Sabtu, 15 Juli 2017

Menjadi Awardee LPDP: Seleksi Substantif

Assalamualaikum Guys!

Kali ini, aku akan menceritakan pengalaman saat mengikuti seleksi substantif LPDP.
Seleksi ini merupakan seleksi yang sangat menentukan apakah kita akan diterima menjadi awardee beasiswa LPDP atau tidak. Oleh karena itu, persiapkan diri sebaik mungkin sebelum mengikuti seleksi!

Disclaimer: Tulisan dibuat berdasarkan pengalamanku saat mengikuti seleksi LPDP Batch 4 Tahun 2016. Kemungkinan ada perubahan mekanisme atau passing grade untuk tahapan seleksi terbaru. Untuk panduan lengkap selalu mengacu ke web LPDP ya!

Saat seleksi Batch 4 Tahun 2016, ada tiga seleksi yang harus diikuti dalam tahapan seleksi substantif, yaitu Leaderless Group Discussion, Writing Essay on The Spot, dan Interview. Untuk calon awardee tujuan Dalam Negeri, LGD dan EOTS dilakukan dengan bahasa Indonesia, sementara interview dalam kombinasi bahasa Indonesia dan Inggris. Sementara untuk calon awardee tujuan Luar Negeri, ketiga seleksi dilakukan dalam bahasa Inggris.

Saat hari-H, peserta harus melakukan verifikasi berkas untuk memastikan keaslian berkas yang di upload ke portal LPDP saat pendaftaran. Karena itu, kita wajib membawa berkas-berkas asli saat jadwal verifikasi berkas. Catat dan urutkan berkas di satu map, beserta kartu kelengkapan berkas, agar mudah di verifikasi. Setiap calon awardee akan mendapatkan jadwal yang berbeda-beda, misalnya aku mendapatkan jadwal Essay dan Leaderless Group Discussion di hari pertama, sementara jadwal verifikasi berkas dan wawancara di hari kedua.

Leaderless Group Discussion

Leaderless Group Discussion adalah diskusi berkelompok tanpa adanya pemimpin (leader). Saat Leaderless Group Discussion, aku dikelompokkan bersama beberapa orang di dalam sebuah ruangan dan diberikan sebuah kertas berisi topik untuk didiskusikan. Ada dua psikolog di ruangan yang mengawasi jalannya LGD namun tidak memberikan instruksi apa-apa. Kita mendapatkan waktu 5 menit untuk membaca masalah sebelum memulai diskusi selama 40 menit. Masing-masing peserta mendapatkan peran dalam diskusi tersebut. Karena kelompok LGD-ku mendapatkan topik mengenai Defisit pada BPJS, ada yang mendapatkan peran sebagai menteri kesehatan, menteri ekonomi, tenaga kesehatan, dan sebagainya. Kita diminta untuk menyampaikan pandangan mengenai topik berdasarkan peran masing-masing. Masing-masing peserta seleksi harus mendapatkan giliran untuk menyatakan pendapat. Jangan lupa, penting adanya notulen dan time keeper dalam grup. Setelah semua mengutarakan pendapat, kita merumuskan solusi yang disepakati dan satu orang volunteer untuk membacakan kesimpulan tersebut. Kemudian, catatan yang kita buat selama LGD dikumpulkan oleh panitia. 

Tips untuk LGD, jangan menjadi orang yang terlalu dominan, tetapi jangan juga menjadi orang yang terlalu pasif. Justru kita akan mendapat nilai plus ketika mengapresiasi opini orang lain dan meng-encourage teman satu tim untuk mengemukakan pendapatnya, misalnya dengan mengatakan "Saya setuju dengan pendapat saudara.." Kita harus menyampaikan pendapat dengan baik, tidak memaksakan pendapat kita atau menggurui. Jauhi sikap offensif atau defensif dengan pendapat orang lain, yang juga bisa terlihat dari sikap kita seperti menyilangkan tangan di depan dada atau menggeleng-gelengkan kepala ketika teman satu tim sedang berbicara. Memotong omongan teman satu tim is a big No. Kepercayaan diri, manner, cara kita berkomunikasi dengan teman satu tim, dan cara kita menghargai dan menanggapi pendapat orang lain merupakan hal-hal yang dinilai dalam LGD.

Essay On The Spot

Essay On The Spot diadakan di sebuah ruangan besar bersama puluhan orang. Saat EOTS, kita akan mendapatkan dua topik yang bisa dipilih salah satunya. Saat itu, aku mendapatkan tema pendidikan vokasi dan sekolah nelayan, kedua topik yang sejujurnya tak kukuasai. Kita mendapatkan waktu 30 menit untuk membaca pertanyaan dan membuat essay. Buatlah essay dengan struktur judul, pernyataan/masalah, solusi, dan kesimpulan. Bila yang ditanya adalah pro-kontra, maka bandingkanlah kelebihan dan kekurangan dari kedua opsi yang ada. EOTS sangat serupa dengan Writing Task 2 IELTS, oleh karena itu banyak-banyak berlatihlah menulis gaya writing task 2 IELTS.

Topik yang keluar saat LGD maupun EOTS adalah isu-isu terkini di Indonesia. Karena itu banyak-banyaklah membaca berita di koran agar selalu update, misalnya Jakarta Post yang memang berbahasa Inggris. Kami juga bergabung dengan grup telegram calon awardee LPDP dan berbagi informasi untuk kemungkinan topik yang keluar. Topik-topik yang keluar saat itu antara lain adalah tentang Reklamasi, Dwikewarganegaraan, Tarif Tol, Brain Drain, BBM satu harga, Pendidikan Vokasi, Dokter Layanan Primer, Tax Amnesty, Defisit BPJS, Hukuman Mati Bandar Narkoba, Kebijakan Plastik Berbayar, Kedaulatan Pangan.

Untuk persiapan sebelum seleksi substantif, sering-seringlah melakukan simulasi LGD, EOTS, maupun interview. Saat persiapan seleksi substantif, aku dan teman-teman melakukan simulasi dengan dibimbing oleh Bang Ali, Fitrah, dan Rania yang merupakan awardee LPDP, sehingga mereka bisa memberikan masukan dan evaluasi bagi kami.

Interview

Perlu diketahui, LPDP memiliki tiga tingkatan prioritas yang menjadi panduan dalam menyeleksi calon awardee.
Prioritas pertama yaitu bidang keilmuan teknik, sains pertanian, kelautan dan perikanan, dan kedokteran/kesehatan dengan passing grade 700.
Prioritas kedua yaitu bidang ilmu keilmuan, hukum, pendidikan, akuntansi/keuangan, dan agama dengan passing grade 750
Prioritas ketiga yaitu bidang keilmuan ekonomi, sosial, budaya/bahasa dan bidang lainnya dengan passing grade 800

Nilai yang kita dapat merupakan akumulasi dari nilai Leaderless Group Discussion, Essay on The Spot, dan Interview. Di antara ketiga seleksi, interview memiliki bobot yang paling menentukan yaitu sebesar 70% dari total nilai. Penentuan kelulusan didasarkan pada dua faktor, yaitu nilai total yang diperoleh calon awardee (apakah sudah lolos passing grade atau belum) dan berdasarkan catatan rekomendasi dari interviewer independen dan psikolog (direkomendasikan/tidak direkomendasikan). Dalam beberapa kasus, ada awardee yang sebenarnya nilai totalnya sudah memenuhi passing grade namun ternyata tidak direkomendasikan oleh interviewer sehingga tidak lolos seleksi. Oleh karena itu, interview memegang aspek paling penting. 

Posisiku saat itu sangat tidak menguntungkan. Pertama, aku mengambil lintas jurusan dari Fakultas Hukum ke Fakultas Ekonomi. Tentunya, perlu usaha ekstra untuk meyakinkan interviewer mengapa aku harus mengambil bidang lintas jurusan dan apa benefitnya bagi Indonesia. Kedua, bidang yang kuambil merupakan prioritas ketiga, yang tentunya butuh passing grade jauh lebih besar. Ketiga, aku memilih negara tujuan UK--yang konon menurut desas-desus kuota awardee ke UK sangat dikurangi karena sudah terlalu banyak yang dikirim ke sana. Namun aku tetap optimis, toh kalau memang rezeki tidak lari kemana. Apalagi, jurusan yang kutuju merupakan jurusan Ekonomi Syariah, salah satu dari tema prioritas LPDP (mencakup Kemaritiman, Perikanan, Pertanian, Ketahanan Energi, Ketahanan Pangan, Industri Kreatif, Manajemen Pendidikan, Teknologi Transportasi, Teknologi Pertahanan dan Keamanan, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Teknologi Kedokteran dan Kesehatan, Keperawatan, Lingkungan Hidup, Keagamaan, Ketrampilan (Vokasional),  Ekonomi/Keuangan Syariah, Budaya/Bahasa, dan Hukum Bisnis Internasional)

Interview, walaupun merupakan aspek yang paling menentukan, ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Saat itu karena aku mengambil bidang disiplin ekonomi, aku masuk ke dalam kelompok wawancara 20. Setelah namaku dipanggil, aku masuk ke dalam sebuah aula besar yang berisi banyak meja yang sedang diwawancarai. Aku bergegas menuju meja 20 dan memberikan senyum terbaikku.

Karena memilih bidang Ilmu Ekonomi, aku mendapatkan dua interviewer yang berasal dari dosen-dosen Fakultas Ekonomi dari PTN dan satu orang Psikolog. 

Kurang lebih, ini pertanyaan yang diberikan kepadaku:
1. Jelaskan tentang diri kamu
2. Jelaskan jurusan yang mau kamu ambil. Mengapa mengambil jurusan tersebut?
3. Kenapa Inggris? Memang di Indonesia nggak ada jurusannya? Kenapa Universitas itu?
4. Organisasi apa saja yang diikuti selama kuliah? Kontribusi yang pernah dilakukan apa aja? Jelaskan satu-persatu. (Aku lama dikorek di bagian kontribusi)
5. Gimana style memimpin dan koordinasi dengan bawahan?
6. Habis lulus mau ngapain? Ada jaminan balik langsung jadi dosen nggak?
7. Pernah mengalami kesulitan apa saja dalam hidup?

Kunci dari wawancara adalah menjawab pertanyaan dengan tenang. Untungnya, interviewer-ku sangat ramah, rasanya seperti berhadapan dengan bapak dan ibu dosen sendiri saja. Saat wawancara asumsikan interviewer belum membaca essay kita, karena interviewer baru membaca essay secara scanning saat kita datang. Ceritakan poin-poin penting yang menjual, yakinkan mereka kenapa kita layak menjadi awardee. Tentu saja kejujuran paling penting, jangan membual atau melebih-lebihkan. Karena psikolog bisa mengetahui kalau kita menjawab tidak jujur. Jawab apa adanya saja sambil tetap menjual. 

Ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan awal, aku bisa menjawab dengan lancar. Aku menjelaskan bahwa aku memilih lintas jurusan karena masih sedikit ahli hukum yang memahami ekonomi syariah, dan mereka mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Mereka juga sudah tahu bahwa Durham University yang terbaik di dunia untuk jurusan Ekonomi Syariah. Ketika mereka bertanya mengapa aku tidak mengambil Malaysia, kukatakan dengan jujur bahwa aku berharap bisa bertemu dengan scholar internasional di UK untuk menjalin riset dan kerjasama internasional. Namun, satu pertanyaan tricky sempat agak sulit kujawab.

"Kamu dari tadi berkata bahwa sehabis lulus ingin jadi dosen. Kamu yakin kalau kembali ke Indonesia pasti akan diterima di kampus kamu?"

Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya menyadari, dan Bapak dan Ibu sebagai dosen juga pasti sudah tahu, kalau jalan untuk menjadi dosen di Indonesia masih sangat panjang. Saya masih harus melalui tahun-tahun yang panjang dan mengikuti seleksi lagi untuk benar-benar menjadi dosen. Tidak ada jaminan saya pasti diterima kampus menjadi dosen, tapi setidaknya, saya berusaha untuk itu. Dengan aktif mengikuti riset di lembaga kampus, menjadi asisten dosen di kampus, bahkan yang saya lakukan dengan menempuh S2 ini adalah upaya saya memantaskan diri agar layak menjadi dosen di Universitas Indonesia."

Mereka mengangguk-angguk mendengar jawabanku. Kami bersalaman, dan mereka tersenyum hangat kepadaku. Aku meninggalkan ruangan dengan perasaan lega. Tenyata, 45 menit sudah berlalu.

Aku tidak yakin dengan hasil LGD dan Essay On The Spot-ku, tapi aku cukup optimis dengan hasil wawancaraku.

Bismillah, aku sudah melakukan ikhtiar yang terbaik, sisanya tinggal berdoa.

Alhamdulillah, tanggal 9 Desember, sebuah e-mail mampir di inbox-ku:


Sekian pengalamanku dalam mengikuti seleksi substantif LPDP. Bagi teman-teman yang akan mengikuti seleksi substansi, persiapkan diri yang terbaik, jangan lupa berusaha dan selalu berdoa!
Goodluck!



Postingan Terkait:

Rabu, 12 Juli 2017

Quarter Life Lesson

Kenapa judulnya Quarter Life Lesson?

Rencananya mau mengikuti sahabat saya Camila, yang setiap ulang tahunnya selalu mereview pelajaran-pelajaran hidup yang dia dapat di tahun itu. Saya sendiri setiap akhir tahun biasanya selalu membuat kaledioskop untuk melihat how far I've been through that year. Tapi khusus di tahun ini, momennya sengaja menjelang ulang tahun saya yang ke 25, karena banyak sekali kisah yang ingin ditumpahkan. 

Sebagian besar orang memasuki Quarter Life Crisis ketika berumur seperempat abad (25 tahun). Katanya, ini adalah masa-masa paling krusial dalam hidup seseorang, saatnya seseorang memasuki dunia nyata. Dunia dimana kita tidak bisa bergantung kepada siapapun, ketika semuanya harus dilakukan sendirian. Adulthood. Kita sampai pada usia dimana saya dihadapkan kepada realita, bahwa pilihan yang kita ambil akan sepenuhnya menjadi tanggungjawab kita. Entah memilih pekerjaan, teman-teman, ideologi, pasangan hidup. Tidak ada yang salah, karena setiap pilihan tentu ada alasannya masing-masing.

Menjelang usia yang ke-25 ini, saya mengalami banyak perubahan dalam hidup. Membuat saya harus menata ulang beberapa rencana. Saya merasakan banyak hikmah dan saya belajar banyak dari kejadian-kejadian yang saya alami. Saya belajar memaafkan dan mengikhlaskan. Pahit manisnya bagi saya memberikan pembelajaran sendiri. 



Dulu, I was worried about marriage. Setiap ada pesta pernikahan seseorang, saya selalu bertanya-tanya dengan resah, 'kapan giliran saya?'. Karena kondisi saya berada dalam posisi yang tidak jelas kapan akan menikah. Saat itu, saya tidak sabar. Saya lupa, jodoh sudah diatur dan digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Kapan, Siapa, dan Bagaimana, jodoh merupakan misteri terbesar dan terindah yang sama misteriusnya dengan kematian. Dan biarlah tetap menjadi misteri sampai waktunya tiba.

Setelah semua episode ini, saya menjadi lebih tenang. Tidak merasa insecure setiap mendapat kabar walimahan, karena saya tahu, giliran saya akan tiba pada saatnya. Sementara itu, tugas saya untuk memperbaiki dan memperbaiki diri selalu, agar ketika saatnya tiba, saya sudah siap lahir batin. Segala 'ancaman' kalau wanita sudah berpendidikan tinggi akan susah dapat jodoh hanya numpang lewat di kuping saya. Karena saya yakin, Allah dengan takdir indahnya sudah mempersiapkan jodoh terbaik untuk saya, yang akan menerima saya apa adanya; dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. (Dear jodohku. Be patient ya. Kita akan dipersatukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang indah kok.)

Sekarang, saya memandang cinta dengan cara yang berbeda. Saya ingin jatuh cinta setelah menikah saja, agar jatuh cinta menjadi lebih indah dan sah. Semoga, saya bisa menjaga hati sampai saat itu tiba. 

Tahun ini juga, saya insya Allah akan menempuh pendidikan magister saya di Inggris. Saya ingat, dulu saya harus setengah mati memohon izin dari Umi agar bisa mengikuti acara kampus ke Bogor. Itupun harus izin jauh-jauh hari sebelumnya. Sekarang, saya bisa pergi dinas ke luar kota dan baru mengabari Umi ketika sudah packing (Anak bandel. Jangan ditiru). Dulu, Umi sangat berat melepas saya selama dua minggu ke luar kota, padahal sama-sama di Pulau Jawa. Sekarang, Umi harus melepas saya menempuh pendidikan di negara lain yang berbeda benua, selama satu tahun.

Jujur ada ketakutan dan kekhawatiran tentang perjalanan yang akan saya arungi setahun ke depan. Tentang bagaimana saya bisa survive berkuliah di sana, bagaimana saya beradaptasi dan bergaul di sana, dan tanggungjawab saya kepada negara yang harus diselesaikan. Tapi, perasaan excited ingin belajar banyak agar bisa membagikan ilmunya lagi ke orang lain sudah menggebu-gebu dan mengalahkan kekhawatiran-kekhawatiran saya. Worry brings you no where. Jika tidak dijalani, kita tak akan pernah tahu hasilnya bagaimana. Yang terpenting, saya mempersiapkan diri untuk menjalaninya sebaik mungkin. Saya bertekad akan menjalani sebaik-baiknya masa perkuliahan agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan bisa menebar manfaat.

Preparation is everything, karena itu saya memutuskan untuk mundur lebih awal dari tempat saya bekerja untuk mempersiapkan S2. Saya memutuskan menghabiskan sebulan persiapan kuliah dengan belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare. Selain itu, saya juga butuh ketenangan agar bisa muhasabah, mengevaluasi diri dan memperbaiki diri lagi. 

Ini langkah saya untuk memulai awal yang baru. Doakan saya, ya :)

Sabtu, 01 Juli 2017

Ujian

Kata orang, ujian adalah sebuah keniscayaan; sebuah tahapan yang harus dilalui setiap orang sebelum naik tingkat.

Seorang karateka harus menempuh ujian penuh peluh untuk mendapatkan sabuk berbeda warna; seorang anak harus menempuh ujian akhir untuk naik kelas, dan seorang mahasiswa harus menempuh ujian skripsi untuk memperoleh sebuah gelar di belakang namanya.

Ujian menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diraih tanpa pengorbanan.

Kadang, ujian dengan materi yang sama diberikan berkali-kali. Itu artinya, kita belum lulus ujian tersebut. Kita harus mengulang, karena apa yang kita pelajari belum maksimal. Atau jangan-jangan, kita tidak mengerti apa yang diujikan.

Pernahkah kau berfikir, di dunia ini, setiap orang diuji dengan soal yang berbeda-beda?

Ada orang yang diuji dengan kekurangan harta; ada yang diuji dengan kelebihan harta. Ada yang diuji dengan kematian anaknya; ada yang diuji dengan kelahiran anaknya. Ada yang diuji ketika tidak punya pekerjaan, ada yang diuji dengan pekerjaannya. Ada yang diuji ketika belum menikah, dan ada yang diuji dengan pernikahannya.

Di suatu rumah, seorang anak sibuk mengais receh demi receh di sela-sela rak buku; demi mengumpulkan ongkos empat ribu rupiah, agar ia bisa berangkat sekolah

Di dapur sebuah rumah, seorang ibu mencampur nasi dengan garam dan membentuknya menjadi bulatan; hanya itu yang bisa ia sediakan untuk anak-anaknya

Di suatu kereta yang penuh sesak tanpa AC, seorang ibu berdesak-desak penuh keringat. Jarak jauh yang harus ditempuhnya setiap hari tidak sebanding dengan kebahagiaannya ketika bisa membelikan makan bagi anak-anaknya di rumah dengan jerih payahnya.

Seringkali, ketika ujian berat menimpaku, aku hanya menangis tanpa suara, dan bertanya-tanya:
Kenapa aku? Kenapa harus seberat ini?

Lalu aku melihat wajah Ummi. Dan semua keluh kesah serta pertanyaanku menguap jadi debu.

Apa artinya ujian hidupku bila dibandingkan dengan Ummi?

Puncakmanggu Undercover #4: Anak Istimewa


Setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang dipaksa untuk ahli di satu bidang tertentu, sementara mungkin sebenarnya ia memiliki keunggulan di bidang lain. Hanya saja, tidak semua keluarga dan lingkungan di sekitarnya menyadari itu.

Jakarta, 2017

Aku tercenung menatap layar yang menampilkan credit di akhir film. Tanpa sadar, airmata sudah menggenang di pipiku, akibat menonton film Taare Zameen Par. Film ini menceritakan tentang seorang anak yang selalu tertinggal di kelas, yang dikira bodoh namun ternyata mengalami problem dysleksia, yaitu tidak mampu membaca layaknya orang normal. Aku terpukul menonton film ini, menyesal karena tidak menontonnya sejak dua tahun yang lalu. Pikiranku melayang, memutar memori, mengenangnya...

Sukabumi, 2015

“Fah, siap-siap ya.. Di kelas tiga yang kamu ajar ada satu orang Anak Berkebutuhan Khusus.”

Ketika aku mendengar bahwa harus mengajar kelas tiga SDN Puncakmanggu yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), aku langsung pasrah. Bingung memikirkan apa yang harus kuperbuat dengan anak ini. Apalagi, jurusanku adalah jurusan Hukum, bukan jurusan psikologi yang sedikit banyak mengerti bagaimana penanganan yang tepat untuk ABK.

Saat pertama kali kami datang ke Sekolah dan melakukan observasi kelas, aku meminta Pak Baban, guru kelas 3, untuk menceritakan siapa anak yang agak tertinggal dalam pelajaran. Tanpa ragu-ragu, Pak Baban menunjuk ia yang duduk di sudut kelas.

Namanya Nia. Wajahnya terlihat murung dan rendah diri. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan badannya lebih besar dari kebanyakan anak-anak di kelas. Menurut Pak Baban, Nia sudah tiga kali tidak naik kelas. Aku tersenyum kepada Nia, tapi Nia hanya menatapku dengan pandangan kosong dan ketakutan.

“Namanya siapa?” aku mencoba menyapanya. Nia hanya diam sambil memandangku bingung. Wah gawat, sepertinya dia tidak bisa bahasa Indonesia. Sementara aku tidak bisa berbahasa Sunda.

Aku kembali menyimak pelajaran di kelas. Sambil mencatat, aku memperhatikan metode yang digunakan Pak Baban untuk mengajar anak-anak. Pak Baban membagikan buku teks Agama Islam. Buku yang mereka gunakan dipinjamkan oleh sekolah, satu buku digunakan bersama-sama oleh enam orang anak karena jumlahnya terbatas. Pak Baban meminta anak-anak untuk membuka buku dan menyalin beberapa kalimat yang ada di buku. Terkadang beliau mendiktekan kalimat-kalimat dalam buku untuk ditulis anak-anak. Aku perhatikan, sebagian besar kegiatan anak-anak di kelas adalah menulis dan menulis, lebih tepatnya menyalin.

“Nah anak-anak, rajin itu pangkal...” Pak Baban bertanya di depan kelas. “Pandaaai!” jawab anak-anak. “Kalau malas, pangkal?” tanyanya lagi. “Bodoooh..” sahut anak-anak.

“Nah ini contohnya anak yang malas pangkal bodoh. Liat Nia, udah kelas tiga masih nggak bisa baca. Makanya Nia jangan malas, belajar yang rajin ya supaya bisa baca.” Lanjut Pak Baban sambil menunjuk Nia.

Aku terhenyak karena Pak Baban mencontohkan “Nia malas makannya bodoh” dengan suara lantang kepada seisi kelas.

Pak Baban menyadari tatapan mataku yang kebingungan dan mencoba menjelaskan. “Bu Ipah, saya mah orangnya terus terang. Kalau anak pintar ya saya bilang pintar, kalau anak bodoh ya saya bilang bodoh.”

Hatiku ingin rasanya memprotes Pak Baban, namun lidahku kelu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun, aku bukan guru di sini, Pak Babanlah guru mereka sebenarnya yang harus kuhormati.

Sementara itu, Nia yang duduk di sudut kelas menunduk semakin dalam. Malu.

Labelling adalah hal paling menyakitkan yang mungkin tidak sengaja dilakukan oleh guru kepada muridnya. Ketika seseorang dicap bodoh, ia akan benar-benar menganggap dirinya bodoh, sehingga ia benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu. Potensi yang ada dalam diri anak akan padam. Dan Nia, telah mendapat labeling sedari awal. Padahal mungkin saja Nia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya, namun daya tangkapnya memang terbatas. Labelling ini bertambah parah karena Nia dicap sebagai “bodoh” di depan teman-temannya. Tidak heran Nia terlihat sangat rendah diri.

Kasihan Nia....

Hari-hari berikutnya, aku tidak bisa mengamati Nia dengan intensif. Mengajar di kelas berisi 31 orang membuat perhatianku terbagi-bagi. Setiap anak menuntut untuk diperhatikan dengan porsi yang sama besarnya, sementara kemampuanku terbatas. Akhirnya aku hanya bisa mengobservasi Nia dari jauh.

Selama ini kupikir Nia selalu mengerjakan tugas-tugasnya, karena ketika teman-temannya sibuk menulis, Nia juga asyik menulis. Namun ketika tugasnya dikumpulkan, aku terkejut. Apa yang dikumpulkan Nia adalah rangkaian huruf yang acak tanpa makna. Dugaanku, Nia menyibukkan diri menulis hanya agar ia tidak dimarahi guru. Sementara, ia sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang ia tulis. Akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan tugas lain untuk Nia, yang lebih sesuai dengan kemampuannya.

Beberapa kali aku meminta anak-anak untuk membentuk kelompok, Nia terlihat dihindari oleh teman-temannya untuk bergabung menjadi anggota kelompok. “Ih nggak mau sama Nia, ah. Nia mah gitu, lelet.” Bisikan-bisikan ini seringkali terdengar. Aku mencoba membujuk anak-anak, “Ayo, anak-anak. Kalau ada temannya yang belum selesai mengerjakan tugas atau belum mengerti pelajaran, tolong diajari yaa.”

Saat pelajaran Bahasa Indonesia, setiap anak mendapat tugas untuk membaca teks dongeng. Setiap anak mendapat giliran membaca walaupun ada yang terbata-bata. Namun bacaan berhenti ketika tiba giliran Nia.

“Nia, ayo dibaca tulisannya.” Aku tersenyum sambil menunjuk baris yang harus ia baca.
Nia menggeleng. “Teu tiasa, bu...”[1] Bisiknya dengan suara yang sangat lirih.
“Kalau begitu, kamu ikuti ibu ya? Ibu membaca, nanti Nia tirukan.”

Aku mengeja kata-kata satu persatu. Nia mengikuti. Walaupun kemampuannya terbatas, aku ingin tetap melibatkan Nia dalam setiap aktivitas kelas. Setidaknya hal ini akan menambah kepercayaan dirinya, bahwa ia sebenarnya bisa seperti teman-temannya yang lain.
***

Suatu pagi, seperti biasa aku meminta anak-anak untuk menulis Diary. Namun satu orang kulihat diam saja dan tidak menulis. Nia. Aku mendekatinya. Kulihat tangannya kosong tidak menggenggam alat tulis.

Aku menghampiri meja Nia. Duduk sejajar dan menatap kedua matanya. “Nia teh kunaon, teu nyerat?”[2]
Nia hanya menatapku takut-takut sambil menggeleng.
Hanifah, teman sebangku Nia, menyahut. “Nia nggak punya pulpen, bu.”
Aku mengambil pulpen di mejaku dan menyerahkannya ke Nia. “Kalau begitu, pakai pulpen ibu saja.”

Namun setiap satu jam pelajaran berakhir, Hanifah selalu mendatangiku dan menyerahkan pulpen yang tadi kupinjamkan ke Nia. Jam pelajaran berikutnya terjadi peristiwa yang sama, Nia tidak punya pulpen dan aku kembali meminjamkannya.

Keesokan harinya, ketika menghampiri meja Nia, aku melihat Nia menulis dengan isi pulpen. Ia tampak bersusah payah menulis dengan isi pulpen yang lemas itu. Aku hampir menangis melihatnya.

Aku meraih pulpenku dan menggenggamnya di jemari kecil Nia. “Nia, ini pulpen ibu, untuk kamu. Nggak usah dibalikin ya?”
Nia hanya mengangguk.

Di hari lain, beda lagi yang terjadi.
“Buuu! Nia nggak nulis buu!” Hanifa berteriak memanggilku.
Aku menghampiri mejanya, membungkuk agar sejajar dengan Nia, dan bertanya perlahan. “Nia kunaon teu nyerat?”
Nia masih diam seribu bahasa. Kuulangi lagi pertanyaanku, ia tidak menjawab. 

Aku mulai frustasi bagaimana cara memahami murid yang tidak mau berbicara. Kulihat genggaman tangannya, ia masih memegang pulpen yang kuberikan kemarin. Jadi masalahnya bukan karena tidak ada pulpen, lalu kenapa?

Untunglah saat itu Ucheng, RED alias bapak para pengajar GUIM di titik satu sedang melintas. Aku memanggilnya, meminta tolong Ucheng yang bisa berbahasa Sunda untuk membujuk Nia menulis. Ucheng menghampiri Nia dan berbincang-bincang dengannya. Tidak lama kemudian ia menghampiriku.

“Iffah punya kertas nggak untuk Nia? Bukunya habis.”
Aku terperangah. “Ya ampun, jadi masalahnya di kertas? Tadi waktu gue nanya kenapa, dia diam aja.”
“Dia juga nggak jawab waktu gue tanya. Pas gue bolak-balik buku tulisnya, semua halaman penuh. Nggak ada yang kosong.”

Kata-kata Ucheng membuatku terpukul. Aku merasa gagal jadi guru yang baik, karena kurang peka memperhatikan hal-hal kecil tentang muridku. Aku gagal memahami muridku sendiri.

Aku bertekad, aku akan menjadi guru yang lebih memperhatikan murid-muridku. Terutama Nia, yang memang butuh perhatian khusus.
***

Hari itu aku memutuskan untuk home visit ke rumah Nia ditemani Nuurul dan Ucheng. Rumah Nia terletak di daerah Cipeusar, dimana jalanannya masih berlumpur, belum diaspal atau setidaknya dilapisi dengan batu. Dalam kunjunganku ke beberapa murid yang rumahnya terletak di Cipeusar, aku menyimpulkan bahwa sebagian besar warga yang tinggal di sana memang tidak bisa berbahasa Indonesia. Entah kebetulan atau tidak, beberapa muridku yang agak tertinggal dalam menangkap pelajaran di kelas ternyata tinggal di Cipeusar. Mungkin saja, kemampuan bahasa Indonesia murid berkaitan dengan kemampuan mereka menangkap pelajaran. Sebab, sebagian besar buku teks yang digunakan di Sekolah memang berbahasa Indonesia.

Rumah Nia terletak di tengah pematang sawah, jadi mau tidak mau kami harus berjingkat di jalan setapak pembatas antar sawah dengan hati-hati untuk mencapai rumahnya. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Bapak dan Ibu Nia yang terlihat sangat tua. Mungkin, mereka bahkan lebih tua daripada orangtuaku. Rumah Nia merupakan rumah panggung dari kayu yang berukuran tidak terlalu luas. Dari luar rumah itu terlihat gelap, tidak banyak penerangan.

Kami berbincang-bincang di teras rumah Nia. Karena aku tidak mengerti bahasa Sunda, aku bercakap-cakap dengan orangtua Nia dengan perantara Ucheng sebagai penerjemah. Dari cerita Ucheng, sepertinya orangtua Nia buta huruf dan tidak menempuh pendidikan. Mereka belum mengerti betapa pendidikan sangat penting untuk meningkatkan derajat kehidupan Nia kelak. Tidak heran bila Nia masih belum bisa membaca, lingkungannya tidak kondusif untuk belajar. Apalagi ia tidak memiliki fasilitas untuk berhubungan dengan informasi dari luar, seperti televisi atau koran.

Sepulang dari sana, aku berpikir keras. Waktuku di sini tidak banyak, aku hanya punya waktu tiga minggu. “Gue harus berbuat apa untuk Nia? Nia nggak bisa bahasa Indonesia, sementara, kendala terbesar gue di Sukabumi adalah Bahasa Sunda. Bagaimana cara gue mendekati dan memahami dia?” tanyaku pada Ucheng.

“Yang paling penting, Iffah harus bisa setidaknya mengubah pandangan Pak Baban mengenai Nia. Karena itu langkah paling awal supaya Nia bisa berkembang setelah kita pulang.” Sahut Ucheng.
***

Tidak terasa sudah minggu terakhir di Sukabumi. Aku mencoba mengejar ketertinggalan, nilai-nilai yang belum kusampaikan, masalah anak-anak yang belum kuselesaikan. Terutama tentang Nia.

Minggu ini adalah saat dimana guru asli kembali mengambil alih kelas. Mencoba memanfaatkan kesempatan, aku meminta izin kepada Pak Baban untuk meminjam Nia dan Firman untuk mengajari mereka di lorong luar kelas. Aku memberi tugas kepada Firman untuk membaca bacaan dalam buku dongeng. Sementara untuk Nia, aku menggunakan tabel abjad yang kupinjam dari Maul, pengajar kelas satu.

Perlahan kuajari Nia belajar mengeja huruf. Aku sedikit takjub, ternyata Nia tidak sebodoh yang orang-orang bilang, ia mampu belajar membaca dengan cepat. Hanya saja, ia tidak pernah punya kesempatan untuk itu. Label yang ia terima dari guru dan teman-temannya, serta kurangnya fasilitas dan dukungan dari orangtuanya, tidak pernah mendukung ia untuk berkembang.
***

Hari ini hari terakhirku mengajar. Kuharap, kehadiranku yang sesaat di SD ini dapat memberikan jejak yang menginspirasi murid-muridku. Aku sudah berpesan kepada beberapa anak yang pintar agar membantu mengajari teman-teman mereka. Kepada Pak Baban, aku berpesan agar ia selalu memberi dukungan kepada murid-muridnya, dan Nia dapat berkembang selama ia dibantu oleh teman-temannya. Aku juga menitipkan pesan khusus kepada Hanifa, teman dekat Nia, untuk membantu Nia sampai dia bisa membaca.

Aku membuka lembaran Diary milik Nia yang penuh coret-coretan huruf tak beraturan itu, dan mulai menggoreskan pena di halaman kosong. Menulis surat untuk Nia.

Halo Nia :)

Mungkin saat Ibu menulis surat ini, Nia belum mengerti apa arti kata-kata yang Ibu tulis. Tapi kalau Nia sudah mengerti, selamat! Itu artinya Nia sudah berlatih dengan rajin sehingga Nia akhirnya bisa membaca :)

Selama tiga minggu di sini, Ibu senang sekali bisa mengajar anak yang mau berjuang dan bekerja keras seperti Nia. Sayang sekali, Ibu harus pulang karena harus melanjutkan sekolah Ibu di Jakarta.

Nia, kalau Ibu pulang nanti, tetap semangat belajar ya. Sering-sering main ke Rumah Pelangi, banyak buku bagus di sana. Banyak-banyaklah membaca, sebab buku adalah jendela ilmu. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak yang kita tahu tentang dunia di luar sana :)

Ibu sayang Nia

-Bu Iffah



[1] Tidak bisa, Bu
[2] Nia kenapa, tidak mau menulis?

Minggu, 28 Mei 2017

Love Letter

Dear Mom and Dad,

Thanks for forgiving me. Thanks for cheering me up and supporting me. Thanks for wiping my tears. Thanks for your unconditional love. Forgive me because I make you worry. I know, I couldn't ask for better parents.

Dear my sisters and brothers,

Thanks for lending me your ears. Thanks for listening and understanding. Thanks for a pat in my back and warmest hug that you can give. To have you, I know I am the luckiest siblings in earth.

Dear my best friends,

Thanks for listening my story and not judging me. Thanks for showing the positive things in me. Thanks to keep me busy with activities. Thanks for make me laugh and smile. I know you will always by my side in my worst condition.

Dear myself, 

Please be strong. No one can do that except yourself. I know you can face this storm. Please be happy. Be grateful for what you already have, don't grieving over your loss. Smile. And forgive.

Selasa, 23 Mei 2017

Menjadi Awardee LPDP: Seleksi Administratif



Kali ini, aku akan berbagi pengalamanku ketika mengikuti seleksi beasiswa yang sedang hits-hits nya di Indonesia: LPDP. Walaupun aku yakin, sudah banyak blog atau tulisan yang menceritakan secara detail tentang tips dan trik untuk lolos seleksi LPDP, tapi mungkin sedikit pengalaman yang kubagikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang akan mengikuti seleksi LPDP.

Menjadi Awardee LPDP

Menurutku, persiapan untuk menjadi seorang awardee LPDP tidak bisa hanya dimulai beberapa bulan sebelum seleksi, tapi sejak beberapa tahun sebelumnya. Kok begitu? Iya, sebab LPDP punya kriteria tersendiri untuk memilih awardee, antara lain:

1. Mempunyai Integritas, komitmen, serta teladan dalam berpikir, berkata, dan bertindak;

2. Nasionalis, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
3. Profesional, memiliki keahlian dan kecakapan pada bidangnya serta mampu bersaing di tingkat dunia.
4. Mempunyai kemampuan memimpin yang kuat dan dapat menghasilkan perubahan positif.
5. Berjiwa Sosial, memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai kondisi bangsa.

Tentunya, kriteria-kriteria tersebut bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam sebulan dua bulan, namun merupakan karakter yang sudah bertahun-tahun. Dan syarat kriteria ini bukan hanya formalitas; berdasarkan pengalamanku bertemu dengan awardee-awardee LPDP lainnya, kebanyakan teman-teman yang kutemui adalah orang-orang yang sangat aktif di kegiatan sosial, berjiwa pemimpin, dan memiliki banyak prestasi. Bisa dikatakan, beasiswa LPDP ini pas banget untuk para aktivis kampus ataupun luar kampus. Jadi kalau misalnya zaman dahulu kala orang-orang bilang jadi aktivis itu useless, atau nggak memberikan manfaat pasca kampus, justru sekarang aktivis-aktivis inilah target utama dari beasiswa LPDP.

Beasiswa LPDP juga mensyaratkan alumninya untuk kembali dan mengabdi di Indonesia. Ini wajar, karena LPDP merupakan beasiswa yang dibiayai uang rakyat. Tentunya there's no free lunch, ada "hutang" yang harus dibayar oleh para awardee LPDP dengan berbakti kepada negeri. Jadi bagi teman-teman yang memang nggak berniat kembali ke Indonesia atau ingin mengejar karier di Luar Negeri, mungkin sebaiknya apply beasiswa lain saja. Sebenarnya bukan hanya LPDP, beasiswa dari Pemerintah negara lain seperti Chevening atau Monbukagakusho juga mensyaratkan penerima beasiswanya untuk kembali ke negerinya masing-masing setidaknya satu atau dua tahun setelah lulus.

Untuk yang masih ragu-ragu apakah ingin mendaftar LPDP atau tidak, saranku: daftar aja! Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan beasiswa LPDP dibuka. Sistem seleksinya setiap tahunnya mengalami perbaikan sehingga tentunya seleksi semakin sulit dengan peminat yang semakin banyak. Daripada menunda-nunda tapi menyesal belakangan, lebih baik persiapkan dari jauh-jauh hari agar bisa apply secepatnya. Dulu aku ragu-ragu untuk mendaftar Batch ke-1, dan akhirnya baru mengikuti seleksi di Batch ke-4. Seandainya aku masih ragu-ragu untuk mengikuti Batch 4, mungkin aku baru akan bisa berangkat studi tahun depan. Oleh karena itu, prepare your best! 

Seleksi LPDP 2017

Ada banyak sekali perubahan sistem seleksi LPDP di tahun 2017 ini. Tahun-tahun sebelumnya, seleksi LPDP dibuka empat kali dalam setahun, dimana saat mendaftar kita bisa memilih apakah mau ke Dalam Negeri atau ke Luar Negeri. Tahun 2017 ini, seleksi hanya dibuka dua kali dalam setahun: di bulan Maret khusus untuk tujuan Dalam Negeri, dan di bulan Juli khusus untuk tujuan Luar Negeri. Selain itu, untuk intake Luar Negeri baru akan diberangkatkan setahun setelah seleksi LPDP. Artinya, awardee yang lolos seleksi LPDP tahun 2017 baru akan menempuh studinya tahun 2018 nanti. 

Sejak tahun 2017 pula, dalam seleksi administrasi juga ada tahapan assesment online. Assesment Online sendiri merupakan test psikologi VMI dan 15FQ+ untuk mengetahui karakter calon awardee LPDP. Aku sendiri tidak memiliki pengalaman tentang assesment online, bisa dilihat pengalaman assesment online salah satu peserta seleksi di sini. Kebetulan, aku menjadi salah satu awardee Batch 4 Tahun 2016.  

Saat seleksi LPDP kemarin, aku menempuh dua proses seleksi: seleksi administratif dan seleksi substantif (mencakup writing on the spotLeaderless Group Discussion, dan Wawancara).

Seleksi administratif yaitu mengumpulkan beberapa berkas, yang daftarnya bisa dilihat di sini. Pastikan syarat-syarat ini sudah lengkap dan nggak mepet-mepet banget, misalnya IPK kurang atau skor bahasa kurang pasti menjadi penilaian tersendiri, bahkan kemungkinan bisa tidak lolos seleksi administratif. 

Selain itu, ada tugas membuat essay-essay yaitu “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku” serta membuat Rencana Studi untuk berkuliah nanti. Bagi calon awardee tujuan dalam negeri, tugas essay, seleksi Leaderless Group Discussion, dan writing on the spot menggunakan bahasa Indonesia, serta wawancara menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Sementara untuk tujuan Luar Negeri, semua tahapan tersebut wajib menggunakan bahasa Inggris.

Sebelum membuat essay, sebaiknya kita melakukan riset terlebih dahulu. Aku sendiri mulai membuat draft essay LPDP sejak lama, dan mengirimkannya setelah mengalami banyak perbaikan dan proofreading. Essay sangat penting karena akan dibaca oleh interviewer dan ditanyakan saat wawancara. Jadi, jangan asal-asalan dalam membuat essay kita.

Di essay inilah kesempatan kita untuk "menjual" kelebihan kita, tentunya sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak dibuat-buat. Misalnya tugas essay Kontribusiku Bagi Indonesia. Dengan tugas ini, LPDP ingin mengetahui apakah kita adalah orang yang peduli dengan keadaan sekitar atau hanya peduli dengan diri sendiri. Kita diminta untuk menceritakan aktivitas yang selama ini sudah kita lakukan, terutama yang bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah kita harus menunjukkan, manfaat apa yang selama ini sudah kita berikan kepada masyarakat sekitar. Dalam essay ini, aku menceritakan mengenai tekadku untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia dengan cara menjadi pendidik bagi anak-anak maupun mahasiswa.

Dalam essay "Sukses Terbesar Dalam Hidupku, kita diminta menceritakan tentang kesuksesan terbesar yang pernah kita capai dan bagaimana proses kita untuk mengejar kesuksesan tersebut. Dengan essay ini, LPDP ingin menilai bagaimana karakter sang calon awardee berdasarkan pengalaman hidupnya, dan bagaimana caranya mengejar mimpinya. Tentunya, definisi kesuksesan bagi setiap orang berbeda-beda. Essay-ku sendiri berjudul "Failure is the greatest success in my life", bercerita mengenai bagaimana kegagalanku saat gagal diterima di UI dan bagaimana perjuanganku untuk bangkit dari kegagalan tersebut.

Kita juga harus bisa menarik benang merah antara pengalaman hidup serta kontribusi yang sudah kita lakukan dengan cita-cita kita di masa depan dalam essay-essay ini. Misalnya, ketika seseorang mengatakan dia bercita-cita ingin menjadi Menteri Pendidikan, namun ternyata ia sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin organisasi, tentu sulit bagi pemberi beasiswa untuk mempercayainya. Atau ketika seseorang mengatakan ingin menjadi enterpreuner untuk memberdayakan UMKM, tentunya akan lebih meyakinkan bila sebelumnya ia sudah memiliki pengalaman di bidang tersebut. 

Di saat inilah, rekam jejak sang calon awardee menjadi sangat penting, untuk melihat apa saja kontribusi yang sudah dia berikan untuk masyarakat Indonesia. Misalnya ketika aku mengatakan selepas S2 akan menjadi dosen, aku mengkaitkan dengan passion-ku mengajar, dan pengalaman mengikuti kegiatan sosial mengajar anak-anak selama menjadi mahasiswa. Selain itu, aku juga menceritakan pekerjaanku sebagai asisten dosen dan pengalaman risetku dengan dosen-dosen di kampus. 

Begitu juga dengan rencana studi, kita harus meyakinkan pemberi beasiswa mengapa kita layak menerima beasiswa; mengapa harus mengambil di Universitas tersebut dan jurusan tersebut? Dalam rencana studi, aku menceritakan kegelisahanku karena masih banyak mahasiswa hukum yang tidak memahami hukum ekonomi syariah, padahal kebutuhan akan ahli hukum di bidang ekonomi syariah cukup urgent. Kebijakan ekonomi syariah di Indonesia juga masih memerlukan banyak perbaikan. Sehingga aku memutuskan mempelajari ekonomi syariah agar bisa mengajarkan ilmu hukum ekonomi syariah kepada mahasiswa-mahasiswa di FHUI dan juga menjadi researcher yang turut membantu pengembangan hukum ekonomi syariah di Indonesia. Tentunya, kebenaran kata-kata dalam rencana studi ini akan diuji dalam seleksi wawancara.

Berkas-berkas yang dipersyaratkan harus di unggah sejak beberapa hari sebelumnya, karena kemungkinan dua hari terakhir server akan down. Jangan pernah procastinate dan baru menyelesaikan berkas di menit-menit terakhir. Sayang kan, kalau syarat sudah lengkap, calon awardee qualified, tapi gagal hanya karena masalah teknis. Aku sendiri sudah mencicil upload beberapa berkas sejak jauh-jauh hari dan submit berkas seminggu sebelum deadline. 

Alhamdulillah, beberapa minggu setelah deadline upload berkas, muncul pengumuman yang menyatakan bahwa aku lolos seleksi administrasi dan dipanggil untuk mengikuti seleksi substansi. 



Begitulah pengalamanku saat mempersiapkan seleksi administratif LPDP. Kisahku dalam mengikuti seleksi akan kuceritakan di postingan selanjutnya, karena itu stay tune terus ya!
Semangat terus para pejuang beasiswa!