Selasa, 07 Maret 2017

Scholarship Series: Berburu Letter of Acceptance

Assalamualaikum teman-teman! Kali ini, aku akan sharing mengenai salah satu hal yang krusial bagi para calon pemburu beasiswa: LoA

Letter of Acceptance (LoA) merupakan surat penerimaan dari Universitas yang menyatakan bahwa kita diterima untuk menempuh perkuliahan di Universitas tersebut.  Ketika kita memiliki LoA, kita dapat lebih meyakinkan pihak pemberi beasiswa bahwa kita memiliki tujuan Universitas yang jelas.  Walaupun memang, seseorang tidak mutlak harus memiliki LoA ketika mendaftar beasiswa. Ada beberapa beasiswa yang membolehkan calon mahasiswa mendapatkan LoA-nya belakangan. 

Namun tetap saja, memiliki LoA merupakan suatu nilai tambah ketika melamar beasiswa. Pemberi beasiswa akan lebih diyakinkan bila seseorang sudah memiliki Unconditional LoA. Misalnya untuk beasiswa LPDP, awardee yang sudah mendapatkan LoA Unconditional bisa menandatangani kontrak sah sebagai penerima beasiswa, sementara yang masih memiliki LoA Conditional atau belum dapat LoA belum bisa menandatangani kontrak tersebut.

LoA terbagi menjadi dua, yaitu LoA Conditional dan LoA Unconditional. LoA Unconditional merupakan tanda bahwa seseorang sudah memenuhi segala syarat untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas, dan siap untuk mendaftar ulang. Sementara LoA Conditional menandakan bahwa seseorang bisa diterima menjadi mahasiswa, namun masih ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk resmi diterima. Misalnya, syarat yang harus dipenuhi berupa skor IELTS yang masih kurang. Sehingga mahasiswa baru bisa mendapatkan LoA Unconditional bila syarat yang dimaksud sudah terpenuhi.

Kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku saat mendapatkan LoA.

Untuk ap
ply ke Universitas, yang harus diperhatikan adalah deadline apply untuk intake tertentu. Kebanyakan kampus memiliki dua term untuk intake yaitu September/Oktober dan April/Mei. Namun harus diperhatikan program yang ada untuk setiap intake, karena ada program yang hanya dibuka setahun sekali saja. 

Ketika mendaftar untuk Durham University, deadline untuk application adalah tanggal 1 Juni untuk intake bulan Oktober. Ada beberapa syarat yang harus kupenuhi, yaitu skor IELTS minimal 6.5 overall dan minimal 6.0 setiap band-nya. Secara akademik aku harus memiliki IPK di atas 3.2. Selain itu aku juga diminta melampirkan Curriculum Vitae, Personal Statement, Reference Letter dari dua orang di bidang Academic, serta transkrip dan ijazah yang sudah di terjemahkan dengan sworn translator. 

Durham University memiliki portal untuk pendaftaran online, sehingga berkas-berkas yang ada tinggal di-upload saja. Aku hanya perlu membuat akun dan mengisi kolom isian yang sudah disediakan. Untungnya, kita bisa menyimpan data yang akan dikirimkan sebelum di submit, sehingga aku bisa mencicil mengisi portal tersebut. Setelah melakukan pengecekan berkali-kali dan memastikan form yang diisi dan dokumen yang di-upload sudah lengkap, baru berkas kelengkapan tersebut di-submit.


Sementara SOAS University of London mensyaratkanku memiliki skor IELTS  6.5 (overall), dengan minimal skor 6.5 untuk writing dan speaking serta minimal 6.0 untuk reading dan listening. Berkas yang disubmit antara lain Supporting statement 1.000 kata, CV, Transkrip Akademik dan Ijazah, serta dua Academic References. SOAS juga menggunakan portal online untuk pendaftaran. Namun jika saat apply di Durham aku diperbolehkan untuk mengirim reference letter hasil scan, SOAS meminta kita untuk mengirim langsung reference dari sang pemberi reference. Misalnya aku meminta Reference dari Dekan FHUI, maka surat tersebut harus dikirim langsung dari e-mail Dekanat FHUI.


Tentunya, mengisi portal online tersebut tidak bisa asal-asalan. Semuanya harus dilakukan dengan penuh persiapan. Berikut ini beberapa aspek penting dalam application yang harus diperhatikan:


Personal Statement


Personal statement merupakan salah satu aspek yang paling vital dalam apply Universitas dan juga beasiswa. Personal statement haruslah menggambarkan dengan jelas poin-poin sebagai berikut:

1. Jurusan yang ingin diambil beserta alasan pemilihan jurusan. 
Jelaskan Universitas dan major yang dipilih, dan mengapa memilih jurusan tersebut? Jelaskan secara spesifik, misalnya karena Lecturenya, karena mata kuliah tertentu. Jelaskan apa yang membuat Universitas ini unik?


2. Background pendidikan. Jelaskan dengan menghubungkan ke alasan pemilihan program.


3. Aktivitas sosial dan kontribusi di kampus terdahulu


4. Aktivitas atau pekerjaan saat ini


5. Mengapa harus memilih Universitas tersebut? Yakinkan lagi dengan menghubungkan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Kalau bisa sambil menjelaskan topik tesis yang ingin diambil nanti


6. Jual kelebihan diri, mengapa Unversitas tersebut harus memilih kamu?


7. Ingin jadi apa setelah lulus studi?


Curriculum Vitae (CV)


Curriculum Vitae (CV) merupakan aspek penunjang untuk melengkapi personal statement. Untuk membuat CV, beberapa Universitas sudah menyediakan standar tersendiri untuk CV yang mereka inginkan. Panduannya juga diberikan langsung, kita hanya perlu menyesuaikan CV kita dengan template yang ada. Membuat CV juga ada trik tersendiri. Tentunya, tidak semua prestasi atau track record yang kumiliki dimasukkan ke dalam CV. Hanya prestasi atau aktivitas terkait saja yang perlu dimasukkan. 

Recommendation Letter

Recommendation Letter merupakan endorsement dari seseorang yang menunjukkan bahwa kita layak untuk menjadi mahasiswa suatu Universitas. Recommendation Letter yang baik harus menggambarkan bagaimana diri kita, baik secara akademik maupun non akademik. Ada Universitas yang hanya meminta rekomendasi akademik (kita bisa meminta dari Dosen, Pembimbing Akademik, dan Dosen Pembimbing Skripsi), namun ada juga yang meminta rekomendasi dari atasan tempat kita bekerja saat ini.

Recommendation Letter berisi poin-poin sebagai berikut:

1. Siapa pemberi rekomendasi dan apa hubungannya dengan penerima rekomendasi
2. Pendapat pemberi rekomendasi terhadap karakter calon mahasiswa
3. Mengapa calon mahasiswa harus direkomendasikan untuk diterima Universitas?

Untuk Recommendation Letter, aku meminta dari beberapa orang, antara lain Pak Topo Santoso sebagai Dekan FHUI yang mempekerjakanku, Bang Heru Susetyo yang merupakan pimpinan di Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam FHUI, serta pernah mengikuti penelitian bersama, serta Prof. Uswatun Hasanah sebagai Professor di Bidang Studi Hukum Islam FHUI dimana aku menjadi asisten dosen. Tentunya akan lebih baik bila orang yang kita minta memberikan rekomendasi adalah orang yang kita kenal baik, karena biasanya rekomendasi yang diberikan akan lebih personal.

Beberapa Universitas mensyaratkan application fee ketika mendaftar. Misalnya Durham University, untuk applynya dikenakan fee 50 poundsterling (sekitar 1 juta rupiah, bayarnya sebelum Brexit. Habis Brexit kurs poundsterling langsung jeblok. Lalu nyesel kenapa bayarnya nggak belakangan aja hiks). Application baru akan diproses setelah fee dibayarkan. Sementara SOAS tidak meminta application fee sehingga aku tinggal submit form saja. 

Dua sampai empat minggu setelah submit application,  aku menerima jawaban dari pihak Universitas. 

Yang pertama datang adalah dari SOAS




Karena skor IELTS-ku tidak memenuhi syarat, yaitu skor writing hanya 6.0 (yang disyaratkan 6.5), maka aku mendapatkan LoA Conditional. Artinya,  aku bisa memilih apakah mau submit kembali nilai IELTS yang sudah memenuhi syarat,  atau akan mengambil kursus bahasa Inggris di SOAS nanti. Berhubung beasiswa biasanya tidak mau menanggung biaya kursus bahasa, maka aku memutuskan mencoba ambil tes IELTS lagi bila ingin memilih SOAS. 

Dua minggu setelah jawaban dari SOAS,  datang e-mail dari Durham:





Alhamdulillah,  kali ini aku mendapatkan LoA Unconditional!  Artinya,  aku sudah memenuhi semua syarat dan tinggal mendaftar ulang saja untuk menjadi mahasjswa resmi Durham University. 

Defer

Kedua Universitas tersebut memberikan hasil bahwa aku diterima untuk intake September dan Oktober 2016. Sementara,  saat itu sudah bulan Juli dan aku tidak memiliki beasiswa di tangan. Oleh karena itu,  aku memutuskan untuk men-defer atau menunda statusku sebagai mahasiswa. Aku mengirimkan e-mail kepada pihak Universitas untuk meminta defer ke tahun 2017 dengan alasan masih mencari beasiswa. 

SOAS merespon permintaanku dengan cepat,  dan tidak lama kemudian mengirimkan surat keputusan Defer. Alhamdulillah,  ini artinya aku bisa menunjukkan keputusan defer kepada pemberi beasiswa sebagai bukti bahwa aku telah diterima untuk intake 2017.

Sementara Durham University tidak semurah hati itu. Ketika aku mengajukan permohonan untuk defer,  mereka berkata bahwa di Durham tidak ada sistem defer. Aku akan dianggap mendaftar ulang dan aplikasiku akan dipertimbangkan ulang untuk intake 2017. Jantungku sempat dag-dig-dug,  khawatir pihak Universitas berubah pikiran menawariku kursi mahasiswa. Untungnya,  untuk mendaftar ulang tidak perlu membayar application fee lagi. 

Beberapa minggu sebelum jadwal wawancara LPDP, Durham University mengeluarkan hasil dari apply-ku yang kedua kali. Alhamdulillah,  aku kembali mendapatkan LoA Unconditional dari Durham, yang langsung kubawa saat seleksi LPDP sebagai bukti. Dan alhamdulillah,  mungkin keberadaan LoA Unconditional pula yang membawaku menjadi salah satu awardee LPDP Batch 4 Tahun 2016 :)

Sekian pengalamanku saat berburu LoA, semoga bermanfaat. Semangat selalu para pemburu beasiswa! 

Rabu, 01 Maret 2017

Scholarship Series: First Step

Assalamualaikum guys!

Alhamdulillah tahun 2016 kemarin, aku berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2. Insya Allah bila tidak ada halangan, September 2017 ini aku akan berangkat sekolah ke Inggris.
Akhir-akhir ini, beberapa junior atau teman-teman bertanya-tanya kepadaku mengenai tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa. Oleh karena itu, aku bertekad membuat rangkaian postingan #Scholarshipseries yang kubuat berdasarkan pengalamanku dalam berburu beasiswa. Semoga,  tulisanku bisa bermanfaat bagi para pemburu beasiswa ya :)

People say, if you fail to prepare, you are prepare to fail. Langkah pertama yang paling penting untuk berburu beasiswa adalah: mempersiapkan!

Semua orang bisa bilang,  "Gue pengen lanjut S2 di luar negeri nih". Namun,  hanya orang-orang yang benar-benar punya plan dan action-lah yang benar-benar akan mendapatkannya. Oleh karena itu, dibutuhkan perencanaan matang sebelum berburu beasiswa,  minimal setahun sebelum keberangkatan.

Kurang lebih, beginilah langkah-langkahku saat mencari beasiswa:

1. Les Bahasa Inggris

Setiap kita ingin mendaftar ke kampus atau mendaftar untuk mendapatkan beasiswa,  ada syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar: skor kemampuan berbahasa. Setiap negara meminta jenis yang berbeda. Umumnya negara Inggris dan negara-negara persemakmurannya, Eropa, dan Australia meminta skor IELTS, sementara Amerika Serikat dan kampus-kampus di Asia menerima TOEFL. Oleh karena itu harus dilihat dulu persyaratan dari kampus. 

Khusus IELTS,  selain syarat overall score ada juga syarat band score. Misalnya kebanyakan Law School mensyaratkan overall score 7.0 dan band score writing minimal 6.5. Sementara beasiswa umumnya menerima semua jenis skor,  kecuali TOEFL ITP atau prediction test.

Tes kemampuan bahasa tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. Saat aku mengambil tes IELTS Maret 2016 di British Council, biayanya sekitar 2,7 juta rupiah. Biaya tes di lembaga lain di atas itu,  sampai dengan 3 juta rupiah. Artinya,  sebelum mengambil tes bahasa,  kita harus fully prepared karena pertaruhannya besar! Oleh karena itu,  sejak September 2015 aku mengambil les privat IELTS.

2. Tes Bahasa Inggris

Setelah merasa siap untuk mengikuti tes,  segeralah mendaftar untuk mengambil tes IELTS. Tes IELTS hanya diadakan dua kali dalam sebulan,  dan seringkali kuotanya penuh, apalagi mendekati musim apply Universitas dan beasiswa. Oleh karena itu mendaftarlah jauh-jauh hari.
Oh iya, pemilihan lembaga yang mengadakan tes juga penting. Ada lembaga tertentu yang konon 'pelit' memberikan nilai, ada yang penyelenggaraannya tidak profesional dan super ngaret, ada yang saat sesi listening speakernya tidak jelas sehingga akan berpengaruh terhadap skor IELTS akhir kita. Penting memilih lembaga yang tepat karena tes IELTS memakan waktu seharian,  jadi kondisi fisik kita akan sangat capek,  jangan sampai kondisi psikis kita juga terganggu. 

Setelah riset dan bertanya-tanya,  aku memutuskan untuk mengambil tes di British Council. Dan alhamdulillah persiapan yang cukup lama memberikan hasil tes IELTS yang cukup memuaskan. Overall score-ku 7.5, dengan nilai Speaking 8.0, Reading 8.0, Listening 7.5, dan Writing 6.0 (hiks).

3. Berburu LoA

Letter of Acceptance (LoA) merupakan tiket masuk kita untuk menjadi mahasiswa sebuah Universitas. Berburu LoA sebenarnya susah-susah gampang. Menurutku, selama semua syarat administrasi terpenuhi (skor IELTS, minimum GPA, dll), rekomendasi yang cihuy, dan Personal Statement yang menarik, tidak ada alasan bagi kampus untuk menolak kita. Tentunya, LoA juga harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Sambil mengikuti les IELTS, aku juga mempersiapkan draft Personal Statement dan berburu Recommendation Letter. Sehingga ketika skor IELTS sudah keluar, aku tinggal mengirimkan berkas-berkas yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari. 

Perhatikan deadline pendaftaran setiap kampus. Kebanyakan kampus memberikan deadline bulan Juni untuk intake bulan September. LoA tidak memakan waktu lama untuk diproses, biasanya keputusan dari kampus akan keluar dua sampai empat minggu setelah pendaftaran.

4. Berburu Beasiswa

LoA sudah di tangan, saatnya berburu beasiswa! Banyak-banyaklah mencari informasi. Kebanyakan orang berpikir beasiswa S2 itu hanya sekedar LPDP, padahal sebenarnya buanyaaak banget beasiswa yang tersedia. Selain beasiswa BPI LPDP, pemerintah memberikan alternatif lain seperti beasiswa presiden, Beasiswa Unggulan Dikti, dan lain-lain. Setiap pemerintah juga biasanya memberikan program beasiswa, misalnya Chevening dari Inggris atau AAS dari Australia. Atau seperti kisah Muthi temanku, dia mendapatkan beasiswa dari DAAD dan juga dari kampusnya. Intinya, jangan pernah menggantungkan harapan ke satu beasiswa, karena kalau ditolak, rasanya perih sekali *halah. 

Aku sendiri membuat plan A B C untuk apply beasiswa, jadi ada cadangan kalau gagal di satu beasiswa. Aku mempersiapkan diri untuk apply beasiswa LPDP,  Chevening, dan Beasiswa Unggulan Dikti (BUDI). Seminggu setelah deadline berkas LPDP adalah deadline berkas Chevening. Kebayang nggak, betapa pontang-pantingnya aku mempersiapkan berkas? Untungnya sebagian besar berkas sudah kusiapkan jauh-jauh hari, misalnya essay LPDP sudah kutulis sejak tahun 2015 dan beberapa kali dirombak serta di proofread. Karena itu, persiapkanlah segala berkas jauh-jauh hari, jangan sampai baru mengerjakan last minute!

5. Berdoa dan luruskan niat

Ini sebenarnya kunci utama dari keberhasilanku mendapatkan beasiswa. Aku percaya, Allah dengan 'invisible hand'-Nya sudah mengatur semua rezeki kita. Dan tentunya kita harus bisa membujuk Sang Pemilik Rezeki untuk bersedia memberikan rezeki beasiswa untuk kita, dong? Saat itu aku berpikir, darimanapun aku mendapatkan beasiswa tidak masalah. Yang penting aku sudah berusaha, dan Allah pasti memberikan jalan bagi orang yang mau berusaha. Seperti pepatah Arab Man Jadda Wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Terakhir, yang harus diingat, jangan lupa meluruskan niat. Kita mau melanjutkan S2 ke luar negeri untuk apa? Kalau sekedar untuk jalan-jalan, hanya ikut-ikutan teman-teman yang ke luar negeri, atau karena belum mau bekerja setelah lulus kuliah, sebaiknya berpikir ulang. Karena motif kita pasti akan diketahui oleh pihak yang mewawancarai dari pemberi beasiswa. Beasiswa bukanlah tujuan, tapi hanya sebuah sarana bagi kita untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi, untuk kemudian kembali dan mengabdi kepada Indonesia. Oleh karena itu, luruskanlah niat sebelum memilih melanjutkan S2.

Sekian gambaran singkat dariku, untuk langkah-langkah diatas akan kujelaskan dalam postingan-postingan selanjutnya. Selamat berburu beasiswa!

Jumat, 24 Februari 2017

Scholarship Series: Memilih Program dan Universitas

Memilih program dan Universitas yang akan kita ambil merupakan hal sangat krusial sebelum berburu LoA dan beasiswa. Kenapa begitu? Karena pilihan ini akan mempengaruhi essay beasiswa dan personal statement atau motivation letter kita secara keseluruhan. Tentunya, kita juga tidak mau dong, salah mengambil jurusan. Karena itu, banyak-banyaklah riset sebelum memutuskan jurusan yang akan kita ambil untuk S2. Baca! 

Pada dasarnya Program untuk Magister di luar negeri bisa berupa Taught Program dan Research Program. Taught Program merupakan program dimana kita bisa mengambil beberapa mata kuliah dan membuat Dissertation di akhir. Sementara Research Program menuntut kita sejak awal untuk menyusun Dissertation, mata kuliah yang diambil hanya sedikit, itu pun hanya yang mendukung topik riset. Untuk mengambil Research Program dibutuhkan background dari jurusan yang sama. Aku memutuskan mengambil Taught Program karena jurusan yang aku ambil bukan jurusan Hukum.

Aku memilih jurusan tentunya setelah perenungan panjang. Aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri, seperti, "Sebenarnya aku ingin menjadi apa? Bidang apa yang benar-benar aku minati? Apakah aku benar-benar perlu mengambil jurusan ini? Apa dampak ilmu yang ku ambil untuk perkembangan ilmu tersebut di Indonesia? Apakah perlu aku ke luar negeri hanya untuk mempelajari ilmu tersebut?" 
Ini sangat penting, karena hampir semua personal statement dan beasiswa memerlukan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sebagai asisten dosen Hukum Islam, aku melihat bahwa ekonomi syariah di Indonesia masih merupakan hot issue dan sedang berkembang pesat. Namun, aku melihat ada kekurangan dalam pelaksanaan ekonomi syariah di Indonesia: regulasi yang ada masih belum memadai untuk mendorong perkembangan ekonomi syariah. 

Sayangnya, masih sedikit mahasiswa di Fakultas Hukum UI yang tertarik untuk mempelajari mata kuliah hukum ekonomi syariah lebih lanjut. Sedikit sekali mahasiswa yang mengambil kelas hukum ekonomi syariah, mungkin bisa dihitung dengan jari (tangan dan kaki). Padahal banyak alumni-alumni dari Fakultas Hukum yang setelah lulus kembali menemui dosen-dosen mereka dan meminta untuk diajari materi hukum ekonomi syariah, bahkan mereka meminta LKIHI FHUI untuk mengadakan pelatihan mengenai hukum ekonomi syariah. Karena, di kehidupan nyata, mereka para praktisi hukum menemui banyak sekali permasalahan ekonomi syariah yang harus diselesaikan. Namun sekali lagi, masih sedikit SDM yang memahami permasalahan ekonomi syariah, terlebih lagi di bidang hukum.

Tergerak untuk mengambil peran, aku memutuskan untuk mempelajari mengenai hukum ekonomi syariah. Namun, setelah riset di beberapa Universitas, sulit sekali mencari jurusan Hukum Ekonomi Syariah. Bahkan, jurusan tersebut di Magister FHUI tidak dibuka karena sepinya peminat (hiks). Sehingga aku beralih untuk mengambil jurusan Ekonomi Syariah, dengan harapan ilmu ekonomi yang kudapat bisa dielaborasikan dengan hukum positif di Indonesia. 

Kuliah di luar negeri menjadi alternatif yang menggiurkan bagiku. Saat ini Malaysia dan Inggris merupakan negara utama tujuan para ekonom rabbani (istilah untuk penggiat ekonomi syariah). Aku langsung berburu program yang ada di Universitas-Universitas Inggris. Kenapa harus Inggris? Salah satu tujuanku agar bisa mendapatkan international exposure dan bisa bertukar pikiran dengan scholar ekonomi syariah dari seluruh dunia. Selain itu, siapa tahu kelak aku bisa menjalin kerjasama riset dengan mahasiswa mancanegara.

Berdasarkan hasil riset program yang sesuai dengan minatku, aku membuat daftar Universitas incaran:

1. Durham University

Bila berbicara tentang ekonomi syariah, Durham adalah Universitas top of mind untuk melanjutkan studi. Hampir semua mahasiswa Fakultas Ekonomi UI maupun universitas-universitas lain yang ingin mengambil S2 di bidang ekonomi syariah pasti memilih Durham University. Selain lima besar Universitas terbaik di Inggris, Durham merupakan Universitas terbaik untuk riset Ekonomi Syariah. Jurusan atau course di Durham banyak yang sesuai dengan minatku. Seorang alumni Durham berkata, karena aku tidak memiliki basic ekonomi, maka jurusan yang sesuai adalah Msc Islamic Finance and Management. Sementara yang berasal dari Fakultas Ekonomi lebih cocok mengambil Msc Islamic Finance.


Course di Durham

2. SOAS University of London

SOAS University masuk ke dalam pertimbanganku sebab ada program LLM Islamic Law, dimana salah satu course yang ditawarkan adalah Law of Islamic Finance. Salah satu pertimbanganku untuk mengambilnya adalah karena ini jurusan Hukum, walaupun hukum ekonomi syariah hanya salah satu coursenya. Course yang lain adalah materi seputar hukum Islam.



3. Newcastle University

Saat melakukan riset, aku terkejut saat mengetahui bahwa di Newcastle ternyata ada jurusan yang sangat sesuai dengan anak Hukum yang ingin belajar Ekonomi Syariah: Msc Finance and Law with Islamic Finance. Mempelajari Hukum Ekonomi Syariah, walaupun degree yang didapat Msc, bukan LL.M.
Semakin ngences ketika melihat course yang ditawarkan:


So tempting
Namun aku merasa patah hati saat mengetahui kenyataan bahwa: program ini sudah tidak dibuka di Newcastle, entah kapan akan dibuka lagi. Hiks. Bye-bye Newcastle.

4. Bangor University

Bangor merupakan salah satu alternatif untuk mengambil ekonomi syariah. Compulsory Modules-nya antara lain Organisations and People, Management Research, Islamic Finance, Islamic Banking, dan International Banking. Sementara Optional Modules-nya yaitu International Strategic Management, Marketing Financial Services, Islamic Accounting and Financial Reporting, Contemporary Issues in Management, Banking and Development, Islamic Insurance, Marketing Strategy, dan Merger and Acquisition

Selain keempat Universitas yang sudah kusebutkan, ada beberapa Universitas lain yang bisa dipilih, antara lain: MSc Investment Banking and Islamic Finance di Reading University, Msc Islamic Finance di Middlesex University, Master of Business Administration in Islamic Finance di Aberdeen University, dan MA in Islamic Banking, Finance, & Management di Markfield Institute of Higher Education (MIHE). Aku juga menyiapkan untuk apply ke Master of Science in Islamic Banking and Finance (MIBF) di Islamic University of Malaysia apabila tidak mendapatkan Universitas di Inggris. 

Kemudian aku membuat tabel perbandingan setiaprogram, sebagai berikut:


Tabel
Setelah melakukan riset, dengan menyesuaikan jurusan yang kuminati, cocok dengan tujuanku melanjutkan studi, serta Universitas masuk list yang didanai oleh beasiswa LPDP atau Chevening (ini penting! Reading dan Bangor tidak masuk dalam list), aku memutuskan untuk apply ke Durham University dan SOAS University of London.

Overall, ini hal-hal yang harus diketahui sebelum memilih jurusan S2:

1. Cari jurusan yang masih memiliki benang merah dengan background pendidikan, pekerjaan, serta tujuan kita setelah lulus kuliah. Untuk magister, lintas jurusan dari program sarjana diperbolehkan selama kita dapat menuangkan alasan yang kuat di personal statement.

2. Module: Lihat course yang akan diambil, umumnya setiap Universitas menyertakan daftar course, course description, bahkan reading list yang digunakan. Ini penting untuk mengetahui apa yang akan kita pelajari nanti.

3. Requirements: Perhatikan requirements setiap jurusan. Misalnya skor IELTS tertentu, IPK, atau background Undergraduate yang serupa, bahkan ada yang hanya menerima professional/pekerja di bidang tersebut.

4. Lihat rank yang dimiliki oleh Universitas tersebut, untuk melihat reputasinya. Bisa dilihat di QS World, THE Rank, dan sebagainya. Lihat rank jurusan, bukan overall Universitas.

5. Taught Program atau Research Program?

6. Durasi kuliah: Lazimnya Universitas di Inggris masa kuliahnya adalah full-time setahun. Kuliah yang part-time (selama dua tahun), perkuliahan jarak-jauh (online) atau kelas malam tidak dibiayai oleh beasiswa LPDP

Begitulah pengalaman singkatku dalam memilih Universitas. Memang tidak mudah, karena dibutuhkan riset mendalam untuk benar-benar mengetahui apa jurusan yang dimau. Karena itu, habiskan banyak waktu untuk melakukan riset agar mendapatkan jurusan yang sesuai yang kita inginkan. Di tulisan berikutnya, aku akan menjelaskan proses apply ke Universitas untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA).

See you!

Kamis, 23 Februari 2017

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 4-Final)

Pagi itu, kami terbang dari Bandara Hatyai menuju Bangkok.
Bangkok memberikan pengalaman luar biasa. Sekilas, Bangkok mirip seperti Jakarta, dengan kemacetan di mana-mana dan copet dimana-mana. Maklum, namanya juga Ibukota, banyak tempat wisatanya pula. 

Kami naik taksi dari bandara dan menuju Bangkok City Hotel tempat kami akan bermalam. Rate hotel ini lebih mahal dari hotel di Pattani, yaitu 1.390 Baht per malam (sekitar 535 ribu) untuk twin room. Namun hotel ini cukup lux dengan fasilitas bath tub, letaknya pun strategis sehingga mudah untuk kemana-mana.

Karena masih pagi dan belum waktunya check-in, kami memutuskan menitipkan koper di Hotel dan kemudian berkeliling. Untungnya, tak jauh dari hotel ada tempat makan yang menjual makanan halal. Dengan riang gembira kami memakan telur dadar khas Thailand, daging goreng, dan tak lupa... Thai Tea!

Di Pattani mungkin berkomunikasi lebih mudah karena banyak orang-orang yang bisa berbahasa Melayu, namun di sini, sebagian besar masyarakat berbahasa Thailand. Bang Heru mengajarkan kami Bahasa Thailand dasar seperti "Sawadi khap", yang digunakan untuk greetings. Rupanya penggunaan bahasa untuk laki-laki dan perempuan di Thailand berbeda di akhir kata. Kalau "sawadi khap" digunakan kepada laki-laki, untuk perempuan digunakan "sawadi khaa", begitu pula kata terima kasih bisa berbunyi "kapunkhap" dan "kapunhaa". 
"Kalau bicara ke bencong, akhirannya meliuk-liuk." kata Bang Heru, entah benar atau tidak.
Kursus Bahasa Thailand singkat itu berhasil membuatku dan Bu Ida menghafalkan satu kata paling krusial selama kami di Thailand: khong nam. Artinya? Toilet.

Setelah makan, kami singgah di Masjid Darul Aman yang terletak tak jauh dari rumah makan tersebut. Masjid Darul Aman lumayan besar dan bagus, sehingga kami memanfaatkan waktu sejenak untuk bersantai di masjid tersebut sebelum menghadapi sengatan matahari di luar sana. Bangkok panas, euy.



Tak disangka, aku bertemu dengan mahasiswi Indonesia yang sedang kuliah di Chulalongkorn University. Ia berasal dari IPB dan sedang mengambil Teknik Pangan Halal di Chulalongkorn. Wah, pas sekali! Kami pun berdiskusi dengan asyik.

Ternyata, banyak mahasiswa PPI Thailand yang sedang menunaikan sholat dzuhur di Masjid ini. Langsung saja, Bang Heru yang mantan Ketua PPI Thailand mendadak eksis dikerumuni mahasiswa. Aku salut dengan Bang Heru, ke negara manapun Bang Heru pergi pasti ada saja orang yang mengenalnya.


Bersama mahasiswi PPI Thailand

Sesuai perjanjian, Prof. Winai Dahlan berjanji untuk bertemu sore ini di MBK, sebuah mall terkenal di Bangkok. Sehingga kami masih banyak waktu untuk agenda selanjutnya: jalan-jalan!

Destinasi kami hari ini adalah Grand Palace, Candi Wat Arun dan Wat Pho.
Di Taksi, sang supir dengan santainya menawari Bang Heru untuk mendatangi "hiburan-hiburan malam" di Thailand seperti aksi cabaret atau Tiger Show. Entah kenapa yang ditawari cuma Bang Heru. Beliau hanya bisa nyengir sementara aku, Bu Ida, dan Ghozi ngakak di kursi belakang. Aku juga menemukan brosur promosi pariwisata Bangkok di kursi belakang, dan sebagian besar menawarkan wisata "nyeleneh", walau tentu saja ada hiburan khas Thailand seperti atraksi menaiki Gajah. Operasi Plastik juga merupakan salah satu program pariwisata yang dimiliki Thailand, karena kabarnya biaya operasi plastik di Thailand murah meriah. Wah, mau menyaingi Korea Selatan rupanya. Bedanya, kalau di Korsel kebanyakan operasi plastik mengubah "mas-mas" menjadi "Oppa-oppa ganteng", di Thailand kebanyakan operasi plastik mengubah "mas-mas" menjadi "mbak-mbak".



Grand Palace!

Sayang sekali waktu kami di Bangkok bertepatan dengan hari minggu, sehingga atraksi-atraksi wisata ramai dengan turis. Grand Palace seramai cendol sehingga kami enggan berlama-lama di siang yang terik itu. Ditambah lagi, untuk masuk ke Grand Palace dikenakan biaya 500 Baht (mahal gila. Buat warga Thailand padahal gratis) sehingga kami memutuskan tidak masuk ke Grand Palace. Lanjut ke Wat Pho!

Wat Pho terletak tidak begitu jauh dari Grand Palace, dan diseberangnya terletak Wat Arun. Kami berjalan kaki menuju Wat Pho, yah lumayan juga perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan aku tergoda melihat street food Thailand yang menggiurkan; jajanan gorengan-gorengan dan seafood yang sedang dikipas abang-abang. Hampir saja aku beli, kalau aku tak menyadari bahwa penjual tersebut juga menjual babi goreng. Iyuh.

Di sepanjang jalan juga terdapat foto-foto keluarga kerajaan Thailand yang terpampang, mulai dari Raja Bhumibol Adulyadej, Ratu Sirikit, Pangeran Maha Vijalongkorn, Putri Maha Chakri Shirindorn, Putri Ubolratana, dan Putri Chulaborn. Rupanya, setiap anggota kerajaan memiliki warna khas yang berbeda-beda. Misalnya untuk Raja Bhumibol, warna hiasan yang mendominasi adalah warna kuning. Sementara warna khas Ratu Sirikit adalah warna biru.


Berpose dengan Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit

Wat Pho terkenal dengan patung "Budha Tiduran" yang terbuat dari emas. Saat kami tiba di sana, Wat Pho penuh dengan turis, namun masih banyak ruang untuk berjalan-jalan. Ternyata Wat Pho tidak sekedar berisi patung "Budha Tiduran" tapi banyak sekali patung Budha dalam berbagai pose dan ukuran, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Wat Pho juga berisi pagoda-pagoda cantik yang tersusun rapi dalam berbagai ukuran.



Namun kekagumanku akan Wat Pho bertambah ketika melihat patung Reclining Buddha yang luarbiasa besarnya. Satu ruangan besar itu didominasi oleh Reclining Buddha yang tersepuh emas. Bahkan untuk mengambil foto bersama, kami harus menyesuaikan angle sedemikian rupa agar patung Budha tersebut bisa masuk dalam frame.


Reclining Buddha

Selepas dari Wat Pho, kami menuju ke Wat Arun yang berada di seberang sungai Chao Phraya. Kami menyeberang sungai yang berombak dengan perahu penyeberangan. Tiket untuk menyeberang sangat murah, cuma satu baht (385 rupiah)! Gilee bayar bensinnya pakai apa itu. Karena jarak yang sangat dekat, cukup lima menit kami sudah sampai di seberang: Candi Wat Arun.

Wat Arun
Di Wat Arun, iseng-iseng aku mencoba mengenakan pakaian khas Thailand. Biaya sewanya 100 THB. Dengan dibantu ibu-ibu pemilik baju, aku menyamar menjadi putri Thailand imitasi.





Assalamualaikum Bangkok!
Puas berfoto-foto ria, kami membeli souvenir yang banyak dijajakan di Wat Arun. Tips buat yang ke Thailand, belanja di sini jauh lebih murah daripada di MBK Mall! Sempat nyesel juga karena aku di Wat Arun cuma berbelanja sedikit, karena berpikir nanti sekalian shopping di MBK Mall. Sebagai perbandingan, souvenir kaca yang harganya 30 Baht saja di Wat Arun, dijual di MBK Mall dengan harga 100 Baht. Bye.

Salah satu kegiatan turis di Wat Arun adalah memberi makan ikan-ikan yang berenang-renang di sungai Chao Phraya. Kami membeli roti tawar dan memberi makan ikan-ikan gemuk tersebut. Menurut kepercayaan masyarakat Thailand, ikan-ikan di sungai tersebut adalah nenek moyang mereka, makanya tidak boleh ditangkap. Pantas saja, sungai Chao Phraya penuh ikan-ikan gemuk. "Kalau di Palembang, mungkin ikan-ikan ini udah jadi Pempek." seloroh Bang Heru.


Memberi makan "Nenek Moyang"


Tidak terasa waktu berlalu cepat, sudah hampir jam lima. Kami teringat janji pertemuan dengan Ajarn Winai Dahlan di Mall MBK. Dengan menumpang taksi, kami menuju Mall yang terletak tidak jauh dari Chulalongkorn University. Chulalangkorn University merupakan institusi tempat Ajarn Winai Dahlan mengabdikan dirinya, juga tempat salah satu dari sedikit Halal Science Center di Thailand.

Tidak lama, kami sudah sampai di MBK Mall, di sebuah restoran. Kulirik salah satu sudut restoran, disana terpampang Sertifikat Halal berlogo CICOT. Alhamdulillah, bisa makan dengan lega.
Prof. Winai Dahlan menyambut kami dengan senyum. Ia hadir bersama rekan-rekannya di Halal Science Center Chulalongkorn University.

Prof. Winai Dahlan memiliki nama yang sepertinya tidak asing lagi. Ya, ternyata Prof. Winai Dahlan adalah cucu dari KH Ahmad Dahlan, "Sang Pencerah" pendiri Muhammadiyah. Namun bukan itu saja yang membuatku terkagum-kagum kepadanya, tapi juga saat mendengar kisahnya memperjuangkan Halal Industry di Thailand. Ajarn Winai Dahlan mendirikan laboratorium halal di Chulalongkorn University dengan usahanya sendiri sampai akhirnya sekarang disokong penuh oleh Kerajaan Thailand, bahkan ia mendapatkan penghargaan khusus dari Raja Thailand atas jasanya bagi halal industry di Thailand. Namanya juga tercantum dalam buku "The World's 500 Most Influental Muslim".

Rupanya, pertemuan malam itu bukan wawancara serius namun perbincangan santai sambil makan malam. Aku mengurungkan niatku mengeluarkan recorder dan buku catatan yang biasa kubawa-bawa saat mewawancarai narasumber. 

Ternyata, Prof. Winai Dahlan sangat menyenangkan. Rasanya seperti sedang berbincang-bincang dengan kakek sendiri saja. Tak terasa, obrolan berlangsung dengan cair dan seru, sampai beberapa jam terlalui dan piring-piring makanan mulai kosong. (Sekali lagi Iffah khilaf karena kuliner Thailand). Omongan kami yang tadinya ringan menjadi filosofis. Bahkan, percakapan malam itu berlanjut karena Ajarn Winai Dahlan mengajak kami ke kantornya di Chulalongkorn University, dengan disupiri olehnya sendiri. OMG. Kalo di Indonesia rasanya kayak disupirin sama Prof BJ Habibie kali ya. 

Prof. Winai Dahlan membawa kami berkeliling laboratoriumnya yang terletak di dalam kompleks Chulalongkorn University. Sambil berkeliling beliau menjelaskan sejarah dan cita-citanya dalam mengembangkan industri halal di Thailand. Kami mendatangi ruangannya dan melihat sederet penghargaan untuk Prof. Winai Dahlan baik dari Thailand maupun dari dunia internasional. Malam itu sangat menyenangkan, bisa dibaca tulisan Bang Heru disini mengenai pertemuan kami dengan Prof. Winai Dahlan yang berkesan.

with Ajarn Winai Dahlan


Salah satu penemuan yang membuat kami terkagum-kagum adalah Hal-Klean.

Dalam fiqh umat Islam, katanya kalau umat Islam kena najis berat (liur anjing, menyentuh babi dll) harus disucikan dengan tanah dari tujuh sumber yang berbeda. Nah loh gimana cara nyari tanahnya? 


Laboratorium Halal Research Center di Chulalangkorn menciptakan produk Hal-Klean, sabun pembersih yang terbuat dari tanah liat dari tujuh sumber. Dan percaya atau nggak, tanpa bahan kimia apapun (cuma clay), pembersih ini bisa menghilangkan noda di tangan dalam sekejap. 




Untuk membuktikannya, kami mencelupkan tangan ke mangkuk berisi minyak dan kemudian menuangkan Hal-Klean di tangan. Tanpa menggunakan air, minyak di tangan langsung luruh dan tangan bersih kesat.

Kami terkagum-kagum dan bertanya-tanya, kok bisa mereka menemukan ide seperti ini?

Prof. Winai Dahlan tersenyum dan berkata, "Allah sudah mengatakan di dalam Al-Qur'an bahwa tanah bisa digunakan untuk membersihkan kotoran. We just prove it with science."






Keesokan harinya, kami kembali mengunjungi Halal Science Center Chulalongkorn University. Kali ini kunjungan kami adalah kunjungan resmi. Kami disambut oleh kepala laboratorium (maaf aku lupa namanya) dan Azhari, asisten Prof. Winai Dahlan yang kemarin mendampingi kami mengelilingi laboratorium.

Mereka menjelaskan, di Thailand, halal sudah menjadi semacam lifestyle atau gaya hidup. Thailand memiliki jargon "Diamond Halal Thailand", merujuk kepada logo CICOT yang seperti berlian. Orang-orang Thailand menganggap produk yang memiliki logo Diamond Halal merupakan produk dengan jaminan bermutu, karena tidak mudah bagi suatu produk untuk mendapatkan logo "berlian" tersebut. Karena itu, baik muslim maupun non-muslim memandang suatu produk halal sudah pasti berkualitas baik. Kesungguhan Thailand dalam melaksanakan industry halal sebagai bagian dari pariwisata juga didukung oleh pemerintah kerajaan Thailand yang mensupport dana. Saat ini, Thailand adalah negara dengan ekspor produk halal terbanyak di ASEAN. 

Selain itu, Halal Industry juga dibuat untuk menarik turis-turis dari negara muslim. Untuk mengakomodir kebutuhan makanan halal bagi turis, mereka menerbitkan direktori makanan halal Thailand yang berisi daftar nama dan alamat restoran di Thailand yang sudah bersertifikasi halal. Kerennya, direktori ini juga bisa diakses dengan aplikasi handphone. Nggak ada lagi deh, susah mencari makanan halal di Thailand.


Halal Directory

Overall, perjalanan riset ini memberikan banyak pelajaran bagiku. Berkaca dari kesuksesan dua negara tetangga untuk memajukan industri halalnya, aku optimis Indonesia juga bisa seperti mereka. Semoga, suatu saat industri halal Indonesia bisa merebut kejayaan di tingkat Regional, bahkan di tingkat Internasional. Namun, memang masih panjang perjuangan untuk melaksanakan jaminan produk halal di Indonesia. Harus di kawal terus sampai selesai!



-with love, Iffah

Selasa, 24 Januari 2017

Research Trip to Malaysia and Thailand (Part 3)

Sampai juga di Thailand!
Waktu menunjukkan jam 6 pagi. Bis berhenti di perbatasan antara Malaysia dan Thailand, di Sadao. Masih dengan wajah kucel dan setengah sadar habis bangun tidur, kami turun dari Bis dan melewati posko imigrasi di Thailand.

Welcome to Thailand!

Setelah beres urusan imigrasi, kami naik kembali ke dalam Bis. Bis kembali melaju, dan tidak berapa lama kemudian, kami sampai di Hatyai. 

Kami diturunkan di kantor travel tempat bis sambil  menunggu mobil jemputan datang. Bang Heru mencoba membeli simcard untuk menghubungi kenalannya yang orang Thailand. Bang Heru yang pernah menempuh studi Doktor di Mahidol University untungnya bisa berbahasa Thailand, walau hanya untuk conversation. Aku hanya bisa terbengong-bengong mendengarnya. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang mereka ucapkan, aku tidak bisa membaca aksara keriting-keriting yang terpampang di mana-mana. Kalau aku tersasar di Thailand, matilah sudah.

Ternyata, transaksi membeli simcard di Thailand sangat rumit. Kami membeli dua simcard, untuk hp ku dan hp Bang Heru. Kami diminta untuk membuka tutup belakang ponselnya, dan diminta untuk melepaskan simcard yang lain. Wajah mereka penuh curiga.

"Emang kenapa harus begini, bang?" Tanyaku penasaran.
"Ini wilayah rawan konflik. HP-nya harus diperiksa, khawatirnya isinya bom. Apalagi wajah kita muslim, nanti dikira mau ke Pattani untuk jadi mujahidin." Bang Heru menjelaskan.
"Tapi kita kan emang mau ke Pattani?"
"Iya, tapi kita pura-puranya mau bermalam di Hatyai dulu. Kalau ketahuan mau ke Pattani, pasti nggak diizinkan."

Barulah aku mengerti, ternyata kami hanya transit di Hatyai untuk menuju Pattani. Pattani yang terletak di Thailand Selatan memang kawasan yang mayoritas penduduknya adalah muslim, kontras sekali dengan wilayah-wilayah lain di Thailand.

Tak lama, jemputan yang akan mengantar kami ke Pattani datang. Kami menyewa sebuah minibus untuk perjalanan beberapa hari di Thailand beserta supirnya. Mobilnya sangat nyaman, apalagi abang sopirnya ternyata punya wifi, horee *fakir kuota*



Baru berangkat beberapa menit, kami memutuskan menepi sebentar untuk sarapan. Laper euy. Bang Heru sengaja memilih warung kecil yang penjualnya mengenakan kerudung, karena makanan di Thailand itu banyak Babinya. Penjual warung itu berwajah melayu, sepertinya dari suku Pattani. Setelah memastikan kehalalan menu yang dijual, dengan senang hati kami memesan makanan khas Thailand: Tom yam! 



Rasa asam pedas yang khas ditambah cumi dan udang yang melimpah membuatku jatuh hati kepada Tom Yam. Asam, tapi enak! Kami juga memesan telur dadar, yang entah kenapa rasanya beda dengan telur dadar di Indonesia. Super enak. Katanya sih, pakai minyak khas Thailand.


Untuk pertama kalinya pula, aku mencoba minuman khas Thailand: Thai Tea. Thai tea ini menu wajib di warung-warung Thailand, kalau di Indonesia istilahnya es teh manis kali ya. Dan ternyata... enak banget!



Must try!

Perut kenyang, hati riang, perjalanan kembali dilanjutkan.

Tujuan pertama kami adalah Prince of Songkla University.
Aku baru sadar bahwa kami berempat belum mandi, dan mobil tidak akan transit di tempat untuk membersihkan diri. Ya sudahlah pasrah saja..

Memasuki daerah Pattani, aku baru percaya bahwa cerita Bang Heru tidak berlebihan. Di jalan-jalan yang kami lewati, ada barikade dengan pasukan militer yang berjaga. Jantungku berdegup kencang, memangnya seperti apa daerah yang kami tuju? Apakah rawan konflik di sana-sini? Ya Allah, semoga kami tidak terkena imbas konflik, doaku dalam hati.


Memasuki daerah Prince of Songkla University, kami melihat pemandangan mahasiswa yang sedang berduyun-duyun menuju ke masjid untuk Sholat Jum'at. Di sana-sini aku melihat mahasiswa mengenakan seragam hitam putih, dengan wanita-wanita berkerudung panjang dan bercadar. Rupanya, mahasiswa Universitas di Thailand mengenakan seragam ketika menjalani aktivitas perkuliahan. Mobil menepi di pinggir masjid. Bang Heru, Ghozi, dan Pak Supir mengikuti sholat Jum'at, sementara aku dan Bu Ida menunggu di mobil. Tak berapa lama, Bu Ida sudah tertidur. Aku sibuk memperhatikan pemandangan sekitar. Kelihatannya Pattani aman-aman saja, tidak seseram yang kubayangkan.


Selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan ke Halal Institute Prince of Songkla University.

Kami ditemani oleh Bro Mahbub, kawan Bang Heru yang berasal dari Bangladesh.
Di sana kami bertemu dengan beberapa pengurus lembaga tersebut. Wajah-wajah mereka tak ubahnya orang Indonesia, khas Melayu, walaupun ada satu-dua orang yang berwajah oriental.
Masalah mulai muncul ketika kami mengalami kesulitan berkomunikasi. Kami tidak bisa bahasa Thailand (ya iyalah) sementara tuan rumah kami terbatas penguasaan bahasa Inggrisnya. Alhasil wawancara yang digali harus dibantu sana-sini agar kami memahami bahasa satu sama lain. Namun kami cukup mendapatkan banyak informasi yang bisa digunakan dalam penelitian kami. Mereka juga menyambut kami dengan ramah layaknya saudara sendiri, dan memanggil kami dengan sebutan "Sister" dan "Brother"


With brother and sister in Prince of Songkla University

Kami melanjutkan perjalanan menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Bang Heru memesan hotel ini melalui temannya di Pattani, karena saat aku mencari hotel via internet, tidak ada data hotel yang berlokasi di sana, entah kenapa.
Sebagai bendahara perjalanan ini, betapa girangnya hatiku ketika mengetahui biaya hotel kami hanya sebesar 880 Baht (sekitar 340 ribu) per malam, setengah dari harga hotel di Malaysia. Hotelnya bersih dan nyaman. Kualitasnya jauh lebih baik daripada hotel di Malaysia, dengan standar bintang 3. Sempat kulihat di lobby, hotel ini juga sudah memiliki sertifikat Halal dari CICOT (otoritas masalah halal di Thailand). Artinya, makanan yang disajikan hotel ini sudah terjamin kehalalannya.


Malam itu, kami makan malam bersama dengan Ajarn Syamsuddin, Dosen di Fatoni University kenalan Bang Heru. Ajarn (dibaca: acan) dalam Bahasa Thai artinya guru. Ternyata, Ajarn Syamsuddin juga pernah mengajar di Indonesia. Sedikit banyak beliau mengerti bahasa Indonesia, memudahkan kami untuk berkomunikasi. Selain menjadi dosen, Ajarn Syamsuddin juga menjual kerudung dan cadar panjang khas Pattani. Kami sempat mampir ke rumahnya yang juga merupakan toko. Melihat modelnya yang lucu-lucu dan bahannya yang berkualitas, aku dan Bu Ida tergoda dan membeli kerudungnya dan akhirnya kami membeli seorang satu.


Pattani merupakan surga wisata kuliner halal, dan aku bersyukur kami sempat mencicipi kuliner-kuliner khas Pattani. Seafood yang enak dan melimpah, halal, harganya juga murah-murah, membuat kami kalap dan tidak berpikir panjang ketika memesan makanan, hehe. Pokoknya puaas wisata kuliner di Pattani!



Serius banget makannya

Keesokan harinya, kami mengunjungi Fatoni University, diantar oleh Ajarn Syam. Ajarn Syam mempertemukan kami dengan Ajarn Panat Nontanawich, dari R&D Halal Product di Fatoni University. Ajarn Panat menceritakan kepada kami mengenai produk halal yang sesungguhnya masih berkembang di Thailand. 

Aku baru sadar, sesungguhnya Indonesia memiliki potensi yang lebih maju untuk mengembangkan produk halal daripada Thailand. Indonesia sudah memiliki lembaga yang berkompeten, ada Majelis Ulama, dan SDM yang dibutuhkan untuk memeriksa kehalalan produk juga sudah tersedia. Thailand hanya memiliki beberapa Laboratorium Halal, antara lain di Prince of Songkla University yang kami kunjungi kemarin, Fatoni University, dan Cholalangkorn University di Bangkok yang akan kami kunjungi besok. Namun, Thailand dengan jumlah penduduk Muslim hanya sebesar 10% berhasil menjadi lima besar eksportir produk Halal. Apa rahasianya?


(Bersambung biar penasaran. Sebagian besar pertanyaan kami tentang Thailand akan terjawab dalam kunjungan ke Chulalangkorn University. Jeng jeng jeeeng)



Diskusi dengan Dr. Panat, Fatoni University

Break makan siang tiba. Kami diajak menyantap makan di Fatoni University, karena kebetulan sedang ada acara pertemuan dari beberapa halal institute.


Saat itu, kami sedang kebingungan memikirkan agenda untuk keesokan hari di Bangkok. Bang Heru sudah menghubungi seorang Professor di Chulalangkorn University untuk bertemu, namun sampai saat itu kami belum mendapatkan jawaban dari beliau. Memang beliau salah satu tokoh terkenal di Thailand, yang tentunya sulit untuk dihubungi dan bertemu dengan orang biasa.


Rupanya Allah memberikan jalan yang tidak kami sangka-sangka. Siapa sangka, Prof. Winai Dahlan yang dicari-cari ternyata sedang menghadiri pertemuan di Fatoni University. Langsung saja, Bang Heru dan Ghozi menghampiri Prof. Winai yang sedang makan siang dan mengajukan permintaan untuk bertemu. Alhamdulillah, Prof. Winai setuju untuk meluangkan waktunya. Benar-benar rezeki anak sholeh!


Selepas dari Fatoni University, kami kembali ke hotel untuk berkemas. Besok pagi, kami akan berangkat ke Bangkok dari bandara Hatyai, karena itu kami meninggalkan Pattani menuju Hatyai. 

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri mengunjungi peninggalan Islam di Pattani. Tentu saja, sepanjang perjalanan kami berkeliling Pattani selama dua hari ini, kami melewati checkpoint yang dijaga oleh militer bersenjata.


Masjid 300 Tahun
Kami mengunjungi masjid Telok Manok di wilayah Narathiiwat, yang terkenal dengan sebutan masjid 300 tahun. Konon, masjid ini merupakan masjid tertua di Thailand. Arsitektur masjid ini mengingatkan kami dengan Masjid khas jawa. Lucunya, aku membaca tulisan-tulisan yang tertempel di masjid, walaupun aksaranya merupakan arab gundul, tapi bahasanya adalah bahasa melayu.


Masjid Krue Se


Perjalanan selanjutnya membawa kami ke Masjid Krue Se. Masjid ini disebut juga dengan nama Masjid Gersik. Konon, asal-usul nama ini karena sejarah penyebaran Islam di Pattani berasal dari Jawa. Masjid ini juga menyimpan sejarah kelam. Masjid ini tempat terjadinya pembantaian 32 gerilyawan Muslim oleh militer Thailand. Pada tanggal 28 April 2004, Militer menyerbu masjid setelah pengepungan selama tujuh jam dan menghujani masjid dengan peluru. Sampai sekarang, bekas-bekas peluru masih bisa dilihat di beberapa sudut masjid Krue Se.



Terakhir, kami singgah di Masjid Pattani. Masjid terbesar dan tercantik di Thailand itu sangat indah, namun sayangnya waktu kami terbatas sehingga kami hanya sempat berfoto-foto sebentar di depannya.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Mobil bergerak semakin menjauhi provinsi Thailand Selatan. Kami singgah sebentar di sebuah rumah makan untuk the last supper, karena perut sudah keroncongan. Itulah saat-saat terakhir kami bebas menikmati makanan tanpa meragukan kehalalannya. Bang Heru berpesan, puas-puasin saja makan halal di sini karena di Bangkok akan sulit mencari makanan halal. Siap Bang!




Hedon in Thailand

(bersambung ke part selanjutnya)