuliah berbahasa inggris dan persaingan serta sistem pendidikan yang jauh berbeda dibandingkan dengan Indonesia. 
Mungkin kita juga tidak tahu bahwa dibalik senyum bahagia seorang penerima beasiswa, ada perjuangan panjang berkali-kali mengikuti seleksi dan gagal, berlatih bahasa Inggris, dan membuang kesempatan bekerja demi mengejar beasiswanya. 
Kita tidak tahu bahwa ada awardee LPDP yang harus mengambil tes IELTS sampai lima kali agar dapat memenuhi syarat. Semua itu memakan waktu, usaha, dan tentunya biaya.

Aku pun sempat down dan merasa tidak bersyukur ketika seseorang yang kukabari bahwa aku mendapat LoA, berkata, “Oh, baru dapet LoA? Dapet LoA mah gampang, yang susah itu dapet beasiswanya.” Rasanya, segala usahaku tidak ada artinya. Lagi-lagi aku diserang oleh monster-merasa-tidak-bersyukur. Lalu kembali membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang kuanggap lebih sukses.

Namun bila kutengok ke belakang, ada langkah-langkah panjang yang telah kulalui. Les bahasa inggris dan tes IELTS yang memakan biaya, revisi motivation letter, mengejar-ngejar dosen untuk recomendation letter, dan menyiapkan berkas-berkas. Tentu semua itu memberikan pelajaran bagiku, bahwa harus ada upaya keras untuk mencapai suatu hasil. Aku merasa bersyukur karena setelah mendapatkan LoA, aku telah memenuhi salah satu syarat untuk kuliah di luar negeri.

Tentunya, perjuanganku belum berakhir saat ini. Aku masih di setengah perjalanan. Masih panjang perjuangan yang harus kulalui agar bisa mendapatkan beasiswa dan benar-benar berangkat menuntut ilmu ke Inggris, negeri impian. 

Namun tulisan ini kubuat sebagai pengingat, untuk mengusir dikala monster-tidak-bersyukur kembali menyerang. Tentunya juga sebagai pengingat agar aku selalu merasa bersyukur terhadap nikmat apapun yang aku dapatkan, bukan malah mengeluh. 

Aku bertekad tidak akan membanding-bandingkan nasibku dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Dan orang yang pada akhirnya berhasil mencapai tujuannya adalah orang yang memiliki tujuan dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya.

“Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil”
Man Jadda Wajada!


*PS: Mohon doanya semoga aku mendapatkan beasiswa dan bisa berangkat S2 ke luar negeri ya!

Rabu, 29 Juni 2016

Alhamdulillah :)


Bersyukur dulu.....


...baru mikirin cari beasiswanya belakangan.

Still, alhamdulillah :)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Rabu, 11 Mei 2016

Menghapus Sesak

Akhir-akhir ini, laptop kesayanganku sering mengalami error.
Seringkali macet sendiri,
lalu mendadak mati.
Khawatir pekerjaanku terhambat,
kucari tahu mengapa laptopku bermasalah.

Tenyata, kapasitas laptopku terlalu penuh karena banyak file yang kusimpan.
Tentu saja laptopku penuh karena data yang kumiliki
sejak awal aku memiliki laptop lima tahun yang lalu.

Kemudian kubuka folder-folder lama.
Kuhapus beberapa file yang menumpuk.

Jujur sulit bagiku menghapus beberapa file
karena ada nilai sentimentil dan kenangannya,
walaupun file tersebut sesungguhnya sudah tidak berguna.
Namun aku mencoba menghapus file-file lama tersebut
agar komputerku bisa berjalan dengan lancar.

Benar saja, setelah kuhapus file-file lama,
laptopku dapat digunakan dengan lancar.
Laptopku juga memiliki ruang yang lebih luas
untuk kugunakan menyimpan file di masa yang akan datang.

Begitu juga dengan hati dan pikiran kita.
Terkadang, ada beberapa hal yang harus dibuang dari memori,
karena sudah tidak diperlukan lagi.
Jika tidak, hidup kita tak akan berjalan lancar dan berhenti di tempat,
seperti yang terjadi pada laptop yang macet.

Cobalah tengok sebentar ruang hati dan ruang kenang,
singkirkan segala sesuatu yang sudah tak penting.
Rasa dendam, penasaran, sakit, kecewa yang pernah ada di masa lalu.
Ikhlaskanlah semuanya. Lepaskan.
Lalu kau akan merasakan hidupmu lebih lapang,
dan siap untuk menyambut masa depan.

Cerita dari Balik Meja Loket

Kerja di Biro Pendidikan (birpen) Fakultas membawa cerita tersendiri bagi saya.

Dulu, bagi saya, birpen hanyalah tempat singgah sebentar untuk menandatangani absen kelas, membuat surat perizinan, melihat jadwal ujian, dan akhirnya mengambil ijazah.
Namun bekerja di birpen memberikan perspektif yang sama sekali berbeda. Melihat cerita mahasiswa yang bermasalah menjadi pembelajaran tersendiri buat saya.

Pernah saya temui mahasiswa yang begitu arogannya, meminta dibuatkan sebuah surat untuk selesai saat itu juga. Karena tak sabar, ia memaki salah satu petugas birpen, "Saya disini udah bayar mahal pak, 30 juta per semester! Nggak murah itu pak, 30 juta! Kok pelayanannya jelek banget!"
Saya mengutuk mahasiswa itu, "Bayar ndasmu. Duit mama papa aja belagu." Dalam hati tentunya, hehe.

Sedihnya, karena program internasional memang biaya per semesternya lumayan mahal, beberapa oknum mahasiswa merasa bisa berbuat sekehendak hati karena merasa "Gue udah bayar mahal". Manner atau sopan santun ke orangtua pun tidak ada. Well, money absolutely cannot buy manners.

Dengan sabar, bapak petugas yang dimaki itu menjawab, "Saya tau mas, 30 juta itu besar. Gaji saya berbulan-bulan pun belum tentu bisa buat bayar kamu semesteran. Tapi peraturan di sini memang begitu, kalau surat harus sehari baru bisa jadi. Suka tidak suka, kamu harus nunggu sampai suratnya selesai."
*tepuk tangan buat pak birpen*

Salah satu kisah unik adalah mahasiswa WNA yg sempat dicari-cari karena "menculik" pacarnya yang mahasiswa jurusan lain.

Alkisah, suatu hari sepasang orangtua datang ke kampus menanyakan kabar seorang mahasiswa WNA. Konon, anak gadis mereka yang merupakan pacar mahasiswa ini sudah dua bulan tidak pulang ke rumah, bahkan saat Lebaran. Sang orangtua curiga bahwa anak mereka melarikan diri dari rumah karena hamil.

Setelah kami mencoba menghubungi sang mahasiswa, ternyata dia ada dan menjawab dengan santai bahwa sang pacar ada di rumahnya selama dua bulan terakhir ini.

Saya berpikir keras, *dua bulan tinggal di rumah? Itu udah ngapain aja ya?*

Rupanya akibat culture shock, sang mahasiswa WNA tidak sadar bahwa samen leven is morally and culturally forbidden di Indonesia. Di negara dia sih santaai.
Akhirnya sang anak dikembalikan kepada orangtua. Entah apa sanksi bagi mahasiswa, sayangnya zina antara dua orang yang belum menikah tidak bisa dipidana di Indonesia. Jadi sang mahasiswa tidak bisa diproses secara hukum.

Plot twist: orangtua sang anak yang hilang adalah orang salafi (yang kerudungnya bercadar). Sedih.

Kisah lain yang paling sering saya temui adalah mahasiswa yang bermasalah secara akademik. Kasus mahasiswa-mahasiswa ini mendominasi hari-hari di biro pendidikan. Berdasarkan pengamatan sotil saya, hampir semua mahasiswa yang bermasalah secara akademik bukannya kurang cerdas, tapi kebanyakan masalahnya karena salah jurusan.

Ada seorang mahasiswa tingkat akhir yang sudah berkali-kali tidak lulus mata kuliah. Dari obrolan saya dengannya, saya baru tahu bahwa sesungguhnya passionnya mahasiswa tersebut bukan di jurusan Hukum. Ia sebenarnya sangat ingin bekerja di bidang pertanian, namun orangtuanya memintanya berkuliah di jurusan ini. Akibatnya, mahasiswa ini menjadi mahasiswa abadi. 

Konon, kesempatannya hanya tinggal satu semester lagi agar tidak di Drop Out di semester 12.

Kasus lain adalah sepasang orangtua yang mendatangi birpen dengan muka shock setelah mendatangi rapat evaluasi tahunan. Mereka terkejut bukan kepalang saat mendengar kabar anak kesayangan mereka ternyata sudah dua semester tidak masuk kuliah dan semester ini terancam DO.

"Padahal setiap pagi pamit ke kami berangkat kuliah, pak." tutur sang Ibu kelu.
Suatu saat sang Ibu mengantar anaknya ke kampus dengan mobil, sang anak meminta diturunkan bukan di fakultas, namun di perpustakaan dengan alasan ada kerja kelompok terlebih dahulu di perpustakaan.

Uang kuliah dua semester selalu dibayarkan oleh orangtua, uang jajan rutin diberikan setiap hari, namun batang hidung sang anak tak pernah tampak di kampus.
Baru saat surat panggilan dari kampus datang, sang anak baru mengakui kepada orangtuanya bahwa sejak dulu ia tidak pernah ingin berkuliah di jurusan ini (setelah 12 semester baru bilang? Helloo), namun tidak berani menyampaikannya ke orangtuanya karena takut mereka marah.

Memandangi wajah orangtua tersebut, saya merasakan perih di dalam dada. Kenapa ada anak yang tega menipu orangtuanya sendiri?

Sang orangtua pun bukannya konglomerat yang tajir melintir, melainkan pekerja biasa yang setiap bulannya rela menyisihkan dana yang tidak sedikit untuk membayar biaya pendidikan anak yang mereka sayang.
Inikah balasan dari anaknya?

Dengan getir, kedua orangtua tersebut meminta surat pengunduran diri dari kampus bagi anaknya. Setidaknya dengan mengundurkan diri, sang anak masih berkesempatan untuk melanjutkan kuliah di Universitas swasta untuk setidaknya meraih gelar.

Semoga, kali ini ia memilih jurusan yang benar-benar ia inginkan.

Cerita terakhir adalah cerita yang paling membuat saya sesak nafas.

Alkisah, suatu saat datanglah sepasang bapak dan ibu yang terlihat kebingungan ke birpen. Mereka mengenakan pakaian rapi, berusaha tampil formal walaupun sederhana. Dari raut wajahnya, sepertinya mereka berasal dari luar pulau Jawa.

Mereka bertanya apakah benar hari ini adalah hari wisuda? Sebab anak mereka mengabari mereka bahwa hari ini adalah hari wisudanya, dan meminta mereka untuk datang.
Petugas birpen kebingungan mendengar pertanyaan tersebut, karena hari itu bukanlah hari wisuda.

Setelah mengecek nama sang mahasiswa di database kampus, ternyata nama anak mereka sudah sejak dua tahun yang lalu tidak terdaftar sebagai mahasiswa.

Sang orangtua tidak percaya. "Tidak mungkin pak. Setiap bulan kami selalu mengirimkan uang untuk biaya pendidikan dan kos anak kami di sini. Bulan lalu anak saya meminta uang tambahan untuk membeli buku-buku."

"Tapi bu, anak ibu sudah sejak lama tidak terdaftar di data kami. Ia sudah bukan mahasiswa kami lagi."

"Saya tidak percaya, pak. Dia sendiri yang menelepon, meminta kami datang hari ini karena katanya ia akan wisuda." Sang orangtua denial, masih tak bisa menerima kenyataan.

Akhirnya, orangtua dan petugas berusaha menghubungi sang anak. Namun, sang anak tidak pernah mengangkat teleponnya, entah dimana ia.


***

NB: Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi sama sekali.
Saya tahu, terkadang tidak semua hal dalam kehidupan kita berjalan lancar, termasuk dalam menghadapi kegiatan perkuliahan. Ada banyak faktor yang menyebabkan akademis seorang mahasiswa bermasalah.
Namun, ada satu pesan saya bagi mahasiswa yang bermasalah. Tolong, jangan sekali-sekali berbohong kepada orangtua kalian. Jujurlah kepada mereka. Hadapilah masalah kalian bersama dengan mereka, bukan malah menyembunyikannya dari mereka.
Sudah cukup bagi saya melihat pedih di mata orangtua yang dibohongi anaknya sendiri.

Senin, 25 Januari 2016

A Trip to Sempu Island

Assalamualaikum, long time no post!

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman travelling ke pulau Sempu, Malang. Emang sih udah lama banget aku ke pulau Sempu, kira-kira bulan Juni tahun 2014 kemarin. 

Waktu itu aku dan Camila sedang mengambil kursus selama dua minggu di kampung Inggris, Pare. Karena kursus jadwalnya Senin sampai Sabtu pagi, biasanya setiap Sabtu dan Minggu para siswa di Kampung Inggris jalan-jalan ke tempat wisata seputar kediri, dari Gunung Bromo, Malang, sampai ke Bali. Banyak travel di wilayah kampung Inggris yang menawarkan paket wisata dengan harga yang relatif terjangkau.

Berhubung awalnya kita memang nggak merencanakan untuk jalan-jalan, akhir minggu pertama kita habiskan dengan jalan-jalan ke Malang, tepatnya ke wilayah Batu. Aku, Camila, dan Liv (siswa SMP yang sekamar dengan kita di asrama) pergi ke Malang naik bis dan menempuh waktu satu jam. Kita 
pergi ke Batu Night Spectacular, tempat wisata dengan suasana pasar malam. Batu Night Spectacular juga terkenal dengan lampion-lampion aneka bentuknya. Camila dan Liv sempat balapan go-kart, dan kita bertiga main di arena trampolin sampai puas dan belajar akrobat sambil melompat. Malam itu, kita menginap di motel super murah di dekat Batu (serius murah banget, sekamar bertiga cuma 120 ribu per malam!). Paginya, kita berjalan-jalan di alun-alun kota Batu dan naik Ferris Wheel yang ada di alun-alun, belanja oleh-oleh khas Malang, berkunjung ke Oemah Munir, lalu menguber-uber bis pulang ke Pare. 





Minggu berikutnya, tercetuslah ide dari Camila untuk main-main ke Pulau Sempu sebelum pulang. Tadinya aku ogah-ogahan, namun karena terbujuk Camila akhirnya aku setuju, karena penasaran dan belum pernah dapat pengalaman travelling. Untuk pergi ke Pulau Sempu, kami menggunakan jasa travel milik mahasiswa Universitas Brawijaya. Mereka akan mengurus kepergian kami dari Malang sampai ke Pantai Sendang Biru yang terletak di seberang Pulau Sempu. Mereka juga menyewakan tenda dan sleeping bag, mengurus izin masuk hutan, dan mencarikan guide untuk perjalanan kami selama di hutan.

Karena untuk travelling butuh jumlah minimal, jadilah Camila kelimpungan mencari orang-orang yang mau barengan ke Pulau Sempu. Kami mencoba mengajak teman-teman les maupun teman-teman satu asrama, tapi ternyata mereka sudah punya rencana lain untuk weekend.

Alhamdulillah, ternyata Annisa Noor, Ifah, dan Jayani, temen  satu fakultas kita lagi berlibur di rumah Noor di Malang. Mereka pun mau ikut bersama-sama ke Pulau Sempu. Berhubung semua yang ikut adalah makhluk-makhluk manis manja yang nggak punya pengalaman naik gunung dan masuk hutan (kecuali Camila), maka Camila meminta tolong Rozak, adiknya Bang Thowi yang mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mengawal kita selama perjalanan. 

Hari-H pun tiba, kami berangkat pagi-pagi dari rumah Nisa dengan membawa tas masing-masing. Menurut Camila dan Rozak, barang bawaan yang kita bawa nggak usah kebanyakan baju karena perjalanan di hutan lumayan lama (sekitar 1-2 jam jalan kaki). Dan bawaan yang paling penting adalah air mineral, karena disana nggak ada sumber air bersih untuk minum dan buang air. Akhirnya masing-masing orang menenteng barang pribadi, air mineral 1,5 Liter, perbekalan, dan sleeping bag. Rozak sebagai satu-satunya pria menenteng dua tenda, head lamp, dan matras dengan ranselnya yang segede kulkas (literally).

Mahasiswa Unbraw yang mengurus travel menjemput kami dengan mobil Elf mereka dan mengantar kami ke Pantai Sendang biru. Perjalanan dari Malang sampai ke Sendang Biru memakan waktu sekitar 2-3 jam. Lumayan juga jadi pepes di mobil, but trust me, bahkan jalan-jalan menuju ke Sendang Biru indaaah banget. Kita melewati deretan hutan-hutan yang berjajar rapi sampai akhirnya tiba di pinggir pantai Sendang Biru.

Sendang Biru

Aku terkesiap melihat Sendang Biru. Airnya benar-benar biru, dan di seberang laut terlihat rimbunan hijau hutan Pulau Sempu. Pemandangan disini aja udah indah banget, apalagi di Pulau Sempu? Begitu pikirku. 

Sebelum berangkat, kami mengurus izin masuk hutan konservasi dan menyewa sepatu untuk trekking di hutan. Di pinggir pantai ada rumah yang menyewakan sepatu khusus trekking yang berbahan karet.
Sepatu khusus trekking yang disewakan

Setelah sholat dan makan siang, kami pun bersiap-siap berangkat. Kami bertemu dengan Pak Aji, guide yang akan mendampingi dan mengantar kami dari Sendang Biru sampai ke Pulau Sempu dan Pantai Segara Anakan, teluk kecil di dalam Pulau Sempu. Setelah dadah-dadahan dengan para mahasiswa Unbraw yang akan menjemput kami besok, kami menaiki perahu boat yang menuju Pulau Sempu. 


Foto-foto dulu di boat

Perjalanan dengan perahu memakan waktu sekitar 15 menit, sebelum kami melihat pantai kecil di sisi luar Pulau Sempu tempat perahu akan mendarat. Jantungku berdegup melihat hutan-hutan yang menyambut kami, mendadak menyesal semalam sebelumnya habis membaca Hunger Games-Catching Fire yang lokasi pembantaiannya di hutan dan pantai. Diam-diam aku merapal doa, semoga di Pulau Sempu nggak ada monyet-monyet ganas.

Pantai sebelum masuk hutan Pulau Sempu

Perahu berhenti tidak jauh dari pantai. tidak bisa lebih merapat lagi. Kami turun disambut ombak yang merendam celana sampai selutut, dan berjalan mendekati pantai. Kami siap untuk memasuki hutan. Hutan Pulau Sempu sangat luas, butuh perjalanan 1-2 jam berjalan kaki untuk sampai. Oleh karena itu perlu ada guide supaya kita nggak tersasar di hutan. Kami mulai melangkah memasuki hutan dengan dipimpin Pak Aji di depan. Berhubung Ifah kakinya habis operasi, maka kita menjaga ritme perjalanan agar tidak terlalu cepat. Aku berjalan di belakang Pak Aji sambil sesekali mengobrol. Diikuti oleh Noor, Jayani, dan Ifah. Camila dan Rozak di belakang kami, sesekali mengikatkan tanda ke pohon-pohon supaya ingat jalan pulang, karena Pak Aji tidak ikut menginap bersama kami dan besok kami harus kembali sendiri. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang yang kembali dari Pulau Sempu dan saling bertegur sapa. Satu-dua bule terlihat diantara pengunjung yang berpapasan dengan kami di hutan. Ada pengunjung yang menginap, ada juga yang hanya melihat-lihat dan kembali. (Dalam hati aku berpikir, apa nggak gempor kakinya bolak-balik Pulau Sempu dalam sehari?). Trek jalan menuju Pulau Sempu naik turun, kadang ada akar-akar pohon yang melintang di tengah jalan. Namun karena sedang musim kemarau, kami bisa melihat jejak-jejak bekas orang-orang melintas di jalan.

Hutan Pulau Sempu


Kami sudah semakin dekat dengan pantai Segara Anakan, dari celah-celah pohon terlihat air jernih berwarna biru kehijauan. Terpikir olehku untuk langsung terjun aja dari atas tebing supaya nggak perlu jauh-jauh muter ke Pantai, tapi kuurungkan niat itu karena takut ransel basah dan mengingat aku nggak bisa berenang.   

Trek semakin curam saat mendekati pantai, jalannya juga semakin sempit. Kalau nggak hati-hati, bisa aja terpeleset dan langsung jatuh ke laut di bawah tebing. Sesekali juga kami harus berhenti jalan karena bergantian jalan dengan orang-orang yang kembali dari Segara Anakan.

Akhirnya sampai juga. Pulau Sempu!






Segara Anakan adalah pantai yang unik karena seolah-olah laut yang berada di tengah-tengah daratan Pulau Sempu. Air yang mengalir ke Segara Anakan berasal dari laut di sebelah luar Pulau Sempu, yang masuk melalui teluk kecil. Karena Pulau Sempu memang hutan konservasi, maka pulau ini nggak berpenghuni, sehingga Segara Anakan masih baguus banget dan alami banget.

Berhubung kami sampainya sudah sore, kami mengurungkan niat untuk berenang karena kata guide airnya asin dan kami bisa gatal-gatal semalaman karena nggak ada air tawar untuk berenang. Yaudah kami mendirikan tenda, mempersiapkan base camp. Karena tak bisa menahan godaan air biru, kami bermain ombak di pinggiran pantai.


Maafkan muka yang kucel.. Maklum ga bisa cuci muka pake facial foam


Semacam anak ilang


Malam tiba, segala sesuatu jadi gelaap banget. Nggak ada penerangan sama sekali kecuali dari lampu badai milik pengunjung yang berkemah. Mau internetan nggak bisa karena sama sekali nggak ada sinyal di Pulau Sempu. Mau makan nggak ada tukang jualan popmie yang lewat (menurut ngana?). Mau buang air kecil pun ditahan-tahan karena WCnya "alami" banget. Akhirnya kami menghabiskan waktu dengan mengobrol sampai mengantuk dan akhirnya nggak ada suara lagi.


Pagi pun tiba, suara deburan ombak membuat kami terbangun. Pemandangan pagi ini super breath-taking. Segera aku dan Camila bersiap-siap untuk nyebur. Namun Noor, Ifah, dan Jay nggak mau berenang dan memilih untuk berfoto-foto di pinggir pantai. Rozak sibuk foto-foto dengan SLR. Aku dan Camila nyebur dengan perasaan bahagia. Camila sempat berenang agak jauh, namun aku yang cupu ini memilih menghanyutkan diri di air dangkal aja. Camila sempat tergoda untuk pergi ke atas tebing dan terjun dari atas seperti orang-orang, tapi akhirnya mengurungkan niatnya.










Saatnya pulang tiba. Dengan berat hati kami berkemas dan melipat tenda-tenda. Kami mengemas semua barang, memastikan tidak ada satupun sampah yang tertinggal. Kami membagikan sisa bekal dan air minum ke orang-orang yang masih stay berkemah di pulau Sempu. Kami pulang mengikuti orang-orang yang ingin kembali ke Segara Anakan, sehingga ada penuntun jalan.

Baru aku rasakan, orang-orang sesama pecinta alam sangat ramah satu sama lain. Mereka baik-baik dan saling menolong. Berulang kali, kami mendapat ajakan untuk bertemu lagi di Mahameru pada tanggal 17 Agustus karena akan diadakan upacara bendera di puncaknya. Berhubung aku pecinta alam pemula, aku hanya tersenyum mendengar ajakan itu sambil dalam hati berharap Umi suatu saat akan membolehkanku pergi ke puncak gunung yang nggak ada villa-nya.

Terima kasih banyak untuk Camila dan Rozak, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau Sempu, pengalaman pertamaku travelling di alam. Kalau bukan karena mereka pasti aku tidak akan berani ke sini *hugss*. Aku berharap, semoga suatu saat nanti aku bisa ke Pulau Sempu lagi dan sudah ada yang menemani *lohh *lohh lohh

Oh iya, saat kami ke Pulau Sempu, pengunjung masih diizinkan untuk menginap di Pulau Sempu. Kabarnya sekarang sudah nggak boleh lagi karena Pulau Sempu semakin penuh dengan sampah :(

Bye Pulau Sempu, We'll always miss you :')




Minggu, 08 November 2015

Bersyukur!


Terkadang, kita merasa hidup ini sangat berat dan tidak sesuai dengan yang kita dambakan. Bagiku yang merupakan fresh graduate, frasa “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri” benar adanya. Kalau melirik kepada freshgraduate Fakultas Hukum, mungkin siapapun akan takjub. Konon berdasarkan survei, lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia hanya memiliki waktu tunggu maksimal 3 bulan sebelum memiliki pekerjaan. Hampir semua sektor membutuhkan lulusan mahasiswa Hukum, dan tentu saja fee yang dibayarkan bagi freshgraduate lulusan FHUI juga luar biasa.

Hari demi hari, update yang berseliweran di media sosialku kurang lebih menggambarkan kesuksesan teman-temanku sesama freshgraduate dari FHUI. Banyak yang sudah menjadi corporate lawyer di beberapa lawfirm, ada juga yang bekerja di company. Untuk kedua sektor tersebut, gaji yang diperoleh sangat menggiurkan. Menurut penuturan kawan-kawanku, untuk pekerjaan di company mereka mendapat gaji 6 juta rupiah sebulan, sementara gaji di lawfirm bervariasi—cerita paling santer, ada seorang senior yang sejak freshgraduate sudah digaji 9 juta rupiah per bulan, dan ada salah seorang kawanku yang gajinya sudah mencapai 7 digit, entah fiksi atau fakta. Peningkatan gaji ini tentu berdampak dengan peningkatan kesejahteraan mereka—aku sudah tidak heran lagi melihat update kawan-kawanku setiap hari yang sedang menikmati santap siang di restoran fancy dengan harga selangit (bagi kantong mahasiswa tentunya. Bagi lawyer? They can afford it).

Beberapa kawan yang memiliki rezeki lebih memilih untuk melanjutkan sekolah. Beberapa kawanku saat ini melanjutkan pendidikan di Magister Kenotariatan, bahkan ada yang saat ini sedang menikmati kuliah di Belanda. Ada yang melanjutkan studi dengan self-funding, namun tidak sedikit juga yang mendapatkan beasiswa. Bagiku yang bukan keturunan ningrat atau anak pejabat, opsi beasiswa adalah opsi yang paling masuk akal untuk melanjutkan kuliah.

Ada juga kawan-kawanku yang belum memilih untuk bekerja, namun memilih untuk mencari pengalaman dahulu setelah lulus, entah dengan travelling atau memilih magang di LSM-LSM. Tidak sedikit juga kawan-kawanku yang memilih bekerja di LSM, tentu saja dengan gaji yang tidak sefantastis gaji pegawai lawfirm atau company.

Lalu bagaimana denganku?

Beberapa bulan setelah sidang skripsi, aku mengemukakan keinginanku untuk menjadi Asisten Dosen kepada Bang Heru, dosen yang sangat dekat dengan para mahasiswa dan Mbak Yeni, dosen Hukum Islam pembimbing skripsiku. Kebetulan saat itu aku menjadi salah satu pengurus Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam (LKIHI) di Fakultas. Atas rekomendasi dari dosen-dosen itu, aku berkesempatan untuk bekerja di kampus sebagai Asisten Dosen Hukum Islam. Selain itu aku juga turut bekerja di biro pendidikan KKI Fakultas Hukum. Sambil bekerja di kampus, aku juga mengikuti les dan mempersiapkan diri untuk menempuh S2, karena syarat menjadi dosen yang sesungguhnya minimal memiliki gelar S2. Sampai saat ini, aku mengincar jurusan Islamic Banking and Finance di Durham University, Inggris karena masih sedikit ahli hukum di Indonesia yang menguasai bidang ekonomi syariah.

Menjadi asisten dosen penuh dengan pengalaman baru yang tak kuduga sebelumnya. Aku belajar dari dosen-dosen hukum Islam (yang mayoritas Ibu-Ibu) dan menganggap mereka sebagai orangtuaku sendiri. Yang membuatku takjub sekaligus merasa malu, di usia mereka yang sudah seumur bahkan lebih tua dari ibuku sendiri, mereka tak pernah kenal lelah untuk terus mempelajari ilmu baru dan mendalami ilmu hukum Islam, yang sebenarnya mereka sudah ahli. Tak lelah untuk terus membuat penelitian dan confrence, di samping mengajar di kampus, tanpa melupakan kewajiban utama mereka sebagai seorang istri dan seorang ibu. Mereka yang sudah jauh lebih senior saja tidak pernah berhenti belajar, what’s my excuse? Di samping itu, dengan tugasku mendampingi mereka setiap mengajar di kelas, aku belajar lagi mengenai cara mengajar yang baik dan mengenai materi-materi Hukum Islam. Aku baru sadar, secuil ilmu yang kumiliki tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Masih banyak ilmu yang harus kudalami bila aku benar-benar ingin menjadi Dosen. Namun ilmu yang mereka punya tak lantas membuat mereka sombong; bahkan ada yang meminta kritik dan saran serta minta dikoreksi apabila mereka berbuat kesalahan ketika mengajar. Pekerjaanku di biro pendidikan KKI juga memperkenalkanku dengan hal-hal baru. Seringkali aku mau tak mau dipaksa menggunakan bahasa inggris karena harus berkomunikasi dengan mahasiswa asing yang mengikuti program KKI. Aku juga belajar bagaimana berhadapan dengan mahasiswa dan ditantang untuk membantu memajukan program ini.

Tentu saja, tidak semua bagian dari pekerjaanku menyenangkan. Ada kalanya ketika aku mengalami tekanan karena berhadapan dengan sifat-sifat dosen yang beragam dan drama yang terkadang datang. Ada kalanya aku dicibir oleh orang-orang yang mempertanyakan keputusanku memilih pekerjaan ini, bahkan oleh keluargaku sendiri. Belum lagi masalah kesejahteraan dan kepastian status yang menghantui. Terkadang terpikir untuk menyerah saja; berhenti bekerja di kampus, melupakan mimpi menjadi dosen, mencari pekerjaan yang well-paid sehingga bisa hidup makmur, menikah, punya anak. Atau mendaftarkan diri mengikuti Indonesia Mengajar dan berpetualang mengajar di desa-desa terpencil yang kurang akses pendidikan di Indonesia.

Pikiran-pikiran itu membuatku bertanya-tanya,

Apakah selama ini aku ikhlas dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaanku?

Apakah aku yakin, bahwa ini benar-benar jalan hidup yang kupilih?

Semua pertanyaanku seakan mendapatkan jawaban dari Allah. Seminggu yang lalu, aku bertemu dengan seseorang yang kukenal, yang aku merasa asing melihatnya di kampus. Dia adalah seseorang yang sudah sangat mapan, orangtuanya memiliki lawfirm, lulusan S2 di Universitas luar negeri, dan aku melihat hidupnya sudah sangat settle. Namun yang membuatku terkejut, ia datang ke kampus hanya untuk melamar agar bisa menjadi asisten dosen di kampus. Ia? Hidupnya sudah sangat mapan, apa yang ia cari di kampus? Yang pasti bukan gaji. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi, dosen yang ia temui belum bisa mengabulkan permintaannya karena kuota asisten dosen di kampus sudah penuh.

Memang di Fakultasku, tidak semudah itu seseorang bisa menjadi asisten dosen. Sudah banyak senior yang sudah sukses dan terkenal, dan ingin mengajar di kampus, namun tidak diterima oleh kampus. Entah mengapa, jalanku seperti dilancarkan pada saat awal aku berkeinginan menjadi asisten dosen. Padahal aku bukan siapa-siapa, hanya mahasiswa biasa yang baru lulus kuliah S1. Bukan anak seorang konglomerat atau mahasiswa berprestasi di kampus.

Detik itu juga aku merasa tertampar. Apa yang sebenarnya selalu membuatku merasa kurang? Ya, aku kurang bersyukur. Aku tidak bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki dan sibuk membandingkannya dengan orang lain. Padahal kalau saja aku berpikir lebih jernih dengan kepala terbuka, tidak semua orang bisa berada di posisiku saat ini, bahkan mungkin ada yang mati-matian menginginkan posisiku saat ini namun tidak bisa mendapatkannya.

Aku berusaha mengingat mengapa aku memutuskan bercita-cita menjadi dosen Hukum Islam. Aku ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa agama bukanlah sesuatu yang harus disingkirkan, namun dapat menjadi pedoman hidup yang dapat menyejahterakan masyarakat. Agama dan kehidupan bukanlah sesuatu yang bertentangan dan harus dipisahkan satu sama lain, tetapi agama itu sendiri adalah pedoman dalam menjalankan kehidupan. Aku ingin menjadi dosen yang menyebarkan ilmu-ilmu Hukum Islam sekaligus mempelajarinya dan mengamalkannya. Aku ingin menjadi seseorang yang memberikan sumbangsih bagi agama dan negaraku sendiri, terutama di bidang pendidikan.

Menempuh jalan menjadi seorang dosen memang tidak mudah, tapi aku yakin, Allah selalu ada untuk menguatkanku, selama niatku lurus untuk mendapatkan ridho-Nya.

Aku  tidak akan berhenti dan menyerah sampai di sini. Tidak sekarang. Karena, masih banyak mimpi yang ingin kuraih dan ingin kujalani, agar aku dapat hidup tanpa penyesalan.

Aku teringat kata-kata seseorang yang selalu menyemangatiku dan memberikan sebuah quote penyemangat,

“Never give up for something you really want. It’s difficult to wait, but more difficult to regret.”



*catatan hati seorang fresh graduate