Minggu, 28 Mei 2017

Love Letter

Dear Mom and Dad,
Thanks for forgiving me. Thanks for cheering me up and supporting me. Thanks for wiping my tears. Thanks for your unconditional love. Forgive me because I make you worry. I know, I couldn't ask for better parents.

Dear my sisters and brothers,
Thanks for lending me your ears. Thanks for listening and understanding. Thanks for a pat in my back and warmest hug that you can give. To have you, I know I am the luckiest siblings in earth.

Dear my best friends,
Thanks for listening my story and not judging me. Thanks for showing the positive things in me. Thanks to keep me busy with activities. Thanks for make me laugh and smile. I know you will always by my side in my worst condition.

Dear myself,
Please be strong. No one can do that except yourself. I know you can face this storm. Please be happy. Be grateful for what you already have, don't grieving over your loss. Smile. And forgive.

Selasa, 23 Mei 2017

Menjadi Awardee LPDP: Seleksi Administratif



Kali ini, aku akan berbagi pengalamanku ketika mengikuti seleksi beasiswa yang sedang hits-hits nya di Indonesia: LPDP. Walaupun aku yakin, sudah banyak blog atau tulisan yang menceritakan secara detail tentang tips dan trik untuk lolos seleksi LPDP, tapi mungkin sedikit pengalaman yang kubagikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang akan mengikuti seleksi LPDP.

Menjadi Awardee LPDP

Menurutku, persiapan untuk menjadi seorang awardee LPDP tidak bisa hanya dimulai beberapa bulan sebelum seleksi, tapi sejak beberapa tahun sebelumnya. Kok begitu? Iya, sebab LPDP punya kriteria tersendiri untuk memilih awardee, antara lain:

1. Mempunyai Integritas, komitmen, serta teladan dalam berpikir, berkata, dan bertindak;

2. Nasionalis, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
3. Profesional, memiliki keahlian dan kecakapan pada bidangnya serta mampu bersaing di tingkat dunia.
4. Mempunyai kemampuan memimpin yang kuat dan dapat menghasilkan perubahan positif.
5. Berjiwa Sosial, memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap berbagai kondisi bangsa.

Tentunya, kriteria-kriteria tersebut bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam sebulan dua bulan, namun merupakan karakter yang sudah bertahun-tahun. Dan syarat kriteria ini bukan hanya formalitas; berdasarkan pengalamanku bertemu dengan awardee-awardee LPDP lainnya, kebanyakan teman-teman yang kutemui adalah orang-orang yang sangat aktif di kegiatan sosial, berjiwa pemimpin, dan memiliki banyak prestasi. Bisa dikatakan, beasiswa LPDP ini pas banget untuk para aktivis kampus ataupun luar kampus. Jadi kalau misalnya zaman dahulu kala orang-orang bilang jadi aktivis itu useless, atau nggak memberikan manfaat pasca kampus, justru sekarang aktivis-aktivis inilah target utama dari beasiswa LPDP.

Beasiswa LPDP juga mensyaratkan alumninya untuk kembali dan mengabdi di Indonesia. Ini wajar, karena LPDP merupakan beasiswa yang dibiayai uang rakyat. Tentunya there's no free lunch, ada "hutang" yang harus dibayar oleh para awardee LPDP dengan berbakti kepada negeri. Jadi bagi teman-teman yang memang nggak berniat kembali ke Indonesia atau ingin mengejar karier di Luar Negeri, mungkin sebaiknya apply beasiswa lain saja. Sebenarnya bukan hanya LPDP, beasiswa dari Pemerintah negara lain seperti Chevening atau Monbukagakusho juga mensyaratkan penerima beasiswanya untuk kembali ke negerinya masing-masing setidaknya satu atau dua tahun setelah lulus.

Untuk yang masih ragu-ragu apakah ingin mendaftar LPDP atau tidak, saranku: daftar aja! Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan beasiswa LPDP dibuka. Sistem seleksinya setiap tahunnya mengalami perbaikan sehingga tentunya seleksi semakin sulit dengan peminat yang semakin banyak. Daripada menunda-nunda tapi menyesal belakangan, lebih baik persiapkan dari jauh-jauh hari agar bisa apply secepatnya. Dulu aku ragu-ragu untuk mendaftar Batch ke-1, dan akhirnya baru mengikuti seleksi di Batch ke-4. Seandainya aku masih ragu-ragu untuk mengikuti Batch 4, mungkin aku baru akan bisa berangkat studi tahun depan. Oleh karena itu, prepare your best! 

Seleksi LPDP 2017

Ada banyak sekali perubahan sistem seleksi LPDP di tahun 2017 ini. Tahun-tahun sebelumnya, seleksi LPDP dibuka empat kali dalam setahun, dimana saat mendaftar kita bisa memilih apakah mau ke Dalam Negeri atau ke Luar Negeri. Tahun 2017 ini, seleksi hanya dibuka dua kali dalam setahun: di bulan Maret khusus untuk tujuan Dalam Negeri, dan di bulan Juli khusus untuk tujuan Luar Negeri. Selain itu, untuk intake Luar Negeri baru akan diberangkatkan setahun setelah seleksi LPDP. Artinya, awardee yang lolos seleksi LPDP tahun 2017 baru akan menempuh studinya tahun 2018 nanti. 

Sejak tahun 2017 pula, dalam seleksi administrasi juga ada tahapan assesment online. Assesment Online sendiri merupakan test psikologi VMI dan 15FQ+ untuk mengetahui karakter calon awardee LPDP. Aku sendiri tidak memiliki pengalaman tentang assesment online, bisa dilihat pengalaman assesment online salah satu peserta seleksi di sini. Kebetulan, aku menjadi salah satu awardee Batch 4 Tahun 2016.  

Saat seleksi LPDP kemarin, aku menempuh dua proses seleksi: seleksi administratif dan seleksi substantif (mencakup writing on the spotLeaderless Group Discussion, dan Wawancara).

Seleksi administratif yaitu mengumpulkan beberapa berkas, yang daftarnya bisa dilihat di sini. Pastikan syarat-syarat ini sudah lengkap dan nggak mepet-mepet banget, misalnya IPK kurang atau skor bahasa kurang pasti menjadi penilaian tersendiri, bahkan kemungkinan bisa tidak lolos seleksi administratif. 

Selain itu, ada tugas membuat essay-essay yaitu “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku” serta membuat Rencana Studi untuk berkuliah nanti. Bagi calon awardee tujuan dalam negeri, tugas essay, seleksi Leaderless Group Discussion, dan writing on the spot menggunakan bahasa Indonesia, serta wawancara menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris. Sementara untuk tujuan Luar Negeri, semua tahapan tersebut wajib menggunakan bahasa Inggris.

Sebelum membuat essay, sebaiknya kita melakukan riset terlebih dahulu. Aku sendiri mulai membuat draft essay LPDP sejak lama, dan mengirimkannya setelah mengalami banyak perbaikan dan proofreading. Essay sangat penting karena akan dibaca oleh interviewer dan ditanyakan saat wawancara. Jadi, jangan asal-asalan dalam membuat essay kita.

Di essay inilah kesempatan kita untuk "menjual" kelebihan kita, tentunya sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak dibuat-buat. Misalnya tugas essay Kontribusiku Bagi Indonesia. Dengan tugas ini, LPDP ingin mengetahui apakah kita adalah orang yang peduli dengan keadaan sekitar atau hanya peduli dengan diri sendiri. Kita diminta untuk menceritakan aktivitas yang selama ini sudah kita lakukan, terutama yang bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah kita harus menunjukkan, manfaat apa yang selama ini sudah kita berikan kepada masyarakat sekitar. Dalam essay ini, aku menceritakan mengenai tekadku untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia dengan cara menjadi pendidik bagi anak-anak maupun mahasiswa.

Dalam essay "Sukses Terbesar Dalam Hidupku, kita diminta menceritakan tentang kesuksesan terbesar yang pernah kita capai dan bagaimana proses kita untuk mengejar kesuksesan tersebut. Dengan essay ini, LPDP ingin menilai bagaimana karakter sang calon awardee berdasarkan pengalaman hidupnya, dan bagaimana caranya mengejar mimpinya. Tentunya, definisi kesuksesan bagi setiap orang berbeda-beda. Essay-ku sendiri berjudul "Failure is the greatest success in my life", bercerita mengenai bagaimana kegagalanku saat gagal diterima di UI dan bagaimana perjuanganku untuk bangkit dari kegagalan tersebut.

Kita juga harus bisa menarik benang merah antara pengalaman hidup serta kontribusi yang sudah kita lakukan dengan cita-cita kita di masa depan dalam essay-essay ini. Misalnya, ketika seseorang mengatakan dia bercita-cita ingin menjadi Menteri Pendidikan, namun ternyata ia sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin organisasi, tentu sulit bagi pemberi beasiswa untuk mempercayainya. Atau ketika seseorang mengatakan ingin menjadi enterpreuner untuk memberdayakan UMKM, tentunya akan lebih meyakinkan bila sebelumnya ia sudah memiliki pengalaman di bidang tersebut. 

Di saat inilah, rekam jejak sang calon awardee menjadi sangat penting, untuk melihat apa saja kontribusi yang sudah dia berikan untuk masyarakat Indonesia. Misalnya ketika aku mengatakan selepas S2 akan menjadi dosen, aku mengkaitkan dengan passion-ku mengajar, dan pengalaman mengikuti kegiatan sosial mengajar anak-anak selama menjadi mahasiswa. Selain itu, aku juga menceritakan pekerjaanku sebagai asisten dosen dan pengalaman risetku dengan dosen-dosen di kampus. 

Begitu juga dengan rencana studi, kita harus meyakinkan pemberi beasiswa mengapa kita layak menerima beasiswa; mengapa harus mengambil di Universitas tersebut dan jurusan tersebut? Dalam rencana studi, aku menceritakan kegelisahanku karena masih banyak mahasiswa hukum yang tidak memahami hukum ekonomi syariah, padahal kebutuhan akan ahli hukum di bidang ekonomi syariah cukup urgent. Kebijakan ekonomi syariah di Indonesia juga masih memerlukan banyak perbaikan. Sehingga aku memutuskan mempelajari ekonomi syariah agar bisa mengajarkan ilmu hukum ekonomi syariah kepada mahasiswa-mahasiswa di FHUI dan juga menjadi researcher yang turut membantu pengembangan hukum ekonomi syariah di Indonesia. Tentunya, kebenaran kata-kata dalam rencana studi ini akan diuji dalam seleksi wawancara.

Berkas-berkas yang dipersyaratkan harus di unggah sejak beberapa hari sebelumnya, karena kemungkinan dua hari terakhir server akan down. Jangan pernah procastinate dan baru menyelesaikan berkas di menit-menit terakhir. Sayang kan, kalau syarat sudah lengkap, calon awardee qualified, tapi gagal hanya karena masalah teknis. Aku sendiri sudah mencicil upload beberapa berkas sejak jauh-jauh hari dan submit berkas seminggu sebelum deadline. 

Alhamdulillah, beberapa minggu setelah deadline upload berkas, muncul pengumuman yang menyatakan bahwa aku lolos seleksi administrasi dan dipanggil untuk mengikuti seleksi substansi. 



Begitulah pengalamanku saat mempersiapkan seleksi administratif LPDP. Kisahku dalam mengikuti seleksi akan kuceritakan di postingan selanjutnya, karena itu stay tune terus ya!
Semangat terus para pejuang beasiswa!



Selasa, 16 Mei 2017

Persiapan Keberangkatan: Lima Hari untuk Selamanya

"Some people come into our lives and quickly go. Some stay for a while, leave footprints on our hearts, and we are never, ever the same." – Flavia Weedn.

Untuk dapat dikatakan “sah” sebagai awardee LPDP, setiap awardee LPDP wajib mengikuti Persiapan Keberangkatan atau biasa disingkat menjadi PK. Kata Fitrah, temanku awardee LPDP yang banyak membantuku mempersiapkan seleksi LPDP, salah satu kelebihan LPDP dibandingkan dengan beasiswa lain adalah adanya Persiapan Keberangkatan ini. Karena, pelatihan kepemimpinan ini akan mempertemukan awardee-awardee LPDP dari seluruh Indonesia. “Seru banget fah, lo wajib ikut.” Tentunya, PK memang diwajibkan bagi awardee, sebagai syarat untuk mendapatkan kontrak beasiswa dari LPDP. Karena itu, ketika aku mendapat e-mail dari Pak Kamil yang menandakan bahwa namaku masuk dalam daftar PK Angkatan 104, aku mulai browsing karena penasaran, seperti apa sih PK itu?

"Salah satu hal paling kejam yang PK lakukan adalah mempertemukan orang-orang untuk kemudian memisahkan." - Pak Kamil, PIC PK LPDP

Dari cerita-cerita di blog para peserta PK dan quote dari Pak Kamil, kelihatannya PK adalah kegiatan yang akan bikin baper. Aku adalah tipe orang yang jika sudah mencurahkan jiwa pada suatu kegiatan, maka akan susah move-on dari kegiatan tersebut. Misalnya ketika aku mengikuti Mabit dan GUIM. Karena aku takut terlibat attachment yang terlalu dalam dengan PK dan akhirnya sedih sendiri ketika harus berpisah dengan teman-teman, self-defense mechanism membuatku memutuskan untuk menjadi anggota yang pasif saja dan tidak ingin terlalu terlibat dengan persiapan PK. Apalagi, aku tidak punya waktu untuk baper, karena mau mempersiapkan berangkat S2. Bingung? Begitulah pola pikir seorang INTJ. Harap maklum.

Mulailah kegiatan pra-PK dengan pemilihan ketua angkatan dan perwakilan. Aku berpartisipasi untuk memilih, namun tidak terlalu aktif. Aku juga menjadi anggota dari divisi Media, namun sebelum PK tidak banyak tugas dari divisiku. Jadi, tidak banyak kegiatan yang kulakukan sebelum PK berlangsung.

Sampai suatu hari, Perwakilan mengajak anggota PK yang berada di Jabodetabek untuk mengikuti kopi darat di Wisma Hijau, tempat PK akan diselenggarakan. Sempat ragu-ragu, aku memutuskan untuk mampir sebentar sebelum mengikuti liqo. Toh, tidak ada salahnya mengenal calon teman-teman satu PK.

Di Gazebo Wisma Hijau, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan teman-teman satu PK-ku: Kak Iqbal, Ketua Angkatan; Lovita, Wakil Ketua Angkatan; Vidya, moderator; dan Joko, Ami, serta seseorang lagi yang aku lupa namanya (kelak, karena dramabongkar pasang PK, tiga orang yang terakhir tidak menjadi anggota PK 104 lagi). Kami berkenalan dan mengobrol-ngobrol. Ternyata, Kak Iqbal yang berasal dari Fakultas Hukum Universitas Mulawarman adalah teman Bang Ali ketika sama-sama menjadi Ketua BEM di tingkat Universitas. Sementara Lovita berasal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kampus yang juga banyak dihuni oleh teman-teman satu SMA-ku. Dunia sempit ternyata. Mereka juga mengenal Ghozi yang menjadi Ketua PK 105, karena sesama perwakilan sering bertemu. Sementara Vidya adalah alumni ITB asal Bogor yang akan melanjutkan studi ke USA.

Sepulang dari kopi darat itu, aku berpikir mungkin baru akan bertemu lagi dengan mereka saat PK berlangsung saja. Namun tunggu punya tunggu, jadwal PK yang sudah dinanti-nanti sejak bulan Maret tidak juga muncul. Daftar nama anggota PK 104 juga dari hari ke hari berubah-ubah, entah mengapa nama yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, digantikan dengan nama-nama baru. Ghozi juga semakin sibuk bolak-balik ke LPDP dan semakin jarang terlihat di kampus, karena mengurusi PK. Padahal, PK angkatan 104 saja belum jelas jadwalnya.

Suatu hari, Kak Iqbal menghubungiku dan menanyakan apakah aku sedang sibuk. Rupanya, perwakilan sedang butuh bantuan karena perwakilan yang lainnya sangat sibuk. Aku diminta untuk membantu jadi Perwakilan cabutan karena kekurangan orang yang standby jika sewaktu-waktu dipanggil ke LPDP. Menimbang waktuku yang memang fleksibel (asdos mah selow), akhirnya aku menyanggupi untuk membantu.

Mulailah hari-hariku bolak-balik ke LPDP sebagai perwakilan cabutan. Harus bangun pagi-pagi demi mengejar janji bertemu Pak Kamil, karena Pak Kamil orangnya sangat on time. Sempat kagok juga karena harus jadi pepes naik kereta rush hour sampai Juanda. Maklum, biasanya kereta yang mengantarku kerja ke kampus Depok lawan arah arus commuter. Aku juga jadi sering izin tidak masuk kerja ke atasan, dengan alasan mengurusi LPDP, walaupun kadang tidak enak karena sudah kebanyakan izin. Dan aku harus siap sedia memperbaiki database dikala mendadak ada perubahan nama anggota, yang datanya sangat cepat berubah-ubah, mulai dari hitungan hari ke hitungan jam. Aku menjadi anggota dari trio kwek-kwek bersama-sama dengan Lovita dan Kak Iqbal, bolak-balik ke LPDP bersama perwakilan-perwakilan lainnya. Kadang kami harus pulang malam menunggu jam rush hour kereta usai, pernah juga H-7 PK kami berjaga sampai jam 9 di FHUI untuk memperbaiki database. Aku juga mulai mengenal perwakilan yang lain: Mbak Merry, Mbak Erni, Agus, dan moderator: Vidya, Affan, dan Setiawan, walaupun kebanyakan hanya kukenal di grup whatsapp tim inti sebelum bertemu saat PK.

PK angkatan kami mungkin merupakan PK yang paling lama menunggu dan paling banyak dinamika. Jarak antara pelaksanaan PK 103 dan PK 104 adalah dua bulan, sementara PK-PK sebelumnya hanya berjarak seminggu antar pelaksanaannya. Banyak anggota PK 104 yang akhirnya dipindahkan ke PK lain, karena LPDP memprioritaskan awardee yang sudah on going namun belum mengikuti PK, untuk masuk ke daftar nama peserta PK 104. Posisiku saat itu aman karena aku memiliki LoA Unconditional dan memang akan intake tahun 2017, termasuk yang diprioritaskan. Namun, nama-nama perwakilan sendiri terancam dalam daftar nama yang harus dipindahkan: Kak Iqbal belum memiliki LoA, sementara Lovita, Vidya, dan Setiawan baru intake tahun 2018.  

Perubahan yang ada mengakibatkan banyak PIC dan anggota divisi yang keluar, padahal mereka sudah setengah jalan melakukan persiapan untuk PK. Divisi-divisi mulai tidak stabil, semangat teman-teman untuk mempersiapkan PK mulai kendor. Sehingga tim inti dengan dibantu oleh Om David Su dan Om Fitra memutuskan untuk meramaikan grup setiap harinya, agar semangat peserta tidak kendor. Tetap saja, yang rame di grup itu-itu saja hehe.

Sampai akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba: Pak Kamil meminta database fix karena akan dibuatkan surat undangan PK. Betapa senangnya hati kami karena akhirnya dapat kepastian juga, nggak digantungin terus. Undangan resmi terkirim H-12 pelaksanaan PK. Mulailah grup whatsapp kembali aktif, setiap anggota sama bersemangatnya dengan kami untuk segera memulai PK. Setiap divisi mulai aktif mempersiapkan tugas masing-masing di hari-H, anggota-anggota baru mulai beradaptasi. Kopi darat diadakan lagi dengan susunan anggota-anggota baru.

Dua hari sebelum pelaksanaan PK dimulai, kami sudah berkumpul dan menginap di Wisma Hijau; mengenal satu sama lain, dan bersama-sama mempersiapkan pelaksanaan PK. Untuk pertama kalinya aku bertatap muka dengan orang-orang yang biasanya hanya bercanda tawa di grup: Affan yang ketika ketemu ternyata sangat tinggi jangkung, Utma Simple Queen yang dikira “bocor” namun ternyata seorang ukhti-ukhti berkerudung lebar, Ping yang baik hati membawakan amplang dari Kalimantan, Om Fitra yang terlihat lebih muda dari yang disangka-sangka, dan tentunya Om David yang bundar dan humoris.

Selama PK, aku mengikuti setiap sesi dari pemateri-pemateri luar biasa: Muhammad Nuh, Yudi Latif, Ahmad Fuadi, Butet Manurung, dan Kak Andreas Senjaya dengan penuh semangat walaupun hanya tidur beberapa jam setiap harinya (bayangkan, baru selesai kegiatan dan mengurus printilan borang jam 1, harus bangun jam 4 untuk ikut intergrity sport). Kantong mata sudah semakin membayang, sehingga terkadang aku curi-curi waktu untuk bobo cantik di selasar samping aula. Untuk pertama kalinya (and I swear it would be my last) seorang Iffah berjoget mengikuti lagu dangdut dan gemu famire. Biasanya sih jaim kayak Putri Solo (tipuuu).


Terima kasih untuk kelompok Kresna, walaupun aku sering hilang-hilangan dari kelompok namun mereka tetap menerimaku apa adanya. Mbak Febri yang cantik anggun super inspiring, Mbak Maryam satu-satunya ketua kelompok wanita yang super sigap, Hilman yang cheerful dan penuh semangat seperti Leader JKT 48, Rahmita yang selalu siap sedia menyediakan stok pulpen, Daeng yang menemukan pujaan hatinya di PK 104, Bang Niko dan Bang Mes yang sering bikin geleng-geleng kepala, Hanifi yang selalu terlihat tersenyum ceria (dan masih banyak lagi yang namanya tidak bisa disebutkan satu-satu karena anggota Kresna ada 23 orang, bayangin mau sepanjang apa?).



Special place in my heart belongs to keluarga tim inti PK: Setiawan alias Kokoh Ping yang super baik hati dan tidak sombong, suka mentraktir, enak diajak curhat, mantan pegawai Chevron pula (minat japri sist); Affan yang polos, medok (maap bukannya rasis fan), dan selalu eksis sebagai maskot Kapila; Vidya yang super inspiring dan bikin terkagum-kagum dengan prestasi luar biasanya, padahal masih muda; Mbak Merry dokter gigi super sibuk yang jago main piano; Mbak Erni yang super keibuan layaknya Ibu sendiri; Agus yang eksis di IG stories dan diem-diem jago joget; Opit roommate tersayang, temen ngakak bareng dan curhat baper bareng yang super perhatian dan super sigap; dan Kak Iqbal yang dicurigai berumur hampir 30 tahun, selalu standby dimana ada wanita cantik, dan diam-diam menyimpan bakat terpendam sebagai stand-up comedian.

Persiapan Keberangkatan, walaupun hanya diadakan lima hari, telah menimbulkan memori yang akan membekas selamanya. Bagiku, mengikuti PK adalah sebuah pengalaman luar biasa. Aku baru mengerti tujuan PK sesungguhnya, seperti yang dikatakan Pak Kamil: PK bukanlah sekedar pelatihan untuk para awardee, tetapi merupakan ajang untuk membangun jejaring dan tempat para awardee menginspirasi satu sama lain. Di PK, aku mengenal orang-orang luar biasa. Banyak yang terlihat biasa-biasa saja dan kalem, namun prestasinya membuat tercengang. Semakin aku merasa diri ini hanyalah remahan rengginang di dasar kaleng Khong Guan. Dan aku menyadari sepenuhnya, mereka memang layak untuk menjadi seorang awardee LPDP.

Misalnya Om David Su, yang merupakan anak seorang peladang dari Kalimantan, namun sudah menyabet dua gelar magister dan akan menempuh Doktor. Kisahnya membuatku merasa harus lebih berjuang lebih darinya, karena aku yang tinggal di Ibukota dan mendapatkan banyak previlege pendidikan saja belum menghasilkan apa-apa dan belum menjadi siapa-siapa. Atau kisah mbak Citra, seorang ibu yang berjuang untuk bisa lanjut kuliah sambil mengurus dua orang anak, yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk bisa mendapatkan beasiswa. Kembali aku merasa sangat bersyukur, karena berkesempatan mendapatkan beasiswa dalam percobaan pertama. Atau Mbak Raisya yang cantik, ayu, masih sangat muda tapi sudah akan menempuh studi Doktornya.

Banyak dari teman-teman baruku juga yang memilih untuk kembali ke daerah masing-masing dan mengabdi sebagai dosen, di tengah keterbatasan yang mereka miliki di daerah masing-masing. Kembali aku merasa bersyukur, sebagai asisten dosen di Universitas (yang katanya) terbaik di Indonesia, kesempatanku untuk berkembang lebih banyak dan lebih luas; apalagi aku tinggal di Ibukota. Banyak teman-teman yang tinggal di daerah dimana sinyal internet saja kadang tidak ada. Namun setiap dari mereka bisa melakukan perubahan di bidangnya masing-masing. So, what my excuse?

Tiba di hari terakhir PK, saatnya closing, aku baru sadar kalau saat yang kutakutkan terjadi: saatnya berpisah. Besok, kami akan kembali berpencar ke daerah masing-masing. Aku menatap ruangan yang ramai dengan semarak baju daerah; untuk closing, setiap orang mengenakan baju khas daerahnya masing-masing. Melihat ragam baju daerah yang berasal dari suku-suku dari Sabang sampai Merauke, aku baru menyadari satu hal: mungkin, aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi, atau baru bertahun-tahun lagi akan bertemu dengan mereka. Jarak akan memisahkan kami juga, pada akhirnya.

Ah, aku benci pada kalimat perpisahan. Robin Williams pernah berkata: “Never say goodbye, because saying goodbye means going away, and going away means forgetting.” Lebih baik tidak mengucapkan perpisahan sama sekali.

Namun, saat satu persatu dari kami mulai berpamitan dan saling mengucapkan selamat jalan, aku menyadari apa yang saling kami ucapkan: bukan kata “Goodbye.”, melainkan “See you on top!” Kami yakin, bahwa masing-masing dari kami akan dipertemukan lagi dalam keadaan sukses. Kami yakin, suatu saat kami akan menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Karena sesuai janji kami, kami pasti akan kembali dan membangun negeri di bidang masing-masing.

Indonesia, aku pasti mengabdi.


Jumat, 21 April 2017

Perpisahan


Matanya memejam, raut wajahnya yang tenang terlihat seperti tertidur pulas. Seperti setiap malam ketika aku berbaring tidur di sampingnya.
Tapi kali ini, tubuhnya dingin...

Sepertinya, ia bukan sedang tertidur.
Ia sedang melakukan perjalanan panjang ke tempat lain..

Ketika angku meninggal tiga tahun yang lalu, aku merasakan sedih namun tidak berkepanjangan. Mungkin, itu karena aku tidak terlalu dekat dengan angku. Angku juga sudah lama sakit-sakitan dan mulai pikun sehingga tidak mengenali cucu-cucunya. Hanya samar-samar kuingat, dari pengalaman saat kecil aku berkunjung ke rumah Angku dan Andung, Angku adalah sosok yang galak dan tegas sehingga aku tidak berani bermain berteriak-teriak kalau sedang ada angku.

Sejak lulus SMA dan memutuskan untuk persiapan setahun demi diterima UI, aku pindah dari Tangerang ke rumah Andung yang terletak di Jakarta Selatan.
Saat itu, Andung yang memang sayang dengan Umi menerima kehadiran cucunya ini dengan tangan terbuka.
Memang secara bergantian, aku dan kakakku yang menempuh kuliah di Depok menumpang tinggal di rumah Andung karena pertimbangan jarak dari kampus di Depok dan rumah di Tangerang yang terlalu jauh. Setelah kakak-kakakku satu persatu menikah atau bekerja, mereka meninggalkan rumah Andung.

Mungkin hampir semua teman-teman dekatku mengenal Andung dari cerita-ceritaku. Ketua organisasi biasa mendengar aku yang meminta izin pulang lebih cepat karena tidak boleh pulang malam oleh Andung atau tidak bisa pergi keluar rumah di akhir pekan karena harus menemani Andung.

Walaupun Andung cerewet kepada cucu-cucunya, namun ia sangat sayang kepada kami. Seringkali ia sengaja menyembunyikan oleh-oleh makanan enak untuk dimakan cucu-cucunya. Seringkali aku diberikan uang jajan tambahan (tentunya kebiasaan ini berhenti saat aku sudah bekerja). Andung menjaga kami tak ubahnya orangtua merawat anaknya sendiri.

Andung selalu terlihat kesepian, terlebih sejak Angku meninggal dunia terlebih dahulu. Wajar, karena ia tinggal di sebuah rumah besar dengan banyak pekerja. Walaupun ada cucu-cucunya yang menemani, tak urung kesibukan kuliah dan kerja membuat kami hanya ada di rumah saat malam hari, apalagi aku yang aktivis kampus dan sering pergi pagi pulang malam.

Ketika Abi terkena stroke, praktis Umi harus selalu di Tangerang merawat Abi. Karena itu Umi mulai jarang ke rumah Andung, sehingga tugas mulia menemani Andung tidur setiap malam jatuh kepadaku dan Icha, adikku. Terkadang, kami rajin menemani, walau lebih banyak malas-malasan dan mengulur-ulur waktu untuk bergantian datang ke kamar Andung. Tugas yang tidak mudah, karena kami harus berjaga bila terjadi sesuatu kepada Andung.

Pernah di suatu hari ketika Icha menemaninya tidur, Andung terbangun dan mengambil wudhu untuk sholat subuh. Tak sengaja, Andung tergelincir dan kepalanya membentur lantai. Darah segar sempat mengucur deras dari kepalanya, yang membuat satu rumah panik. Untungnya, setelah di bawa ke RS, Andung hanya mengalami luka luar dan dahinya cukup dijahit. Namun tentunya sejak saat itu kami lebih berhati-hati menemani Andung.

Menemani Andung tidur tentu ada suka dukanya tersendiri. Andung suka bercerita sebelum tidur, dan selalu menanyakan hal yang berulang-ulang kepadaku.

"Andung banggaa cucu Andung jadi dosen.."
"Kapan berangkat ke Inggris? Jaga diri baik-baik ya di sana.."
"Nama calonnya siapa? Kenalin laah ke Andung.."

"Ehehe.. Nanti aja ndung kalau udah dateng ke rumah."

"Iffah kapan nikah?"

"Doain aja ndung.." (dalam hati: iffah juga pengen tau ndung, kapaaan??)

"Andung doain cucu Andung nikah sebelum berangkat ke Inggris.."

(dalam hati: AAAMIIIN, IFFAH AMININ NDUUNG SEPENUH HATI)

"Nanti Andung keburu mati.."

(speechless mau jawab apa. Kali ini memutuskan berpura-pura tidur)

Andung seringkali mengeluh manja bahwa badannya sakit, namun biasanya kami menganggap penyakit itu hanya penyakit orang tua dan tidak menganggapnya serius. Terkadang Andung check-up rutin ke dokter, dan setiap malam aku membantu Andung minum obat. Namun, untuk ukuran orangtua seumurannya Andung terbilang sehat. Ingatannya juga baik, tak seperti Angku yang mengalami pikun.

Pagi itu, Icha yang bertugas menemani Andung mengirimkan sebuah video di grup chat keluargaku. Di video itu Andung terlihat melantur, ia bilang hendak sholat isya (padahal waktu sedang subuh) dan mengenakan selimut sebagai tutupan kepala pengganti mukena.

Sepertinya ada yang tidak beres dengan Andung. Kami langsung mengabari anggota keluarga yang lain dan memutuskan membawa andung ke dokter.

Sambil menunggu waktu berangkat kerja, aku menemani Andung di kamar sambil menyantap sarapan. Andung memintaku berbaring di sampingnya, dan menggenggam tanganku erat-erat.
Kuraba dahinya. Suhu badannya hangat. Aku ingat, sudah beberapa minggu andung terbatuk-batuk setiap malam. Mungkin andung memang sakit.

Satu persatu tanteku datang, menjemput andung untuk ke rumah sakit. Aku merasa lega, karena itu artinya aku bisa bergantian tugas menjaga andung.
Aku berpamitan kepada Andung,agak sedikit panik karena khawatir telat ke kantor.

"Andung, iffah berangkat dulu ya.."
Andung menggenggam tanganku erat. "Temanilah andung dulu.. Jangan tinggalin andung."

"Iffah harus kerja Ndung.. Andung ke dokter dulu ya?" Aku berusaha membujuknya. Akhirnya aku berpamitan dan meninggalkan rumah.

Tak kusangka, itu percakapanku yang terakhir dengan andung.

Sepulang kerja, Andung belum juga kembali dari dokternya di RS Siloam. Kabarnya, andung menderita kekurangan natrium sehingga ia berhalusinasi seperti semalam. Aku merasa lega, ternyata penyakit andung tidak parah.

Namun, dua hari setelahnya, kondisi andung kembali memburuk. Andung terkena stroke, sebagian tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dokter juga menemukan bahwa ginjal andung sudah rusak dan tidak berfungsi.

Hari kamis pagi, aku bertekad akan ke Tangerang menjenguk Andung sepulang kerja, karena aku belum sempat menjenguk Andung. Dari grup keluarga, kakakku mengabarkan bahwa kondisi Andung semakin memburuk. Aku merasa sangat gelisah di tempat kerja. Ingin rasanya izin pulang dan menjenguk andung, khawatir terjadi sesuatu pada diri Andung. Namun kondisi kantorku sedang kekurangan orang.

Kakakku mengabari kembali bahwa Andung mulai mengalami sesak nafas. Aku memberanikan izin untuk pulang ke rumah, dan bergegas naik kereta dengan kondisi tubuh yang lemas dan pikiran yang kacau.

Namun sayangnya, kondisi jalanan tidak bersahabat jika kami ingin pulang ke Tangerang. Saat itu merupakan long weekend, dan semua kendaraan tumpah ruah di jalan. Naik kereta pun tidak membantu, karena kondisi rush hour. Nana, kakakku yang masih memiliki bayi ragu-ragu untuk berangkat, khawatir terjebak macet berjam-jam. Apalagi, saat itu sedang tidak ada kendaraan pribadi yang tersedia. Akhirnya, aku dan Icha memutuskan berangkat duluan naik Taksi Online, apapun resikonya.

Tiba-tiba, ada group video call di grup LINE keluargaku.
Di sudut layar yang lain, HP Una menampakkan andung bernafas dengan susah payah di Rumah Sakit. Di sudut layar yang lain kakakku Ima sedang menyaksikan di dalam mobil yang terjebak macet. Sementara aku, Icha, dan Nana menyaksikan dari rumah dengan perasaan tegang.

Mendadak, tangis pecah di Rumah Sakit.

Andung menutup matanya untuk terakhir kali.

Tak terasa, butiran air hangat bergulir di pipiku. Sejuta sesal bergulung di dalam hati. Aku belum sempat menjenguk Andung untuk terakhir kalinya. Aku belum sempat menjadi cucu yang perhatian bagi Andung, selama ini aku terlalu cuek kepada andung. Andung tidak akan pernah menyaksikanku menikah, atau menyaksikan kepergianku ke Inggris.

Karena Andung telah pergi, untuk selamanya.

Sisa dua hari berkabung terasa begitu cepat, terasa seperti mimpi panjang yang melelahkan. Satu keluarga besarku tak sanggup menahan tangis ketika kami menatap jenazah Andung, dan memandikannya.

Satu persatu, kami anak dan cucunya mengucapkan salam terakhir kepada andung sebelum dimasukkan ke dalam keranda. Wajahnya sangat cantik dalam balutan kafan putih yang dirangkai seperti jilbab. Untaian bunga melati bertebaran membingkai wajahnya.

Aku memeluk jenazah Andung dan mencium dahinya untuk terakhir kalinya. Wajahnya seperti sedang tertidur pulas saja. Namun, badannya dingin.

Selamat tinggal Andung, selamat menempuh perjalanan panjang yang kelak akan kutempuh juga..
Semoga dilapangkan jalannya menuju syurga-Nya..

“Kullu nafsin dzaiqotul maut.."

Sesungguhnya, setiap yang bernyawa pasti akan mati..

Sabtu, 08 April 2017

Untuk apa?

Tanyakan kepada dirimu sendiri,
Sebenarnya untuk apa?

Ibadah, sedekah, sholat malam,
Biar dapat beasiswa, biar dapat jodoh

Aren't you messed up your priority?
Bukannya dunia yang dimaksimalkan buat akhirat,
Eh malah akhiratnya yang dipakai sebagai alat bantu dunia

Sebenarnya kamu mau kemana?
Lanjut kuliah?
Nikah?
Sehabis itu?
Kerja, punya anak, jadi orang sukses
Sehabis itu?
Menua
Sehabis itu?
Sehabis itu...
................
................
Think again.

Would you...?

One day,  a devil whispering in my ears
If you can choose, would you like to be born in different family?
Grown in different city, with different economic condition, with different parents and siblings

No! I said
My family is the most important things in my life
They are the one who form me to who I am now. A brave and smart woman.
Although it bittersweet, they are always here with me
When I am in loneliness condition without friend or lover
When everyone run away, at least I know they are here for me
You can have ex-friends or ex-lover, but you won't have ex-family.

I know I can't choose from whom I was born, but I always can choose what I want to be.
That's why, I want to be the one who make my family proud of me, not the one who are proud because who her family is.

Minggu, 02 April 2017

Scholarship Series: Menaklukkan Tes IELTS

Assalamualaikum! Kembali lagi bersama Iffah di scholarship series. Kali ini, aku akan sharing tentang bagaimana menaklukkan tes IELTS.

Seperti yang sudah kuceritakan di postingan sebelumnya, hasil nilai tes bahasa sangat penting bagi teman-teman yang mau berburu beasiswa. Calon kampus dan calon pemberi beasiswa pasti meminta skor tes bahasa tertentu sebagai syarat wajib. Skor yang diminta bisa berupa TOEFL (ITP/PBT/IBT/CBT), IELTS, atau TOEIC. Nah lho apa bedanya?


Setiap negara memiliki preferensi tertentu untuk skor kemampuan bahasa Inggris ini. Ada Universitas yang menerima TOEFL maupun IELTS, namun ada juga Universitas yang hanya menerima salah satunya. Umumnya, Universitas di Inggris, Eropa, dan Australia mensyaratkan skor IELTS, sementara Universitas di Amerika dan Asia menerima TOEFL. Sementara tidak semua Universitas menerima TOEFL ITP. Calon mahasiswa bisa menggunakan TOEFL ITP untuk mendapatkan LoA Conditional namun Universitas akan meminta hasil skor tes TOEFL selain ITP sebagai syarat untuk mendapatkan LoA Unconditional.

Berhubung aku berencara mengambil Universitas di Eropa, maka aku memutuskan untuk mengambil tes IELTS. Tes IELTS merupakan hal yang baru bagiku, karena sebelumnya aku terbiasa mengerjakan soal-soal TOEFL ITP. Apalagi IELTS ada section Speaking dan Writing yang menuntut kemampuan berbahasa secara aktif.

Berdasarkan pengalamanku mengambil tes TOEFL dan IELTS, setiap tes kemampuan bahasa pada dasarnya bisa dipelajari. Kita hanya perlu familiar dengan jenis-jenis soal yang akan diujikan. Untuk memahami IELTS itu sendiri, cukup les intensif di awal untuk mengenal jenis-jenis soalnya dan cara menyelesaikannya. Setelah itu, tentunya kita perlu latihan dan latihan, juga melakukan simulasi tes IELTS. Apalagi saat ini sudah banyak e-book IELTS di internet, sehingga kita bisa melakukan simulasi sendiri.

Berikut ini jenis-jenis section yang ada di tes IELTS:

Listening

Listening di IELTS menurutku peer banget karena aksen yang digunakan oleh speaker beda-beda. Kadang aksen British, Australia, bahkan pernah aksen orang Italia dan Asia. Jadi bersiap-siap mendengarkan bahasa yang unpredictable. Jelas lebih susah dari TOEFL yang speakernya American, dimana setiap kata yang diucapkan di TOEFL terdengar clear, sementara di IELTS seperti orang kumur-kumur. Untuk melatih telinga agar bisa menangkap aksen yang berbeda-beda, aku membiasakan memutar video-video dan podcast Tedx. Selain bisa untuk latihan listening, materinya juga seru-seru.

Listening di IELTS biasanya kita dihadapkan dalam beberapa situasi, biasanya urutannya seperti ini:
Section 1: Conversation, dengan dua speaker. Topiknya yang ringan-ringan, misalnya berkunjung ke travel agent atau bertemu pegawai administasi kampus.
Section 2: Monolog, topik pembahasannya general. Misalnya mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.
Section 3: Conversation, topik pembahasan akademik. Misalnya dua orang membahas tugas presentasi
Section 4: Monolog, topik pembahasan akademik. Misalnya lagi ada lecture atau kuliah umum

Nah, di listening ini biasanya soal IELTS meminta kita untuk melengkapi notes atau flowchart, memilih pilihan ganda, atau melengkapi kalimat sesuai dengan yang kita dengar di conversation.
Listening biasanya ada beberapa soal yang menyangkut spelling nama dan nomor, makanya penting juga untuk belajar spelling nama dan nomor. Perhatikan juga requirement dari soal, misalnya ada soal yang hanya menghendaki jawaban dituliskan dalam satu kata saja, jadi jawaban tidak boleh lebih dari satu kata.

Supaya bisa menjawab pertanyaan dengan baik, kita bisa underline keyword yang kira-kira penting dan prediksi vocabulary apa yang akan keluar. Biasanya kalau aku missed mendengar jawabannya, aku menebak-nebak berdasarkan pertanyaan dan situasi yang ada. Penting banget untuk berkonsentrasi selama listening. Jangan ngelamun!
Setelah mengisi jawaban, segera di re-check kembali apakah spellingnya sudah benar. Salah spelling satu huruf saja, maka nilainya bisa nol.

Reading

Reading mengharuskan kita membaca paragraf yang banyak dengan waktu yang terbatas. Karena itu, speeding is everything. Selain harus membaca cepat, otak kita juga harus menyimpulkan dengan cepat apa yang ditanyakan oleh soal dan dimana jawabannya berada dalam suatu paragraf. Untuk menjawab reading, kita perlu melakukan skimming (untuk mencari general ideas) dan scanning (untuk mencari jawaban dari hal tertentu yang ditanyakan).

Bagiku yang terbiasa membaca cepat, tidak ada masalah berarti dengan reading IELTS. Namun tentunya, bagi mereka yang tidak suka membaca atau belum terbiasa membaca bahasa Inggris, harus mulai membiasakan mata dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris. Kalau takut pusing, baca saja novel-novel ringan sebagai selingan. Selain website The Jakarta Post, bacaan favoritku untuk membiasakan reading adalah novel-novel Harry Potter, Sophie Kinsella, dan John Grisham, hehe.

Speaking

Speaking terbagi menjadi tiga bagian.
Speaking di bagian pertama berisi pertanyaan-pertanyaan umum dari interviewer mengenai sesuatu topik. Jenisnya adalah conversation, dimana interviewer menanyakan beberapa pertanyaan sehari-hari dan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Soal IELTS Part 1

Sementara di bagian kedua, interviewer akan meminta kita untuk melakukan long monologue sesuai dengan topik yang diberikan dalam kartu petunjuk. Kita diberikan waktu satu menit untuk membuat notes berisi list hal-hal yang akan disampaikan dalam speaking, kemudian kita memulai speaking sesuai dengan topik selama dua menit. 
Selama melakukan simulasi IELTS, kelemahanku adalah berhenti berbicara saat timer masih menunjukkan waktu satu menit, sementara nilai kita akan lebih baik jika waktu berbicara kita bisa pas atau mendekati waktu dua menit yang diberikan. Oleh karena itu, improvisasi sangat penting agar tidak berhenti berbicara di tengah-tengah karena kehabisan kata-kata.

Soal IELTS Part 2

Setelah selesai part 2, di part 3 adalah pertanyaan-pertanyaan dari interviewer terkait dengan topik-topik di part 2. Jadi untuk part 3 tidak ada contoh pertanyaan khusus karena pertanyaannya pasti terkait dengan soal di Part 2.

Saat test speaking IELTS, tipsnya adalah jalani saja tanpa beban, wkwkwk. Saat bertemu dengan interviewernya tidak usah nervous. Untungnya, aku mendapat interviewer seorang bapak-bapak native speaker dari Inggris yang ramah dan menyenangkan, sehingga speaking seperti mengobrol-ngobrol biasa saya, bahkan diselingi candaan. Entah kenapa (dan sampai sekarang masih menjadi misteri), aku mendapatkan skor speaking 8, lumayan tinggi. Sungguh rezeki anak sholehah.

Writing

Writing terbagi menjadi dua task dengan waktu pengerjaan 60 menit. Berhubung Task 2 nilainya lebih besar dan tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada Task 1, biasanya aku mengalokasikan waktu 40 menit untuk mengerjakan Task 2 terlebih dahulu baru 20 menit untuk mengerjakan Task 1.

Soal yang ada dalam Task 1 umumnya adalah grafik atau alur proses sesuatu. Disini, kita diminta untuk mendeskripsikan grafik seobjektif mungkin. Karena itu, hindari asumsi atau opini pribadi dalam mengerjakan Task 1; cukup jelaskan saja apa yang kita lihat. Perhatikan juga penggunaan tenses, harus konsisten yang digunakan dari awal sampai akhir.

Struktur Task 1 antara lain sebagai berikut:
Paragraph 1: Berisi overview statement yang di parafrase, overall in general.
Paragraph 2: Overview trend, specific details tentang table. Compare table-table yang ada, mention percentage/gap antar table. Give example. Give conclusion.

Task 2 biasanya meminta kita memberikan opini atau argumen mengenai suatu isu. Disinilah kita harus memutar otak karena isu yang diberikan biasanya mengandung pro-kontra. Kita boleh memilih untuk memihak atau bersikap netral terhadap suatu isu. Tentunya jika ingin memihak, kita harus bisa memaparkan dengan baik argumen-argumen yang mendukung. Sementara jika ingin netral, kita bisa meng-cover both side, baik dan buruk dari suatu isu.

Untuk writing tentu saja diperlukan banyak latihan, cobalah berlatih minimal menulis satu atau dua paragraf setiap harinya. Selain itu, kita juga memerlukan mentor untuk mengkoreksi tulisan kita, apakah sudah cukup baik atau belum.

Harus kuakui, writing adalah momok paling menakutkan dalam tes IELTS. Nilai IELTS-ku paling jeblok di part ini, bahkan banyak temanku yang harus re-take IELTS berkali-kali karena nilai writingnya kurang 0.5 saja. Khusus untuk Law School, memang syarat band writing untuk IELTS cukup berat, bisa 6.5 bahkan 7.0. Untungnya, Durham University yang kupilih bukan jurusan Law School sehingga aku tidak perlu retake tes IELTS. Fyuuh.

Overall, tes IELTS lumayan berat karena ujiannya memakan waktu hampir seharian untuk menyelesaikan setiap sesi Listening, Reading, Writing, dan mengantri giliran Speaking. Dibutuhkan mental dan stamina yang tahan banting untuk mengambil tes IELTS. Oleh karena itu, preparation is everything.

Oh iya, untuk persiapan material soal IELTS, aku merekomendasikan beberapa buku.
Untuk mempelajari teori, bisa menggunakan buku-buku Collins
Untuk melatih grammar, aku menggunakan Fundamentals of English Grammar oleh Betty Azer
Sementara untuk latihan, yang terbaik adalah menggunakan soal-soal dari Cambridge IELTS 1-10. Seriously, soal-soalnya sama persis jenisnya dengan yang keluar di tes IELTS.

Kalau kalian berminat untuk memperoleh softcopy e-book dan audio dari buku-buku tersebut, leave comment alamat e-mail kalian ya, nanti insya Allah akan aku kirimkan. Psst, jangan cuma di download aja, dikerjain juga!

Dalam menaklukkan tes IELTS, yang terpenting adalah latihan dan terus latihan. It will be really helpful kalau kita punya teman untuk belajar bersama, agar ada teman untuk latihan speaking dan juga mengkoreksi tugas writing bersama-sama. 

Tidak ada yang instan dalam mencapai skor IELTS yang baik, oleh karena itu, yuk mulai latihan IELTS dari sekarang!